Berikut adalah Penjelesan mengenai Filsafat Ibnu Sina
Sebagaimana Al-Farabi,
Ibnu Sina juga mengusahakan pemaduan (rekonsiliasi) antara agama dan filsafat.
Menurutnya, nabi dan filosof menerima kebenaran dari sumber yang sama, yakni
Malaikat Jibril yang juga disebut Akal Kesepuluh atau Akal Aktif. Perbedaannya
hanya terletak pada cara memperolehnya, bagi nabi terjadinya hubungan dengan
Malaikat Jibril melalui akal materiil yang disebut hads (kekuatan suci,
qudsiyyat), sedangkan filosof melalui Akal Mustafad. Nabi memperoleh akal
materiil yang dayanya jauh lebih kuat daripada Akal Mustafad sebagai anugerah
Tuhan kepada orang pilihan-Nya. Sementara itu, filosof memperoleh Akal Mustafad
yang dayanya jauh lebih rendah daripada akal materiil melalui latihan berat.
Pengetahuan yang diperoleh nabi disebut wahyu, berlainan dengan pengetahuan
yang diperoleh filosof hanya dalam bentuk ilham, tetapi antara keduanya
tidaklah bertentangan. (Nasution, 1983: 18)
Ibnu Sina dalam membuktikan adanya Tuhan
(isbat wujud Allah) dengan dalil sebagai berikut:
a. Wajib al-wujud, esensi yang tidak dapat
tidak mesti mempunyai wujud.
Lebih jauh Ibnu Sina membagi wajib al-wujud
ke dalam wajib al-wujud bi dzatihi dan wajib al-wujud bi ghairihi. Mumkin
al-wujud, esensi yang boleh mempunyai wujud dan boleh pula tidak berwujud.
Dengan istilah lain, jika diandaikan tidak ada atau diandaikan ada, maka
tidaklah mustahil, yakni boleh ada dan boleh tidak ada. (Al-‘Iraqy, 1980: 206)
b. Mumkin al-wujud ini jika dilihat dari
esensinya, tidak mesti ada dan tidak mesti tidak ada.
c. Mumtani’ al –wujud, esensi yang tidak dapat
mempunyai wujud, seperti adanya sekarang ini juga kosmos lain di samping kosmos
yang ada.
3. Filsafat Emanasi Ibnu Sina
(Subjek) Akal Yang Ke-
|
Sifat
|
Allah sebagai Wajib al-Wujud menghasilkan
|
Dirinya sendiri sebagai Wajib wujud li ghairihi, menghasilkan
|
Dirinya sendiri mumkin wujud lidzatihi
|
Keterangan
|
I
|
Wajib al-Wujud
|
Akal II
|
Jiwa I yang menggerakkan
|
Langit Pertama
|
Masing-masing jiwa berfungsi sebagai
penggerak satu planet karena (immateri) tidak bisa langsung menggerakkan
jisim (materi)
|
II
|
Mumkin al-Wujud
|
Akal III
|
Jiwa II yang menggerakkan
|
Bintang-bintang
|
|
III
|
Sda
|
Akal IV
|
Jiwa III yang menggerakkan
|
Saturnus
|
|
IV
|
Sda
|
Akal V
|
Jiwa IV yang menggerakkan
|
Yupiter
|
|
V
|
Sda
|
Akal VI
|
Jiwa V yang menggerakkan
|
Mars
|
|
VI
|
Sda
|
Akal VII
|
Jiwa VI yang menggerakkan
|
Matahari
|
|
VII
|
Sda
|
Akal VIII
|
Jiwa VII yang menggerakkan
|
Venus
|
|
VIII
|
Sda
|
IX
|
Jiwa VIII yang menggerakkan
|
Merkuri
|
|
IX
|
Sda
|
X
|
Jiwa IX yang menggerakkan
|
Bulan
|
|
X
|
Sda
|
-
|
Jiwa X yang menggerakkan
|
Bumi, roh, materi pertama yang menjadi
dasar dari keempat unsur (udara, api, air, dan tanah)
|
Akal X tidak lagi memancarkan akal-akal
berikutnya karena kekuatannya sudah lemah.
|
Ibnu Sina mendefinisikan jiwa dengan jauhar
rohani. Definisi ini mengisyaratkan bahwa jiwa merupakan substansi rohani,
tidak tersusun dari materi-materi sebagaimana jasad. Kesatuan antara keduanya
bersifat accident, hancurnya jasad tidak membawa pada hancurnya jiwa (roh).
Pendapat ini lebih dekat pada Plato yang mengatakan jiwa adalah substansi yang
berdiri sendiri (al-nafs jauhar qa’im bi dzatih).
Dalam menetapkan kekalnya jiwa, Ibnu Sina
mengemukakan tiga dalil berikut:
a. Dalil al-infishal, yaitu perpaduan antara
jiwa dan jasad bersifat aksiden, masing-masing unsur mempunyai substansi
tersendiri, yang berbeda antara satu dan lainnya.
b. Dalil al-basathat, yaitu jiwa adalah jauhar
rohani yang hidup selalu dan tidak mengenal mati.
Dalil al-musyabahat,
dalil ini bersifat metafisika.
Daftar Pustaka
Al-‘Iraqy, M. A. (1980). Al-Manhaj Al-Naqdy Fi
Falsafat Ibn Rusdy. Kairo: Dar Al-Ma’arif.
Daftar Pustaka
Al-‘Iraqy, M.A. (1978). Al-Falsafat Al-Islamiyyat. Kairo: Dar
Al-Ma’arif.
Nasution, H. (1983). Akal dan Waktu dalam Islam.
Jakarta: Universitas Indonesia.
Penulis: Mella Hanifa Nugraha

