Motivasi Belajar Dalam AL-Quran

20.38
Makalah Motivasi Belajar Dalam AL-Quran Oleh Cecepabdulaziz dan Sagala Aya



BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
"Kemampuan adalah apa yang seseorang boleh lakukan. Motivasi menentukan apa yang seseorang lakukan. Sikap pula menentukan bagaimana baik seseorang lakukannya."  - Lou Holtz
Perkataan MOTIVASI sejak akhir kurun kedua puluh sudah menjadi sesuatu yang lumrah. Namun kini, masih ramai yang kurang faham tentang apa yang dimaksudkan dengan perkataan MOTIVASI.
Jadi, ringkasnya, oleh kerana perkataan motivasi adalah bermaksud sebab, tujuan atau pendorong, maka tujuan seseorang itulah sebenarnya yang menjadi penggerak utama baginya berusaha keras mencapai atau mendapat apa juga yang diinginkannya sama ada secara negatif atau positif.
            Maka saat ini kami akan mencoba membahasa beberapa hal tentang motivasi, diantaranya: Pengertian  motivasi, hadits yang membahas tentan motivasi, dan ayat Al-Qur’an yang membahas tentang motivasi.

B.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di ats maka kami merumuskan beberapa rumusan masalah yaitu sebagai berikut:
1.      Apa pengertian motivasi?
2.      Bagaimana hadits tentang motivasi belajar beserta kandungannya?
3.      Bagaimana hadits tentang pentingnya niat mencari ilmu?
4.      Bagaimana Ayat Al-Qur’an tentang motivasi belajar beserta kandungannya?


C. Tujuan penulisan
Berdasarkan rumusan masalah di atsa maka tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui pengertian motivasi.
2.      Untuk mengetahui hadits tentang motivasi belajar beserta kandungannya.
3.      Untuk mengetahui hadits tentang pentingnya niat mencari ilmu.
D.Metode Pennulisan
Metode yang kami gunakan dalam penulisan makalah ini adalah metode studi pustaka yaitu mengumpulkan sumber dan referensi pada bubku-buku yang relefan. Kami juga menggunakan metode browsing internet..


BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Motivasi
Motivasi adalah kekuatan-kekuatan dari dalam diri individu yang menggerakkan individu untuk berbuat.Jadi suatu kekuatan atau keinginan yang datang dari dalam hati nurani manusia untuk melakukan suatu perbuatan tertentu.
Motivasi adalah sesuatu yang menggerak dan mengarahtuju seseorang dalam tindakan-tindakannya sama ada secara negatif atau positif.
Tujuan atau motif adalah sama fungsinya dengan matlamat, wawasan, aspirasi, hasrat atau cita-cita. Jadi, wawasan, cita-cita, impian, keinginan atau keperluan seseorang itu malah bagi sesebuah negara merupakan pendorong utama yang menggerakkan usaha bersungguh-sungguh untuk mencapai apa yang dihajatkan.
Lebih penting sesuatu yang ingin dicapai, dimiliki, diselesaikan atau ditujui, lebih serius dan lebih kuatlah usaha seseorang, sesebuah keluarga, organisasi, masyarakat atau negara untuk mencapai apa juga matlamat yang telah ditetapkan. Jadi, dengan matlamat atau hasrat yang lebih penting atau besar, lebih kuatlah pula dorongan atau motivasi seseorang itu untuk berusaha bagi mencapai matlamatnya.
Apabila hati dan pikiran seseorang bersih dari hal-hal yan dilarang maka motivasi itu akan mudah muncul sehingga ia akan mudah juga dalam melakukan sesuatu perbuatan tertentu tanpa harus memikirkannya terlebih dahulu. Salah satunya adalah adanya motivasi dalam belajar, dengan hati bersih maka ilmu akan mudah diterima dan ilmu tersebut dapat melekat dipikiran dan hatinya sehingga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.


B.Hadits tentang Motivasi Belajar beserta Kandungannya
عن عمروبن عوف رضى الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: إنى أخاف على امتى من ثلاث زلةعالم ومن هوى متبع ومن حكم جائز. (روه البزار)
“ Dari Amru bin Auf r.a. berkata : Saya mendengar Rasulullah saw. Bersabda : Sesungguhnya yang saya takuti yang bakal membahayakan umatku dari tiga perkara, yaitu tergelincirnya orang yang berilmu, hawa nafsu yang dituruti, hokum yang zalim (curang atau tidak adil ).  “  ( Diriwayatkan oleh Al-Bazzar) .
عن معاذ رضى الله عنه قال: قال  رسول الله صلى الله عليه وسلم: أنتم اليوم على بينة من ربكم تأمرون با لمعروف وتنهون عن المنكر وتجاهد ون فى الله, ثم يظهر فيكم السكرتان سكرة حب الجهل وسكرة حب العيش وستحولون عن ذلك فلا تأمرون بالمعروف ولا تنهون عن المنكر ولا تجا هدون فى سبيل الله القا ئمون بالكتاب والسنة لهم أجر خمسين صديقا قالوا يا رسول الله منا ومنهم ؟ قال : بل منكم . رواه أبو نعيم .
“ Dari Mu’adz, beliau berkata : Rasulullah saw. Bersabda : ‘Kamu sekalian sekarang berada di atas tanda bukti dari Tuhanmu ; Kamu menyuruh orang pada kebajikan, melarang dari kemungkaran, dan berjuang membela agama Allah ; kemudian akan timbul di kalangan kamu semua dua macam kemabukan, yaitu mabuk cinta kebodohan dan mabuk cinta kemewahan hiidup. Disebabkan itu kamu semua akan berpindah haluan ; Lalu kamu tidak mau lagi menyuruh orang pada kebajikan, tidak mau melarang orang dari kemungkaran dan tidak berani berjuang membela agama Allah. Pada masa itu orang-orang yang tegak berpedoman pada Al-Qur’an dan Sunnah, bagi mereka pahala lima puluh shiddiqin. ‘Mereka ( para sahabat ) bertanya : ‘Ya, Rasulullah ; adakah dari kalangan kami atau mereka. ‘Beliau menjawab : Tidak, bahkan dari kalangan kamu sekalian ‘. “ (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim ).
Pelajaran yang terkandung dalam hadits tersebut
Dalam hadits tersebut terkandung beberapa pelajaran penting :
1.      Ada perbedaan antara generasi umat islam masa sahabat dengan generasi masa sekarang. Mereka generasi sahabat memahami betul Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw., sedangkan generasi sekarang tidak demikian.
2.      Mereka, para sahabat dahulu memiliki tanggung jawab yang tinggi dalam tugas amar makruf dan nahi munkar serta perjuangan membela agama Allah ; sedangkan generasi sekaranng kurang memiliki rasa tanggung jawab sosial yang tinggi seperti para sahabat.
3.      Orang yang tidak mau belajar dan hanya senanng kemewahan hidup dianggap orang yang mabuk, tidak mempunyai kesadaran untuk hidup. Lebih-lebih orang yang bodoh tentang agama islam, cepat atau lambat pasti mengalami kemabukan itu. Jika orang itu berpangkat dan menduduki jabatan, pasti akan mabuk dengan jabatannya. Orang kaya yang tidak mengerti agama, pasti akan mabuk dengan kekayaannya. Demikian pula para sarjana, akan mabuk dengan kesarjanaannya. Dan lain sebagainya.
4.      Orang-orang yang konsekuen berpedoman pada Al-Qur’an dan Sunnah dalam situasi sekarang, mendapat penilaian yang tinggi di hadapan Allah dan Rasul-Nya.
5.      Dalam hadits tersebut terkandung motivasi yang tinggi terhadap kita, umat islam, untuk giat mempelajari Al-Qur’an dan Sunnah serta ilmu0ilmu yang lain. Yang berguna bagi kehidupan dunia dan dapat mnejadi bekal di akhirat kelak.
6.      Dalam hadits itu pula tersurat anjuran untuk hidup zuhud, tidak rakus dengan hidup keduniaan dan lebih meningkatkan rasa tanggung jawab sosial serta mempertinggi semangat juang membela agama Allah.



C. Haadist tentang Pentingnya Niat dan Kandungannya
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ
 Artinya: “Menuntut ilmu wajib atas tiap-tiap muslim laki-laki dan muslim perempuan”.
اُطْلُبُ الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ اِلَى الَّحْدِ
 Artinya: “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat”.
 فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ. (رواه ابو داود والترمذى والنسائى وابن ماجة عن ابى الدرداى)
 Artinya: “Kelebihan orang yang berilmu dari orang yang beribadah (yang bodoh) bagaikan kelebihan bulan pada malam purnama dan semua bintang-bintang yang lain.”(Diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah dari Abu Darda).
Dalam hadits-hadits ini sangat jelas sekali memberikan motivasi kepada manusia bahkan mewajibkan kepada tiap-tiap muslim baik laki-laki maupun perempuan untuk selalu belajar dan menuntut ilmu dan kedudukan orang yang berilmu itu melebihi daripada orang yang beribadah (yang bodoh) yang tanpa ilmu pengetahuan bagaikan bulan di antara bintang-bintang.




D. Ayat Al-Qur’an Tentang Motivasi
$pkšr'¯»tƒtûïÏ%©!$#(#þqãZtB#uä#sŒÎ)Ÿ@ŠÏ%öNä3s9(#qßs¡¡xÿs?ÎûħÎ=»yfyJø9$#(#qßs|¡øù$$sùËx|¡øÿtƒª!$#öNä3s9(#sŒÎ)urŸ@ŠÏ%(#râà±S$#(#râà±S$$sùÆìsùötƒª!$#tûïÏ%©!$#(#qãZtB#uäöNä3ZÏBtûïÏ%©!$#ur(#qè?ré&zOù=Ïèø9$#;M»y_uyŠ4ª!$#ur$yJÎ/tbqè=yJ÷ès?׎Î7yzÇÊÊÈ
“ Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al Mujaadilah [58]:11)
Sebab turunnya ayat ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Muqatil bin Hibban, ia berkata, "Pada suatu hari, yaitu hari Jumat Rasulullah SAW. berada di Suffah mengadakan pertemuan di suatu tempat yang sempit, dengan maksud menghormati pahlawan-pahlawan perang Badar yang terdiri dari orang-orang Muhajirin dan Ansar. Beberapa orang pahlawan perang Badar itu terlambat datang di antaranya Sabit bin Qais. Para pahlawan Badar itu berdiri di luar yang kelihatan oleh Rasulullah mereka mengucapkan salam, "Assalamu' alaikum Ayyuhan Nabiyyu warahaturlahi wabarakatuh", /4 Nabi SAW. menjawab salam, kemudian mereka mengucapkan salam pula kepada orang-orang yang hadir lebih dahulu dan dijawab pula oleh mereka. Para pahlawan Badar itu tetap berdiri, menunggu tempat yang disediakan bagi mereka, tetapi tidak ada yang menyediakannya.Melihat itu Rasulullah SAW.merasa kecewa, lalu mengatakan, "berdirilah, berdirilah". Berapa orang yang ada di sekitar itu berdiri, tetapi dengan rasa enggan yang terlihat di wajah mereka.Maka orang-orang munafik memberikan reaksi dengan maksud mencela Nabi SAW.mereka berkata, "Demi Allah, Muhammad tidak adil, ada orang yang dahulu datang dengan maksud memperoleh tempat duduk di dekatnya, tetapi di suruh berdiri agar tempat itu diberikan kepada orang yang terlambat datang." Maka turunlah ayat ini.
Dari ayat ini dapat dipahami:
1. Para sahabat berlomba-lomba mencari tempat dekat Rasulullah agar mudah mendengar perkataan beliau yang beliau sampaikan kepada mereka.
2. Perintah memberikan tempat kepada orang yang baru datang, adalah merupakan anjuran, sekiranya hal ini mungkin dilakukan, untuk menimbulkan rasa persahabatan antara sesama yang hadir.
3. Sesungguhnya tiap-tiap orang yang memberikan kelapangan kepada hamba Allah dalam melakukan perbuatan-perbuatan baik, maka Allah akan memberi kelapangan pula kepadanya di dunia dan di akhirat nanti.
Memberi kelapangan kepada sesama muslim dalam pergaulan dan usaha mencari kebaikan dan kebaikan, berusaha menyenangkan hati saudara-saudaranya, memberi pertolongan dan sebagainya termasuk yang dianjurkan Rasulullah SAW. Beliau bersabda:
لايزالاللهفيعونالعبدمادامالعبدفيعونأخيه
Artinya:
Allah selalu menolong hamba selama hamba itu menolong saudaranya.
(H.R. Bukhari dan Muslim, lihat Tafsir Al Maragi, hal. 16, juz 28, jilid X)
Ayat ini menerangkan bahwa jika kamu disuruh Rasulullah SAW.berdiri untuk memberikan kesempatan kepada orang tertentu agar ia dapat duduk atau kamu disuruh pergi dahulu hendaknya kamu berdiri atau pergi, karena ia ingin memberikan penghormatan kepada orang-orang itu atau karena ia ingin menyendiri untuk memikirkan urusan-urusan agama, atau melaksanakan tugas-tugas yang perlu diselesaikan dengan segera.
Berdasarkan ayat ini para ulama berpendapat bahwa orang-orang yang hadir dalam suatu majelis hendaklah mematuhi ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam majelis itu atau mematuhi perintah orang-orang yang mengatur majelis itu.
Jika dipelajari maksud ayat di atas ada suatu ketetapan yang ditentukan ayat ini, yaitu agar orang-orang menghadiri suatu majelis baik yang datang pada waktunya atau yang terlambat itu, selalu menjaga suasana yang baik, penuh persaudaraan dan saling bertenggang rasa dalam majelis itu. Bagi yang terdahulu datang hendaklah memenuhi tempat yang agak di muka, sehingga orang yang datang kemudian tidak perlu melangkahi atau mengganggu orang yang telah terdahulu hadir dim bagi orang yang terlambat datang hendaklah merasa rela dengan keadaan yang ditemuinya, seperti tidak dapat tempat duduk. Inilah yang dimaksud dengan sabda Nabi SAW.:
لايقمالرجلمنمجلسهولكنتفسحواوتوسعوا
Artinya:
Janganlah seseorang menyuruh berdiri, dari tempat-tempat duduk temannya yang lain, tetapi hendaklah ia mengatakan: lapangkanlah atau geserlah sedikit.    (H.R. Bukhari Muslim dll)
Akhir ayat ini menerangkan bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman, yang taat dan patuh kepada-Nya, melaksanakan perintah-perintah-Nya, menjauhi larangan-larangan-Nya, berusaha menciptakan suasana damai, aman dan tenteram dalam masyarakat, demikian pula orang-orang yang berilmu yang menggunakan ilmunya untuk menegakkan kalimat Allah.
Dari ayat ini dipahami bahwa orang-orang yang mempunyai derajat yang paling tinggi di sisi Allah ialah orang yang beriman, berilmu dan ilmunya itu diamalkan sesuai dengan yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya.
Kemudian Allah SWT menegaskan bahwa Dia Maha Mengetahui semua yang dilakukan manusia, tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya, siapa yang durhaka kepada-Nya. Dia akan memberi balasan yang adil, sesuai dengan perbuatan yang telah dilakukannya. Perbuatan baik akan dibalas dengan surga dan perbuatan jahat dan terlarang akan dibalas dengan azab neraka.
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Mujaadilah 11

BAB III
PENUTUP
3.1       Kesimpulan
Merujuk kepada apa yang telah kami uraikan pada bab sebelumnya dapat ditarik kesimpulan bahwa:
Motivasi adalah kekuatan-kekuatan dari dalam diri individu yang menggerakkan individu untuk berbuat.Jadi suatu kekuatan atau keinginan yang datang dari dalam hati nurani manusia untuk melakukan suatu perbuatan tertentu.Dan yang menggerak dan mengarahtuju seseorang dalam tindakan-tindakannya sama ada secara negatif atau positif.
Ada  beberapa pelajaran penting yang bisa di ambil dari uraiaan di atas, di antaranya:
1.      Ada perbedaan antara generasi umat islam masa sahabat dengan generasi masa sekarang.
2.      Mereka, para sahabat dahulu memiliki tanggung jawab yang tinggi dalam tugas amar makruf dan nahi munkar serta perjuangan membela agama Allah.
3.      Orang yang tidak mau belajar dan hanya senanng kemewahan hidup dianggap orang yang mabuk, tidak mempunyai kesadaran untuk hidup.
4.      Orang-orang yang konsekuen berpedoman pada Al-Qur’an dan Sunnah dalam situasi sekarang, mendapat penilaian yang tinggi di hadapan Allah dan Rasul-Nya.
5.      Dan juga terkandung motivasi yang tinggi terhadap kita, umat islam, untuk giat mempelajari Al-Qur’an dan Sunnah serta ilmu-ilmu yang lain. Yang berguna bagi kehidupan dunia dan dapat mnejadi bekal di akhirat kelak.


3.2       Saran
            Sebagaimana yang kita ketahui bahwa manusia adalah makhluk yang paling istimewa di antara makhluk-makhluk yang lainnya, karena manusia memiliki akal.Oleh sebab itu marilah kita menggunakan anugrah akal tersebut dengan sebaik-baiknya, agar kita menjadi manusia yang bernanfaat bagi orang lain, salah satunya dengan mencari ilmu dan mengajarkannya.


DAFTAR PUSTAKA

Al-‘Asyqalani, Ahmad bin Ali bin Hajar. (2000). فتحالباريبشرحصحيحالبخاري. Beirut: Darul Fikr.
Al-Bukhari, Abi Abdillah bin Ismail. (1978). صحيحالبخاريالجازالأوّل. Indonesia: Maktabah Daru Ihya Al-Kitab Al-‘Arabiyah.
Ayyub, Hasan. (1994). Etika Islam menuju Kehidupan yang Hakiki. Bandung: Trigenda Karya.
Khalid, Muhammad Khalid. (1995). Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah. Bandung: Diponegoro.
Qadir, A. Hassan. (2007). Ilmu Musthalah Hadits. Bandung: Diponegoro.
Shonhadji, Abdullah. (1979). Tarjamah Durratun Nasihin. Semarang: Almunawar.
http://ikadi.org/ibrah/wasiat-imam-syafii-pendidik-1249013421.htm

http://haditsshahih.blogspot.com/2009/02/keutamaan-orang-yang-mengetahui-dan.html

Pendidik Dan Peserta Didik Dalam Al-Quran

20.31
Pendidik Dan Peserta Didik Dalam Al-Quran Oleh Cecepabdulaziz dan Sagala Aya



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pendidikan merupakan kegiatan yang penting dalam kemajuan manusia. Kegiatan pendidikan pada dasarnya selalu terkait dua belah pihak yaitu: pendidik dan peserta didik. Keterlibatan dua pihak tersebut merupakan keterlibatan hubungan antar manusia (human interaction). Hubungan itu akan serasi jika jelas kedudukan masing-masing pihak secara profesional, yaitu hadir sebagai subjek dan objek yang memiliki hak dan kewajiban. Lebih jelas lagi Tahziduhu Ndraha menambahkan bahwa proses belajar-mengajar terlibat empat pihak, yaitu:
(i)                 Pihak yang berusaha belajar-mengajar,
(ii)               Pihak yang berusaha belajar
(iii)             Pihak yang merupakan sumber pelajaran,
(iv)             Pihak yang berkepentingan atas hasil (out come) proeses belajar-mengajar.
Kualitas pendidikan sangat dipengaruhi kualitas pendidiknya. Salahnya pemahaman seorang pendidik terhadap dirinya, memungkinkan pendidik tidak mampu secara baik memerankan diri sebagai pendidik, dan tidak memenuhi kualifikasi sebagai pendidik. Pendidik seharusnya digugu dan ditiru, atau tut wuri handayani. Beberapa kasus banyak kita temukan perbuatan asusila dilakukan oleh pendidik, yang seharusnya tidak terjadi jika mengingat kualifikasi seorang pendidik. hal ini selanjutnya akan menjadi problem tersendiri dalam kegiatan pendidikan.
Secara kodrati anak memerlukan pendidikan atau bimbingan dari orang dewasa. Dasar kodrati ini dapat dimengerti dari kebutuhan-kebutuhan dasar yang dimiliki oleh setiap anak yang hidup di dunia ini. Kebutuhan yang harus dipenuhi serta berbagai potensi maupun disposisi untuk dididik, dibimbing dan diarahkan sehingga dapat mengaktualisasikan dirinya dalam kehidupan. Dan membentuk anak didik itu harus sesuai dengan tujuan pengajaran yang diharapkan maka pengajaran harus disesuaikan dengan keadaan dan tingkat kemampuan anak, karakteristik, minat dan lain sebagainya. Itulah sebabnya murid merupakan objek didik dalam pendidikan. Anak didik dalam pengertian pendidikan pada umumnya adalah setiap individu atau sekelompok individu yang menerima pengaruh dari seseorang atau sekelompok orang yang menjalankan kegiatan pendidikan. Sedangkan murid dalam pengertian pendidikan secara khusus adalah anak yang belum dewasa yang menjadi tanggung jawab pendidik.
Pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu proses interaksi edukatif anak didik dengan pendidik. Salah satu indikator interaksi edukatif adalah apabila interaksi tersebut dilakukan secara terencana, terkendali, ada bahan yang akan disampaikan dan dapat dievaluasi dalam suatu sistem.
Dari pemaparan di atas terlihat bahwa salah satu permasalahan penting dalam dunia pendidikan adalah komponen pendidik dan murid atau peserta didik. Untuk mengatasi problem tersebut dan untuk memperbaiki kualitas pendidik,  maka kami tertarik untuk mengkaji tentang hakekat pendidik dan peserta didik dalam Al-Qur’an.

B.     Rumusan Masalah
                Dalam makalah ini, penulis mencoba mengidentifikasikan masalah yang akan dibahas  pada bab selanjutnya. Dari uraian sebelumnya, maka dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana hakekat pendidik dalam Al-Qur’an?
2.      Bagaimana hakekat peserta didik dalam Al-Qur’an?

C.    Tujuan Masalah
Sesuai dengan rumusannya, maka tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui:
1.      Hakekat pendidik dalam  Al-Qur’an.
2.      Hakekat peserta didik dalam  Al-Qur’an.

D.    Metodologi Pembahasan
                        Dalam menyusun makalah ini, penulis menggunakan sumber dari buku-buku yang menunjang materi yang dibahas (studi pustaka) dan mencari referensi tambahan dari internet.
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Surah Al-Baqarah ayat 286
Ÿw ß#Ïk=s3ムª!$# $²¡øÿtR žwÎ) $ygyèóãr 4 $ygs9 $tB ôMt6|¡x. $pköŽn=tãur $tB ôMt6|¡tFø.$# 3 $oY­/u Ÿw !$tRõÏ{#xsè? bÎ) !$uZŠÅ¡®S ÷rr& $tRù'sÜ÷zr& 4 $oY­/u Ÿwur ö@ÏJóss? !$uZøŠn=tã #\ô¹Î) $yJx. ¼çmtFù=yJym n?tã šúïÏ%©!$# `ÏB $uZÎ=ö6s% 4 $uZ­/u Ÿwur $oYù=ÏdJysè? $tB Ÿw sps%$sÛ $oYs9 ¾ÏmÎ/ ( ß#ôã$#ur $¨Ytã öÏÿøî$#ur $oYs9 !$uZôJymö$#ur 4 |MRr& $uZ9s9öqtB $tRöÝÁR$$sù n?tã ÏQöqs)ø9$# šúï͍Ïÿ»x6ø9$# ÇËÑÏÈ  
Artinya:  Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): "Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum Kami jika Kami lupa atau Kami tersalah. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau bebankan kepada Kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau pikulkan kepada Kami apa yang tak sanggup Kami memikulnya. beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong Kami, Maka tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir."( Al-Baqarah:286)
·         Tafsir Al-Maraghi
TAFSIR MUFRADAT
لا يكلف الله نفسا إلا وسعها
(Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya) artinya sekedar kesanggupannya
لها ما كسبت
(ia mendapat  dari apa yang diusahakannya) berupa kebajikannya artinya pahala.
وعليها ما اكتسبت
(dan ia mendapat dari hasil kejahatannya) yakni dosanya
ربنا لا تؤاخذنا
("Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami) dengan siksa
إن نسينا أو أخطأنا
(jika kami lupa atau kami tersalah) artinya meninggalkan kebenaran tanpa sengaja
ربنا ولا تحمل علينا إصرا
(Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat) yang tidak mungkin dapat kami pikul
كما حملته على الذين من قبلنا
(sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami) yaitu bani Israel berupa bunuh diri dalam bertobat, mengeluarkan seperempat harta dalam zakat dan mengorek tempat yang kena najis.
ربنا ولا تحملنا ما لا طاقت لنابه
(Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup) atau tidak kuat kami memikulnya berupa tugas-tugas dan cobaan-cobaan .
واعف عنا
(beri ma'aflah Kami) atau hapuslah sekalian dosa kami
واغفرلنا و ارحمنا
(ampunilah kami; dan rahmatilah kami) dalam rahmat itu terdapat kelanjutan atau tambahan dari keampunan.
انت مولنا
(Engkaulah penolong kami) artinya pemimpin dan pengatur urusan kami,
فانصرنا على القوم الكفرين
(Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir) yakni dengan menegakkan hujjah dan memberikan kemenangan dalam peraturan dan pertempuran dengan mereka, karena ciri-ciri seorang maula atau pembela ialah menolong anak buahnya dari musuh-musuh mereka.

·         Tafsir Al-Misbah ( Tafsir Ijmali)
Setiap tugas yang dibebankan kepada seseorang tidak keluar dari tiga kemungkinan :
1.      Mampu dan mudah dilaksanakan
2.      Tidak mudah dia laksanakan
3.      Dia mampu melaksanakannya tapi dengan susah payah dan terasa dan terasa sangat berat.
Di sisi lain, seseorang akan merasa mudah melaksanakan sesuatu jika arena atau waktu pelaksanaannya lapang, berbeda dengan tempat atau waktu yang sempit. Dari sini kata lapang dalam konteks tugas dipahami dalam arti mudah.
            Tugas-tugas yang diberikan Allah kepada manusia adalah tugas-tugas yang lapang. Mudah untuk dilaksanakan, bahkan setiap orang yang mengalami kesulitan dalam pelaksanaan satu tugas, oleh satu dan lain faktor, maka kesulitan tersebut akan melahirkan kemudahan yang dibenarkan walaupun sebelumnya tidak dibenarkan. Sebagai contoh : shalat diwajibkan berdiri, tetapi kalau sulit berdiri, maka boleh sambil duduk. Seseorang yang sulit mendapatkan air untuk berwudhu atau khawatir mengalami kesulitan menyangkut kesehatannya, maka dia boleh tayammum. Demikianlah Allah tidak menghendaki sedikit pun kesulitan menimpa manusia.
            Kata laha pada ayat di atas diterjemahkan dengan baginya yakni pahala sedangkan ‘alaiha’ dipahami dalam arti atasnya dosa. Memang kata ‘ala’ digunakan antara lain untuk menggambarkan sesuatu ayang negatif sedangkan ‘lahu’ digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang positif. Selanjutnya terbaca di atas ketika ayat ini menggambarkan usaha yang baik dengan kata ‘ kasabat’ dan tentang dosa dengan kata ‘iktasabat’. Walaupun keduanya berakar sama tetapi kandungan maknanya berbeda. Penggunaan kata kasabat dalam menggambarkan usaha positif, member isyarat bahwa kebaikan, walau baru dalam bentuk niat dan belum wujud dalam kenyataan, sudah mendapat imbalan dari Allah. Berbeda dengan keburukan. Ia baru dicatat sebagai dosa setelah diusahakan dengan kesungguhan dan lahir dalam kenyataan. Di samping itu, penggunaan bentuk kata tersebut juga menggambarkan, bahwa pada prinsipnya jiwa manusia cenderung berbuat kebajikan. Kejahatan pada mulanya dilakukan manusia dengan kesungguhan dan dengan usaha ekstra, karena kejahatan tidak sejalan dengan bawaan dasar manusia.
            Memang ketika turunnya ayat ini proses ketentuan ilahi masih terus berlanjut, sehingga terbuka kemungkinan, dalam benak para pemohon, adanya kewajiban-kewajiban agama yang masih dalam taraf kemampuan untuk melaksanakannya tetapi dengan susah payah. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya ada tiga kemungkinan yang dihadapi seseorang dalam melaksanakan tugas. Mereka sadar bahwa Allah Swt. tidak mungkin membebani mereka beban yang tidak dapat dipikul. Apalagi sebelum mereka, yakni orang-orang Yahudi, telah mendapat tugas yang sulit karena ulah mereka sendiri.
            Pada ayat di atas permohonan yang dipanjatkan orang-orang beriman, mereka panjatkan sambil menyeru nama Allah Swt. dengan kata Rabbana dan tanpa menggunakan kata ya atau wahai sebagaimana ditemukan dalam terjemahan bahasa Indonesia. Ketiadaan ya yang digunakan untuk menyeru yang jauh, menunjukkan kedekatan mereka kepada Allah swt, dan bahwa kedekatan itu diakui oleh-Nya sehingga diabadikan dalam kitab suci. Menurut pengamatan al-Harrali, dalam al-Qur’an tidak ditemukan satu ayat pun yang menggunakan panggilan jauh kepada Allah dalam ucapan orang-orang mukmin.

·         Nilai-Nilai Tarbiyah yang terkandung dalam ayat
1.      Seorang guru harus memberikan kemudahan dalam memberikan tugas kepada muridnya.
2.      Dalam dunia pendidikan itu ada reward (penghargaan ) dan punishmen (sangsi) Jika murid melakukan kebaikan atau memiliki sebuah prestasi maka berilah reward dan jika melakukan kesalahan maka berilah sangsi. Hal ini diisyaratkan dengan kata “laha ma kasabat wa ‘alaiha ma iktasabat
3.      Seorang murobbi atau guru harus memaafkan muridnya, jika muridnya tersebut tidak tahu akan kesalahannya atau tidak sengaja melakukan kesalahan. Hal ini diisyaratkan dengan kata “!÷$tRù'sÜ÷zr&rr&$uZŠÅ¡®SŸ!bÎ)$tRõÏ{#xsè?w$oY­/u
4.      Seorang murobbi atau pendidik itu harus memberikan tugas sesuai dengan kemampuan siswa. Diisyaratkan dengan kata
$uZ­/u Ÿwur $oYù=ÏdJysè? $tB Ÿw sps%$sÛ $oYs9 ¾ÏmÎ/ (