Pengertian basis data

23.15
Ramakrishnan dan Gehrke (2003), menyatakan basis data sebagai kumpulan data, umumnya mendeskripsikan aktivitas satu organisasi atau lebih yang berhubungan. Sementara Bambang Hariyanto (2004), basis data adalah kumpulan data (elementer) yang secara logik berkaitan dalam merepresentasikan fenomena/fakta secara terstruktur dalam domain tertentu untuk mendukung aplikasi pada sistem tertentu. Basisdata adalah kumpulan data yang saling berhubungan yang merefleksikan fakta-fakta yang terdapat di organisasi. Tidak jauh berbeda dengan Silberschatz, dkk. (2010), mendefinisikan basis data sebagai kumpulan data berisi informasi yang sesuai untuk sebuah perusahaan.

Ilustrasi Sistem Basis Data


            Dapat kita simpulkan bahwa basis data adalah sekumpulan data yang diorganisir pada sebuah sistem. 
        Penggunaan internet tidak hanya terbatas pada pemanfaatan informasi yang dapat diakses melalui media ini, melainkan juga dapat digunakan sebagai sarana untuk melakukan transaksi perdagangan yang akhir-akhir ini telah marak digunakan oleh beberapa perusahaan yang menggunakan internet sebagai media pemesanan tiketnya. Supaya data-data pemesanan tiket dapat dikelola dengan baik perusahaan biasanya menggunakan basis data. Basis data adalah sekumpulan data yang diorganisir pada sebuah sistem

Pentingnya penggunaan basis data dalam pemesanan tiket

23.11
     Salah satu keuntungan menggunakan basis data adalah memungkinkan concurrency, dalam rangka mempercepat semua daya guna sistem dan mendapat responsi waktu yang cepat, beberapa sistem mengijinkan banyak pemakai untuk mengupdate data secara simultan.
penggunaan basis data

       Selain itu dengan basis data, data dapat distandardisasikan. Jika data tersebar dalam beberapa file dalam bentuk format yang tidak sama, maka ini menyulitkan dalam menulis program aplikasi untuk mengambil dan menyimpan data. Maka haruslah data dalam suatu database dibuat format yang standar sehingga mudah dibuat program aplikasinya.
.      Basis data juga dapat mengurangi redundansi data, maksudnya data yang sama disimpan dalam berkas data yang berbeda – beda sehingga apabila ada pengupdatean maka akan terjadi berulang – ulang. Penyimpanan data yang sama berulang – ulang di beberapa file dapat mengakibatkan juga inkonsistensi ( tidak konsisten ). Apabila salah satu dari file yang mengandung data tersebut terlewat di update maka terjadilah data yang tidak konsisten lagi.
       Kemandirian data juga merupakan salah satu keunggulan basis data, dalam paket bahasa DBMS, misalnya pada struktur file setiap kali kita hendak melihat data cukuplah dengan perintah list. Apabila hendak menambah data cukup dengan Append. Ini berarti perintah – perintah dalam paket DBMS bebas terhadap database. Apapun perubahan dalam database semua perintah akan mengalami kestabilan tanpa perlu ada yang diubah. Hal ini akan berbeda dengan paket bahasa lainnya.
       Basis data juga memiliki keamanan yang cukup baik, tidak setiap pemakai sistem database diperbolehkan untuk mengakses semua data maksudnya data dapat dilindungi dari pemakai yang tidak berwenang. Keamanan ini dapat diatur lewat program yang dibuat atau menggunakan fasilitas keamanan dari operating sistemnya.
       Selain itu Memelihara keterpaduan data berarti data harus akurat, hal ini erat hubungannya dengan pengontrolan kerangkapan data dan pemeliharaan keselarasan data.
Pengertian Ijma’ Menurut Istilah Ulama Ushul Al Fiqh

Pengertian Ijma’ Menurut Istilah Ulama Ushul Al Fiqh

18.39
Pengertian Ijma’ Menurut Istilah Ulama Ushul Al Fiqh


Syafe’i (2010: 69) mengemukakan bahwa para ulama ushul berbeda pendapat dalam mendefinisikan ijma’ menurut istilah, diantaranya:

1. Pengarang kitab Fushulul Bada’i berpendapat bahwa ijma’ itu adalah kesepakatan semua mujtahid dari ijma’ umat Muhammad SAW, dalam suatu masa setelah beliau wafat terhadap hukum syara’.

2. Pengarang kitab Tahrir, Al Kamal bin Hamam berpendapat bahwa ijma’ adalah kesepakatan mujtahid suatu masa dari ijma’ Muhammad SAW, terhadap masalah syara’.

Syarat-Syarat Ijma’ dalam Ushul Al Fiqh

Dari definisi ijma’ di atas dapat diketahui bahwa ijma’ bisa terjadi apabila memenuhi syarat-syarat berikut ini, sebagaimana yang diungkapkan Syafe’i (2010: 70):

1. Yang bersepakat adalah para mujtahid

2. Yang bersepakat adalah seluruh mujtahid

3. Para mujtahid harus umat Muhammad SAW

4. Dilakukan setelah wafatnya Nabi

5. Kesepakatan mereka harus berhubungan dengan syar’iat

Macam-Macam Ijma’

Menurut Al Syaukani dalam Husain (2010: 21), ijma’ terdiri dari:

1. Ijma’ al Fuqaha (kesepakatan para ulama Fiqih)

2. Ijma’ al Ushuliyyin (kesepakatan para ulama Ushul)

3. Ijma’ al Nuhat (kesepakatan para ulama Nahwu)
Pengertian Ijma’ Menurut Bahasa

Pengertian Ijma’ Menurut Bahasa

18.34

Menurut Syafe’i (2010: 68), ijma’ menurut bahasa terbagi menjadi dua arti:
1.      Ijma Menurut Bahasa Bermaksud atau berniat, sebagaimana firman Allah dalam Al Quran surat Yunus ayat 71:  
Artinya:
Dan bacakanIah kepada mereka berita penting tentang Nuh di waktu Dia berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, Maka kepada Allah-lah aku bertawakal, karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku). kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.” (QS. Yunus: 71)
Maksud dari ayat ini adalah semua pengikut Nabi Nuh dan teman-temannya harus mengikuti jalan yang beliau tempuh.
2.      Ijma Menurut Bahasa adalah Kesepakatan terhadap sesuatu. Suatu kaum dikatakan telah ber-ijma’ bila mereka bersepakat terhadap sesuatu. Sebagaimana firman Allah dalam Al Quran surat Yusuf ayat 15, yang menerangkan keadaan saudara-saudara Yusuf AS:  
Artinya:
“Maka tatkala mereka membawanya dan sepakat memasukkannya ke dasar sumur (lalu mereka masukkan dia), dan (di waktu dia sudah dalam sumur) Kami wahyukan kepada Yusuf: "Sesungguhnya kamu akan menceritakan kepada mereka perbuatan mereka ini, sedang mereka tiada ingat lagi.” (QS.Yusuf: 15)
Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa mereka bersepakat terhadap rencana memasukkan Nabi Yusuf ke dalam sumur.
Adapun perbedaan antara kedua arti di atas adalah: yang pertama bisa dilakukan oleh satu orang atau banyak, sedangkan arti yang kedua hanya bisa dilakukan oleh dua orang atau lebih, karena tidak mungkin seseorang bersepakat dengan dirinya sendiri.
Daftar Pustaka
Syafe’i, R. (2010). Ilmu Ushul Fiqih. Bandung: Pustaka Setia.



Prinsip Berbahasa Santun di dalam Alquran

18.13


Menurut Sauri (2006: 79-86) ada enam prinsip berbahasa santun dalam Alquran, yaitu:
1.         Qaulan sadida (QS. An-Nisa: 9) dan (QS. Al-Ahzab: 70)
Perkataan qaulan sadida diungkapkan Alquran dalam konteks pembicaraan mengenai wasiat. Untuk itu, orang yang memberi wasiat hendaknya menggunakan kata-kata yang jelas dan jitu; tidak meninggalkan keragu-raguan bagi orang yang ditinggalkan. Sedangkan pada QS Al-Ahzab adalah ucapan yang tepat yang timbul dari hati yang bersih, sebab ucapan adalah gambaran dari apa yang ada di dalam hati.
2.         Qaulan ma’rufa
Qaulan ma’rufa adalah ucapan yang baik, yaitu ucapan yang diterima sebagai sesuatu yang baik dalam pandangan masyarakat lingkungan penutur. Ada pula yang menyebutkan qaulan ma’rifa sebagai perkataan yang baik dan pantas. Baik artinya sesuai dengan norma dan nilai, sedangkan pantas sesuai dengan latar belakang dan status orang yang mengucapkannya.
3.         Qaulan baligha (QS. An-Nisa: 63)
Qaulan baligha diartikan sebagai pembicaraan yang fasih, jelas maknanya, dan terang, serta tepat mengungkapkan apa yang dikehendakinya (ucapan yang sampai pada lubuk hati orang yang diajak bicara yaitu kata-kata yang fashahat dan balaghat).
4.         Qaulan masyura (QS. Al-Isra: 28)
Qaulan masyura artinya perkataan yang mudah. Al Maraghi mengartikannya dalam konteks ayat ini yaitu ucapan yang lunak dan baik atau ucapan janji yang tidak mengecewakan.
5.         Qaulan layyina (QS. Thaha: 44)
Qaulan layyina berarti perkataan yang lemah atau lembut. Berkata layyina adalah berkata lemah lembut.
6.         Qaulan karima (QS. Al-Isra: 23)
Qaulan karima yaitu perkataan yang mulia. Perkataan yang mulia adalah perkataan yang memberi penghargaan dan penghormatan kepada orang yang diajak bicara.
Daftar Pustaka
Sauri, S. (2006). Pendidikan Berbahasa Santun. Bandung: PT Genesindo.


Begitulah pembahasan mengenai  Prinsip Berbahasa Santun di dalam Alquran
Uslub Uslub Dalam Penulisan Skripsi

Uslub Uslub Dalam Penulisan Skripsi

18.06

Berikut adalah Pembahasan Mengenai Uslub Uslub Dalam Penulisan Skripsi
Menurut Syihabuddin et.al. (2014: 53-58) ada beberapa uslub yang biasa digunakan dalam penulisan skripsi, diantaranya:
1.      Additive conjunction (الربط الإضافي)
الواو، واو الحال، ثم، بعد ذلك
2.      Contrastive conjunction  (الربط الاستدراكي)
لكن/لكنّ، بينما، على عكس ذلك أن....، على نقيض ذلك أن....، خلافا لذلك....، على صعيد آخر....، و من جهة ثانية....، و من ناحية أخرى....
3.      Temporal conjunction   (الربط الزمني)
قبل + أن + فعل مضارع، قبل + مصدر، في نفس الوقت- في غضون ذلك، حينما- لمّا- عندما، كلّما...، في هذه الأثناء.....، في هذه اللحظة....، في هذا الوقت....، بينما.....
4.      Listing (الربط الإحصائي)
أولا، ثانيا، ثالثا، على صعيد آخر....، على نقيض ذلك...، من جهة ثانية....، في هذه اللحظة....
5.      Causality (الربط السببي)
و لهذا....، ولهذا السبب....، ولهذا الغرض....، و من جراء ذلك....
6.      Comparation (الربط المقارن)
يشبه....، يضاهي...، يحاكي...، مثل....، ك....، مخالف ل.....، يخالف....

7.      Result (الروابط النتيجة)
نتيجة لذلك.....، أدى إلى....، نظر ألأن....، أما من حيث....، وهكذا يظهر....، وإذا كانت.....، و حيث أن....، و على الرغم....، ولقد أدى هذا....، ولعل من أهم....، وتتضح أهميّة....، ويتجلّى مما سبق....، و من هنا كان....، و ينتج عن هذا....، بالإضافة إلى.....، ومن الظاهر....، و مع أن....، يظهر مما سبق ذكره....، أما عند....، لعله قد اتضح....، على أن....، وتتضحأهميّة....، وأصبح مفهوم....، وبهذا...، و على هذا الأساس.....، أما عن....، و من بين....، إلا أن....، و أخيرا ما هي....، و بصفة عامة....، إن هذه....، وهكذا تؤثر....، كما أن هذه....، ولا أدلّ على ذلك.....، غير أن.....، أما فيما يتعلق....
8.      Introduction phrases (عبارات البدء/المقدمة)
استهل....، في مستهل....، بادئ ذي بدء....، فى البداية....، بداية....، في مقدمة....، أولا....
9.      Conclusion phrases (النهاية/الخاتة)
ختاما + أن، و خلاصة القول + أن، مجمل القول + أن، قصار القول + أن، صفوة القول + أن، سأختم، و نهاية، و في النهاية، وختاما، و مختصر القول + أن
10.  Summaries (الاختصار)
باختصار....، ألخص...، اكتفي بالقول....، لن أفيض في الحديث....، لن أطيل في الشرح....، بإيجاز....، اجتزئ ب....، لضيق الوقت س.....



11.  Expressing opinions (تعبير الرأي)
أوافق الكاتب هذا الرأي....، أشاطر الكتاب الرأي في....، ليس لدي أدنى شك في....، أشد على يد الكاتب في....، أنا مقتنع كل القناعة ب.....، ما طرحه الكاتب بعيد عن كل شك....
12.  Similarity (المثال)
على غرار ذلك....، من نمط....، على هذا الطراز....، على هذا المنوال....، شبيه بهذا....، بهذا....، مثل ذلك....
13.  Probability (الاحتمال)
من المحتمل أن.....، من المرجح أن....، الأقرب إلى الظن أن....
14.  Expressions for commenting on texts (عبارات للتعليق على النصوص)
يتضمن هذا النص + أن....، يحتوى هذا النص على.....، يشمل هذا النص....، ينطوى هذا النص على....، يشتمل هذا النص على....، ينمّ هذا الكلام عن....، يتناول هذا النص....، يحوي هذا النص....، يتمحور هذا النص.....، يتكلم هذا الفيلم/ الرواية القصة عن....، تتمحور هذه القصة حول....
15.  Expressing certainty and insistence (الاصرار)
أوكد على....، ألح على....، لابد من الاعتراف ب....، أقول دون أي شيئ من....، الإرتبات....، الحق أقول أن....، من الواضح أن....، من الجلي أن....

Daftar Pustaka
Syihabuddin. et. al. (2014). Pedoman Penulisan Skripsi dan Tesis Bahasa Arab. Bandung: Lisan Arab Publisher.