BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masalah
Belajar
adalah key term (istilah kunci) yang
paling vital dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya
tak pernah ada pendidikan. Perubahan dan kemampuan untuk berubah merupakan
batasan dan makna yang terkandung dalam belajar. Karena kemampuan berubahlah,
manusia terbebas dari kemandegan fungsinya sebagai khalifah fi al-ardl. Kemampuan berubah melalui belajar itu, manusia
secara bebas dapat mengeksplorasi, memilih, dan menetapkan keputusan-keputusan
penting untuk kehidupannya (Syah, 2000: 94-95).
Kemampuan belajar atau potensi belajar oleh manusia itu
sudah ada semenjak lahirnya, yaitu dengan diberikan pendengaran, penglihatan
dan lain sebagainya. Sehingga dengan belajar manusia mampu memainkan peranan
penting dalam mempertahankan kehidupan sekelompok umat manusia (bangsa) di
tengah-tengah persaingan yang semakin ketat di antara bangsa-bangsa lainnya
yang lebih dahulu maju karena belajar. Akibat persaingan
tersebut, kenyataan tragis juga bisa terjadi karena belajar. Contoh, tidak
sedikit orang pintar yang menggunakan kepintarannya untuk mendesak bahkan
menghancurkan kehidupan orang lain.
Berdasarkan fakta di atas, perlu rasanya kita mengkaji
potensi-potensi belajar manusia yang ada dalam Alquran yang mesti dikembangkan
sehingga mampu menciptakan individu yang cinta ilmu dan yang akan membawa
perubahan dan memakmurkan dunia ini, bukan malah menimbulkan kemudharatan di
muka bumi ini.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang masalah di atas, timbul rumusan masalah sebagai berikut,
1.
Apa saja
ayat-ayat al-Quran yang menjelaskan tentang potensi belajar ?
2.
Bagaimana mufassirîn dalam menafsirkan ayat-ayat
al-Quran tentang potensi belajar ?
3.
Apa saja
kandungan tarbawî (nilai pendidikan)
dari ayat-ayat al-Qur’an tentang potensi belajar ?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan
penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas kelompok dalam mata kuliah Tafsîr Tarbawî sebagai bahan diskusi
kelas yang akan dipresentasikan. Selain itu, penulis juga mempunyai tujuan lain
yaitu,
1.
Ingin mengetahui
ayat-ayat al-Qur’an yang menjelaskan tentang potensi belajar;
2.
Ingin mengetahui
mufassirîn dalam menafsirkan
ayat-ayat al-Qur’an tentang potensi belajar; serta
3.
Ingin mengetahui
kandungan tarbawî dari ayat-ayat
al-Qur’an tentang potensi belajar.
D. Metode Penulisan
Metode
yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah metode kepustakaan. Penulis
mengumpulkan dan menelaah buku-buku yang berhubungan dengan judul pembahasan.
Penulis menggunakan metode ini, karena dipandang sebagai metode yang paling
efektif dan efisien dalam menyelesaikan penulisan makalah ini.
BAB II
Potensi Belajar Dalam Al-Qur’an
Islam
memandang umat manusia sebagai makhluk yang dilahirkan dalam keadaan kosong,
tak berilmu pengetahuan. Akan tetapi, Allah Swt. memberi potensi yang bersifat
jasmaniah dan rohaniah untuk belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan
teknologi untuk kemaslahatan manusia itu sendiri.
Potensi-potensi
tersebut terdapat dalam organ-organ fisio-psikis manusia yang berfungsi sebagai
alat-alat penting untuk melakukan kegiatan belajar. Adapun ragam alat
fisio-psikis itu, seperti yang terungkap dalam beberapa firman Allah Swt.
sebagai berikut.
A. Qur’an Surat
an-Nahl (16 ) ayat 78
و الله أخرجكم من
بطون أمهتكم لا تعلمون شيئا و جعل لكم السمع و الأبصار و الأفئدة قليلا ما تشكرون
"Dan Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibu-ibu
kamu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia menjadikan bagi kamu
pendengaran, penglihatan-penglihatan dan aneka hati, agar kamu bersyukur."
1. Tafsir Mufradat
Dalam
Tafsir al-Mishbah
·
السمع (pendengaran)dengan
bentuk tunggal, karena yang didengar selalu saja sama, baik oleh satu
orang maupun banyak orang dan dari arah mana pun datangnya suara.
·
الأبصار (penglihatan-penglihatan) dengan bentuk jamak, karena apa yang dilihat, posisi
tempat berpijak dan arah pandang melahirkan perbedaan.
·
الأفئدة adalah bentuk jamak dari kata فؤاد yang diterjemahkan
dengan aneka hati guna menunjuk makna jamak itu. Kata ini dipahami oleh
banyak ulama dalam arti akal. Makna ini dapat diterima jika yang
dimaksud dengannya adalah gabungan daya pikir dan daya kalbu, yang menjadikan
seseorang terikat, sehingga tidak terjerumus dalam kesalahan dan
kedurhakaan. Dengan demikian tercakup dalam pengertiannya potensi meraih ilham
dan percikan cahaya ilahi. Hati manusia sekali senang dan sekali susah, sekali
benci dan sekali rindu, tingkat-tingkatnya berbeda-beda walau objek yang
dibenci dan dirindui sama. Hasil penalaran akal pun demikian. Ia dapat berbeda,
boleh jadi ada yang sangat jitu dan tepat, dan boleh jadi juga merupakan
kesalahan fatal. Kepala sama berambut, tetapi pikiran berbeda-beda.
·
لاتعلمون شيئا (tidak
mengetahui sesuatu apa pun) dijadikan
oleh para pakar sebagai bukti bahwa manusia lahir tanpa sedikit pengetahuan apa
pun. Pendapat ini benar, jika yang dimaksud dengan pengetahuan adalah
pengetahuan kasbiy, yakni yang diperoleh melalui upaya manusiawi.
·
تشكرون (supaya kamu bersyukur) terambil dari kata شكر yang inti maknanya adalah memfungsikan
anugerah Allah sesuai dengan tujuan penciptaannya. Bacalah dan camkanlah
tujuan-tujuan yang disebut dan upayakanlah merealisasikannya. Sebanyak manfaat
yang anda dapat raih, sebanyak itu pula pertanda kesyukuran anada, selama anda
rasakan dan sadari bahwa semua yang anda raih itu bersumber dari Allah dan
berkat rahmat-Nya.
- Tafsir Ayat
Al-Maraghi (1974) dalam kitab tafsirnya
menjelaskan tentang ayat ini,
“Allah
menjadikan kalian mengetahui apa yang tidak kalian ketahui, setelah Dia
mengeluarkan kalian dari dalam perut ibu. Kemudian memberi kalian akal yang
dengan itu kalian dapat memahami dan membedakan antara yang baik dengan yang
buruk, antara petunjuk dengan kesesatan, dan antara yang salah dengan yang
benar, menjadikan pendengaran bagi kalian yang dengan itu kalian dapat mendengar
suara-suara, sehingga sebagian kalian dapat memahami dari sebagian yang lain
apa yang saling kalian perbincangkan, menjadikan penglihatan, yang dengan itu
kalian dapat melihat orang-orang, sehingga kalian dapat saling mengenal dan
membedakan antara sebagian dengan sebagian yang lain, dan menjadikan
perkara-perkara yang kalian butuhkan di dalam hidup ini, sehingga kalian dapat
mengetahui jalan, lalu kalian menempuhnya untuk berusaha mencari rizki dan
barang-barang, agar kalian dapat memilih yang baik dan meninggalkan yang buruk.
Demikian halnya dengan seluruh perlengkapan dan aspek kehidupan. Dengan harapan
kalian dapat bersyukur kepada-Nya dengan menggunakan nikmat-nikmat-Nya dalam
tujuannya yang untuk itu ia diciptakan, dapat beribadah kepada-Nya, dan agar
dengan setiap anggota tubuh kalian melaksanakan ketaatan kepada-Nya.” (Tafsir
al-Maraghi, juz XIV: 211-212).
Ibnu Katsir (1988) dalam kitab tafsirnya
menjelaskan tentang ayat ini,
“Allah kemudian
menyebut nikmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang telah mengeluarkan mereka dari
perut ibu-ibu mereka dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu, kemudian kepada
mereka diberikan indera pendengaran untuk menangkap suara-suara, indera
penglihatan untuk melihat benda-benda yang dapat dilihat, dan hati (atau akal) dengan
perantaraannya mereka dapat membedakan hal-hal yang baik dan yang buruk, yang
bermanfaat atau yang madharat. Indera-indera ini diberikan kepada manusia
secara bertahap, makin tumbuh jasmaninya, makin kuatlah penangkapan
indera-inderanya itu hingga mencapai puncaknya. Dan sesungguhnya Allah memberi
kepada hamba-Nya sarana penglihatan, pendengaran, dan pemikiran hanyalah agar
memudahkan ia melakukan ibadah dan taat kepada-Nya.” (Tafsir al-Qur’an
al-‘Azhim, juz IV: 584).
Ash-Shabuni dalam kitab tafsirnya
menjelaskan tentang ayat ini,
..... (وجعل لكم السمع
والأبصار والأفئدة لعلّكم تشكرون) أي خلق لكم الحواس التي بها تسمعون وتبصرون
وتعقلون لتشكروه على نعمه وتحمدوه على آلائه.
“…(dan Dia menjadikan bagi kamu
pendengaran, penglihatan-penglihatan dan aneka hati, agar kamu bersyukur) maksudnya Allah telah melahirkan
kalian dari rahim ibu-ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun
pada mulanya. Kemudian Allah menciptakan untuk kalian beberapa indera yang
dengannya kalian dapat mendengar, melihat, dan berakal. Kesemuanya itu harus
digunakan untuk mensyukuri atas segala kenikmatan dan memuji-Nya
atas segala pemberian-Nya.” (Shafwah at-Tafasir, jil. II: 137).
Dari
tafsiran di atas, jadi jelas bahwasanya manusia itu memiliki potensi untuk
mengetahui sesuatu atau untuk belajar dengan diciptakannya pendengaran,
penglihatan, dan aneka hati, yang dengan itu semua kita mengfungsikannya untuk
belajar, menuntut ilmu, berfikir sehingga kita semakin mengimani Allah SWT.
3.
Kandungan
Nilai Pendidikan
Adapun kandungan nilai pendidikan yang dapat kita petik dari ayat di atas
yaitu:
·
Tujuan pendidikan yang ingin dicapai oleh al-Quran adalah
تشكرون
, yaitu membina manusia guna mampu
menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya.
·
Manusia yang dibina adalah makhluk yang memilki
unsur-unsur material (jasmani) -dalam hal ini diwakili oleh kalimat الأبصار , السمع , بطون -dan
immaterial (ruhani/akal dan jiwa) -diwakili oleh kalimatالأفئدة -Pembinaan akalnya menghasilkan ilmu, pembinaan jiwanya
menghasilkan kesucian dan etika, sedangkan pembinaan jasmaninya menghasilkan
keterampilan. Dengan penggabungan unsur-unsur tersebut, terciptalah makhluk dwi
dimensi dalam satu keseimbangan, dunia dan akhirat, ilmu dan iman. Itu sebabnya
dalam pendidikan Islam dikenal istilah adab al-din dan adab al-dunya. Dengan potensi tersebut mereka dapat belajar.
·
Ayat ini jika dikaitkan dengan
pendidikan, maka seorang guru dalam membelajarkan peserta didik harus
memperhatikan tahap perkembangan fiasi dan psikisnya, sehingga guru dapat
menggunakan metode pembelajarannya dengan tepat dan efektif.
·
Jika menghubungkan ayat di atas
dengan pendidikan, maka guru dituntut untuk bersikap bijak di dalam memberikan
penilaian terhadap peserta didiknya, karena kondisi kejiwaan dan daya nalarnya
berbeda-beda.
Adapun
mengenai potensi belajar, ayat
ini secara jelas mengungkap tiga alat potensi belajar untuk manusia, yaitu:
1. السمع (pendengaran), yakni alat fisik yang berguna untuk menerima
informasi visual;
2. الأبصار (penglihatan-penglihatan), yakni alat fisik yang berguna untuk menerima
informasi verbal;
3.
الأفئدة (aneka hati), adalah gabungan daya pikir dan daya kalbu, yang
menjadikan seseorang terikat, sehingga tidak terjerumus dalam kesalahan
dan kedurhakaan. Dengan demikian tercakup dalam pengertiannya potensi meraih
ilham dan percikan cahaya ilahi.
B.
Qur’an
Surat al-Hajj (22) ayat 46
أفلم يسيروا فى الأرض
فتكون لهم قلوب يعقلون بهآ أو ءاذان يسمعون بها فإنها لا تعمى الأبصار ولكن تعمى
القلوب التى فى الصدور
"Maka Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu
mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai
telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? karena Sesungguhnya bukanlah
mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada."
1. Tafsir Mufradat
·
أَفَلَمْ
يَسٍيْرُوْا فِي اْلأَرْضِ (Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi) lalu
menyaksikan peninggalan-peninggalan yang pernah dihuni oleh orang-orang yang
mendustakan para rasul Allah,
·
فَتَكُوْنَ
لَهُمْ قُلُوْبٌ (lalu dengan
demikian mereka mempunyai hati) yakni akal sehat dan hati suci,
·
يَعْقِلُوْنَ
بِهَا (yang
dengannya mengantar mereka dapat memahami) apa yang mereka lihat,
·
أَوْ (atau) kalaupun mata kepala mereka buta,
·
ءَاذَانٌ
يَسْمَعُوْنَ بِهَا (mereka mempunyai telinga yang dengannya
mereka dapat mendengar) ayat-ayat Allah dan keterangan para rasul
serta pewaris-pewarisnya yang menyampaikan kepada mereka tuntunan dan nasehat
sehingga dengan demikian, mereka dapat merenung dan menarik pelajaran, kendati
mata kepala mereka buta,
·
فَإِنَّهَا
لاَتََعْمَى اْلأَبْصَارُ (karena sesungguhnya bukanlah mata
kepala yang buta) yang menjadikan orang tidak dapat menemukan
kebenaran,
·
وَلَكِنْ
تَعْمَى )tetapi
yang buta) dan menjadikan seseorang tidak dapat menarik
pelajaran dan menemukan kebenaran,
- الْقُلُوْبُ الَّتِي فِي الصُّدُوْر (ialah hati yang berada di dalam dada).
2.
Tafsir Ayat
Al-Maraghi (1974) dalam kitab tafsirnya
menjelaskan tentang ayat ini,
“Apakah
orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan menginkari kekuasaan-Nya itu
tidak mengadakan perjalanan di dalam negeri, lalu memperhatikan bekas para
pendusta rasul-rasul Allah yang telah lalu sebelum mereka, seperti ‘Ad, Tsamud,
kaum Luth, dan kaum Syu’aib? Apakah mereka tidak melihat bekas negeri dan
tempat tinggal umat-umat itu, tidak mendengar berita tentang mereka, lalu
berpikir tentang berita itu dan mengambil pelajaran daripadanya, mengetahui
perkara negeri itu dan perkara penduduknya, serta bagaimana mereka ditimpa
malapetaka? Sehingga, jika mereka mau, mereka dapat mengambil pelajaran dari
sejarah itu, kembali kepada Tuhan mereka dan memahami hujjah-hujjah-Nya yang
telah Dia bentangkan di ufuk.
Selanjutnya,
Allah menjelaskan bahwa mereka tidak bisa diharapkan untuk beriman, karena hati
mereka telah buta, sehingga tidak dapat melihat dalil-dalil kauniyah (yang
bersifat alam), tidak pula dalil-dalil ‘aqliyah. Sekalipun penglihatan mata
mereka sehat dan tidak buta, tetapi hati mereka benar-benar telah buta, padahal
yang dijadikan landasan untuk dapat melihat hujjah
Allah adalah mata hati, bukan mata kepala. Kebutaan mata tidak berarti sama
sekali jika dibandingkan dengan kebutaan hati dan akal. Ayat tersebut benar-benar memburukkan keadaan
orang yang tidak dapat melihat dalil-dalil. Digambarkannya hati, bahwa ia
berada di dalam dada, dimaksudkan untuk menambah penegasan.
Telah diketahui, bahwa
tempat kebutaan adalah mata kepala, seperti diliputi warna hitam (penyakit)
yang menutupi cahayanya. Maka, ketika dikehendaki penetapan hal yang menyalahi
asal dengan menyandarkan kebutaan kepada hati dan meniadakannya dari mata
kepala, dibutuhkan penambahan penentuan dan pengenalan agar diketahui dengan
pasti bahwa tempat kebutaan adalah hati, bukan mata kepala. Hal ini senada
dengan perkataan, “Yang tajam itu bukan pedang, tetapi lisan yang terletak di
antara kedua tulang rahangmu.” Seolah-olah, orang yang mengatakan ini berkata,
“Kami tidak meniadakan ketajaman dari pedang dan tidak menetapkannya bagi lisan
karena lupa, tetapi benar-benar dengan sengaja.” (Tafsir al-Maraghi, 1974, juz
XVII: 205-206).
Ibnu Katsir (1988) dalam kitab tafsirnya
menjelaskan tentang ayat ini,
“Maka apakah
kaum dan orang-orang yang mendustakan kamu hai Muhammad, tidak bepergian di
muka bumi Allah ini untuk melihat-lihat apa yang telah dialami oleh umat-umat
sebelum mereka yang telah dibinasakan Allah karena kecongkakan dan perlakuan
mereka terhadap nabi-nabi utusan Allah? Dengan menyaksikan bekas-bekas yang
ditinggalkan oleh umat-umat yang zhalim itu, agar hati mereka terbuka dapat
memikirkan dan mengambil pelajaran serta telinga mereka yang tersumbat dapat
mendengar kembali cerita umat-umat itu untuk menarik pelajaran dari apa yang
telah terjadi. Karena sesungguhnya bukanlah disebabkan mata yang buta dan
telinga yang tuli, orang tidak dapat beriktibar dari sejarah dan
kejadian-kejadian oleh umat-umat dahulu, tetapi disebabkan oleh hati yang buta
dan beku sehingga tidak dapat memikirkan dan memahami sebab musabab kejadian
pembinasaan itu.” (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 1988, juz V: 377-378).
Ash-Shabuni dalam kitab tafsirnya
menjelaskan tentang ayat ini,
... (فتكون لهم قلوب يعقلون بها) أي فيعتبروا
بما حلّ بهم من النكال والدمار !! وهلا عقلوا ما يجب أن يعقل من الإيمان والتوحيد!
(أوءاذان يسمعون بها) أي أو تكون لهم ءاذان يسمعون بها المواعظ والزواجر (فإنها لا
تعمى الأبصار ولكن تعمى القلوب التى فى الصدور) أي ليس العمى على الحقيقة عمى
البصر، وإنّما العمى عمى البصيرة فمن كان الأعمى القلب لايعتبر ولايتدبّروا وذكر
الصدور للتأكيد ونفي توهم المجاز.
Sayyid Quthb (1992) dalam kitab
tafsirnya menjelaskan tentang ayat ini,
“Sesungguhnya
kebinasaan orang-orang yang terdahulu masih terbayang dan tampak dari jauh, memberikan
pelajaran dan nasihat, sehingga mereka bisa menyaksikannya dan mendapat
pelajaran darinya? Dan, ia berbicara kepada mereka dengan keadaanya yang
menjelaskan? Atau, ia membahas kepada mereka kandungan pelajaran yang
disimpannya?
Sehingga, ia dapat mengetahui di balik
bekas-bekas itu terdapat sisa-sisa reruntuhan yang mengajarkan tentang Sunnat Allah yang tidak akan meleset dan
berganti.
Sehingga, telinga itu dapat mendengar
pembahasan orang-orang yang masih hidup tentang negeri-negeri yang hancur,
sumur-sumur yang kering, dan istana-istan yang roboh itu.
Atau, apakah yang ada pada diri mereka
bukan hati? Karena mereka pasti melihatnya namun mereka tidak menyadari apa-apa,
dan mereka juga mendengar, namun tidak mengambil pelajaran apa pun.
Redaksi ayat ini membahas lebih luas
sampai menentukan tempat hati, yaitu, … sebagai tambahan tekanan dan keterangan
tambahan dalam menetapkan butanya hati itu dengan pasti.
Seandainya hati itu dapat melihat, maka
pasti ia sadar dengan kenangan dan bayangan serta pelajaran itu. Kemudian pasti
condong kepada keimanan karena takut kepada konsekuensi serupa yang telah
membinasakan orang-orang yang terdahulu, dan hal itu banyak di sekitar mereka.
Namun, bukannya
merenungkan hal itu atau berlindung kepada keimanan dan membentengi diri dari
adzab dengan takwa, mereka malah meminta agar adzab itu segera diturunkan.
Dari
tafsir ayat di atas juga dapat kita simpulkan bahwsanya hati untuk memahami,
telinga untuk mendengar, mata untuk melihat, ketiganya haruslah sinkron, agar
manusia itu benar-benar memahami apa yang mereka dengar dan lihat. Seperti itu
juga halnya dalam belajar, haruslah menggunakan potensi yang sudah diciptakan
oleh Allah SWT.
3.
Kandungan
Nilai Pendidikan
Adapun kandungan nilai pendidikan yang dapat kita tarik
kesimpulannya adalah:
·
Kalimat يسيروا
mengisyaratkan bahwa seorang guru mesti
membawa peserta didiknya untuk diajak berwidya wisata/ study tour ke tempat
bersejarah, musieum, laut, gunung, dan lain-lain. Faedahnya untuk menemukan
pelajaran dari sejarah masa lalu, dan menghayati keagungan ciptaan Allah SWT.
·
Kalimat قلوب
yang dikaitkan dengan aktifitas “memahami”
ayat-ayat Allah يعقلون بها seperti tersebut
dalam Firman Allah di atas, tentu tak dapat diartikan secara fisik baik dalam
arti jantung/ heart maupun hati/ lever. Sehubungan dengan hal itu, perlu
diketahui bahwa hati dalam perspektif disiplin ilmu apa pun tidak memiliki
fungsi mental seperti otak. Oleh karenanya, pengetahuan keterampilan dan
nilai-nilai moral yang terkandung dalam bidang studi yang bersangkutan,
seyogianya ditanamkan sebaik-baiknya ke dalam sistem memori para peserta didik,
bukan ke dalam hati (lever) mereka.
·
Aktifitas memahami يسمعون + يعقلون sama dengan
aktifitas berfikir kritis yang hanya dapat dilakukan oleh sistem memori atau
akal manusia yang bersifat abstrak. Dengan demikian, seorang guru dalam
membelajarkan siswanya harus diarahkan pada pembelajaran yang logis, argumentatif,
dan berfikir kritis (tidak taklid).
Potensi
belajar dalam ayat ini adalah,
a. قلوب (hati) yakni
akal sehat dan hati suci yang digunakan untuk memahami segala sesuatu; Hasan Langgulung (1992) menjelaskan,
“Kata qalb kebanyakan artinya berkisar pada
arti perasaan (emosi) dan intelektual
pada manusia. Oleh sebab itu ia merupakan dasar bagi fitrah yang sehat, berbagai perasaan
(emosi), baik mengenai perasaan cinta atau benci dan tempat petunjuk, iman,
kemauan, kontrol, dan pemahaman.”
b.
ءَاذَانٌ
(telinga) yaitu indera yang digunakan untuk mendengarkan. Dengan adanya telinga, sesorang menjadikannya untuk
mendengar informasi apapun, belajar, mendengarkan penjelasan guru dengan
seksama, sehingga mendapatkan ilmu yang bermanfaat.
C. Qur’an Surat
ar-Rum (30) ayat 30
فأقم وجهك للدين
حنيفا فطرت الله التى فطر الناس عليها لا تبديل لخلق الله ذلك الدين القيم ولكن
أكثر الناس لا يعلمون
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah;
(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.
tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahui"[1168],
[1168] Fitrah
Allah: Maksudnya ciptaan Allah. Manusia
diciptakan Allah mempunyai naluri beragama, yaitu agama tauhid. Kalau ada
manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. Mereka tidak
beragama tauhid itu hanyalah lantaran pengaruh lingkungan.
1. Tafsir Mufradat
·
فأقم وجهك(maka hadapkanlah wajahmu), yang
dimaksud adalah perintah untuk mempertahankan dan meningkatkan upaya
menghadapakan diri kepada Allah, secara sempurna karena selama ini kaum
muslimin apalagi Nabi Muhammad saw telah menghadapkan wajah kepada tuntunan
agama-Nya. Dari perintah di atas tersirat juga perintah untuktidak menghiraukan
gangguan kaum musyriki, yang ketika turunnya ayat ini di Mekah, masih cukup
banyak. Makn tersirat itu dapat dipahami dari redaksi ayat di atas yang
memerintahkan menghadap kan wajah. Seorang yang diperintahkan menghadapkan
wajah ke arah tertentu, pada hakikatnya diminta untuk tidak menoleh ke kiri dan
ke kanan, apalagi memperhatikan apa yang terjadi di balik arah yang semestinya
dia tuju.
·
حنيفا (lurus; cenderung kepada
sesuatu). Kata ini pada mulanya digunakan untuk menggambarkan telapak kaki
dan kemiringannya ke arah telapak pasangannya. Yang kanan condong ke arah kiri, dan yang kiri condong ke arah kanan. Ini
menjadikan manusia dapat berjalan dengan lurus. Kelurusan itu, menjadikan si
pejalan tidak mencong ke kiri, tidak pula ke kana.
·
فطرة (fithrah; asal kejadian;
bawaan sejak lahir) terambil dari kata fathara yang berarti mencipta.
Sementara pakar menambahkan, fitrah adalah "mencipta sesuatu pertama
kali/ tanpa ada contoh sebelumnya." Ada yang berpendapat bahwa fitrah yang dimaksud adalah keyakinan tentang
keesaan Allah Swt. yang telah ditanamkan allah dalam diri setiap insan. Dalam
konteks ini sementara ulama menguatkannya dengan hadits Nabi Saw. Yang
menyatakan bahwa: “semua anak yang lahir
dilahirkan atas dasar fitrah, lalu kedua orang tuanya menjadikannya menganut
agama Yahudi, Nashrani, atau Majusi…..(HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, dan
lain-lain melalui abu Hurairah).
·
لاتبديل لخلق الله (tidak ada perubahan pada
ciptaan Allah) yang dimaksud adalah tidak seorang pun yang dapat menjadikan
seorang anak pada awal tahap pertumbuhannya menyandang fitrah yang buruk, atau
tidak mengikuti apa yang dituntunkan kepadanya serta tidak menyerahkan diri
kepada siapa yang mendidiknya.
·
قَيّم (lurus)terambil dari
kata قام . patron
kata qayyim mengandung makna kemantapan dan kekuatan di samping
pemeliharaan. Dengan demikian, penyebutan kata tersebut sebagai sifat agama,
mengandung makna kekukuhan dan kemantapan agama itu (Islam) serta kebersihan
dan kesuciannya dari segala macam kesalahan dan kebatilan. Ia juga adalah agama yang terpelihara di sisi Allah
Swt., sehingga ia akan langgeng selama-lamanya.
·
أكثر الناس لايعلمون (kebanyakan manusia tidak
mengetahui), dikemukakan sebagai jawaban atas pertanyaan yang boleh jadi
muncul mengatakan: "kalau memang agama itu sifatnya qayyim seperti
diutarakan di atas, maka mengapa banyak orang tidak mempercayai atau
mengamalkannya?" Nah,
pertanayaan tersebut dijawab dengan penggalan akhir ayat di atas.
2. Tafsir ayat
Ibnu Katsir (1988) dalam kitab tafsirnya
menjelaskan tentang ayat ini,
“Hadapakanlah wajahmu dengan lurus kepada
agama Allah yang telah disyari’atkannya untukmu dari agama Ibrahim yang
ditunjukkannya kepadamu dan telah disempurnakannya sesempurna-sempurnanya,
sedang engkau tetap di atas fitrah yang Allah telah ciptakannya bagi manusia
dan sekali-kali tidak ada perubahan pada fitrah itu, ialah yang mendasari dan
menjiwai agama Islam yang lurus, akan tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui.” (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 1988, juz VI: 237).
Ash-Shabuni (t.t.) dalam kitab tafsirnya
menjelaskan tentang ayat ini,
..... (فطرة الله التى فطر الناس عليها) أي
هذا الدين الحق الذي أمرناك بالإستقامة عليه خلقه الله التى خلق الناس عليها وهو
فطرة التوحيد كما فى الحديث-كل مولود يولد على الفطرة، فأبواه يهودانه- أخرجه
الشيخان ....
Quraish Shihab (2005) dalam kitab
tafsirnya menjelaskan tentang ayat ini,
“Setelah jelas
bagimu –wahai Nabi- duduk persoalan, maka pertahankanlah apa yang selama ini
telah engkau lakukan, hadapkanlah wajahmu serta arahkan semua perhatianmu,
kepada agama yang disyari’atkan Allah yaitu agama Islam dalam keadaan lurus.
Tetaplah mempertahankan fitrah Allah yang telah menciptakan manusia atasnya
yakni menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan yakni fitrah Allah
itu. Itulah agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui yakni
tidak memiliki pengetahuan yang benar.” (Tafsir al-MIshbah, 2005, vol. 11: 52).
Hamka (1988) dalam kitab tafsirnya
menjelaskan tentang ayat ini,
“Berjalanlah
tetap di atas jalan agama yang telah dijadikan syariat oleh Allah untuk engkau.
Agama itu adalah agama yang disebut hanif, yang sama artinya dengan
al-Mustaqim, yaitu lurus. Tidak membelok ke kiri-kanan. Hanif ini pulalah yang
disebut untuk agama Nabi Ibrahim yang dilanjutkan oleh Nabi Muhammad.
Lazimilah atau tetaplah pelihara
fitrahmu sendiri, yaitu rasa asli murni dalam jiwamu sendiri yang belum
kemasukan pengaruh dari yang lain, yaitu mengakui adanya kekuasaan tertinggi
dalam alam ini, Yang Maha Kuasa dan Maha Perkasa.
Kepercayaan atas adanya Allah adalah
fitri dalam jiwa dan akal manusia. Itu tidak dapat diganti dengan yang lain.
Pada pokoknya seluruh manusia, tidak pandang kedudukan, bangsa, dan iklim
tempat dilahirkan, benua tempat dia berdiam, namun mereka dilahirkan ke dunia
adalah atas keadaan yang demikian itu.
Itulah agama yang bernilai tinggi, berharga
buat direnungkan, yaitu berpegang teguh dengan syariat yang telah diatur oleh
Allah berdasar kepada fitrah yang bersih.
Tertutup bagi
mereka jalan buat mengetahui hakikat yang benar itu. Adakalanya karena hawa
nafsu, adakalanya karena segan melepaskan pegangan lama yang telah dipusakai
dari nenek moyang, adakalanya karena kesombongan, karena merasa dilintasi.”
(Tafsir al-Azhar, 1988, juz XXI: 76)
Berbeda-beda pendapat ulama tentang
maksud kata fitrah pada ayat ini. Al-Biqa’i
(1976) tidak membatasi arti fitrah pada keyakinan tentang keesaan Allah Swt.
Menurutnya, yang dimaksud dengan fitrah adalah ciptaan pertama dan tabi’at awal
yang Allah ciptakan manusia atas dasarnya. Ulama ini kemudian mengutip Imam
al-Ghazali yang menulis dalam Ihya’ ‘Ulum
ad-Din bahwa “Setiap manusia telah diciptakan atas dasar keimanan kepada
Allah bahkan bahkan atas potensi mengetahui persoalan-persoalan sebagaimana
adanya, yakni bagaikan tercakup dalam dirinya karena adanya potensi pengetahuan
(padanya).” Al-Biqa’I kemudian menjelaskan maksud al-Ghazali itu bahwa yang
dimaksud adalah kemudahan mematuhi (perintah Allah) serta keluhuran budi
pekerti yang merupakan cerminan dari fitrah Islam. Dengan demikian, tulis
al-Biqa’i, yang dimaksud dengan fitrah adalah
penerimaan kebenaran dan kemantapan mereka dalam penerimaannya. Anda dapat
menemukan seseorang bisu tetapi dia memahami persoalan kebangkitan manusia di
hari Kemudian dengan pemahaman yang jelas serta dia pun dalam hal itu memiliki
kematapan jiwa yang kukuh.
Ibnu ‘Athiyah memahami fitrah sebagai, “keadaan atau kondisi penciptaan yang terdapat dalam diri manusia yang
menjadikannya berpotensi melalui fitrah itu, mampu membedakan ciptaan-ciptaan
Allah serta mengenal Tuhan dan syari’at-Nya.”
Fitrah
menurut
Ibnu ‘Asyur adalah “unsur-unsur dan
sistem yang Allah anugerahkan kepada setiap makhluk. Fitrah manusia adalah apa
yang diciptakan allah dalam diri manusia yang terdiri dari jasad dan akal
(serta jiwa).” Manusia berjalan dengan kakinya. Mengambil kesimpulan dengan
mengaitkan premis-premis adalah fitrah akliahnya. Sebaliknya, mengambil
kesimpulan akliah dengan premis-premis yang saling bertentangan bukanlah fitrah
akliah manusia. Memastikan apa yang disaksikan mata kita sebagai hal-hal yang
mempunyai wujud dan sebagaimana apa adanya adalah fitrah akliah, sedang
mengingkarinya sebagaimana yang diduga oleh penganut shopisme adalah
bertentangan dengan fitrah akliah.
Ibnu Sina memberi
ilustrasi tentang makna fitrah, bahwa seandainya seorang manusia lahir ke dunia
ini dalam keadaan sempurna akal, tetapi dia belum pernah mendengar satu
pendapat pun, tidak juga meyakini satu madzhab, tidak bergaul dengan satu
pendapat pun, tidak juga meyakini satu madzhab, tidak bergaul dengan satu
masyarakat atau mengenal siasat – hanya menyaksikan hal-hal yang bersifat
indrawi – lalu dia mengambil beberapa kondisi dan memaparkannya ke benaknya
lalu berusaha untuk meragukannya, maka bila dia ragu itu berarti fitrah tidak
mendukungnya, tetapi bila dia tidak dapat ragu, maka itulah petunjuk fitrah.
Namun demikian –lanjut Ibnu Sina- tidak semua yang dituntun oleh fitrah
manusia, benar adanya. Yang benar hanyalah yang dihasilkan oleh potensi akliah,
sedang fitrah pemikiran secara umum, bisa saja tidak benar.
Thabathaba’i menulis bahwa agama tidak
lain kecuali kebutuhan hidup serta jalan yang harus ditempuh manusia agar
mencapai kebahagiaan hidupnya. Manusia tidak menhendaki sesuatu melebihi
kebahagiaan. Allah Swt. telah memberi petunjuk kepada setiap jenis makhluk –
melalui fitrahnya dan sesuai dengan jenisnya – petuntuk menuju kebahagiaannya
yang merupakan tujuan hidupnya. Allah juga telah menyediakan untuknya sarana
yang sesuai dengan tujuan itu (baca QS. Thaha [20]: 50).
3.
Kandungan
Nilai Pendidikan
v Kalimat فأقم وجهك memberikan makna bahwa seorang siswa ketika belajar harus
memperhatikan dan menyimak dengan baik apa yang disampaikan oleh guru, fokus
pada materi pelajaran.
v Kalimat
حنيفا mengisyaratkan bahwa seorang guru harus berkepribadian
lurus (jujur dan amanah) tidak terpengaruh oleh sifat-sifat buruk orang lain.
v Kalimat فطرة
mengisyaratkan
bahwa guru harus menanamkan kepada muridnya secara terus-menerus atas
keyakinannya tentang kekuasaan Allah SWT yang telah ditanamkannya ke dalam diri
setiap insan.
v Kalimat لاتبد يل لخلق الله , mengisyaratkan bahwa guru harus memberi pemahaman kepada
muridnya bahwa hanya agama Islam yang tidak disentuh oleh perubahan, sedang
kepercayaan yang dianut oleh kaum musyrikin (nasrani dan yahudi) telah diubah oleh syaitan.
v Kalimat قيّم menunjukkan bahwa guru harus memiliki kemantapan dalam
mengajar dan memilki kekuatan dalam menghadapi segala tantangan, siswa harus
memiliki kemantapan dalam belajar dan memiliki kekuatan dalam berkompetensi/
bersaing dengan yang lainnya.
Potensi belajar dalam
ayat ini adalah,
فطرة
الله maksudnya keyakinan tentang keesaan Allah
swt. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama (naluri tadayyun),
yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu
tidaklah wajar, mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantaran pengaruh
lingkungan. Dengan adanya
fitarah ini, maka seorang pelajar akan mendudukkan belajar sebagai kewajiban
dan merupakan penghambaan dirinya terhadap Allah dan semakin yakin akan keEsaan
Allah SWT
D. Qur’an Surat
as-Sajdah (32) ayat 7 dan 9
الذى أحسن كل شيئ
خلقه و بدأ خلق الإنسان من طين (7) ثم سواه و نفخ فيه من روحه و جعل لكم السمع و
الأبصار والأفئدة قليلا ما تشكرون (8)
"Yang membuat segala sesuatu yang Dia
ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah."9.
"Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya
dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu
sedikit sekali bersyukur."
1.
Tafsir
Mufradat
·
أحسن (sebaik-baiknya) berarti membuat sesuatu menjadi baik. Kebaikannya diukur
pada potensi dan kesiapannya secara sempurna mengemban fungsi yang dituntut
darinya. Pisau yang baik adalah yang tajam, karena dia diciptakan untuk
memotong. Kata ini menyatakan bahwa Allah swt. telah menciptakan semua
ciptaan-Nya dalam keadaan baik, yakni diciptakan-Nya secara sempurna agar
masing-masing dapat berfungsi sebagaimana yang dikehendaki-Nya.
·
سواه (menyempurnakannya)
mengisyaratkan proses lebih lanjut dari kejadian manusia setelah terbentuk
organ-organnya.
·
مِن روحه (dari
ruh-Nya) yakni ruh Allah. Ini bukan berarti ada "bagian" Ilahi
–yang dianugerahkan kepada manusia. Karena Allah tidak terbagi, tidak juga
terdiri dari unsure-unsur. Yang dimaksud adalah ruh ciptaan-Nya. Penisbatan ruh
itu kepada Allah adalah penisbatan pemuliaan dan penghormatan. Ayat ini
bagaikan berkata: Dia meniupkan ke dalamnya ruh yang mulia dan terhormat
dari (ciptaan)-Nya
- Tafsir Ayat
Ibnu Katsir (1988) dalam kitab tafsirnya
menjelaskan tentang ayat ini,
“Allah
berfirman, bahwa Dia membuat sebaik-baiknya dan seindah-indahnya segala sesuatu
yang Dia ciptakan. Dan Dia telah menciptakan pada permulaannya bapak manusia,
Adam, dari tanah liat, kemudian menciptakan keturunannya, turun temurun dari
saripati air yang hina yakni air mani, dan Allah telah menyempurnakan
penciptaan Adam yang dari tanah menjadi manusia utuh dengan sebaik-baiknya
bentuk, ke dalam tubuhnya ditiupkan roh dan diberinya pendengaran, penglihatan,
hati, dan akal. Tetapi sedikit sekali di antara kamu yang pandai bersyukur atas
segala nikmat Allah dan karunia-Nya itu.” (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 1988,
juz VI: 274).
Quraish Shihab (2005) dalam kitab
tafsirnya menjelaskan tentang ayat ini,
"Ayat di
atas melukiskan sekelumit dari substansi manusia. Makhluk ini terdiri dari
tanah dan ruh Ilahi. Karena tanah, sehingga manusia dipengaruhi oleh kekuatan
alam – sama halnya dengan makhluk-makhluk hidup di bumi lainnya. Ia butuh
makan, minum, hubungan seks, dan lain-lain. Dengan ruh, ia meningkat dari
dimensi kebutuhan tanah itu – walau ia tidak dapat bahkan tidak boleh
melepaskannya, karena tanah adalah bagian dari substansi kejadiannya. Ruh pun
memiliki kebutuhan-kebutuhan, agar dapat terus menhiasi manusia. Dengan ruh,
manusia diantar menuju tujuan non materi yang tidak dapat diukur di
laboratorium, tidak juga dikenal oleh alam materi. Dimensi spiritual inilah
yang mengantar manusia untuk cenderung kepada keindahan, pengorbanan,
kesetiaan, pemujaan, dan lain-lain. Itulah yang mengantar manusia menuju suatu
realitas yang Maha Sempurna, tanpa cacat, tanpa batas, dan tanpa akhir [baca
QS. Al-'Alaq[98]: 8) dan (QS. Al-Insyiqaq [84]: 6). Demikian manusia yang
diciptakan Allah , disempurnakan ciptaannya dan dihembuskan kepadanya ruh
ciptaan-Nya. Dengan gabungan unsure kejadiannya itu,manusia akan berada dalam
satu alam yang hidup dan bermakna, yang dimensi melebar keluar, melampaui
dimensi tanah dan dimensi material." (Shihab, 2002, :186)
Hasbi ash-Shiddiey menafsirkan ayat ini
dengan,
“Dia (Allah)
yang telah menciptakan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya, yang telah
mengokohkan kejadian segala sesuatu yang telah Dia ciptakan-Nya; dan Dia telah
memulai penciptaan manusia dari tanah.
Kmudian Dia
menyempurnakan penciptaan manusia itu, Dia tiupkan padanya dari ruh –Nya –Dia
jadikan ruh padanya- dan Dia menjadikan bagimu pendengaran, penglihatan, dan
hati; sedikit sekali kamu mensyukuri-Nya.” II:1037
3.
Kandungan
Nilai Pendidikan
v Kalimat
الذي احسن كلّ شيئ خلقه ,
mengisyaratkan bahwa seorang guru dan murid harus berkarya dengan
sebaik-baiknya (berkualitas); mengerjakan sesuatu harus dengan sebaik-baiknya.
v Kalimat من
طين ,
mengisyaratkan bahwa seorang guru harus menyadarkan hati dan pikiran siswa
bahwa ia diciptakan dari tanah, sehingga ia dipengaruhi oleh kekuatan alam-
sama halnya dengan makhluk hidup lainnya. Diharapkan siswa menjadi insan yang senantiasa bersykur.
v Kalimat
نفع روحه ,
mengisyaratkan bahwa guru harus memahamkan siswanya bahwa ruh manusia diantar
menuju tujuan non materi yang tidak dapat diukur di laboratorium, tidak juga
dikenal oleh alam materi. Dimensi spiritual inilah yang mengantar manusia untuk
cenderung kepada keindahan, pengorbanan, kesetiaan, pemujaan, dan lain-lain.
Potensi belajar dalam
ayat ini adalah:
·
أحسن ... خلقه (sebaik-baiknya…ciptaan)
berarti membuat sesuatu menjadi baik. Kebaikannya diukur pada potensi dan
kesiapannya secara sempurna mengemban fungsi yang dituntut darinya. Kata ini
menyatakan bahwa Allah swt. telah menciptakan semua ciptaan-Nya dalam keadaan
baik, yakni diciptakan-Nya secara sempurna agar masing-masing dapat berfungsi
sebagaimana yang dikehendaki-Nya. Sehingga manusia apada dasarnya diciptakan
baik dan siap untuk menerima pelajaran. Namun yang menjadikannya buruk adalah
lingkungan.
·
مِن
روحه (dari ruh-Nya) yakni ruh Allah. Yang dimaksud adalah ruh
ciptaan-Nya. Penisbatan ruh itu kepada Allah adalah penisbatan pemuliaan dan
penghormatan. Ayat ini
bagaikan berkata: Dia meniupkan ke dalamnya ruh yang mulia dan terhormat
dari (ciptaan)-Nya.
·
السمع (pendengaran) agar kamu dapat mendengar kebenaran, mendengarkan pelajaran
·
الأبصار (penglihatan-penglihatan) agar kamu dapat melihat tanda-tanda
kebesaran Allah. Memperhatikan ciptaan Allah dan dengannya kita mendapatkan
ilmu pengetahuan yang sangat berpotensi untuk dikembangkan.
BAB
III
PENUTUP
KESIMPULAN
Berdasarkan Ayat-ayat di atas, maka dapat kita simpulkan,
bahwasanya manusia telah diberikan potensi-potensi oleh Allah SWT yang terdapat dalam
organ-organ fisio-psikis manusia yang berfungsi sebagai alat-alat penting untuk
melakukan kegiatan belajar. Adapun ragam alat fisio-psikis itu, seperti yang
terungkap dalam beberapa firman Allah SWT tersebut, sebagai berikut.
1. As-Sam’u/
Indera pendengar (telinga), yaitu alat
fisik yang berguna untuk menerima informasi visual; agar kamu dapat mendengar
kebenaran yang datang dari Allah, kita dapat mendengar ilmu yang mesti kita
pelajari
2. Al-Absharu/ Indera
penglihat (mata), yaitu alat fisik
yang berguna untuk menerima informasi verbal; agar kamu dapat melihat
tanda-tanda kebesaran Allah,. Berrati kita bisa melihat alam sekitar dan belajar
dengan baik.
3. Al-Afidatu/ akal,
yaitu potensi kejiwaan manusia berupa sistem psikis yang kompleks untuk
menyerap, mengolah, menyimpan dan memproduksi kembali item-item informasi dan
pengetahuan (ranah kognitif); gabungan daya fikir dan daya kalbu, yang
menjadikan seseorang terikat sehingga
tidak terjerumus dalam kesalahan dan kedurhakaan; potensi untuk meraih ilham
dan percikan cahaya Ilahi,
4. Al-Qulub/ hati, yaitu
akal sehat dan hati suci; kebebasan berpikir jernih, potensi untuk menemukan
sendiri kebenaran, serta mengikuti keterangan orang terpercaya dalam hal
kebenaran yang didambakan itu,
5. Fitrah Allah/ fitrah
keagamaan (bawaan sejak lahir), yaitu potensi keyakinan tentang
keesaan Allah Swt. yang telah ditanamkan Allah dalam diri setiap insan; setiap
manusia telah diciptakan atas dasar keimanan kepada allah bahkan atas potensi mengetahui
persoalan-persoalan sebagaimana adanya; kemudahan mematuhi perintah Allah serta
keluhuran budi pekerti yang merupakan cerminan dari fitrah Islam; penerimaan
kebenaran dan kemantapan mereka dalam penerimaannya; potensi untuk mampu
membedakan ciptaan-ciptaan allah serta mengenal Tuhan dan syri’at-Nya; unsur-unsur
dan sistem yang Allah anugerahkan kepada setiap makhluk; apa yang diciptakan
Allah dalam diri manusia yang tetrdiri dari jasad dan akal (serta) jiwa,
6. Ahsana … khalqahu (Dia
membuat sebaik-baiknya), yaitu Allah Swt. telah menciptakan semua
ciptaan-Nya dalam keadaan baik, yakni diciptakan-Nya secara sempurna
agar-masing-masing dapat berfungsi sebagaiman yang dikehendaki-Nya; potensi
sempurna untuk menyukseskan tugas masing-masing, tetapi dalam saat yang sama,
mereka di uji, dan untuk ujian itu mereka pun diberi potensi sehingga pada
akhirnya manusia berpotensi untuk menjadi baik dan buruk; Allah menciptakan
manusia dalam keadaan sempurna sesuai dengan tujuan dan fungsi yang diembannya,
7.
Rûhihi (dari ruh-Nya), yaitu ruh
ciptaan-Nya; penisbatan ruh itu kepada Allah adalah penisbatan pemuliaan dan
penghormatan; Dia meniupkan ke dalamnya ruh yang mulia dan terhormat dari (ciptaan)-Nya.
DAFTAR
PUSTAKA
Al-Maraghi,
Ahmad Musthafa. (1974). Tafsir al-Maraghi. Penerj. Bahrun Abu Bakar, dkk., Terjemah Tafsir al-Maraghi.
Bandung: al-Ma’arif.
Ash-Shabuni.
(t.t.). Shafwatu at-Tafasir. Beirut: Dar al-Fikr.
Hamka.
(1988). Tafsir al-Azhar.
Jakarta: Pustaka Panjimas.
Katsir,
Isma’il Ibnu. (1990). Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir. Alih Bahasa: Salim & Said Bahreis,
Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsir.
Surabaya: Bina Ilmu.
Langgulung,
Hasan. (1992). Asas-Asas Pendidikan Islam. Jakarta: Pustaka al-Husna.
Quthb,
Sayyid. (1992). Fi Zhilalil-Qur’an. Penerj.
As’ad Yasin, dkk., Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Di Bawah Naungan al-Qur’an. Jakarta:
Gema Insani Press.
Shihab,
M. Quraish. (2002). Tafsir al-Mishbah; Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an.
Jakarta: Lentera Hati.
Syah,
Muhibbin. (2003). Psikologi Pendidikan, dengan pendekatan baru. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Ash-Shiddieqy,
T.M. Hasbi. (t.t.). Tafsir al-Bayaan. Bandung: al-Ma’arif.

