BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan
merupakan kegiatan yang penting dalam kemajuan manusia. Kegiatan pendidikan
pada dasarnya selalu terkait dua belah pihak yaitu: pendidik dan peserta didik.
Keterlibatan dua pihak tersebut merupakan keterlibatan hubungan antar manusia
(human interaction). Hubungan itu akan serasi jika jelas kedudukan
masing-masing pihak secara profesional, yaitu hadir sebagai subjek dan objek
yang memiliki hak dan kewajiban. Lebih jelas lagi Tahziduhu Ndraha menambahkan
bahwa proses belajar-mengajar terlibat empat pihak, yaitu:
(i)
Pihak
yang berusaha belajar-mengajar,
(ii)
Pihak
yang berusaha belajar
(iii)
Pihak
yang merupakan sumber pelajaran,
(iv)
Pihak
yang berkepentingan atas hasil (out come) proeses belajar-mengajar.
Kualitas
pendidikan sangat dipengaruhi kualitas pendidiknya. Salahnya pemahaman seorang
pendidik terhadap dirinya, memungkinkan pendidik tidak mampu secara baik
memerankan diri sebagai pendidik, dan tidak memenuhi kualifikasi sebagai
pendidik. Pendidik seharusnya digugu dan ditiru, atau tut wuri handayani.
Beberapa kasus banyak kita temukan perbuatan asusila dilakukan oleh pendidik,
yang seharusnya tidak terjadi jika mengingat kualifikasi seorang pendidik. hal
ini selanjutnya akan menjadi problem tersendiri dalam kegiatan pendidikan.
Secara
kodrati anak memerlukan pendidikan atau bimbingan dari orang dewasa. Dasar
kodrati ini dapat dimengerti dari kebutuhan-kebutuhan dasar yang dimiliki oleh
setiap anak yang hidup di dunia ini. Kebutuhan yang harus dipenuhi serta
berbagai potensi maupun disposisi untuk dididik, dibimbing dan diarahkan
sehingga dapat mengaktualisasikan dirinya dalam kehidupan. Dan membentuk anak
didik itu harus sesuai dengan tujuan pengajaran yang diharapkan maka pengajaran
harus disesuaikan dengan keadaan dan tingkat kemampuan anak, karakteristik,
minat dan lain sebagainya. Itulah sebabnya murid merupakan objek didik dalam
pendidikan. Anak didik dalam pengertian pendidikan pada umumnya adalah setiap
individu atau sekelompok individu yang menerima pengaruh dari seseorang atau
sekelompok orang yang menjalankan kegiatan pendidikan. Sedangkan murid dalam
pengertian pendidikan secara khusus adalah anak yang belum dewasa yang menjadi
tanggung jawab pendidik.
Pembelajaran
dapat diartikan sebagai suatu proses interaksi edukatif anak didik dengan
pendidik. Salah satu indikator interaksi edukatif adalah apabila interaksi
tersebut dilakukan secara terencana, terkendali, ada bahan yang akan
disampaikan dan dapat dievaluasi dalam suatu sistem.
Dari
pemaparan di atas terlihat bahwa salah satu permasalahan penting dalam dunia
pendidikan adalah komponen pendidik dan murid atau peserta didik. Untuk
mengatasi problem tersebut dan untuk memperbaiki kualitas pendidik, maka kami tertarik untuk mengkaji tentang
hakekat pendidik dan peserta didik dalam Al-Qur’an.
B. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini, penulis mencoba mengidentifikasikan masalah
yang akan dibahas pada bab selanjutnya.
Dari uraian sebelumnya, maka dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut:
1.
Bagaimana hakekat pendidik dalam Al-Qur’an?
2.
Bagaimana hakekat peserta didik dalam
Al-Qur’an?
C. Tujuan Masalah
Sesuai dengan rumusannya, maka tujuan pembuatan makalah ini adalah
untuk mengetahui:
1.
Hakekat pendidik dalam Al-Qur’an.
2.
Hakekat peserta didik dalam Al-Qur’an.
D. Metodologi Pembahasan
Dalam menyusun makalah
ini, penulis menggunakan sumber dari buku-buku yang menunjang materi yang
dibahas (studi pustaka) dan mencari referensi tambahan dari internet.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Surah Al-Baqarah ayat 286
w ß#Ïk=s3ã ª!$# $²¡øÿtR wÎ) $ygyèóãr 4 $ygs9 $tB ôMt6|¡x. $pkön=tãur $tB ôMt6|¡tFø.$# 3 $oY/u w !$tRõÏ{#xsè? bÎ) !$uZÅ¡®S ÷rr& $tRù'sÜ÷zr& 4 $oY/u wur ö@ÏJóss? !$uZøn=tã #\ô¹Î) $yJx. ¼çmtFù=yJym n?tã úïÏ%©!$# `ÏB $uZÎ=ö6s% 4 $uZ/u wur $oYù=ÏdJysè? $tB w sps%$sÛ $oYs9 ¾ÏmÎ/ ( ß#ôã$#ur $¨Ytã öÏÿøî$#ur $oYs9 !$uZôJymö$#ur 4 |MRr& $uZ9s9öqtB $tRöÝÁR$$sù n?tã ÏQöqs)ø9$# úïÍÏÿ»x6ø9$# ÇËÑÏÈ
Artinya: Allah tidak membebani seseorang melainkan
sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang
diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.
(mereka berdoa): "Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum Kami jika Kami
lupa atau Kami tersalah. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau bebankan kepada Kami
beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.
Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau pikulkan kepada Kami apa yang tak sanggup Kami
memikulnya. beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah
penolong Kami, Maka tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir."(
Al-Baqarah:286)
·
Tafsir
Al-Maraghi
|
TAFSIR
MUFRADAT
|
|
|
لا
يكلف الله نفسا إلا وسعها
|
(Allah tidak membebani seseorang
melainkan sesuai dengan kemampuannya) artinya sekedar kesanggupannya
|
|
لها
ما كسبت
|
(ia
mendapat dari apa yang diusahakannya)
berupa kebajikannya artinya pahala.
|
|
وعليها
ما اكتسبت
|
(dan ia
mendapat dari hasil kejahatannya) yakni dosanya
|
|
ربنا
لا تؤاخذنا
|
("Ya
Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami) dengan siksa
|
|
إن
نسينا أو أخطأنا
|
(jika kami
lupa atau kami tersalah) artinya meninggalkan kebenaran tanpa sengaja
|
|
ربنا
ولا تحمل علينا إصرا
|
(Ya Tuhan
kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat) yang tidak
mungkin dapat kami pikul
|
|
كما
حملته على الذين من قبلنا
|
(sebagaimana
Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami) yaitu bani Israel berupa
bunuh diri dalam bertobat, mengeluarkan seperempat harta dalam zakat dan
mengorek tempat yang kena najis.
|
|
ربنا
ولا تحملنا ما لا طاقت لنابه
|
(Ya Tuhan
kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup) atau
tidak kuat kami memikulnya berupa tugas-tugas dan cobaan-cobaan .
|
|
واعف
عنا
|
(beri ma'aflah
Kami) atau hapuslah sekalian dosa kami
|
|
واغفرلنا
و ارحمنا
|
(ampunilah
kami; dan rahmatilah kami) dalam rahmat itu terdapat kelanjutan atau tambahan
dari keampunan.
|
|
انت
مولنا
|
(Engkaulah
penolong kami) artinya pemimpin dan pengatur urusan kami,
|
|
فانصرنا
على القوم الكفرين
|
(Maka
tolonglah kami terhadap kaum yang kafir) yakni dengan menegakkan hujjah dan
memberikan kemenangan dalam peraturan dan pertempuran dengan mereka, karena
ciri-ciri seorang maula atau pembela ialah menolong anak buahnya dari
musuh-musuh mereka.
|
·
Tafsir Al-Misbah
( Tafsir Ijmali)
Setiap tugas yang dibebankan kepada
seseorang tidak keluar dari tiga kemungkinan :
1.
Mampu dan mudah
dilaksanakan
2.
Tidak mudah dia
laksanakan
3.
Dia mampu melaksanakannya
tapi dengan susah payah dan terasa dan terasa sangat berat.
Di sisi lain,
seseorang akan merasa mudah melaksanakan sesuatu jika arena atau waktu
pelaksanaannya lapang, berbeda dengan tempat atau waktu yang sempit. Dari sini
kata lapang dalam konteks tugas dipahami dalam arti mudah.
Tugas-tugas yang diberikan Allah
kepada manusia adalah tugas-tugas yang lapang. Mudah untuk dilaksanakan, bahkan
setiap orang yang mengalami kesulitan dalam pelaksanaan satu tugas, oleh satu
dan lain faktor, maka kesulitan tersebut akan melahirkan kemudahan yang
dibenarkan walaupun sebelumnya tidak dibenarkan. Sebagai contoh : shalat
diwajibkan berdiri, tetapi kalau sulit berdiri, maka boleh sambil duduk.
Seseorang yang sulit mendapatkan air untuk berwudhu atau khawatir mengalami
kesulitan menyangkut kesehatannya, maka dia boleh tayammum. Demikianlah Allah
tidak menghendaki sedikit pun kesulitan menimpa manusia.
Kata laha pada ayat di atas
diterjemahkan dengan baginya yakni pahala sedangkan ‘alaiha’ dipahami
dalam arti atasnya dosa. Memang kata ‘ala’ digunakan antara lain untuk
menggambarkan sesuatu ayang negatif sedangkan ‘lahu’ digunakan untuk
menggambarkan sesuatu yang positif. Selanjutnya terbaca di atas ketika ayat ini
menggambarkan usaha yang baik dengan kata ‘ kasabat’ dan tentang dosa
dengan kata ‘iktasabat’. Walaupun keduanya berakar sama tetapi kandungan
maknanya berbeda. Penggunaan kata kasabat dalam menggambarkan usaha
positif, member isyarat bahwa kebaikan, walau baru dalam bentuk niat dan belum
wujud dalam kenyataan, sudah mendapat imbalan dari Allah. Berbeda dengan
keburukan. Ia baru dicatat sebagai dosa setelah diusahakan dengan kesungguhan
dan lahir dalam kenyataan. Di samping itu, penggunaan bentuk kata tersebut juga
menggambarkan, bahwa pada prinsipnya jiwa manusia cenderung berbuat kebajikan.
Kejahatan pada mulanya dilakukan manusia dengan kesungguhan dan dengan usaha
ekstra, karena kejahatan tidak sejalan dengan bawaan dasar manusia.
Memang ketika turunnya ayat ini
proses ketentuan ilahi masih terus berlanjut, sehingga terbuka kemungkinan,
dalam benak para pemohon, adanya kewajiban-kewajiban agama yang masih dalam
taraf kemampuan untuk melaksanakannya tetapi dengan susah payah. Seperti yang
telah dikemukakan sebelumnya ada tiga kemungkinan yang dihadapi seseorang dalam
melaksanakan tugas. Mereka sadar bahwa Allah Swt. tidak mungkin membebani
mereka beban yang tidak dapat dipikul. Apalagi sebelum mereka, yakni
orang-orang Yahudi, telah mendapat tugas yang sulit karena ulah mereka sendiri.
Pada
ayat di atas permohonan yang dipanjatkan orang-orang beriman, mereka panjatkan
sambil menyeru nama Allah Swt. dengan kata Rabbana dan tanpa menggunakan
kata ya atau wahai sebagaimana ditemukan dalam terjemahan bahasa
Indonesia. Ketiadaan ya yang digunakan untuk menyeru yang jauh,
menunjukkan kedekatan mereka kepada Allah swt, dan bahwa kedekatan itu diakui
oleh-Nya sehingga diabadikan dalam kitab suci. Menurut pengamatan al-Harrali,
dalam al-Qur’an tidak ditemukan satu ayat pun yang menggunakan panggilan jauh kepada
Allah dalam ucapan orang-orang mukmin.
·
Nilai-Nilai
Tarbiyah yang terkandung dalam ayat
1. Seorang
guru harus memberikan kemudahan dalam memberikan tugas kepada muridnya.
2. Dalam
dunia pendidikan itu ada reward (penghargaan ) dan punishmen (sangsi) Jika murid
melakukan kebaikan atau memiliki sebuah prestasi maka berilah reward dan jika
melakukan kesalahan maka berilah sangsi. Hal ini diisyaratkan dengan kata “laha
ma kasabat wa ‘alaiha ma iktasabat ”
3. Seorang
murobbi atau guru harus memaafkan muridnya, jika muridnya tersebut tidak tahu
akan kesalahannya atau tidak sengaja melakukan kesalahan. Hal ini diisyaratkan
dengan kata “!÷$tRù'sÜ÷zr&rr&$uZÅ¡®S!bÎ)$tRõÏ{#xsè?w$oY/u”
4. Seorang
murobbi atau pendidik itu harus memberikan tugas sesuai dengan kemampuan siswa.
Diisyaratkan dengan kata
$uZ/u wur
$oYù=ÏdJysè? $tB
w sps%$sÛ
$oYs9 ¾ÏmÎ/
(

