Potensi Belajar Dalam Al-Quran

Makalah Potensi Belajar Dalam AlQuran Oleh Cecepabdulaziz dan Sagala Aya


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Belajar adalah key term (istilah kunci) yang paling vital dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tak pernah ada pendidikan. Perubahan dan kemampuan untuk berubah merupakan batasan dan makna yang terkandung dalam belajar. Karena kemampuan berubahlah, manusia terbebas dari kemandegan fungsinya sebagai khalifah fi al-ardl. Kemampuan berubah melalui belajar itu, manusia secara bebas dapat mengeksplorasi, memilih, dan menetapkan keputusan-keputusan penting untuk kehidupannya (Syah, 2000: 94-95).
Kemampuan belajar atau potensi belajar oleh manusia itu sudah ada semenjak lahirnya, yaitu dengan diberikan pendengaran, penglihatan dan lain sebagainya. Sehingga dengan belajar manusia mampu memainkan peranan penting dalam mempertahankan kehidupan sekelompok umat manusia (bangsa) di tengah-tengah persaingan yang semakin ketat di antara bangsa-bangsa lainnya yang lebih dahulu maju karena belajar. Akibat persaingan tersebut, kenyataan tragis juga bisa terjadi karena belajar. Contoh, tidak sedikit orang pintar yang menggunakan kepintarannya untuk mendesak bahkan menghancurkan kehidupan orang lain.
Berdasarkan fakta di atas, perlu rasanya kita mengkaji potensi-potensi belajar manusia yang ada dalam Alquran yang mesti dikembangkan sehingga mampu menciptakan individu yang cinta ilmu dan yang akan membawa perubahan dan memakmurkan dunia ini, bukan malah menimbulkan kemudharatan di muka bumi ini.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, timbul rumusan masalah sebagai berikut,
1.      Apa saja ayat-ayat al-Quran yang menjelaskan tentang potensi belajar ?
2.      Bagaimana mufassirîn dalam menafsirkan ayat-ayat al-Quran tentang potensi belajar ?
3.      Apa saja kandungan tarbawî (nilai pendidikan) dari ayat-ayat al-Qur’an tentang potensi belajar ? 


C.    Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas kelompok dalam mata kuliah Tafsîr Tarbawî sebagai bahan diskusi kelas yang akan dipresentasikan. Selain itu, penulis juga mempunyai tujuan lain yaitu,
1.      Ingin mengetahui ayat-ayat al-Qur’an yang menjelaskan tentang potensi belajar;
2.      Ingin mengetahui mufassirîn dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an tentang potensi belajar; serta
3.      Ingin mengetahui kandungan tarbawî dari ayat-ayat al-Qur’an tentang potensi belajar. 
D.    Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah metode kepustakaan. Penulis mengumpulkan dan menelaah buku-buku yang berhubungan dengan judul pembahasan. Penulis menggunakan metode ini, karena dipandang sebagai metode yang paling efektif dan efisien dalam menyelesaikan penulisan makalah ini.


BAB II
Potensi Belajar Dalam Al-Qur’an

Islam memandang umat manusia sebagai makhluk yang dilahirkan dalam keadaan kosong, tak berilmu pengetahuan. Akan tetapi, Allah Swt. memberi potensi yang bersifat jasmaniah dan rohaniah untuk belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemaslahatan manusia itu sendiri.
Potensi-potensi tersebut terdapat dalam organ-organ fisio-psikis manusia yang berfungsi sebagai alat-alat penting untuk melakukan kegiatan belajar. Adapun ragam alat fisio-psikis itu, seperti yang terungkap dalam beberapa firman Allah Swt. sebagai berikut.   

A.    Qur’an Surat an-Nahl (16 ) ayat 78

و الله أخرجكم من بطون أمهتكم لا تعلمون شيئا و جعل لكم السمع و الأبصار و الأفئدة قليلا ما تشكرون                   
"Dan Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibu-ibu kamu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan-penglihatan dan aneka hati, agar kamu bersyukur."

1.       Tafsir Mufradat
Dalam Tafsir al-Mishbah
·         السمع (pendengaran)dengan bentuk tunggal, karena yang didengar selalu saja sama, baik oleh satu orang maupun banyak orang dan dari arah mana pun datangnya suara.
·         الأبصار (penglihatan-penglihatan) dengan bentuk jamak, karena apa yang dilihat, posisi tempat berpijak dan arah pandang melahirkan perbedaan.
·         الأفئدة adalah bentuk jamak dari kata فؤاد yang diterjemahkan dengan aneka hati guna menunjuk makna jamak itu. Kata ini dipahami oleh banyak ulama dalam arti akal. Makna ini dapat diterima jika yang dimaksud dengannya adalah gabungan daya pikir dan daya kalbu, yang menjadikan seseorang terikat, sehingga tidak terjerumus dalam kesalahan dan kedurhakaan. Dengan demikian tercakup dalam pengertiannya potensi meraih ilham dan percikan cahaya ilahi. Hati manusia sekali senang dan sekali susah, sekali benci dan sekali rindu, tingkat-tingkatnya berbeda-beda walau objek yang dibenci dan dirindui sama. Hasil penalaran akal pun demikian. Ia dapat berbeda, boleh jadi ada yang sangat jitu dan tepat, dan boleh jadi juga merupakan kesalahan fatal. Kepala sama berambut, tetapi pikiran berbeda-beda.
·         لاتعلمون شيئا (tidak mengetahui sesuatu apa pun) dijadikan oleh para pakar sebagai bukti bahwa manusia lahir tanpa sedikit pengetahuan apa pun. Pendapat ini benar, jika yang dimaksud dengan pengetahuan adalah pengetahuan kasbiy, yakni yang diperoleh melalui upaya manusiawi.
·         تشكرون  (supaya kamu bersyukur) terambil dari kata شكر  yang inti maknanya adalah memfungsikan anugerah Allah sesuai dengan tujuan penciptaannya. Bacalah dan camkanlah tujuan-tujuan yang disebut dan upayakanlah merealisasikannya. Sebanyak manfaat yang anda dapat raih, sebanyak itu pula pertanda kesyukuran anada, selama anda rasakan dan sadari bahwa semua yang anda raih itu bersumber dari Allah dan berkat rahmat-Nya.

  1. Tafsir Ayat
Al-Maraghi (1974) dalam kitab tafsirnya menjelaskan tentang ayat ini,
“Allah menjadikan kalian mengetahui apa yang tidak kalian ketahui, setelah Dia mengeluarkan kalian dari dalam perut ibu. Kemudian memberi kalian akal yang dengan itu kalian dapat memahami dan membedakan antara yang baik dengan yang buruk, antara petunjuk dengan kesesatan, dan antara yang salah dengan yang benar, menjadikan pendengaran bagi kalian yang dengan itu kalian dapat mendengar suara-suara, sehingga sebagian kalian dapat memahami dari sebagian yang lain apa yang saling kalian perbincangkan, menjadikan penglihatan, yang dengan itu kalian dapat melihat orang-orang, sehingga kalian dapat saling mengenal dan membedakan antara sebagian dengan sebagian yang lain, dan menjadikan perkara-perkara yang kalian butuhkan di dalam hidup ini, sehingga kalian dapat mengetahui jalan, lalu kalian menempuhnya untuk berusaha mencari rizki dan barang-barang, agar kalian dapat memilih yang baik dan meninggalkan yang buruk. Demikian halnya dengan seluruh perlengkapan dan aspek kehidupan. Dengan harapan kalian dapat bersyukur kepada-Nya dengan menggunakan nikmat-nikmat-Nya dalam tujuannya yang untuk itu ia diciptakan, dapat beribadah kepada-Nya, dan agar dengan setiap anggota tubuh kalian melaksanakan ketaatan kepada-Nya.” (Tafsir al-Maraghi, juz XIV: 211-212).  
Ibnu Katsir (1988) dalam kitab tafsirnya menjelaskan tentang ayat ini,
“Allah kemudian menyebut nikmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang telah mengeluarkan mereka dari perut ibu-ibu mereka dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu, kemudian kepada mereka diberikan indera pendengaran untuk menangkap suara-suara, indera penglihatan untuk melihat benda-benda yang dapat dilihat, dan hati (atau akal) dengan perantaraannya mereka dapat membedakan hal-hal yang baik dan yang buruk, yang bermanfaat atau yang madharat. Indera-indera ini diberikan kepada manusia secara bertahap, makin tumbuh jasmaninya, makin kuatlah penangkapan indera-inderanya itu hingga mencapai puncaknya. Dan sesungguhnya Allah memberi kepada hamba-Nya sarana penglihatan, pendengaran, dan pemikiran hanyalah agar memudahkan ia melakukan ibadah dan taat kepada-Nya.” (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, juz  IV: 584).
Ash-Shabuni dalam kitab tafsirnya menjelaskan tentang ayat ini,
..... (وجعل لكم السمع والأبصار والأفئدة لعلّكم تشكرون) أي خلق لكم الحواس التي بها تسمعون وتبصرون وتعقلون لتشكروه على نعمه وتحمدوه على آلائه.
“…(dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan-penglihatan dan aneka hati, agar kamu bersyukur) maksudnya Allah telah melahirkan kalian dari rahim ibu-ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun pada mulanya. Kemudian Allah menciptakan untuk kalian beberapa indera yang dengannya kalian dapat mendengar, melihat, dan berakal. Kesemuanya itu harus digunakan untuk mensyukuri atas segala kenikmatan dan  memuji-Nya  atas segala pemberian-Nya.” (Shafwah at-Tafasir, jil. II: 137).    
            Dari tafsiran di atas, jadi jelas bahwasanya manusia itu memiliki potensi untuk mengetahui sesuatu atau untuk belajar dengan diciptakannya pendengaran, penglihatan, dan aneka hati, yang dengan itu semua kita mengfungsikannya untuk belajar, menuntut ilmu, berfikir sehingga kita semakin mengimani Allah SWT.       
3.      Kandungan Nilai Pendidikan
Adapun kandungan nilai pendidikan yang dapat kita petik dari ayat di atas yaitu:
·         Tujuan pendidikan yang ingin dicapai oleh al-Quran adalah تشكرون   , yaitu membina manusia guna mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya.
·         Manusia yang dibina adalah makhluk yang memilki unsur-unsur material (jasmani) -dalam hal ini diwakili oleh kalimat الأبصار , السمع , بطون  -dan immaterial (ruhani/akal dan jiwa) -diwakili oleh kalimatالأفئدة   -Pembinaan akalnya menghasilkan ilmu, pembinaan jiwanya menghasilkan kesucian dan etika, sedangkan pembinaan jasmaninya menghasilkan keterampilan. Dengan penggabungan unsur-unsur tersebut, terciptalah makhluk dwi dimensi dalam satu keseimbangan, dunia dan akhirat, ilmu dan iman. Itu sebabnya dalam pendidikan Islam dikenal istilah adab al-din dan adab al-dunya. Dengan potensi tersebut mereka dapat belajar.
·         Ayat ini jika dikaitkan dengan pendidikan, maka seorang guru dalam membelajarkan peserta didik harus memperhatikan tahap perkembangan fiasi dan psikisnya, sehingga guru dapat menggunakan metode pembelajarannya dengan tepat dan efektif.
·         Jika menghubungkan ayat di atas dengan pendidikan, maka guru dituntut untuk bersikap bijak di dalam memberikan penilaian terhadap peserta didiknya, karena kondisi kejiwaan dan daya nalarnya berbeda-beda.
Adapun mengenai potensi belajar, ayat ini secara jelas mengungkap tiga alat potensi belajar untuk manusia, yaitu:
1.      السمع (pendengaran), yakni alat fisik yang berguna untuk menerima informasi visual;
2.      الأبصار (penglihatan-penglihatan), yakni alat fisik yang berguna untuk menerima informasi verbal;
3.      الأفئدة (aneka hati), adalah gabungan daya pikir dan daya kalbu, yang menjadikan seseorang terikat, sehingga tidak terjerumus dalam kesalahan dan kedurhakaan. Dengan demikian tercakup dalam pengertiannya potensi meraih ilham dan percikan cahaya ilahi.


B.     Qur’an Surat al-Hajj (22) ayat 46

أفلم يسيروا فى الأرض فتكون لهم قلوب يعقلون بهآ أو ءاذان يسمعون بها فإنها لا تعمى الأبصار ولكن تعمى القلوب التى فى الصدور
"Maka Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada."
1.      Tafsir Mufradat
·         أَفَلَمْ يَسٍيْرُوْا فِي اْلأَرْضِ (Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi) lalu menyaksikan peninggalan-peninggalan yang pernah dihuni oleh orang-orang yang mendustakan para rasul Allah,
·         فَتَكُوْنَ لَهُمْ قُلُوْبٌ (lalu dengan demikian mereka mempunyai hati) yakni akal sehat dan hati suci,
·         يَعْقِلُوْنَ بِهَا  (yang dengannya mengantar mereka dapat memahami) apa yang mereka lihat,
·         أَوْ (atau) kalaupun mata kepala mereka buta,
·         ءَاذَانٌ يَسْمَعُوْنَ بِهَا   (mereka mempunyai telinga yang dengannya mereka dapat mendengar) ayat-ayat Allah dan keterangan para rasul serta pewaris-pewarisnya yang menyampaikan kepada mereka tuntunan dan nasehat sehingga dengan demikian, mereka dapat merenung dan menarik pelajaran, kendati mata kepala mereka buta,
·         فَإِنَّهَا لاَتََعْمَى اْلأَبْصَارُ (karena sesungguhnya bukanlah mata kepala yang buta) yang menjadikan orang tidak dapat menemukan kebenaran,
·         وَلَكِنْ تَعْمَى )tetapi yang buta) dan menjadikan seseorang tidak dapat menarik pelajaran dan menemukan kebenaran,
  • الْقُلُوْبُ الَّتِي فِي الصُّدُوْر  (ialah hati yang berada di dalam dada).
2.      Tafsir Ayat
Al-Maraghi (1974) dalam kitab tafsirnya menjelaskan tentang ayat ini,
“Apakah orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan menginkari kekuasaan-Nya itu tidak mengadakan perjalanan di dalam negeri, lalu memperhatikan bekas para pendusta rasul-rasul Allah yang telah lalu sebelum mereka, seperti ‘Ad, Tsamud, kaum Luth, dan kaum Syu’aib? Apakah mereka tidak melihat bekas negeri dan tempat tinggal umat-umat itu, tidak mendengar berita tentang mereka, lalu berpikir tentang berita itu dan mengambil pelajaran daripadanya, mengetahui perkara negeri itu dan perkara penduduknya, serta bagaimana mereka ditimpa malapetaka? Sehingga, jika mereka mau, mereka dapat mengambil pelajaran dari sejarah itu, kembali kepada Tuhan mereka dan memahami hujjah-hujjah-Nya yang telah Dia bentangkan di ufuk.
Selanjutnya, Allah menjelaskan bahwa mereka tidak bisa diharapkan untuk beriman, karena hati mereka telah buta, sehingga tidak dapat melihat dalil-dalil kauniyah (yang bersifat alam), tidak pula dalil-dalil ‘aqliyah. Sekalipun penglihatan mata mereka sehat dan tidak buta, tetapi hati mereka benar-benar telah buta, padahal yang dijadikan landasan untuk dapat melihat hujjah Allah adalah mata hati, bukan mata kepala. Kebutaan mata tidak berarti sama sekali jika dibandingkan dengan kebutaan hati dan akal. Ayat  tersebut benar-benar memburukkan keadaan orang yang tidak dapat melihat dalil-dalil. Digambarkannya hati, bahwa ia berada di dalam dada, dimaksudkan untuk menambah penegasan.
Telah diketahui, bahwa tempat kebutaan adalah mata kepala, seperti diliputi warna hitam (penyakit) yang menutupi cahayanya. Maka, ketika dikehendaki penetapan hal yang menyalahi asal dengan menyandarkan kebutaan kepada hati dan meniadakannya dari mata kepala, dibutuhkan penambahan penentuan dan pengenalan agar diketahui dengan pasti bahwa tempat kebutaan adalah hati, bukan mata kepala. Hal ini senada dengan perkataan, “Yang tajam itu bukan pedang, tetapi lisan yang terletak di antara kedua tulang rahangmu.” Seolah-olah, orang yang mengatakan ini berkata, “Kami tidak meniadakan ketajaman dari pedang dan tidak menetapkannya bagi lisan karena lupa, tetapi benar-benar dengan sengaja.” (Tafsir al-Maraghi, 1974, juz XVII: 205-206).       
Ibnu Katsir (1988) dalam kitab tafsirnya menjelaskan tentang ayat ini,
“Maka apakah kaum dan orang-orang yang mendustakan kamu hai Muhammad, tidak bepergian di muka bumi Allah ini untuk melihat-lihat apa yang telah dialami oleh umat-umat sebelum mereka yang telah dibinasakan Allah karena kecongkakan dan perlakuan mereka terhadap nabi-nabi utusan Allah? Dengan menyaksikan bekas-bekas yang ditinggalkan oleh umat-umat yang zhalim itu, agar hati mereka terbuka dapat memikirkan dan mengambil pelajaran serta telinga mereka yang tersumbat dapat mendengar kembali cerita umat-umat itu untuk menarik pelajaran dari apa yang telah terjadi. Karena sesungguhnya bukanlah disebabkan mata yang buta dan telinga yang tuli, orang tidak dapat beriktibar dari sejarah dan kejadian-kejadian oleh umat-umat dahulu, tetapi disebabkan oleh hati yang buta dan beku sehingga tidak dapat memikirkan dan memahami sebab musabab kejadian pembinasaan itu.” (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 1988, juz V: 377-378). 
Ash-Shabuni dalam kitab tafsirnya menjelaskan tentang ayat ini,
... (فتكون لهم قلوب يعقلون بها) أي فيعتبروا بما حلّ بهم من النكال والدمار !! وهلا عقلوا ما يجب أن يعقل من الإيمان والتوحيد! (أوءاذان يسمعون بها) أي أو تكون لهم ءاذان يسمعون بها المواعظ والزواجر (فإنها لا تعمى الأبصار ولكن تعمى القلوب التى فى الصدور) أي ليس العمى على الحقيقة عمى البصر، وإنّما العمى عمى البصيرة فمن كان الأعمى القلب لايعتبر ولايتدبّروا وذكر الصدور للتأكيد ونفي توهم المجاز.     
Sayyid Quthb (1992) dalam kitab tafsirnya menjelaskan tentang ayat ini,
“Sesungguhnya kebinasaan orang-orang yang terdahulu masih terbayang dan tampak dari jauh, memberikan pelajaran dan nasihat, sehingga mereka bisa menyaksikannya dan mendapat pelajaran darinya? Dan, ia berbicara kepada mereka dengan keadaanya yang menjelaskan? Atau, ia membahas kepada mereka kandungan pelajaran yang disimpannya?
Sehingga, ia dapat mengetahui di balik bekas-bekas itu terdapat sisa-sisa reruntuhan yang mengajarkan tentang Sunnat Allah yang tidak akan meleset dan berganti.
Sehingga, telinga itu dapat mendengar pembahasan orang-orang yang masih hidup tentang negeri-negeri yang hancur, sumur-sumur yang kering, dan istana-istan yang roboh itu.
Atau, apakah yang ada pada diri mereka bukan hati? Karena mereka pasti melihatnya namun mereka tidak menyadari apa-apa, dan mereka juga mendengar, namun tidak mengambil pelajaran apa pun.
Redaksi ayat ini membahas lebih luas sampai menentukan tempat hati, yaitu, … sebagai tambahan tekanan dan keterangan tambahan dalam menetapkan butanya hati itu dengan pasti.
Seandainya hati itu dapat melihat, maka pasti ia sadar dengan kenangan dan bayangan serta pelajaran itu. Kemudian pasti condong kepada keimanan karena takut kepada konsekuensi serupa yang telah membinasakan orang-orang yang terdahulu, dan hal itu banyak di sekitar mereka.
Namun, bukannya merenungkan hal itu atau berlindung kepada keimanan dan membentengi diri dari adzab dengan takwa, mereka malah meminta agar adzab itu segera diturunkan.
            Dari tafsir ayat di atas juga dapat kita simpulkan bahwsanya hati untuk memahami, telinga untuk mendengar, mata untuk melihat, ketiganya haruslah sinkron, agar manusia itu benar-benar memahami apa yang mereka dengar dan lihat. Seperti itu juga halnya dalam belajar, haruslah menggunakan potensi yang sudah diciptakan oleh Allah SWT.
3.      Kandungan Nilai Pendidikan
Adapun kandungan nilai pendidikan yang dapat kita tarik kesimpulannya adalah:
·         Kalimat يسيروا   mengisyaratkan bahwa seorang guru mesti membawa peserta didiknya untuk diajak berwidya wisata/ study tour ke tempat bersejarah, musieum, laut, gunung, dan lain-lain. Faedahnya untuk menemukan pelajaran dari sejarah masa lalu, dan menghayati keagungan ciptaan Allah SWT.
·         Kalimat قلوب   yang dikaitkan dengan aktifitas “memahami” ayat-ayat Allah يعقلون بها   seperti tersebut dalam Firman Allah di atas, tentu tak dapat diartikan secara fisik baik dalam arti jantung/ heart maupun hati/ lever. Sehubungan dengan hal itu, perlu diketahui bahwa hati dalam perspektif disiplin ilmu apa pun tidak memiliki fungsi mental seperti otak. Oleh karenanya, pengetahuan keterampilan dan nilai-nilai moral yang terkandung dalam bidang studi yang bersangkutan, seyogianya ditanamkan sebaik-baiknya ke dalam sistem memori para peserta didik, bukan ke dalam hati (lever) mereka.
·         Aktifitas memahami  يسمعون + يعقلون sama dengan aktifitas berfikir kritis yang hanya dapat dilakukan oleh sistem memori atau akal manusia yang bersifat abstrak. Dengan demikian, seorang guru dalam membelajarkan siswanya harus diarahkan pada pembelajaran yang logis, argumentatif, dan berfikir kritis (tidak taklid).
Potensi belajar dalam ayat ini adalah,
a.        قلوب  (hati) yakni akal sehat dan hati suci yang digunakan untuk memahami segala sesuatu; Hasan Langgulung (1992) menjelaskan,
“Kata qalb kebanyakan artinya berkisar pada arti perasaan (emosi) dan intelektual  pada manusia. Oleh sebab itu ia merupakan dasar bagi fitrah yang sehat, berbagai perasaan (emosi), baik mengenai perasaan cinta atau benci dan tempat petunjuk, iman, kemauan, kontrol, dan pemahaman.”
b.        ءَاذَانٌ (telinga) yaitu indera yang digunakan untuk mendengarkan. Dengan adanya telinga, sesorang menjadikannya untuk mendengar informasi apapun, belajar, mendengarkan penjelasan guru dengan seksama, sehingga mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

C.    Qur’an Surat ar-Rum (30) ayat 30

فأقم وجهك للدين حنيفا فطرت الله التى فطر الناس عليها لا تبديل لخلق الله ذلك الدين القيم ولكن أكثر الناس لا يعلمون
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui"[1168],

[1168] Fitrah Allah: Maksudnya ciptaan Allah.  Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama, yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. Mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantaran pengaruh lingkungan.

1.      Tafsir Mufradat
·            فأقم وجهك(maka hadapkanlah wajahmu), yang dimaksud adalah perintah untuk mempertahankan dan meningkatkan upaya menghadapakan diri kepada Allah, secara sempurna karena selama ini kaum muslimin apalagi Nabi Muhammad saw telah menghadapkan wajah kepada tuntunan agama-Nya. Dari perintah di atas tersirat juga perintah untuktidak menghiraukan gangguan kaum musyriki, yang ketika turunnya ayat ini di Mekah, masih cukup banyak. Makn tersirat itu dapat dipahami dari redaksi ayat di atas yang memerintahkan menghadap kan wajah. Seorang yang diperintahkan menghadapkan wajah ke arah tertentu, pada hakikatnya diminta untuk tidak menoleh ke kiri dan ke kanan, apalagi memperhatikan apa yang terjadi di balik arah yang semestinya dia tuju.
·         حنيفا (lurus; cenderung kepada sesuatu). Kata ini pada mulanya digunakan untuk menggambarkan telapak kaki dan kemiringannya ke arah telapak pasangannya. Yang kanan condong ke arah kiri, dan yang kiri condong ke arah kanan. Ini menjadikan manusia dapat berjalan dengan lurus. Kelurusan itu, menjadikan si pejalan tidak mencong ke kiri, tidak pula ke kana.
·         فطرة (fithrah; asal kejadian; bawaan sejak lahir) terambil dari kata fathara yang berarti mencipta. Sementara pakar menambahkan, fitrah adalah "mencipta sesuatu pertama kali/ tanpa ada contoh sebelumnya." Ada yang berpendapat bahwa fitrah yang dimaksud adalah keyakinan tentang keesaan Allah Swt. yang telah ditanamkan allah dalam diri setiap insan. Dalam konteks ini sementara ulama menguatkannya dengan hadits Nabi Saw. Yang menyatakan bahwa: “semua anak yang lahir dilahirkan atas dasar fitrah, lalu kedua orang tuanya menjadikannya menganut agama Yahudi, Nashrani, atau Majusi…..(HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, dan lain-lain melalui abu Hurairah).   
·         لاتبديل لخلق الله (tidak ada perubahan pada ciptaan Allah) yang dimaksud adalah tidak seorang pun yang dapat menjadikan seorang anak pada awal tahap pertumbuhannya menyandang fitrah yang buruk, atau tidak mengikuti apa yang dituntunkan kepadanya serta tidak menyerahkan diri kepada siapa yang mendidiknya.
·         قَيّم (lurus)terambil dari kata قام . patron kata qayyim mengandung makna kemantapan dan kekuatan di samping pemeliharaan. Dengan demikian, penyebutan kata tersebut sebagai sifat agama, mengandung makna kekukuhan dan kemantapan agama itu (Islam) serta kebersihan dan kesuciannya dari segala macam kesalahan dan kebatilan. Ia juga adalah agama yang terpelihara di sisi Allah Swt., sehingga ia akan langgeng selama-lamanya.
·         أكثر الناس لايعلمون (kebanyakan manusia tidak mengetahui), dikemukakan sebagai jawaban atas pertanyaan yang boleh jadi muncul mengatakan: "kalau memang agama itu sifatnya qayyim seperti diutarakan di atas, maka mengapa banyak orang tidak mempercayai atau mengamalkannya?" Nah, pertanayaan tersebut dijawab dengan penggalan akhir ayat di atas.

2.      Tafsir ayat
Ibnu Katsir (1988) dalam kitab tafsirnya menjelaskan tentang ayat ini,
 “Hadapakanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah yang telah disyari’atkannya untukmu dari agama Ibrahim yang ditunjukkannya kepadamu dan telah disempurnakannya sesempurna-sempurnanya, sedang engkau tetap di atas fitrah yang Allah telah ciptakannya bagi manusia dan sekali-kali tidak ada perubahan pada fitrah itu, ialah yang mendasari dan menjiwai agama Islam yang lurus, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 1988, juz VI: 237).
Ash-Shabuni (t.t.) dalam kitab tafsirnya menjelaskan tentang ayat ini,
..... (فطرة الله التى فطر الناس عليها) أي هذا الدين الحق الذي أمرناك بالإستقامة عليه خلقه الله التى خلق الناس عليها وهو فطرة التوحيد كما فى الحديث-كل مولود يولد على الفطرة، فأبواه يهودانه- أخرجه الشيخان ....     
Quraish Shihab (2005) dalam kitab tafsirnya menjelaskan tentang ayat ini,
“Setelah jelas bagimu –wahai Nabi- duduk persoalan, maka pertahankanlah apa yang selama ini telah engkau lakukan, hadapkanlah wajahmu serta arahkan semua perhatianmu, kepada agama yang disyari’atkan Allah yaitu agama Islam dalam keadaan lurus. Tetaplah mempertahankan fitrah Allah yang telah menciptakan manusia atasnya yakni menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan yakni fitrah Allah itu. Itulah agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui yakni tidak memiliki pengetahuan yang benar.” (Tafsir al-MIshbah, 2005, vol. 11: 52).
Hamka (1988) dalam kitab tafsirnya menjelaskan tentang ayat ini,
“Berjalanlah tetap di atas jalan agama yang telah dijadikan syariat oleh Allah untuk engkau. Agama itu adalah agama yang disebut hanif, yang sama artinya dengan al-Mustaqim, yaitu lurus. Tidak membelok ke kiri-kanan. Hanif ini pulalah yang disebut untuk agama Nabi Ibrahim yang dilanjutkan oleh Nabi Muhammad.
Lazimilah atau tetaplah pelihara fitrahmu sendiri, yaitu rasa asli murni dalam jiwamu sendiri yang belum kemasukan pengaruh dari yang lain, yaitu mengakui adanya kekuasaan tertinggi dalam alam ini, Yang Maha Kuasa dan Maha Perkasa.
Kepercayaan atas adanya Allah adalah fitri dalam jiwa dan akal manusia. Itu tidak dapat diganti dengan yang lain. Pada pokoknya seluruh manusia, tidak pandang kedudukan, bangsa, dan iklim tempat dilahirkan, benua tempat dia berdiam, namun mereka dilahirkan ke dunia adalah atas keadaan yang demikian itu.
Itulah agama yang bernilai tinggi, berharga buat direnungkan, yaitu berpegang teguh dengan syariat yang telah diatur oleh Allah berdasar kepada fitrah yang bersih.
Tertutup bagi mereka jalan buat mengetahui hakikat yang benar itu. Adakalanya karena hawa nafsu, adakalanya karena segan melepaskan pegangan lama yang telah dipusakai dari nenek moyang, adakalanya karena kesombongan, karena merasa dilintasi.” (Tafsir al-Azhar, 1988, juz XXI: 76)  
Berbeda-beda pendapat ulama tentang maksud kata fitrah pada ayat ini. Al-Biqa’i (1976) tidak membatasi arti fitrah pada keyakinan tentang keesaan Allah Swt. Menurutnya, yang dimaksud dengan fitrah adalah ciptaan pertama dan tabi’at awal yang Allah ciptakan manusia atas dasarnya. Ulama ini kemudian mengutip Imam al-Ghazali yang menulis dalam Ihya’ ‘Ulum ad-Din bahwa “Setiap manusia telah diciptakan atas dasar keimanan kepada Allah bahkan bahkan atas potensi mengetahui persoalan-persoalan sebagaimana adanya, yakni bagaikan tercakup dalam dirinya karena adanya potensi pengetahuan (padanya).” Al-Biqa’I kemudian menjelaskan maksud al-Ghazali itu bahwa yang dimaksud adalah kemudahan mematuhi (perintah Allah) serta keluhuran budi pekerti yang merupakan cerminan dari fitrah Islam. Dengan demikian, tulis al-Biqa’i, yang dimaksud dengan fitrah adalah penerimaan kebenaran dan kemantapan mereka dalam penerimaannya. Anda dapat menemukan seseorang bisu tetapi dia memahami persoalan kebangkitan manusia di hari Kemudian dengan pemahaman yang jelas serta dia pun dalam hal itu memiliki kematapan jiwa yang kukuh.
Ibnu ‘Athiyah memahami fitrah sebagai, “keadaan atau kondisi penciptaan yang terdapat dalam diri manusia yang menjadikannya berpotensi melalui fitrah itu, mampu membedakan ciptaan-ciptaan Allah serta mengenal Tuhan dan syari’at-Nya.”
Fitrah menurut Ibnu ‘Asyur adalah “unsur-unsur dan sistem yang Allah anugerahkan kepada setiap makhluk. Fitrah manusia adalah apa yang diciptakan allah dalam diri manusia yang terdiri dari jasad dan akal (serta jiwa).” Manusia berjalan dengan kakinya. Mengambil kesimpulan dengan mengaitkan premis-premis adalah fitrah akliahnya. Sebaliknya, mengambil kesimpulan akliah dengan premis-premis yang saling bertentangan bukanlah fitrah akliah manusia. Memastikan apa yang disaksikan mata kita sebagai hal-hal yang mempunyai wujud dan sebagaimana apa adanya adalah fitrah akliah, sedang mengingkarinya sebagaimana yang diduga oleh penganut shopisme adalah bertentangan dengan fitrah akliah.
Ibnu Sina memberi ilustrasi tentang makna fitrah, bahwa seandainya seorang manusia lahir ke dunia ini dalam keadaan sempurna akal, tetapi dia belum pernah mendengar satu pendapat pun, tidak juga meyakini satu madzhab, tidak bergaul dengan satu pendapat pun, tidak juga meyakini satu madzhab, tidak bergaul dengan satu masyarakat atau mengenal siasat – hanya menyaksikan hal-hal yang bersifat indrawi – lalu dia mengambil beberapa kondisi dan memaparkannya ke benaknya lalu berusaha untuk meragukannya, maka bila dia ragu itu berarti fitrah tidak mendukungnya, tetapi bila dia tidak dapat ragu, maka itulah petunjuk fitrah. Namun demikian –lanjut Ibnu Sina- tidak semua yang dituntun oleh fitrah manusia, benar adanya. Yang benar hanyalah yang dihasilkan oleh potensi akliah, sedang fitrah pemikiran secara umum, bisa saja tidak benar.
Thabathaba’i menulis bahwa agama tidak lain kecuali kebutuhan hidup serta jalan yang harus ditempuh manusia agar mencapai kebahagiaan hidupnya. Manusia tidak menhendaki sesuatu melebihi kebahagiaan. Allah Swt. telah memberi petunjuk kepada setiap jenis makhluk – melalui fitrahnya dan sesuai dengan jenisnya – petuntuk menuju kebahagiaannya yang merupakan tujuan hidupnya. Allah juga telah menyediakan untuknya sarana yang sesuai dengan tujuan itu (baca QS. Thaha [20]: 50).                
3.      Kandungan Nilai Pendidikan
v  Kalimat   فأقم وجهك memberikan makna bahwa seorang siswa ketika belajar harus memperhatikan dan menyimak dengan baik apa yang disampaikan oleh guru, fokus pada materi pelajaran.
v  Kalimat   حنيفا mengisyaratkan bahwa seorang guru harus berkepribadian lurus (jujur dan amanah) tidak terpengaruh oleh sifat-sifat buruk orang lain.
v  Kalimat  فطرة  mengisyaratkan bahwa guru harus menanamkan kepada muridnya secara terus-menerus atas keyakinannya tentang kekuasaan Allah SWT yang telah ditanamkannya ke dalam diri setiap insan.
v  Kalimat  لاتبد يل لخلق الله  , mengisyaratkan bahwa guru harus memberi pemahaman kepada muridnya bahwa hanya agama Islam yang tidak disentuh oleh perubahan, sedang kepercayaan yang dianut oleh kaum musyrikin (nasrani dan yahudi)  telah diubah oleh syaitan.
v  Kalimat   قيّم menunjukkan bahwa guru harus memiliki kemantapan dalam mengajar dan memilki kekuatan dalam menghadapi segala tantangan, siswa harus memiliki kemantapan dalam belajar dan memiliki kekuatan dalam berkompetensi/ bersaing dengan yang lainnya.
Potensi belajar dalam ayat ini adalah,
فطرة الله maksudnya keyakinan tentang keesaan Allah swt. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama (naluri tadayyun), yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar, mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantaran pengaruh lingkungan. Dengan adanya fitarah ini, maka seorang pelajar akan mendudukkan belajar sebagai kewajiban dan merupakan penghambaan dirinya terhadap Allah dan semakin yakin akan keEsaan Allah SWT

D.    Qur’an Surat as-Sajdah (32) ayat 7 dan 9

الذى أحسن كل شيئ خلقه و بدأ خلق الإنسان من طين (7) ثم سواه و نفخ فيه من روحه و جعل لكم السمع و الأبصار والأفئدة قليلا ما تشكرون (8)
"Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah."9. "Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur."
1.      Tafsir Mufradat
·         أحسن (sebaik-baiknya) berarti membuat sesuatu menjadi baik. Kebaikannya diukur pada potensi dan kesiapannya secara sempurna mengemban fungsi yang dituntut darinya. Pisau yang baik adalah yang tajam, karena dia diciptakan untuk memotong. Kata ini menyatakan bahwa Allah swt. telah menciptakan semua ciptaan-Nya dalam keadaan baik, yakni diciptakan-Nya secara sempurna agar masing-masing dapat berfungsi sebagaimana yang dikehendaki-Nya.
·         سواه (menyempurnakannya) mengisyaratkan proses lebih lanjut dari kejadian manusia setelah terbentuk organ-organnya.
·         مِن روحه (dari ruh-Nya) yakni ruh Allah. Ini bukan berarti ada "bagian" Ilahi –yang dianugerahkan kepada manusia. Karena Allah tidak terbagi, tidak juga terdiri dari unsure-unsur. Yang dimaksud adalah ruh ciptaan-Nya. Penisbatan ruh itu kepada Allah adalah penisbatan pemuliaan dan penghormatan. Ayat ini bagaikan berkata: Dia meniupkan ke dalamnya ruh yang mulia dan terhormat dari (ciptaan)-Nya
  1. Tafsir Ayat
Ibnu Katsir (1988) dalam kitab tafsirnya menjelaskan tentang ayat ini,
“Allah berfirman, bahwa Dia membuat sebaik-baiknya dan seindah-indahnya segala sesuatu yang Dia ciptakan. Dan Dia telah menciptakan pada permulaannya bapak manusia, Adam, dari tanah liat, kemudian menciptakan keturunannya, turun temurun dari saripati air yang hina yakni air mani, dan Allah telah menyempurnakan penciptaan Adam yang dari tanah menjadi manusia utuh dengan sebaik-baiknya bentuk, ke dalam tubuhnya ditiupkan roh dan diberinya pendengaran, penglihatan, hati, dan akal. Tetapi sedikit sekali di antara kamu yang pandai bersyukur atas segala nikmat Allah dan karunia-Nya itu.” (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 1988, juz VI: 274).
Quraish Shihab (2005) dalam kitab tafsirnya menjelaskan tentang ayat ini,
"Ayat di atas melukiskan sekelumit dari substansi manusia. Makhluk ini terdiri dari tanah dan ruh Ilahi. Karena tanah, sehingga manusia dipengaruhi oleh kekuatan alam – sama halnya dengan makhluk-makhluk hidup di bumi lainnya. Ia butuh makan, minum, hubungan seks, dan lain-lain. Dengan ruh, ia meningkat dari dimensi kebutuhan tanah itu – walau ia tidak dapat bahkan tidak boleh melepaskannya, karena tanah adalah bagian dari substansi kejadiannya. Ruh pun memiliki kebutuhan-kebutuhan, agar dapat terus menhiasi manusia. Dengan ruh, manusia diantar menuju tujuan non materi yang tidak dapat diukur di laboratorium, tidak juga dikenal oleh alam materi. Dimensi spiritual inilah yang mengantar manusia untuk cenderung kepada keindahan, pengorbanan, kesetiaan, pemujaan, dan lain-lain. Itulah yang mengantar manusia menuju suatu realitas yang Maha Sempurna, tanpa cacat, tanpa batas, dan tanpa akhir [baca QS. Al-'Alaq[98]: 8) dan (QS. Al-Insyiqaq [84]: 6). Demikian manusia yang diciptakan Allah , disempurnakan ciptaannya dan dihembuskan kepadanya ruh ciptaan-Nya. Dengan gabungan unsure kejadiannya itu,manusia akan berada dalam satu alam yang hidup dan bermakna, yang dimensi melebar keluar, melampaui dimensi tanah dan dimensi material." (Shihab, 2002, :186)
Hasbi ash-Shiddiey menafsirkan ayat ini dengan,
“Dia (Allah) yang telah menciptakan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya, yang telah mengokohkan kejadian segala sesuatu yang telah Dia ciptakan-Nya; dan Dia telah memulai penciptaan manusia dari tanah.
Kmudian Dia menyempurnakan penciptaan manusia itu, Dia tiupkan padanya dari ruh –Nya –Dia jadikan ruh padanya- dan Dia menjadikan bagimu pendengaran, penglihatan, dan hati; sedikit sekali kamu mensyukuri-Nya.” II:1037      

3.      Kandungan Nilai Pendidikan
v  Kalimat    الذي احسن كلّ شيئ خلقه , mengisyaratkan bahwa seorang guru dan murid harus berkarya dengan sebaik-baiknya (berkualitas); mengerjakan sesuatu harus dengan sebaik-baiknya.
v  Kalimat  من طين  , mengisyaratkan bahwa seorang guru harus menyadarkan hati dan pikiran siswa bahwa ia diciptakan dari tanah, sehingga ia dipengaruhi oleh kekuatan alam- sama halnya dengan makhluk hidup lainnya. Diharapkan siswa menjadi insan yang senantiasa bersykur.
v  Kalimat   نفع روحه , mengisyaratkan bahwa guru harus memahamkan siswanya bahwa ruh manusia diantar menuju tujuan non materi yang tidak dapat diukur di laboratorium, tidak juga dikenal oleh alam materi. Dimensi spiritual inilah yang mengantar manusia untuk cenderung kepada keindahan, pengorbanan, kesetiaan, pemujaan, dan lain-lain.
Potensi belajar dalam ayat ini adalah:
·         أحسن ... خلقه (sebaik-baiknya…ciptaan) berarti membuat sesuatu menjadi baik. Kebaikannya diukur pada potensi dan kesiapannya secara sempurna mengemban fungsi yang dituntut darinya. Kata ini menyatakan bahwa Allah swt. telah menciptakan semua ciptaan-Nya dalam keadaan baik, yakni diciptakan-Nya secara sempurna agar masing-masing dapat berfungsi sebagaimana yang dikehendaki-Nya. Sehingga manusia apada dasarnya diciptakan baik dan siap untuk menerima pelajaran. Namun yang menjadikannya buruk adalah lingkungan.
·          مِن روحه (dari ruh-Nya) yakni ruh Allah. Yang dimaksud adalah ruh ciptaan-Nya. Penisbatan ruh itu kepada Allah adalah penisbatan pemuliaan dan penghormatan. Ayat ini bagaikan berkata: Dia meniupkan ke dalamnya ruh yang mulia dan terhormat dari (ciptaan)-Nya.
·         السمع (pendengaran) agar kamu dapat mendengar kebenaran, mendengarkan pelajaran
·         الأبصار (penglihatan-penglihatan) agar kamu dapat melihat tanda-tanda kebesaran Allah. Memperhatikan ciptaan Allah dan dengannya kita mendapatkan ilmu pengetahuan yang sangat berpotensi untuk dikembangkan.

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Berdasarkan Ayat-ayat di atas, maka dapat kita simpulkan, bahwasanya manusia telah diberikan potensi-potensi oleh Allah SWT yang terdapat dalam organ-organ fisio-psikis manusia yang berfungsi sebagai alat-alat penting untuk melakukan kegiatan belajar. Adapun ragam alat fisio-psikis itu, seperti yang terungkap dalam beberapa firman Allah SWT tersebut, sebagai berikut.
1.      As-Sam’u/ Indera pendengar (telinga), yaitu alat fisik yang berguna untuk menerima informasi visual; agar kamu dapat mendengar kebenaran yang datang dari Allah, kita dapat mendengar ilmu yang mesti kita pelajari
2.      Al-Absharu/ Indera penglihat (mata), yaitu alat fisik yang berguna untuk menerima informasi verbal; agar kamu dapat melihat tanda-tanda kebesaran Allah,. Berrati kita bisa melihat alam sekitar dan belajar dengan baik.
3.      Al-Afidatu/ akal,  yaitu potensi kejiwaan manusia berupa sistem psikis yang kompleks untuk menyerap, mengolah, menyimpan dan memproduksi kembali item-item informasi dan pengetahuan (ranah kognitif); gabungan daya fikir dan daya kalbu, yang menjadikan seseorang terikat sehingga tidak terjerumus dalam kesalahan dan kedurhakaan; potensi untuk meraih ilham dan percikan cahaya Ilahi,
4.      Al-Qulub/ hati, yaitu akal sehat dan hati suci; kebebasan berpikir jernih, potensi untuk menemukan sendiri kebenaran, serta mengikuti keterangan orang terpercaya dalam hal kebenaran yang didambakan itu,
5.      Fitrah Allah/ fitrah keagamaan (bawaan sejak lahir), yaitu potensi keyakinan tentang keesaan Allah Swt. yang telah ditanamkan Allah dalam diri setiap insan; setiap manusia telah diciptakan atas dasar keimanan kepada allah bahkan atas potensi mengetahui persoalan-persoalan sebagaimana adanya; kemudahan mematuhi perintah Allah serta keluhuran budi pekerti yang merupakan cerminan dari fitrah Islam; penerimaan kebenaran dan kemantapan mereka dalam penerimaannya; potensi untuk mampu membedakan ciptaan-ciptaan allah serta mengenal Tuhan dan syri’at-Nya; unsur-unsur dan sistem yang Allah anugerahkan kepada setiap makhluk; apa yang diciptakan Allah dalam diri manusia yang tetrdiri dari jasad dan akal (serta) jiwa,
6.      Ahsana … khalqahu (Dia membuat sebaik-baiknya), yaitu Allah Swt. telah menciptakan semua ciptaan-Nya dalam keadaan baik, yakni diciptakan-Nya secara sempurna agar-masing-masing dapat berfungsi sebagaiman yang dikehendaki-Nya; potensi sempurna untuk menyukseskan tugas masing-masing, tetapi dalam saat yang sama, mereka di uji, dan untuk ujian itu mereka pun diberi potensi sehingga pada akhirnya manusia berpotensi untuk menjadi baik dan buruk; Allah menciptakan manusia dalam keadaan sempurna sesuai dengan tujuan dan fungsi yang diembannya,
7.      hihi (dari ruh-Nya), yaitu ruh ciptaan-Nya; penisbatan ruh itu kepada Allah adalah penisbatan pemuliaan dan penghormatan; Dia meniupkan ke dalamnya ruh yang mulia dan terhormat dari (ciptaan)-Nya.               


DAFTAR PUSTAKA
Al-Maraghi, Ahmad Musthafa. (1974). Tafsir al-Maraghi. Penerj. Bahrun  Abu Bakar, dkk., Terjemah Tafsir al-Maraghi. Bandung: al-Ma’arif.
Ash-Shabuni. (t.t.). Shafwatu at-Tafasir. Beirut: Dar al-Fikr.
Hamka. (1988). Tafsir al-Azhar. Jakarta: Pustaka Panjimas.
Katsir, Isma’il Ibnu. (1990). Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir. Alih Bahasa: Salim & Said Bahreis, Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsir. Surabaya: Bina Ilmu.
Langgulung, Hasan. (1992). Asas-Asas Pendidikan Islam. Jakarta: Pustaka al-Husna.
Quthb, Sayyid. (1992). Fi Zhilalil-Qur’an. Penerj. As’ad Yasin, dkk., Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Di Bawah Naungan al-Qur’an. Jakarta: Gema Insani Press.
Shihab, M. Quraish. (2002). Tafsir al-Mishbah; Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati.
Syah, Muhibbin. (2003). Psikologi Pendidikan, dengan pendekatan baru. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Ash-Shiddieqy, T.M. Hasbi. (t.t.). Tafsir al-Bayaan. Bandung: al-Ma’arif.   








0 Response to "Potensi Belajar Dalam Al-Quran"

Posting Komentar