BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Sungguh
sangat merasa bersyukur
dengan memeluknya agama islam yang telah dibawa melalui orang tua kita karena
islam merupakan agama yang universal. Agama islam tidak hanya membahas tentang
ibadah yang ada di dalamnya, namun terdapat juga
berbagai macam bahan pengajaran yang sangat bermanfaat untuk seluruh umat dalam
mengarungi kehidupan. Maka dari itu penulis merasa tergugah untuk mencari
bahan-bahan pengajaran yang terdapat pada kitab suci umat islam yaitu
Al-Qur’an. Melalui makalah ini penulis berusaha untuk membahas sebuah kajian
tafsir yang berjudul bahan pengajaran dalam Al-Qur’an.
Perubahan yang terus menerus terjadi pada dunia
pendidikan tidak lain untuk kemajuan pendidikan tersebut. Namun itu semua haruslah dibarengi
dengan bahan pembelajaran yang berlandaskan Alqur’an dan assunnah agar tidak
tergilas zaman dan hilang nilai keislamannya. Seiring dengan adanya globalisasi
kebudayaan dari barat maka kita sebagai pendidik harus menguatkan diri para
peserta didik kita dengan landasan yang
kuat yaitu agama.
Dengan adanya pembahasan tentang bahan ajar dalam alquran diharapkan agar para
pengajar selalu menjadikan alqur’an sebagai pedoman dalam segi pendidikan serta
kehidupan, agar selalu berada dalam ridho dan karuniaNya
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah, sebagai
berikut:
1.
Apa tafsiran ayat 12-19 dalam surat Luqman dan korelasinya dengan pendidikan?
2.
Apa tafsiran ayat 2 dalam surat Al-Jumuah dan korelasinya dengan pendidikan?
3.
Apa tafsiran ayat 59 dalam surat An-Nisa dan korelasinya dengan pendidikan?
C.Tujuan
Adapun tujuan penulisan
masalah dalam makalah ini adalah, sebagai berikut:
1.
Memahami tafsir ayat 12-19 dalam surat Luqman dan
mengkorelasikan dengan pendidikan.
2.
Memahami tafsir ayat 2 dalam surat Al-Jumuah dan
mengkorelasikan dengan pendidikan.
3.
Memahami tafsir ayat 59 dalam surat An-Nisa dan
mengkorelasikan dengan pendidikan.
D.Metodogloi Penulisan Makalah
Metode penulisan makalah ini menggunakan studi pustaka. Kami
mencari referensi yang berkaitan dengan judul makalah ini. Baik literaturnya beruba tafsir, buku, artikel dan
lain-lain.
BAB II
PEMBAHASAN
Konsep
pendidikan dalam Al Qur’an
Konsep
Pendidikan Dalam Islam Menurut Surah Luqman ayat 12 – 19 adalah
Sebagaimana kita ketahui pendidikan merupakan suatu yang sangat penting bagi manusia. Dan Islam menempatkan pendidikan sebagai sesuatu yang esensial dalam kehidupan umat manusia. Bila melihat dalam Al Quran banyak ide atau gagasan kegiatan atau usaha pendidikan, antara lain dapat dilihat dalam surah Luqman ayat 12-19. Dalam Al Quran surah Luqman tidak menjelaskan banyak tentang kehidupan Luqman hanya menjelaskan tentang wasiatnya.
Adapun pokok-pokok pendidikan dalam surah Luqman ayat 12-19 ,dalam garis besarnya terdiri dari lima aspekyaitu:
Sebagaimana kita ketahui pendidikan merupakan suatu yang sangat penting bagi manusia. Dan Islam menempatkan pendidikan sebagai sesuatu yang esensial dalam kehidupan umat manusia. Bila melihat dalam Al Quran banyak ide atau gagasan kegiatan atau usaha pendidikan, antara lain dapat dilihat dalam surah Luqman ayat 12-19. Dalam Al Quran surah Luqman tidak menjelaskan banyak tentang kehidupan Luqman hanya menjelaskan tentang wasiatnya.
Adapun pokok-pokok pendidikan dalam surah Luqman ayat 12-19 ,dalam garis besarnya terdiri dari lima aspekyaitu:
a)
pendidikanAqidah,
b)
pendidikanberbakti ( ubudiyah),
c)
pendidikankemasyarakatan ( sosial ),
d)
pendidikan mental
e)
pendidikanakhlak ( budipekerti ).
Isi nasihat itu adalah pesan-pesan pendidikan
yang seharusnya dicontoh oleh setiap orang tua muslim yang memiku ltanggung jawab
pendidikan terhadap anak. Ini adalah sebagai isyarat dari Allah SWT supaya setiap
ibu dan bapak dapat melaksanakan pula terhadap anak-anak mereka sebagaimana
yang telah dilakukan oleh Luqman. Dan pada ayat 13 sampai 19 terdapat nasihat-nasihat
Luqman kepada anaknya yang sarat dengan nilai-nilai sebagai konsep pendidikan
agama yang harus diterapkan oleh orang tua kepada anak-anaknya.
Q.S. Luqman
Ayat 12-19 :
وَلَقَدْ آتَيْنَا
لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ
لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ (12) وَإِذْ قَالَ
لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ
الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (13) وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ
حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ
لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (14) وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ
تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي
الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ
مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (15) يَا بُنَيَّ إِنَّهَا
إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي
السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ
خَبِيرٌ (16) يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ
الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
(17) وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ
اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (18) وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ
وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ (19)
Tafsir Mufrodat
Menurut Jalalain
وَلَقَدْ
آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ:
(Dan sesungguhnya telah
Kami berikan kepada Luqman hikmah) antara lain ilmu, agama dan tepat
pembicaraannya, dan kata-kata mutiara yang diucapkannya cukup banyak serta
diriwayatkan secara turun-temurun. Sebelum Nabi Daud diangkat menjadi rasul dia selalu memberikan fatwa, dan dia sempat
mengalami zaman kenabian Nabi Daud, lalu ia meninggalkan fatwa dan belajar menimba
ilmu dari Nabi Daud. Sehubungan dengan hal ini Luqman pernah mengatakan,
"Aku tidak pernah merasa cukup apabila aku telah dicukupkan." Pada
suatu hari pernah ditanyakan oleh orang kepadanya, "Siapakah manusia yang paling
buruk itu?" Luqman menjawab, "Dia adalah orang yang tidak
mempedulikan orang lain yang melihatnya sewaktu dia mengerjakan
kejahatan." (Yaitu) dan Kami katakan kepadanya,
أَنِ
اشْكُرْ لِلَّهِ
hendaklah (bersyukurlah
kamu kepada Allah) atas hikmah yang telah dilimpahkan-Nya kepadamu.
وَمَنْ
يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ
(Dan barang siapa yang
bersyukur kepada Allah, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri)
karena pahala bersyukurnya itu kembali kepada dirinya sendiri
وَمَنْ
كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
(dan barang siapa yang
tidak bersyukur) atas nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepadanya (maka
sesungguhnya Allah Maha Kaya) tidak membutuhkan makhluk-Nya (lagi Maha Terpuji)
Maha Terpuji di dalam ciptaan-Nya.
وَإِذْ
قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ
(Dan) ingatlah (ketika
Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia menasihatinya, "Hai anakku)
lafal bunayya adalah bentuk tashghir yang dimaksud adalah memanggil anak dengan
nama kesayangannya
لَا
تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
(janganlah kamu
mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan) Allah itu (adalah
benar-benar kedzaliman yang besar.") Maka anaknya itu bertobat kepada
Allah dan masuk Islam
وَوَصَّيْنَا
الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ
(Dan Kami wasiatkan
kepada manusia terhadap kedua orang ibu bapaknya) maksudnya Kami perintahkan
manusia untuk berbakti kepada kedua orang ibu bapaknya
حَمَلَتْهُ
أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ
bertambah-tambah) ia
lemah karena mengandung, lemah sewaktu mengeluarkan bayinya, dan lemah sewaktu
mengurus anaknya di kala bayi (dan menyapihnya) tidak menyusuinya lagi (dalam
dua tahun)
أَنِ
اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
Kami katakan kepadanya
(bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang ibu bapakmu, hanya kepada Akulah
kembalimu) yakni kamu akan kembali.
وَإِنْ
جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ
(Dan jika keduanya
memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu
tentang itu) yakni pengetahuan yang sesuai dengan kenyataannya
فَلَا
تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ
أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ
تَعْمَلُونَ
(maka janganlah kamu
mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan cara yang makruf)
yaitu dengan berbakti kepada keduanya dan menghubungkan silaturahmi dengan
keduanya (dan ikutilah jalan) tuntunan (orang yang kembali) orang yang bertobat
(kepada-Ku) dengan melakukan ketaatan (kemudian hanya kepada Akulah kembali
kalian, maka Kuberitakan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan) Aku akan
membalasnya kepada kalian. Jumlah kalimat mulai dari ayat 14 sampai dengan
akhir ayat 15 yaitu mulai dari lafal wa washshainal insaana dan seterusnya
merupakan jumlah i'tiradh, atau kalimat sisipan.
يَا
بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي
صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ
("Hai anakku,
sesungguhnya) perbuatan yang buruk-buruk itu (jika ada sekalipun hanya sebesar
biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi) atau di suatu
tempat yang paling tersembunyi pada tempat-tempat tersebut
يَأْتِ
بِهَا اللَّهُ
(niscaya Allah
akan mendatangkannya) maksudnya Dia kelak akan menghisabnya.
إِنَّ
اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ
(Sesungguhnya Allah Maha
Halus) untuk mengeluarkannya (lagi Maha Waspada) tentang tempatnya.
يَا
بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ
وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ
(Hai anakku, dirikanlah
salat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari
perbuatan mungkar serta bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu) disebabkan
amar makruf dan nahi mungkarmu itu.
إِنَّ
ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
(Sesungguhnya yang demikian
itu) hal yang telah disebutkan itu (termasuk hal-hal yang ditekankan untuk
diamalkan) karena mengingat hal-hal tersebut merupakan hal-hal yang wajib.
وَلَا
تُصَعِّرْ خَدَّكَ
(Dan janganlah kamu
memalingkan) menurut qiraat yang lain dibaca wa laa tushaa`ir (mukamu dari
manusia) janganlah kamu memalingkannya dari mereka dengan rasa takabur
وَلَا
تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا
(dan janganlah kamu berjalan di muka bumi
dengan angkuh) dengan rasa
sombong.
إِنَّ
اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
(Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang sombong) yakni orang-orang yang sombong di dalam berjalan
(lagi membanggakan diri) atas manusia.
وَاقْصِدْ
فِي مَشْيِكَ
(Dan sederhanalah kamu
dalam berjalan) ambillah sikap pertengahan dalam berjalan, yaitu antara
pelan-pelan dan berjalan cepat, kamu harus tenang dan anggun
وَاغْضُضْ
مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ
(dan lunakkanlah)
rendahkanlah (suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara) suara yang paling
jelek itu (ialah suara keledai.") Yakni pada permulaannya adalah ringkikan
kemudian disusul oleh lengkingan-lengkingan yang sangat tidak enak didengar.
Tafsir Ijmali
Luqman yang disebut
oleh surah Lukman
adalah seorang tokoh
yang diperselisihkan identitasnya.
Orang Arab mengenal
dua tokoh yang
bernama Luqman. Pertama, Luqman
Ibn Ad. Tokoh
ini mereka agungkan karena wibawa, kepemimpinan, ilmu, kefasihan dan kepandaiannya. Ia kerap kali dijadikan sebagai pemisalan dan perumpamaan. Tokoh
kedua adalah Luqman al-Hakim yang
terkenal dengan kata-kata bijak
dan
perumpamaan-perumpamannya. Agaknya dialah
yang dimaksud oleh surat ini.( M. Quraish Shihab,2002:125) Dalam tafsir
Ibnu Katsir bahkan disebutkan nama lengkap
Luqman adalah Luqman bin Anqa’ bin Sadun menurut kisah yang dikemukakan
oleh As-Suhaili.( M. Nasib Ar-Rifai,
1999: 789)
Al-Baghdadi (2005:182) mengemukakan bahwa “Luqman bukan
dari kalangan Arab, tetapi
seorang ëajami, yaitu
anak Baíura dari
keturunan Azar (orang
tua Nabi Ibrahim), anak saudara
perempuan Nabi Ayyub, atau anak bibi nabi Ayyub. Banyak perbedaan pendapat
tentang asal-usul Luqman
tersebut. Ada yang
mengatakan bahwa ia seorang bangsa Negro Sudan, Mesir Hulu atau Habsyi
yang warna kulitnya itam, hidup selama
seribi tahun dan
berjumpa dengan Nabi Dawud sehingga Nabi Dawud banyak menimba ilmu darinya.
Ada yang
berpendapat bahwa dia seorang Nabi,
dan ada pula
yang membantah pendapat itu
dengan mengatakan bahwa dia hanyalah seorang ahli hikmah”.
Para ulama salaf pun berikhtilaf mengenai Luqman apakah
dia seorang Nabi atau hamba Allah yang
shaleh tanpa menerima kenabian. Mengenai hal
ini ada pendapat. Mayoritas ulama berpendapat bahwa
dia adalah hamba Allah yang shaleh tanpa
menerima kenabian. Menurut
Ibnu Abbas, Luqman
adalah seorang hamba berkebangsaan Habsyi
yang berprofesi sebagai
tukang kayu. Sementara
Jabir bin Abdillah
mengidentifikasi Luqman sebagai
orang bertubuh pendek
dan berhidung pesek. Sedangkan
Said bin Musayyab mengatakan bahwa Luqman berasal dari kota Sudan, memiliki
kekuatan, dan mendapat
hikmah dari Allah,
namun dia tidak menerima kenabian.( M. Nasib
Ar-Rifai,1999)
Tentang pekerjaannya
juga diperselisihkan, ada
yang mengatakan sebagai qadhi
kaum Bani Israil,
ada yang mengatakan
sebagai tukang jahit,
ada yang mengatakan sebagai
penggembala ternak, atau sebagi tukang kayu. Namun semua itu tidak penting,
dan mungkin saja
kesemua pekerjaan itu
pernah dilakukannya, mengingat
usianya yang mencapai 1000 tahun.
Menurut Al-Baghdadi(1999:183) dalam
kitabnya Ruh Maíani fi
Tafsir al-Qurían al-Azim wa al-sabíu al-Maatsani dan menurut
Al-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir fi al-Aqidah wa al- Syariah wa al-Manhaj-nya
Luqman juga mempunyai seorang anak yang juga diperselisihkan oleh
para ulama. Ada yang mengatakan Tsaran, Masykam, Aníam, Asykam dan
atau Matan. Anak dan isterinya
pada mulanya kafir. Tapi ia selalu
berusaha memberi pendidikan
dan pengajaran kepada
anak dan isterinya sampai keduanya beriman dan
menerima ajaran tauhid yang diajarkan Luqman.
Dan
Menurut Hamka(1988:114) dalam
Tafsir al-Azhar menegaskan
bahwa di dalam mencari intisari al-Qur’an tidaklah
penting bagi kita mengetahui dari mana asal-usul Luqman. Al-Qurían pun tidaklah
menonjolkan asal-usul. Yang penting adalah dasar-dasar hikmah
yang diwasiatkannya kepada
puteranya yang mendapat
kemulian demikian tinggi. Sampai
dicatat menjadi ayat-ayat
dari Al-Qur’an, disebutkan
namanya 2 kali, yaitu pada ayat 12 dan 13 dalam surat 31, yang diberi
nama dengannamanya ; Luqman.
Jelaslah
bahwa Luqman adalah seorang ahli hikmah, kata-katanya merupakan pelajaran dan
nasehat, diamnya adalah
berpikir, dan isyarat-isyaratnya merupakan peringatan. Dia
bukan seorang Nabi melainkan seorang yang bijaksana, yang Allah telah memberikan
kebijaksanaan di dalam lisan dan hatinya, dimana ia berbicara dan mengajarkan
kebijaksanaan itu kepada manusia. Dalam
al-Qurían pun diungkapkan bahwa dia dianugerahi
berupa ìhikmahî oleh
Allah SWT. Banyak
perkataannya yang mengandung hikmah,
sebagaimana dapat dilihat
perkataannya itu ketika
iaberkata kepada anak
laki-lakinya. Tafsir al-Maraghi
mengemukakan empat perkataan
Luqman tersebut antara lain :
1. Hai
anakku, sesungguhnya dunia
itu adalah laut
yang dalam, dan sesungguhnya telah
banyak manusia yang
tenggelam ke dalamnya.
Maka jadikanlah taqwa sebagai
perahunya untuk bertaqwa kepada
Allah,
muatannya iman sebagai
layarnya bertawakkal kepada Allah.
Barangkali saja kamu
dapat selamat (tidak tenggelam
ke dalamnya), akan
tetapi aku yakin
kamu akan selamat.
2. Barang
siapa yang dapat
menasehati dirinya sendiri,
niscaya ia akan mendapat
pemeliharaan dari Allah.
Dan barang siapa
yang dapat menyadarkan orang-orang
lain akan dirinya
sendiri, niscaya Allah
akan menambah kemuliaan baginya
karena hal tersebut. Hina dalam
rangka taatkepasa Allah lebih
baik daripada membanggakan diri dalam kemaksiatan.
3. Hai
anakku, janganlah kamu
bersikap terlalu manis,
karena engkau pasti ditelan, dan
jangan kamu bersikap
terlalu pahit karena
engkau pasti akan dimuntahkan
4. Hai
anakku, jika kamu
hendak menjadikan seseorang
sebagai teman (saudaramu), maka
butalah dia marah kepadamu sebelum itu, maka apabila ia bersikap pemaaf
terhadap dirimu di
kala marah, maka
persaudarakanlah ia. Dan apabila
ia tidak mau memaafkanmu maka hati-hatilah terhadap dirinya.( Ahmad Mustafa Al
Maraghi,1993:146)
Tafsir
ayat 13 :
Dalam ayat 13, Allah mengabarkan tentang wasiat Luqman kepada
anaknya, yaitu Luqman bin ‘Anqa bin Sadun, dan nama anaknya Tsaran, sebagaimana
yang telah disebutkan oleh Suhaili dalam tafsir Ibnu Katsir (Kairo, 2000:
53) agar anaknya tersebut hanya menyembah Allah semata dan tidak
menyekutukannya dengan sesuatu apapun. Ungkapan “la tusyrik billah” dalam ayat ini, memberi
makna bahwa ketauhidan merupakan materi pendidikan terpenting yang harus
ditanamkan pendidik kepada anak didiknya karena hal tersebut merupakan sumber
petunjuk ilahi yang akan melahirkan rasa aman. Sebagaimana firman Allah: “Orang-orang yang beriman dan tidak
mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang
mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS Al-An’am: 82).
Penyampaian materi pendidikan dalam ayat ini, diawali dengan penggunaan
kata “Ya bunayya” (wahai anakku)
merupakan bentuk tashgir (diminutif) dalam arti
belas kasih dan rasa cinta, bukan bentuk diminutif penghinaan atau pengecilan
(Al-Alusi, 1999: 114).
Dimensi
Konsep Pendidikan Mendidik Anak Menurut Surah Luqman Ayat 13
Dari referensi ini terlihat bahwa seluruh dimensi yang dikandung dalam Al Quran memiliki misi dan implikasi kependidikan yang bergaya impratif, motivatif dan persuatif dimanis sebagai suatu sistem pendidikan yang utuh dan demokrasi lewat prosesmanusiawi.
Pendidikan aqidah merupakan landasan pertama dalam pembentukan karakteristik dan moral anak. Kewajiban orang tua muslim adalah memelihara akidah mereka, jangan sampai dikotori oleh kepercayaan atau keyakinan yang salah.” Janganlah menyekutuhkan Allah SWT ” Janganlah mengangkat Tuhan selain Allah SWT.
Dari referensi ini terlihat bahwa seluruh dimensi yang dikandung dalam Al Quran memiliki misi dan implikasi kependidikan yang bergaya impratif, motivatif dan persuatif dimanis sebagai suatu sistem pendidikan yang utuh dan demokrasi lewat prosesmanusiawi.
Pendidikan aqidah merupakan landasan pertama dalam pembentukan karakteristik dan moral anak. Kewajiban orang tua muslim adalah memelihara akidah mereka, jangan sampai dikotori oleh kepercayaan atau keyakinan yang salah.” Janganlah menyekutuhkan Allah SWT ” Janganlah mengangkat Tuhan selain Allah SWT.
Tafsir ayat 14-15 :
Setelah
Allah swt menjelaskan washiyat Luqman kepada anaknya, agar ia bersyukur kepada
pemberi nikmat pertama, selanjutnya Allah mewashiyatkan anak agar berbuat baik
dan ta’at kepada kedua orang tuanya, serta memenuhi hak-hak mereka.( Ahmad
Mustafa Al Maraghi, 1993:82)
Dalam ayat 14 dapat diungkap pula makna tujuan manusia yang
terangkum dalam kalimat “ilayyal mashir”, yaitu kembali kepada
kebenaran hakiki dimana sumber kebenaran itu sendiri adalah Allah semata-mata.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tujuan hidup manusia adalah penyerahan
diri secara total kepada Allah. Salah satu ajaran Islam yang termasuk dalam
bidang kebaktian dan akhlak, yang diperintahkan kepada manusia melaksanakannya,
ialah berbuat baik dengan ibu dan bapak, birrul walidain, kewajiban itu
dirangkaikan dan disenafaskan dengan perintah menyembah Allah SWT dan
diletakkan tempatnya pada nomor dua sesudah berbakti (ta’abbudi ) kepada Allah
SWT pencipta alam semesta ini. Wasiat bagi anak untuk berbakti kepada kedua
orangtuanya muncul berulang-ulang dalam wasiat Rasulullah. Namun, wasiat buat
orang tua tentang anaknya sangat sedikit.
Dalam konteks surah Luqman ayat 14, Allah SWT menghendaki agar sang anak berbakti kepada kedua orang tua mereka dan bersifat lemah lembut kepada keduanya, itu pun masih jauh dari cukup bila dibandingkan dengan kepayahan dan kelelahan orang tua dalam mengandung, membesarkan dan mendidik sang anak hingga beranjak dewasa. Apakah kandungan ayat di atas merupakan nasihat Luqman secara langsung atau tidak?. Yang jelas ayat di atas menyatakan : Dan kami wasiatkan, yakni berpesan dengan amat kokoh kepada semua manusia.
Semua manusia yang hidup di dunia ini berhutang budi kepada orang tua. Dan kami perintahkan kepada manusia ( berbuat baik) kepada ke dua orang tua ibu bapak. Oleh karena itu anak berkewajiban menghormati dan menjalin hubungan baik dengan ibu dan bapak
Dalam konteks surah Luqman ayat 14, Allah SWT menghendaki agar sang anak berbakti kepada kedua orang tua mereka dan bersifat lemah lembut kepada keduanya, itu pun masih jauh dari cukup bila dibandingkan dengan kepayahan dan kelelahan orang tua dalam mengandung, membesarkan dan mendidik sang anak hingga beranjak dewasa. Apakah kandungan ayat di atas merupakan nasihat Luqman secara langsung atau tidak?. Yang jelas ayat di atas menyatakan : Dan kami wasiatkan, yakni berpesan dengan amat kokoh kepada semua manusia.
Semua manusia yang hidup di dunia ini berhutang budi kepada orang tua. Dan kami perintahkan kepada manusia ( berbuat baik) kepada ke dua orang tua ibu bapak. Oleh karena itu anak berkewajiban menghormati dan menjalin hubungan baik dengan ibu dan bapak
Tafsir ayat 16
Al-Qurthubi mengatakan dalam tafsir Al-Jami’ li Ahkaamil Qur’an (Kairo, 1994: 68): “Makna ayat ini yaitu bahwa Allah menghendaki
amal-amal perbuatan, baik itu perilaku maksiat maupun perilaku ketaatan.
Maksudnya: Jika amal itu adalah amal baik atau amal itu adalah amal buruk,
meski itu seberat biji sawi, niscya Allah akan mendatangkannya. Yakni bahwa
seorang manusia tidak akan kehilangan sesuatu yang telah ditakdirkan padanya.”
Tafsir ayat 17
Ada
empat washiat Luqman terhadap anaknya; 1) Shalat Ibadah, 2) Amar ma’ruf,
3) Nahu munkar, keduanya termasuk bidang muamalah, dan 4) shabar, ini
masuk dalam bidang akhlak.( M. Ali Ash-Shabuny,2002:336)
Hubungan
kepada Allah SWT dalam bentuk shalat ini dinyatakan oleh ayat 17 surat Luqman.
Pada ayat ini Allah SWT mengabadikan empat bentuk nasihat untuk
penetapanjiwaanaknyaaitu:
a.Dirikanlahshalat
b.Menyuruhberbuatyangbaik(makruf)
c.Mencegahberbuatmungkar
d. Bersabar atas segala musibah.
a.Dirikanlahshalat
b.Menyuruhberbuatyangbaik(makruf)
c.Mencegahberbuatmungkar
d. Bersabar atas segala musibah.
Inilah empat modal hidup yang diberikan Luqman
kepada anaknya dan diharapkan menjadi modal hidup bagi kita semua yang
disampaikan Muhammad SAW kepada umatnya.
Dengan demikian ayat ini memberi indikasi bahwa salat sebagai peneguh pribadi, amar makruf nahi mungkar dalam hubungan masyarakat, dan sabar untuk mencapai apa yang dicita-citakan. Menurut filsafat Islam sikap sabar ada lima macam, yaitu :
1) Sabar dalam beribadah (Ashsbru fil ibadah), ialah tekun mengendalikan diri melaksanakansyarat-syaratdantatatertibibadah.
2) Sabar ditimpa malapetaka atau musibah (Ashshabru indal mushibah), ialah teguh hati ketika mendapat musibah (cobaan ujian) baik yang berbentuk kemiskinan, kematian,kecelakaan,kejatuhan,diserangpenyakit
3) Sabar terhadap kehidupan dunia (Ashshabru anid-dunya) ialah sabar terhadap tipu daya dunia, jangan sampai hati terpaut kepada kenikmatan hidup di dunia ini, jangan dijadikan tujuan, tetapi hanya sebagai alat untuk mempersiapkan diri mengahadapai kehidupanyangkekal.
4) Sabar terhadap ma’siat (Ashshabru anil ma’shiah) ialah mengendalikan diri supaya tidakberlakuma’siat.
5) Sabar dalam perjuangan (Ashshabru fil jihad), ialah menyadari sepenuhnya bahwa setiap perjuangan mengalami masa naik dan turun, masa menang dan kalah.
Dimensinya Secara umum dimensi pendidikan kesabaran dapat dibagi dalam dua bagian pokok: Pertama, sabar jasmani yaitu kesabaran dalam menerima dan melaksanakan perintah-perintah keagamaan yang melibatkan anggota tubuh, seperti sabar dalam melaksanakan ibadah haji yang mengakibatkan keletihan atau sabar dalam peperangan membela kebenaran.Termasuk pula dalam kategori ini, sabar dalam menerima cobaan-cobaan yang menimpa jasmani seperti penyakit, penganiayaan dan semacamnya. Kedua sabar rohani menyangkut kemampuan menahan kehendak nafsu yang dapat mengantar kepada kejelekan-kejelekan seperti sabar menahan amarah atau menahan nafsu sexsual yang bukan pada tempatnya. Adapun yang amat terpuji adalah orang-orang yang sabar yakni tabah, menahan diri, dan berjuang dalam mengatasi kesempitan, yakni kesulitan hidup seperti krisis ekonomi, penderitaan seperti penyakit atau cobaan, dan dalam peperangan, yakni perang sedang berkecamuk. Mereka itulah orang-orang yang benar dalam arti sesuai sikap, ucapan, dan perbuatannya dan mereka itulahorang-orangyangbertakwa.
Dengan demikian ayat ini memberi indikasi bahwa salat sebagai peneguh pribadi, amar makruf nahi mungkar dalam hubungan masyarakat, dan sabar untuk mencapai apa yang dicita-citakan. Menurut filsafat Islam sikap sabar ada lima macam, yaitu :
1) Sabar dalam beribadah (Ashsbru fil ibadah), ialah tekun mengendalikan diri melaksanakansyarat-syaratdantatatertibibadah.
2) Sabar ditimpa malapetaka atau musibah (Ashshabru indal mushibah), ialah teguh hati ketika mendapat musibah (cobaan ujian) baik yang berbentuk kemiskinan, kematian,kecelakaan,kejatuhan,diserangpenyakit
3) Sabar terhadap kehidupan dunia (Ashshabru anid-dunya) ialah sabar terhadap tipu daya dunia, jangan sampai hati terpaut kepada kenikmatan hidup di dunia ini, jangan dijadikan tujuan, tetapi hanya sebagai alat untuk mempersiapkan diri mengahadapai kehidupanyangkekal.
4) Sabar terhadap ma’siat (Ashshabru anil ma’shiah) ialah mengendalikan diri supaya tidakberlakuma’siat.
5) Sabar dalam perjuangan (Ashshabru fil jihad), ialah menyadari sepenuhnya bahwa setiap perjuangan mengalami masa naik dan turun, masa menang dan kalah.
Dimensinya Secara umum dimensi pendidikan kesabaran dapat dibagi dalam dua bagian pokok: Pertama, sabar jasmani yaitu kesabaran dalam menerima dan melaksanakan perintah-perintah keagamaan yang melibatkan anggota tubuh, seperti sabar dalam melaksanakan ibadah haji yang mengakibatkan keletihan atau sabar dalam peperangan membela kebenaran.Termasuk pula dalam kategori ini, sabar dalam menerima cobaan-cobaan yang menimpa jasmani seperti penyakit, penganiayaan dan semacamnya. Kedua sabar rohani menyangkut kemampuan menahan kehendak nafsu yang dapat mengantar kepada kejelekan-kejelekan seperti sabar menahan amarah atau menahan nafsu sexsual yang bukan pada tempatnya. Adapun yang amat terpuji adalah orang-orang yang sabar yakni tabah, menahan diri, dan berjuang dalam mengatasi kesempitan, yakni kesulitan hidup seperti krisis ekonomi, penderitaan seperti penyakit atau cobaan, dan dalam peperangan, yakni perang sedang berkecamuk. Mereka itulah orang-orang yang benar dalam arti sesuai sikap, ucapan, dan perbuatannya dan mereka itulahorang-orangyangbertakwa.
Tafsir
ayat 18
Luqman mengatakan: “Jangan kamu palingkan
wajahmu dari manusia ketika berbicara kepada mereka atau mereka berbicara
denganmu karena merendahkan mereka dan sombong kepada mereka. Akan tetapi
berlemah lembutlah kamu, dan tampakkan keramahan wajahmu pada mereka
(Sebagaiman dijelaskan Ibnu Katsir dalam tafsir Al-Qur’nul ‘Adzim, Kairo, 2000:
56).
Allah Ta’ala berfirman:“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini
dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi
dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. Al-Isra: 37)
Allah berfirman: “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan
lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” Nilai pendidikan yang
terdapat dalam ayat ini berkaitan dengan metode pendidikan, yaitu menyampaikan
komunikasi melalui pemisalan. Tamtsil yang dimaksud adalah
keledai dengan sifat yang melekat dalam dirinya yang digunakan untuk
mengumpamakan orang yang bersuara keras.
Tafsir ayat 19 :
Ayat ini menerangkan lanjutan wasiat Luqman kepada anaknya,
yaitu agar anaknya berbudi pekerti yang baik, yaitu dengan:
1.
Jangan sekali-kali bersifat angkuh dan sombong, suka
membangga-banggakan diri dan memandang rendah orang lain. Tanda-tanda seseorang
yang bersifat angkuh dan sombong itu ialah:
a.
Bila berjalan dan bertemu dengan temannya atau orang
lain, ia memalingkan mukanya, tidak mau menegur atau memperlihatkan sikap ramah
kepada orang yang berselisih jalan dengannya.
b.
Ia berjalan dengan sikap angkuh, seakan-akan
di jalan ia yang berkuasa dan yang paling terhormat.
2.
Hendaklah sederhana waktu berjalan, lemah
lembut dalam berbicara, sehingga orang yang melihat dan mendengarnya merasa
senang dan tenteram hatinya. Berbicara dengan sikap keras, angkuh dan sombong
itu dilarang Allah karena pembicaraan yang semacam itu tidak enak didengar,
menyakitkan hati dan telinga, seperti tidak enaknya suara keledai.( M Hasbi
Ash-shiddiqy, 1964:60-70)
Nilai
Tarbawi :
1. Bahwa ketauhidan merupakan materi pendidikan terpenting yang
harus ditanamkan pendidik kepada anak didiknya karena hal tersebut merupakan
sumber petunjuk ilahi yang akan melahirkan rasa aman.
2.
Bahwa salah satu diantara tugas pendidik ialah menyayangi anak
didiknya sebagaimana seorang ayah menyayangi anaknya, bahkan lebih. Dan selalu
menasehati serta mencegah anak didiknya agar terhindar dari akhlak tercela.
3.
Anak didik diajak berdialog
dengan menggunakan potensi pikirnya agar potensi itu dapat berkembang dengan
baik.
4.
Pentingnya menanamkan pada diri anak sifat
untuk terlebih dahulu memperbaiki diri sendiri sebelum memperbaiki orang lain.
Ini ditunjukan dengan dimulai dengan perintah shalat lalu amar ma’ruf nahu munkar.
5.
etika berinteraksi dengan
lingkungan masyarakat yang lebih luas. Sopan dan rendah hati dapat dipandang
sebagai materi yang sangat penting untuk diajarkan sebagai bekal
bersosialisasi.
6.
Materi akhlak pada tingkat dasar, hendaknya
yang mudah, sederhana, dan menyentuh kehidupan sehari-hari
7.
Pengajaran akhlak sangat penting diterapkan
pada pendidikan tingkat dasar
ولقد
: " الواو" حرف قسم, و"اللام" لام جواب القسم, و
"قد" حرف تحقيق
$oY÷s?#uä :
فعل ماض مبنى على السكون لاتصاله بنا الفاعلين و "نا" ضمير متصل مبنى
على السكون فى محل رفع فاعل
z`»yJø)ä9: مفعول به أول منصوب وعلامة ىصبه الفتحة
الظاهرة
spyJõ3Ïtø:$#: مفعول به ثان منصوب وعلامة ىصبه الفتحة
الظاهرة
Èbr& :
حرف تفسير
öä3ô©$ # : فعل أمر مبني على السكون
والفاعل ضمير مستتير تقديره " أنت "
¬! :
جار و مجرور
`tBur : " الواو
" حرف استئناف, وز " من " اسم استفهام مبني على السكون فى محال رفع
مبتدأ
öà6ô±t
:
فعل مضارع فعل الشرط مجزوم وعلامة جزمه السكون والفاعل ضمير مستتير تقديره هو
$yJ¯RÎ*sù :
"الفاء" رابطة لجواب الشرط و "إنّما" كافة ومكفوفة
ãä3ô±o
: فعل مضارع مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة والفاعل
ضمير مستتير تقدير "هو"
ÏmÅ¡øÿuZÏ9 : جار
و مجرور و "الهاء" ضمير متصل مبني على الكسر فى محل جر مضاف إليه,
والجملة فى محل جزم جواب الشرط و الشرط وجوابه فى محل رفع خبر المبتدإ
"من"
`tBur :
"الواو" حرف عطف و "من" اسم استفهام مبني على السكون فى محل
رفع مبتدأ
txÿx. :
فعل ماض مبني على الفتح فى محل جزم والفاعل ضمير مستتير تقديره"هو"
¨bÎ*sù
: "الفاء" رابطة لجواب الشرط و
"إنّ" حرف توكيد و نصب
©!$# :
اسم "إنّ" منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة
;ÓÍ_xî : خبر "إنّ"
مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة
ÓÏJym
:
خبر "إنّ" ثان مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة, والجملة فى محل جزم جواب
الشرط والشرط وجوابه فى محل رفع خبر المبتدإ "من"
13
øÎ)ur :
"الواو" حرف عطف و"إذ" مفعول به لفعل محذوف تقديره
"اذكر" مبني على السكون فى محل نصب
tA$s%
: فعل ماض مبني على الفتح
ß`»yJø)ä9
: فاعل مرفوع وعلامة رفعه الضمة
الظاهرة
ÏmÏZö/ew :
جار و مجرور و"الهاء" ضمير متصل مبني على الكسر فى محل جر مضاف إليه
uqèdur
: "الواو" حالية و "هو" ضمير
منفصل مبني على الفتح فى محل رفع مبتدأ
mÝàÏèt : فعل مضارع مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة
و "الهاء" ضمير متصل مبني على الضم فى محل نصب مفعول به و الفاعل ضمير مستتير
تقدير "هو", والجملة فى محل نصب حال
¢Óo_ç6»t :
"يا" حرف نداء و "بنيّ" منادى منصوب و علامة نصبه الفتحة الظاهرة
لأنّه مضاف و "الياء" ضمير متّصل مبني على الفتح فى محل جر مضاف اليه
w :
حرف نهي و جزم
õ8Îô³è@ : فعل
مضارع مجزوم و علامة جزمه السكون و الفاعل ضمير مستتير تقديره "انت"
«!$$Î/ :
جار و مجرور
cÎ) : حرف توكيد و نصب
x8÷Åe³9$# : اسم
"إنّ" منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة
íOù=Ýàs9 : "اللام" المزحلقة لتوكيد و
"ظلم" خبر "إنّ" مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة
ÒOÏàtã
: نعت مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة
14
$uZø¢¹urur: "الواو" حرف
عطف و "وصّينا" فعل ماض مبني على السكون لاتصاله بنا الفاعلين و"نا"
ضمير متصل مبني على السكون فى محل رفع فاعل
z`»|¡SM}$#
:
مفعول به منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة
Ïm÷yÏ9ºuqÎ/ : "الباء" حرف جر
و"والدى" اسم مجرور وعلامة جرّه الياء لأنه مثنى وحذفت نونه للإضافة
و"الهاء" ضمير متصل مبني على الكسر فى محل جر مضاف إليه
çm÷Fn=uHxq : فعل
ماض مبني على الفتح و"التاء" للتأنيث و"الهاء" ضمير متصل مبني
على الضم فى محل نصب مفعول به
çmBé& :
فاعل مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة و"الهاء" ضمير متصل مبني على الضم
محل جر مضاف إليه
$·Z÷dur
: حال منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة
4n?tã :
حرف جر
9`÷dur
: اسم مجرور وعلامة جره الكسرة الظاهرة
çmè=»|ÁÏùur : "الواو" حرف استئناف
و"فصاله" مبتدأ مرفوع وغلامة رفعه الضمة الظهرة و"الهاء" ضمير
متصل مبني على الضم فى محل جر مضاف إليه
Îû : حرف جر
Èû÷ütB%tæ : اسم مجرور وعلامة جره الياء لأنّه مثنى,
وشبه الجملة فى محل رفع خبر المبتدإ
Èbr& :
حرف تفسير
öà6ô©$#
: فعل أمر مبني على السكون
والفاعل ضمير مستتير تقديره "انت"
Í< : جار و مجرور
y7÷yÏ9ºuqÎ9ur : "الواو" حرف عطف
و"لوالديك" جار و مجرور وعلامة جره الياء لأنّه مثنى وحذفت نونه للإضافة
و"الكاف" ضمير متصل مبني على الفتح فى محل جر مضاف إليه
¥n<Î) :
جار و مجرور وشبه الجملة فى محل رفع مقدم
çÅÁyJø9$#
: مبتدأ مؤخر مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة
15
bÎ)ur
: "الواو" حرف عطف و "إن"
حرف شرط
#yyg»y_
:
فعل ماض مبني على الفتح في محل جزم و"ألف الإثنين" ضمير متصل مبني على السكون
فى محل رفع فاعل و"الكاف" ضمير متصل مبني على الفتح فى محل نصب مفعول به
#n?tã : حرف جر
br& :
حرف مصدرى و نصب
Íô±è@ : فعل مضارع منصوب وعلامة نصبه الفتحة
الظاهرة والفاعل ضمير مستتير تقديره "أنت" والمصدر المؤول "أن
تشرك" فى محل جر ب "على"
Î1 :
جار مجرور
$tB :
اسم موصول مبني على السكون في محل نصب مفعول به
}§øs9 :
فعل ماض ناسخ مبني على الفتح
y7s9
: جار و مجرور, و شبه الجملة فى محل نصب خبر ليس
مقدم
ÏmÎ/
: جار و مجرور متعلق ب "علم"
ÖNù=Ïæ : اسم ليس مؤخر مرفوع
وعلامة رفعه الضمة الظاهرة , والجملة صلة الموصول لامحل لها من الإعراب
xsù :
"الفاء" حرف عطف و"لا" حرف نهي و جزم
$yJßg÷èÏÜè?
:
فعل مضارع فعل الشرط مجزوم وعلامة جزمه السكون والفاعل ضمير مستتير تقديره "انت"
و "هما" ضمير متصل مبني على السكون فى محل نصب مفعول به, والجملة فى محل
جزم جواب الشرط
$yJßgö6Ïm$|¹ur
:
"الواو" حرف عطف و"صاحبهما" فعل امر مبني على السكون و"هما"
ضمير متصل مبني على السكون فى محل نصب مفعول به والفاعل ضمير مستتير تقديره "انت"
Îû
: حرف جر
$u÷R9$# : اسم
مجرور وعلامة جره الكسرة لأنّه اسم مقصور
$]ùrã÷ètB
:
نائب عن المفعول المطلق منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة
ôìÎ7¨?$#ur
: "الواو" حرف عطف و"اتبع" فعل
أمر مبني على السكون والفاعل ضمير مستتير تقديره "أنت"
@Î6y
: مفعول به منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة
ô`tB
: اسم موصول مبني على السكون فى محل جرّ مضاف
اليه
z>$tRr& :
فعل ماض مبني على الفتح والفاعل ضمير مستتير تقديره "هو" والجملة صلة
الموصول لامحل لها من الإعراب
¥n<Î)
: جار مجرور
¢OèO :
حرف عطف
¥n<Î) : جار مجرور و شبه الجملة
فى محل رفع خبر مقدم
öNä3ãèÅ_ötB
:
مبتدأ مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة و"كم" ضمير متصل مبني على السكون
فى محل جر مضاف اليه
Nà6ã¥Îm;tRé'sù
:
"الفاء" رابطة و"أنبئكم" فعل مضارع مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة
و"كم" ضمير متصل مبني على السكون فى محل نصب مفعول به والفاعل ضمير مستتير
تقديره "أنا"
$yJÎ/ : "الباء" حرف
جر و"ما" اسم موصول مبني على السكون فى محل جر
óOçFZä. :
فعل ماض ناسخ مبني على السكون لاتصاله بتاء الفاعل و"تم" ضمير متصل مبني
على السكون فى محل رفع اسم كان
tbqè=yJ÷ès? : فعل مضارع مرفوع وعلامة رفعه ثبوت النون
لأنه من الأفعال الخمسة, و"واو الجماعة" ضمير متصل مبني على السكون فى
محل رفع فاعل, والجملة فى محل نصب خبر كان و جملة "كنتم..." صلة الموصول
لامحل لها من الإعراب
16
¢Óo_ç6»t
:
"يا" حرف نداء و"بنيّ"
منادى منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة لأنّه مضاف و"الياء" ضمير متصل مبني
على الفتح فى محل جر مضاف اليه
!$pk¨XÎ)
: "إنّ" حرف توكيد و نصب و"ها"
ضمير متّصل مبني على السكون فى محل نصب اسم "إنّ"
bÎ)
: حرف شرط
à7s?
: فعل مضارع مجزوم وعلامة جزمه السكون المقدر على
النون المحذوفة للتحفيف واسم تك ضمير مستتير تقديره "هي"
tA$s)÷WÏB : خبر
تك منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة
7p¬6ym :
مضاف اليه مجرور وعلامة جره الكسرة الظاهرة
ô`ÏiB : حرف جر
5Ayöyz : اسم
مجرور وعلامة جره الكسرة الظاهرة
`ä3tFsù
:"الفاء" حرف عطف و"تكن" معطوف
مجزوم وعلامة جزمه السكون واسم تكن ضمير مستتير تقديره "هي"
Îû : حرف جر
>ot÷|¹
:
اسم مجرور وعلامة جره الكسرة الظاهرة , وشبه الجملة فى محل نصب خبر تكن
÷rr&
: حرف عطف
Îû :
حرف عطف
ÏNºuq»yJ¡¡9$#
:
اسم مجروروعلامة جره الكسرة الظاهرة
÷rr&
: حرف عطف
Îû : حرف جر
ÇÚöF{$#
: اسم مجروروعلامة جره الكسرة الظاهرة
ÏNù't : فعل مضارع مجزوم وعلامة جزمه حذف
حرف العلة
$pkÍ5 : جار و مجرور
ª!$#
: اسم الجلالة فاعل مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة , والجملة فى
محل جزم جواب الشرط وجوابه فى محل رفع خبر "إنّ"
¨bÎ)
: حرف توكيد و نصب
©!$# :
اسم "إنّ" منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة
ì#ÏÜs9 :
خبر"إنّ" مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة
×Î7yz :
خبر"إنّ" ثان مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة
17
¢Óo_ç6»t : "يا" حرف نداء و"بنيّ" منادى منصوب وعلامة نصبه الفتحة
الظاهرة لأنّه مضاف و"الياء" ضمير متصل مبني على الفتح فى محل جر مضاف اليه
ÉOÏ%r& :
فعل أمر مبني على السكون وحرّك بالكسر لالتقاء الساكنين والفاعل ضمير مستتير تقديره
"أنت"
no4qn=¢Á9$# : مفعول به منصوب وعلامة نصبه الفتحة
الظاهرة
öãBù&ur :
"الواو" حرف عطف و"اؤمر" فعل أمر مبني على السكون والفاعل
ضمير مستتير تقديره "أنت"
Å$rã÷èyJø9$$Î/ : جار مجرور
tm÷R$#ur :
"الواو" حرف عطف و"انه" فعل أمر مبني على حذف حرف العلة
والفاعل ضمير مستتير تقديره "أنت"
Ç`tã : حرف جر
Ìs3ZßJø9$# : اسم مجرور وعلامة جره الكسرة الظاهرة
÷É9ô¹$#ur : "الواو" حرف عطف و"اصبر" فعل أمر
مبني على السكون والفاعل ضمير مستتير تقديره "أنت"
4n?tã :
حرف جر
!$tB :
اسم موصول مبني على السكون فى محل جرّ
y7t/$|¹r& : فعل ماض مبني على الفتح
و"الكاف" ضمير متصل مبني على الفتح فى محل نصب مفعول به والفاعل ضمير
مستتير تقديره "هو" والجملة صلة الموصول لامحل لها من الإعراب
¨bÎ) :
حرف توكيد و نصب
y7Ï9ºs : اسم إشارة مبني على السكون فى محل نصب
اسم "إنّ"
ô`ÏB : حرف جر
ÇP÷tã : تسم مجرور و علامة جره
الكسرة الظاهرة
ÍqãBW{$# : مضاف اليه مجرور و علامة
جره الكسرة الظاهرة, و شبه الجملة فى محل رفع خبر "إنّ"
18
wur : "الواو" حرف عطف و"لا"
حرف نهي وجزم
öÏiè|Áè? : فعل
مضارع مجزوم وعلامة جزمه السكون والفاعل ضمير مستتير تقديره "انت"
£s{: مفعول به منصوب وغلامة نصبه الفتحة الظاهرة
و"الكاف" ضمير متصل مبني على الفتح فى محل جر مضاف اليه
Ĩ$¨Z=Ï9 : جار و مجرور
wur : "الواو"
حرف عطف و"لا" حرف نهي وجزم
Ä·ôJs? : فعل مضارع مجزوم وعلامة جزمه السكون
والفاعل ضمير مستتير تقديره "انت"
Îû :
حرف جر
ÇÚöF{$# : اسم مجرور وعلامة جره الكسرة الظاهرة
$·mttB :
حال منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة
¨bÎ) :
حرف توكيد و نصب
©!$# :
اسم الجلالة اسم "إنّ" منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة
w :
حرف نفى
=Ïtä :
فعل مضارع مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة والفاعل ضمير مستتير تقديره
"هو", والجملة فى محل رفع خبر "إنّ"
¨@ä. :
مفعول به منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة
5A$tFøèC :
مضاف اليه منصوب وعلامة نصبه الكسرة الظاهرة
9qãsù :
نعت مجرور وعلامة جره الكسرة الظاهرة
19
ôÅÁø%$#ur : "الواو" حرف عطف
و"اقصد" فعل أمر مبني على السكون والفاعل ضمير مستتير تقديره
"أنت"
Îû :
حرف جر
Íô±tB : اسم مجرور وعلامة جره الكسرة الظاهرة
و"الكاف" ضمير متصل مبني على الفتح فى محل جر مضاف اليه
ôÙàÒøî$#ur : "الواو" حرف عطف
و"اغضض" فعل أمر مبني على السكون والفاعل ضمير مستتير تقديره
"أنت"
`ÏB :
حرف جر
y7Ï?öq|¹ : اسم مجرور وعلامة جره الكسرة الظاهرة
و"الكاف" ضمير متصل مبني على الفتح فى محل جر مضاف اليه
¨bÎ) :
حرف توكيد و نصب
ts3Rr& :
اسم "إنّ" منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة
ÏNºuqô¹F{$# : مضاف اليه مجرور وعلامة جره الكسرة الظاهرة
ßNöq|Ás9 : "اللام" المزحلقة للتوكيد
و"صوة" خبر "إنّ" مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة
ÎÏJptø:$# :
مضاف اليه مجرور وعلامة جره الكسرة الظاهرة
Q.S. Al-Jumuah Ayat 2:
هُوَالَّذِيْ بَعَثَ
فِى الاُمِّيّنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ آيتِهِ وَيُزَكِّيْهِمْ
وَ يُعَلِّمُهُمُ الْكِتبَ وَالْحِكْمَةَ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ
ضَللٍ مُّبِيْنٍ
“Dialah
yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka
sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka
dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya,
mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (QS Al-Jumu’ah ayat 2)
Tafsir
Mufrodat
Menurut
Tafsir Jalalain
هُوَالَّذِيْ بَعَثَ
فِى الاُمِّيّنَ: العرب, والأُمِّيُّ: من لا يكتب ولا يقرأ كتابا:
(Dialah
Yang mengutus kepada kaum yang buta huruf) yaitu bangsa Arab; lafaz ummiy artinya orang
yang tidak dapat menulis dan membaca kitab.
رَسُوْلًا مِّنْهُمْ:
هو محمد صل الله عليه وسلم:
(seorang
rasul diantara mereka) yaitu Nabi Muhammad SAW.
يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ
آيتِهِ : القرآن:
(yang
membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya) yakni Al-Qur’an.
وَيُزَكِّيْهِمْ:
يطهّرهم من الشرك:
(menyucikan
mereka) membersihkan mereka dari kemusyrikan.
وَ يُعَلِّمُهُمُ
الْكِتبَ: القـرآن:
(dan mengajarkan kepada mereka Kitab) Al-Qur’an.
وَالْحِكْمَةَ: ما فيه من الأحكام:
(dan
hikmah) yaitu hukum-hukum yang terkandung di dalamnya, atau hadits
وَاِنْ: مخففة من
الثقيلة واسـمها محذوف, أي وإنـهم:
(Dan
sesungguhnya) lafaz in disini adalah bentuk takhfif dari
inna, sedangkan isimnya tidak disebutkan selengkapnya, dan sesungguhnya.
كَانُوْا مِنْ
قَبْلُ: قبل مجيئة:
(mereka
adalah sebelumnya) sebelum kedatangan Nabi Muhammad SAW.
لَفِيْ ضَللٍ
مُّبِيْنٍ: بيّن:
(benar-benar
dalam kesesatan yang nyata) artinya jelas sesatnya.
Menurut
Al-Maraghi
Al-Ummiyyiin:
Orang-orang Arab, mufradnya adalah ummiy. Ia dinisbatkan kepada Al-Umm
(ibu) yang melahirkannya, sebab ia dalam keadaan yang padanya ia dilahirkan
ibunya, tanpa mengenal baca tulis dan perhitungan. Degan demikian, maka dia
berada dalam keadaan pertamanya.
Yuzakkiihim: Mensucikan
mereka dengan bacaan ayat-ayat-Nya.
Makna
Ijmali
Menurut
Tafsir Al-Azhar
“Dialah yang telah membangkitkan
di dalam kalangan orang-orang yang ummi.” Membangkitkan sama juga artinya
dengan menimbulkan. Orang yang ummi artinya yang pokok ialah orang yang tidak
pandai menulis dan tidak pandai membaca. Arti yang lebih mendalam lagi ialah
bangsa Arab, atau Bani ismail yang sebelum Nabi Muhammad diutus Tuhan, bangsa
Arab itu belum pernah didatangi oleh seorang Rasul yang membawa suatu Kitab
Suci. Sebagai timbalan dari orang yang ummi itu ialah ahlul-kitab, atau disebut
juga uutul-kitab. Yang pertama berarti ahli dari hal kitab-kitab, yang kedua
berarti orang-orang yang diberi Kitab.
Didalam ayat 2 dari Surat 32,
as-Sajdah ayat 3, bahwa Nabi itu diutus oleh Allah dengan kebenaran kepada kaum
yang sebelumnya belum pernah didatangi oleh pengancam. Tegasnya sesudah Ismail
meninggal, putus nubuwwat, tidak ada datang lagi kepada kaum itu sampai lebih
daripada 20 turunan, barulah dibangkitkan; “Seorang Rasul dari kalangan
mereka sendiri.” Yaitu bahwa Rasul itu bukan datang dari tempat lain,
melainkan timbul atau bangkit dalam kalangan kaum yang ummi itu sendiri. Dan
Rasul itu sendiri pun seorang yang ummi pula. Tidak pernah dia belajar menulis
dan membaca sejak kecilnya sampai wahyu itu turun. Maka adalah dia Rasul yang
ummi dari kalangan kaum yang ummi.
Mereka adalah ummi, bukan kaum
terpelajar dan bukan kaum yang mempunyai sejarah peradaban yang tinggi
sebagaimana yang dibanggakan oleh orang Yunani dan Romawi, orang Parsi (Iran)
dan India. Kalau mereka mempunyai sejarah, namun hanya satu saja. Yaitu bahwa
di negeri mereka yang tandus, lembah yang tidak ada tumbuh-tumbuhan itu dahulu
kala pernah nenek moyang mereka Nabi Ibrahim dan putera beliau Ismail
diperintahkan Allah mendirikan Ka’bah tempat menyembah Tuhan Yang Esa. Sesudah
itu tidak ada berita lagi. Gelap karena hakikat ajaran Tauhid telah diselubungi
oleh berbagai khurafat dan penyembahan berhala. Buta huruf betul-betul menurut
arti yang sebenarnya. Dalam 100 orang belum tentu seorang yang pandai menulis
atau membaca. Cuma satu kelebihan mereka, yaitu karena menulis dan membaca
tidak pandai, ingatan mereka kuat.
Orang-orang yahudi yang banyak
berdiam di Yastrib yang kemudian bernama Madinah menyebut juga bahwa
orang-orang Arab itu memang ummi, yang kadang-kadang diluaskan juga artinya,
yaitu orang-orang yang tidak terpelajar. Dan orang-orang Arab itu tidaklah
merasa hina karena sebutan itu. Bahkan kalau ada hal-hal yang sukar mereka
tanyakan kepada orang-orang Yahudi itu. Malahan di Madinah sendiri, sebelum
Nabi Muhammad hijrah ke sana, orang Arab Madinah banyak yang suka menyerahkan
puteranya pergi belajar kepada orang Yahudi, sehingga anak-anak itu ada yang
masuk Yahudi.
Dalam kalangan mereka itulah nabi
Muhammad SAW dibangkitkan, dalam keadaan ummi pula. “Yang membacakan kepada
mereka akan ayat-ayat-Nya.” Artinya bahwa diangkatlah Muhammad yang ummi
itu menjadi Rasul Allah, diturunkan kepadanya wahyu Ilahi sebagai ayat-ayat
yang mula turunnya ialah di gua Hira’, dimulai dengan ayat “Iqra’”,
artinya “Bacalah!” Pada ayat pertama dan “allama
bil qalami, allamal insaana maa lam ya’lam.” (Yang
mengajar dengan memakai pena, mengajarkan kepada manusia barang yang tadinya
belum dia ketahui). Maka berturut-turutlah ayat-ayat itu turun selama beliau di
makkah dan berturut-turut lagi setelah pindah ke Madinah. Semuanya itu beliau
bacakan dan beliau ajarkan; “Dan membersihkan mereka.” Yaitu
membersihkan jiwa mereka daripada akidah yang salah, daripada langkah yang
tersesat dan membersihkan pula badan diri mereka, jasmani mereka daripada
kotoran. Karena selama ini belum tahu apa arti kebersihan, sehingga diajar
berwudhu’, diajar mandi junub dan menghilangkan hadas dan najis, bahkan sampai
diajar menggosok gigi. “Dan mengajarkan kepada mereka akan kitab dan hikmah.”
Menuru kata-kata ahli tafsir, kitab
ialah setelah ayat-ayat yang turun itu yang berjumlah 6326 ayat, terkumpul
dalam 114 Surat, tergabung dalam satu mushaf; itulah dia al-Kitab, Hikmah ialah
Sunnah Rasul, yaitu contoh dan teladan yang dilakukan oleh beliau dalam
pelaksanaan al-Kitab.
Setengah ahli tafsir lagi
mengartikan bahwa al-Kitab artinya ialah syariat itu sendiri, yang berisi
perintah dan larangan itu. Misalnya sembahyang adalah satu macam isi al-Kitab;
اِنَّ الصَّلوةَ
تَنْهى عَنِ الْفَحْشآ ءِ وَالْمُنْكَر
“Sesungguhnya sembahyang itu adalah
mencegah dari perbuatan keji dan munkar.” “Sembahyang adalah al-Kitab
(perintah). Hikmah sembahyang ialah; mencegah dari perbuatan keji dan munkar.”
Atau;
كُتِبَ عَلَيْكُمُ
الصِّيَامُ“Diperintahkan kepada kamu berpuasa.”
Hikmahnya
ialah;
لَعَلَّكُمْ
تَتَّقُوْنَ“Supaya kamu bertakwa”
Oleh
sebab itu supaya seseorang dapat menghayati hidup beragama, janganlah hanya
bersitumpu pada syariat dengan tidak mengetahui latar belakang yang disebut
hikmah itu. “Dan meskipun mereka sebelumnya adalah di dalam kesesatan yang
nyata.” (ujung ayat 2).
Ujung ayat menerangkan dengan jelas
sekali perubahan pada diri orang yang ummi itu setelah kedatangan Rasul Allah
yang timbul dalam kalangan dari mereka sendiri. Sebelum Rasul itu dibangkitkan,
terdapat berbagai kesesatan yang nyata. Karena mereka bukan saja ummi yang buta
huruf, bahkan lebih dari itu; ummi buta agama, ummi buta jalan yang benar.
Mereka kuburkan anak perempuan mereka hidup-hidup. Orang yang kaya hidup dengan
menindas memeras orang miskin dengan meminjamkan uang memakai riba. Jalan
menuju Allah dihambat dengan penyembahan kepada berhala. Perang suku perang
kabilah. Ka’bah pusaka Nabi Ibrahim dan Ismail, yang didirikan untuk menyembah
Allah Yang Esa, mereka jadikan tempat yang mengumpulkan 360 berhala. Banyak
lagi bukti-bukti kesesatan yang nyata yang lain-lain, yang semuanya itu dapat
berubah dalam masa 23 tahun sejak Nabi SAW yang ummi dibangkitkan Tuhan dalam
kalangan masyarakat yang ummi itu.
Syaikh Muhammad Jamaluddin al-Qasimi
menulis dalam tafsirnya “Mahaasinut-Ta’wil” tentang hikmat bahwa Nabi
SAW diutus dan dibangkitkan Tuhan dalam kalangan masyarakat orang-orang yang
ummi demikian.
“Makanya diutamakan membangkitkan
Nabi Muhammad SAW itu dalam kalangan orang-orang yang ummi, ialah karena mereka
masih mempunyai otak yang tajam, paling kuat hatinya, paling bersih fithrahnya
dan paling fasih lidahnya. Kemurnian batinnya (fithrahnya) belum dirusakkan
oleh gelombang modernisasi, dan tidak pula oleh permainan golongan-golongan
yang mengaku diri telah maju. Oleh sebab mereka itu masih polos, maka setelah
jiwa mereka itu diisi dengan islam mereka telah bangkit di kalangan manusia
dengan ilmu yang besar dan dengan hikmah yang mengagumkan dan dengan siasat
yang adil. Dengan ajaran itu mereka memimpin bangsa-bangsa, dengan ajaran itu
mereka menggoncangkan singgasana raja-raja yang besar-besar. Dan dengan jelasnya bekas ajaran itu pada sisi
mereka, bukanlah berarti bahwa Risalah kedatangan Muhammad ini hanya khusus
untuk mereka.” Sekian al-Qasimi.
Demikian pula Nabi Muhammad SAW
sendiri, seorang yang ummi bangkit dalam kalangan bangsa yang ummi. Itu pun
suatu mu’jizat yang besar. Beratus ribu, berjuta orang keluaran sekolah tinggi,
orang belajar filsafat yang dalam-dalam, namun mereka tidaklah sanggup membawa
perubahan ke dalam alam sehebat yang dibawa oleh “orang ummi” ini.
Menurut
tafsir Al-Maraghi
Hikmah
diutusnya Rasul Bangsa Arab kepada Bangsa Arab
Kemudian, Allah mensifati Rasulullah SAW
dengan sifat-sifat pujian dan kesempurnaan. Firman-Nya:
هُوَالَّذِيْ بَعَثَ
فِى الاُمِّيّنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ آيتِهِ وَيُزَكِّيْهِمْ
وَ يُعَلِّمُهُمُ الْكِتبَ وَالْحِكْمَةَ
Dialah yang mengutus Rasul-Nya SAW
kepada bangsa yang ummiy yang tidak membaca dan tidak pula menulis,
yaitu orang-orang Arab.
Telah dikeluarkan oleh Al-Bukhari,
Muslim, Abu Daud dan An-Nasa’I, dari Ibnu Umar, dari Nabi SAW, beliau
mengatakan, “Kami adalah ummiy. Kami tidak menulis dan tidak pula menghitung”
Rasul ini termasuk mereka, yaitu
seperti mereka. Namun demikian, ia membacakan kepada mereka ayat-ayat al-Kitab
untuk menjadikan mereka suci dari kotoran-kotoran akidah dan amal perbuatan,
dan untuk mengajari mereka syari’at dan urusan-urusan intelektual yang
menyempurnakan jiwa dan mendidiknya. Dan inilah yang diisyaratkan oleh
Al-Bushairi dalam ucapannya:
Cukuplah bagimu mukjizat, dengan
adanya ilmu bagi seorang ummiy, dan pendidikan anak yatim di masa
jahiliyah.
Disebutkannya orang-orang ummiy
secara khusus tidak menunjukkan bahwa dia tidak diutus kepada orang-orang yang
tidak ummiy; sebab keumuman diutusnya terdapat dalam ayat-ayat lain,
seperti firman-Nya:
“Dan
tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta
alam.” (Al-Anbiya’ ayat 107
“Katakanlah,
Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua”
(Al-A’raf ayat 158)
Diantara hikmah Allah Ta’ala, bahwa
Dia mengutus Rasul seperti mereka, ialah agar mereka memahami apa yang dibawa
Rasul itu, dan mengetahui sifat-sifat dan akhlaknya, supaya mudah bagi mereka
menerima dakwahnya.
Ringkasannya: Dia menyebutkan tujuan
dari diutusnya Rasul ini, yang secara global ada hal:
1.
Untuk membacakan kepada mereka ayat-ayat al-Qur’an
yang di dalamnya terdapat petunjuk dan bimbingan mereka menuju kebaikan dua
kampung, sedang dia pun seorang ummiy yang tidak dapat membaca menulis, agar
kenabiannya tidak diragukan dengan kata-kata mereka, bahwa dia telah
mengambilnya dari kitab-kitab orang-orang terdahulu, sebagaimana diisyaratkan
oleh firman-Nya:
وَمَا كُنْتَ تَتلُوا
مِنْ قَبْلِهِ مِنْ كِتبٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِيْنِكَ اِذًا لًّارْتَابَ
الْمُبْطِلُوْنَ
“Dan
kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al-Qur’an) suatu kitab pun dan kamu tidak
pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu. Andaikata (kamu pernah
membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang-orang yang mengingkari (mu).”
(Al-‘Ankabut ayat 48)
2.
Untuk mensucikan mereka dari kotoran-kotoran
kemusyrikan dan akhlak-akhlak jahiliyah, menjadikan mereka kembali dan takut
kepada Allah dalam perbuatan dan ucapan, serta tidak tunduk kepada kekuasaan
makhluk selain Allah, baik itu Malaikat, manusia ataupun batu.
3.
Untuk mengajari mereka syari’at, hukum dan
hikmah serta rahasianya. Sehingga, mereka tidak menerima sesuatu pun
daripadanya kecuali mereka mengetahui tujuan dan maksud yang karenanya hal itu
dilakukan. Dengan demikian, maka mereka akan menerima daripadanya dengan rindu
dan puas.
Itu
sebabnya orang-orang Arab dahulu berada dalam agama Ibrahim. Kemudia mereka
mengganti, mengubah dan menggeser tauhid untuk menjadi musyrik, dan yakin
menjadi ragu-ragu. Mereka telah mengada-adakan hal-hal yang tidak diizinkan
Allah, sehingga akan bijaksanalah jika Allah SWT mengutus Muhammad SAW dengan
membawa syari’at yang besar di dalamnya terdapat petunjuk bagi manusia,
penjelasan mengenai urusan-urusan dunia dan akhirat yang mereka butuhkan,
seruan yang membawa keridhaan Allah dan kenikmatan dalam surga-surga-Nya yang
penuh nikmat, dan larangan yang menyebabkan kemurkaan-Nya dan mendekatkan
kepada neraka.
Menurut
Tafsir Al-Mishbah
Salah satu pertanda sifat-sifat-Nya
yang disebut di atas adalah apa yang diuraikan oleh ayat di atas. Thabathabha’I
menulis bahwa ayat yang lalu adalah pengantar sekaligus menjadi bukti yang
menunjukkan kebenaran uraian ayat di atas. Allah yang disucikan oleh semua yang
wujud di langit dan di bumi. Ini karena semua makhluk memiliki kekurangan dan
kebutuhan, dan itu tidak dapat dipenuhi untuk mereka kecuali Allah SWT.
Sehingga Allah yang tidak butuh sesuatu dan memenuhi kebutuhan siapa pun adalah
Dia Yang berhak disucikan dari segala kekurangan dan kebutuhan. Selanjutnya
karena hanya Dia yang memenuhi kebutuhan semua makhluk maka hanya Dia pula yang
berwewenang menetapkan dan mengatur dan mengendalikan segala sesuatu, dengan
kata lain hanya Dia al-Malik/ Maha Raja. Salah satu bentuk
pengaturan-Nya adalah menetapkan agama. Ketetapan itu, bukan karena Dia
sempurnakan. Sama sekali tidak, karena Dia Qudduus/ Maha Suci dari
segala kekurangan dan kebutuhan. Selanjutnya Qudduus itu, bila telah
menyampaikan tuntutan-Nya melalui Rasul, lalu tidak dipenuhi oleh makhluk yang
diajak, maka itu sama sekali tidak mengurangi kekuasaan-Nya karena Dia adalah al-‘Aziiz/
Yang Maha Perkasa. Kalau Dia berkehendak untuk memaksakan kehendak-Nya maka
dengan mudah dapat terlaksana. Di sisi lain, apa yang ditetapkan-Nya dari
ajaran agama, tidak mungkin akan sia-sia, karena Dia adalah Hakiim/ Maha
Bijaksana meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Dia tidak melakukan
sesuatu kecuali untuk manfaat makhluk. Demikian lebih kurang tulis
Thabathaba’i.
Allah berfirman: Dialah sendiri
tanpa campur tangan siapa pun yang telah mengutus pada masyarakat al-Ummiyyiin
yakni orang-orang Arab seorang Rasul yakni Nabi Muhammad SAW yang dari
kalangan mereka yang ummiyyiin yakni yang tidak pandai membaca dan
menulis itu dan dengan demikian mereka sangat mengenalnya. Rasul itu membacakan
kepada mereka ayat-ayat-Nya, padahal dia adalah seorang ummiy. Bukan hanya
itu, dan Rasul yang ummiy itu juga menyucikan mereka dari keburukan
pikiran, hati, dan tingkah laku serta mengajarkan yakni menjelaskan
dengan ucapan dan perbuatannya kepada mereka kitab al-Qur’an dan
hikmah yakni pemahaman agama, atau ilmu amaliah dan amal ilmiah padahal
sesungguhnya mereka yang dibacakan diajar dan disucikan itu sebelumnya
yakni sebelum kedatangan Rasul itu dan setelah mereka menyimpang dari ajaran
Nabi Ibrahim benar-benar dalam kesesatan yang nyata. Sungguh besar bukti
kerasulan Nabi muhammad SAW yang dipaparkan ayat di atas dan sungguh besar
nikmat yang dilimpahkan-Nya kepada masyarakat itu.
Kata (في)
pada fii/ pada oleh ayat di atas berfungsi menjelaskan keadaan Rasul SAW
di tengah mereka, yakni bahwa beliau senantiasa berada bersama mereka, tidak
pernah meninggalkan mereka, bukan juga pendatang di antara mereka. Demikian Ibn
‘Asyur.
Kata (الأمّيّين)
al-ummiyyiin adalah bentuk jamak dari kata (أمّي)
ummiy dan terambil dari kata (أمّ)
umm/ ibu dalam arti seorang yang tidak pandai membaca dan menulis.
Seakan-akan keadaannya dari segi pengetahuan atau pengetahuan membaca dan
menulis sama dengan keadaan ibunya yang tak pandai membaca. Ini karena masyarakat
Arab pada masa jahiliyah umumnya tidak pandai membaca dan menulis, lebih-lebih
kaum wanitanya. Ada juga yang berpendapat bahwa kata ummiy terambil dari
kata (أمّة) ummah/ umat yang menunjuk kepada
masyarakat ketika turunnya al-Qur’an, yang oleh Rasul SAW dilukiskan dengan
sabda beliau: “Sesungguhnya kita adalah umat yang Ummiy, tidak pandai
membaca dan berhitung.” Betapapun, yang dimaksud dengan al-Ummiyyiin
adalah masyarakat Arab.
Imam Fakhruddin ar-Razi dalam
tafsirnya menulis tentang ayat di atas lebih kurang sebagai berikut:
“kesempurnaan manusia diperoleh dengan mengetahui kebenaran serta kebajikan dan
mengamalkan kebenaran dan kebajikan itu . dengan kata lain, manusia memiliki
potensi untuk mengetahui secara teoritis dan mengamalkan secara praktis. Allah
SWT menurunkan kitab suci dan mengutus Nabi Muhammad SAW untuk mengantar
manusia meraih kedua hal tersebut. Dari sini kalimat membacakan ayat-ayat
Allah berarti Nabi Muhammad SAW “menyampaikan apa yang beliau terima dari
Allah untuk umat manusia”, sedang menyucikan mereka mengandung makna
“penyempurnaan potensi teoritis dengan memperoleh pengetahuan Ilahiah” dan mengajarkan
al-Kitab merupakan isyarat tentang pengajaran “pengetahuan lahiriah dari
syari’at” Adapun al-Hikmah adalah “pengetahuan tentang keindahan,
rahasia, motif serta manfaat-manfaat syariat”. Demikian ar-Razi yang dikenal
dengan gelar al-Imam.
Adapun al-Hikmah, maka
maknanya menurut Abduh adalah “rahasia persoalan-persoalan (agama), pengetahuan
hukum, penjelasan tentang kemaslahatan serta cara pengamalan dst”
Imam Syafi’I memahami arti al-Hikmah
dengan “as-Sunnah”, karena tidak ada selain al-Qur’an yang diajarkan Nabi
Muhammad SAW kecuali as-Sunnah.
Kata (منهم)
minhum/ dari mereka berfungsi sama dengan kata (اِن) in dalam firman-Nya: ( (وَاِنْ كَانُوْwa in kaanuu berfungsi
sama dengan kata (اِنّ) inna/
sesungguhnya. Indikator adalah huruf (ل)
lam pada kalimat لَفِيْ ضَللٍ مُّبِيْن))
la fii dhalaal mubiin. Penggalan ayat di atas bermaksud menggambarkan
bahwa apa yang dilakukan Rasul SAW itu sungguh merupakan nikmat yang besar buat
masyarakat Arab yang beliau jumpai. Beliau bukannya mengajar orang-orang yang
memiliki pengetahuan atau menambah kesucian orang yang telah hampir suci,
tetapi mereka adalah orang-orang yang sangat sesat. Kita dapat membayangkan
kesesatan dan kebodohan mereka antara lain jika memperhatikan berhala-berhala
yang mereka sembah. Berhala-berhala itu sama sekali tidak memiliki nilai seni
dan keindahan, tetapi adalah batu-batu biasa. Sering kali dalam perjalanan, mereka
memilih empat buah batu. Yang terbaik mereka sembah, dan sisanya mereka jadikan
tumpu buat priuk masak mereka. Bahkan ada yang membuat berhala dari buah-buah
kurma, lalu menyembahnya, dan ketika lapar kurma-kurma itu mereka makan.
Demikian sedikit dari kesesatan mereka.
Nilai
Tarbawi:
Tugas
utama Rasulullah yaitu menyampaikan/ membacakan petunjuk-petunjuk Alquran, menyucikan (hati), dan mengajarkan manusia. Ketiga tugas tersebut
dapat diidentikkan dengan pendidikan dan pengajaran.
1)
Menyucikan sangat mirip dengan mendidik.
2)
Mengajarkan dan menyampaikan materi yang
berupa petunjuk Alquran tidak lain adalah membekali peserta didik dengan
berbagai ilmu pengetahuan, baik yang terkait dengan alam nyata maupun
metafisika.
3)
Bahwasanya nilai-nilai pendidikan yang
mempunyai komponen terutama pendidikan diajarkan dalam Islam dimulai sejak
mengenal huruf sampai mengajarkannya kembali kepada peserta didiknya, sehingga
nilai-nilai pendidikan Islam tersebut memberikan kepada setiap orang anak yang
belum tahu menjadi tahu.
4)
Dalam setiap metode pengajaran dalam proses
pendidikan ada yang disebut guru dan murid. Murid adalah Objek, sementara guru
adalah subyek, dimana guru menuangkan segala kemampuannya untuk mengembangkan
pengetahuan murid. Guru mempunyai peranan yang sangat penting dalam pendidikan
diantaranya, guru sebagai ahli dimana guru mengetahui lebih banyak mengenai
berbagai hal dari pada siswanya, guru sebagai pengawas, guru sebagai penghubung
kemasyarakatan, guru sebagai pendorong atau fasilitator.
5)
Tugas dan peranan guru dalam proses pendidikan
juga sebagai pendidik profesional yang sesungguhnya sangat kompleks, tidak
terbatas pada saat berlangsungnya interaksi edukatif di dalam kelas, yang lazim
disebut proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar merupakan inti dari
kegiatan pendidikan di sekolah, agar tujuan pendidikan dan pengajaran berjalan
dengan benar, maka perlu adanya pengembangan dalam kegiatan belajar mengajar
terutama dibidang kurikulum.
6)
Dalam Islam tugas seorang guru merupakan tugas
yang sangat mulia karena guru dipandang sebagai seorang yang memiliki ilmu
pengetahuan yang lebih tinggi.
ô
Ï%©!$#
y]yèt/
Îû
z`¿ÍhÏiBW{$#
Zwqßu
öNåk÷]ÏiB
(#qè=÷Ft
öNÍkön=tã
¾ÏmÏG»t#uä
öNÍkÏj.tãur
ãNßgßJÏk=yèãur
|=»tGÅ3ø9$#
spyJõ3Ïtø:$#ur
bÎ)ur
(#qçR%x.
`ÏB
ã@ö6s%
Å"s9
9@»n=|Ê
&ûüÎ7B
ÇËÈ
qèd: ضميرمنفصل مبني على الفتح فى محل رفع
مبتداء, Ï%©!$#: أسم موصول مبني على السكون فى محل رفع المبتداء, ]yèt/: فعل ماض مبني على الفتح والفاعل ضمير
مستتر تقديره "هو" والجملة صلة الموصلة لامحل لها من الإعراب, Îû: حرف جار, `¿ÍhÏiBW{$# :أسم مجرور وعلامة
جره الياء لأنه جمع مذكر السالم, wqßu : مفعول به
منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة, Nåk÷]ÏiB:جارومجرور, #qè=÷Ft: فعل مضارع مرفوع وعلامة رفعه الضمة المقدرة والفاعل ضمير
مستتر تقديره "هو" والجملة فى محل نصب نعت ل"رسولا"
NÍkön=tã: جار و مجرور, ¾ÏmÏG»t#uä: مفعول به
منصوب وعلامة نصبه الكسرة لأنه جمع مؤنث السالم "والهاء" ضميرمنفصل
مبني على الكسرة فى محل جر مضاف اليه,
و : حرف العطف
يزكيهم :
و :
يعلمهم :
الكتاب :
و :
الحكمة :
Q.S. An-Nisa Ayat 59:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ
وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي
شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ
بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul
(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat
tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul
(sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang
demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
Tafsir Mufrodat:
Menurut Jalalain (tt)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ
وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ artinya
para penguasa
مِنْكُمْ
yakni jika mereka menyuruhmu agar menaati
Allah dan Rasul-Nya :
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ atau bertikai paham
:
فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ maksudnya kepada kitab-Nya
:
sunah-sunahnya;
artinya selidikilah hal itu pada keduanya :وَالرَّسُولِ
إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ
الآخِرِ ذَلِكَartinya mengembalikan pada keduanya :
خَيْرٌ bagi kamu daripada bertikai paham dan
mengandalkan pendapat manusia :
وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا:
Ayat
berikut ini turun tatkala terjadi sengketa di antara seorang Yahudi dengan
seorang munafik. Orang munafik ini meminta kepada Kaab bin Asyraf agar menjadi
hakim di antara mereka sedangkan Yahudi meminta kepada Nabi saw. lalu kedua
orang yang bersengketa itu pun datang kepada Nabi saw. yang memberikan
kemenangan kepada orang Yahudi. Orang munafik itu tidak
rela menerimanya lalu mereka mendatangi Umar dan si Yahudi pun menceritakan
persoalannya. Kata Umar kepada si munafik, "Benarkah demikian?"
"Benar," jawabnya. Maka orang itu pun dibunuh oleh Umar
Makna Ijmali:
Menurut tafsir at-Thabari, menyebutkan bahwa para ahli ta'wil
berbeda pandangan mengenai arti ulil amri. Satu kelompok ulama menyebutkan
bahwa yang dimaksud dengan ulil amri adalah umara. Berkata sebagian ulama lain,
masih dalam kitab tafsir yang sama, bahwa ulil amri itu adalah ahlul ilmi wal
fiqh (mereka yang memiliki ilmu dan pengetahuan akan fiqh). Sebagian ulama yang
lain berpendapat bahwa sahabat-sahabat Rasulullah-lah yang dimaksud dengan ulil
amri. Sebagian lainnya berpendapat ulil amri itu adalah Abu Bakar dan Umar.
Menurut Ibnu Katsir (2008: 5)
Ibnu Abbas mengatakan
bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abdullah ibnu Huzafah ibnu Qais ibnu
Addi ketika ia diutus oleh Rasulullah Saw untuk memimpin suatu pasukan khusus.
Hal yang sama diriwayatkan oleh jamaah lainnya, kecuali Imam Ibnu Majah,
melalui hadis Hajaj ibnu Muhammad Al-A'war Imam Turmuzi mengatakan hadits ini hasan
garib, kami tidak mengenalnya kecuali melalui hadis Ibnu Juraij. Imam Ahmad
mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah, dari Al-A'masy, dari
Sa'd ibnu Ubaidah, dari Abu Abdur Rahman As-Sulami, dari Ali yang menceritakan
bahwa Rasulullah Saw. mengirimkan suatu pasukan khusus, dan mengangkat menjadi
panglimanya seorang lelaki dari kalangan Ansar. Manakala mereka berangkat, maka
si lelaki Ansar tersebut menjumpai sesuatu pada diri mereka. Maka ia berkata
kepada mereka, "Bukankah Rasulullah Saw. telah memerintahkan kepada kalian
untuk taat kepadaku?" Mereka menjawab, "Memang benar." Lelaki
Ansar itu berkata, "Kumpulkanlah kayu bakar buatku." Setelah itu si
lelaki Ansar tersebut meminta api, lalu kayu itu dibakar. Selanjutnya
lelaki Ansar berkata, "Aku bermaksud agar kalian benar-benar memasuki api
itu." Lalu ada seorang pemuda dari kalangan mereka berkata,
"Sesungguhnya jalan keluar bagi kalian dari api ini hanyalah kepada
Rasulullah. Karena itu, kalian jangan tergesa-gesa sebelum menemui Rasulullah.
Jika Rasulullah Saw memerintahkan kepada kalian agar memasuki api itu, maka
masukilah." Kemudian mereka kembali menghadap Rasulullah Saw. Dan
menceritakan hal itu kepadanya. Maka Rasulullah Saw bersabda kepada mereka:
Seandainya kalian masuk ke dalam api itu,
niscaya kalian tidak akan keluar untuk selama-lamanya. Sebenarnya ketaatan itu
hanya dalam kebaikan. Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan di
dalam kitab Sahihain melalui hadis Al-A'masy dengan lafaz yang sama Imam
Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah
menceritakan kepada kami Yahya, dari Ubaidillah, telah menceritakan
kepada kami Nafi', dari Abdullah ibnu Umar, dari Rasulullah Saw yang
telah bersabda:
Tunduk dan patuh diperbolehkan bagi seorang
muslim dalam semua hal yang disukainya dan yang dibencinya, selagi ia tidak
diperintahkan untuk maksiat. Apabila diperintahkan untuk maksiat, maka tidak
boleh tunduk dan tidak boleh patuh.
Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkannya
melalui hadis Yahya AI-Qattan. Dari Ubadah ibnus Samit, "Kami bersumpah
setia kepada Rasulullah Saw untuk tunduk patuh dalam semua keadaan, baik dalam
keadaan semangat ataupun dalam keadaan malas, dalam keadaan sulit ataupun dalam
keadaan mudah, dengan mengesampingkan kepentingan pribadi, dan kami tidak akan
merebut urusan dari yang berhak menerimanya." Rasulullah Saw bersabda:
Terkecuali jika kalian melihat kekufuran
secara terang-terangan di kalangan kalian, dan ada bukti dari Allah
mengenainya.(HR Bukhari dan Muslim)
Di dalam hadis yang lain, dari Anas,
disebutkan bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda:
Tunduk dan patuhlah kalian, sekalipun yang
memimpin kalian adalah seorang budak Habsyah yang kepalanya seperti zabibah (anggur
kering). (HR Bukhari)
Dari Abu Hurairah r.a. disebutkan:
Kekasihku (Nabi Saw) telah mewasiatkan kepadaku agar
aku tunduk dan patuh (kepada pemimpin), sekalipun dia (si pemimpin)
adalah budak Habsyah yang cacat anggota tubuhnya (tuna daksa). (HR
Imam Muslim)
Dari Ummul Husain. disebutkan bahwa ia pernah
mendengar Rasulullah Saw mengatakan dalam khotbah haji wada'-nya:
Seandainya seorang budak memimpin kalian
dengan memakai pedoman Kitabullah, maka tunduk dan patuhlah kalian kepadanya. (HR
Imam Muslim)
Menurut lafaz lain yang juga dari Imam Muslim
disebutkan:
Budak Habsyah yang tuna daksa (cacat
anggota tubuhnya), Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ali ibnu
Muslim At-Tusi, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Fudaik, telah
menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Muhammad ibnu Urwah, dari Hisyam ibnu
Urwah, dari Abu Saleh As-Sjrnman, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Saw telah
bersabda: Kelak sesudahku kalian akan diperintah oleh para pemimpin, maka
ada pemimpin yang bertakwa yang memimpin kalian dengan ketakwaannya, dan
ada pemimpin durhaka yang memimpin kalian dengan kedurhakaannya. Maka
tunduk dan patuhlah kalian kepada mereka dalam semua perkara yang sesuai
dengan kebenaran, dan bantulah mereka. Jika mereka berbuat baik, maka
kebaikannya bagi kalian dan mereka. Dan jika mereka berbuat buruk, maka baik
bagi kalian dan buruk bagi mereka.
Dari Abu Hurairah r.a. Disebutkan bahwa
Rasulullah Saw pernah bersabda:
Dahulu umat Bani Israil diperintah oleh
nabi-nabi. Manakala seorang nabi meninggal dunia, maka digantikan oleh nabi
yang lain. Dan sesungguhnya tidak ada nabi sesudahku, dan kelak akan ada para
khalifah yang banyak.
Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah,
apakah yang engkau perintahkan kepada kami?" Rasulullah Saw menjawab:
Tunaikanlah baiat orang yang paling pertama,
lalu yang sesudahnya; dan berikanlah kepada mereka haknya, karena sesungguhnya
Allah akan meminta pertanggungjawaban dari mereka atas kepemimpinannya. (HR
Bukhari dan Muslim)
Dari Ibnu Abbas r.a. Disebutkan bahwa
Rasulullah Saw telah bersabda:
Barang siapa yang melihat dari pemimpinnya
sesuatu hal yang tidak disukainya, hendaklah ia bersabar. Karena sesungguhnya
tidak sekali-kali seseorang memisahkan diri dari jamaah sejauh sejengkal, lalu
ia mati, melainkan ia mati dalam keadaan mati Jahiliah. (HR
Bukhari dan Muslim)
Dari Ibnu Umar r.a. Disebutkan bahwa ia pernah
mendengar Rasulullah Saw bersabda:
Barang siapa yang mencabut janji setianya,
maka kelak ia akan menghadap kepada Allah tanpa ada yang membelanya. Dan barang
siapa yang meninggal dunia, sedangkan pada pundaknya tidak ada suatu baiat pun,
maka ia mati dalam keadaan mati Jahiliah. (HR Muslim)
Imam Muslim meriwayatkan pula dari Abdur
Rahman ibnu Abdu Rabil Ka'bah yang menceritakan hadis berikut: Ia masuk ke
dalam masjid, dan tiba-tiba ia menjumpai Abdullah ibnu Amr ibnul As sedang
duduk di bawah naungan Ka'bah dan di sekelilingnya terdapat banyak orang yang
berkumpul mendengarkannya. Lalu aku (Abdur Rahman) datang kepada mereka dan
bergabung duduk dengan mereka. Maka Abdullah ibnu Amr ibnul As menceritakan
hadis berikut: Kami (para sahabat) pernah bersama Rasulullah Saw dalam suatu
perjalanan, lalu kami turun istirahat di suatu tempat. Maka di antara kami ada
orang-orang yang mempersiapkan kemahnya, ada pula yang berlatih menggunakan
senjatanya, dan di antara kami ada orang-orang yang sibuk mengurus unta-unta
kendaraannya. Tiba-tiba juru seru Rasulullah Saw menyerukan, "Salat
berjamaah!" Maka kami berkumpul kepada Rasulullah Saw dan beliau Saw
bersabda:
Sesungguhnya tidak ada seorang nabi pun
sebelumku melainkan diwajibkan baginya memberi petunjuk kepada umatnya tentang
kebaikan yang ia ketahui, dan memperingatkan kepada mereka tentang keburukan
yang ia ketahui. Dan sesungguhnya ketenteraman umat ini dijadikan pada
permulaannya (generasi pertamanya), dan kelak malapetaka
akan menimpa akhir dari umat ini, juga akan terjadi banyak perkara yang
kalian ingkari. Fitnah-fitnah datang menimpa mereka secara beriringan.
Suatu fitnah (cobaan) datang, lalu seorang mukmin berkata, "Inilah
kebinasaanku," kemudian fitnah itu lenyap, tetapi disusul lagi oleh
fitnah yang lain. Maka orang mukmin berkata, "Fitnah ini datang
lagi menyusul fitnah lainnya." Maka barang siapa yang ingin
dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, hendaklah ketika
maut datang menjemputnya ia dalam keadaan beriman kepada Allah dan
hari kemudian. Dan hendaklah ia memberikan kepada orang lain hal-hal
yang ia suka bila diberikan kepada dirinya. Barang siapa yang berbaiat (berjanji
setia) kepada seorang imam, lalu si imam memberikan kepadanya apa
yang dijanjikannya dan apa yang didambakan hatinya, maka hendaklah ia taat kepadanya
sebatas kemampuannya. Dan jika datang orang lain yang hendak
menyainginya (merebutnya), maka penggallah leher orang lain itu.
Abdur Rahman ibnu Abdu Rabbil Ka'bah
melanjutkan kisahnya, "Lalu aku mendekat kepadanya (Abdullah ibnu Amr
ibnul As) dan kukatakan kepadanya, 'Aku meminta kepadamu, demi Allah, apakah
engkau telah mendengar hadits ini langsung dari Rasulullah Saw?' Maka Ibnu Amr
mengisyaratkan dengan kedua tangannya ditujukan ke arah kedua telinga dan
hatinya seraya berkata, 'Aku telah mendengarnya dengan kedua telingaku ini,
lalu dihafal baik-baik oleh hatiku'."
Abdur Rahman ibnu Abdu Rabbil Ka'bah berkata
kepadanya, "Ini anak pamanmu (yaitu Mu'awiyah). Dia memerintahkan kepada kita
memakan harta di antara kita dengan cara yang batil, dan sebagian dari kita
membunuh sebagian yang lain, padahal Allah Swt Telah berfirman:
'Hai orang-orang yang beriman, janganlah
kalian memakan harta sesama kalian dengan
jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan
suka sama suka di antara kalian. Dan janganlah kalian membunuh diri kalian,
sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepada kalian' (An-Nisa:
29)."
Abdur Rahman ibnu Abdu Rabbil Ka'bah
melanjutkan kisahnya, bahwa Ibnu Amr diam sesaat tidak menjawab, kemudian
berkata, "Taatilah dia bila memerintahkan taat kepada Allah dan
durhakailah dia bila memerintahkan durhaka kepada Allah."
Hadits-hadits yang menerangkan masalah ini
cukup banyak jumlahnya. Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami
Muhammad ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnul Fadl, telah
menceritakan kepada kami Asbat, dari As-Saddi sehubungan dengan firman-Nya:
Taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya), dan
ulil amri di antara kalian.
Bahwa Rasulullah SAW pernah mengirimkan suatu
pasukan khusus di bawah pimpinan Khalid ibnul Walid, di dalam pasukan itu
terdapat Ammar ibnu Yasir. Mereka berjalan menuju tempat kaum yang dituju oleh
mereka; dan ketika berada di dekat tempat tersebut, mereka turun beristirahat
karena hari telah malam. Kemudian mereka diketahui oleh mata-mata kaum yang
dituju mereka, lalu mata-mata itu memberitahukan kepada kaumnya akan kedatangan
mereka. Maka kaumnya pergi melarikan diri meninggalkan tempat mereka kecuali
seorang lelaki yang memerintahkan kepada keluarganya agar semua barang mereka
dikemasi. Kemudian ia sendiri pergi dengan berjalan kaki di kegelapan malam
hari menuju ke tempat pasukan Khalid ibnul Walid. Setelah ia sampai di tempat
pasukan kaum muslim, maka ia menanyakan tentang Ammar ibnu Yasar, lalu ia
datang kepadanya dan mengatakan, "Hai Abui Yaqzan, sesungguhnya sekarang
aku masuk Islam dan bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan bahwa
Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Sesungguhnya kaumku setelah mendengar
kedatangan kalian; mereka semuanya melarikan diri, tetapi aku tetap tinggal di
tempat. Maka apakah Islamku ini dapat bermanfaat bagiku besok pagi nanti? Jika
tidak, maka aku pun akan ikut lari." Ammar menjawab, "Tidak, bahkan
Islammu dapat bermanfaat untuk dirimu. Sekarang pulanglah, dan tetaplah di
tempat tinggalmu!" Lalu lelaki itu pulang dan menetap di tempatnya. Pada
keesokan harinya Khalid ibnul Walid datang menyerang, dan ternyata ia tidak
menemukan seorang pun dari musuhnya selain lelaki tadi, lalu Khalid menawannya
dan mengambil semua hartanya. Ketika sampai berita itu kepada Ammar, maka Ammar
datang kepada Khalid dan mengatakan kepadanya, "Lepaskanlah lelaki ini,
karena sesungguhnya dia telah masuk Islam, dan sesungguhnya dia telah berada di
bawah perlindunganku." Khalid berkata, "Atas dasar apakah kamu
memberi perlindungan?" Keduanya bertengkar, dan akhirnya keduanya
melaporkan peristiwa itu kepada Rasulullah Saw. Maka Rasulullah Saw
Memperbolehkan tindakan Ammar, tetapi melarangnya mengulangi perbuatannya lagi,
yakni memberikan perlindungan tanpa seizin pemimpin pasukan. Keduanya masih
terus berbalas caci-rnaki di hadapan Rasulullah Saw Maka Khalid berkata,
"Wahai Rasulullah, apakah engkau biarkan saja budak yang hina ini mencaciku?"
Rasulullah Saw menjawab: Hai Khalid, janganlah engkau mencaci Ammar, karena
sesungguhnya barang siapa yang mencaci Ammar, Allah membalas mencacinya;
dan barang siapa yang membenci Ammar, Allah membalas membencinya; dan
barang siapa yang melaknat Ammar, maka Allah membalas melaknatnya.
Ammar masih dalam keadaan emosi. Maka ia
bangkit dan pergi, lalu diikuti oleh Khalid. Kemudian Khalid menarik bajunya
dan meminta maaf kepadanya. Akhirnya Ammar memaafkannya. Maka Allah Swt.
menurunkan firman-Nya:
Taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya), dan
ulil amri di antara kalian Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim
melalui jalur As-Saddi secara mursal. Ibnu Murdawaih meriwayatkannya
melalui Al-Hakam ibnu Zahir, dari As-Saddi, dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas.
Lalu ia mengetengahkan kisah yang semisal.
Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu
Abbas sehubungan dengan makna ulil amri yang terdapat di dalam
firman-Nya: dan ulil amri di antara kalian Bahwa yang dimaksud adalah ahli
fiqih dan ahli agama. Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Ata, Al-Hasan
Al-Basri dan Abui Aliyah, bahwa makna firman-Nya:
dan ulil amri di antara kalian.
adalah para ulama. Tetapi menurut makna lahiriah ayat, hanya Allah yang lebih
mengetahui makna lafaz ini umum mencakup semua ulil amri dari kalangan
pemerintah, juga para ulama. Allah Swt telah berfirman:
Mengapa orang-orang alim mereka,
pendeta-pendeta mereka, tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan
memakan yang haram? (Al-Maidah: 63)
maka tanyakanlah oleh kalian kepada
orang-orang yang berilmu, jika kalian tidak mengetahui. (Al-Anbiya:
7)
Di dalam sebuah hadis sahih yang telah
disepakati kesahihannya dari Abu Hurairah r.a. disebutkan bahwa Rasulullah Saw
pernah bersabda:
Barang siapa yang taat kepadaku, berarti ia
taat kepada Allah; barang siapa yang durhaka kepadaku, berarti ia durhaka
kepada Allah. Dan barang siapa yang taat kepada amirku, berarti ia taat
kepadaku; dan barang siapa yang durhaka terhadap amirku, berarti ia durhaka
kepadaku.
Nas-nas tersebut di atas merupakan dalil-dalil
yang memerintahkan agar taat kepada ulama dan pemerintah. Karena itulah dalam
surat ini disebutkan:
Taatilah Allah. Yakni
ikutilah ajaran Kitab (Al-Qur'an)-Nya. dan taatilah Rasul-(Nya).
Maksudnya, amalkanlah sunnah-sunnah dan
ulil amri di antara kalian.
Yaitu dalam semua perintahnya kepada kalian
menyangkut masalah taat kepada Allah, bukan durhaka kepada Allah; karena
sesungguhnya tidak ada ketaatan kepada makhluk bila menganjurkan untuk berbuat
durhaka terhadap Tuhan Yang Maha Pencipta. Seperti yang disebutkan di dalam
sebuah hadis sahih yang mengatakan:
Sesungguhnya ketaatan itu hanyalah dalam
masalah kebajikan.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan
kepada kami Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Hammam, telah
menceritakan kepada kami Qatadah, dari Ibnu Hurayyis, dari Imran ibnu Husain,
dari Nabi Saw yang telah bersabda:
Tidak ada ketaatan dalam maksiat terhadap
Allah.
Firman Allah Swt:
Kemudian jika kalian berlainan pendapat
tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (AI-Qur'an)
dan Rasul (sunnahnya). (An-Nisa: 59)
Menurut Mujahid dan bukan hanya seorang dari
kalangan ulama Salaf, yang mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah
mengembalikan hal tersebut kepada Kilabullah (Al-Qur'an) dan Sunnah
Rasulullah Saw, Hal ini merupakan perintah Allah Swt yang menyebutkan bahwa
segala sesuatu yang diperselisihkan di antara manusia menyangkut masalah
pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya, hendaknya perselisihan mengenainya itu
dikembalikan kepada penilaian Kilabullah dan Sunnah Rasulullah. Seperti
yang disebut oleh ayat lain, yaitu:
Tentang sesuatu apa pun kalian berselisih,
maka putusannya (terserah) kepada Allah. (Asy-Syura:
10)
Maka apa yang diputuskan oleh Kilabullah dan
Sunnah Rasulullah yang dipersaksikan kesahihannya, maka hal itu adalah perkara
yang hak. Tiadalah sesudah perkara yang hak, melainkan hanya kebatilan belaka.
Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:
jika kalian benar-benar beriman kepada Allah
dan hari kemudian. (An-Nisa: 59)
Kembalikanlah semua perselisihan dan kebodohan
itu kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah, lalu carilah keputusan
masalah yang kalian perselisihkan itu kepada keduanya.
jika kalian benar-benar beriman kepada Allah
dan hari kemudian.(An-Nisa: 59)
Hal ini menunjukkan bahwa barang siapa yang
tidak menyerahkan keputusan hukum kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya
di saat berselisih pendapat, dan tidak mau merujuk kepada keduanya, maka dia
bukan orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian.
Firman Allah Swt:
Yang demikian itu lebih utama (bagi
kalian). (An-Nisa: 59)
Yakni menyerahkan keputusan kepada Kitabullah
dan Sunnah Rasul- Nya, serta merujuk kepada keduanya dalam menyelesaikan
perselisihan pendapat merupakan hal yang lebih utama.
dan lebih baik akibatnya. (An-Nisa:
59)
Yaitu lebih baik akibat dan penyelesaiannya,
menurut pendapat As- Saddi dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang. Sedangkan
menurut Mujahid, makna yang dimaksud ialah lebih baik penyelesaiannya; apa yang
dikatakan Mujahid ini lebih dekat kepada kebenaran.
Nilai Tarbawi:
1. Sebagai
seorang hamba harus taat terhadap pemimpinnya sekalipun seorang budak atau tuna
daksa karena akan dipertanggungjawabkan atas kepemimpinannya
2. Seorang
pemimpin mesti menyeru kepada hal – hal kebajikan dan mencegah dalam hal
kebatilan
3. Seorang
hamba mesti taat kepada pemimpinnya dalam hal kebajikan dan meninggalkan
perintahnya yang batil
4. Apabila
terdapat suatu permasalahan pada seorang pemimpin maka kembalilah merujuk pada kitabullah
dan sunnah rasulullah
$pkr'¯»t: "يا" حرف نداء "أيّ"
منادى مبني على الضم فى محل نصب و"ها" حرف تنبيه,
ûïÏ%©!$#: اسم موصول مبني
على الفتح فى محل نصب نعت, #þqãYtB#uä : فعل ماض مبني على الضم لاتصاله بواوالجماعة و "الواو"ضمير متصل مبني على السكون
فى محل رفع فاعل, والجملة صلة موصول لامحل
لها من الإعراب. #qãèÏÛr&u: فعل أمر مبني على
حذف النون, و "واوالجماعة" ضمير متصل مبني على السكون فى محل رفع فاعل, !$#: أسم الجلالة مفعول به
منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة, (#qãèÏÛr&ur: "الواو" حرف عطف "#qãèÏÛr&" فعل أمر مبني على حذف
النون, و"واوالجماعة" ضمير متصل مبني على السكون فى محل رفع فاعل, Aqß§9$#: مفعول به منصوب وعلامة
نصبه الفتحة الظاهرة, Í<'ré&ur: "الواو" حرف عطف "Í<'ré&" معطوف منصوب وعلامة نصبه الياء لأنه
ملحق بجمع المذكر السالم وحذفت نونه لإضافته, öDF{$#: مضاف اليه مجروروعلامة جره
الكسرة الظاهرة, Oä3ZÏB: جار ومجرور, bÎ*sù: "الفاء" حرف عطف و "أن"
حرف شرط جازم, Läêôãt»uZs?: فعل ماض الشرط مبني على
السكون فى محل جزم و "تم" ضمير متصل مبني على السكون فى محل رفع
فاعل, Îû
&äóÓx«: "Îû" حرف جار äóÓx«: أسم مجرور وعلامة جره
الكسرة الظاهرة, LäêYä.: "الفاء"
رابطه لجواب الشرط "nrã" فعل أمر مبني على حذف
النون, و "واوالجماعة" ضمير متصل مبني على السكون فى محل رفع فاعل, و "الهاء"
ضمير متصل مبني على الضم فى محل نصب مفعول به, والجملة فى محل جزم جواب الشرط, n<Î): حرف جار, !$#: أسم الجلالةأسم
مجروروعلامةجره الكسرة الظاهرة, Aqß§9$#ur: "الواو"
حرف عطف "Aqß§9$#u" معطوف مجروروعلامة جره
الكسرة الظاهرة, "أن" حرف شرط جازم, LäêYä.: فعل ماض ناسخ فعل شرط مبني
على السكون فى محل جزم, و"تم" ضمير متصل مبني على السكون فى محل
رفع أسم كان, bqãZÏB÷sè?: فعل مضارع مرفوع وعلامة
رفعه ثبوت النون لإنه من الأفعال الخمسة, و"واوالجماعة" ضمير متصل مبني
على السكون فى محل رفع فاعل, والجملة فى محل نصب خبركان وجواب الشرط محذوف يفسره
ماقبله, !$$Î/:"الباء" حرف
جاروأسم الجلالة أسم مجروروعلامةجره الكسرة الظاهرة, Qöquø9$#ur:"الواو" حرف عطف "Qöquø9$#" معطوف مجروروعلامة جره
الكسرة الظاهرة, ÅzFy$#: نعت مجروروعلامة جره
الكسرة الظاهرة, 7Ï9ºs: أسم أشارة مبني على الفتح
فى محل رفع مبتداء, öyz: خبر المبتداءمرفوع وعلامة
رفعه الضمة الظاهرة, `|¡ômr&ur: "الواو" حرف عطف و"`|¡ômr&" معطوف مرفوع وعلامة
رفعه الضمة الظاهرة, ¸xÍrù's?: تمييز منصوب وعلامة نصبه
الفتحة الظاهرة.
BAB
III
KESIMPULAN
1. Bahwa ketauhidan merupakan materi pendidikan terpenting yang
harus ditanamkan pendidik kepada anak didiknya karena hal tersebut merupakan
sumber petunjuk ilahi yang akan melahirkan rasa aman.
2.
Bahwa salah satu diantara tugas pendidik ialah menyayangi anak
didiknya sebagaimana seorang ayah menyayangi anaknya, bahkan lebih. Dan selalu
menasehati serta mencegah anak didiknya agar terhindar dari akhlak tercela.
3.
Anak didik diajak berdialog
dengan menggunakan potensi pikirnya agar potensi itu dapat berkembang dengan
baik.
4.
Pentingnya menanamkan pada diri anak sifat
untuk terlebih dahulu memperbaiki diri sendiri sebelum memperbaiki orang lain.
Ini ditunjukan dengan dimulai dengan perintah shalat lalu amar ma’ruf nahu munkar.
5.
etika berinteraksi dengan
lingkungan masyarakat yang lebih luas. Sopan dan rendah hati dapat dipandang
sebagai materi yang sangat penting untuk diajarkan sebagai bekal
bersosialisasi.
6.
Materi akhlak pada tingkat dasar, hendaknya
yang mudah, sederhana, dan menyentuh kehidupan sehari-hari
7.
Pengajaran akhlak sangat penting diterapkan
pada pendidikan tingkat dasar
8.
Menyucikan sangat mirip dengan mendidik.
9.
Mengajarkan dan menyampaikan materi yang
berupa petunjuk Alquran tidak lain adalah membekali peserta didik dengan
berbagai ilmu pengetahuan, baik yang terkait dengan alam nyata maupun
metafisika.
10.
Bahwasanya nilai-nilai pendidikan yang
mempunyai komponen terutama pendidikan diajarkan dalam Islam dimulai sejak
mengenal huruf sampai mengajarkannya kembali kepada peserta didiknya, sehingga
nilai-nilai pendidikan Islam tersebut memberikan kepada setiap orang anak yang
belum tahu menjadi tahu.
11.
Dalam setiap metode pengajaran dalam proses
pendidikan ada yang disebut guru dan murid. Murid adalah Objek, sementara guru
adalah subyek, dimana guru menuangkan segala kemampuannya untuk mengembangkan
pengetahuan murid. Guru mempunyai peranan yang sangat penting dalam pendidikan
diantaranya, guru sebagai ahli dimana guru mengetahui lebih banyak mengenai
berbagai hal dari pada siswanya, guru sebagai pengawas, guru sebagai penghubung
kemasyarakatan, guru sebagai pendorong atau fasilitator.
12.
Tugas dan peranan guru dalam proses pendidikan
juga sebagai pendidik profesional yang sesungguhnya sangat kompleks, tidak
terbatas pada saat berlangsungnya interaksi edukatif di dalam kelas, yang lazim
disebut proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar merupakan inti dari
kegiatan pendidikan di sekolah, agar tujuan pendidikan dan pengajaran berjalan
dengan benar, maka perlu adanya pengembangan dalam kegiatan belajar mengajar
terutama dibidang kurikulum.
13.
Dalam Islam tugas seorang guru merupakan tugas
yang sangat mulia karena guru dipandang sebagai seorang yang memiliki ilmu
pengetahuan yang lebih tinggi.
14.
Sebagai seorang hamba harus taat terhadap
pemimpinnya sekalipun seorang budak atau tuna daksa karena akan
dipertanggungjawabkan atas kepemimpinannya
15.
Seorang pemimpin mesti menyeru kepada hal –
hal kebajikan dan mencegah dalam hal kebatilan
16.
Seorang hamba mesti taat kepada pemimpinnya
dalam hal kebajikan dan meninggalkan perintahnya yang batil
17.
Apabila terdapat suatu permasalahan pada
seorang pemimpin maka kembalilah merujuk pada kitabullah dan sunnah rasulullah
DAFTAR
PUSTAKA
Ahmad
Mustafa Al Maraghi. ( 1993). Tafsir Al
Maraghi, Semarang : PT Karya Toha Putra Semarang
Al-Mahili, Imam Jalaluddin. 2006. Tafsir Jalalain. Bandung:
Sinar Baru Al-Gesindo
Al-Maraghi,
Ahmad Mustafa. 1989. Tafsir
Al-Maraghi. Semarang: CV. Toha Putra Semarang
Muhammad
Quraisy Shihab. ( 2004 ). Tafsir Al Mishbah ( Pesan, Kesan dan Keserasian Al
Quran Vol II, Jakarta : Lentera Hati
Hasbi
Ash Shiddiqy, ( 1964 ). Al Quranul Majid Annur 4, Semarang, PT Pustaka Riski
Putra
Dr. Hamka, Tafsir al-Azhar, Juz XXI, (Jakarta : Pustaka
Panji Mas, 1988), Cet. , h. 114
Al Baghdadi Ruh Ma’ani fi Tafsir al-Qur’an al-‘Azim wa
al-sab’u al-Maatsani Juz XI , Juz XXI,
M. Nasib Ar-Rifai, Kemudahan dari Allah ; Ringkasan
Tafsir Ibnu Katsir, (Jakarta : Gema Insani Press, 1999), Cet. 1
Hamka, Prof. Dr. 1985. Tafsir Al-Azhar. Jakarta:
PT Pustaka Panjimas
Shihab,
M. Quraish. 2002. Tafsir Al-mishbah Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Quran.
Jakarta: Lentera Hati
