Tutorial Flash - Membuat Animasi Berputar

19.28


Sebelum ke TKP, perhatikan bahwa komputernya nyala dan macromedia flash 8 udah di install didalamnya,  hhee
Siapkan juga kopi sama cemilannya yah . selamat menyimak :D









1.      Pertama tama Siapkan telebih dahulu objek target yang akan dijadikan animasi berputar, anda bisa menggunakan gambar sebagai objek berputar (ctrl + r), dan pilih gambarnya, pada contoh berikut saya menggunakan objek gambar segitiga. Seperti pada gambar dibawah ini:


2.      Pada langkah ini kita membuat keyframe, dimana makin banyak frame maka berputarannya makin lambat, dan makin sedikit frame perputaran objeknya makin cepat, disini saya akan menambahkannya di frame 60, klik kanan insert keyframe. Seperti pada gambar dibawah ini:





3.      Di frame 1 klik kanan Create Motion Tween. Seperti pada gambar dibawah ini:


4.      Langkah selanjutnya klik di frame 1, sehingga muncul properties di bawah halaman kerja flash 8, Seperti pada gambar dibawah ini:

Auto : tidak ada perubahan
CW: berputar searah jarum jam
CCW: Berputar berlawanan Arah jarum jam

Dengan merubah rotate: yang tadinya auto di rubah menjadi CW (berputar searah dengan jarum jam) dan CCW (berputar berlawanan dengan arah jarum jam). Anda tinggal memilih perputaran yang diinginkan antara berputar searah jarum jam (CW) atau berputar berlawan arah jarum jam (CCW).

5.      Langkah terakhir tinggal di tes movie dengan menekan tombol CTRL + ENTER, apakah animasinya berjalan sempurna atau tidak.
Selamat Mencoba



Download tutorial lengkap DISINI
Contoh Proposal Skripsi

Contoh Proposal Skripsi

07.54
  1. UPAYA MENINGKATAN KETERAMPILAN MENYIMAK DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA GAMBAR BERBASIS FLASH

  1. Latar Belakang Masalah
            Salah satu keterampilan berbahasa adalah menyimak, yaitu suatu kegiatan yang penting dalam pembelajaran bahasa Arab, karena menyimak merupakan syarat yang paling utama dalam meningkatkan daya serap peserta didik terhadap mata pelajaran yang ditekuni, tanpa memiliki kemampuan menyimak yang maksimal maka peserta didik akan mengalami kesulitan dalam belajar.
            Menyimak berbeda dengan mendengar atau mendengarkan, sebagaimana diungkapkan oleh Tarigan (1994:27) bahwa pada kegiatan mendengar mungkin si pendengar tidak memahami apa yang didengar, akan tetapi pada kegiatan mendengarkan sudah ada unsur kesengajaan, tetapi belum diikuti unsur pemahaman karena itu belum menjadi tujuan. Kegiatan menyimak mencakup mendengar, mendengarkan, dan disertai usaha untuk memahami bahan simakan. Oleh karena itu dalam kegiatan menyimak ada unsur kesengajaan, perhatian dan pemahaman, yang merupakan unsur utama dalam setiap peristiwa menyimak. Penilaiannya pun selalu terdapat dalam peristiwa menyimak, bahkan melebihi unsur perhatian.
            Menurut pendapat Rost (1991:10) bahwa faktor-faktor yang penting dalam keterampilan menyimak dalam kelas adalah siswa menuliskan butir-butir penting bahan simakan terutama yang berhubungan dengan bahan simakan.
            Keterampilan menyimak merupakan keterampilan yang melibatkan berbagai proses dalam saat yang sama. Pada saat penyimak mendengarkan bunyi berbahasa, pada saat itu pula mentalnya aktif bekerja mencoba memahami, menafsirkan apa yang disampaikan pembicara, dan pada saat itu pula ia harus memberi respons yang baik.
            Agar proses menyimak berjalan dengan baik maka dalam pembelajaran bahasa Arab dibutuhkan media gambar yang dapat menunjang untuk mempertajam daya ingat  siswa, karena media gambar melibatkan proses berfikir yang seimbang antara otak kiri dan otak kanan sehingga hasil pembelajaran dapat tercapai dengan baik.
            Berdasarkan fakta di lapangan bahwa media gambar telah digunakan sebagai media alternatif dalam pemebelajaran bahasa Arab, namun tidak memberikan kontribusi yang besar dalam proses belajar mengajar khususnya dalam keterampilan menyimak. Oleh karena itu penulis sangat berinisitaif sekali untuk melakukan penelitian dengan cara mengupayakan pengefektivan peningkatan media gambar dalam meningkatkan keterampilan menyimak bahasa arab.
            Mengingat peranan media gambar dalam pembelajaran bahasa arab sangat penting untuk digunakan maka efektivitas penggunaan media gambar dalam meningkatkan keterampilan menyimak bahasa Arab perlu ditingkatkan. Dengan adanya Penelitian Tindakan Kelas ini diharapakan dapat meningkatkan kemampuan kinerja guru dalam mengoperasionalkan media gambar, sehingga dapat meningkatkan minat, aktivitas, efektivitas dan hasil pembelajaran menyimak dalam bahasa Arab.
            Kalau Penelitian Tindakan Kelas ini tidak dilakukan maka keberhasilan proses belajar mengajar tidak akan meningkat kerena pengefektivan penggunaan media gambar dalam proses menyimak ketika melakukan proses pembelajaran bahasa Arab tidak diteliti, padahal menyimak merupakan kegiatan yang peranannya sangat penting dalam pengembangan kemampuan berbahasa seseorang  terutama para siswa yang mempelajari bahasa Arab, karena menurut Tarigan (1986:61), bahwa kebanyakan apa yang kita pelajari, diserap dengan menyimak yaitu sebesar 45%, berbicara 30%, membaca 16% dan menulis 9%.  Oleh karena itu, kegiatan penelitian ini sangat urgen bagi semua kalangan untuk terus meningkatkan dalam proses menyimak yang dipengaruhi oleh media gambar yang digunakan dalam proses pembelajaran bahasa Arab.
            Berdasarkan latar belakang dan permasalahan di atas peneliti terdorong untuk melakukan rancangan pembahasan diatas.

  1. Identifikasi dan Rumusan Masalah
            Berdasarkan judul yang penulis sebutkan di atas, maka penulis mengidentifikasi masalah kemampuan menyimak bahasa arab yang masuk ke dalam wilayah Pendidikan Bahasa Arab, begitu juga meningkatkan keterampilan menyimak bahas Arab dengan menggunakan media gambar masuk ke dalam wilayah bahasa Arab. Oleh karena itu penulis membatasi permasalahan tersebut.
  1. Batasan Masalah
            Agar pembahasan ini sesuai dengan judulnya maka penulis membatasi masalahnya yang terdiri dari:
a.       Upaya-upaya apa saja agar keterampilan menyimak dalam pembelajaran bahasa arab meningkat dengan menggunakan media gambar.
b.      Subyek penelitiannya adalah siswa Sekolah Menengah Pertama.
  1. Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah di atas dapat disusun rumusan masalah sebagai berikut:
a.       Bagaimana fungsi media gambar dalam meningkatkan keterampilan menyimak bahasa Arab siswa Sekolah Menengah Pertama.
b.      Bagaiamana caranya agar tingkat kefektivan media gambar dalam pembelajaran bahasa Arab meningkat dan memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap keterampilan menyimak bahasa Arab Sekolah Menengah Pertama.
c.       Bagaimana tingkat efektivitas penggunaan media gambar dalam meningkatkan keterampilan menyimak bahasa Arab siswa Sekolah Menengah Pertama.



  1. Variabel Penelitian


Definisi Operasional Variabel Penelitian
a.       Variabel bebas (Variabel X) adalah  upaya peningkatan keterampilan menyimak dalam pembelajaran bahasa Arab.
b.      Variabel terikat (Variabel Y) adalah intensitas peningkatan dalam menggunakan media gambar.
            Keterkiatan antara kedua variabel tersebut digambarkan dalam konstruksi sebagai berikut:


            X = Upaya untuk meningkatkan keterampilan menyimak dalam pembelajaran                 bahasa Arab.
Y = Intensitas peningkatan dalam menggunakan media gambar.
             r = Koefisien/ korelasi


  1. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1.      Tujuan Penelitian
a.       Untuk mengetahui fungsi penggunaan media gambar dalam meningkatkan keterampilan menyimak bahasa arab siswa Sekolah Menengah Pertama.
b.      Untuk mengetahui cara-cara yang efektif agar keterampilan menyimak bahasa arab siswa Sekolah Menengah Pertama meningkat dengan menggunakan media gambar.

2.      Kegunaan Penelitian
            Kegunaan Penelitian Tindakan Kelas secara khusus yang penulis harapkan ialah:
a.       Bagi penulis yaitu mengetahui cara-cara peningkatan kefektivan penggunaan media gambar dalam keterampilan menyimak bahasa Arab sehingga dijadikan sebagai ilmu baru untuk dapat diterapkan ketika melakukan proses pembelajaran bahasa Arab.
b.      Bagi guru yaitu untuk meningkatkan kemampuan kinerjanya dalam mengoperasionalkan media gambar, sehingga dapat meningkatkan minat, aktivitas, efektivitas dan hasil pembelajaran menyimak bahasa Arab.
c.       Bagi siswa dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan keterampilan dalam proses menyimak bahasa Arab di Sekolah Menengah Pertama karena dengan adanya penggunaan media gambar ini diharapakan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkembangkan motivasi belajar, dan  dapat mengatasi keterbatasan pengalaman siswa dalam  berimajinasi dan berekspresi dalam hal menyimak bahasa Arab.
d.      Bagi dosen, diharapkan penelitian ini dapat memberikan masukan dalam mengetahui kefektivan media gambar dalam meningkatkan keterampilan menyimak bahasa Arab sehingga dapat memaksimalkan dalam memberikan kuliahnya khususnya mata kuliah istima sehingga para mahasiswa setelah lulus siap tampil sebagai guru yang handal dibidangnya.



Karakteristik Makalah

07.52


Suatu makalah mempunyai karakteristik sebagai berikut:
1.      Merupakan hasil kajian literatur [1] dan/atau laporan pelaksanaan suatu kegiatan lapangan yang sesuai dengan cakupan permasalahan suatu perkuliahan;
2.      Mendemonstrasikan pemahaman mahasiswa tentang permasalahan teoritik yang dikaji atau kemampuan mahasiswa dalam menerapkan suatu prosedur, prinsip, atau teori yang berhubungan dengan perkuliahan;
3.      Menunjukkan kemampuan pemahaman terhadap isi dari berbagai sumber yang digunakan;
4.      Mendemonstrasikan kemampuan meramu berbagai sumber informasi dalam satu kesatuan sintesis [2] yang utuh.


[1]  Literatur (Kamus Besar Bahasa Indonesia) Li.te.ra.tor: Ahli sastra; pengarang profesional;
[2]  Paduan atau campuran berbagai pengertian atau hal sehingga merupakan kesatuan yang selaras
Diktat: (1) catatan pelajaran yang dibuat oleh siswa pada waktu mengikuti pelajaran; (2) buku pelajaran yang disusun oleh guru berupa stensilan (bukan cetakan); (3) berita yang didiktekan melalui radio;

Pengertian Makalah

07.46

1.    Tulisan resmi tentang suatu pokok yang dimaksudkan untuk dibacakan di muka umum di suatu persidangan dan yang sering disusun untuk diterbitkan;
2.    Karya tulis pelajar atau mahasiswa sebagai laporan hasil pelaksanaan tugas sekolah atau perguruan tinggi;
3.    Makalah adalah suatu karya tulis ilmiah mengenai suatu topik tertentu yang tercakup dalam ruang lingkup suatu perkuliahan;
4.    Karangan yang termasuk tugas pelajar selama pendidikannya di sekolah. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1988 : 546);
5.    Jenis tugas kuliah yang harus diselesaikan secara tertulis, baik sebagai hasil pembahasan buku (book report) maupun sebagai hasil karangan tentang suatu pokok persoalan. (A.E. Fachrudin, 1988 : 214);
6.    Tugas penulisan untuk mengakhiri suatu satuan bidang studi dalam rentang waktu seperti semester dan sejenisnya guna memperlihatkan penguasaan atas bidang studi tersebut. (A.E. Fachrudin, 1988 : 214);
7.    Karya tulis pelajar atau mahasiswa sebagai laporan hasil pelaksanaan tugas sekolah atau perguruan tinggi. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1999 : 616);
8.    Selembar kertas yang berisi pernyataan tertulis atau tercetak. (Kamus Istilah Karya Tulis Ilmiah, 2000 : 111);
9.    Uraian tertulis yang membahas suatu masalah tertentu dikemukakan untuk mendapat pembahasan lebih lanjut. (Kamus Bahasa Indonesia. W.J.S Poerwadarminta, 1994 : 496);
10.            Karya tulis ilmiah yang menyajikan suatu masalah yang pembahasannya berdasarkan data di lapangan yang bersifat empiris – objektif. (E. Zaenal Arifin, 2000 : 2);
11.            Naskah semester. Biasanya paper dituntut oleh seorang dosen atas mata kuliahnya apabila semester akan berlangsung atau kuliah akan berakhir. Karangan tidak begitu panjang mungkin 10 – 15 halaman ukuran folio. (Drs. S. Imam Asy’ari, 1984 : 17);
12.            Karangan prosa, bukan cerita rekaan, yang membicarakan pokok tertentu. Biasanya makalah dimuat di majalah atau koran, tetapi makalah dapat juga merupakan sebuah buku antologi. (Panuti Sudjiman, 1990 : 50);
13.            Suatu karya tulis yang dipergunakan untuk publikasi jurnal atau periodikal atau lisan. (Prof. Komarudin, M. Pd, 2000 : 111);
14.            Tulisan yang berisikan prasaran, pendapat yang turut membahas suatu pokok persoalan yang akan dalam rapat kerja, simposium, seminar, dan sejenisnya. (Drs. Madyo Ekosusilo dan Drs. Bambang Triyanto, 1991 : 16);
15.            Karya tulis ilmiah yang pembahasannya difokuskan pada suatu masalah tertentu. Biasanya berhubungan dengan suatu mata kuliah atau bidang spesialisi tertentu. (Muhamad Ali, 1984 : 61) ;
16.            Suatu bentuk tugas kuliah atau prasyarat diskusi dan seminar. (Burhan, 1979 : 226);
17.            Suatu karya tulis, baik yang ditulis oleh para mahasiswa sebagai pemenuhan tugas mata kuliah maupun yang ditulis oleh para sarjana sebagai hasil studi atau penyelidikan. (Siswoyo Harjodipuro, 1982 : 47);
18.            Suatu karya tulis yang disusun oleh seseorang atau kelompok yang membahas suatu pokok bahasan yang merupkan hasil penelitian di bidang pendidikan dan kebudayaan.                   (M. Widyamartaya dan Veronika Sudiarti, 1997 : 74).


ANALISIS TEORETIK TENTANG KONSEP METODE TEAM GAME TOURNAMENT DALAM PENINGKATAN HASIL BELAJAR  DALAM PEMBELAJARAN

ANALISIS TEORETIK TENTANG KONSEP METODE TEAM GAME TOURNAMENT DALAM PENINGKATAN HASIL BELAJAR DALAM PEMBELAJARAN

23.35


1.      Metode Team Games Tournament (TGT)
a.      Pengertian Metode Team Games Tournament (TGT)
Pembelajaran kooperatif model TGT adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcement.
Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar.
b.      Tujuan dari Metode TeamGames Tournament (TGT)
     Agar siswa dapat termotivasi untuk meningkatkan hasil belajar dengan hasil yang memuaskan dan mampu berfikiran lebih maju sertamemungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar. Metode ini juga tidak mengharapakan siswa hanya sekedar mendengarkan,mencatat,kemudian menghafal materi pelajaran akan tetapi melalui metodeTeamGames Tournament (TGT)   siswa aktif berkomunikasi,berfikiran lebih maju sertamemungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar. (nadhirin 2008 )
c.       Fungsi Metode Team Games Tournament (TGT)  
     Metode pembelajaran Team Games Tournament (TGT)  merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran yang menekankan kepada proses penyelesaaian secara ilmiah.metode ini tidak mengharapakan siswa hanya sekedar mendengarkan,mencatat,kemudian menghafal materi pelajaran akan tetapi melalui metode  Team Game Tournament siswa aktiflebih maju sertamemungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar. Sanjaya wijaya (2008).
      Menurut Suharno, dkk (2006) metode Team Gamas Tournament melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcement. Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar.
      Menurut Zuhairni  (1997:110) menngungkapakan bahwa metode Team Game Tournament merupakan Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar.
d.      Langkah-langkah Metode Team Game Tournament (TGT)
Team games tournaments (TGT) setiap tim beranggotakan 4-5 orang yang memiliki kemampuan yang setara atas dasar hasil tes minggu sebelumnya. Siswa yang berprestasi paling rendah pada tiap kelompok mempunyai peluang yang sama untuk memperoleh poin bagi timnya sebagai siswa yang berprestasi tinggi. Meskipun keanggotaan tim tetap sama, tetapi tiga orang yang mewakili tim untuk bertanding dapat berubah berdasarkan penampilan dan prestasi masing-masing anggota. Sebagai contoh siswa yang berprestasi rendah yang sebelumnya bertanding melawan siswa yang kemampuannya setara dapat bertanding melawan siswa yang berprestasi lebih tinggi ketika mereka menjadi lebih mampu. Slavin (1995:84-86) mengatakan bahwa komponen-komponen dalam TGT perlu memperhatikan
a.      Presintasi Kelas
Dalam presentasi kelas siswa diperkenalkan dengan materi pembelajaran yang diberikan secara langsung oleh guru atau didiskusikan dalam kelas dengan guru sebagai fasilitator. Pembelajaran mengacu pada apa yang disampaikan guru agar kelak dapat membantu siswa dalam mengikuti team games turnaments.
b.      Kelompok (Team)
     Kelompok terdiri dari empat sampai lima orang yang hiterogen. Tujuan utama pembentukan kelompok adalah untuk meyakinkan siswa bahwa semua anggota kelompok belajar dan semua anggota
 mempersiapkan diri untuk mengikuti game dan turnamen dengan sebaik-baiknya. Diharapkan setiap anggota kelompok melakukan hal yang terbaik untuk kelompoknya
c.       Permainan (Games)
    Permainan dibuat dengan isi pertanyaan-pertanyaan untuk mengetes pengetahuan siswa yang didapat dari presentasi kelas dan latihan kelompok. Game dimainkan dengan meja yang berisi tiga siswa yang diwakili kelompok berbeda. Siswa mengambil kartu yang bernomor dan berusaha untuk menjawab pertanyaan sesuai dengan nomor. Aturannya membolehkan pemain untuk menantang jawaban yang lain
d.      Kompetisi (Turnamen)
   Kompetisi merupakan bentuk permainan langsung. Umumnya diselenggarakan pada akhir minggu setelah guru membuat presentasi kelas dan kelompok-kelompok mempraktikkan tugas-tugasnya. Untuk turnamen pertama guru memberikan siswa permainan-permainan meja tiga siswa-siswa dengan kemampuan tertinggi di meja 1, meja 2 dan setrusnya. Kompetisi ini merupakan system penilaian kemampuan perorangan dalam STAD, memungkinkan bagi siswa dari semua level di penampilan sebelumnya untuk mengoptimalkan nilai kelompok mereka menjadi yang terbaik
e.       Penghargaan Kelompok (Teamrecognize)
    Guru kemudian mengumumkan kelompok yang menang, masing-masing team akan mendapat sertifikat atau hadiah apabila rata-rata skor memenuhi kriteria yang ditentukan. Team mendapat julukan “Super Team” jika rata-rata skor 45 atau lebih, “Great Team” apabila rata-rata mencapai 40-45 dan “Good Team” apabila rata-ratanya 30-40
e.       Kelebihan dan KelemahanMetode Team Game Tournament(TGT)
·         Kelebihan Metode Team Game Tournament (TGT)
Kelebihan TGT  Metode pembelajaran kooperatif Team Games Tournament (TGT) ini mempunyai kelebihan Menurut (Suarjana 2000:10) dalam ( Istiqomah : 2006), yang merupakan kelebihan dari pembelajaran TGT antara lain:

1.    Lebih meningkatkan pencurahan waktu untuk tugas
2.    Mengedepankan penerimaan terhadap perbedaan individu
3.    Dengan waktu yang sedikit dapat menguasai materi secara mendalam
4.    Proses belajar mengajar berlangsung dengan keaktifan dari siswa
5.    Mendidik siswa untuk berlatih bersosialisasi dengan orang lain
6.    Motivasi belajar lebih tinggi
7.    Hasil belajar lebih baik
8.    Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi
·         Kelemahan Metode Team Game Tournament (TGT)
Kelemahan TGT  Metode pembelajaran kooperatif Team Games Tournament (TGT) ini mempunyai kelebihan Menurut (Suarjana 2000:10) dalam (Istiqomah : 2006) yang merupakan kelemahan dari pembelajaran TGT antara lain:
1.      Bagi Guru
          Sulitnya pengelompokan siswa yang mempunyai kemampuan heterogen dari segi akademis. Kelemahan ini akan dapat diatasi jika guru yang bertindak sebagai pemegang kendali teliti dalam menentukan pembagian kelompok waktu yang dihabiskan untuk diskusi oleh siswa cukup banyak sehingga melewati waktu yang sudah ditetapkan. Kesulitan ini dapat diatasi jika guru mampu menguasai kelas secara menyeluruh.
2.      Bagi Siswa
          Masih adanya siswa berkemampuan tinggi kurang terbiasa dan sulit memberikan penjelasan kepada siswa lainnya. Untuk mengatasi kelemahan ini, tugas guru adalah membimbing dengan baik siswa yang mempunyai kemampuan akademik tinggi agar dapat dan mampu menularkan pengetahuannya kepada siswa yang lain.