Filsafat Ketuhanan

Semua Ada  Berikut adalah Bembahasan Filsafat Ketuhanan  : 

Ibnu Sina dalam membuktikan adanya Tuhan (isbat wujud Allah) dengan dalil wajib al-wujud dan mumkin al-wujud mengesankan duplikat Al-Farabi. Sepertinya tidak ada tambahan sama sekali. Akan tetapi, dalam filsafat wujudnya, bahwa segala yang ada ia bagi pada tiga tingkatan dipandang memiliki daya kreasi tersendiri sebagai berikut:
1.      Wajib al-wujud, esensi yang tidak dapat tidak mesti mempunyai wujud. Di sini esensi tidak bisa dipisahkan dari wujud, keduanya adalah sama dan satu. Esensi ini tidak dimulai dari tidak ada, kemudian berwujud, tetapi ia wajib dan mesti berwujud selama-lamanya.
Lebih jauh Ibnu Sina membagi wajib al-wujud ke dalam wajib al-wujud bi dzatihi dan wajib al-wujud bi ghairihi. Kategori yang pertama ialah wujudnya dengan sebab zatnya semata, mustahil jika diandaikan tidak ada. Kategori yang kedua adalah wujudnya yang terkait dengan sebab adanya sesuatu yang lain di luar zatnya. Dalam hal ini Allah termasuk pada yang pertama (wajib al-wujud li dzatihi la li syaiin akhar). (Al-‘Iraqy, 1980: 206-207)
2.      Mumkin al-wujud, esensi yang boleh mempunyai wujud dan boleh pula tidak berwujud. Dengan istilah lain, jika diandaikan tidak ada atau diandaikan ada, maka tidaklah mustahil, yakni boleh ada dan boleh tidak ada. (Al-‘Iraqy, 1980: 206)
Mumkin al-wujud ini jika dilihat dari esensinya, tidak mesti ada dan tidak mesti tidak ada karenanya ia disebut dengan mumkin al-wujud bi dzatihi. Ia pun dapat pula dilihat dari sisi lainnya sehingga disebut mumkin al-wujud bi dzatihi dan wajib al-wujud bi ghairihi. Jenis mumkin mencakup semua yang ada, selain Allah.
3.      Mumtani’ al –wujud, esensi yang tidak dapat mempunyai wujud, seperti adanya sekarang ini juga kosmos lain di samping kosmos yang ada.
Ibnu Sina dalam membuktikan adanya Allah tidak perlu mencari dalil dengan salah satu makhluknya, tetapi cukup dengan dalil adanya wujud pertama, yakni wajib al-wujud. Jagat raya ini mumkin al-wujud yang memerlukan sesuatu sebab (illat) yang mengeluarkannya menjadi wujud karena wujudnya tidak dari zatnya sendiri. Dengan demikian, dalam menetapkan yang pertama (Allah) kita tidak memerlukan pada perenungan selain terhadap wujud itu sendiri, tanpa memerlukan pembuktian wujud-Nya dengan salah satu makhluk-Nya. Meskipun makhluk itu bisa menjadi bukti wujud-Nya, namun pembuktian dengan dalil di atas lebih kuat, lebih lengkap, dan sempurna. Kedua macam pembuktian tersebut telah digambarkan Alquran dalam surat Al-Fushshilat ayat 53:

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”
Dari paparan di atas kelihatan perbedaan dalil antara Ibnu Sina dan ahli kalam pada umumnya. Ibnu Sina dalam menetapkan adanya Allah mengemukakan dalil antologi yang sebelumnya telah pula dikemukakan Al-Farabi. Sementara itu, ahli kalam biasanya mengemukakan dalil kosmologi dengan berpijak pada konsep alam baharu. Namun, dalil yang disebut terakhir ini sekalipun tidak memuaskan para filosof Muslim, tetapi menurut Ibnu Sina, sangat cocok ditujukan bagi peringkat awam. (Daudy, 1989: 71-72)
Akan tetapi, bila diamati konsep Ibnu Sina di atas tentang wajib al-wujud min ghairih, mumkin al-wujud bi dzatih terasa agak membingungkan karena dalam konsep al-wajib terdapat unsur mungkin (imkan). Padahal wajib adalah lawan dari mungkin. Seharusnya sesuatu itu wajib ada dilihat dari dimensi tertentu, mungkin ada dilihat dari dimensi lain. (Al-‘Iraqy, 1980: 215). Jika tidak demikian, boleh jadi al-mumkin fi zatihi berubah menjadi wajib dari segi agentnya (fa’ilihi). Hal ini mustahil terjadi, unsur mungkin tidak akan berubah menjadi unsur wajib. Atas dasar ini, terkesan Ibnu Sina masih banyak terpengaruh dengan premis-premis kaum teolog. Sebenarnya hal ini lumrah terjadi, orang datang belakangan terpengaruh dengan pendahulunya. (Zar, 2012: 99)
Tentang sifat-sifat Allah, sebagaimana Al-Farabi, Ibnu Sina juga menyucikan Allah dari segala sifat yang dikaitkan dengan esensi-Nya karena Allah Maha Esa dan Maha Sempurna. Ia adalah tunggal, tidak terdiri dari bagian-bagian. Jika sifat Allah dipisahkan dari zat-Nya, tentu akan membawa zat Allah menjadi pluralitas (ta’addud al-qudama). (Al-Fakhury, 1963: 72-73)

Sebagaimana Al-Farabi, Ibnu Sina juga berpendapat bahwa ilmu Allah hanya mengetahui yang universal (kully) di alam dan Ia tidak mengetahui yang parsial. Ungkapan terakhir ini dimaksudkan Ibnu Sina bahwa Allah mengetahui yang parsial di alam ini secara tidak langsung, yakni melalui zat-Nya sebagai sebab adanya alam. Dengan istilah lain, pengetahuan Allah tentang yang parsial melalui sebab akibat yang terakhir kepada sebab yang pertama, yakni zat Allah. (Musa, 1119 H: 72). Dari pendapatnya ini Ibnu Sina berusaha mengesakan Allah semutlak-mutlaknya dan ia juga memelihara kesempurnaan Allah. Jika tidak demikian, tentu ilmu Allah Yang Maha Sempurna akan sama dengan sifat ilmu manusia, bertambahnya ilmu membawa perubahan pada esensi manusia.

Daftar Pustaka

Al-Fakhury, H dan Al-Jarr, K. (1963). Tarikh Al-Falsafat Al-‘Arabiyyat. Beirut: Mu’assasat Li Al-Thaba’ah Wa Al-Nasyr.
Al-‘Iraqy, M.A. (1978). Al-Falsafat Al-Islamiyyat. Kairo: Dar Al-Ma’arif.
Zar, S. (1994). Konsep Penciptaan Alam dalam Pemikiran Islam, Sains, dan Alquran. Jakarta: Rajawali Press.
Daudy, A. (1989). Kuliah Filsafat Islam. Jakarta: Bulan Bintang.



0 Response to "Filsafat Ketuhanan"

Posting Komentar