Filsafat Emanasi

Semua Ada berikut adalah artikel masih seputar Makalah perkuliahan yaitu Filsafat Emanasi. 
Pengertian Filsafat Emanasi. untuk lebih jelaskan langsung aja ke TKP.
Ibnu Sina, sebagaimana juga Al-Farabi menemui kesulitan dalam menjelaskan bagaimana terjadinya yang banyak yang bersifat materi (alam) dari Yang Esa, jauh dari arti banyak, jauh dari materi, Maha Sempurna, dan tidak berkehendak apa pun (Allah). Untuk memecahkan masalah ini, ia juga mengemukakan penciptaan secara emanasi.

Telah disebutkan bahwa filsafat emanasi ini bukan hasil renungan Ibnu Sina (juga Al-Farabi), tetapi berasal dari ”ramuan Plotinus” yang menyatakan bahwa alam ini terjadi karena pancaran dari Yang Esa (The One). Kemudian, filsafat Plotinus yang berprinsip bahwa ”Dari Yang Satu hanya satu yang melimpah.” (De Boer, 1954: 198) ini diislamkan oleh Ibnu Sina (juga Al-Farabi) bahwa Allah menciptakan alam secara emanasi. Hal ini memungkinkan karena dalam Alquran tidak ditemukan informasi yang rinci tentang penciptaan alam dari materi yang sudah ada atau dari tiadanya. Dengan demikian, walaupun prinsip Ibnu Sina dan Plotinus sama, namun hasil dan tujuan berbeda. Oleh karena itu dapat dikatakan, Yang Esa Plotinus sebagai penyebab yang pasif bergeser menjadi Allah Pencipta (Shani, Agent) yang aktif. Ia menciptakan alam dari materi yang sudah ada secara pancaran.  
Adapun proses terjadinya pancaran tersebut ialah ketika Allah wujud (bukan dari tiada) sebagai Akal (’aql) langsung memikirkan (ber-ta’aqqul) terhadap zat-Nya yang menjadi objek pemikiran-Nya, maka memancarlah Akal Pertama. Dari Akal Pertama ini memancarlah Akal Kedua, Jiwa Pertama, dan Langit Pertama. Demikianlah seterusnya sampai Akal Kesepuluh yang sudah lemah dayanya dan tidak dapat menghasilkan akal sejenisnya, dan hanya menghasilkan Jiwa Kesepuluh, bumi, roh, materi pertama yang menjadi dasar bagi keempat unsur pokok: air, udara, api, dan tanah. (Ibnu Sina, 1938: 398)
Berlainan dengan Farabi, bagi Ibnu Sina Akal Pertama mempunyai dua sifat: sifat wajib wujudnya sebagai pancaran dari Allah dan sifat mungkin wujudnya jika ditinjau dari hakikat dirinya. Dengan demikian, ibnu Sina membagi objek pemikiran akal-akal menjadi tiga: Allah (wajib al-wujud li dzatihi), dirinya akal-akal (wajib al-wujud li ghairihi) sebagai pancaran dari Allah, dan dirinya akal-akal (mumkin al-wujud) ditinjau dari hakikat dirinya.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat tabel emanasi Ibnu Sina di bawah ini:
(Subjek) Akal Yang Ke-
Sifat
Allah sebagai Wajib al-Wujud menghasilkan
Dirinya sendiri sebagai Wajib wujud li ghairihi, menghasilkan
Dirinya sendiri mumkin wujud lidzatihi
Keterangan
I
Wajib al-Wujud
Akal II
Jiwa I yang menggerakkan
Langit Pertama
Masing-masing jiwa berfungsi sebagai penggerak satu planet karena (immateri) tidak bisa langsung menggerakkan jisim (materi)
II
Mumkin al-Wujud
Akal III
Jiwa II yang menggerakkan
Bintang-bintang
III
Sda
Akal IV
Jiwa III yang menggerakkan
Saturnus
IV
Sda
Akal V
Jiwa IV yang menggerakkan
Yupiter
V
Sda
Akal VI
Jiwa V yang menggerakkan
Mars
VI
Sda
Akal VII
Jiwa VI yang menggerakkan
Matahari
VII
Sda
Akal VIII
Jiwa VII yang menggerakkan
Venus
VIII
Sda
IX
Jiwa VIII yang menggerakkan
Merkuri
IX
Sda
X
Jiwa IX yang menggerakkan
Bulan
X
Sda
-
Jiwa X yang menggerakkan
Bumi, roh, materi pertama yang menjadi dasar dari keempat unsur (udara, api, air, dan tanah)
Akal X tidak lagi memancarkan akal-akal berikutnya karena kekuatannya sudah lemah.

(Zar, 1994: 180)
Akal-akal dan panet-planet dalam emanasi di atas dipancarkan (baca: diciptakan) Allah secara hierarkis. Keadaan ini bisa terjadi karena ta’aqqul Allah tentang zat-Nya sebagai sumber energi dan menghasilkan energi yang maha dahsyat. Ta’aqqul Allah tentang zat-Nya adalah ilmu Allah tentang diri-Nya dan ilmu itu adalah daya (al-qudrat) yang menciptakan segalanya. Agar sesuatu itu tercipta, cukup sesuatu itu diketahui Allah. (Nasution, 1986: 5). Dari hasil ta’aqqul Allah terhadap zat-Nya (energi) itulah di antaranya menjadi akal-akal, jiwa-jiwa, dan yang lainnya memadat menjadi planet-planet.
Emanasi Ibnu Sina juga menghasilkan sepuluh akal dan sembilan planet. Sembilan akal mengurusi sembilan planet dan Akal Kesepuluh mengurusi bumi. Berbeda dengan pendahulunya, Al-Farabi, bagi Ibnu Sina masing-masing jiwa berfungsi sebagai penggerak satu planet, karena akal (immateri) tidak bisa langsung menggerakkan planet yang bersifat materi. (De Boer, 1954: 198). Akal-akal adalah para malaikat, Akal Pertama adalah Malaikat Tertinggi dan Akal Kesepuluh adalah Malaikat Jibril yang bertugas mengatur bumi dan isinya. (Nasution, 1973: 30)
Sebagaimana Al-Farabi, Ibnu Sina juga memajukan emanasi ini untuk mentauhidkan Allah semutlak-mutlaknya. Oleh karena itu, Allah tidak bisa menciptakan alam yang banyak jumlah unsurnya ini secara langsung. Jika Allah berhubungan langsung dengan alam yang plural ini tentu dalam pemikiran Allah terdapat hal yang plural. Hal ini merusak citra tauhid. (Zar, 2012: 103)
Telah disebutkan bahwa perbedaan yang mendasar antara emanasi Plotinus dengan Ibnu Sina (juga Al-Farabi) ialah: bagi Plotinus alam ini hanya terpancar dari Yang Satu (Tuhan), yang mengesankan Allah tidak Pencipta dan tidak aktif. Hal ini ditangkap dari metafora yang ia gunakan bagaikan mentari memancarkan sinarnya. Sementara itu, di dalam Islam, emanasi ini dalam rangka menjelaskan cara Allah menciptakan alam. Karena alam adalah ciptaan Allah, dalam agama Islam termasuk ajaran pokok atau qath’i al-dalalah. Dengan kata lain, kekhalikan Allah ini mesti diimani seutuhnya. Orang yang mengingkarinya dapat membawa pada kekafiran. Atas dasar itulah, maka ibarat mentari dengan sinarnya merupakan ibarat yang menyesatkan. (Zar, 2012: 103)

Sejalan dengan filsafat emanasi, alam ini kadim karena diciptakan oleh Allah sejak kadim dan azali. Akan tetapi, tentu saja Ibnu Sina membedakan antara kadimnya Allah dan alam. Perbedaan yang mendasar terletak pada sebab membuat alam terwujud. Keberadaan alam tidak didahului oleh zaman, maka alam kadim dari segi zaman (taqaddum zamany). Adapun dari segi esensi, sebagai hasil dari ciptaan Allah secara pancaran, alam ini baharu (hudus zaty). Sementara itu, Allah adalah taqaddum zaty, Ia sebab semua yang ada dan Ia Pencipta Alam. Jadi, alam ini baharu dan kadim, baharu dari segi esensi dan kadim dari segi zaman. (Al-Jisr, 1963: 54)

Daftar Pustaka

Al-‘Iraqy, M.A. (1978). Al-Falsafat Al-Islamiyyat. Kairo: Dar Al-Ma’arif.

________. M. A. (1980). Al-Manhaj Al-Naqdy Fi Falsafat Ibn Rusdy. Kairo: Dar Al-Ma’arif.

Al-Fakhury, H dan Al-Jarr, K. (1963). Tarikh Al-Falsafat Al-‘Arabiyyat. Beirut: Mu’assasat Li Al-Thaba’ah Wa Al-Nasyr.

Al-Jist, N. (1963). Qishshat Al-Imam. Beirut: Al-Andalus.


De Boer, T. J. (1954). Tarikh Al-Falsafat Fi Al-Islam. Kairo: Mathba’at Lajnat Al-Ta’lif Wa Al-Tarjamat Wa Al-Nasyr.


Nasution, H. (1973). Falsafat Agama. Jakarta: Bulan Bintang.

_______, H. (1973). Falsafat dan Misticisme dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang.

_______, H. (1983). Akal dan Waktu dalam Islam. Jakarta: Universitas Indonesia.

_______, H. (1986). Studia Islamika. Jakarta: IAIN.

Sina, I. (1938). Al-Najat. Kairo: Musthafa Al-Baby Al-Halaby.

Zar, S. (1994). Konsep Penciptaan Alam dalam Pemikiran Islam, Sains, dan Alquran. Jakarta: Rajawali Press.

0 Response to "Filsafat Emanasi"

Posting Komentar