Pendidik Dan Peserta Didik Dalam Al-Quran

Pendidik Dan Peserta Didik Dalam Al-Quran Oleh Cecepabdulaziz dan Sagala Aya



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pendidikan merupakan kegiatan yang penting dalam kemajuan manusia. Kegiatan pendidikan pada dasarnya selalu terkait dua belah pihak yaitu: pendidik dan peserta didik. Keterlibatan dua pihak tersebut merupakan keterlibatan hubungan antar manusia (human interaction). Hubungan itu akan serasi jika jelas kedudukan masing-masing pihak secara profesional, yaitu hadir sebagai subjek dan objek yang memiliki hak dan kewajiban. Lebih jelas lagi Tahziduhu Ndraha menambahkan bahwa proses belajar-mengajar terlibat empat pihak, yaitu:
(i)                 Pihak yang berusaha belajar-mengajar,
(ii)               Pihak yang berusaha belajar
(iii)             Pihak yang merupakan sumber pelajaran,
(iv)             Pihak yang berkepentingan atas hasil (out come) proeses belajar-mengajar.
Kualitas pendidikan sangat dipengaruhi kualitas pendidiknya. Salahnya pemahaman seorang pendidik terhadap dirinya, memungkinkan pendidik tidak mampu secara baik memerankan diri sebagai pendidik, dan tidak memenuhi kualifikasi sebagai pendidik. Pendidik seharusnya digugu dan ditiru, atau tut wuri handayani. Beberapa kasus banyak kita temukan perbuatan asusila dilakukan oleh pendidik, yang seharusnya tidak terjadi jika mengingat kualifikasi seorang pendidik. hal ini selanjutnya akan menjadi problem tersendiri dalam kegiatan pendidikan.
Secara kodrati anak memerlukan pendidikan atau bimbingan dari orang dewasa. Dasar kodrati ini dapat dimengerti dari kebutuhan-kebutuhan dasar yang dimiliki oleh setiap anak yang hidup di dunia ini. Kebutuhan yang harus dipenuhi serta berbagai potensi maupun disposisi untuk dididik, dibimbing dan diarahkan sehingga dapat mengaktualisasikan dirinya dalam kehidupan. Dan membentuk anak didik itu harus sesuai dengan tujuan pengajaran yang diharapkan maka pengajaran harus disesuaikan dengan keadaan dan tingkat kemampuan anak, karakteristik, minat dan lain sebagainya. Itulah sebabnya murid merupakan objek didik dalam pendidikan. Anak didik dalam pengertian pendidikan pada umumnya adalah setiap individu atau sekelompok individu yang menerima pengaruh dari seseorang atau sekelompok orang yang menjalankan kegiatan pendidikan. Sedangkan murid dalam pengertian pendidikan secara khusus adalah anak yang belum dewasa yang menjadi tanggung jawab pendidik.
Pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu proses interaksi edukatif anak didik dengan pendidik. Salah satu indikator interaksi edukatif adalah apabila interaksi tersebut dilakukan secara terencana, terkendali, ada bahan yang akan disampaikan dan dapat dievaluasi dalam suatu sistem.
Dari pemaparan di atas terlihat bahwa salah satu permasalahan penting dalam dunia pendidikan adalah komponen pendidik dan murid atau peserta didik. Untuk mengatasi problem tersebut dan untuk memperbaiki kualitas pendidik,  maka kami tertarik untuk mengkaji tentang hakekat pendidik dan peserta didik dalam Al-Qur’an.

B.     Rumusan Masalah
                Dalam makalah ini, penulis mencoba mengidentifikasikan masalah yang akan dibahas  pada bab selanjutnya. Dari uraian sebelumnya, maka dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana hakekat pendidik dalam Al-Qur’an?
2.      Bagaimana hakekat peserta didik dalam Al-Qur’an?

C.    Tujuan Masalah
Sesuai dengan rumusannya, maka tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui:
1.      Hakekat pendidik dalam  Al-Qur’an.
2.      Hakekat peserta didik dalam  Al-Qur’an.

D.    Metodologi Pembahasan
                        Dalam menyusun makalah ini, penulis menggunakan sumber dari buku-buku yang menunjang materi yang dibahas (studi pustaka) dan mencari referensi tambahan dari internet.
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Surah Al-Baqarah ayat 286
Ÿw ß#Ïk=s3ムª!$# $²¡øÿtR žwÎ) $ygyèóãr 4 $ygs9 $tB ôMt6|¡x. $pköŽn=tãur $tB ôMt6|¡tFø.$# 3 $oY­/u Ÿw !$tRõÏ{#xsè? bÎ) !$uZŠÅ¡®S ÷rr& $tRù'sÜ÷zr& 4 $oY­/u Ÿwur ö@ÏJóss? !$uZøŠn=tã #\ô¹Î) $yJx. ¼çmtFù=yJym n?tã šúïÏ%©!$# `ÏB $uZÎ=ö6s% 4 $uZ­/u Ÿwur $oYù=ÏdJysè? $tB Ÿw sps%$sÛ $oYs9 ¾ÏmÎ/ ( ß#ôã$#ur $¨Ytã öÏÿøî$#ur $oYs9 !$uZôJymö$#ur 4 |MRr& $uZ9s9öqtB $tRöÝÁR$$sù n?tã ÏQöqs)ø9$# šúï͍Ïÿ»x6ø9$# ÇËÑÏÈ  
Artinya:  Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): "Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum Kami jika Kami lupa atau Kami tersalah. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau bebankan kepada Kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau pikulkan kepada Kami apa yang tak sanggup Kami memikulnya. beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong Kami, Maka tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir."( Al-Baqarah:286)
·         Tafsir Al-Maraghi
TAFSIR MUFRADAT
لا يكلف الله نفسا إلا وسعها
(Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya) artinya sekedar kesanggupannya
لها ما كسبت
(ia mendapat  dari apa yang diusahakannya) berupa kebajikannya artinya pahala.
وعليها ما اكتسبت
(dan ia mendapat dari hasil kejahatannya) yakni dosanya
ربنا لا تؤاخذنا
("Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami) dengan siksa
إن نسينا أو أخطأنا
(jika kami lupa atau kami tersalah) artinya meninggalkan kebenaran tanpa sengaja
ربنا ولا تحمل علينا إصرا
(Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat) yang tidak mungkin dapat kami pikul
كما حملته على الذين من قبلنا
(sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami) yaitu bani Israel berupa bunuh diri dalam bertobat, mengeluarkan seperempat harta dalam zakat dan mengorek tempat yang kena najis.
ربنا ولا تحملنا ما لا طاقت لنابه
(Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup) atau tidak kuat kami memikulnya berupa tugas-tugas dan cobaan-cobaan .
واعف عنا
(beri ma'aflah Kami) atau hapuslah sekalian dosa kami
واغفرلنا و ارحمنا
(ampunilah kami; dan rahmatilah kami) dalam rahmat itu terdapat kelanjutan atau tambahan dari keampunan.
انت مولنا
(Engkaulah penolong kami) artinya pemimpin dan pengatur urusan kami,
فانصرنا على القوم الكفرين
(Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir) yakni dengan menegakkan hujjah dan memberikan kemenangan dalam peraturan dan pertempuran dengan mereka, karena ciri-ciri seorang maula atau pembela ialah menolong anak buahnya dari musuh-musuh mereka.

·         Tafsir Al-Misbah ( Tafsir Ijmali)
Setiap tugas yang dibebankan kepada seseorang tidak keluar dari tiga kemungkinan :
1.      Mampu dan mudah dilaksanakan
2.      Tidak mudah dia laksanakan
3.      Dia mampu melaksanakannya tapi dengan susah payah dan terasa dan terasa sangat berat.
Di sisi lain, seseorang akan merasa mudah melaksanakan sesuatu jika arena atau waktu pelaksanaannya lapang, berbeda dengan tempat atau waktu yang sempit. Dari sini kata lapang dalam konteks tugas dipahami dalam arti mudah.
            Tugas-tugas yang diberikan Allah kepada manusia adalah tugas-tugas yang lapang. Mudah untuk dilaksanakan, bahkan setiap orang yang mengalami kesulitan dalam pelaksanaan satu tugas, oleh satu dan lain faktor, maka kesulitan tersebut akan melahirkan kemudahan yang dibenarkan walaupun sebelumnya tidak dibenarkan. Sebagai contoh : shalat diwajibkan berdiri, tetapi kalau sulit berdiri, maka boleh sambil duduk. Seseorang yang sulit mendapatkan air untuk berwudhu atau khawatir mengalami kesulitan menyangkut kesehatannya, maka dia boleh tayammum. Demikianlah Allah tidak menghendaki sedikit pun kesulitan menimpa manusia.
            Kata laha pada ayat di atas diterjemahkan dengan baginya yakni pahala sedangkan ‘alaiha’ dipahami dalam arti atasnya dosa. Memang kata ‘ala’ digunakan antara lain untuk menggambarkan sesuatu ayang negatif sedangkan ‘lahu’ digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang positif. Selanjutnya terbaca di atas ketika ayat ini menggambarkan usaha yang baik dengan kata ‘ kasabat’ dan tentang dosa dengan kata ‘iktasabat’. Walaupun keduanya berakar sama tetapi kandungan maknanya berbeda. Penggunaan kata kasabat dalam menggambarkan usaha positif, member isyarat bahwa kebaikan, walau baru dalam bentuk niat dan belum wujud dalam kenyataan, sudah mendapat imbalan dari Allah. Berbeda dengan keburukan. Ia baru dicatat sebagai dosa setelah diusahakan dengan kesungguhan dan lahir dalam kenyataan. Di samping itu, penggunaan bentuk kata tersebut juga menggambarkan, bahwa pada prinsipnya jiwa manusia cenderung berbuat kebajikan. Kejahatan pada mulanya dilakukan manusia dengan kesungguhan dan dengan usaha ekstra, karena kejahatan tidak sejalan dengan bawaan dasar manusia.
            Memang ketika turunnya ayat ini proses ketentuan ilahi masih terus berlanjut, sehingga terbuka kemungkinan, dalam benak para pemohon, adanya kewajiban-kewajiban agama yang masih dalam taraf kemampuan untuk melaksanakannya tetapi dengan susah payah. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya ada tiga kemungkinan yang dihadapi seseorang dalam melaksanakan tugas. Mereka sadar bahwa Allah Swt. tidak mungkin membebani mereka beban yang tidak dapat dipikul. Apalagi sebelum mereka, yakni orang-orang Yahudi, telah mendapat tugas yang sulit karena ulah mereka sendiri.
            Pada ayat di atas permohonan yang dipanjatkan orang-orang beriman, mereka panjatkan sambil menyeru nama Allah Swt. dengan kata Rabbana dan tanpa menggunakan kata ya atau wahai sebagaimana ditemukan dalam terjemahan bahasa Indonesia. Ketiadaan ya yang digunakan untuk menyeru yang jauh, menunjukkan kedekatan mereka kepada Allah swt, dan bahwa kedekatan itu diakui oleh-Nya sehingga diabadikan dalam kitab suci. Menurut pengamatan al-Harrali, dalam al-Qur’an tidak ditemukan satu ayat pun yang menggunakan panggilan jauh kepada Allah dalam ucapan orang-orang mukmin.

·         Nilai-Nilai Tarbiyah yang terkandung dalam ayat
1.      Seorang guru harus memberikan kemudahan dalam memberikan tugas kepada muridnya.
2.      Dalam dunia pendidikan itu ada reward (penghargaan ) dan punishmen (sangsi) Jika murid melakukan kebaikan atau memiliki sebuah prestasi maka berilah reward dan jika melakukan kesalahan maka berilah sangsi. Hal ini diisyaratkan dengan kata “laha ma kasabat wa ‘alaiha ma iktasabat
3.      Seorang murobbi atau guru harus memaafkan muridnya, jika muridnya tersebut tidak tahu akan kesalahannya atau tidak sengaja melakukan kesalahan. Hal ini diisyaratkan dengan kata “!÷$tRù'sÜ÷zr&rr&$uZŠÅ¡®SŸ!bÎ)$tRõÏ{#xsè?w$oY­/u
4.      Seorang murobbi atau pendidik itu harus memberikan tugas sesuai dengan kemampuan siswa. Diisyaratkan dengan kata
$uZ­/u Ÿwur $oYù=ÏdJysè? $tB Ÿw sps%$sÛ $oYs9 ¾ÏmÎ/ (



0 Response to "Pendidik Dan Peserta Didik Dalam Al-Quran"

Posting Komentar