Kewajiban Belajar Dalam Al-Quran

Makalah Kewajiban Belajar Dalam AlQuran Oleh Cecepabdulaziz dan Sagala Aya

BAB I
PENDAHULUAN



A.      Latar Belakang Masalah

أفلا يتدبّرون القرءان أم على قلوب أقفالهآ (محمد : 24)
Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?
(QS Muhammad : 24)

Apakah orang-orang munafik itu tidak memperhatikan nasihat-nasihat Allah yang Dia nasihatkan pada ayat-ayat kitab-Nya dan apakah mereka tidak memikirkan tentang hujjah-hujjah Allah yang telah Dia terangkan dalam kitab-Nya, sehingga mereka mengetahui kekeliruan yang mereka pegangi, atau mereka benar-benar telah ditutup hatinya oleh Allah sehingga mereka tidak dapat memikirkan lagi pelajaran-pelajaran maupun nasihat-nasihat yang telah Dia turunkan dalam kitab-Nya. (Al Maraghi, 1987:118)

Untuk menyelisihi orang-orang munafik tersebut maka bagi setiap muslim wajib mendalami agama dan bersedia mengajarkannya di tempat-tempat pemukiman serta memahamkan orang lain kepada agama, sebanyak yang dapat memperbaiki keadaan mereka. Sehingga, mereka tidak bodoh lagi tentang hukum-hukum agama secara umum yang wajib diketahui oleh setiap mukmin.

B.       Rumusan Masalah

B.1. Bagaimanakah QS Al ‘Alaq : 1-5 mengenai Ayat dan Terjemah, Tafsir Ayat, dan Makna Tarbiyah dari Ayat?
B.2. Bagaimanakah QS At Taubah : 122 mengenai Ayat dan Terjemah, Tafsir Ayat, dan Makna Tarbiyah dari Ayat?
B.3. Bagaimanakah QS Al Muzammil : 20 mengenai Ayat dan Terjemah, Tafsir Ayat, dan Makna Tarbiyah dari Ayat?
B.4. Bagaimanakah QS Muhammad : 24 mengenai Ayat dan Terjemah, Tafsir Ayat, dan Makna Tarbiyah dari Ayat?

C.      Tujuan Penulisan

C.1. Memahami QS Al ‘Alaq : 1-5 mengenai Ayat dan Terjemah, Tafsir Ayat, dan Makna Tarbiyah dari Ayat.
C.2. Memahami QS At Taubah : 122 mengenai Ayat dan Terjemah, Tafsir Ayat, dan Makna Tarbiyah dari Ayat.
C.3. Memahami QS Al Muzammil : 20 mengenai Ayat dan Terjemah, Tafsir Ayat, dan Makna Tarbiyah dari Ayat.
C.4. Memahami QS Muhammad : 24 mengenai Ayat dan Terjemah, Tafsir Ayat, dan Makna Tarbiyah dari Ayat.

D.      Metode Penulisan

Dalam penulisan makalah ini saya menggunakan metode analisis studi pustaka materi-materi yang sesuai dengan judul makalah ini dari beberapa referensi ilmiah. 

BAB II
KEWAJIBAN BELAJAR DALAM AL QURAN


A.      QS. Al ‘Alaq : 1 – 5

A.1. Ayat dan Terjemahnya
اقرأ باسم ربك الذي خلق (1) خلق الإنسان من علق (2) اقرأ و ربك الأكرم (3) الذي علّم بالقلم (4) علّم الإنسان مالم يعلم (5) (العلق : 1- 5)
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan (1) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah (2) Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah (3) Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam (4) Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (5) (QS Al ‘Alaq :1-5)

A.2. Tafsir Ayat
اقرأ باسم ربك الذي خلق (1)
Jadilah engkau orang yang bisa membaca berkat kekuasaan dan kehendak Allah yang telah menciptakanmu. Sebelum itu beliau tidak pandai membaca dan menulis. Kemudian datang perintah Ilahi agar beliau membaca, sekalipun tidak bisa menulis. Dan Allah menurunkan sebuah kitab kepadanya untuk dibaca, sekalipun ia tidak bisa menulisnya.
Kesimpulan :
Sesungguhnya Zat Yang Menciptakan makhluk mampu membuatmu bisa membaca, sekalipun sebelum itu engkau tidak pernah belajar membaca. (Al Maraghi, 1987:346)
Kemudian Allah menjelaskan proses kejadian makhluk melalui firman-Nya :

خلق الإنسان من علق (2)
Sesungguhnya Zat Yang Menciptakan manusia, sehingga menjadi makhluk-Nya yang paling mulia – Ia menciptakannya dari segumpal darah (‘alaq). Kemudian membekalinya dengan kemampuan menguasai alam bumi,dan dengan ilmu pengetahuannya bisa mengolah bumi serta menguasai apa yang ada padanya untuk kepentingan umat manusia. Oleh sebab itu Zat Yang Menciptakan Manusia, mampu menjadikan manusia yang sempurna, yaitu Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam – bisa membaca, sekalipun beliau belum pernah belajar membaca.
Kesimpulan :
-- Sesungguhnya Zat Yang Menciptakan manusia dari segumpal darah, kemudian membekalinya dengan kemampuan berfikir, sehingga bisa menguasai seluruh makhluk bumi – mampu pula menjadikan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bisa membaca, sekalipun beliau tidak pernah belajar membaca dan menulis. (Al Maraghi, 1987:346)
اقرأ و ربك الأكرم (3)
-      )اقرأ(
Kerjakanlah apa yang Aku perintahkan, yaitu membaca.
Perintah ini diulang-ulang, sebab membaca tidak akan bisa meresap ke dalam jiwa, melainkan setelah berulang-ulang dan dibiasakan. Berulang-ulangnya perintah Ilahi berpengertian sama dengan berulang-ulangnya membaca. Dengan demikian maka membaca itu merupakan bakat Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam. Perhatikan firman Allah berikut ini,
سنقرئك فلاتنسى
Kami akan membacakan (Al Quran) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa. (QS Al A’la : 6)
Kemudian Allah menyingkirkan halangan yang dikemukakan oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam kepada Malaikat Jibril, yaitu tatkala Malaikat berkata kepadanya, “Bacalah!” Kemudian Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Saya tidak bisa membaca”. Artinya, saya ini buta huruf – tidak bisa membaca dan menulis – (Al Maraghi, 1987:347) Untuk itu Allah berfirman :
-      )و ربك الأكرم(
Tuhanmu Maha Pemurah kepada orang yang memohon pemberian-Nya. Bagi-Nya amat mudah menganugerahkan kepandaian membaca kepadamu – berkat kemurahan-Nya.    
Kemudian Allah menambahkan ketentraman hati Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam atas bakat yang baru ia miliki melalui firman-Nya :
الذي علّم بالقلم (4)
Yang menjadikan pena sebagai sarana berkomunikasi antar sesama manusia, sekalipun letaknya saling berjauhan. Dan ia tak ubahnya lisan yang bicara. Qalam atau pena, adalah benda mati yang tidak bisa memberikan pengertian. Oleh sebab itu Zat Yang Menciptakan benda mati bisa menjadi alat komunikasi – sesungguhnya tidak ada kesulitan bagi-Nya menjadikan dirimu (Muhammad) bisa membaca dan memberi penjelasan serta pengajaran. Apalagi engkau adalah manusia yang sempurna.
Disini Allah menyatakan bahwa diri-Nyalah yang telah menciptakan manusia dari ‘alaq, kemudian mengajari manusia dengan perantaraan qalam. Demikian itu agar manusia menyadari bahwa dirinya diciptakan dari sesuatu yang paling hina, hingga ia mencapai kesempurnaan kemanusiaannya dengan pengetahuannya tentang hakikat segala sesuatu. Seolah-olah ayat ini mengatakan, “Renungkanlah wahai manusia! Kelak engkau akan menjumpai dirimu telah berpindah dari tingkatan yang paling rendah dan hina, kepada tingkatan yang paling mulia. Demikian itu tentu ada kekuatan yang mengaturnya dan kekuasaan yang menciptakan kesemuanya dengan baik”. (Al Maraghi, 1987:347-348)
Kemudian Allah menambahkan penjelasan-Nya dengan menyebutkan nikmat-nikmat-Nya kepada manusia melalui firman-Nya, 
علّم الإنسان مالم يعلم (5)
Sesungguhnya Zat Yang Memerintahkan Rasul-Nya membaca – Dialah Yang Mengajarkan berbagai ilmu yang dinikmati oleh umat manusia, sehingga manusia berbeda dari makhluk lainnya. Pada mulanya manusia itu bodoh – ia tidak mengetahui apa-apa. Lalu apakah mengherankan jika Ia mengajarimu (Muhammad) membaca dan mengajarimu berbagai ilmu selain membaca, sedangkan engkau memiliki bakat untuk menerimanya?
Ayat ini merupakan dalil yang menunjukkan tentang keutamaan membaca, menulis, dan ilmu pengetahuan.
Sungguh jika tidak ada qalam, maka anda tidak akan bisa memahami berbagai ilmu pengetahuan, tidak akan bisa menghitung jumlah pasukan tentara, semua agama akan hilang, manusia tidak akan mengetahui kadar pengetahuan manusia terdahulu, penemuan-penemuan, dan kebudayaan mereka. Dan jika tidak ada qalam, maka sejarah orang-orang terdahulu tidak akan tercatat – baik yang mencoreng wajah sejarah maupun yang menghiasinya. Dan ilmu pengetahuan mereka tidak akan bisa dijadikan penyuluh bagi generasi berikutnya. Dan dengan qalam bersandar kemajuan umat dan kreatifitasnya.
Dalam ayat ini terkandung pula bukti yang menunjukkan bahwa Allah yang menciptakan manusia dalam keadaan hidup dan berbicara dari sesuatu yang tidak ada tanda-tanda kehidupan padanya, tidak berbicara serta tidak ada rupa dan bentuknya secara jelas. Kemudian Allah mengajari manusia ilmu yang paling utama, yaitu menulis dan menganugerahkannya ilmu pengetahuan – sebelum itu ia tidak mengetahui apa pun juga. Sungguh mengherankan kelalaianmu, wahai manusia! (Al Maraghi, 1987:348-349)

A.3. Makna Tarbiyah dari Ayat
A.3.1. Hikmah Allah dalam penciptaan manusia, dan bagaimana Dia menciptakannya dari sel-sel yang amat kecil hingga menjadi manusia yang mampu menguasai dunia.
A.3.2. Dengan kemurahan, keagungan dan kebaikan-Nya – Dia mengajarkan manusia berbagai hal yang belum pernah diketahuinya, dan melimpahkan kepadanya berbagai ilmu pengetahuan, sehingga ia berkuasa atas makhluk bumi lainnya.
    

B.       QS. At Taubah : 122

B.1. Ayat dan Terjemahnya
وما كان المؤمنون لينفروا كآفة فلولا نفر من كل فرقة منهم طآئفة ليتفقهوا في الدين و لينذروا قومهم إذا رجعوا إليهم لعلهم يحذرون (التوبة : 122)
Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (QS At Taubah : 122)

B.2. Tafsir Ayat
B.2.1 Tafsir Mufradat
لينفروا   : نفر – ينفر     = Berangkat perang
فلولا     : لولا             =
Kata-kata yang berarti anjuran dan dorongan melakukan sesuatu yang disebutkan sesudah kata-kata tersebut, apabila hal itu terjadi  di masa yang akan datang. Tapi laula juga berarti kecaman atas meninggalkan perbuatan yang disebutkan sesudah kata itu, apabila merupakan hal yang telah lewat. Apabila hal yang dimaksud merupakan perkara yang mungkin dialami, maka bisa juga laula, itu berarti perintah mengerjakannya.
فرقة      : الفرقة           Kelompok besar =
طآئفة   : الطآئفة         Kelompok kecil =
ليتفقهوا  : تفقه – يتفقه   =
Berusaha keras untuk mendalami dan memahami suatu perkara dengan susah payah untuk memperolehnya.
لينذروا   : أنذر – ينذر    Menakut-nakuti =
يحذرون  : حذر – يحذر   Berhati-hati =
B.2.2 Tafsir Ijmali
Ayat  ini menerangkan kelengkapan dari hukum-hukum yang menyangkut perjuangan. Yakni, hukum mencari ilmu dan mendalami agama. Artinya, bahwa pendalaman ilmu agama itu merupakan cara berjuang dengan menggunakan hujjah dan penyampaian bukti-bukti, dan juga merupakan rukun terpenting dalam menyeru kepada iman dan menegakkan sendi-sendi islam. Karena perjuangan yang menggunakan pedang itu sendiri tidak disyari’atkan kecuali untuk menjadi benteng dan pagar dari dakwah tersebut, agar jangan dipermainkan oleh tangan-tangan ceroboh dari orang-orang kafir dan munafik.
Menurut riwayat  Al Kalabi dari Ibnu Abbas, bahwa beliau mengatakan, “Setelah Allah mengecam keras terhadap orang-orang yang tidak menyertai Rasul dalam peperangan, maka tidak seorang pun diantara kami yang tinggal untuk tidak menyertai bala tentara atau utusan perang buat selama-lamanya. Hal itu benar-benar mereka lakukan, sehingga tinggallah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam sendirian”, maka turunlah wahyu, “وما كان المؤمنون
وما كان المؤمنون لينفروا كآفة
Tidaklah patut bagi orang-orang mukmin, dan juga tidak dituntut supaya mereka seluruhnya berangkat menyertai setiap utusan perang yang keluar menuju medan perjuangan. Karena, perang itu sebenarnya fardhu kifayah, yang apabila telah dilaksanakan oleh sebagian maka gugurlah yang lain, bukan fardhu ‘ain, yang wajib dilakukan setiap orang. Perang barulah menjadi wajib, apabila Rasul sendiri keluar dan mengerahkan kaum mukmin menuju medan perang. (Al Maraghi, 1987:84-85)
Kewajiban Mendalami Agama dan Kesiapan Untuk Mengajarkan
فلولا نفر من كل فرقة منهم طآئفة ليتفقهوا في الدين و لينذروا قومهم إذا رجعوا إليهم لعلهم يحذرون (التوبة : 122)
Mengapa tidak segolongan saja, atau sekelompok kecil saja yang berangkat ke medan tempur dari tiap-tiap golongan besar kaum mukmin, seperti penduduk suatu negeri atau suatu suku, dengan maksud supaya orang-orang mukmin seluruhnya dapat mendalami agama mereka. Yaitu dengan cara orang yang tidak berangkat dan tinggal di kota (Madinah), berusaha keras untuk memahami agama, yang wahyu-Nya turun kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam hari demi hari, berupa ayat-ayat, maupun yang berupa hadits-hadits dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam yang menerangkan ayat-ayat tersebut, baik dengan perkataan atau perbuatan. Dengan demikian, maka diketahuilah hukum beserta hikmahnya, dan menjadi jelas hal yang masih mujmal dengan adanya perbuatan Nabi tersebut. Disamping itu orang yang mendalami agama, memberi peringatan kepada kaumnya yang pergi berperang menghadapi musuh, apabila mereka telah kembali ke dalam kota. (Al Maraghi, 1987:85-86)

B.3. Makna Tarbiyah dari Ayat

Tujuan utama dari orang-orang yang mendalami agama itu karena ingin membimbing kaumnya, mengajari mereka dan memberi peringatan kepada mereka tentang akibat kebodohan dan tidak mengamalkan apa yang mereka ketahui, dengan harapan supaya mereka takut kepada Allah dan berhati-hati terhadap akibat kemaksiatan, disamping agar seluruh kaum mukmin mengetahui agama mereka, mampu menyebarkan dakwahnya dan membelanya, serta menerangkan rahasia-rahasianya kepada seluruh umat manusia. Jadi bukan bertujuan supaya memperoleh kepemimpinan dan kedudukan  yang tinggi serta mengungguli kebanyakan orang lain, atau bertujuan memperoleh harta dan meniru orang zhalim dan para penindas dalam berpakaian, berkendaraan maupun dalam persaingan diantara sesama mereka.

Ayat tersebut merupakan isyarat tentang wajibnya pendalaman agama dan bersedia mengajarkannya di tempat-tempat pemukiman serta memahamkan orang lain kepada agama, sebanyak yang dapat memperbaiki keadaan mereka. Sehingga, mereka tidak bodoh lagi tentang hukum-hukum agama secara umum yang wajib diketahui oleh setiap mukmin.

Orang yang beruntung, dirinya memperoleh kesempatan untuk mendalami agama dengan maksud seperti ini. Mereka mendapat kedudukan yang tinggi di sisi Allah, dan tidak kalah tingginya dari kalangan pejuang yang mengorbankan harta dan jiwa dalam meninggikan kalimat Allah, membela agama dan ajaran-Nya. Bahkan, mereka boleh jadi lebih utama dari para pejuang pada selain situasi ketika mempertahankan agama menjadi wajib ‘ain bagi setiap orang.  (Al Maraghi, 1987:86)

C.      QS. Al Muzammil : 20

C.1. Ayat dan Terjemahnya
إنّ ربك يعلم أنك تقوم أدنى من ثلثى اليل و نصفه و ثلثه و طآئفة من الذين معك والله يقدر اليل و النهار علم أن لن تحصوه فتاب عليكم فاقرءوا ما تيسّر من القرءان علم أن سيكون منكم مرضى و ءاخرون يضربون في الأرض يبتغون من فضل الله وءاخرون يقتلون في سبيل الله فاقرءوا ما تيسّر منه و أقيموا الصلوة و ءاتوا الزكوة و أقرضوا الله قرضا حسنا و ما تقدموا لأنفسكم من خير تجدوه عند الله هو خيرا وأعظم أجرا واستغفروا الله إن الله غفور رحيم (المزمّل : 20)
Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan) nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al Muzammil : 20)

C.2. Tafsir Ayat
C.2.1 Tafsir Mufradat
أدنى     = Lebih sedikit
والله يقدر اليل و النهار     =
Allah mengetahui ukuran-ukuran waktu dari malam dan siang
أن لن تحصوه     =
Tidak mungkin bagimu menghitung dan menentukan saat-saat
فتاب عليكم      =
Dia memaafkan kamu dengan memberikan keringanan dalam qiyamul lail yang ditentukan itu, dan mengangkat beban tersebut darimu.
فاقرءوا ما تيسّر من القرءان =
Maka shalatlah apa yang mudah bagimu dari shalat malam
يضربون في الأرض          Mereka bepergian untuk berdagang =
و أقرضوا الله      Nafkahkanlah (harta) di jalan kebaikan =


C.2.2 Tafsir Ijmali
Allah memberikan keringanan kepada umatnya untuk meninggalkan qiyamul lail seluruhnya karena adanya masyaqah (kesulitan) yang terjadi pada mereka, jika mereka melakukan yang demikian itu. Firman-Nya,
إنّ ربك يعلم أنك تقوم أدنى من ثلثى اليل و نصفه و ثلثه و طآئفة من الذين معك
Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengetahui bahwa engkau qiyamul lail setengah malam dan lebih banyak dari setengah malam, dan engkau qiyamul lail setengah malam, juga engkau dan segolongan dari sahabat-sahabat yang beriman qiyamul lail sepertiga malam, ketika difardhukan kepadamu qiyamul lail.
والله يقدر اليل و النهار علم أن لن تحصوه فتاب عليكم
Tidak ada yang mengetahui ukuran-ukuran malam dan siang  hari kecuali Allah. Kamu tidak akan sanggup menentukan waktu waktu dan menghitung saat-saat. Maka, Allah memaafkan kamu dengan memberikan keringanan untuk meninggalkan qiyamul lail yang telah ditentukan itu. Dia memaafkan kamu dan mengangkat kesulitan ini.
Berkata Muqatil dan lain-lain, ketika diturunkan,
قم اليل إلا قليلا
Hal itu menyulitkan mereka. Seorang lelaki dari mereka tidak mengetahui kapan setengah malam dari sepertiga malam, sehingga dia qiyamul lail sampai subuh karena takut melakukan kesalahan. Lalu, Allah mengasihi mereka dan memberikan keringanan kepada mereka. Maka Allah berfirman,
علم أن لن تحصوه فتاب عليكم
Ringkasnya : Allah mengetahui bahwa kamu tidak akan dapat menghitung saat-saat diwaktu malam dengan perhitungan yang tepat. Maka, jika kamu melebihi dari apa yang telah ditentukan, hal itu akan berat bagimu dan kamu dibebani dengan apa yang tidak difardhukan bagimu. Dan jika kamu mengurangi ketentuan, maka itu pun akan berat bagimu. Maka, Allah pun memaafkan kamu dan mengembalikan kamu dari kesulitan menuju keringanan, dari kesukaran menuju kemudahan. Allah meminta kepadamu agar kamu mengerjakan shalat malam yang dapat kamu kerjakan, sebagaimana diisyaratkan dengan firman-Nya,
فاقرءوا ما تيسّر من القرءان
Shalatlah kamu apa yang mudah bagimu dari shalat malam. Berkata Al Hasan, “Yaitu apa yang dibaca dalam shalat maghrib dan isya”. Berkata As Sadi, “Ma tayassara minhu adalah seratus ayat”. Dalam beberapa atsar, “Barangsiapa yang membaca seratus ayat di waktu malam, maka ia tidak dituntut lagi oleh Al Quran. Dari Qais ibnu Hazm, dia berkata, “Aku shalat di belakang Ibnu Abbas, lalu dia membaca pada rakaat pertama Al Hamdu lillahi Rabbil’alamin dan satu ayat dari Surat Al Baqarah. Setelah kami selesai shalat, dia menghadap ke arah kami,” lalu berkata, “Sesungguhnya Allah berfirman”,
فاقرءوا ما تيسّر من القرءان
(dikeluarkan oleh Ad Daraquthni dan Al Baihaqi didalam Sunannya)
Kemudian, Allah menyebutkan udzur-udzur lain yang mempermudah keringan ini. Firman-Nya,
علم أن سيكون منكم مرضى و ءاخرون يضربون في الأرض يبتغون من فضل الله وءاخرون يقتلون في سبيل الله
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui bahwa diantara umat ini akan ada orang yang udzur sehingga karenannya mereka tidak dapat qiyamul lail, misalnya karena sakit, bepergian untuk mencari rezeki dari karunia Allah dan berperang di jalan Allah. Mereka itu, apabila tidak tidur pada waktu malam, akan mengalami banyak kesulitan dan menghadapi banyak kesusahan. Disini terdapat isyarat, bahwa tidak ada perbedaan antara jihad dalam menghadapi musuh dengan jihad dalam berdagang untuk kepentingan kaum muslimin.
Berkata Ibnu Mas’ud, “Siapa saja orang yang mendatangkan suatu manfaat ke salah satu kota islam, sedang ia bersabar dan ikhlas, lalu dia menjualnya dengan harga hari itu, maka disisi Allah dia termasuk para syuhada”, kemudian dia membacakan firman Allah Ta’ala,
و ءاخرون يضربون في الأرض يبتغون من فضل الله وءاخرون يقتلون في سبيل الله
Telah dikeluarkan oleh Al Baihaqi di dalam Syu’abul iman dari Umar Rhadiallahu’anhu, dia berkata, “Tidak ada suatu keadaan yang padanya aku didatangi kematian sesudah jihad  di jalan Allah, yang lebih aku cintai selain dari aku didatangi kematian sedang aku tengah berada diantara dua sisi gunung untuk mencari karunia Allah”, Dan dia membacakan firman-Nya,
و ءاخرون يضربون في الأرض يبتغون من فضل الله
Yang Harus Dilakukan Sesudah Ada Keringanan
Sesudah Allah menyebutkan tiga sebab yang menghendaki keringanan dan diangkatnya kewajiban qiyamul lail dari umat ini, Dia menyebutkan apa yang harus mereka lakukan sesudah keringanan ini. Firman-Nya,
فاقرءوا ما تيسّر منه
Minhu disini adalah minal Quran, dan yang dimaksud adalah shalatlah kamu sebagaimana telah disebutkan.
و أقيموا الصلوة و ءاتوا الزكوة و أقرضوا الله قرضا حسنا
Kerjakanlah olehmu shalat yang difardhukan dan luruskanlah shalat itu, sehingga hatimu tidak lalai dan perbuatanmu tidak keluar dari apa yang telah ditentukan oleh agama. Tunaikanlah zakat yang wajib bagimu, dan berikanlah pinjaman yang baik kepada Allah dengan jalan menafkahkan harta di jalan kebaikan, untuk individu-individu dan golongan-golongan, sehingga membawa manfaat bagi mereka dalam kemajuan peradaban dan sosial. Dan balasan dari yang demikian itu pun akan kamu jumpai di sisi Tuhanmu.
Semakna dengan ayat ini adalah firman-Nya,
من ذا الذي يقرض الله قرضا حسنا فيضاعفه له أضعافا كثيرا
“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipatganda yang banyak.” (QS Al Baqarah : 245)

Kemudian, Allah menganjurkan untuk bersedekah dan berbuat kebajikan, Firman-Nya,
و ما تقدموا لأنفسكم من خير تجدوه عند الله هو خيرا وأعظم أجرا
Apa yang kamu kerjakan untuk dirimu di dunia ini, berupa sedekah atau nafkah yang kamu belanjakan di jalan Allah, atau ketaatan seperti shalat, puasa, haji dan lain-lainnya, akan kamu temui pahalanya disisi Allah pada hari kiamat, lebih baik dari apa yang kamu simpan di dunia dan lebih besar manfaatnya bagimu.
واستغفروا الله
Mohonlah kepada Allah pengampunan dari dosa-dosamu, tentu Allah akan mengampuni dan menghapuskannya pada hari perhitungan dan pembalasan.
إن الله غفور رحيم (المزمّل : 20)
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun terhadap orang-orang yang berdosa dan mempunyai kekurangan, dan Dia pun Maha Penyayang sehingga Dia tidak menyiksa mereka karena dosa-dosa tersebut sesudah mereka bertaubat darinya.

Kita memohon  kepada Allah Ta’ala agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan yang terlanjur kita lakukan, berkat keutamaan makhluk-Nya yang palin baik dan penghulu orang-orang pilihan-Nya. Semoga Allah melimpahkan shalawat kepada Muhammad dan golongannya. (Al Maraghi, 1987:194-200)

C.3. Makna Tarbiyah dari Ayat

Allah memerintahkan beberapa hal kepada Rasul-Nya Shalallahu ‘alaihi wa Sallam :

1.      Agar beliau qiyamul lail, sepertiga, setengah atau dua pertiga malam.
2.      Agar beliau membaca Al Quran dengan pelan-pelan dan perlahan.
3.      Agar beliau meringankan qiyamul lail sesudah ternyata kesulitannya bagi sahabat-sahabatnya karena banyak alasan, dan agar beliau mencukupkan dengan shalat malam yang difardhukan pum terdapat banyak manfaat bagi umat jika disertai dengan penunaian zakat dan kekekalan istighfar. (Al Maraghi, 1987:200)



D.      QS. Muhammad : 24

D.1. Ayat dan Terjemahnya
أفلا يتدبّرون القرءان أم على قلوب أقفالهآ (محمد : 24)
Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci? (QS Muhammad : 24)

D.2. Tafsir Ayat
D.2.1 Tafsir Mufradat
يتدبّرون القرءان   =
Mereka memeriksa nasihat-nasihat dan larangan-larangan yang terdapat dalam Al Quran, sehingga mereka berhenti dari melakukan hal-hal yang menyebabkan kebinasaan.

D.2.2 Tafsir Ijmali
أفلا يتدبّرون القرءان أم على قلوب أقفالهآ (محمد : 24)
Apakah orang-orang munafik itu tidak memperhatikan nasihat-nasihat Allah yang Dia nasihatkan pada ayat-ayat kitab-Nya dan apakah mereka tidak memikirkan tentang hujjah-hujjah Allah yang telah Dia terangkan dalam kitab-Nya, sehingga mereka mengetahui kekeliruan yang mereka pegangi, atau mereka benar-benar telah ditutup hatinya oleh Allah sehingga mereka tidak dapat memikirkan lagi pelajaran-pelajaran maupun nasihat-nasihat yang telah Dia turunkan dalam kitab-Nya.
Kesimpulannya : Bahwa mereka berada diantara dua keadaan yang kedua-keduanya buruk, memuat kehancuran dan menjerumuskan ke neraka. Yaitu, mereka tidak memikirkan lagi dan tidak memperhatikan, bahkan mereka telah tidak punya lagi, sehingga tidak dapat memahami sesuatu pun. (Al Maraghi, 1987:115 dan 118)

D.3. Makna Tarbiyah dari Ayat
D.3.1. Memperhatikan nasihat-nasihat Allah yang Dia nasihatkan pada ayat-ayat kitab-Nya dan memikirkan tentang hujjah-hujjah Allah yang telah Dia terangkan dalam kitab-Nya..
D.3.2. Memeriksa nasihat-nasihat dan larangan-larangan yang terdapat dalam Al Quran, sehingga manusia berhenti dari melakukan hal-hal yang menyebabkan kebinasaan.

E.       Wajib Belajar Presfektif Pemerintah RI

Dalam ketentuan Pasal 34 ayat (4) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yaitu Peraturan Pemerintah tentang Wajib Belajar.
Implementasi dari Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional maka pemerintah menetapkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 2008 tentang Wajib Belajar. Dalam Peraturan Pemerintah tersebut tertera pada Pasal 2 ayat (1) dan (2) Bab II mengenai Fungsi dan Tujuan, yaitu :
1.      Wajib belajar berfungsi mengupayakan perluasan dan pemerataan  kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi setiap warga Negara Indonesia.
2.      Wajib belajar bertujuan memberikan pendidikan minimal bagi warga Negara Indonesia untuk dapat mengembangkan potensi dirinya agar dapat hidup mandiri di dalam masyarakat atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.



BAB III
PENUTUP


Kesimpulan

Wajib mendalami agama dan bersedia mengajarkannya di tempat-tempat pemukiman serta memahamkan orang lain kepada agama, sebanyak yang dapat memperbaiki keadaan mereka. Sehingga, mereka tidak bodoh lagi tentang hukum-hukum agama secara umum yang wajib diketahui oleh setiap mukmin. Orang yang beruntung, dirinya memperoleh kesempatan untuk mendalami agama. Mereka mendapat kedudukan yang tinggi di sisi Allah, dan tidak kalah tingginya dari kalangan pejuang yang mengorbankan harta dan jiwa dalam meninggikan kalimat Allah, membela agama dan ajaran-Nya. Bahkan, mereka boleh jadi lebih utama dari para pejuang pada selain situasi ketika mempertahankan agama menjadi wajib ‘ain bagi setiap orang. 



DAFTAR PUSTAKA


·      Al Maraghi. (1987). Terjemah Tafsir Al Maraghi Jilid 11, 26, 29, dan 30. CV Toha Putra : Semarang

·      Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 2008 tentang Wajib Belajar

0 Response to "Kewajiban Belajar Dalam Al-Quran"

Posting Komentar