Pengertian Ta'lim Dalam Alquran


PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan hal yang sangat strategis dalam membangun sebuah peradaban, khususnya peradaban yang Islami. Bahkan, ayat pertama Al-‘Alaq, diturunkan oleh Allah sangat berhubungan dengan pendidikan. Proses dakwah Rasulullah pun dalam menyebarkan Islam dan membangun peradaban tidak lepas dari pendidikan Rasul terhadap para sahabat.
Dalam literatur pendidikan Islam, setidaknya ada lima istilah yang sering digunakan untuk menyebut pendidikan. Istilah-istilah ini juga dapat dikaji untuk lebih dekat dan tepat memahami makna pendidikan yang sebenarnya. Kelima istilah tersebut adalah tarbiyah, ta’lim, tadris, tadib, dan tahdzib. Ta’lim lebih menekankan pada aspek kognitif dan keterampilan. Secara bahasa ta’lim semakna dengan al-i’lam, yakni pemberitahuan informasi. Proses ta’lim dilakukan secara berulang-ulang sehingga dapat diingat. Ta’lim tidak menuntut lebih dari guru yang melaksanakan pengajaran, peserta didik hanya harus memperhatikan dan mendengarkan materi yang disampaikan guru. (Rosyidin, 2009:20-21)
Oleh karena itu, dalam penulisan makalah kali ini penulis akan memaparkan pengertian ta’lim secara lebih mendalam menurut pandangan        Al-Quran.





PEMBAHASAN
A.      QS. Al-Baqarah Ayat 31
وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْماءَ كُلَّها ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلائِكَةِ فَقالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْماءِ هؤُلاءِ إِنْ كُنْتُمْ صادِقِينَ (31)
Artinya:
Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, Kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"

1.      Makna Mufrodat
a.       الأسماء: واحدها اسم، وهو في اللغة ما به يعلم الشيء
Bentuk tunggalnya adalah ismun, secara bahasa berarti sesuatu yang biasa diketahui dengan menyebutka namanya.
b.      الإنباء: الإخبار، وقد يستعمل فى الإخبار بما فيه فائدة عظيمة
Memberi kabar, biasanya kata ini dipakai untuk memberitahukan hal-hal yang agung
c.       سبحانك: أي تقديسا وتنزيها لك
Maha suci Engkau (Allah)
d.      العليم: هو الذي لا تخفى عليه خافية
ialah zat yang tidak ada sesuatu pun yang samar bagi-Nya
e.       الحكيم: هو المحكم لمبتدعاته، الذي لا يفعل إلا ما فيه الحكمة البالغة.
yang Maha Bijaksana dalam penciptaan-Nya
Al-Maraghi (TT:1:81)
{وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ} أَيْ أَسَمَاء الْمُسَمَّيَات {كُلّهَا} بِأَنْ أَلْقَى فِي قَلْبه عِلْمهَا {ثُمَّ عَرَضَهُمْ} أَيْ الْمُسَمَّيَات وَفِيهِ تَغْلِيب الْعُقَلَاء {عَلَى الْمَلَائِكَة فَقَالَ} لَهُمْ تَبْكِيتًا ? {أَنْبِئُونِي} أَخْبِرُونِي {بِأَسْمَاءِ هَؤُلَاءِ} الْمُسَمَّيَات {إنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ} فِي أَنِّي لَا أَخْلُق أَعْلَم مِنْكُمْ أَوْ أَنَّكُمْ أَحَقّ بِالْخِلَافَةِ وَجَوَاب الشَّرْط دَلَّ عَلَيْهِ مَا قَبْله Jalalain (TT:1:9)
Dalam tafsir Jalalain dijelaskan : (Dan  diajarkan-Nya kepada Aldam nama-nama) maksudnya nama-nama benda – (kesemuanya) sampai-sampai pada pinggan kecil, penyauk air dan lain-lain dengan jalan memasukkan ke dalam kalbunya pengetahuan tentang benda-benda itu,- (kemudian dikemukakan-Nya mereka) maksudnya benda-benda tadi yang ternyata bukan saja benda-benda mati tetapi juga makhluk-makhluk berakal,- (kepada para malaikat, lalu Allah berfirman) untuk memojokkan mereka : (beritahukanlah kepada-Ku) sebutkanlah : - (nama-nama mereka) yakni nama-nama benda itu – (jika kamu memang benar)  bahwa tidak ada yang lebih tahu daripada kamu di antara makhluk-makhluk yang Kuciptakan atau bahwa kamulah yang lebih berhak untuk menjadi khalifah, sebagai “jawab syarat” ditunjukkan oleh kalimat sebelumnya. Assuyuti (2007: 1 :18)


2.      Makna Ijmali
قد علمت مما سبق أن هذه المراجعات والمناظرات إما أن نفوّض أمر معرفتها إلى الله كما هو رأى السلف، وإما أن نلجأ فيها إلى التأويل، وأحسن طرقه أن يكون الكلام ضربا من التمثيل بإبراز المعاني المعقولة بالصور المحسوسة تقريبا للأفهام.
وبهذا القصص نعرف ما امتاز به النوع الإنسانى عن غيره من المخلوقات، وأنه مستعدّ لبلوغ الكمال العلمي إلى أقصى الغايات، دون الملائكة، ومن ثمّ كان أجدر بالخلافة منهم.
Anda mengetahui pembahasan yang telah lalu bahwa dialog antara Allah dan Malaikat, pengertiannya terkadang diserahkan sepenuhnya kepada Allah. Namun, terkadang menurut pendapat kami, pendapat yang benar adalah, dialog tersebut merupakan jenis tamtsil (perumpamaan) dengan maksud mengungkapkan pengertian dengan makna yang bisa dicerna oleh akal, yakni memperagakannya dalam bentuk dialog agar mudah dipahami.
            Melalui kisah tersebut, kita bisa mengetahui keistimewaan jenis makhluk manusia dibanding jenis makhluk Allah yang lain. Di samping itu, pada diri manusia telah disediakan alat untuk bisa meraih kematangan secara sempurna di bidang ilmu pengetahuan, lebih jauh jangkauannya dibanding malaikat. Berdasarkan inilah maka manusia itu lebih diutamakan menjadi khlifah Allah dibanding malaikat , Musthafa, Ahmad Al-Maraghi.(1992: 1: 138)

3.      Nilai Tarbiyah
Di dalam surat Al-Baqarah ayat 31 ini terdapat beberapa nilai tarbiyah yaitu:
a. Mengajarkan sesuatu itu dari yang global sampai yang terkecil.
b. Dalam kegiatan belajar mengajar perlu adanya evaluasi.
c. Pendidikan sangat di perlukan oleh manusia karena tanpa belajar manusia tidak akan mengetahui apa-apa.

B.  Ar-Rahman Ayat 2-4

zN¯=tæ tb#uäöà)ø9$# ÇËÈ   šYn=y{ z`»|¡SM}$# ÇÌÈ   çmyJ¯=tã tb$ut6ø9$# ÇÍÈ  
Artinya:
2. yang telah mengajarkan Al Quran.
3. Dia menciptakan manusia.
4. mengajarnya pandai berbicara.

1.      Makna Mufrodat
a.       Menurut Tafsir Jalalain
1)      عَلَّمَ الْقُرْاٰنَ: {علم} من شاء {القرآن}
Telah mengajarkan kepada siapa yang dikehendaki-Nya (Al-Quran)
                                                                             
2)      خَلَقَ الْاِنْسَانَ  : {خَلَقَ الْإِنْسَان} أَيْ الْجِنْس                                
Dia menciptakan manusia
3)      عَلَّمَهُ الْبَيَانَ : {عَلَّمَهُ الْبَيَان} النُّطْق
Mengajarnya pandai berbicara atau dapat berbicara.
Jalaluddin, Al-Mahahi dan Imam Jalaluddin As-Suyuti (2006:2:984)

b.      Menurut Tafsir Al-Maraghi
1)       الْاِنْسَانَ:  هو هذا النوع
Umat manusia
2)      الْبَيَانَ : تعبير الإنسان عما فى ضميره وإفهامه لغيره
Kemampuan manusia untuk mengutarakan isi hati dan memahamkannya kepada orang lain
Al-Maraghi (1993:27:185)

2.      Makna Ijmali
a.       Menurut Tafsir Al-Maraghi:
بين سبحانه ما صنعه المليك المقتدر من النعم لعباده، رحمة بهم فأفاد:
(1) أنه علم القرآن وأحكام الشرائع لهداية الخلق وإتمام سعادتهم فى معاشهم ومعادهم.
(2) أنه خلق الإنسان على أحسن تقويم وكمله بالعقل والمعرفة.
(3) أنه علمه النطق وإفهام غيره، ولا يتم هذا إلا بنفس وعقل.
Al-Maraghi (TT:27:104)

Allah SWT menerangkan nikmat-nikmat yang dibuat oleh Raja Yang Maha Kuasa itu untuk hamba-hamba-Nya, sebagai rahmat bagi mereka. Yaitu:
1)      Bahwa Dia mengajarkan Al-Quran dan hukum-hukum syariat untuk menunjuki makhluk-Nya dan menyempurnakan kebahagiaan mereka dalam penghidupan di dunia maupun di akhirat.
2)      Bahwa Dia telah menciptakan manusia dalam bentuk yang terbaik dan menyempurnakannya dengan akal dan pengetahuan.
3)      Bahwa Dia telah mengajari manusia kemampuan berbicara dan memahamkan kepada orang lain, hal tersebut tidak bisa terlaksanakan kecuali dengan adanya jiwa dan akal.
Al-Maraghi (1993:27:186)

b.      Menurut Tafsir Fi Zhilalil-Quran:
عَلَّمَ الْقُرْآنَ (2)
Inilah nikmat yang besar. Pada nikmat ini terlihat jelas kasih sayang Ar-Rahman kepada manusia. Itulah nikmat Al-Quran sebagai terjemahan yang benar dan sempurna atas berbagai kaidah alam semesta ini. Nikmat Al-Quran sebagai manhaj langit bagi bumi yang mengantarkan penghuninya kepada aturan-aturan alam semesta yang meluruskan aqidah mereka, konsepsinya, pertimbangannya, nilai-nilainya, sistemnya, dan segala perilakunya di atas landasan yang kokoh dimana alam semesta bertumpu. Lalu, Al-Quran menganugerahi mereka kemudahan, kepuasan, dan kepahaman serta dapat merespon hukum-hukum alam tersebut.
Al-Quran yang membukakan indera dan rasa manusia kepada alam semesta yang indah ini seolah-olah baru pertama kali mencerahkannya. Maka, Al-Quran memberikan cita rasa baru akan keberadaan diri mereka sebagaimana ia pun memberikan cita rasa baru ihwal alam semesta yang ada di sekelilingnya. Al-Quran memberi hal lebih dan menganugerahkan kehidupan baru pada segala sesuatu yang ada di sekitar mereka yang merespon dan berinteraksi dengan manusia. Tiba-tiba manusia berada di tengah-tengah sahabat dan teman yang mengasihi kemanapun mereka berjalan atau dimanapun mereka tinggal sepanjang perjalanan mereka di atas planet ini.
Al-Quranlah yang mengakui keabadian mereka sebagai khalifah di muka bumi, bahwa mereka dimuliakan di sisi Allah, dan bahwa mereka sebagai pemikul amanah yang tidak dapat dipikul oleh langit, bumi, dan gunung. Al-Quranlah yang memberitahukan kepada mereka ihwal nilai dirinya yang mereka peroleh melalui aktualisasi kemanusiaannya yang tinggi melalui satu-satunya sarana. Yaitu, keimanan yang menghidupkan ruhnya dengan tiupan Allah dan yang mewujudkan nikmat-Nya yang besar atas manusia.
Karena itu, pengajaran Al-Quran lebih dahulu disebutkan daripada penciptaan manusia. Dengan cara seperti ini, terwujudlah konsep manusia di alam nyata ini.
خَلَقَ الْإِنْسَانَ (3) عَلَّمَهُ الْبَيَانَ (4)
Kita melihat manusia dapat bertutur, mengungkapkan, menjelaskan, saling memahami, dan berdialog dengan orang lain. Karena terlampau biasa, kita melupakan anugerah yang besar dan keluarbiasaan ini. Maka, Al-Quran mendorong dan menggugah kita untuk merenungkan anugerah ini dalam berbagai ayat.
Manusia adalah sebuah sel yang mengawali kehidupannya di dalam rahim. Sebuah sel yang sederhana, kecil, hina, dan tidak bernilai. Ia hanya dapat dilihat melalui kaca pembesar dengan tidak terlampau jelas. Ia tidak tampak nyata.
Tidak lama berselang sel ini pun menjadi janin, yaitu janin yang terdiri dari jutaan sel yang bervariasi, penting, memiliki tulang rawan, otot, syaraf, dan kulit. Dari sel itulah tercipta organ tubuh, indera, ddan aneka fungsinya yang menakjubkan seperti pendengaran, penglihatan, perasaan, penciuman, perabaan, dan sebagainya. Kemudian tercipta pula suatu hal yang sangat luar biasa dan rahasia yang agung, yaitu kemampuan memahami, menerangkan, merasa, dan intuisi. Semua itu berasal dari sebuah sel yang sederhana, kecil, tidak berarti, dan hina yang tidak jelas dan tidak tampak nyata. Quthb (2003:11:118-119)
3.      Nilai Tarbiyah
Nilai tarbiyah dari Al-Quran surat Ar-Rahman ayat 2,3, dan 4 jika dihubungkan dengan makna ta’lim yaitu:
a.       Ta’lim dalam Al-Quran surat Ar-Rahman pada ayat 2 dan 4 yang menggunakan fi’il madhi عَلَّمَ berarti mengajarkan.
b.      Jika dilihat pada ayat 1 QS. Ar-Rahman yaitu الرَّحْمٰن maka dapat disimpulkan bahwa seperti halnya tarbiyah, ta’lim juga harus dilaksanakan dengan kasih sayang.
c.       Sebagaimana dahulu Nabi Muhammad diajarkan Al-Quran melalui malaikat Jibril dan mengajarkannya lagi kepada orang lain, maka proses ta’lim dapat meliputi beberapa aspek yaitu belajar mendengarkan dengan baik, belajar mengucapkan dengan baik dan benar, belajar memahami, dan belajar berbicara di depan orang agar orang lain dapat memahami apa yang kita bicarakan.
d.      Sebenarnya kemampuan-kemampuan mendengarkan, memahami, dan berbicara sudah dianugerahkan Allah kepada semua manusia yang diciptakan-Nya, akan tetapi semuanya itu harus diasah dalam proses ta’lim agar kemampuan yang dianugerahkan Allah tersebut dapat berkembang dengan baik dan dapat dimanfaatkan bagi kebaikan.

C. Al-Kahfi ayat 66
tA$s% ¼çms9 4ÓyqãB ö@yd y7ãèÎ7¨?r& #n?tã br& Ç`yJÏk=yèè? $£JÏB |MôJÏk=ãã #Yô©â ÇÏÏÈ  
Artinya:
Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?"

1. Makna Mufradat
a. Menurut Tafsir Ibnu Katsir
تفسير المفردات:
{ أَتَّبِعُكَ } أي: أصحبك وأرافقك، { عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا } أي: مما علمك الله شيئًا، أسترشد به في أمري، من علم نافع وعمل صالح.
{ أَتَّبِعُكَ } أي: أصحبك وأرافقك: Aku mengikutimu? ”yakni menemanimu.
{ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا }:Supaya engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah di ajarkan kepadaku?”
Ishaq (2008:5:366)

2. Makna Ijmali
 a. Menurut Tafsir Fii Zhilalil-Qur’an
Alangkah sopan adab yang di tunjukkan oleh seorang nabi Allah ini. Musa memohon penjelasan pemahaman tanpa memaksa. dan ia mencari ilmu yang dapat memberikan petunjuk dari hamba saleh yang alim itu.
Namun, ilmu itu hamba yang saleh itu bukanlah ilmu seorang manusia yang sebab-sebabnya jelas dan hasil-hasilnya Dekat. Sesungguhnya ia termasuk ilmu laduni tentang perkara gaib, yang di ajarkan oleh Allah kepadanya tentang qadar yang di inginkannya untuk hikmah yang di inginkannya. Oleh karena itu, Musa tidak akan mampu bersabar bersama hamba saleh itu dan perilaku-perilakunya, walaupun dia seorang nabi dan rasul. Karena perilaku-perilaku hamba saleh tersebut yang tampak di permukaan kadang kala terbentur dengan logika akal yang lahiriah dan hukum-hukum yang lahiriah. Pasalnya, perilaku hamba yang saleh itu mengharuskan adanya pengertian dan pengetahuan tentang hikmah gaib yang ada di baliknya.
Bila tidak memiliki bekal itu, maka perilaku–perilaku tersebut akan tampak aneh dan pasti di ingkari. sehingga, hamba saleh yang telah di beriilmu laduni itu sangat khawatir terhadap musa, karena ia pasti tidak mampu bersabar atas keikutsertaannya dan tingkahlakunya. Quthb (2003:7:330)

3. Nilai Tarbiyah
Di dalam surat Al-Kahfi ayat 66 ini terdapat beberapa nilai tarbiyyah yaitu:

a.       Sopan santun
Sopan santun dalam mencari ilmu merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada guru. Sebagaimana di contohkan oleh nabi Musa dalam ayat ini yang di tunjukkan oleh lafadz:
tA$s% ¼çms9 4ÓyqãB ö@yd y7ãèÎ7¨?r&
 Dalam hal ini nabi Musa sebagai orang yang berminat untuk mendapat ilmu dari nabi Khidhir, dengan penuh rasa sopan santun beliau meminta izin terlebih dahulu sebelum mengikuti rangkaian kegiatan yang berhubungan dengan ilmu yang akan di ajarkan oleh nabi Khidhir.

b. Mencari ilmu
Bahwa ilmu itu di antaranya akan di dapat dengan cara berguru kepada orang yang memiliki ilmu yang belum di ketahui oleh kita.
c. Meminta penjelasan
Tidak ada salahnya seorang murid meminta kepada gurunya agar menjelaskan pelajaran yang belum di mengerti. Sebagaimana nabi musa meminta untuk menjelaskan maksud sebenarnya dari rentetan kejadian yang tidak bias langsung di pahami olehnya.

D.  Makna-makna At-Ta’lim
Dalam buku Akar-akar Pendidikan, Dedeng Rosidin (2003: 68-69) menjelaskan beberapa makna-makna At-Ta’lim, diantaranya:
a)      Ta’lim adalah proses pemberitahuan sesuatu dengan berulang-ulang dan sering sehingga muta’allim (siswa) dapat mempersiapkan maknanya dan berbekas pada dirinya.
b)      Ta’lim rabbani adalah penyampaian sesuatu melalui wahyu atau ilham dengan cara; Allah mendapati jiwa seseorang dan memandangnya dengan  pandangan ilahi. Allah adalah sebagai guru (mu’allim) dan jiwa sebagai murid (muta’allim). Ilmu diberikan langsung kepadanya tanpa belajar dan berfikir.
c)      Ta’lim adalah kegiatan yang dilakukan oleh mu’allim dan muta’allim yang menuntut adanya adab-adab tertentu, bersahabat, dan bertahap.
d)     Penyampaian materi di dalam ta’lim diiringi dengan penjelasan sehingga muta’allim menjadi tahu dari asalnya yang tidak tahu dan menjadi paham dari asalnya tidak paham.
e)      Ta’lim berttujuan agar ilmu yang disampaikan bermanfa’at, melahirkan amal shalih, memberi petunjuk ke jalan kebahhagiaan dunia akhirat untuk mencapai ridha Allah SWT.
f)       Ta’lim merupakan kegiatan yang dilakukan mu’allim tidak hanya sekedar penyampaian materi, melainkan disertai dengan penjelasan isi, makna dan maksudnya, sehingga muta’allim menjadi paham, terjaga, dan terhindar dari kekeliruan, kesalahan dan kebodohan
g)      Ta’lim adalah pembinaan intelektual, pemberian ilmu yang mendorong amal yang bermanfaat sehingga muta’allim menjadi suri tauladan dalam perkataan dan perbuatan
h)      Ta’lim dilakukan dengan niat karena Allah SWT dengan metode yang mudah diterima
i)        Pada kegiatan ta’lim tersirat adanya mu’allim (guru sebagai pengajar), yu’allim (proses kegiatan belajar mengajar), muta’allim (murid yang menerima pelajaran), dan al’ilmu (materi atau bahan yang disampaikan)
j)        Mu’allim yang sebenarnya secara mutlak adalah Allah SWT karena Dia sebagai sumber ilmu dan Dialah pemberi ilmu.
k)      Ta’lim terjadi pada diri manusia juga terjadi pada binatang. Pada umumnya ta’lim digunakan pada manusia dewasa
l)        Mu’allim harus senantiasa meningkatkan diri dengan belajar dan membaca sehingga ia memperoleh banyak ilmu
m)    Mu’allim senantiasa berlaku baik, tidak suka menyiksa fisik, balas dendam, membenci dan mencaci murid.



PENUTUP
A.    Kesimpulan
Karakteristik Ta’lim :
1.      Pengertian Ta’lim yang tersirat dalam surat Ar-Rahman ayat 2-4 yaitu memberitahukan, menjelaskan, dan memberi pemahaman.
2.      Subjek Ta’lim dipaparkan dalam surat Al-Baqarah ayat 31 adalah Allah SWT sebagai pengajar (guru), sedangkan dalam surat Al-Kahfi ayat 66 subjeknya adalah manusia/ Khidhir yang secara khusus diberi ilmu oleh Allah SWT.
3.      Objek Ta’lim dalam surat Al-Baqarah ayat 31 yaitu murid (siswa) dan materi yang diajarkan.
4.      Cakupan/ ruang lingkup Ta’lim menurut surat Al-Baqarah ayat 31, tersirat unsur-unsur Ta’lim yaitu: guru, murid, proses, dan materi pelajaran. Dan pada surat Al-Kahfi ayat 66 tersirat materi pelajarannya yaitu ilmu laduni atau ilmu ghaib yang dapat menunjukkan pada ketahuidan.
5.      Metode Ta’lim diperlukan dalam proses pengajaran, sebagaimana yang tersirat pada makna ‘allama menurut surat Al-Baqarah ayat 31 yaitu secara sekaligus maupun setahap demi setahap.
6.      Sikap dalam Ta’lim yang tersirat dalam surat Al-Kahfi ayat 66 yaitu perlunya adab seorang murid kepada gurunya, belajar kepada yang lebih tau, dan pergi mencari ilmu.
7.      Tujuan Ta’lim ialah agar ilmu yang disampaikan bermanfaat, melahirkan amal shalih, memberi petunjuk kejalan kebahagiaan dunia akhirat untuk mencapai ridha Allah SWT.
8.      Karakter Mu’alim yang tersirat dalam surat Al-Kahfi yaitu harus mengajar dengan penuh hikmah dan keshalihan
9.      Karakter Muta’alim yang tersirat dalam surat Al-Kahfi yaitu harus memiliki kesabaran dalam menuntut ilmu.

B.     Saran
Pada pembahasan yang telah kami susun dengan judul “Pengertian Ta’lim menurut Al-Qur’an”, adanya isyarat bagi guru untuk meningkatkan diri, proses bertahap, berkelanjutan, menuntut adab-adab tertentu, metode yang mudah diterima, dan lainnya, yang mana hal ini semata-mata untuk taat beribadah memperoleh ridha Allah SWT, semoga kita dapat menjadi seorang pendidik yang paham akan hakikat Ta’lim. Aamiin



LAMPIRAN
DISKUSI KELOMPOK 2
1.      Bagaimana pendapat kelompok 2 tentang ilmu sirri?
Ilmu sirri (ilmu tersembunyi) adalah ilmu yang biasanya
2.      Dalam QS. Al-Kahfi ayat 66, lafadz mana yang menunjukkan mu’allim harus sabar?
Dalam QS. Al Kahfi 66 diceritakan bahwa Nabi Musa ingin menjadi murid Nabi Khidhir, dan syarat yang harus dilakukan Nabi Musa agar dapat menjadi murid Nabi Khidhir dan dapat menerima ilmu darinya yaitu harus sabar. Jadi disini yang harus sabar yaitu muta’allim, bukan mu’allim.
3.      Di dalam surat-surat Al-Quran yang telah dijelaskan, metode ta’lim yang bagaimana yang efektif dan mudah dipahami muta’allim?
Ta’lim Rabbani yaitu ta’lim yang muta’allimnya adalah Allah SWT. Metode yang digunakan dalam ta’lim ini  adalah metode ilqoiyah atau talqin. Dalam metode ini, Allah langsung menuangkan ilmunya kepada muta’allimnya. Jadi tanpa proses yang lama, muta’allimnya pun tiba-tiba bisa dan sudah dapat menyerap ilmunya.
Ta’lim Insani yaitu ta’lim yang muta’allimnya adalah seorang manusia. Metode yang digunakan dalam ta’lim ini adalah metode tadrij, munaqosah









DAFTAR PUSTAKA

Alu Syaikh, Abdullah bin Muhammad Abdurrahman bin Ishaq. 2008. Terjemah Tafsir Ibnu Katsir Jilid 5. Jakarta: Imam asy-Syafi’i.
Al-Maraghi. 1971. Tafsir al-Maraghi. Baerut: Dar al-Fikr.
Al-Marogi,A.M.tt.Tafsir Al-Maroghi.(Maktabah Syamilah)Baerut:Dar al-Fikr
Ash-Shawi, Ahmad.1993.Hatsiyatu’sh-Shawiy ‘ala Tafsiri’l-Jalalaini, Beirut: Daru’l-Fikr
Rosidin, Dedeng. 2003. Akar-Akar Pendidikan Dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits. Bandung: Pustaka Umat.
Jalaluddin, Al-Mahahi dan Imam Jalaluddin As-Suyuti.tt.Tafsir Jalalain (Maktabah Syamilah)
Jalaluddin, Al-Mahahi dan Imam Jalaluddin As-Suyuti.2006. Terjemah Tafsir Jalalain Jilid 1 .Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Jalaluddin, Al-Mahahi dan Imam Jalaluddin As-Suyuti.2006. Terjemah Tafsir Jalalain Jilid 2. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Syamil Al-Qur’an.2010. Qur’an Tajwid dan Terjemahnya Dilengkapi dengan Asbabun Nuzul dan Hadits Shahih. Bandung: PT. Sygma Examedia Arkanleema.
Musthafa, Ahmad Al-Maraghi. 1993. Terjemah Tafsir Al-Maraghi jilid 1. Semarang: CV. Toha Putra.
Musthafa, Ahmad Al-Maraghi. 1993. Terjemah Tafsir Al-Maraghi jilid 15. Semarang: CV. Toha Putra.
Musthafa, Ahmad Al-Maraghi. 1993. Terjemah Tafsir Al-Maraghi jilid 27. Semarang: CV. Toha Putra.
Quthb, Sayyid. 2003. Terjemah Tafsir Fi Zhilalil Qur’an Jilid 1. Jakarta: Gema Insani
Quthb, Sayyid. 2003. Terjemah Tafsir Fi Zhilalil Qur’an Jilid 7. Jakarta: Gema Insani
Quthb, Sayyid. 2003. Terjemah Tafsir Fi Zhilalil Qur’an Jilid 11. Jakarta: Gema Insani


0 Response to "Pengertian Ta'lim Dalam Alquran "

Posting Komentar