Konsep Pendidikan Dalam Alquran


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Sungguh sangat merasa bersyukur dengan memeluknya agama islam yang telah dibawa melalui orang tua kita karena islam merupakan agama yang universal. Agama islam tidak hanya membahas tentang ibadah yang ada di dalamnya, namun terdapat juga berbagai macam bahan pengajaran yang sangat bermanfaat untuk seluruh umat dalam mengarungi kehidupan. Maka dari itu penulis merasa tergugah untuk mencari bahan-bahan pengajaran yang terdapat pada kitab suci umat islam yaitu Al-Qur’an. Melalui makalah ini penulis berusaha untuk membahas sebuah kajian tafsir yang berjudul bahan pengajaran dalam Al-Qur’an.
Perubahan yang terus menerus terjadi pada dunia pendidikan tidak lain untuk kemajuan pendidikan tersebut. Namun itu semua haruslah dibarengi dengan bahan pembelajaran yang berlandaskan Alqur’an dan assunnah agar tidak tergilas zaman dan hilang nilai keislamannya. Seiring dengan adanya globalisasi kebudayaan dari barat maka kita sebagai pendidik harus menguatkan diri para peserta didik kita dengan  landasan yang kuat yaitu agama.
Dengan adanya pembahasan tentang bahan ajar dalam alquran diharapkan agar para pengajar selalu menjadikan alqur’an sebagai pedoman dalam segi pendidikan serta kehidupan, agar selalu berada dalam ridho dan karuniaNya


B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah, sebagai berikut:
1.      Apa tafsiran ayat 12-19 dalam surat Luqman dan korelasinya dengan pendidikan?
2.      Apa tafsiran ayat 2 dalam surat Al-Jumuah dan korelasinya dengan pendidikan?
3.      Apa tafsiran ayat 59 dalam surat An-Nisa dan korelasinya dengan pendidikan?


C.Tujuan
Adapun tujuan penulisan masalah dalam makalah ini adalah, sebagai berikut:
1.      Memahami tafsir ayat 12-19 dalam surat Luqman dan mengkorelasikan dengan pendidikan.
2.      Memahami tafsir ayat 2 dalam surat Al-Jumuah dan mengkorelasikan dengan pendidikan.
3.      Memahami tafsir ayat 59 dalam surat An-Nisa dan mengkorelasikan dengan pendidikan.



D.Metodogloi Penulisan Makalah
Metode penulisan makalah ini menggunakan studi pustaka. Kami mencari referensi yang berkaitan dengan judul makalah ini. Baik literaturnya beruba tafsir, buku, artikel dan lain-lain.














BAB II
PEMBAHASAN
Konsep pendidikan dalam Al Qur’an
Konsep Pendidikan Dalam Islam Menurut Surah Luqman ayat 12 – 19 adalah
Sebagaimana  kita ketahui pendidikan merupakan  suatu yang sangat  penting bagi manusia. Dan Islam menempatkan pendidikan sebagai sesuatu yang esensial dalam kehidupan umat manusia. Bila melihat dalam Al Quran banyak ide atau gagasan kegiatan atau usaha pendidikan, antara lain dapat dilihat dalam surah Luqman ayat 12-19. Dalam Al Quran surah Luqman tidak menjelaskan banyak tentang kehidupan Luqman hanya menjelaskan tentang wasiatnya.
Adapun pokok-pokok pendidikan dalam surah Luqman ayat 12-19 ,dalam garis besarnya terdiri dari lima aspekyaitu:

a)      pendidikanAqidah,
b)     pendidikanberbakti ( ubudiyah),
c)      pendidikankemasyarakatan ( sosial ),
d)     pendidikan mental
e)      pendidikanakhlak ( budipekerti ).
 Isi nasihat itu adalah pesan-pesan pendidikan yang seharusnya dicontoh oleh setiap orang tua muslim yang memiku ltanggung jawab pendidikan terhadap anak. Ini adalah sebagai isyarat dari Allah SWT supaya setiap ibu dan bapak dapat melaksanakan pula terhadap anak-anak mereka sebagaimana yang telah dilakukan oleh Luqman. Dan pada ayat 13 sampai 19 terdapat nasihat-nasihat Luqman kepada anaknya yang sarat dengan nilai-nilai sebagai konsep pendidikan agama yang harus diterapkan oleh orang tua kepada anak-anaknya.




Q.S. Luqman Ayat 12-19 :
وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ (12) وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (13) وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (14) وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (15) يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ (16) يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ (17) وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (18) وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ (19)

Tafsir Mufrodat
Menurut Jalalain
وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ:
(Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Luqman hikmah) antara lain ilmu, agama dan tepat pembicaraannya, dan kata-kata mutiara yang diucapkannya cukup banyak serta diriwayatkan secara turun-temurun. Sebelum Nabi Daud diangkat   menjadi rasul dia selalu memberikan fatwa, dan dia sempat mengalami zaman kenabian Nabi Daud, lalu ia meninggalkan fatwa dan belajar menimba ilmu dari Nabi Daud. Sehubungan dengan hal ini Luqman pernah mengatakan, "Aku tidak pernah merasa cukup apabila aku telah dicukupkan." Pada suatu hari pernah ditanyakan oleh orang kepadanya, "Siapakah manusia yang paling buruk itu?" Luqman menjawab, "Dia adalah orang yang tidak mempedulikan orang lain yang melihatnya sewaktu dia mengerjakan kejahatan." (Yaitu) dan Kami katakan kepadanya,
أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ
hendaklah (bersyukurlah kamu kepada Allah) atas hikmah yang telah dilimpahkan-Nya kepadamu.
وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ
(Dan barang siapa yang bersyukur kepada Allah, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri) karena pahala bersyukurnya itu kembali kepada dirinya sendiri

وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
(dan barang siapa yang tidak bersyukur) atas nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepadanya (maka sesungguhnya Allah Maha Kaya) tidak membutuhkan makhluk-Nya (lagi Maha Terpuji) Maha Terpuji di dalam ciptaan-Nya.

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ
(Dan) ingatlah (ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia menasihatinya, "Hai anakku) lafal bunayya adalah bentuk tashghir yang dimaksud adalah memanggil anak dengan nama kesayangannya

لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
(janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan) Allah itu (adalah benar-benar kedzaliman yang besar.") Maka anaknya itu bertobat kepada Allah dan masuk Islam
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ
(Dan Kami wasiatkan kepada manusia terhadap kedua orang ibu bapaknya) maksudnya Kami perintahkan manusia untuk berbakti kepada kedua orang ibu bapaknya
حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ
bertambah-tambah) ia lemah karena mengandung, lemah sewaktu mengeluarkan bayinya, dan lemah sewaktu mengurus anaknya di kala bayi (dan menyapihnya) tidak menyusuinya lagi (dalam dua tahun)
أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
Kami katakan kepadanya (bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang ibu bapakmu, hanya kepada Akulah kembalimu) yakni kamu akan kembali.

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ
(Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu) yakni pengetahuan yang sesuai dengan kenyataannya

فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
(maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan cara yang makruf) yaitu dengan berbakti kepada keduanya dan menghubungkan silaturahmi dengan keduanya (dan ikutilah jalan) tuntunan (orang yang kembali) orang yang bertobat (kepada-Ku) dengan melakukan ketaatan (kemudian hanya kepada Akulah kembali kalian, maka Kuberitakan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan) Aku akan membalasnya kepada kalian. Jumlah kalimat mulai dari ayat 14 sampai dengan akhir ayat 15 yaitu mulai dari lafal wa washshainal insaana dan seterusnya merupakan jumlah i'tiradh, atau kalimat sisipan.

يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ
("Hai anakku, sesungguhnya) perbuatan yang buruk-buruk itu (jika ada sekalipun hanya sebesar biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi) atau di suatu tempat yang paling tersembunyi pada tempat-tempat tersebut
يَأْتِ بِهَا اللَّهُ
(niscaya Allah akan mendatangkannya) maksudnya Dia kelak akan menghisabnya.

إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ
(Sesungguhnya Allah Maha Halus) untuk mengeluarkannya (lagi Maha Waspada) tentang tempatnya.

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ
(Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan mungkar serta bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu) disebabkan amar makruf dan nahi mungkarmu itu.

إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
(Sesungguhnya yang demikian itu) hal yang telah disebutkan itu (termasuk hal-hal yang ditekankan untuk diamalkan) karena mengingat hal-hal tersebut merupakan hal-hal yang wajib.
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ
(Dan janganlah kamu memalingkan) menurut qiraat yang lain dibaca wa laa tushaa`ir (mukamu dari manusia) janganlah kamu memalingkannya dari mereka dengan rasa takabur
وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا
(dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh) dengan rasa sombong.

إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
(Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong) yakni orang-orang yang sombong di dalam berjalan (lagi membanggakan diri) atas manusia.

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ
(Dan sederhanalah kamu dalam berjalan) ambillah sikap pertengahan dalam berjalan, yaitu antara pelan-pelan dan berjalan cepat, kamu harus tenang dan anggun
وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ
(dan lunakkanlah) rendahkanlah (suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara) suara yang paling jelek itu (ialah suara keledai.") Yakni pada permulaannya adalah ringkikan kemudian disusul oleh lengkingan-lengkingan yang sangat tidak enak didengar.


Tafsir Ijmali
Luqman  yang  disebut  oleh  surah  Lukman  adalah  seorang  tokoh  yang  diperselisihkan  identitasnya.  Orang  Arab  mengenal  dua  tokoh  yang  bernama Luqman.  Pertama,  Luqman  Ibn  Ad.  Tokoh  ini mereka  agungkan  karena wibawa, kepemimpinan,  ilmu, kefasihan dan kepandaiannya.  Ia kerap kali dijadikan  sebagai pemisalan dan perumpamaan. Tokoh kedua adalah Luqman al-Hakim yang  terkenal dengan  kata-kata  bijak  dan  perumpamaan-perumpamannya.  Agaknya  dialah  yang dimaksud oleh surat ini.( M. Quraish Shihab,2002:125) Dalam tafsir Ibnu Katsir bahkan disebutkan nama lengkap  Luqman adalah Luqman bin Anqa’ bin Sadun menurut kisah yang dikemukakan oleh  As-Suhaili.( M. Nasib Ar-Rifai, 1999: 789)

Al-Baghdadi (2005:182) mengemukakan  bahwa  “Luqman  bukan  dari  kalangan  Arab, tetapi  seorang  ëajami,  yaitu  anak  Baíura  dari  keturunan  Azar  (orang  tua  Nabi Ibrahim), anak saudara perempuan Nabi Ayyub, atau anak bibi nabi Ayyub. Banyak perbedaan  pendapat  tentang  asal-usul  Luqman  tersebut.  Ada  yang  mengatakan bahwa ia seorang bangsa Negro Sudan, Mesir Hulu atau Habsyi yang warna kulitnya itam,  hidup  selama  seribi  tahun  dan  berjumpa  dengan Nabi Dawud  sehingga Nabi Dawud  banyak menimba  ilmu  darinya. Ada  yang  berpendapat  bahwa  dia  seorang Nabi,  dan  ada  pula  yang membantah  pendapat  itu  dengan mengatakan  bahwa  dia hanyalah seorang ahli hikmah”.
Para ulama salaf pun berikhtilaf mengenai Luqman apakah dia seorang Nabi atau  hamba Allah  yang  shaleh  tanpa menerima  kenabian. Mengenai  hal  ini  ada  pendapat. Mayoritas ulama berpendapat bahwa dia adalah hamba Allah yang shaleh tanpa  menerima  kenabian.  Menurut  Ibnu  Abbas,  Luqman  adalah  seorang  hamba berkebangsaan  Habsyi  yang  berprofesi  sebagai  tukang  kayu.  Sementara  Jabir  bin Abdillah mengidentifikasi  Luqman  sebagai  orang  bertubuh  pendek  dan  berhidung pesek. Sedangkan Said bin Musayyab mengatakan bahwa Luqman berasal dari kota Sudan,  memiliki  kekuatan,  dan  mendapat  hikmah  dari  Allah,  namun  dia  tidak menerima kenabian.( M. Nasib Ar-Rifai,1999)
Tentang  pekerjaannya  juga  diperselisihkan,  ada  yang  mengatakan  sebagai qadhi  kaum  Bani  Israil,  ada  yang  mengatakan  sebagai  tukang  jahit,  ada  yang mengatakan sebagai penggembala ternak, atau sebagi tukang kayu. Namun semua itu tidak  penting,  dan  mungkin  saja  kesemua  pekerjaan  itu  pernah  dilakukannya, mengingat usianya yang mencapai 1000 tahun.
Menurut  Al-Baghdadi(1999:183)  dalam  kitabnya  Ruh Maíani  fi  Tafsir  al-Qurían  al-Azim wa al-sabíu al-Maatsani dan menurut Al-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir fi al-Aqidah wa al- Syariah wa al-Manhaj-nya Luqman  juga mempunyai  seorang anak yang juga diperselisihkan oleh para ulama. Ada yang mengatakan Tsaran, Masykam, Aníam, Asykam  dan  atau Matan. Anak  dan  isterinya  pada mulanya  kafir. Tapi  ia selalu  berusaha  memberi  pendidikan  dan  pengajaran  kepada  anak  dan  isterinya sampai keduanya beriman dan menerima ajaran tauhid yang diajarkan Luqman.

Dan Menurut  Hamka(1988:114)  dalam  Tafsir  al-Azhar  menegaskan  bahwa  di  dalam mencari intisari al-Qur’an tidaklah penting bagi kita mengetahui dari mana asal-usul Luqman. Al-Qurían pun tidaklah menonjolkan asal-usul. Yang penting adalah dasar-dasar  hikmah  yang  diwasiatkannya  kepada  puteranya  yang  mendapat  kemulian demikian  tinggi.  Sampai  dicatat  menjadi  ayat-ayat  dari  Al-Qur’an,  disebutkan  namanya 2 kali, yaitu pada ayat 12 dan 13 dalam surat 31, yang diberi nama dengannamanya ; Luqman.
Jelaslah bahwa Luqman adalah seorang ahli hikmah, kata-katanya merupakan pelajaran  dan  nasehat,  diamnya  adalah  berpikir,  dan  isyarat-isyaratnya merupakan peringatan. Dia bukan seorang Nabi melainkan seorang yang bijaksana, yang Allah telah memberikan kebijaksanaan di dalam lisan dan hatinya, dimana ia berbicara dan mengajarkan kebijaksanaan  itu kepada manusia. Dalam al-Qurían pun diungkapkan bahwa  dia  dianugerahi  berupa  ìhikmahî  oleh  Allah  SWT.  Banyak  perkataannya yang  mengandung  hikmah,  sebagaimana  dapat  dilihat  perkataannya  itu  ketika  iaberkata  kepada  anak  laki-lakinya.  Tafsir  al-Maraghi  mengemukakan  empat perkataan Luqman tersebut antara lain :
1.     Hai  anakku,  sesungguhnya  dunia  itu  adalah  laut  yang  dalam,  dan sesungguhnya  telah  banyak  manusia  yang  tenggelam  ke  dalamnya.  Maka jadikanlah taqwa sebagai perahunya untuk bertaqwa kepada Allah, muatannya iman  sebagai  layarnya  bertawakkal  kepada Allah.  Barangkali  saja  kamu  dapat selamat  (tidak  tenggelam  ke  dalamnya),  akan  tetapi  aku  yakin  kamu  akan selamat.
2.     Barang  siapa  yang  dapat  menasehati  dirinya  sendiri,  niscaya  ia  akan mendapat  pemeliharaan  dari  Allah.  Dan  barang  siapa  yang  dapat menyadarkan  orang-orang  lain  akan  dirinya  sendiri,  niscaya  Allah  akan menambah  kemuliaan  baginya  karena  hal  tersebut. Hina  dalam  rangka  taatkepasa Allah lebih baik daripada membanggakan diri dalam kemaksiatan.
3.     Hai  anakku,  janganlah  kamu  bersikap  terlalu  manis,  karena  engkau  pasti ditelan,  dan  jangan  kamu  bersikap  terlalu  pahit  karena  engkau  pasti  akan dimuntahkan
4.     Hai  anakku,  jika  kamu  hendak  menjadikan  seseorang  sebagai  teman (saudaramu), maka butalah dia marah kepadamu sebelum itu, maka apabila ia bersikap  pemaaf  terhadap  dirimu  di  kala marah, maka  persaudarakanlah  ia. Dan apabila ia tidak mau memaafkanmu maka hati-hatilah terhadap dirinya.( Ahmad Mustafa Al Maraghi,1993:146)
Tafsir ayat 13 :
Dalam ayat 13, Allah mengabarkan tentang wasiat Luqman kepada anaknya, yaitu Luqman bin ‘Anqa bin Sadun, dan nama anaknya Tsaran, sebagaimana yang telah disebutkan oleh Suhaili dalam tafsir Ibnu Katsir (Kairo, 2000: 53)  agar anaknya tersebut hanya menyembah Allah semata dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun. Ungkapan “la tusyrik billah” dalam ayat ini, memberi makna bahwa ketauhidan merupakan materi pendidikan terpenting yang harus ditanamkan pendidik kepada anak didiknya karena hal tersebut merupakan sumber petunjuk ilahi yang akan melahirkan rasa aman. Sebagaimana firman Allah: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS Al-An’am: 82). Penyampaian materi pendidikan dalam ayat ini, diawali dengan  penggunaan kata “Ya bunayya” (wahai anakku) merupakan bentuk tashgir (diminutif) dalam arti belas kasih dan rasa cinta, bukan bentuk diminutif penghinaan atau pengecilan (Al-Alusi, 1999: 114).
Dimensi Konsep Pendidikan Mendidik Anak Menurut Surah Luqman Ayat 13
Dari referensi ini terlihat bahwa seluruh dimensi yang dikandung dalam Al Quran memiliki misi dan implikasi kependidikan yang bergaya impratif, motivatif dan persuatif dimanis sebagai suatu sistem pendidikan yang utuh dan demokrasi lewat prosesmanusiawi.
 Pendidikan aqidah merupakan landasan pertama dalam pembentukan karakteristik dan moral anak. Kewajiban orang tua muslim adalah memelihara akidah mereka, jangan sampai dikotori oleh kepercayaan atau keyakinan yang salah.” Janganlah menyekutuhkan Allah SWT ” Janganlah mengangkat Tuhan selain Allah SWT.

Tafsir ayat 14-15 :
Setelah Allah swt menjelaskan washiyat Luqman kepada anaknya, agar ia bersyukur kepada pemberi nikmat pertama, selanjutnya Allah mewashiyatkan anak agar berbuat baik dan ta’at kepada kedua orang tuanya, serta memenuhi hak-hak mereka.( Ahmad Mustafa Al Maraghi, 1993:82)
Dalam ayat 14 dapat diungkap pula makna tujuan manusia yang terangkum dalam kalimat “ilayyal mashir”, yaitu kembali kepada kebenaran hakiki dimana sumber kebenaran itu sendiri adalah Allah semata-mata. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tujuan hidup manusia adalah penyerahan diri secara total kepada Allah. Salah satu ajaran Islam yang termasuk dalam bidang kebaktian dan akhlak, yang diperintahkan kepada manusia melaksanakannya, ialah berbuat baik dengan ibu dan bapak, birrul walidain, kewajiban itu dirangkaikan dan disenafaskan dengan perintah menyembah Allah SWT dan diletakkan tempatnya pada nomor dua sesudah berbakti (ta’abbudi ) kepada Allah SWT pencipta alam semesta ini. Wasiat bagi anak untuk berbakti kepada kedua orangtuanya muncul berulang-ulang dalam wasiat Rasulullah. Namun, wasiat buat orang tua tentang anaknya sangat sedikit.
Dalam konteks surah Luqman ayat 14, Allah SWT menghendaki agar sang anak berbakti kepada kedua orang tua mereka dan bersifat lemah lembut kepada keduanya, itu pun masih jauh dari cukup bila dibandingkan dengan kepayahan dan kelelahan orang tua dalam mengandung, membesarkan dan mendidik sang anak hingga beranjak dewasa. Apakah kandungan ayat di atas merupakan nasihat Luqman secara langsung atau tidak?. Yang jelas ayat di atas menyatakan : Dan kami wasiatkan, yakni berpesan dengan amat kokoh kepada semua manusia.
Semua manusia yang hidup di dunia ini berhutang budi kepada orang tua. Dan kami perintahkan kepada manusia ( berbuat baik) kepada ke dua orang tua ibu bapak. Oleh karena itu anak berkewajiban menghormati dan menjalin hubungan baik dengan ibu dan bapak

Tafsir ayat 16
Al-Qurthubi mengatakan dalam tafsir Al-Jami’ li Ahkaamil Qur’an (Kairo, 1994: 68): “Makna ayat ini yaitu bahwa Allah menghendaki amal-amal perbuatan, baik itu perilaku maksiat maupun perilaku ketaatan. Maksudnya: Jika amal itu adalah amal baik atau amal itu adalah amal buruk, meski itu seberat biji sawi, niscya Allah akan mendatangkannya. Yakni bahwa seorang manusia tidak akan kehilangan sesuatu yang telah ditakdirkan padanya.”

Tafsir ayat 17
            Ada empat washiat Luqman terhadap anaknya; 1) Shalat Ibadah, 2) Amar ma’ruf, 3) Nahu munkar, keduanya termasuk bidang muamalah, dan 4) shabar, ini masuk dalam bidang akhlak.( M. Ali Ash-Shabuny,2002:336)
Hubungan kepada Allah SWT dalam bentuk shalat ini dinyatakan oleh ayat 17 surat Luqman. Pada ayat ini Allah SWT mengabadikan empat bentuk nasihat untuk penetapanjiwaanaknyaaitu:
a.Dirikanlahshalat
b.Menyuruhberbuatyangbaik(makruf)
c.Mencegahberbuatmungkar  
d. Bersabar atas segala musibah.
 Inilah empat modal hidup yang diberikan Luqman kepada anaknya dan diharapkan menjadi modal hidup bagi kita semua yang disampaikan Muhammad SAW kepada umatnya.
Dengan demikian ayat ini memberi indikasi bahwa salat sebagai peneguh pribadi, amar makruf nahi mungkar dalam hubungan masyarakat, dan sabar untuk mencapai apa yang dicita-citakan. Menurut filsafat Islam sikap sabar ada lima macam, yaitu :
1) Sabar dalam beribadah (Ashsbru fil ibadah), ialah tekun mengendalikan diri melaksanakansyarat-syaratdantatatertibibadah.
2) Sabar ditimpa malapetaka atau musibah (Ashshabru indal mushibah), ialah teguh hati ketika mendapat musibah (cobaan ujian) baik yang berbentuk kemiskinan, kematian,kecelakaan,kejatuhan,diserangpenyakit
3) Sabar terhadap kehidupan dunia (Ashshabru anid-dunya) ialah sabar terhadap tipu daya dunia, jangan sampai hati terpaut kepada kenikmatan hidup di dunia ini, jangan dijadikan tujuan, tetapi hanya sebagai alat untuk mempersiapkan diri mengahadapai kehidupanyangkekal.
4) Sabar terhadap ma’siat (Ashshabru anil ma’shiah) ialah mengendalikan diri supaya tidakberlakuma’siat.
5) Sabar dalam perjuangan (Ashshabru fil jihad), ialah menyadari sepenuhnya bahwa setiap perjuangan mengalami masa naik dan turun, masa menang dan kalah.
               Dimensinya Secara umum dimensi pendidikan kesabaran dapat dibagi dalam dua bagian pokok: Pertama, sabar jasmani yaitu kesabaran dalam menerima dan melaksanakan perintah-perintah keagamaan yang melibatkan anggota tubuh, seperti sabar dalam melaksanakan ibadah haji yang mengakibatkan keletihan atau sabar dalam peperangan membela kebenaran.Termasuk pula dalam kategori ini, sabar dalam menerima cobaan-cobaan yang menimpa jasmani seperti penyakit, penganiayaan dan semacamnya. Kedua sabar rohani menyangkut kemampuan menahan kehendak nafsu yang dapat mengantar kepada kejelekan-kejelekan seperti sabar menahan amarah atau menahan nafsu sexsual yang bukan pada tempatnya. Adapun yang amat terpuji adalah orang-orang yang sabar yakni tabah, menahan diri, dan berjuang dalam mengatasi kesempitan, yakni kesulitan hidup seperti krisis ekonomi, penderitaan seperti penyakit atau cobaan, dan dalam peperangan, yakni perang sedang berkecamuk. Mereka itulah orang-orang yang benar dalam arti sesuai sikap, ucapan, dan perbuatannya dan mereka itulahorang-orangyangbertakwa.

Tafsir ayat 18
 Luqman mengatakan: “Jangan kamu palingkan wajahmu dari manusia ketika berbicara kepada mereka atau mereka berbicara denganmu karena merendahkan mereka dan sombong kepada mereka. Akan tetapi berlemah lembutlah kamu, dan tampakkan keramahan wajahmu pada mereka (Sebagaiman dijelaskan Ibnu Katsir dalam tafsir Al-Qur’nul ‘Adzim, Kairo, 2000: 56).
Allah Ta’ala berfirman:“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. Al-Isra: 37)
Allah berfirman: “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” Nilai pendidikan yang terdapat dalam ayat ini berkaitan dengan metode pendidikan, yaitu menyampaikan komunikasi melalui pemisalan. Tamtsil yang dimaksud adalah keledai dengan sifat yang melekat dalam dirinya yang digunakan untuk mengumpamakan orang yang bersuara keras.
Tafsir ayat 19 :
Ayat ini menerangkan lanjutan wasiat Luqman kepada anaknya, yaitu agar anaknya berbudi pekerti yang baik, yaitu dengan:
1.      Jangan sekali-kali bersifat angkuh dan sombong, suka membangga-banggakan diri dan memandang rendah orang lain. Tanda-tanda seseorang yang bersifat angkuh dan sombong itu ialah:
a.       Bila berjalan dan bertemu dengan temannya atau orang lain, ia memalingkan mukanya, tidak mau menegur atau memperlihatkan sikap ramah kepada orang yang berselisih jalan dengannya.
b.      Ia berjalan dengan sikap angkuh, seakan-akan di jalan ia yang berkuasa dan yang paling terhormat.
2.   Hendaklah sederhana waktu berjalan, lemah lembut dalam berbicara, sehingga orang yang melihat dan mendengarnya merasa senang dan tenteram hatinya. Berbicara dengan sikap keras, angkuh dan sombong itu dilarang Allah karena pembicaraan yang semacam itu tidak enak didengar, menyakitkan hati dan telinga, seperti tidak enaknya suara keledai.( M Hasbi Ash-shiddiqy, 1964:60-70)

Nilai Tarbawi :
1.      Bahwa ketauhidan merupakan materi pendidikan terpenting yang harus ditanamkan pendidik kepada anak didiknya karena hal tersebut merupakan sumber petunjuk ilahi yang akan melahirkan rasa aman. 
2.      Bahwa salah satu diantara tugas pendidik ialah menyayangi anak didiknya sebagaimana seorang ayah menyayangi anaknya, bahkan lebih. Dan selalu menasehati serta mencegah anak didiknya agar terhindar dari akhlak tercela.
3.      Anak didik diajak berdialog dengan menggunakan potensi pikirnya agar potensi itu dapat berkembang dengan baik.
4.      Pentingnya menanamkan pada diri anak sifat untuk terlebih dahulu memperbaiki diri sendiri sebelum memperbaiki orang lain. Ini ditunjukan dengan dimulai dengan perintah shalat lalu  amar ma’ruf nahu munkar.
5.      etika berinteraksi dengan lingkungan masyarakat yang lebih luas. Sopan dan rendah hati dapat dipandang sebagai materi yang sangat penting untuk diajarkan sebagai bekal bersosialisasi.
6.      Materi akhlak pada tingkat dasar, hendaknya yang mudah, sederhana, dan menyentuh kehidupan sehari-hari
7.      Pengajaran akhlak sangat penting diterapkan pada pendidikan tingkat dasar

 ولقد : " الواو" حرف قسم, و"اللام" لام جواب القسم, و "قد" حرف تحقيق
$oY÷s?#uä    : فعل ماض مبنى على السكون لاتصاله بنا الفاعلين و "نا" ضمير متصل مبنى على السكون فى محل رفع فاعل
 z`»yJø)ä9: مفعول به أول منصوب وعلامة ىصبه الفتحة الظاهرة
spyJõ3Ïtø:$#: مفعول به ثان منصوب وعلامة ىصبه الفتحة الظاهرة
Èbr&      : حرف تفسير
öä3ô©$ #  : فعل أمر مبني على السكون والفاعل ضمير مستتير تقديره " أنت "
¬!      : جار و مجرور
`tBur     : " الواو " حرف استئناف, وز " من " اسم استفهام مبني على السكون فى محال رفع مبتدأ
öà6ô±tƒ : فعل مضارع فعل الشرط مجزوم وعلامة جزمه السكون والفاعل ضمير مستتير تقديره هو
$yJ¯RÎ*sù  : "الفاء" رابطة لجواب الشرط و "إنّما" كافة ومكفوفة
ãä3ô±o   : فعل مضارع مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة والفاعل ضمير مستتير تقدير "هو"
ÏmÅ¡øÿuZÏ9 : جار و مجرور و "الهاء" ضمير متصل مبني على الكسر فى محل جر مضاف إليه, والجملة فى محل جزم جواب الشرط و الشرط وجوابه فى محل رفع خبر المبتدإ "من"
`tBur    : "الواو" حرف عطف و "من" اسم استفهام مبني على السكون فى محل رفع مبتدأ
txÿx.    : فعل ماض مبني على الفتح فى محل جزم والفاعل ضمير مستتير تقديره"هو"
¨bÎ*sù     : "الفاء" رابطة لجواب الشرط و "إنّ" حرف توكيد و نصب
©!$#     : اسم "إنّ" منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة
;ÓÍ_xî     : خبر "إنّ" مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة
ÓÏJym : خبر "إنّ" ثان مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة, والجملة فى محل جزم جواب الشرط والشرط وجوابه فى محل رفع خبر المبتدإ "من"
13
øŒÎ)ur       : "الواو" حرف عطف و"إذ" مفعول به لفعل محذوف تقديره "اذكر" مبني على السكون فى محل نصب
 tA$s%    : فعل ماض مبني على الفتح
ß`»yJø)ä9 : فاعل مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة
 ÏmÏZö/ew  : جار و مجرور و"الهاء" ضمير متصل مبني على الكسر فى محل جر مضاف إليه
 uqèdur    : "الواو" حالية و "هو" ضمير منفصل مبني على الفتح فى محل رفع مبتدأ
mÝàÏètƒ   : فعل مضارع مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة و "الهاء" ضمير متصل مبني على الضم فى محل نصب مفعول به و الفاعل ضمير مستتير تقدير "هو", والجملة فى محل نصب حال
¢Óo_ç6»tƒ   : "يا" حرف نداء و "بنيّ" منادى منصوب و علامة نصبه الفتحة الظاهرة لأنّه مضاف و "الياء" ضمير متّصل مبني على الفتح فى محل جر مضاف اليه
 Ÿw      : حرف نهي و جزم
 õ8ÎŽô³è@ : فعل مضارع مجزوم و علامة جزمه السكون و الفاعل ضمير مستتير تقديره "انت"
 «!$$Î/   : جار و مجرور
žcÎ)   : حرف توكيد و نصب
x8÷ŽÅe³9$# : اسم "إنّ" منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة
 íOù=Ýàs9 : "اللام" المزحلقة لتوكيد و "ظلم" خبر "إنّ" مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة
ÒOŠÏàtã : نعت مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة



14
$uZøŠ¢¹urur: "الواو" حرف عطف و "وصّينا" فعل ماض مبني على السكون لاتصاله بنا الفاعلين و"نا" ضمير متصل مبني على السكون فى محل رفع فاعل
z`»|¡SM}$# : مفعول به منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة
Ïm÷ƒyÏ9ºuqÎ/ : "الباء" حرف جر و"والدى" اسم مجرور وعلامة جرّه الياء لأنه مثنى وحذفت نونه للإضافة و"الهاء" ضمير متصل مبني على الكسر فى محل جر مضاف إليه     
 çm÷Fn=uHxq : فعل ماض مبني على الفتح و"التاء" للتأنيث و"الهاء" ضمير متصل مبني على الضم فى محل نصب مفعول به
 çmBé&    : فاعل مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة و"الهاء" ضمير متصل مبني على الضم محل جر مضاف إليه
 $·Z÷dur   : حال منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة
4n?tã    : حرف جر
 9`÷dur   : اسم مجرور وعلامة جره الكسرة الظاهرة
çmè=»|ÁÏùur : "الواو" حرف استئناف و"فصاله" مبتدأ مرفوع وغلامة رفعه الضمة الظهرة و"الهاء" ضمير متصل مبني على الضم فى محل جر مضاف إليه
 Îû        : حرف جر
Èû÷ütB%tæ : اسم مجرور وعلامة جره الياء لأنّه مثنى, وشبه الجملة فى محل رفع خبر المبتدإ
 Èbr&     : حرف تفسير
 öà6ô©$# : فعل أمر مبني على السكون والفاعل ضمير مستتير تقديره "انت"
 Í<       : جار و مجرور
y7÷ƒyÏ9ºuqÎ9ur : "الواو" حرف عطف و"لوالديك" جار و مجرور وعلامة جره الياء لأنّه مثنى وحذفت نونه للإضافة و"الكاف" ضمير متصل مبني على الفتح فى محل جر مضاف إليه
 ¥n<Î)     : جار و مجرور وشبه الجملة فى محل رفع مقدم
 çŽÅÁyJø9$#  : مبتدأ مؤخر مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة
15
bÎ)ur     : "الواو" حرف عطف و "إن" حرف شرط
š#yyg»y_ : فعل ماض مبني على الفتح في محل جزم و"ألف الإثنين" ضمير متصل مبني على السكون فى محل رفع فاعل و"الكاف" ضمير متصل مبني على الفتح فى محل نصب مفعول به
#n?tã     : حرف جر
br&      : حرف مصدرى و نصب
 šÍô±è@ : فعل مضارع منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة والفاعل ضمير مستتير تقديره "أنت" والمصدر المؤول "أن تشرك" فى محل جر ب "على"
 Î1      : جار مجرور
 $tB      : اسم موصول مبني على السكون في محل نصب مفعول به
 }§øŠs9  : فعل ماض ناسخ مبني على الفتح
y7s9     : جار و مجرور, و شبه الجملة فى محل نصب خبر ليس مقدم
ÏmÎ/       : جار و مجرور متعلق ب "علم"
ÖNù=Ïæ     : اسم ليس مؤخر مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة , والجملة صلة الموصول لامحل لها من الإعراب
Ÿxsù     : "الفاء" حرف عطف و"لا" حرف نهي و جزم
 $yJßg÷èÏÜè? : فعل مضارع فعل الشرط مجزوم وعلامة جزمه السكون والفاعل ضمير مستتير تقديره "انت" و "هما" ضمير متصل مبني على السكون فى محل نصب مفعول به, والجملة فى محل جزم جواب الشرط
$yJßgö6Ïm$|¹ur : "الواو" حرف عطف و"صاحبهما" فعل امر مبني على السكون و"هما" ضمير متصل مبني على السكون فى محل نصب مفعول به والفاعل ضمير مستتير تقديره "انت"
Îû       : حرف جر
$u÷R9$# : اسم مجرور وعلامة جره الكسرة لأنّه اسم مقصور
$]ùrã÷ètB : نائب عن المفعول المطلق منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة
 ôìÎ7¨?$#ur : "الواو" حرف عطف و"اتبع" فعل أمر مبني على السكون والفاعل ضمير مستتير تقديره "أنت"
Ÿ@Î6y : مفعول به منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة
ô`tB      : اسم موصول مبني على السكون فى محل جرّ مضاف اليه
z>$tRr&   : فعل ماض مبني على الفتح والفاعل ضمير مستتير تقديره "هو" والجملة صلة الموصول لامحل لها من الإعراب
 ¥n<Î)     : جار مجرور
 ¢OèO     : حرف عطف
 ¥n<Î)      : جار مجرور و شبه الجملة فى محل رفع خبر مقدم
öNä3ãèÅ_ötB : مبتدأ مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة و"كم" ضمير متصل مبني على السكون فى محل جر مضاف اليه
Nà6ã¥Îm;tRé'sù : "الفاء" رابطة و"أنبئكم" فعل مضارع مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة و"كم" ضمير متصل مبني على السكون فى محل نصب مفعول به والفاعل ضمير مستتير تقديره "أنا"
$yJÎ/      : "الباء" حرف جر و"ما" اسم موصول مبني على السكون فى محل جر
óOçFZä.   : فعل ماض ناسخ مبني على السكون لاتصاله بتاء الفاعل و"تم" ضمير متصل مبني على السكون فى محل رفع اسم كان
 tbqè=yJ÷ès? : فعل مضارع مرفوع وعلامة رفعه ثبوت النون لأنه من الأفعال الخمسة, و"واو الجماعة" ضمير متصل مبني على السكون فى محل رفع فاعل, والجملة فى محل نصب خبر كان و جملة "كنتم..." صلة الموصول لامحل لها من الإعراب
16
  ¢Óo_ç6»tƒ :  "يا" حرف نداء و"بنيّ" منادى منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة لأنّه مضاف و"الياء" ضمير متصل مبني على الفتح فى محل جر مضاف اليه
!$pk¨XÎ)     : "إنّ" حرف توكيد و نصب و"ها" ضمير متّصل مبني على السكون فى محل نصب اسم "إنّ"
bÎ)      : حرف شرط
à7s?     : فعل مضارع مجزوم وعلامة جزمه السكون المقدر على النون المحذوفة للتحفيف واسم تك ضمير مستتير تقديره "هي"
tA$s)÷WÏB : خبر تك منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة
 7p¬6ym   : مضاف اليه مجرور وعلامة جره الكسرة الظاهرة
 ô`ÏiB      : حرف جر
5AyŠöyz : اسم مجرور وعلامة جره الكسرة الظاهرة
 `ä3tFsù :"الفاء" حرف عطف و"تكن" معطوف مجزوم وعلامة جزمه السكون واسم تكن ضمير مستتير تقديره "هي"
Îû         : حرف جر
>ot÷|¹ : اسم مجرور وعلامة جره الكسرة الظاهرة , وشبه الجملة فى محل نصب خبر تكن
÷rr&       : حرف عطف
Îû       : حرف عطف
 ÏNºuq»yJ¡¡9$# : اسم مجروروعلامة جره الكسرة الظاهرة
÷rr&       : حرف عطف
Îû         : حرف جر
ÇÚöF{$# : اسم مجروروعلامة جره الكسرة الظاهرة
 ÏNù'tƒ   : فعل مضارع مجزوم وعلامة جزمه حذف حرف العلة
 $pkÍ5      : جار و مجرور
 ª!$#     : اسم الجلالة فاعل مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة , والجملة فى محل جزم جواب الشرط وجوابه فى محل رفع خبر "إنّ"
¨bÎ)      : حرف توكيد و نصب
©!$#     : اسم "إنّ" منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة
 ì#ÏÜs9 : خبر"إنّ" مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة
 ×ŽÎ7yz  : خبر"إنّ" ثان مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة
17
¢Óo_ç6»tƒ   : "يا" حرف نداء و"بنيّ" منادى منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة لأنّه مضاف و"الياء" ضمير متصل مبني على الفتح فى محل جر مضاف اليه
 ÉOÏ%r&    : فعل أمر مبني على السكون وحرّك بالكسر لالتقاء الساكنين والفاعل ضمير مستتير تقديره "أنت"
 no4qn=¢Á9$# : مفعول به منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة
 öãBù&ur   : "الواو" حرف عطف و"اؤمر" فعل أمر مبني على السكون والفاعل ضمير مستتير تقديره "أنت"
 Å$rã÷èyJø9$$Î/ : جار مجرور
tm÷R$#ur    : "الواو" حرف عطف و"انه" فعل أمر مبني على حذف حرف العلة والفاعل ضمير مستتير تقديره "أنت"
 Ç`tã     : حرف جر
̍s3ZßJø9$#  : اسم مجرور وعلامة جره الكسرة الظاهرة
÷ŽÉ9ô¹$#ur  : "الواو" حرف عطف و"اصبر" فعل أمر مبني على السكون والفاعل ضمير مستتير تقديره "أنت"
4n?tã    : حرف جر
 !$tB      : اسم موصول مبني على السكون فى محل جرّ
 y7t/$|¹r& : فعل ماض مبني على الفتح و"الكاف" ضمير متصل مبني على الفتح فى محل نصب مفعول به والفاعل ضمير مستتير تقديره "هو" والجملة صلة الموصول لامحل لها من الإعراب
 ¨bÎ)     : حرف توكيد و نصب
 y7Ï9ºsŒ : اسم إشارة مبني على السكون فى محل نصب اسم "إنّ"
ô`ÏB       : حرف جر
ÇP÷tã     : تسم مجرور و علامة جره الكسرة الظاهرة
ÍqãBW{$#   : مضاف اليه مجرور و علامة جره الكسرة الظاهرة, و شبه الجملة فى محل رفع خبر "إنّ"
18
Ÿwur     : "الواو" حرف عطف و"لا" حرف نهي وجزم
öÏiè|Áè? : فعل مضارع مجزوم وعلامة جزمه السكون والفاعل ضمير مستتير تقديره "انت"

š£s{: مفعول به منصوب وغلامة نصبه الفتحة الظاهرة و"الكاف" ضمير متصل مبني على الفتح فى محل جر مضاف اليه
Ĩ$¨Z=Ï9 : جار و مجرور
 Ÿwur    : "الواو" حرف عطف و"لا" حرف نهي وجزم
 Ä·ôJs? : فعل مضارع مجزوم وعلامة جزمه السكون والفاعل ضمير مستتير تقديره "انت"
Îû       : حرف جر
ÇÚöF{$# : اسم مجرور وعلامة جره الكسرة الظاهرة


$·mttB  : حال منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة
 ¨bÎ)     : حرف توكيد و نصب
©!$#     : اسم الجلالة اسم "إنّ" منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة
Ÿw       : حرف نفى
 =Ïtä  : فعل مضارع مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة والفاعل ضمير مستتير تقديره "هو", والجملة فى محل رفع خبر "إنّ"
¨@ä.     : مفعول به منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة
5A$tFøƒèC  : مضاف اليه منصوب وعلامة نصبه الكسرة الظاهرة
9qãsù  : نعت مجرور وعلامة جره الكسرة الظاهرة
19
ôÅÁø%$#ur : "الواو" حرف عطف و"اقصد" فعل أمر مبني على السكون والفاعل ضمير مستتير تقديره "أنت"
Îû       : حرف جر
šÍô±tB : اسم مجرور وعلامة جره الكسرة الظاهرة و"الكاف" ضمير متصل مبني على الفتح فى محل جر مضاف اليه
ôÙàÒøî$#ur : "الواو" حرف عطف و"اغضض" فعل أمر مبني على السكون والفاعل ضمير مستتير تقديره "أنت"
`ÏB               : حرف جر
y7Ï?öq|¹ : اسم مجرور وعلامة جره الكسرة الظاهرة و"الكاف" ضمير متصل مبني على الفتح فى محل جر مضاف اليه
¨bÎ)      : حرف توكيد و نصب
ts3Rr&    : اسم "إنّ" منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة
ÏNºuqô¹F{$# : مضاف اليه مجرور وعلامة جره الكسرة الظاهرة
ßNöq|Ás9 : "اللام" المزحلقة للتوكيد و"صوة" خبر "إنّ" مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة
ÎŽÏJptø:$# : مضاف اليه مجرور وعلامة جره الكسرة الظاهرة




Q.S. Al-Jumuah Ayat 2:

هُوَالَّذِيْ بَعَثَ فِى الاُمِّيّنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ آيتِهِ وَيُزَكِّيْهِمْ وَ يُعَلِّمُهُمُ الْكِتبَ وَالْحِكْمَةَ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَللٍ مُّبِيْنٍ
“Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (QS Al-Jumu’ah ayat 2)

Tafsir Mufrodat
Menurut Tafsir Jalalain
هُوَالَّذِيْ بَعَثَ فِى الاُمِّيّنَ: العرب, والأُمِّيُّ: من لا يكتب ولا يقرأ كتابا:
(Dialah Yang mengutus kepada kaum yang buta huruf) yaitu bangsa Arab; lafaz ummiy artinya orang yang tidak dapat menulis dan membaca kitab.

رَسُوْلًا مِّنْهُمْ: هو محمد صل الله عليه وسلم:
(seorang rasul diantara mereka) yaitu Nabi Muhammad SAW.

يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ آيتِهِ : القرآن:
(yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya) yakni Al-Qur’an.

وَيُزَكِّيْهِمْ: يطهّرهم من الشرك:
(menyucikan mereka) membersihkan mereka dari kemusyrikan.
وَ يُعَلِّمُهُمُ الْكِتبَ: القـرآن:
 (dan mengajarkan kepada mereka Kitab) Al-Qur’an.
 وَالْحِكْمَةَ: ما فيه من الأحكام:
(dan hikmah) yaitu hukum-hukum yang terkandung di dalamnya, atau hadits
وَاِنْ: مخففة من الثقيلة واسـمها محذوف, أي وإنـهم:
(Dan sesungguhnya) lafaz in disini adalah bentuk takhfif dari inna, sedangkan isimnya tidak disebutkan selengkapnya, dan sesungguhnya.
كَانُوْا مِنْ قَبْلُ: قبل مجيئة:
(mereka adalah sebelumnya) sebelum kedatangan Nabi Muhammad SAW.
لَفِيْ ضَللٍ مُّبِيْنٍ: بيّن:
(benar-benar dalam kesesatan yang nyata) artinya jelas sesatnya.
Menurut Al-Maraghi
Al-Ummiyyiin: Orang-orang Arab, mufradnya adalah ummiy. Ia dinisbatkan kepada Al-Umm (ibu) yang melahirkannya, sebab ia dalam keadaan yang padanya ia dilahirkan ibunya, tanpa mengenal baca tulis dan perhitungan. Degan demikian, maka dia berada dalam keadaan pertamanya.
            Yuzakkiihim: Mensucikan mereka dengan bacaan ayat-ayat-Nya.

Makna Ijmali
Menurut Tafsir Al-Azhar
            “Dialah yang telah membangkitkan di dalam kalangan orang-orang yang ummi.” Membangkitkan sama juga artinya dengan menimbulkan. Orang yang ummi artinya yang pokok ialah orang yang tidak pandai menulis dan tidak pandai membaca. Arti yang lebih mendalam lagi ialah bangsa Arab, atau Bani ismail yang sebelum Nabi Muhammad diutus Tuhan, bangsa Arab itu belum pernah didatangi oleh seorang Rasul yang membawa suatu Kitab Suci. Sebagai timbalan dari orang yang ummi itu ialah ahlul-kitab, atau disebut juga uutul-kitab. Yang pertama berarti ahli dari hal kitab-kitab, yang kedua berarti orang-orang yang diberi Kitab.
            Didalam ayat 2 dari Surat 32, as-Sajdah ayat 3, bahwa Nabi itu diutus oleh Allah dengan kebenaran kepada kaum yang sebelumnya belum pernah didatangi oleh pengancam. Tegasnya sesudah Ismail meninggal, putus nubuwwat, tidak ada datang lagi kepada kaum itu sampai lebih daripada 20 turunan, barulah dibangkitkan; “Seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri.” Yaitu bahwa Rasul itu bukan datang dari tempat lain, melainkan timbul atau bangkit dalam kalangan kaum yang ummi itu sendiri. Dan Rasul itu sendiri pun seorang yang ummi pula. Tidak pernah dia belajar menulis dan membaca sejak kecilnya sampai wahyu itu turun. Maka adalah dia Rasul yang ummi dari kalangan kaum yang ummi.
            Mereka adalah ummi, bukan kaum terpelajar dan bukan kaum yang mempunyai sejarah peradaban yang tinggi sebagaimana yang dibanggakan oleh orang Yunani dan Romawi, orang Parsi (Iran) dan India. Kalau mereka mempunyai sejarah, namun hanya satu saja. Yaitu bahwa di negeri mereka yang tandus, lembah yang tidak ada tumbuh-tumbuhan itu dahulu kala pernah nenek moyang mereka Nabi Ibrahim dan putera beliau Ismail diperintahkan Allah mendirikan Ka’bah tempat menyembah Tuhan Yang Esa. Sesudah itu tidak ada berita lagi. Gelap karena hakikat ajaran Tauhid telah diselubungi oleh berbagai khurafat dan penyembahan berhala. Buta huruf betul-betul menurut arti yang sebenarnya. Dalam 100 orang belum tentu seorang yang pandai menulis atau membaca. Cuma satu kelebihan mereka, yaitu karena menulis dan membaca tidak pandai, ingatan mereka kuat.
            Orang-orang yahudi yang banyak berdiam di Yastrib yang kemudian bernama Madinah menyebut juga bahwa orang-orang Arab itu memang ummi, yang kadang-kadang diluaskan juga artinya, yaitu orang-orang yang tidak terpelajar. Dan orang-orang Arab itu tidaklah merasa hina karena sebutan itu. Bahkan kalau ada hal-hal yang sukar mereka tanyakan kepada orang-orang Yahudi itu. Malahan di Madinah sendiri, sebelum Nabi Muhammad hijrah ke sana, orang Arab Madinah banyak yang suka menyerahkan puteranya pergi belajar kepada orang Yahudi, sehingga anak-anak itu ada yang masuk Yahudi.
            Dalam kalangan mereka itulah nabi Muhammad SAW dibangkitkan, dalam keadaan ummi pula. “Yang membacakan kepada mereka akan ayat-ayat-Nya.” Artinya bahwa diangkatlah Muhammad yang ummi itu menjadi Rasul Allah, diturunkan kepadanya wahyu Ilahi sebagai ayat-ayat yang mula turunnya ialah di gua Hira’, dimulai dengan ayat “Iqra’”, artinya “Bacalah!” Pada ayat pertama dan “allama bil qalami, allamal insaana maa lam ya’lam.(Yang mengajar dengan memakai pena, mengajarkan kepada manusia barang yang tadinya belum dia ketahui). Maka berturut-turutlah ayat-ayat itu turun selama beliau di makkah dan berturut-turut lagi setelah pindah ke Madinah. Semuanya itu beliau bacakan dan beliau ajarkan; “Dan membersihkan mereka.” Yaitu membersihkan jiwa mereka daripada akidah yang salah, daripada langkah yang tersesat dan membersihkan pula badan diri mereka, jasmani mereka daripada kotoran. Karena selama ini belum tahu apa arti kebersihan, sehingga diajar berwudhu’, diajar mandi junub dan menghilangkan hadas dan najis, bahkan sampai diajar menggosok gigi. “Dan mengajarkan kepada mereka akan kitab dan hikmah.
            Menuru kata-kata ahli tafsir, kitab ialah setelah ayat-ayat yang turun itu yang berjumlah 6326 ayat, terkumpul dalam 114 Surat, tergabung dalam satu mushaf; itulah dia al-Kitab, Hikmah ialah Sunnah Rasul, yaitu contoh dan teladan yang dilakukan oleh beliau dalam pelaksanaan al-Kitab.
            Setengah ahli tafsir lagi mengartikan bahwa al-Kitab artinya ialah syariat itu sendiri, yang berisi perintah dan larangan itu. Misalnya sembahyang adalah satu macam isi al-Kitab;
اِنَّ الصَّلوةَ تَنْهى عَنِ الْفَحْشآ ءِ وَالْمُنْكَر
Sesungguhnya sembahyang itu adalah mencegah dari perbuatan keji dan munkar.” “Sembahyang adalah al-Kitab (perintah). Hikmah sembahyang ialah; mencegah dari perbuatan keji dan munkar.”
Atau;
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُDiperintahkan kepada kamu berpuasa.                                           
Hikmahnya ialah;
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَSupaya kamu bertakwa”                                                                             
Oleh sebab itu supaya seseorang dapat menghayati hidup beragama, janganlah hanya bersitumpu pada syariat dengan tidak mengetahui latar belakang yang disebut hikmah itu. “Dan meskipun mereka sebelumnya adalah di dalam kesesatan yang nyata.” (ujung ayat 2).
            Ujung ayat menerangkan dengan jelas sekali perubahan pada diri orang yang ummi itu setelah kedatangan Rasul Allah yang timbul dalam kalangan dari mereka sendiri. Sebelum Rasul itu dibangkitkan, terdapat berbagai kesesatan yang nyata. Karena mereka bukan saja ummi yang buta huruf, bahkan lebih dari itu; ummi buta agama, ummi buta jalan yang benar. Mereka kuburkan anak perempuan mereka hidup-hidup. Orang yang kaya hidup dengan menindas memeras orang miskin dengan meminjamkan uang memakai riba. Jalan menuju Allah dihambat dengan penyembahan kepada berhala. Perang suku perang kabilah. Ka’bah pusaka Nabi Ibrahim dan Ismail, yang didirikan untuk menyembah Allah Yang Esa, mereka jadikan tempat yang mengumpulkan 360 berhala. Banyak lagi bukti-bukti kesesatan yang nyata yang lain-lain, yang semuanya itu dapat berubah dalam masa 23 tahun sejak Nabi SAW yang ummi dibangkitkan Tuhan dalam kalangan masyarakat yang ummi itu.
            Syaikh Muhammad Jamaluddin al-Qasimi menulis dalam tafsirnya “Mahaasinut-Ta’wil” tentang hikmat bahwa Nabi SAW diutus dan dibangkitkan Tuhan dalam kalangan masyarakat orang-orang yang ummi demikian.
            “Makanya diutamakan membangkitkan Nabi Muhammad SAW itu dalam kalangan orang-orang yang ummi, ialah karena mereka masih mempunyai otak yang tajam, paling kuat hatinya, paling bersih fithrahnya dan paling fasih lidahnya. Kemurnian batinnya (fithrahnya) belum dirusakkan oleh gelombang modernisasi, dan tidak pula oleh permainan golongan-golongan yang mengaku diri telah maju. Oleh sebab mereka itu masih polos, maka setelah jiwa mereka itu diisi dengan islam mereka telah bangkit di kalangan manusia dengan ilmu yang besar dan dengan hikmah yang mengagumkan dan dengan siasat yang adil. Dengan ajaran itu mereka memimpin bangsa-bangsa, dengan ajaran itu mereka menggoncangkan singgasana raja-raja yang besar-besar. Dan  dengan jelasnya bekas ajaran itu pada sisi mereka, bukanlah berarti bahwa Risalah kedatangan Muhammad ini hanya khusus untuk mereka.” Sekian al-Qasimi.
            Demikian pula Nabi Muhammad SAW sendiri, seorang yang ummi bangkit dalam kalangan bangsa yang ummi. Itu pun suatu mu’jizat yang besar. Beratus ribu, berjuta orang keluaran sekolah tinggi, orang belajar filsafat yang dalam-dalam, namun mereka tidaklah sanggup membawa perubahan ke dalam alam sehebat yang dibawa oleh “orang ummi” ini.
Menurut tafsir Al-Maraghi
Hikmah diutusnya Rasul Bangsa Arab kepada Bangsa Arab
            Kemudian, Allah mensifati Rasulullah SAW dengan sifat-sifat pujian dan kesempurnaan. Firman-Nya:
هُوَالَّذِيْ بَعَثَ فِى الاُمِّيّنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ آيتِهِ وَيُزَكِّيْهِمْ وَ يُعَلِّمُهُمُ الْكِتبَ وَالْحِكْمَةَ
            Dialah yang mengutus Rasul-Nya SAW kepada bangsa yang ummiy yang tidak membaca dan tidak pula menulis, yaitu orang-orang Arab.
            Telah dikeluarkan oleh Al-Bukhari, Muslim, Abu Daud dan An-Nasa’I, dari Ibnu Umar, dari Nabi SAW, beliau mengatakan, “Kami adalah ummiy. Kami tidak menulis dan tidak pula menghitung”
            Rasul ini termasuk mereka, yaitu seperti mereka. Namun demikian, ia membacakan kepada mereka ayat-ayat al-Kitab untuk menjadikan mereka suci dari kotoran-kotoran akidah dan amal perbuatan, dan untuk mengajari mereka syari’at dan urusan-urusan intelektual yang menyempurnakan jiwa dan mendidiknya. Dan inilah yang diisyaratkan oleh Al-Bushairi dalam ucapannya:
            Cukuplah bagimu mukjizat, dengan adanya ilmu bagi seorang ummiy, dan pendidikan anak yatim di masa jahiliyah.
            Disebutkannya orang-orang ummiy secara khusus tidak menunjukkan bahwa dia tidak diutus kepada orang-orang yang tidak ummiy; sebab keumuman diutusnya terdapat dalam ayat-ayat lain, seperti firman-Nya:
Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Al-Anbiya’ ayat 107
Katakanlah, Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua” (Al-A’raf ayat 158)
            Diantara hikmah Allah Ta’ala, bahwa Dia mengutus Rasul seperti mereka, ialah agar mereka memahami apa yang dibawa Rasul itu, dan mengetahui sifat-sifat dan akhlaknya, supaya mudah bagi mereka menerima dakwahnya.
            Ringkasannya: Dia menyebutkan tujuan dari diutusnya Rasul ini, yang secara global ada hal:
1.      Untuk membacakan kepada mereka ayat-ayat al-Qur’an yang di dalamnya terdapat petunjuk dan bimbingan mereka menuju kebaikan dua kampung, sedang dia pun seorang ummiy yang tidak dapat membaca menulis, agar kenabiannya tidak diragukan dengan kata-kata mereka, bahwa dia telah mengambilnya dari kitab-kitab orang-orang terdahulu, sebagaimana diisyaratkan oleh firman-Nya:
وَمَا كُنْتَ تَتلُوا مِنْ قَبْلِهِ مِنْ كِتبٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِيْنِكَ اِذًا لًّارْتَابَ الْمُبْطِلُوْنَ
            Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al-Qur’an) suatu kitab pun dan kamu tidak pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu. Andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang-orang yang mengingkari (mu).” (Al-‘Ankabut ayat 48)
2.      Untuk mensucikan mereka dari kotoran-kotoran kemusyrikan dan akhlak-akhlak jahiliyah, menjadikan mereka kembali dan takut kepada Allah dalam perbuatan dan ucapan, serta tidak tunduk kepada kekuasaan makhluk selain Allah, baik itu Malaikat, manusia ataupun batu.
3.      Untuk mengajari mereka syari’at, hukum dan hikmah serta rahasianya. Sehingga, mereka tidak menerima sesuatu pun daripadanya kecuali mereka mengetahui tujuan dan maksud yang karenanya hal itu dilakukan. Dengan demikian, maka mereka akan menerima daripadanya dengan rindu dan puas.
Itu sebabnya orang-orang Arab dahulu berada dalam agama Ibrahim. Kemudia mereka mengganti, mengubah dan menggeser tauhid untuk menjadi musyrik, dan yakin menjadi ragu-ragu. Mereka telah mengada-adakan hal-hal yang tidak diizinkan Allah, sehingga akan bijaksanalah jika Allah SWT mengutus Muhammad SAW dengan membawa syari’at yang besar di dalamnya terdapat petunjuk bagi manusia, penjelasan mengenai urusan-urusan dunia dan akhirat yang mereka butuhkan, seruan yang membawa keridhaan Allah dan kenikmatan dalam surga-surga-Nya yang penuh nikmat, dan larangan yang menyebabkan kemurkaan-Nya dan mendekatkan kepada neraka.
Menurut Tafsir Al-Mishbah   
            Salah satu pertanda sifat-sifat-Nya yang disebut di atas adalah apa yang diuraikan oleh ayat di atas. Thabathabha’I menulis bahwa ayat yang lalu adalah pengantar sekaligus menjadi bukti yang menunjukkan kebenaran uraian ayat di atas. Allah yang disucikan oleh semua yang wujud di langit dan di bumi. Ini karena semua makhluk memiliki kekurangan dan kebutuhan, dan itu tidak dapat dipenuhi untuk mereka kecuali Allah SWT. Sehingga Allah yang tidak butuh sesuatu dan memenuhi kebutuhan siapa pun adalah Dia Yang berhak disucikan dari segala kekurangan dan kebutuhan. Selanjutnya karena hanya Dia yang memenuhi kebutuhan semua makhluk maka hanya Dia pula yang berwewenang menetapkan dan mengatur dan mengendalikan segala sesuatu, dengan kata lain hanya Dia al-Malik/ Maha Raja. Salah satu bentuk pengaturan-Nya adalah menetapkan agama. Ketetapan itu, bukan karena Dia sempurnakan. Sama sekali tidak, karena Dia Qudduus/ Maha Suci dari segala kekurangan dan kebutuhan. Selanjutnya Qudduus itu, bila telah menyampaikan tuntutan-Nya melalui Rasul, lalu tidak dipenuhi oleh makhluk yang diajak, maka itu sama sekali tidak mengurangi kekuasaan-Nya karena Dia adalah al-‘Aziiz/ Yang Maha Perkasa. Kalau Dia berkehendak untuk memaksakan kehendak-Nya maka dengan mudah dapat terlaksana. Di sisi lain, apa yang ditetapkan-Nya dari ajaran agama, tidak mungkin akan sia-sia, karena Dia adalah Hakiim/ Maha Bijaksana meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Dia tidak melakukan sesuatu kecuali untuk manfaat makhluk. Demikian lebih kurang tulis Thabathaba’i.
            Allah berfirman: Dialah sendiri tanpa campur tangan siapa pun yang telah mengutus pada masyarakat al-Ummiyyiin yakni orang-orang Arab seorang Rasul yakni Nabi Muhammad SAW yang dari kalangan mereka yang ummiyyiin yakni yang tidak pandai membaca dan menulis itu dan dengan demikian mereka sangat mengenalnya. Rasul itu membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, padahal dia adalah seorang ummiy. Bukan hanya itu, dan Rasul yang ummiy itu juga menyucikan mereka dari keburukan pikiran, hati, dan tingkah laku serta mengajarkan yakni menjelaskan dengan ucapan dan perbuatannya kepada mereka kitab al-Qur’an dan hikmah yakni pemahaman agama, atau ilmu amaliah dan amal ilmiah padahal sesungguhnya mereka yang dibacakan diajar dan disucikan itu sebelumnya yakni sebelum kedatangan Rasul itu dan setelah mereka menyimpang dari ajaran Nabi Ibrahim benar-benar dalam kesesatan yang nyata. Sungguh besar bukti kerasulan Nabi muhammad SAW yang dipaparkan ayat di atas dan sungguh besar nikmat yang dilimpahkan-Nya kepada masyarakat itu.
            Kata (في) pada fii/ pada oleh ayat di atas berfungsi menjelaskan keadaan Rasul SAW di tengah mereka, yakni bahwa beliau senantiasa berada bersama mereka, tidak pernah meninggalkan mereka, bukan juga pendatang di antara mereka. Demikian Ibn ‘Asyur.
            Kata (الأمّيّين) al-ummiyyiin adalah bentuk jamak dari kata (أمّي) ummiy dan terambil dari kata (أمّ) umm/ ibu dalam arti seorang yang tidak pandai membaca dan menulis. Seakan-akan keadaannya dari segi pengetahuan atau pengetahuan membaca dan menulis sama dengan keadaan ibunya yang tak pandai membaca. Ini karena masyarakat Arab pada masa jahiliyah umumnya tidak pandai membaca dan menulis, lebih-lebih kaum wanitanya. Ada juga yang berpendapat bahwa kata ummiy terambil dari kata (أمّة) ummah/ umat yang menunjuk kepada masyarakat ketika turunnya al-Qur’an, yang oleh Rasul SAW dilukiskan dengan sabda beliau: “Sesungguhnya kita adalah umat yang Ummiy, tidak pandai membaca dan berhitung.” Betapapun, yang dimaksud dengan al-Ummiyyiin adalah masyarakat Arab.
            Imam Fakhruddin ar-Razi dalam tafsirnya menulis tentang ayat di atas lebih kurang sebagai berikut: “kesempurnaan manusia diperoleh dengan mengetahui kebenaran serta kebajikan dan mengamalkan kebenaran dan kebajikan itu . dengan kata lain, manusia memiliki potensi untuk mengetahui secara teoritis dan mengamalkan secara praktis. Allah SWT menurunkan kitab suci dan mengutus Nabi Muhammad SAW untuk mengantar manusia meraih kedua hal tersebut. Dari sini kalimat membacakan ayat-ayat Allah berarti Nabi Muhammad SAW “menyampaikan apa yang beliau terima dari Allah untuk umat manusia”, sedang menyucikan mereka mengandung makna “penyempurnaan potensi teoritis dengan memperoleh pengetahuan Ilahiah” dan mengajarkan al-Kitab merupakan isyarat tentang pengajaran “pengetahuan lahiriah dari syari’at” Adapun al-Hikmah adalah “pengetahuan tentang keindahan, rahasia, motif serta manfaat-manfaat syariat”. Demikian ar-Razi yang dikenal dengan gelar al-Imam.
            Adapun al-Hikmah, maka maknanya menurut Abduh adalah “rahasia persoalan-persoalan (agama), pengetahuan hukum, penjelasan tentang kemaslahatan serta cara pengamalan dst”
            Imam Syafi’I memahami arti al-Hikmah dengan “as-Sunnah”, karena tidak ada selain al-Qur’an yang diajarkan Nabi Muhammad SAW kecuali as-Sunnah.
            Kata (منهم) minhum/ dari mereka berfungsi sama dengan kata (اِن) in dalam firman-Nya: (   (وَاِنْ كَانُوْwa in kaanuu berfungsi sama dengan kata (اِنّ) inna/ sesungguhnya. Indikator adalah huruf (ل) lam pada kalimat لَفِيْ ضَللٍ مُّبِيْن)) la fii dhalaal mubiin. Penggalan ayat di atas bermaksud menggambarkan bahwa apa yang dilakukan Rasul SAW itu sungguh merupakan nikmat yang besar buat masyarakat Arab yang beliau jumpai. Beliau bukannya mengajar orang-orang yang memiliki pengetahuan atau menambah kesucian orang yang telah hampir suci, tetapi mereka adalah orang-orang yang sangat sesat. Kita dapat membayangkan kesesatan dan kebodohan mereka antara lain jika memperhatikan berhala-berhala yang mereka sembah. Berhala-berhala itu sama sekali tidak memiliki nilai seni dan keindahan, tetapi adalah batu-batu biasa. Sering kali dalam perjalanan, mereka memilih empat buah batu. Yang terbaik mereka sembah, dan sisanya mereka jadikan tumpu buat priuk masak mereka. Bahkan ada yang membuat berhala dari buah-buah kurma, lalu menyembahnya, dan ketika lapar kurma-kurma itu mereka makan. Demikian sedikit dari kesesatan mereka.

Nilai Tarbawi:
Tugas utama Rasulullah yaitu menyampaikan/ membacakan petunjuk-petunjuk Alquran,  menyucikan (hati), dan  mengajarkan manusia. Ketiga tugas tersebut dapat diidentikkan dengan pendidikan dan pengajaran.
1)      Menyucikan sangat mirip dengan mendidik.
2)      Mengajarkan dan menyampaikan materi yang berupa petunjuk Alquran tidak lain adalah membekali peserta didik dengan berbagai ilmu pengetahuan, baik yang terkait dengan alam nyata maupun metafisika.
3)      Bahwasanya nilai-nilai pendidikan yang mempunyai komponen terutama pendidikan diajarkan dalam Islam dimulai sejak mengenal huruf sampai mengajarkannya kembali kepada peserta didiknya, sehingga nilai-nilai pendidikan Islam tersebut memberikan kepada setiap orang anak yang belum tahu menjadi tahu.
4)      Dalam setiap metode pengajaran dalam proses pendidikan ada yang disebut guru dan murid. Murid adalah Objek, sementara guru adalah subyek, dimana guru menuangkan segala kemampuannya untuk mengembangkan pengetahuan murid. Guru mempunyai peranan yang sangat penting dalam pendidikan diantaranya, guru sebagai ahli dimana guru mengetahui lebih banyak mengenai berbagai hal dari pada siswanya, guru sebagai pengawas, guru sebagai penghubung kemasyarakatan, guru sebagai pendorong atau fasilitator.
5)      Tugas dan peranan guru dalam proses pendidikan juga sebagai pendidik profesional yang sesungguhnya sangat kompleks, tidak terbatas pada saat berlangsungnya interaksi edukatif di dalam kelas, yang lazim disebut proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar merupakan inti dari kegiatan pendidikan di sekolah, agar tujuan pendidikan dan pengajaran berjalan dengan benar, maka perlu adanya pengembangan dalam kegiatan belajar mengajar terutama dibidang kurikulum.
6)      Dalam Islam tugas seorang guru merupakan tugas yang sangat mulia karena guru dipandang sebagai seorang yang memiliki ilmu pengetahuan yang lebih tinggi.

ô Ï%©!$# y]yèt/ Îû z`¿ÍhÏiBW{$# Zwqßu öNåk÷]ÏiB (#qè=÷Ftƒ öNÍköŽn=tã ¾ÏmÏG»tƒ#uä öNÍkŽÏj.tãƒur ãNßgßJÏk=yèãƒur |=»tGÅ3ø9$# spyJõ3Ïtø:$#ur bÎ)ur (#qçR%x. `ÏB ã@ö6s% Å"s9 9@»n=|Ê &ûüÎ7B ÇËÈ  
qèd: ضميرمنفصل مبني على الفتح فى محل رفع مبتداء, Ï%©!$#: أسم موصول مبني على السكون فى محل رفع المبتداء,  ]yèt/:  فعل ماض مبني على الفتح والفاعل ضمير مستتر تقديره "هو" والجملة صلة الموصلة لامحل لها من الإعراب, Îû: حرف جار, `¿ÍhÏiBW{$# :أسم مجرور وعلامة جره الياء لأنه جمع مذكر السالم, wqßu : مفعول به منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة, Nåk÷]ÏiB:جارومجرور, #qè=÷Ftƒ: فعل مضارع مرفوع وعلامة رفعه الضمة المقدرة والفاعل ضمير مستتر تقديره "هو" والجملة فى محل نصب نعت ل"رسولا" NÍköŽn=tã: جار و مجرور, ¾ÏmÏG»tƒ#uä: مفعول به منصوب وعلامة نصبه الكسرة لأنه جمع مؤنث السالم "والهاء" ضميرمنفصل مبني على الكسرة فى محل جر مضاف اليه,
و : حرف العطف
يزكيهم :
و :
يعلمهم :
الكتاب :
و :
الحكمة :



Q.S. An-Nisa Ayat 59:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Tafsir Mufrodat:
Menurut Jalalain (tt)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ artinya para penguasa                    
مِنْكُمْ yakni jika mereka menyuruhmu agar menaati Allah dan Rasul-Nya                   :
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ atau bertikai paham                                                                                      :
فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ  maksudnya kepada kitab-Nya                                                         :
sunah-sunahnya; artinya selidikilah hal itu pada keduanya                              :وَالرَّسُولِ
إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَartinya mengembalikan pada keduanya                    :
خَيْرٌ bagi kamu daripada bertikai paham dan mengandalkan pendapat manusia          :
وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا:
Ayat berikut ini turun tatkala terjadi sengketa di antara seorang Yahudi dengan seorang munafik. Orang munafik ini meminta kepada Kaab bin Asyraf agar menjadi hakim di antara mereka sedangkan Yahudi meminta kepada Nabi saw. lalu kedua orang yang bersengketa itu pun datang kepada Nabi saw. yang memberikan kemenangan kepada orang Yahudi. Orang munafik itu tidak rela menerimanya lalu mereka mendatangi Umar dan si Yahudi pun menceritakan persoalannya. Kata Umar kepada si munafik, "Benarkah demikian?" "Benar," jawabnya. Maka orang itu pun dibunuh oleh Umar

Makna Ijmali:
Menurut tafsir at-Thabari, menyebutkan bahwa para ahli ta'wil berbeda pandangan mengenai arti ulil amri. Satu kelompok ulama menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan ulil amri adalah umara. Berkata sebagian ulama lain, masih dalam kitab tafsir yang sama, bahwa ulil amri itu adalah ahlul ilmi wal fiqh (mereka yang memiliki ilmu dan pengetahuan akan fiqh). Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa sahabat-sahabat Rasulullah-lah yang dimaksud dengan ulil amri. Sebagian lainnya berpendapat ulil amri itu adalah Abu Bakar dan Umar.
Menurut Ibnu Katsir (2008: 5)
Ibnu Abbas mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abdullah ibnu Huzafah ibnu Qais ibnu Addi ketika ia diutus oleh Rasulullah Saw untuk memimpin suatu pasukan khusus. Hal yang sama diriwayatkan oleh jamaah lainnya, kecuali Imam Ibnu Majah, melalui hadis Hajaj ibnu Muhammad Al-A'war Imam Turmuzi mengatakan hadits ini hasan garib, kami tidak mengenalnya kecuali melalui hadis Ibnu Juraij. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah, dari Al-A'masy, dari Sa'd ibnu Ubaidah, dari Abu Abdur Rahman As-Sulami, dari Ali yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. mengirimkan suatu pasukan khusus, dan mengangkat menjadi panglimanya seorang lelaki dari kalangan Ansar. Manakala mereka berangkat, maka si lelaki Ansar tersebut menjumpai sesuatu pada diri mereka. Maka ia berkata kepada mereka, "Bukankah Rasulullah Saw. telah memerintahkan kepada kalian untuk taat kepadaku?" Mereka menjawab, "Memang benar." Lelaki Ansar itu berkata, "Kumpulkanlah kayu bakar buatku." Setelah itu si lelaki Ansar tersebut meminta api, lalu kayu itu dibakar. Selanjutnya lelaki Ansar berkata, "Aku bermaksud agar kalian benar-benar memasuki api itu." Lalu ada seorang pemuda dari kalangan mereka berkata, "Sesungguhnya jalan keluar bagi kalian dari api ini hanyalah kepada Rasulullah. Karena itu, kalian jangan tergesa-gesa sebelum menemui Rasulullah. Jika Rasulullah Saw memerintahkan kepada kalian agar memasuki api itu, maka masukilah." Kemudian mereka kembali menghadap Rasulullah Saw. Dan menceritakan hal itu kepadanya. Maka Rasulullah Saw bersabda kepada mereka:
Seandainya kalian masuk ke dalam api itu, niscaya kalian tidak akan keluar untuk selama-lamanya. Sebenarnya ketaatan itu hanya dalam kebaikan. Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan di dalam kitab Sahihain melalui hadis Al-A'masy dengan lafaz yang sama Imam Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Yahya, dari Ubaidillah, telah menceritakan kepada kami Nafi', dari Abdullah ibnu Umar, dari Rasulullah Saw yang telah bersabda:
Tunduk dan patuh diperbolehkan bagi seorang muslim dalam semua hal yang disukainya dan yang dibencinya, selagi ia tidak diperintahkan untuk maksiat. Apabila diperintahkan untuk maksiat, maka tidak boleh tunduk dan tidak boleh patuh.
Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkannya melalui hadis Yahya AI-Qattan. Dari Ubadah ibnus Samit, "Kami bersumpah setia kepada Rasulullah Saw untuk tunduk patuh dalam semua keadaan, baik dalam keadaan semangat ataupun dalam keadaan malas, dalam keadaan sulit ataupun dalam keadaan mudah, dengan mengesampingkan kepentingan pribadi, dan kami tidak akan merebut urusan dari yang berhak menerimanya." Rasulullah Saw bersabda:
Terkecuali jika kalian melihat kekufuran secara terang-terangan di kalangan kalian, dan ada bukti dari Allah mengenainya.(HR Bukhari dan Muslim)
Di dalam hadis yang lain, dari Anas, disebutkan bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda:
Tunduk dan patuhlah kalian, sekalipun yang memimpin kalian adalah seorang budak Habsyah yang kepalanya seperti zabibah (anggur kering). (HR Bukhari)
Dari Abu Hurairah r.a. disebutkan:
Kekasihku (Nabi Saw) telah mewasiatkan kepadaku agar aku tunduk dan patuh (kepada pemimpin), sekalipun dia (si pemimpin) adalah budak Habsyah yang cacat anggota tubuhnya (tuna daksa). (HR Imam Muslim)
Dari Ummul Husain. disebutkan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw mengatakan dalam khotbah haji wada'-nya:
Seandainya seorang budak memimpin kalian dengan memakai pedoman Kitabullah, maka tunduk dan patuhlah kalian kepadanya. (HR Imam Muslim)
Menurut lafaz lain yang juga dari Imam Muslim disebutkan:
Budak Habsyah yang tuna daksa (cacat anggota tubuhnya), Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ali ibnu Muslim At-Tusi, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Fudaik, telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Muhammad ibnu Urwah, dari Hisyam ibnu Urwah, dari Abu Saleh As-Sjrnman, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Saw telah bersabda: Kelak sesudahku kalian akan diperintah oleh para pemimpin, maka ada pemimpin yang bertakwa yang memimpin kalian dengan ketakwaannya, dan ada pemimpin durhaka yang memimpin kalian dengan kedurhakaannya. Maka tunduk dan patuhlah kalian kepada mereka dalam semua perkara yang sesuai dengan kebenaran, dan bantulah mereka. Jika mereka berbuat baik, maka kebaikannya bagi kalian dan mereka. Dan jika mereka berbuat buruk, maka baik bagi kalian dan buruk bagi mereka.
Dari Abu Hurairah r.a. Disebutkan bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda:
Dahulu umat Bani Israil diperintah oleh nabi-nabi. Manakala seorang nabi meninggal dunia, maka digantikan oleh nabi yang lain. Dan sesungguhnya tidak ada nabi sesudahku, dan kelak akan ada para khalifah yang banyak.
Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah yang engkau perintahkan kepada kami?" Rasulullah Saw menjawab:
Tunaikanlah baiat orang yang paling pertama, lalu yang sesudahnya; dan berikanlah kepada mereka haknya, karena sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban dari mereka atas kepemimpinannya. (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Ibnu Abbas r.a. Disebutkan bahwa Rasulullah Saw telah bersabda:
Barang siapa yang melihat dari pemimpinnya sesuatu hal yang tidak disukainya, hendaklah ia bersabar. Karena sesungguhnya tidak sekali-kali seseorang memisahkan diri dari jamaah sejauh sejengkal, lalu ia mati, melainkan ia mati dalam keadaan mati Jahiliah. (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Ibnu Umar r.a. Disebutkan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda:
Barang siapa yang mencabut janji setianya, maka kelak ia akan menghadap kepada Allah tanpa ada yang membelanya. Dan barang siapa yang meninggal dunia, sedangkan pada pundaknya tidak ada suatu baiat pun, maka ia mati dalam keadaan mati Jahiliah. (HR Muslim)
Imam Muslim meriwayatkan pula dari Abdur Rahman ibnu Abdu Rabil Ka'bah yang menceritakan hadis berikut: Ia masuk ke dalam masjid, dan tiba-tiba ia menjumpai Abdullah ibnu Amr ibnul As sedang duduk di bawah naungan Ka'bah dan di sekelilingnya terdapat banyak orang yang berkumpul mendengarkannya. Lalu aku (Abdur Rahman) datang kepada mereka dan bergabung duduk dengan mereka. Maka Abdullah ibnu Amr ibnul As menceritakan hadis berikut: Kami (para sahabat) pernah bersama Rasulullah Saw dalam suatu perjalanan, lalu kami turun istirahat di suatu tempat. Maka di antara kami ada orang-orang yang mempersiapkan kemahnya, ada pula yang berlatih menggunakan senjatanya, dan di antara kami ada orang-orang yang sibuk mengurus unta-unta kendaraannya. Tiba-tiba juru seru Rasulullah Saw menyerukan, "Salat berjamaah!" Maka kami berkumpul kepada Rasulullah Saw dan beliau Saw bersabda:
Sesungguhnya tidak ada seorang nabi pun sebelumku melainkan diwajibkan baginya memberi petunjuk kepada umatnya tentang kebaikan yang ia ketahui, dan memperingatkan kepada mereka tentang keburukan yang ia ketahui. Dan sesungguhnya ketenteraman umat ini dijadikan pada permulaannya (generasi pertamanya), dan kelak malapetaka akan menimpa akhir dari umat ini, juga akan terjadi banyak perkara yang kalian ingkari. Fitnah-fitnah datang menimpa mereka secara beriringan. Suatu fitnah (cobaan) datang, lalu seorang mukmin berkata, "Inilah kebinasaanku," kemudian fitnah itu lenyap, tetapi disusul lagi oleh fitnah yang lain. Maka orang mukmin berkata, "Fitnah ini datang lagi menyusul fitnah lainnya." Maka barang siapa yang ingin dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, hendaklah ketika maut datang menjemputnya ia dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari kemudian. Dan hendaklah ia memberikan kepada orang lain hal-hal yang ia suka bila diberikan kepada dirinya. Barang siapa yang berbaiat (berjanji setia) kepada seorang imam, lalu si imam memberikan kepadanya apa yang dijanjikannya dan apa yang didambakan hatinya, maka hendaklah ia taat kepadanya sebatas kemampuannya. Dan jika datang orang lain yang hendak menyainginya (merebutnya), maka penggallah leher orang lain itu.
Abdur Rahman ibnu Abdu Rabbil Ka'bah melanjutkan kisahnya, "Lalu aku mendekat kepadanya (Abdullah ibnu Amr ibnul As) dan kukatakan kepadanya, 'Aku meminta kepadamu, demi Allah, apakah engkau telah mendengar hadits ini langsung dari Rasulullah Saw?' Maka Ibnu Amr mengisyaratkan dengan kedua tangannya ditujukan ke arah kedua telinga dan hatinya seraya berkata, 'Aku telah mendengarnya dengan kedua telingaku ini, lalu dihafal baik-baik oleh hatiku'."
Abdur Rahman ibnu Abdu Rabbil Ka'bah berkata kepadanya, "Ini anak pamanmu (yaitu Mu'awiyah). Dia memerintahkan kepada kita memakan harta di antara kita dengan cara yang batil, dan sebagian dari kita membunuh sebagian yang lain, padahal Allah Swt Telah berfirman:
'Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan harta sesama kalian dengan  jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kalian. Dan janganlah kalian membunuh diri kalian, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepada kalian' (An-Nisa: 29)."
Abdur Rahman ibnu Abdu Rabbil Ka'bah melanjutkan kisahnya, bahwa Ibnu Amr diam sesaat tidak menjawab, kemudian berkata, "Taatilah dia bila memerintahkan taat kepada Allah dan durhakailah dia bila memerintahkan durhaka kepada Allah."
Hadits-hadits yang menerangkan masalah ini cukup banyak jumlahnya. Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnul Fadl, telah menceritakan kepada kami Asbat, dari As-Saddi sehubungan dengan firman-Nya:
Taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya), dan ulil amri di antara kalian.
Bahwa Rasulullah SAW pernah mengirimkan suatu pasukan khusus di bawah pimpinan Khalid ibnul Walid, di dalam pasukan itu terdapat Ammar ibnu Yasir. Mereka berjalan menuju tempat kaum yang dituju oleh mereka; dan ketika berada di dekat tempat tersebut, mereka turun beristirahat karena hari telah malam. Kemudian mereka diketahui oleh mata-mata kaum yang dituju mereka, lalu mata-mata itu memberitahukan kepada kaumnya akan kedatangan mereka. Maka kaumnya pergi melarikan diri meninggalkan tempat mereka kecuali seorang lelaki yang memerintahkan kepada keluarganya agar semua barang mereka dikemasi. Kemudian ia sendiri pergi dengan berjalan kaki di kegelapan malam hari menuju ke tempat pasukan Khalid ibnul Walid. Setelah ia sampai di tempat pasukan kaum muslim, maka ia menanyakan tentang Ammar ibnu Yasar, lalu ia datang kepadanya dan mengatakan, "Hai Abui Yaqzan, sesungguhnya sekarang aku masuk Islam dan bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Sesungguhnya kaumku setelah mendengar kedatangan kalian; mereka semuanya melarikan diri, tetapi aku tetap tinggal di tempat. Maka apakah Islamku ini dapat bermanfaat bagiku besok pagi nanti? Jika tidak, maka aku pun akan ikut lari." Ammar menjawab, "Tidak, bahkan Islammu dapat bermanfaat untuk dirimu. Sekarang pulanglah, dan tetaplah di tempat tinggalmu!" Lalu lelaki itu pulang dan menetap di tempatnya. Pada keesokan harinya Khalid ibnul Walid datang menyerang, dan ternyata ia tidak menemukan seorang pun dari musuhnya selain lelaki tadi, lalu Khalid menawannya dan mengambil semua hartanya. Ketika sampai berita itu kepada Ammar, maka Ammar datang kepada Khalid dan mengatakan kepadanya, "Lepaskanlah lelaki ini, karena sesungguhnya dia telah masuk Islam, dan sesungguhnya dia telah berada di bawah perlindunganku." Khalid berkata, "Atas dasar apakah kamu memberi perlindungan?" Keduanya bertengkar, dan akhirnya keduanya melaporkan peristiwa itu kepada Rasulullah Saw. Maka Rasulullah Saw Memperbolehkan tindakan Ammar, tetapi melarangnya mengulangi perbuatannya lagi, yakni memberikan perlindungan tanpa seizin pemimpin pasukan. Keduanya masih terus berbalas caci-rnaki di hadapan Rasulullah Saw Maka Khalid berkata, "Wahai Rasulullah, apakah engkau biarkan saja budak yang hina ini mencaciku?" Rasulullah Saw menjawab: Hai Khalid, janganlah engkau mencaci Ammar, karena sesungguhnya barang siapa yang mencaci Ammar, Allah membalas mencacinya; dan barang siapa yang membenci Ammar, Allah membalas membencinya; dan barang siapa yang melaknat Ammar, maka Allah membalas melaknatnya.
Ammar masih dalam keadaan emosi. Maka ia bangkit dan pergi, lalu diikuti oleh Khalid. Kemudian Khalid menarik bajunya dan meminta maaf kepadanya. Akhirnya Ammar memaafkannya. Maka Allah Swt. menurunkan firman-Nya:
Taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya), dan ulil amri di antara kalian                     Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim melalui jalur As-Saddi secara mursal. Ibnu Murdawaih meriwayatkannya melalui Al-Hakam ibnu Zahir, dari As-Saddi, dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas. Lalu ia mengetengahkan kisah yang semisal.
Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna ulil amri yang terdapat di dalam firman-Nya: dan ulil amri di antara kalian            Bahwa yang dimaksud adalah ahli fiqih dan ahli agama. Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Ata, Al-Hasan Al-Basri dan Abui Aliyah, bahwa makna firman-Nya:
dan ulil amri di antara kalian. adalah para ulama. Tetapi menurut makna lahiriah ayat, hanya Allah yang lebih mengetahui makna lafaz ini umum mencakup semua ulil amri dari kalangan pemerintah, juga para ulama. Allah Swt telah berfirman:
Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka, tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? (Al-Maidah: 63)
maka tanyakanlah oleh kalian kepada orang-orang yang berilmu, jika kalian tidak mengetahui. (Al-Anbiya: 7)
Di dalam sebuah hadis sahih yang telah disepakati kesahihannya dari Abu Hurairah r.a. disebutkan bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda:
Barang siapa yang taat kepadaku, berarti ia taat kepada Allah; barang siapa yang durhaka kepadaku, berarti ia durhaka kepada Allah. Dan barang siapa yang taat kepada amirku, berarti ia taat kepadaku; dan barang siapa yang durhaka terhadap amirku, berarti ia durhaka kepadaku.
Nas-nas tersebut di atas merupakan dalil-dalil yang memerintahkan agar taat kepada ulama dan pemerintah. Karena itulah dalam surat ini disebutkan:
Taatilah Allah. Yakni ikutilah ajaran Kitab (Al-Qur'an)-Nya. dan taatilah Rasul-(Nya).
Maksudnya, amalkanlah sunnah-sunnah dan ulil amri di antara kalian.
Yaitu dalam semua perintahnya kepada kalian menyangkut masalah taat kepada Allah, bukan durhaka kepada Allah; karena sesungguhnya tidak ada ketaatan kepada makhluk bila menganjurkan untuk berbuat durhaka terhadap Tuhan Yang Maha Pencipta. Seperti yang disebutkan di dalam sebuah hadis sahih yang mengatakan:
Sesungguhnya ketaatan itu hanyalah dalam masalah kebajikan.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Hammam, telah menceritakan kepada kami Qatadah, dari Ibnu Hurayyis, dari Imran ibnu Husain, dari Nabi Saw yang telah bersabda:
Tidak ada ketaatan dalam maksiat terhadap Allah.
Firman Allah Swt:
Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (AI-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya). (An-Nisa: 59)
Menurut Mujahid dan bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf, yang mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah mengembalikan hal tersebut kepada Kilabullah (Al-Qur'an) dan Sunnah Rasulullah Saw, Hal ini merupakan perintah Allah Swt yang menyebutkan bahwa segala sesuatu yang diperselisihkan di antara manusia menyangkut masalah pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya, hendaknya perselisihan mengenainya itu dikembalikan kepada penilaian Kilabullah dan Sunnah Rasulullah. Seperti yang disebut oleh ayat lain, yaitu:
Tentang sesuatu apa pun kalian berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah. (Asy-Syura: 10)
Maka apa yang diputuskan oleh Kilabullah dan Sunnah Rasulullah yang dipersaksikan kesahihannya, maka hal itu adalah perkara yang hak. Tiadalah sesudah perkara yang hak, melainkan hanya kebatilan belaka. Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:
jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. (An-Nisa: 59)
Kembalikanlah semua perselisihan dan kebodohan itu kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah, lalu carilah keputusan masalah yang kalian perselisihkan itu kepada keduanya.
jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.(An-Nisa: 59)
Hal ini menunjukkan bahwa barang siapa yang tidak menyerahkan keputusan hukum kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya di saat berselisih pendapat, dan tidak mau merujuk kepada keduanya, maka dia bukan orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian.
Firman Allah Swt:
Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian). (An-Nisa: 59)
Yakni menyerahkan keputusan kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul- Nya, serta merujuk kepada keduanya dalam menyelesaikan perselisihan pendapat merupakan hal yang lebih utama.
dan lebih baik akibatnya. (An-Nisa: 59)
Yaitu lebih baik akibat dan penyelesaiannya, menurut pendapat As- Saddi dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang. Sedangkan menurut Mujahid, makna yang dimaksud ialah lebih baik penyelesaiannya; apa yang dikatakan Mujahid ini lebih dekat kepada kebenaran.

Nilai Tarbawi:

1.      Sebagai seorang hamba harus taat terhadap pemimpinnya sekalipun seorang budak atau tuna daksa karena akan dipertanggungjawabkan atas kepemimpinannya
2.      Seorang pemimpin mesti menyeru kepada hal – hal kebajikan dan mencegah dalam hal kebatilan
3.      Seorang hamba mesti taat kepada pemimpinnya dalam hal kebajikan dan meninggalkan perintahnya yang batil
4.      Apabila terdapat suatu permasalahan pada seorang pemimpin maka kembalilah merujuk pada kitabullah dan sunnah rasulullah

$pkšr'¯»tƒ: "يا" حرف نداء "أيّ" منادى مبني على الضم فى محل نصب و"ها" حرف تنبيه, ûïÏ%©!$#: اسم موصول مبني على الفتح فى محل نصب نعت, #þqãYtB#uä : فعل ماض مبني على الضم لاتصاله بواوالجماعة و "الواو"ضمير متصل مبني على السكون فى محل رفع فاعل,  والجملة صلة موصول لامحل لها من الإعراب. #qãèÏÛr&u: فعل أمر مبني على حذف النون, و "واوالجماعة" ضمير متصل مبني على السكون فى محل رفع فاعل, !$#: أسم الجلالة مفعول به منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة, (#qãèÏÛr&ur: "الواو" حرف عطف "#qãèÏÛr&" فعل أمر مبني على حذف النون, و"واوالجماعة" ضمير متصل مبني على السكون فى محل رفع فاعل, Aqߧ9$#: مفعول به منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة, Í<'ré&ur: "الواو" حرف عطف "Í<'ré&" معطوف منصوب وعلامة نصبه الياء لأنه ملحق بجمع المذكر السالم وحذفت نونه لإضافته, öDF{$#: مضاف اليه مجروروعلامة جره الكسرة الظاهرة, Oä3ZÏB: جار ومجرور, bÎ*sù: "الفاء" حرف عطف و "أن" حرف شرط جازم, Läêôãt»uZs?: فعل ماض الشرط مبني على السكون فى محل جزم و "تم" ضمير متصل مبني على السكون فى محل رفع فاعل, Îû &äóÓx«: "Îû"  حرف جار äóÓx«: أسم مجرور وعلامة جره الكسرة الظاهرة, LäêYä.: "الفاء" رابطه لجواب الشرط "nrŠã" فعل أمر مبني على حذف النون, و "واوالجماعة" ضمير متصل مبني على السكون فى محل رفع فاعل, و "الهاء" ضمير متصل مبني على الضم فى محل نصب مفعول به, والجملة فى محل جزم جواب الشرط, n<Î): حرف جار, !$#: أسم الجلالةأسم مجروروعلامةجره الكسرة الظاهرة, Aqߧ9$#ur: "الواو" حرف عطف "Aqߧ9$#u" معطوف مجروروعلامة جره الكسرة الظاهرة, "أن" حرف شرط جازم, LäêYä.: فعل ماض ناسخ فعل شرط مبني على السكون فى محل جزم, و"تم" ضمير متصل مبني على السكون فى محل رفع أسم كان, bqãZÏB÷sè?: فعل مضارع مرفوع وعلامة رفعه ثبوت النون لإنه من الأفعال الخمسة, و"واوالجماعة" ضمير متصل مبني على السكون فى محل رفع فاعل, والجملة فى محل نصب خبركان وجواب الشرط محذوف يفسره ماقبله, !$$Î/:"الباء" حرف جاروأسم الجلالة أسم مجروروعلامةجره الكسرة الظاهرة, Qöquø9$#ur:"الواو" حرف عطف "Qöquø9$#" معطوف مجروروعلامة جره الكسرة الظاهرة, ÅzFy$#: نعت مجروروعلامة جره الكسرة الظاهرة, 7Ï9ºsŒ: أسم أشارة مبني على الفتح فى محل رفع مبتداء, Žöyz: خبر المبتداءمرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة, `|¡ômr&ur: "الواو" حرف عطف و"`|¡ômr&" معطوف مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة, ¸xƒÍrù's?: تمييز منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة.












BAB III
KESIMPULAN

1.      Bahwa ketauhidan merupakan materi pendidikan terpenting yang harus ditanamkan pendidik kepada anak didiknya karena hal tersebut merupakan sumber petunjuk ilahi yang akan melahirkan rasa aman. 
2.      Bahwa salah satu diantara tugas pendidik ialah menyayangi anak didiknya sebagaimana seorang ayah menyayangi anaknya, bahkan lebih. Dan selalu menasehati serta mencegah anak didiknya agar terhindar dari akhlak tercela.
3.      Anak didik diajak berdialog dengan menggunakan potensi pikirnya agar potensi itu dapat berkembang dengan baik.
4.      Pentingnya menanamkan pada diri anak sifat untuk terlebih dahulu memperbaiki diri sendiri sebelum memperbaiki orang lain. Ini ditunjukan dengan dimulai dengan perintah shalat lalu  amar ma’ruf nahu munkar.
5.      etika berinteraksi dengan lingkungan masyarakat yang lebih luas. Sopan dan rendah hati dapat dipandang sebagai materi yang sangat penting untuk diajarkan sebagai bekal bersosialisasi.
6.      Materi akhlak pada tingkat dasar, hendaknya yang mudah, sederhana, dan menyentuh kehidupan sehari-hari
7.      Pengajaran akhlak sangat penting diterapkan pada pendidikan tingkat dasar
8.      Menyucikan sangat mirip dengan mendidik.
9.      Mengajarkan dan menyampaikan materi yang berupa petunjuk Alquran tidak lain adalah membekali peserta didik dengan berbagai ilmu pengetahuan, baik yang terkait dengan alam nyata maupun metafisika.
10.  Bahwasanya nilai-nilai pendidikan yang mempunyai komponen terutama pendidikan diajarkan dalam Islam dimulai sejak mengenal huruf sampai mengajarkannya kembali kepada peserta didiknya, sehingga nilai-nilai pendidikan Islam tersebut memberikan kepada setiap orang anak yang belum tahu menjadi tahu.
11.  Dalam setiap metode pengajaran dalam proses pendidikan ada yang disebut guru dan murid. Murid adalah Objek, sementara guru adalah subyek, dimana guru menuangkan segala kemampuannya untuk mengembangkan pengetahuan murid. Guru mempunyai peranan yang sangat penting dalam pendidikan diantaranya, guru sebagai ahli dimana guru mengetahui lebih banyak mengenai berbagai hal dari pada siswanya, guru sebagai pengawas, guru sebagai penghubung kemasyarakatan, guru sebagai pendorong atau fasilitator.
12.  Tugas dan peranan guru dalam proses pendidikan juga sebagai pendidik profesional yang sesungguhnya sangat kompleks, tidak terbatas pada saat berlangsungnya interaksi edukatif di dalam kelas, yang lazim disebut proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar merupakan inti dari kegiatan pendidikan di sekolah, agar tujuan pendidikan dan pengajaran berjalan dengan benar, maka perlu adanya pengembangan dalam kegiatan belajar mengajar terutama dibidang kurikulum.
13.  Dalam Islam tugas seorang guru merupakan tugas yang sangat mulia karena guru dipandang sebagai seorang yang memiliki ilmu pengetahuan yang lebih tinggi.
14.  Sebagai seorang hamba harus taat terhadap pemimpinnya sekalipun seorang budak atau tuna daksa karena akan dipertanggungjawabkan atas kepemimpinannya
15.  Seorang pemimpin mesti menyeru kepada hal – hal kebajikan dan mencegah dalam hal kebatilan
16.  Seorang hamba mesti taat kepada pemimpinnya dalam hal kebajikan dan meninggalkan perintahnya yang batil
17.  Apabila terdapat suatu permasalahan pada seorang pemimpin maka kembalilah merujuk pada kitabullah dan sunnah rasulullah



DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Mustafa Al Maraghi. ( 1993). Tafsir Al Maraghi, Semarang : PT Karya Toha Putra Semarang
Al-Mahili, Imam Jalaluddin. 2006. Tafsir Jalalain. Bandung: Sinar Baru Al-Gesindo
Al-Maraghi, Ahmad Mustafa. 1989. Tafsir Al-Maraghi. Semarang: CV. Toha Putra Semarang
Muhammad Quraisy Shihab. ( 2004 ). Tafsir Al Mishbah ( Pesan, Kesan dan Keserasian Al Quran Vol II, Jakarta : Lentera Hati
Hasbi Ash Shiddiqy, ( 1964 ). Al Quranul Majid Annur 4, Semarang, PT Pustaka Riski Putra
Dr. Hamka, Tafsir al-Azhar, Juz XXI, (Jakarta : Pustaka Panji Mas, 1988), Cet. , h. 114
Al Baghdadi Ruh Ma’ani fi Tafsir al-Qur’an al-‘Azim wa al-sab’u al-Maatsani Juz XI , Juz XXI,
M. Nasib Ar-Rifai, Kemudahan dari Allah ; Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, (Jakarta : Gema Insani Press, 1999), Cet. 1
Hamka, Prof. Dr. 1985. Tafsir Al-Azhar. Jakarta: PT Pustaka Panjimas
Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-mishbah Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Quran. Jakarta: Lentera Hati





0 Response to "Konsep Pendidikan Dalam Alquran"

Posting Komentar