ZAKAT

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang
Islam adalah agama yang lengkap dan sempurna. Dalam berbagai aspek Islam menawarkan banyak fasilitas dan kemudahan, dalam konteks keungan pun Islam menawarkan berbagai Instrumen seperti zakat, infak dan shaqoh. Begitu banyak perintah zakat yang mengiringi perintah shalat yang sebagai pilat utama agama Islam, tidak terkecuali untuk infak dan shadaqoh. Begitu banyak perintah yang diberikan Allah yang mengindikasikan betapa pentingnya perintah ini untuk dijalankan sebagai bukti ketaatan seorang hamba kepada sang khaliq sekaligus sebagai medium masyarakat yang sejahtera.
Dalam konteks distribusi zakat, Allah menggunakan juga kata shadaqoh seperti terlihat dalam Qs. At-Taubah (9) : 60 bahwa sesungguhnya zakat adalah shadaqoh dan shadaqoh adalah zakat.
Zakat cenderung belum difahami sebagai kewajiban indivudual seorang muslim, seperti halnya shalat dan shaum, sehingga sudah banyak orang yang menjalankan shalat dan shaum dengan baik namun masih lalai dalam menunaikan zakat. Hal ini dilatar belakangi oleh kurangnya informasi zakat yang diperoleh, baik dalamkonteks pelajaran agama Islam ketika belajar di bangku sekolah secara formal maupun dalam berbagai forum pengjian dan dakwah. Faktor ketidak fahaman inilah yang kemudian berimbas kepada sektor perekonomian dunia Islam, artinya akan banyak sekali masyarakat miskin yang akan bertahan dalam kemiskinannya.
Persoalan zakat merupakan pembahasan yang yang sangat penting bagi setiap individu karena ibadah yang satu ini tidak hanya menyangkut kepentingan pribadi tetapi juga menyangkut kesejahteraan umat terutama karena zakat berkaitan pula ibadah kepada Allah swt.
Dengan latar belakang inilah kami akan coba membahas tentang persoalan zakat termasuk di dalamnya hal-hal yang berkaitan dengan zakat itu sendiri pada bab selanjutnya.

1.2.  Rumusan Masalah
Ruang lingkup pembahasan zakat, tidak bisa dibantah memang sangatlah luas. Namun pada makalah ini hendak kami rumuskan menjadi sebagai berikut :
1.         Apakah zakat itu ?
2.         Apa saja dalil-dalil naqli mengenai zakat ?
3.         Apakah hukumnya zakat ?
4.         Apakah itu zakat maal (harta) ?
5.         Apakah itu zakat fitrah ?
6.         Apakah shadaqoh tathawu ?
7.         Apa saja hikmah dilaksanakannya zakat ?

1.3.  Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan kami membahas permasalahan zakat ini tidak lain adalah sebagai berikut :
1.         Mengetahui pengertian zakat.
2.         Mengetahui dalil-dali naqli tentang zakat.
3.         Mengetahui hukum zakat.
4.         Mengetahui apakah itu zakat maal (harta).
5.         Mengetahui apakah itu zakat fitrah.
6.         Mengetahui apakah itu shadaqoh tathawu.
7.         Mengetahui hikmah dilaksanakannya zakat.

1.4.  Metode Pembahasan
Dalam penulisan makalah ini kami mengambil berbagai referensi buku yang relevan, yaitu metode literatur atau daftar pustaka serta dari media internet. Baik teori ataupun konsep yang dapat dijadikan landasan dalam penyusunan yang ada hubungannya dengan penulisan makalah ini.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Zakat
            Secara etimologi (lughat atau kebahasaan), zakat berarti tumbuh, berkembang dan berkah (HR. At-Tirmidzi) atau dapat pula berarti membersihkan atau mensucikan, sebagaimana yang tertera dalam firman Allah swt berikut :
è{ ô`ÏB öNÏlÎ;ºuqøBr& Zps%y|¹ öNèdãÎdgsÜè? NÍkŽÏj.tè?ur $pkÍ5 Èe@|¹ur öNÎgøn=tæ ( ¨bÎ) y7s?4qn=|¹ Ö`s3y öNçl°; 3 ª!$#ur ììÏJy íOŠÎ=tæ ÇÊÉÌÈ
Artinya :
"Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui". (Qs. At-Taubah (9) : 103).

Maksudnya zakat itu membersihkan mereka dari kekikiran dan cinta yang berlebih-lebihan kepada harta benda dan zakat itu menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati mereka dan memperkembangkan harta benda mereka.
Sedangkan menurut terminologi syari'ah (istilah syara') zakat berarti kewajiban atas harta atau kewajiban atas sejumlah harta tertentu untuk kelompok tertentu dalam waktu tertentu. Sedangkan menurut Al-Mawardi dalam kitab Al-Hawiy mengemukakan bahwa zakat adalah nama bagi suatu pengambilan tertentu dari harta yang tertentu, menurut sifat-sifat yang tertentu dan untuk diberikan kepada golongan.
Adapun persyaratan bagi yang mengeluarkan zakat (wajib zakat) yaitu :
  1. Muslim.
  2. Aqil.
  3. Baligh.
  4. Milik Sempurna.
  5. Cukup Nisab.
  6. Cukup Haul.
Selain itu dikenal juga istilah shadaqah dan infak, sebagian ulama fiqih mengatakan bahwa shadaqoh wajib dinamakan zakat, sedangkan shadaqoh sunnah dinamakan infaq. Sebagian yang lain mengatakan infaq wajib dinamakan zakat sedangkan infaq sunnah dinamakan shadaqoh. Adapula yang berpendapat bahwa shadaqoh dapat bermakna infak, zakat dan kebaikan non materi lainnya. Hal ini disandarkan kepada hadits Rasulullah saw ketika memberikan jawaban kepada orang-orang miskin yang cemburu terhadap orang-orang kaya yang mampu banyak bershadaqoh dengan hartanya, beliau bersabda : "Setiap tasbih adalah shadaqoh, setiap takbir shadaqoh, setiap tahmid shadaqoh, amar ma'ruf nahyi munkar shadaqoh dan menyalurkan syahwatnya kepada istri shadaqoh. Dan shadaqoh adalah ungkapan kejujuran (shiddiq) iman seseorang". Zakat itu sendiri terbagi menjadi dua macam, yakni zakat nafs (zakat fitrah) dan zakat harta (zakat maal).

2.2. Dalil Naqli yang Berkenaan dengan Zakat
v           (#qßJŠÏ%r&ur no4qn=¢Á9$# (#qè?#uäur no4qx.¨9$# (#qãèx.ö$#ur yìtB tûüÏèÏ.º§9$# ÇÍÌÈ
Artinya :
"Dan Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku". (Qs. Al-Baqarah (2) : 43)

v           õè{ ô`ÏB öNÏlÎ;ºuqøBr& Zps%y|¹ öNèdãÎdgsÜè? NÍkŽÏj.tè?ur $pkÍ5 Èe@|¹ur öNÎgøn=tæ ( ¨bÎ) y7s?4qn=|¹ Ö`s3y öNçl°; 3 ª!$#ur ììÏJy íOŠÎ=tæ ÇÊÉÌÈ
Artinya :
"Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui". (Qs. At-Taubah (9) : 103).

v           uqèdur üÏ%©!$# r't±Sr& ;M»¨Yy_ ;M»x©rá÷è¨B uŽöxîur ;M»x©râ÷êtB Ÿ@÷¨Z9$#ur tíö¨9$#ur $¸ÿÎ=tFøƒèC ¼ã&é#à2é& šcqçG÷ƒ¨9$#ur šc$¨B9$#ur $\kÈ:»t±tFãB uŽöxîur 7mÎ7»t±tFãB 4 (#qè=à2 `ÏB ÿ¾Ín̍yJrO !#sŒÎ) tyJøOr& (#qè?#uäur ¼çm¤)ym uQöqtƒ ¾ÍnÏŠ$|Áym ( Ÿwur (#þqèùÎŽô£è@ 4 ¼çm¯RÎ) Ÿw =Ïtä šúüÏùÎŽô£ßJø9$# ÇÊÍÊÈ
Artinya :
"Dan dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan".(Qs. Al-An'am (6) : 141)

v            عن أبي عبدالرحمن – عبدالله بن عمر بن الخطا ب – رضي الله  عنهما قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : (بني الاسلام على خمس : شهاده أن لا إله إلاّ الله و أن محمداً رسول الله ، و إقا م الصلاة ، وإيتا ء الزكا ة ، وحج البيت و صوم رمضا ن) [ رواه البخاري و مسلم ]
Artinya :
           "Dari Abu 'Abdurrahman, 'Abdullah bin 'Umar bin Khattab ra, ia berkata : aku mendengar Rasulullah saw bersabda : Islam didirikan diatas lima perkara : bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah swt dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, mengerjakan haji ke Baitullah dan puasa di bulan Ramadhan". (HR. Bukhari dan Muslim)
  






2.3. Hukum Zakat
          Zakat merupakan salah satu rukun Islam, dan menjadi salah satu unsur pokok bagi tegaknya syariat Islam. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadist:
عن أبي عبدالرحمن – عبدالله بن عمر بن الخطا ب – رضي الله  عنهما قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : (بني الاسلام على خمس : شهاده أن لا إله إلاّ الله و أن محمداً رسول الله ، و إقا م الصلاة ، وإيتا ء الزكا ة ، وحج البيت و صوم رمضا ن) [ رواه البخاري   و مسلم ]
Artinya:
           "Dari Abu 'Abdurrahman, 'Abdullah bin 'Umar bin Khathab ra., ia berkata : aku mendengar Rasulullah saw bersabda : Islam itu ditegakkan atas lima perkara : bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, mengeluarkan zakat, mengerjakan haji ke baitullah dan pusa pada bulan Ramadhan". (HR. Bukhari dan Muslim)

عن ابن عبا س رضي الله عنهما أنّ النبي صلى الله عليه و سلّم  بعث معا ذا إلى اليمن فقا ل : ادعهم إلى شها دة ان لا إله الاّ الله ، و اني رسول الله ، فإ ن هم اطا عوا لذالك فا علمهم أنّ الله افترض عليهم جمس صلوات في كل يوم و ليلةٍ فإن هم اطا عوا لذالك فا علمهم أنّ الله افترض عليهم صدقةً في اموالهم ، تؤ جذ ن اغنيا ئهم ، و تردّ من فقرا ئهم . [ رواه البخا رى ]

Artinya:
           "Dari Ibnu Abbas ra, bahwasannya Nabi saw mengutus Mu'adz ke Yaman. Beliau bersabda: Ajaklah manusia supaya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan sesungguhnya Aku adalah utusan Allah. Jika mereka telah menaati hal itu, maka ajarkanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka telah menaatinya, maka ajarkanlah kepada mereka, bahwa Allah telah mewajibkan mereka untuk membayar zakat dari harta mereka, yang dipungut dari orang kaya dan diberikan kepada orang-orang fakir miskin diantara mereka". (HR. Bukhari)
           Berdasarkan kedua hadits diatas hukum zakat adalah wajib (fardhu) atas setiap muslim yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Zakat termasuk dalam kategori ibadah (seperti shalat, haji, dan puasa) yang telah diatur secara rinci dan paten berdasarkan Al-Qur'an dan As Sunnah.
2.4. Zakat Maal (Harta)
A. Pengertian Harta
            Menurut bahasa (lughat) harta adalah segala sesuatu yang diinginkan sekali oleh manusia untuk memiliki, memanfaatkan dan menyimpannya. Sedangkan menurut syara', harta adalah sesuatu yang dimiliki (dikuasai) dan dapat digunakan (dimanfaatkan) menurut ghalibnya (lazim). Oleh karenanya sesuatu dapat disebut maal (harta) apabila memenuhi 2 (dua) syarat, yaitu :
  1. Dapat dimiliki, disimpan, dihimpun dan dikuasai.
  2. Dapat diambil manfaatnya sesuai dengan ghalibnya. Misalnya rumah, mobil, ternak, hasil pertanian, uang, perhiasan dan lain sebagainya.

B. Syarat-syarat Harta yang Wajib Dizakati
            Syarat-syarat yang meliputi wajibnya harta untuk dikeluarkan zakatnya antara
Lain sebagai berikut :
  1. Milik Penuh (Amil Kuttam)
Yaitu, harta tersebut berada dalam kontrol dan kekuasaannya secara penuh dan dapat diambil manfaatnya. Harta tersebut didapat melalui proses pemilikan yang dibenarkan menurut syari'at Islam seperti : usaha, warisan, pemberian negara atau orang lain dengan cara-cara yang sah. Sedangkan apabila harta tersebut diperoleh dengan cara yang haram, maka zakat atas harta tersebut tidaklah wajib, sebab harta tersebut harus dibebaskan dari tugasnya dengan cara dikembalikan kepada yang berhak atau ahli warisnya.
  1. Berkembang
Yaitu, harta tersebut dapat bertambah atau berkembang bila diusahakan atau mempunyai potensi untuk berkembang.
  1. Cukup Nishab
Artinya harta tersebut telah mencapai jumlah tertentu sesuai dengan ketetapan syara'. Sedangkan harta yang tidak sampai nishabnya terbebas dari zakat.
  1. Lebih Dari Kebutuhan Pokok (Al-hajatul Ashliyyah)
Pengertian kebutuhan pokok itu sendiri adalah kebutuhan minimal yang diperlukan seseorang dan keluarga yang ditanggungnya, untuk kelangsungan hidupnya.  Kebutuhan tersebut seperti kebutuhan primer atau kebutuhan hidup minimum (KHM) seperti keperluan belanja sehari-hari, pakaian, rumah, kesehatan, pendidikan dan lainnya.
  1. Bebas dari Hutang
Hutang sekecil-kecilnya atau mengurangi nishab harta yang wajib dizakati dan harus dibayar pada waktu yang sama (dengan waktu mengeluarkan zakat), maka harta tersebut terbebas dari zakat.
  1. Berlalu satu tahun (Al-haul)
Maksudnya adalah kepemilikan harta tersebut sudah berlalu satu tahun. Persyaratan ini hanya berlaku bagi hewan ternak, harta simpanan dan perniagaan. Sedangkan hasil pertanian, buah-buahan dan rikaz (barang temuan) tidak ada syarat haul.

C. Macam-macam Harta yang Wajib Dizakati dan Nishabnya
1.         Binatang Ternak
Hewan ternak disini meliputi hewan besar (unta, kuda, sapi dan kerbau), hewan kecil (kambing dan domba) dan unggas (ayam, itik dan burung).
a.         Kuda, sapi dan kerbau
Nishab kerbau dan kuda disetarakan dengan nishab sapi, yaitu 30 ekor. Artinya jika seseorang telah memiliki 30 ekor sapi, kerbau atau kuda maka ia terkena wajib zakat. Berdasarkan kepada hadit Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Abu Daud dari Muadz bin Jabbal ra, maka dapat di buat tabel sebagai berikut :
Jumlah Ternak (ekor)
Zakat
30-39
1 ekor sapi jantan / betina tabi' (a)
40-59
1 ekor sapi betina musinnah (b)
60-69
2 ekor sapi tabi'
70-79
1 ekor sapi musinnah dan 1 ekor tabi'
80-89
2 ekor sapi musinnah
           
            Keterangan :
(a)    Sapi berumur 1 tahun, masuk tahun ke-2
(b)   Sapi berumur 2 tahun, masuk tahun ke-3
Selanjutnya setiap bertambah 30 ekor, maka zakatnya bertambah 1 ekor tabi' dan jika bertambah 40 ekor maka zakatnya bertambah 1 ekor musinnah.

b.         Kambing dan domba
Nishab kambing dan domba adalah 40 ekor. berdasarkan kepada hadits Nabi Muhammad saw, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari Anas bin Malik, maka dapat dibuatkan tabel seperti berikut :
Jumlah Ternak (ekor)
Zakat
40-120
1 ekor kambing (2 th) atau domba (1th)
121-200
2 ekor kambing atau domba
201-300
3 ekor kambing atau domba

Selanjutnya, setiap jumlahnya bertambah 100 ekor maka zakatnya bertambah 1 ekor.

c.         Unggas (ayam, bebek dan burung) dan Perikanan
Nishab pada ternak unggas dan perikanan tidak ditetapkan berdasarkan jumlah (ekor) sebagaimana halnya tenak sapi, kerbau, kuda, unta, kambing dan domba. Tetapi perhitungan zakatnya berdasarkan skala usaha. Nishab ternak unggas dan perikanan adalah setara dengan 20 dinar (1 dinar = 4,25 gram emas murni) atau sama dengan 85 gram emas. Artinya bila seseorang berternak unggas atau ikan, dan pada akhir tahun (tutup buku) ia memiliki kekayaan yang berupa modal kerja dan keuntungan lebih besar atau setara dengan 85 gram emas, maka ia terkena kewajiban zakat sebesar 2,5 %.

2.         Emas dan Perak
Emas dan perak merupakan logam mulia yang selain merupakan elok juga sering dijadikan perhiasan. Emas dan perak juga dijadikan mata uang yang berlaku dari waktu ke waktu. Islam memandang emas dan perak sebagai harta yang potensial berkembang. Oleh karenanya syara' mewajibkan zakat atas keduanya, baik berupa uang, leburan logam, bejana, souvenir atau yang lainnya.
Termasuk dalam kategori emas dan perak, adalah mata uang yang berlaku pada waktu itu di masing-masing negara. Oleh karena itu segala bentuk penyimpanan uang seperti tabungan, deposito, cek, saham atau surat berharga lainnya termasuk kedalam kategori emas dan perak. Sehingga penentuan nishab dan besarnya zakat yang harus dikeluarkan setara dengan emas dan perak.
Nishab emas adalah 20 dinar ( 85 gram emas murni) dan perak adalah 200 dirham (setara dengan 672 gram perak). Artinya bila seseorang telah memiliki emas sebesar 20 dinar atau perak sebesar 200 dirham dan sudah mencapai satu tahun, maka ia telah terkena wajib zakat, yakni sebesar 2,5 %.
Demikian juga segala macam jenis harta yang merupakan simpanan dan dapat dikategorikan dalam "emas dan perak", seperti uang tunai, tabungan, cek, saham dan surat berharga lainnya. Maka nishab dan zakatnya sama dengan ketentuan nishab dan zakatnya emas dan perak, artinya jika seseorang memiliki bermacam-macam bentuk harta dan jumlah akumulasinya lebih besar atau sam dengan nishab (85 gram emas) maka ia telah terkena wajib zakat (2,5 %).

3.         Harta Perniagaan
Harta perniagaan adalah semua harta yang diperjual-belikan dalam berbagai jenisnya, baik berupa alat-alat, pakaian, makanan sampai perhiasan yang di usahakan secara perorangan ataupun perserikatan seperti CV, Pt, Koperasi dan lain sebagainya.
Harta perniagaan, baik yang bergerak di bidang perdagangan, industri, argoindustri ataupun jasa, baik yang dikelola secara individu maupun badan usaha (PT, CV, Yayasan, Koperasi dll) nishabnya adalah 20 dinar (setara dengan 85 gram emas murni). Artinya jika usaha tersebut pada akhir tahun (tutup buku) memiliki kekayaan (modal kerjadan untung) setara atau lebih besar dari 85 gram emas (jika per gram Rp.25.000,- = Rp.2.125.000,-) maka ia wajib mengeluarkan zakatnya sebesar 2,5 %.
Pada badan usaha yang berbentuk syirkah (kerja sama), maka semua anggota syirkah yang beragama Islam, zakat dikeluarkan lebih dulu sebelum dibagikan kepada pihak-pihak yang bersyirkah. Tetapi jika anggota syirkah terdapat non muslim, maka zakat hanya dikeluarkan dari anggota syirkah muslim saja (apabila jumlahnya lebih dari satu nishab).

4.         Hasil Pertanian
Hasil pertanian adalah hasil tumbuh-tumbuhan atau tanaman yang bernilai ekonomis seperti biji-bijian, umbi-umbian, sayur-mayur, buah-buahan, tanaman hias, rumput-rumputan, dedaunan dan lain lainnya.
Nishab hasil pertanian adalah 5 wasq atau setara dengan 750 kg, apabila hasil pertanian termasuk ke dalam makanan pokok seperti beras, gandum, jagung, kurma, dan yang lainnya. Tetapi jika hasil pertanian itu selain makanan pokok seperti buah-buahan, sayuran, dedaunan dan bunga, maka nishabnya disetarakan dengan harga nishab dari makanan pokok yang paling umum di daerah (negeri) tersebut (di Indonesia = beras).
Kadar zakat untuk hasil pertanian, apabila diairi dengan air hujan atua air dari sungai/mata air, maka 10% dan apabila dengan cara disiram/irigasi (ada biaya tambahan) maka zakatnya 5%. Imam Az-Zarqoni berpendapat apabila lahan pertanian diairi dengan air hujan (sungai) dan disirami (irigasi) dengan perbandingan 50 : 50, maka kadar zakatnya 7,5% (3/4 dari 1/10).
Pada sistem perairan saat ini, biaya tidak sekedar untuk pengairan saja tetapi ada biaya lain seperti pupuk, insektisida dll. Maka untuk mempermudah perhitungan zakatnya, biaya pupuk, insektisida dan sebagainya diambil dari hasil panen kemudian sisanya (apabila mencapai satu nishab) dikeluarkan zakatnya 10% atau 5% (tergantung kepada sistem pengairannya).

5.         Ma-din dan Kekayaan Laut
Ma-din (hasil tambang) adalah benda-benda yang terdapat di dalam perut bumi dan memiliki nilai ekonomis sepaerti emas, perak, timah, tembaga, marmer, giok, minyak bumi, batu-bara dan lainnya. Kekayaan laut adalah segala sesuatu yang dieksploitasi dari laut seperti mutiara, ambar, marjan dan lain sebagainya.

6.         Rikaz
Rikaz adalah harta terpendam dari zaman dahulu, yang dikenal dengan nama harta karun. Termasuk di dalamnya harta yang ditemukan dan tidak ada yang mengaku sebagai pemiliknya.
Rikaz tidak disyaratkan sampai satu tahun tetapi zakat dikeluarkan ketikaitu juga. Adapun nishabnya sebagian berpendapat sampai satu nishab adpula yang berpendapat bahwa nishab itu tidak termasuk syarat (seperti pendapat Imam Maliki, Imam Abu Hanifah serta pengikut-pengikutnya). Wajib bagi yang menemukan rikaz ini mengeluarkan zakat sebesar 1/5 atau 20 %.

2.5. Zakat Fitrah
            Satu lagi bentuk zakat yang disyari'atkan dalam Islam. Tidak didasarkan pada modal harta sebagaimana zakatnya dua mata uang, emas dan perak. Tidak pula didasarkan pada hasil panen sebagaimana zakatnya tanaman dan buah-buahan. Zakat yang dimaksud adalah zakat fitrah. Adapun penamaan zakat fitrah karena zakat ini wajib di keluarkan di saat bulan ramadhan hingga menjelang shalat idul fitri di setiap tahunnya. Tujuannya memeberikan bantuan terhadap sesama saudara dari kalangan kaum dhuafa sehingga mereka juga turut berbahagia merayakan idul fitri.

عن ابن عمر قا ل : فرض رسول الله صلى الله عليه و سلّم : وكا ة الفطر من رمضا ن على النا س صا عاً من تمرٍ او صاعلً من شعيرٍ على كلّ حر او عبدٍ ذكرٍ او انثى من المسلمين. [رواه البخا رى و مسلم و في البخا رى :  وا ن يعطون قبل الفطر بيومٍ او يومين .]
Artinya :
            "Dari Ibnu Umar, Ia berkata : Rasulullah saw mewajibkan zakat fitri (berbuka) bulan Ramadhan sebanya satu sha' (3,1 liter) kurma atau gandum atas tiap-tiap orang muslim merdeka atau hamba. Laki-laki atau perempuan." (HR. Bukhari dan Muslim, dalam Bukhari dikatakan "mereka membayar fitrah itu sehari atau dua hari sebelum hari raya" ).
            Adapun waktu mengeluarkannya sebagaimana yang kita ketahui ialah sebelum terbenamnya matahari pada penghujung bulan Ramadhan. Sungguhpun begitu, apabila dikeluarkan sebelumnya, asal masih dalam bulan Ramadhan tidak dilarang.
a. Syarat-syarat wajib zakat fitrah
  1. Islam. Orang di luar Islam tidak diwajibkan.
  2. Lahir sebelum terbenamnya matahari pada hari penghabisan Ramadhan.
  3. Mempunyai harta berlebih dari keperluan pokoknya dan untuk yang wajib dinafkahinya. Baik itu manusia atau bianatang, pada malam hari ataupun siang harinya. Maka yang tidak mempunyai harta berlebih tidak diwajibkan, bahkan bisa jadi ia termasuk yang berhak menerima zakat fitrah.

b. Orang yang berhak menerima zakat
            orang-orang yang berhak menerima zakat adalah mereka yang telah ditetapkan Allah swt di dalam Al-Qur'an sebagai berikut :
* $yJ¯RÎ) àM»s%y¢Á9$# Ïä!#ts)àÿù=Ï9 ÈûüÅ3»|¡yJø9$#ur tû,Î#ÏJ»yèø9$#ur $pköŽn=tæ Ïpxÿ©9xsßJø9$#ur öNåkæ5qè=è% Îûur É>$s%Ìh9$# tûüÏB̍»tóø9$#ur Îûur È@Î6y «!$# Èûøó$#ur È@Î6¡¡9$# ( ZpŸÒƒÌsù šÆÏiB «!$# 3 ª!$#ur íOŠÎ=tæ ÒOÅ6ym ÇÏÉÈ
Artinya :
"Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana". (Qs. At-Taubah (9) : 60)

Berdasarkan kepada ayat di atas, yang berhak menerima zakat ialah:
1. orang fakir: orang yang amat sengsara hidupnya, tidak mempunyai harta dan tenaga untuk memenuhi penghidupannya.
2. orang miskin: orang yang tidak cukup penghidupannya dan dalam keadaan kekurangan.
3. Pengurus zakat: orang yang diberi tugas untuk mengumpulkan dan membagikan zakat.
4. Muallaf: orang kafir yang ada harapan masuk Islam dan orang yang baru masuk Islam yang imannya masih lemah.
5. memerdekakan budak: mencakup juga untuk melepaskan muslim yang ditawan oleh orang-orang kafir.
6. orang berhutang: orang yang berhutang Karena untuk kepentingan yang bukan maksiat dan tidak sanggup membayarnya. adapun orang yang berhutang untuk memelihara persatuan umat Islam dibayar hutangnya itu dengan zakat, walaupun ia mampu membayarnya.
7. pada jalan Allah (sabilillah): yaitu untuk keperluan pertahanan Islam dan kaum muslimin. di antara mufasirin ada yang berpendapat bahwa fisabilillah itu mencakup juga kepentingan-kepentingan umum seperti mendirikan sekolah, rumah sakit dan lain-lain.
8. orang yang sedang dalam perjalanan yang bukan maksiat mengalami kesengsaraan dalam perjalanannya.

2.6. Shadaqoh Tathawu
            Selain dari shadaqoh yang wajib (zakat) Allah juga menganjurkan supaya bersedekah di jalan-Nya secukupnya apabila ada kepentingan yang memerlukan baik hal-hal tertentu ataupun pada kemaslahatan umum. Allah swt berfirman :
ã@sW¨B tûïÏ%©!$# tbqà)ÏÿZムóOßgs9ºuqøBr& Îû È@Î6y «!$# È@sVyJx. >p¬6ym ôMtFu;/Rr& yìö7y Ÿ@Î/$uZy Îû Èe@ä. 7's#ç7/Yß èps($ÏiB 7p¬6ym 3 ª!$#ur ß#Ï軟Òム`yJÏ9 âä!$t±o 3 ª!$#ur ììźur íOŠÎ=tæ ÇËÏÊÈ
Artinya :
"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (Qs. Al-Baqarah (2) : 261)

Pengertian menafkahkan harta di jalan Allah yang dimaksudkan ayat tersebut adalah meliputi belanja untuk kepentingan jihad, pembangunan perguruan, rumah sakit, usaha penyelidikan ilmiah dan lain-lain.
Maka jelaslah bahwa sedekah tathawu (sunah) pada jalan Allah (jalan kebaikan) itu akan mendapat ganjaran tujuh ratus kali lipat dari harta yang dikeluarkan, bahkan Allah menggandakannya lagi bagi siapa yang Ia kehendaki.

2.7. Hikmah Mengeluarkan Zakat
            Zakat merupakan satu bentuk ibadah yang mengandung nilai dimensi ganda, transendental dan horizontal. Oleh karena itu zakat memiliki banyak arti dalam kehidupan umat manusia, terutama Islam. Zakat memiliki banyak hikmah, baik yang berkaitan dengan Allah swt maupun hubungan sosial kemasyarakatan di antara manusia. Adapun hikmah-hikmah zakat tersebut antara lain :
1.         Ungkapan rasa syukur atas nikmat yang telah Allah swt berikan.
2.         Dukungan moral kepada orang yang baru masuk Islam.
3.         Untuk pengembangan potensi umat.
4.         Menolong, membantu, membina dan membangun kaum dhuafa yang lemah papa dengan materi sekedar untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya. Dengan kondisi tersebut mereka akan mampu melaksanakan kewajibannya terhadap Allah swt.
5.         Memberantas penyakit iri hati, rasa benci dan dengki dari orang-orang di sekitarnya yang berkehidupan cukup bahkan mewah. Sedang ia sendiri tal mamiliki apa-apa dan tidak ada uluran tangan dari mereka (orang kaya) kepadanya.
6.         Menjadi unsur penting dalam mewujudkan keseimbangan dalam distribusi harta (sosial distribution) dan keseimbangan tanggung jawab individu dalam masyarakat.
7.         Dapat menunjang terwujudnya sistem kemasyrakatan Islam yang berdiri atas prinsip-prinsip : Ummatan Wahidan (umat yang satu), Musawwah (persamaan derajat dan kewajiban), Ukhuwah Islamiyah (Persaudaraan Islam) dan Takaful 'Ijma (tanggungjawab bersama).
8.         Dapat mensucikan diri (pribadi) dari kotoran dosa, memurnikan jiwa (menumbuhkan akhlaq mulia, menjadi murah hati, peka terhadap rasa kemanusiaan) dan mengikis sifat bakhil (kikir) serta serakah.
9.         Zakat merupakan ibadah maaliyah yang mempunyai dimensi dan fungsi sosial ekonomi dan pemeratan karunia Allah swt dan juga merupakan perwujudan solidaritas sosial dan pernyataan rasa kemanusiaan dan keadilan.
10.     Mewujudkan tatanan masyarakatyang sejahtera. Dimana hubungan seseorang dengan yang lainnya menjadi rukun, damai dan harmonis sehingga menghasilkan situasi yang tenteram dan aman lahir bathin.

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
            Zakat, shadaqoh maupun infak adalah ibadah maaliyah yang disyari'atkan Allah swt kepada umat Islam yang harus didasari dengan niat yang ikhlas dan mengharapkan balasan dari-Nya. Karena sesungguhnya zakat, shadaqoh ataupun infaq adalah hak fakir miskin bukan sepenuhnya harta itu milik kita. Oleh karena itu zakat, shadaqoh dan infaq bagaikan pinjaman kita kepada Allah swt yang apabila kita menunaikannya akan mendapatkan balasan yang besar dari Allah swt di hari pembalasan kelak.

            Adapun zakat fitrah merupakan zakat yang harus dikeluarkan bagi setiap muslim yang mampu tanpa terkecuali dengan batas waktu dan ukuran yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
è{ ô`ÏB öNÏlÎ;ºuqøBr& Zps%y|¹ öNèdãÎdgsÜè? NÍkŽÏj.tè?ur $pkÍ5 Èe@|¹ur öNÎgøn=tæ ( ¨bÎ) y7s?4qn=|¹ Ö`s3y öNçl°; 3 ª!$#ur ììÏJy íOŠÎ=tæ ÇÊÉÌÈ
Artinya :
"Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui". (Qs. At-Taubah (9) : 103).

3.2. Saran
            Selaku umat Islam, kita yang mengetahui hakekat zakat hendaknya membiasakan diri untuk mengeluarkan zakat. Apakah itu berupa shadaqoh sunnah ataupun bentuk yang lainnya. Karena dengan hal inilah kita mampu berdakwah kepada orang lain yang belum mengetahuinya.

DAFTAR PUSTAKA



Al-Qardlawi , Yusuf. 1998. Ibadah Dalam Islam. Surabaya : Bina Ilmu.
________________. 2007. Hukum Zakat. Jakarta : Mitra Kerjaya.
Al-Faridy, Hasan Rifa'i. 1996. Panduan Zakat Praktis, Dompet Dhuafa Republia. Tersedia dalam : http://www.dompetdhuafa.or.id/zakat/z002.htm
Az-Zubaidi, Zainuddin Ahmad. 2007. Terjemah Hadits Shahih Bukhari I. Semarang : Karya Toha Putra.
Amin, Shiddiq. 2008. Risalah. Bandung.
Departemen Agama RI. 2005. Al-Qur'an dan Terjemahnya. Bandung : Diponegoro.
Hasan, A. 1985. Soal – Jawab (Tentang Berbagai Masalah Agama). Bandung : Diponegoro.
_________. 1999. Tarjamah Bulughul Maram. Yogyakarta : Media Hidayah.
Ied, Ibnu Daqiqil. 2001. Syarah Arba'in An-Nawawi. Yogyakarta : Media Hidayah.

0 Response to "ZAKAT"

Posting Komentar