TELAAH BAHASA PERSUASIF ALQURAN


BAB I
PENDAHULUAN
Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW mengandung ajaran yang komprehensif, meliputi seluruh aspek kehidupan manusia. Islam membimbing manusia menuju kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Banyak pakar mengungkapkan bahwa Al-Qur'an merupakan ideasional dari intisari Islam yang tertulis dalam bahasa Arab yang mulia. Al-Qur'an antara lain berisi prinsip-prinsip agama, etika, dan hukum yang mengatur kehidupan sehari-hari dalam masyarakat dan tatanan sosial. Bagian dari intisari tersebut mengatur hubungan antarmanusia dalam prinsip-prinsip keadilan dan persamaan bagi semua.
Al-Qur'an tidak memperlakukan materi subjeknya secara sistematis, karena hal ini merupakan salah satu bentuk keunikannya. Di dalamnya mengandung prinsip-prinsip, perintah dan larangan yang bertebaran seperti rangkaian mutiara yang terlepas. Penyusunan surat-suratnya dan ayat-ayatnya dalam surat-suratnya tidak dimaksudkan untuk memberikan Al-Qur'an struktur topikal. Ia tidak bersifat berkembang bentuk-bentuk verbal ayatnya, tetapi Al-Qur'an disusun dari rangkaian kelompok ayat, yang setiap kelompok membahas topik yang berbeda dan membentuk kesatuan yang sempurna meski hanya satu atau dua baris. Di samping itu Al-Qur'an juga merupakan pintu untuk melihat yang samawi dan Ilahiyah, ruang tak terbatas dari nilai-nilai dan prinsip yang membentuk kehendak Ilahiah.
Agar bisa memahami al-Qur’an secara komprehensif, ada beberapa catatan yang perlu disampaikan di sini.
Pertama, yang disebut al-Qur’an itu ialah keseluruhan ayat-ayat dan surat-suratnya. Satu ayat dengan ayat yang lain tidak bisa dipisah-pisahkan pengertiannya. Karena satu ayat dengan ayat lain, satu surat dengan surat yang lain, membentuk satu bangunan pengertian yang holistik dan kokoh. “Dan sesungguhnya Al Qur'an itu benar-benar kebenaran yang meyakinkan.” (Q.S 69:51)
Kedua, antara satu ayat dengan ayat yang lain saling menjelaskan. Karenanya al-Qur’an sendiri menyebut dirinya sebagai bayān (penjelasan), ɦudān (petunjuk), dan mau’izhah (pelajaran), baik terhadap dirinya sendiri ataupun terhadap seluruh realitas kehidupan. Adalah suatu hal yang ganjil apabila al-Qur’an mampu menjelaskan seluk-beluk alam semesta mulai dari penciptaannya pertama kali sampai kehancurannya kelak, tetapi tidak mampu memberi penjelasan terhadap dirinya sendiri. Penjelasan di sini bisa bermakna membuat defenisi (ta’rif), membangun argumentasi (hujjah), ataupun mendemonstrasikan bukti-bukti rasional (burhan). Penjelasan juga bisa bermakna deskripsi (taushil), persuasi (iqna’) dan ekspresi (ta’bir).
Pada saat membangun argumentasi (hujjah), deskripsi al-Qura’an kadang mengambil analogi (khusus ke khusus, tamtsil), atau memperluas makna (khusus ke umum, istiqra’) atau mempersempit makna (dari umum ke khusus, qiyas—dalam pengertian mantiq atau ilmu logika). Maka dalam kaitan ini, satu ayat tidak bisa dipisahkan dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya. Juga tidak bisa memisahkan antara satu ayat di suatu surat dengan ayat lain di surat yang lain.
(Al Qur'an) ini adalah penjelasan (bayān) bagi seluruh manusia, dan petunjuk (ɦudān) serta pelajaran (mau’izhah) bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS 3:138).

Ketiga, karena ayat-ayat dan surat-suratnya membentuk satu bangunan pengertian yang kokoh maka tentu tidak mungkin terjadi kontradiksi-kontradiksi diantara ayat-ayat dan surat-surat tersebut.
Maka apakah mereka tidak mencermati Al Qur'an? (Bahwa) kalau sekiranya Al Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” ( QS 4:82)

Jika dikaji menggunakan pendekatan ilmu komunikasi, Al-Quran mengandung ajaran tentang prinsip-prinsip komunikasi persuasif. Sinyalemen tersebut memerlukan pengamatan secara seksama dan interpretasi dengan perspektif ilmu sosial khususnya komunikasi. Begitu pula hadits Nabi Muhammad SAW memuat prinsip-prinsip komunikasi. Term tersebut di dalam konteks Agama Islam dapat pula dipahami dan dikategorikan sebagai bagian dari ilmu dakwah.
Karakteristik komunikasi persuasif sendiri ditandai dengan unsur membujuk, mengajak, mempengaruhi dan meyakinkan, jika dilihat dari perspektif Islam dapat dikategorikan pada dakwah Islam. Unsur-unsur yang terkandung dalam komunikasi persuasif menjadi dasar kegiatan dakwah karena dakwah secara etimologis berarti mengajak atau menyeru. Dakwah merupakan bagian dari tugas setiap muslim, dalam beberapa ayat Al-Quran disebutkan bahwa dakwah menuju jalan Allah SWT hukumnya wajib. Kewajiban ini didasari perintah melaksanakan dakwah disampaikan dalam bentuk fiil amr, yaitu perintah secara langsung sebagaimana yang terdapat dalam surat An-Nahl ayat 125. Dakwah yang dimaksud dalam konteks yang relevan dengan komunikasi persuasif adalah dakwah billisan atau dakwah dengan menggunakan kata-kata atau lebih dikenal dengan tabligh.
Surat An-Nahl ayat 125 mengandung pengertian bahwa dakwah merupakan proses berperilaku ke-Islaman yang melibatkan unsur da’i, pesan, uslub (metode), wasilah (media), mad’u (yang didakwahi), dan tujuan. Perilaku ke-Islaman itu, dari segi bentuknya antara lain berupa irsyad, (internalisasi dan bimbingan), tabligh (transmisi dan penyebarluasan), tadbir (rekayasa daya manusia), tatwir (pengembangan kehidupan muslim) dan aspek-aspek kultur universal. Penjelasan Al-Quran yang diturunkan melalui istinbath (berpikir deduktif) menjadi teori utama ilmu dakwah. Adapun definisi dari ragam bentuk prilaku keIslaman termaksud yaitu :
1.      Tabligh merupakan suatu penyebarluasan ajaran Islam yang memiliki ciri-ciri tertentu. Ia bersifat massal, seremonial, bahkan kolosal. Ia terbuka bagi beragam agregat sosial dari berbagai kategori. Ini berhubungan dengan peristiwa penting dalam kehidupan manusia secara individual atau kolektif. Ia berkaitan degan sponsorship, perseorangan, keluarga, satuan jamaah atau instansi.
2.      Irsyad adalah bimbingan dan penyuluhan, yaitu proses internalisasi, transmisi, dan transformasi, ajaran Islam dalam konteks dakwah nafsiyah, fardhaiyah, dan fiahyang berasumber pada Al-Quran, Sunnah, dan ijtihad untuk mewujudkan kebenaran, keadilan dan menegakkan khittah kemanusiaan muslim dalam kenyataan kehidupan.
3.      Tathwir atau pengembangan masyarakat diidentifikasi sebagai penyebarluasan aajran Islam dalam bentuk aksi sosial. Ia merupakan satu bentuk pengorganisasian potensi sosial yang diarahkan pada sustu kondisi tertentu, dengan mengacu kepada kondisi tertentu da npada aspek-aspek yang normatifyang bersifat kondisional.
4.      Tadbir atau manajemen dakwah merupakan penataan penyebarluasan ajaran Islam dengan menggunakan prinsip dan komponen manajemen secara umum. Intinya menggerakkan berbagai komponen dalam suatu jalinan kerja sama yang diorganisasikan.

Hakikat ilmu dakwah dapat dirumuskan sebagai kumpulan ilmu pengetahuan yang berasal dari Allah yang dikembangkan umat Islam yang sistematis dan terorganisir yang membahas sesuatu yang ditimbulkan dalam interaksi antar unsur dalam sistem yang melaksanakan kewajiban dakwah dengan maksud memperoleh pemahaman yang tepat mengenai kenyataan dakwah sehingga akan dapat memperoleh susunan yang bermanfaat bagi penegakkan tugas dakwah dan khilafah umat manusia.
Adapun fungsi ilmu dakwah Menurut Sambas adalah (a) Mentransformasikan dan menjadi manhaj (kaifiyah) untuk mewujudkan ajaran Islam menjadi tatanan khairu ummah, (b) mentransformasikan iman menjadi amal shaleh jamaah; (c) membangun dan mengembalikan manusia pada keadaan fitri, meluruskan tujuan hidup manusia, meneguhkan fungsi khilafah manusia meurut Al-Quran dan Sunnah. Oleh karena itu ilmu dakwah dapat dipandang sebagai ilmu perjuangan umat Islam dan ilmu rekayasa masa depan umat dan peradaban Islam.
Mengacu pada latar belakang pemikiran tersebut, makalah ini mencoba untuk mengkaji tentang Bahasa Persuasif Al-Qur’an Tentang Pendidikan (Studi Kasus Kisah Lukmanul Hakim dalam Al-Qur’an).
Besar harapan makalah ini memberikan sumbangsih yang berharga baik secara akademis maupun praktis.















BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Komunikasi Persuasif
Istilah persuasi (persuasion) berasal dari perkataan latin persuasio. Kata kerjanya adalah persuadere yang berarti membujuk, mengajak atau merayu. Komunikasi persuasif adalah komunikasi yang bertujuan untuk merubah atau mempengaruhi kepercayaan, sikap, dan perilaku seseorang sehingga bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh komunikator. (Bruce Berger Ph.D. Persuasive Communication Part I. U.S. Pharmacist a Jobson Publication ) Dikutib dari ( http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi_persuasif, 2009 )
Burgon & Huffner (2002) meringkas beberapa pendapat dari beberapa ahli mengenai definisi komunikasi persuasi sebagai berikut;
  1. Proses komunikasi yang bertujuan mempengaruhi pemikiran dan pendapat orang lain agar menyesuaikan pendapat dan keinginan komunikator.
  2. Proses komunikasi yang mengajak atau membujuk orang lain dengan tujuan mengubah sikap, keyakinan dan pendapat sesuai keinginan komunikator. Pada definisi ini ‘ajakan’ atau ‘bujukan’ adalah tanpa unsur ancaman/ paksaan.
Bila kita merujuk kepada definisi komunikasi persuasi tersebut maka komunikasi persuasi tentunya tanpa aspek agresi. Oleh karena itu, komunikasi persuasi termasuk dalam pola komunikasi yang asertif. Dalam komunikasi persuasi terdapat komponen atau elemen sehingga dapat disebut sebagai komunikasi persuasi. Komponen tersebut antaranya;
  1. Claim, yaitu pernyataan tujuan persuasi baik yang tersurat (eksplisit) maupun tersirat (implisit). Mengidentikkan sebuah tema dengan suatu fenomena menarik dan mudah diingat.
  2. Warrant, yaitu perintah yang dibungkus dengan ajakan atau bujukan sehingga terkesan tidak memaksa. Misalnya iklan yang diikuti dengan kata “ayo”, “mari” dan lain sebagainya.
  3. Data, yaitu data-data atau fakta yang digunakan untuk memperkuat argumentasi keunggulan pesan dari komunikator.
Para ahli komunikasi sering kali menekankan bahwa persuasif adalah kegiatan psikologis (Jalaluddin Rakhmat 2000:18). Penekanan ini bertujuan untuk mengadakan perbedaan antara persuasif dengan koersif. Pada prinsipnya tujuan persuasi dan koersi adalah sama, yakni untuk mengubah opini, sikap dan perilaku. Hanya saja terdapat perbedaan pada teknik penyampaian pesan antara keduanya. Pada komunikasi persuasif penyampaian pesan dilakukan dengan cara membujuk, merayu, meyakinkan, mengiming-iming dan sebagainya sehingga terjadi kesadaran untuk berubah pada diri komunikan yang terjadi secara suka rela tanpa adanya paksaan. Sedangkan pada komunikasi koersif perubahan opini, sikap, dan perilaku terjadi dengan perasaan terpaksa dan tidak senang karena adanya ancaman dari komunikator. Efek dari teknik koersif ini bisa berdampak timbulnya rasa tidak senang, rasa benci, bahkan mungkin rasa dendam. Sedangkan efek dari komunikasi persuasif adalah kesadaran, kerelaan dan perasaan senang.
Persuasi merupakan bagian dari kehidupan kita setiap hari, maka usaha memahami dan menguasai persuasi, baik secara teoritis maupun praktis, agaknya merupakan kebutuhan yang tidak dapat ditunda. Menurut Joseph A. Haro dalam buku Speaking Persuasively persuasi adalah kenyataan yang tidak dapat dinafikan dalam kehidupan sehari-hari.
Tidak mengherankan bila tindak-tutur persuasi juga termasuk gaya bahasa yang banyak dipergunakan dalam Al-Qur’an, misalnya dalam surah Al-Maidah ayat 90-91 berikut.
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan panah itu termasuk perbuatan setan. Karena itu, jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi, serta menghalangi kamu dari mengingat Allah dan salat. Maka akankah kamu berhenti (dari mengerjakan perbuatan-perbuatan itu)?
Pada ayat ini pertama-tama Allah SWT menyeru dengan panggilan hai orang-orang yang beriman (يا أيها الذين آمنوا). Orang yang merasa beriman sejatinya merasa terpanggil dengan seruan yang khusus ditujukan kepada mereka ini. Seruan ini tidak lantas diikuti dengan thalab (perintah atau larangan), tetapi diikuti dengan pencandraan bahwa khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan panah itu termasuk perbuatan setan. Setelah itu barulah dihadirkan thalab berupa perintah agar menjauhi perbuatan-perbuatan buruk tersebut. Thalab ini dipungkas dengan targhib (iming-iming) mendapat keberuntungan, antara lain terhindar dari permusuhan dan kebencian. Ayat ini kemudian dipungkas dengan sebuah kalimat interogatif, فهل أنتم منتهون (Maka akankah kamu berhenti)? Meski tidak lokusi ayat ini berupa kalimat interogatif, tetapi tindak ilokusi ayat sebenarnya merupakan perintah agar orang-orang beriman menjauhi khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan panah. Tindak perlokusinya tentu saja agar orang-orang beriman mau meninggalkan perbuatan-perbuatan buruk tersebut secara sadar.

2.2 Klasifikasi Komunikasi Persuasif

      1. Teknik “red herring
Teknik komunikasi persuasif “red herring” berasal dari nama jenis ikan yang hidup di samudera Atlantik Utara. Jenis ikan ini terkenal dengan kebiasaannya dalam membuat gerak tipu ketika diburu oleh binatang lain atau oleh manusia. Dalam hubungannya dengan komunikasi persuasif, teknik “red herring” adalah seni seorang komunikator untuk meraih kemenangan dalam perdebatan dengan mengelakkan argumentasi yang lemah untuk kemudian mengalihkannya sedikit demi sedikit ke aspek yang dikuasainya guna dijadikan senjata ampuh untuk menyerang lawan. Jadi teknik ini digunakan pada saat komunikator berada dalam posisi terdesak. ( William Albig, Modern Public Opinion : 554: 4 )
Berkaitan dengan teori ini, menurut Jalaludin Rahmat dalam bukunya Islam Aktual menyebutkan bahwa dalam berkomunikasi hendaklah “straight to the point”, lurus, tidak bohong, tidak berbelit-belit, sesuai dengan kriteria kebenaran.
Jika dalam mengemukakan argumentasi hanya berorientasi pada memenangkan perdebatan, maka hal tersebut melanggar prinsip-prinsip ajaran Islam sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran surat An-Nahl ayat 125.

ادع الي سبيل ربك بالحكمة و الموعظة الحسنة و جادلهم بالتي هي أحسن إن ربك هو أعلم بمن ضل عن سبيله و هو أعلم بالمهتدين
Artinya :
“Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan peringatan yang baik dan berdebatlah dengan cara yang baik pula, sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
(Q.S An-Nahl 125)

Ayat tersebut jika dipahami dan ditafsirkan menggunakan pendekatan ilmu komunikasi mengandung pengertian bahwasannya seorang komunikator dituntut untuk mengetahui dan memahami kondisi orang yang diajak berkomunikasi dari berbagai aspek, di antaranya dari status sosial, latar belakang pendidikan, ekonomi, dan budaya atau dalam istilah komunikasi disebut frame of reference. Selain itu seorang komunikator juga harus memahami kondisi orang yang diajak berkomunikasi dari aspek pengalaman masa lalu mereka atau dikenal dengan field of experience. Kedua faktor tersebut mesti mendapat perhatian bagi seorang yang akan melakukan kegiatan komunikasi persuasif.
2. Teknik “pay off idea
Teknik komunikasi “pay off idea” adalah suatu usaha untuk mempengaruhi orang lain dengan memberikan harapan yang baik atau mengiming-imingi hal-hal yang baik saja (Carld I Hovland, Irving L. Janis, Harold H. Kelly, 1963: 55).
Dalam perspektif Islam, teknik komunikasi “pay off idea” menjadi salah satu teknik yang banyak tersurat di dalam Al-Quran maupun Hadits. Hal ini menjadi bagian dari ajaran agama Islam yang meyakini adanya kehidupan setelah kematian, bahkan hal tersebut menjadi salah satu pondasi keimanan seorang muslim, yaitu percaya akan adanya hari pembalasan. Dalam banyak ayat di dalam Al-Quran digambarkan bahwa bagi orang yang melakukan amal baik selama di dunia maka ia akan meraih kebahagiaan di akhirat nanti dengan diamsukkan ke dalam surga Allah dan kekal di dalamnya. Allah SWT akan ridla kepada orang-orang yang melakukan amal baik.
Teknik komunikasi tersebut dapat dilihat secara tersurat antara lain dalam surat Al-Bayyinah ayat 7-8 yang berbunyi:
إن الذين أمنوا وعملوا الصالحات أولئك هم خير البرية جزاؤهم عند ربهم جنات عدن تجري من تحتها الأنهار خالدين فيها أبدا رضي الله عنهم و رضو عنه ذلك لمن خشي ربه
Artinya :
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka adalah surga and yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah balasan bagi orang-orang
yang takut kepada-Nya.”


3. Teknik “fear arousing
Teknik komunikasi “fear arousing” adalah usaha menakut-nakuti orang lain atau menggambarkan konsekuensi buruknya (Carld I Hovland, Irving L. Janis, Harold H. Kelly 1963: 57). Dalam konteks ajaran agama Islam teknik ini secara eksplisit dan inlpisit terkandung di dalam Al-Quran dan Hadits. Hal tersebut diindikasikan dengan banyaknya ayat yang menggambarkan konsekuensi berupa siksaan di akhirat nanti bagi orang kafir dan orang yang durhaka kepada Allah SWT.. Seperti terdapat dalam Al-Maidah ayat 38:
السارق والسارقة فاقطعوا أيديهما جزاءا بما كسبا نكالا من الله و الله عزيز حكيم
Artinya :
Laki-laki dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah maha perkasa lagi maha bijaksana.

 Ayat di atas menggambarkan ancaman bagi seorang yang mencuri dalam jumlah tertentu, kemudian diproses dan disahkan secara hukum, maka hukumannya adalah dipotong tangannya supaya menimbulkan efek jera bagi pelakunya dan menimbulkan rasa takut bagi orang yang hendak melakukan perbuatan serupa. Ketentuan ini tersurat secara jelas di dalam kitab suci Al-Quran, akan tetapi di Indonesia aturan Allah tersebut belum/tidak dapat dilakasanakan karena sistem hukum yang dianut bukanlah hukum Islam. Jadi hanya di negara-negara yang menerapkan hukum Islam yang dapat mengaplikasikan perintah Allah tersebut. Walaupun ketentuan tersebut tidak diaplikasikan di Indonesia akan tetapi secara idealis keentuan Allah tersebut cukup menjadi dasar bagi umat Islam bahwa pencurian dalam jumlah tertentu diancam dengan hukuman potong tangan sehingga akan menimbulkan rasa takut untuk melakukannya.
Selain ancaman Allah berupa ketentuan hukum “hudud”, terdapat pula ancaman Allah yang disampaikan secara naratif berupa ancaman siksaan di akhirat bagi orang-orang kafir dan munafik serta orang-orang yang melanggar aturan Allah dengan masuk neraka. Seperti yang terdapat dalam surat Al-Bayyinah ayat 6 yang berbunyi:
إن الذين كفروا من أهل الكتاب و المشركين في نار جهنم خالدين فيها إبدا أولئك هم شر البريه
Artinya :
Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik akan masuk ke neraka Jahanam: mereka kekal di dalamnya, mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.

Ancaman yang disampaikan oleh Allah SWT baik ancaman dalam konteks ketentuan hukum syar’i maupun ancaman-ancaman Allah SWT dalam ayat-ayat Al-Quran, jika dianalisis menggunakan perspektif ilmu komunikasi maka tergolong ke dalam salah satu bentuk komunikasi persuasif “fear arousing” yang artinnya membangkitkan rasa takut kepada orang, sehingga menimbulkan kesadaran pada diri manusia untuk melakukan kataatan kepada Allah dan Rasul-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya.
2.3 Prinsip-prinsip Metodologis dalam Gagasan Al-Qur'an
Al-Qur'an sebagai firman Tuhan untuk umat manusia, mempunyai metode tersendiri dalam pengungkapan pesan-pesannya. Diantara metode pesan Al-Qur'an adalah berbentuk demonstrasi. Kata ini diambil dari bahasa Inggris demonstrate, arti secara bahasa bermakna memempertunjukkan, memamerkan atau menampilkan. Hal ini dimaksudkan menyatakan suatu gagasan dengan bentuk penampilannya secara teratur untuk membuktikan kepada khalayak tentang suatu kehendak, baik secara lisan maupun tulisan.
Al-Qur'an yang menyebut dirinya sebagai hudan li al-nas tidak diragukan lagi mengandung nilai praktis bagi kehidupan manusia, sehingga menurut Muhammad Asad bahwa Al-Qur'an memberikan jawaban yang komprehensif terhadap pertanyaan : “How shall I behave in order to achieve the good life in this world and happines in the life to come?”.
Al-Qur'an di samping berfungsi sebagai “hudan” juga sebagai “furqan”, sehingga ia menjadi tolak ukur dan pembeda antara kebenaran dan kebatilan. Oleh karena kedua fungsi itu perlu dipahami, maka prinsip-prinsip metodologi gagasan Al-Qur'an perlu diketahui juga. Prinsip-prinsip ini menetapkan gagasan Qur’ani; yang termasuk dalam kategori ini adalah sebagai berikut :
Pertama, rasionalisme, penolakan mitos, persetujuan tanpa protes terhadap hujjah dan bukti; namun keterbukaan terhadap bukti baru dan kesiapan mangubah pengetahuan serta sikap berdasarkan tuntunan bukti yang lebih representatif. Tuhan mencela kepada orang yang hanya ikut-ikutan saja tanpa dasar yang jelas (Q.S. 26:74, 21:54 dan 43:22 dan 23).
Kedua, aspek humanisme. Tidak dibenarkan diskriminasi yang berdasarkan ras, warna kulit, bahasa, budaya atau kedudukan sosial; menurut pandangan Allah yang membedakan seseorang itu karena ketakwaannya (Q.S. 49:13).
Ketiga, potensi manusia. Manusia pada hakekatnya mampu menilai kebenaran dan kepalsuan, kebaikan dan keburukan, yang dianjurkan dan dilarang; hal ini karena potensi manusia itu sendiri yang mempunyai akal pikiran (Q.S. 2:65, 6:32 dan 7:169).
Keempat, aspek kemashlahatan. Allah menciptakan kehidupan ini untuk dijalani bukan untuk ditolak atau dirusak (Q.S. 2:11, 7:56 dan 85); bahwa ciptaan tunduk kepada manusia (Q.S. 2:30), kebudayaan dan peradaban harus dipelihara dan wujudkan para realisasi diri insani dalam pengetahuan, takwa dan ihsan (Q.S. 22:77).
Kelima, sosialisme. Nilai kosmis manusia terletak dalam keanggotaannya dan sumbangannya kepada masyarakat, hal ini dalam rangka tercapai keharmonisan dan keselarasan dalam masyarakat madani (Q.S. 48:49).
Di luar prinsip-prinsip metodologis ini, dan di dalam intisari figurasi Al-Qur'an. Ada prinsip-prinsip etika yang terkadang diberikan secara tersurat dan disimpulkan dari contoh konkrit yang disebutkan oleh Al-Qur'an. Prinsip-prinsip ini membentuk etika pribadi dan sosial Islam, petunjuk pribadi dan sosial Islam, petunjuk pribadi (individu) dan kelompok menuju moral yang Qur’ani. Teks Al-Qur'an khususnya, merupakan fenomonologi nilai-nilai atau ajaran moral.

2.4 Karakteristik Gaya Pengungkapan
Keberadaan Al-Qur'an di tengah-tengah umat Islam, dan keinginan mereka memahami petunjuk-petunjuk dan mukzijatnya, telah mengantar lahirnya sekian disiplin ilmu keislaman serta mengembangkan metode-metode penelitiannya, dimulai dengan lahirnya kaidah-kaidah bahasa Arab oleh Abu al-Aswad al-Duali atas petunjuk Ali bin Abi Thalib (w. 661 M) sampai lahirnya Ushul Fiqh oleh al-Syafi’i (767 – 820 M), dan bahkan hingga kini dengan lahirnya berbagai metode penelitian Al-Qur'an.
Dengan memperhatikan kenyataan seperti itu, Allamah M. H. Thabathaba’i (1997:37) memandang bahwa tidak dibenarkan Al-Qur'an berbicara kepada manusia dengan kata-kata yang tidak bisa dipahami maknanya dengan jelas oleh mereka. Tidak dibenarkan pula mengajukan tantangan kepada mereka dengan sesuatu yang tidak dipahami maknanya oleh mereka. Allah berfirman,
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?”
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.”

Dua ayat tersebut menunjukkan keharusan merenungkan (memahami) Al-Qur'an. Perenungan terhadap Al-Qur'an akan dapat menghilangkan gambaran yang sepintas lalu ayat-ayatnya tampak saling bertentangan. Bila maksud ayat-ayat itu tidak jelas, tentunya perintah untuk merenungkan dan memikirkannya itu merupakan sesuatu yang sia-sia. Begitu pula tidak akan ada tempat untuk menganalisis pertentangan-pertentangan lahiriyah antar ayat dengan jalan merenungkan dan memikirkannya.
Keluasan obyek-obyek yang dikandung Al-Qur'an, serta keaneka ragaman obyek-obyek itu sunguh merupakan sesuatu yang unik, ini sesuai dengan yang diutarakan Al-Qur'an sendiri: “Tiadalah kami alpakan sedikitpun di dalam Al-Qur'an ini” .. Dengan keunikannya itu, perlu ditunjukkan atau ditampilkan karakteristik gaya pengungkapan Al-Qur'an adalah:
Pertama, mempunyai arti lahir dan batin. Allah berfirman “Sembahlah Allah, dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun” . Arti lahir ayat ini menunjukkan bahwa ayat tersebut melarang menyembah berhala, seperti ditunjukkan dalam ayat lain “Jauhilah berhala-berhala yang najis itu” . Setelah merenungkan dan menganalisis, ternyata jelas bahwa alasan pelarangan menyembah berhala itu ialah karena penyembahan semacam itu merupakan bentuk kepatuhan kepada selain Allah.
Hal ini tidak hanya berupa penyembahan kepada berhala saja, tetapi juga menaati setan, sebagaimana firman-Nya : “Bukankah Kami memerintahkanmu, hai Bani Adam, agar kamu tidak menyembah setan”
Analisis lain menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara ketaatan kepada diri dan ketaatan kepada yang lain, karena mengikuti hawa nafsu merupakan penyembahan kepada selain Allah, sebagaimana diisyaratkan oleh firman Allah : “Tidakkah engkau mengetahui orang yang menjadikan hawa nafsu sebagai Tuhannya” . Dengan analisis lebih cermat, tahulah kita tentang keharusan untuk tidak berpaling kepada selain-Nya, karena dengan berpaling tersebut berarti mengakui kemandirian-Nya dan tunduk kepada-Nya. Inilah yang dinamakan menyembah dan taat itu.
Secara sepintas ayat yang menyatakan : “Janganlah kamu menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun” menunjukkan bahwa berhala-berhala tidak boleh disembah. Namun suatu pandangna yang lebih mendalam (batini) menunjukkan larangan untuk mengikuti hawa nafsu. Jika pandangan itu diperluas lagi, maka akan tampak larangan melupakan Allah dan berpaling kepada selain-Nya.
Penahapan ini, pertama tampak makna awal dari suatu ayat, kemudian nampak makna yang lebih luas daripada yang pertama dan begitu seterusnya. Menurut Thabathaba’i (1997:41) hal ini berlaku pada semua ayat Al-Qur'an.
Kedua, pemaparan yang persuasif. Pada hakikatnya kebenaran dan kebaikan, baik yang terdapat di dalam Islam, dalam diri Nabi Muhammad, maupun yang terdapat di dalam Al-Qur'an semuanya sudah merupakan dalil sempurna dan cukup untuk mengajak orang-orang kafir memeluk Islam. Sudah merupakan aksioma bila suatu kebenaran telah terbukti dengan jelas. Oleh karena itu semua yang menentang kebenaran itu otomatis merupakan kebatilan dan kesesatan.
Hukuman-hukuman Allah ditimpakan kepada mereka, karena mereka lalai dan mendustaan tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah. Hal ini bukanlah berarti Allah mendzalimi mereka , namun hal tersebut karena mereka tunduk di bawah bayang-bayang kekuasaan kebodohan dan taqlid buta kepada nenek moyang serta pemimpin-pemimpinnya.
Al-Qur'an juga mengingatkan, sikap mengikuti pendapat dan paham nenek moyang para pemimpin secara fanatik dan taqlid buta hanya akan membawa kejahatan dan keburukan, juga menggiring seseorang masuk ke jurang neraka.
Al-Qur'an juga mengajak mereka, sebagaimana halnya mengajak orang-orang mukmin untuk mengingat segala nikmat yang telah diterima . Semua nikmat bersumber dari Allah, yaitu Tuhan yang menciptakan semua makhluk, yang mengatur dan menata makhluk.
Apabila mereka telah mengetahui perbedaan antara agamanya dan agama Islam, namun mereka masih saja tidak mau menerima Islam sebagai agama yang harus dipeluk, maka Al-Qur'an mengajarkan tindakan tahap selanjutnya ialah menjelaskan ancaman siksa akhirat yang akan mereka terima kelak. Cara ini sekaligus mengandung makna peringatan; jalan yang mereka tempuh dalam menentang Islam bukanlah karena ketidaktahuan atau ketersesatan tanpa sengaja, dan bukan pula karena ketidakjelasan ajaran Islam, tetapi hanya karena keingkaran, kesombongan, dan ketidakpedulian mereka. Diantara sebab yang menghalangi mereka mengikuti petunjuk Al-Qur'an adalah karena hati mereka sudah begitu melekat dengan kebatilan, sehingga keras hatinya
Dari gambaran di atas, jelaslah bahwa Al-Qur'an tidak pernah menggunakan kekerasan untuk mengajak orang-orang kafir menuju Dar al-Salam. Tetapi kandungan kitab suci tersebut ajakannya dengan cara persuasif.
Ketiga, motivasi untuk meneliti dan berfikir. Terdapat banyak ayat Al-Qur'an yang menganjurkan manusia memikirkan, meneliti, dan mengkaji penciptaan alam serta hukum-hukum yang berlaku di dalamnya (perhatikan QS. 88:17-20). Al-Qur'an memuji orang-orang yang melakukan kegiatan tersebut. Ditegaskan pula kegiatan memikirkan dan merenungi tersebut juga kepada hal-hal yang tersebut ”afala yatadabbaruna al-Qur’an” .
Berkaitan dengan hal tersebut, muncul pada benak sebagian sarjana Muslim, khususnya para fuqaha dan ahli Ilmu Kalam, yang mempertanyakan tentang sampai di mana pemihakan Al-Qur'an misalnya terhadap tesis-tesis spekulatif-filosofis yang dikatakan oleh filosof Muslim dalam rangka memenuhi perintah agama. Demikianlah kita melihat bagaimana Ibnu Rusyd dalam Fasl al Maqal (1969 : 32) telah mengutip ayat-ayat Al-Qur'an untuk membela posisi para filosof terhadap serangan al-Ghazali yang cukup gencar itu. Dikutipnya ayat “Fa’tabiru ya ulil abshar” . Ia menegaskan bahwa ini adalah nas yang mewajibkan penggunaan al-qiyas al-‘aqli (analogi aqliyah), dan syar’i sekaligus. Setelah itu diiringi pula oleh kutipan ayat “ Atau tidakkah mereka pernah mempertimbangkan wilayah kekuasaan (Allah) atas langit dan bumi, dan atas segala sesuatu yang telah Allah ciptakan?”, lalu dikomentarinya : “Ini adalah nas yang mewajibkan penggunaan penalaran terhadap semua yang maujud”.
Kerja penalaran terhadap seluruh yang ada merupakan kerja filsafat dalam rangka mengintip Sang Pencipta yang berada di belakang alam. Oleh sebab itu wajiblah bagi seorang Muslim untuk berpikir sebagaimana kandungan gaya pengungkapan Al-Qur'an yang memotivasi untuk merenunginya. Dan dengan demikian perlu analogi ‘aqliyah dalam memahami ayat-ayat kauniyah dapat dibandingkan dengan analogi fiqhiyah dalam masalah-masalah syari’ah.
Keempat. Membuang kalimat muta’alliq untuk menghasilkan yang lebih umum. Karakteristik ini jika dijadikan pegangan oleh seseorang dalam merenungkan ayat-ayat Al-Qur'an, maka akan memperoleh manfaat yang amat besar. Statemen ini (karakteristik ke-empat) mengandung makna yang lebih bermanfaat dari pada menyebutkan kalimat-kalimat (kata-kata) yang menjadi muta’alliq-nya, dan akan lebih mencakup pengertian yang lebih baik dan bermakna.
Contoh-contoh seperti itu banyak kita temukan dalam Al-Qur'an. Allah SWT. berfirman pada berbagai tempat di dalamnya Al-Qur'an : “la’allakum ta’kiluun” , “La’allakum tadzakkarun” , “La’allakum tattaquun” .
Maksud “La’allakum ta’qiluun” adalah mudah-mudahan engkau sekalian memikirkan setiap petunjuk, pengetahuan yang diajarkan Allah, dan setiap apa saja yang diturunkan kepadamu berupa al-Kitab, dan al-Hikmah. “La’allakum tadzakkaruun” maksudnya, agar kamu sekalian tidak lupa dan lalai, selalu dalam keadaan siaga, memasang panca indera untuk merasakan apa saja yang kalian jumpai dalam sunnatullah dan tanda-tanda kebesarannya. Dengan demikian kamu sekalian akan selalu ingat kepada segala kepentingan kalian yang bersifat duniawi dan ukhrawi. Sedangkan “La’allakum tattaquun” maksudnya, mudah-mudahan engkau sekalian menghindari segala yang wajib dihindari. Apakah itu berupa kelalaian, kebodohan, taklid, dan dari setiap usaha musuh untuk menjerumuskan kalian kepada dosa dan kemaksiatan. Perlu diketahui, bahwa pemahaman itu merupakan salah satu komponen dari pengertian yang umum. Dengan memperhatikan dan merenunginya akan tampak keagungan dan keindahan firman Allah tersebut (makna-makna sangat dalam).
Kelima, berhubungan dengan hukum kausalitas, kita menemukan beberapa ayat Al-Qur'an yang menyebutkan, karena mutlak Allah, ialah memberi petunjuk atau penyesatan kepada seorang yang Ia kehendaki . Sedangkan beberapa ayat Al-Qur'an yang lainnya menyebutkan bahwa pemberian petunjuk (beriman) atau kesesatan (kafir) tersebut juga karena adanya sebab-sebab yang telah dilakukan oleh orang yang bersangkutan . Dengan kata lain, terdapat kaitan yang erat antara kehendak mutlak Tuhan dengan hukum kausalitas (berkiatan dengan sunnatullah).
Secara sepintas tampaknya kedua kelompok ayat tersebut kontrakdiktif. Namun, jika kita memahami ayat-ayat tersebut berdasarkan konteksnya, kita akan segera mengetahui sebenarnya tidak terdapat pertentangan di dalamnya. Bahkan antara kelompok ayat yang pertama dan kedua saling mendukung. Oleh karenanya untuk dapat memahami pengertian kedua kelompok ini secara terintegrasi dan utuh, maka ayat-ayat kelompok kedua mesti kita pahami sebagai penjabaran lebih lanjut dari ayat-ayat kelompok pertama.
Melalui cara pemahaman yang terintegrasi terhadap kedua kelompok ayat di atas, kita dapat mengatakan, bahwa Allah SWT menciptakan dan mengatur segala sesuatu di alam ini dengan kemaha-kuasaan, kemaha-luasan ilmu, kemaha-adilan, dan kemaha-bijaksanaan melalui hukum kausalitas yang juga diciptakan-Nya. Oleh karena, penegasan ayat-ayat tersebut dimaksudkan agar manusia menyadari dengan sebaik-baiknya bahwa cita-cita dan harapan untuk mencapai yang mereka inginkan, atau menjauhi yang mereka benci, hanya patut digantungkan kepada Allah SWT semata, bukan meminta kepada yang lain.
Perlu dipahami, apabila kita membaca ayat-ayat Al-Qur'an tentang petunjuk yang diberikan-Nya atau kesesatan yang ditimpakan-Nya kepada seseorang karena sebab-sebab tertentu yang terdapat pada orang tersebut, hendaknya kita pahami itu bertujuan mengingatkan hamba-hamba-Nya agar menyadari dan mengusahakan sebab-sebab yang menjadikan mereka menerima petunjuk Allah, dan menghindarkan sebab-sebab yang menjadikan mereka mengalami kesesatan yang mengancam diri dan akidah. Satu contoh ayat yang mengaitkan petunjuk Allah dengan usaha manusia adalah surat al-Lail (92) ayat 5 sampai 10.
Di antara ayat-ayat Al-Qur'an yang menerangkan hukum-hukum kausalitas tersebut adalah surat al-Maidah (5) ayat 16, al-baqarah (2) ayat 26, al-A'raf (7) ayat 30, dan al-Shaf (61) ayat 5. Ayat-ayat ini menjelaskan, Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang memang niat dan tujuannya baik serta menyukai kebaikan sekaligus mengikuti yang diridhoinya. Sebaliknya, Allah menyesatkan orang-orang yang menentang sunnatullah dan melawannya. Mereka adalah orang-orang yang menjadikan musuh-musuh Allah berupa Jin, Setan, maupun Manusia yang telah berperilaku sebagai setan menjadi pelindung. Allah menyesatkan orang-orang tersebut karena mereka lebih suka berlindung kepada setan dan jin dari pada kepada Allah.
Allah telah menetapkan timbangan keadilan atas segala sesuatu melalui sunnatullah. Dan barang siapa mematuhi Allah dan rasul-Nya serta mengikuti hukum kausalitas tersebut, ia akan selamat dan akan berbahagia di dunia dan akhirat. Sebaiknya, barang siapa yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya, serta menentang hukum kausalitas, berarti ia telah mempersiapkan dirinya untuk menjalani penderitaan di dunia dan akhirat.
Perlu diketahui, di samping kelima hal tersebut di atas, ada pula yang terkait dengan karakteristik gaya pengungkapan Al-Qur'an sebagai bagian dari form demonstrasi, yaitu :
a. Aspek balaghah
Sisi sastrawi risalah (wahyu) dalam pandangan para mufasir klasik selalu menjadi objek studi kajian yang dominan. Untuk itu kekurangan kita menguasai kefasihan bahasa Arab pra-Islam (kerasulan nabi Muhammad SAW), tidak memungkinkan kita memberi penentuan tentang ketinggian gaya bahasa Al-Qur'an Al-Walid ibnu al-Mughirah, yang merupakan teladan dalam kefasihan bahasa dan kebanggaan kesusastraan telah mengatakan: “Demi Allah aku telah mendengar sebuah kalam bukan perkataan manusia dan bukan pula perkataan jin. Ia lezat dan indah di dengar, pangkalnya berbuah dan ujungnya berakar. Kalam itu selalu berada di atas dan tiada yang membawahinya”.
Secara bahasa, kata balaghah berarti antara lain:
(a)       'mencapai tujuan, mengenai sasaran, efektif’, seperti dalam kalimat: بَلَغَ
 فُلاَن مُرَادَهُ (= Fulan telah mencapai maksudnya).
(b)       ‘bertutur kata dengan baik’, seperti dalam kalimat:
بَلَغَ الرَّجُلُ بَلاَغَةً. أي أَحْسَنَ التَّعْبِيْرَ عَمَّا فِي نَفْسِهِ
Seseorang berbalaghah, artinya ia dapat mengungkapkan fikiran dan perasaannya dengan baik.
Adapun secara istilah, terdapat beberapa definisi balaghah yang di­kemukakan oleh para ulama, antara lain: Balaghah ialah menyampaikan makna yang luhur secara jelas dengan menggunakan ungkapan bahasa yang benar serta fasih. Dalam hal ini balaghah menelaah bagaimana penutur menggunakan bahasa secara efektif sehingga dipahami oleh mitra tutur, jelah, memenuhi aspek kesantunan, menarik, serta dapat menggugah rasa keindahan. Harapannya tentu saja agar sebuah tuturan mendapat respons positif dari mitra tutur sesuai dengan maksud dan tujuan si penutur.
Yang termasuk unsur balaghah dalam menampilkan gaya penungkapan Al-Qur'an adalah ayat-ayat yang mengandung Jawami’ al-Ma’ani, maksudnya susunan kalimat singkat tetapi mengandung makna yang sangat padat. Istilah lain yang digunakan yaitu jawami’ al-kalim. Kita perhatikan beberapa contoh ayat-ayat Al-Qur'an yang susunannya relatif singkat, tetapi isinya luar biasa padat, sebagaimana ayat-ayat di bawah ini:
“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh Maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, Maka (dosanya) untuk dirinya sendiri.”
“…dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran….”

“…. jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya….”
Dalam kajian Balaghah, uslub semacam ini dinamakan ijaz, yang artinya ringkas padat, sedikit kata tapi banyak makna. Suatu teks yang ijaz akan semakin tinggi nilainya jika semakin sedikit kata-kata­nya tetapi semakin luas maknanya, namun demikian dapat di­pahami oleh mitra tutur dengan jelas dan lugas.
b. Argumentatif dalam penjabarannya
Untuk sesuatu permasalahan, diperlukan alat komunikasi atau bahasa yang dapat menyampaikan kejelasan jawaban masalah-masalah yang dimaksud. Hal ini didasarkan pada pemikiran (term-term logika) dengan bahasa yang dapat dimengerti. Dalam hal ini, Rasulullah SAW menyebarkan risalah kenaiban menggunakan bahasa kaumnya .
Dalam menentang dan membantah kebenaran yang sudah pasti, pada hakikatnya suatu sikap sia-sia dan tidak akan mengurangi nilai kebenaran tersebut. Dari sisi lain, menentang sesuatu yang sudah jelas kebenarannya merupakan pengabaian dan pengingkaran terhadap kebenaran, dan sekaligus perbuatan dosa. Dalam al-Baqarah ayat 256 ditegaskan : “Tidak ada paksaan untuk (memeluk) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari pada jalan yang sesat….”.
Ayat tersebut menyatakan dengan sangat tegas kebenaran ajaran Islam pada satu sisi, dan kesesatan ajaran agama non-Islam pada sisi lain. Karena itu tidak perlu ada pemaksaan dalam bentuk apapun untuk memeluk agama Islam. Tindakan pemaksaan hanya dapat dibenarkan terhadap suatu kemaslahatan yang tidak tertangkap oleh kebanyakan orang. Dengan kata lain, karena semua orang sudah mengetahui dengan jelas bahwa kemaslahatan dan kebahagiaan dunia-akhirat terikat kepada agama Islam, maka tak ada alasan orang memeluk agama Islam.
Kebenaran Islam adalah sudah didukung oleh berbagai penjelasan bukti dan keterangan yang sangat lengkap, karena itu Al-Qur'an menawarkan pilihan untuk beriman atau kafir. Orang yang memilih beriman telah mengetahui pilihannya itu akan mengantarkan kepada kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sedangkan orang yang memilih kafir pun telah mengetahui dengan jelas, bahwa pilihannya itu akan menjadikannya celaka dan rugi di dunia dan akhirat.
Rumusan dalam argumen yang telah dijabarkan di atas, lebih dipertegas lagi dalam surat al-Anfal ayat 6:
“ Mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata (bahwa mereka pasti menang), seolah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab-sebab kematian itu).”

Maksudnya, semua orang yang membantah kebenaran setelah hakikat dan cara menemukan itu keberanan itu jelas, pada hakikatnya tindakan itu bertentangan dengan prinsip syara’ dan logika. Dalam hal ini, barang siapa merenungkan metode yang diletakkan Allah untuk melakukan perdebatan dengan penganut agama yang bathil, maka dia akan memperoleh manfaat yang sebaik-baiknya. Yakni sebagai suatu argumentasi yang paling jelas, kuat, dan ampuh untuk menegakkan kebenaran dan melenyapkan kebathilan.

2.5 Analisis Surah Lukman dari segi Bahasa, Komunikasi Persuasi dan Pendidikan
1) Lukman: Ayat 12
“Dan Sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Lukman, Yaitu: 'Bersyukurlah kepada Allah. dan Barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan Barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".

a.       Analisis Bahasa
Dalam menganalisis bahasa ini digunakan beberapa tafsir antara lain, 1) al-Misbah; al-Maraghi; Shafwatu Tafasir; Ibnu Kasir; al-Kasyaf; mu'jamul mufradat alfadz al Quran.
a)      Tinjauan Gaya Bahasa
Dalam ayat tersebut terdapat unsur-unsur gaya bahasa atau balaghah. Yang dimaksud gaya bahasa adalah bahasa indah yang digunakan untuk meningkatkan efek dengan jalan memperkenalkan serta membandingkan suatu benda atau hal tertentu dengan benda atau hal lain yang lebih umum. Secara singkat penggunaan gaya bahasa tertentu dapat mengubah serta menimbulkan konotasi tertentu (Gale dalam Tarigan, 2009: 4). Dan Keraf (1985: 113) menyatakan bahwa gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa). Sebuah gaya bahasa yang baik harus mengandung 3 unsur berikut: kejujuran, sopan santun, dan menarik.
Adapun unsur bahasa yang terkandung dalam ayat 12 ini adalah,
Ø   At-thhibaq. Yang dimaksud dengan thibak dalam ilmu balaghah adalah bersatunya dua kata yang bertentangan maknanya (Muhsin dan Wahab, 1982: 149). Uslub thibaq dalam surah Luqman ayat 12 ini ialah kata Yasykur dengan kata Kufur (syukur dengan kufur). Thibaq termasuk gaya bahasa yang mengandung gagasan yang bertentangan (= تَضَادّ), dengan menggunakan ‘kata yang ber­lawanan’. Penggunaan kata-kata yang berlawanan tidak berarti merusak tatanan makna, melainkan justru akan menambah keindahan makna, ibarat pakaian atau perhiasan yang menampilkan desain atau warna yang kontras, akan meningkatkan daya guna serta keindahan peralatan tersebut.

Ø  Shighatul Mubalaghah, seperti dalam dua kata "ghaniyyun hamîd” yang mana dua kata ini menggunakan wazan fa’ul dan fa’il, yang menunjukkan shighah mubalaghah bentuk kata untuk memaksimalkan ungkapan makna yang berarti amat sangat kaya (Maha kaya) dan amat sangat terpuji (Maha terpuji).
b) Diksi
Ayat ini menggunakan diksi, yaitu pilihan kata yang tepat. Dalam ayat ini terdapat kata hikmah yang berarti kecerdasan, pemahaman terhadap sesuatu, beramal sesuai ilmu, hidayat untuk mengetahui yang benar. Shihab (2002: 110) menjelaskan hikmah adalah suatu yang bila digunakan/diperhatikan akan menghalangi terjadinya mudarat atau kesulitan dan atau mendatangkan kemaslahatan dan kemudahan. Pelakunya dinamai hakim. Siapa yang tepat dalam penilaiannya dan pengaturannya dialah yang hakim.
Kata syukur terambil dari kata syakara yang berarti pujian atas kebaikan, serta penuhnya sesuatu, mengagungkan Allah dan berterima kasih atas nikmat yang diberikannya. Sukur manusia kepada Allah dimulai dengan menyadari dari lubuk hatinya yang terdalam betapa besar nikmat dan anugerahNya. 'Anisykur lillah' adalah hikmah itu sendiri yang dianugerahkan kepadanya itu. Quthub (Shihab, 2002: 122) menulis bahwa: “Hikmah, kandungan dan konsekuensinya adalah syukur kepada Allah”. Hikmah adalah syukur, karena dengan bersyukur seseorang mengenal Allah dan mengenal anugerahNya. Dengan mengenal Allah seseorang akan kagum dan patuh padaNya, dan dengan mengenal dan mengetahui fungsi anugerahNya, seseorang akan mengetahui pengetahuan yang benar, lalu atas dorongan kesyukuran itu, ia akan melakukan amal yang sesuai dengan pengetahuannya, sehingga amal yang lahir adalah amal yang tepat pula.
Ayat di atas menggunakan bentuk mudhari/kata kerja masa kini dan akan datang untuk menunjukkan kesyukuran yasykur, sedang ketika berbicara tentang kekufuran, digunakan bentuk fi’il madhi/kata kerja masa lampau kafara, al Biqa’i (Shihab, 2002: 123) memperoleh kesan dari penggunaan bentuk mudhari itu bahwa siapa yang datang kepada Allah pada masa apapun, Allah menyambutnya dan anugerahNya akan senantiasa tercurah kepadanya sepanjang amal yang dilakukannya. Sebaliknya penggunaan bentuk kata kerja masa lampau pada kekufuran (kafara) adalah untuk mengisyaratkan bahwa jika itu terjadi, walau sekali maka Allah akan berpaling dan tidak menghiraukannya. Thabathabai (Shihab, 2002: 123) memperoleh kesan lain. Menurutnya penggunaan kata kerja mudhari pada kata syukur, mengisyaratkan bahwa syukur baru bermanfaat bila bersinambung, sedang mudarat kekufuran telah terjadi walau baru sekali.
Kata Ghaniyyun yang maknanya berkisar pada dua hal, yaitu kecukupan, baik menyangkut harta maupun selainnya. Kedua adalah suara. Menurut al Ghazali (Shihab, 2002: 134) Ghaniyy, adalah Dia yang tidak mempunyai hubungan dengan selainNya, tidak dalam DzatNya tidak pula dalam sifatNya, bahkan Dia Maha Suci dalam segala macam hubungan ketergantungan. Yang sebenar-benarnya “kaya” adalah yang tidak butuh kepada sesuatu.
Kata hamid yang maknanya adalah antonim tercela. Kata hamd/pujian, Allah hamid/Maha terpuji, maka ini adalah pujian kepadaNya, baik anda menerima nikmat, maupun orang lain yang menerimanya. Sedang bila anda mensyukuriNya, maka itu karena anda merasakan adanya anugerah yang anda peroleh.
b. Analisis Komunikasi
Dari analisis bahasa di atas terjadi komunikasi antara Allah dengan Lukman, yaitu perintah agar bersyukur, diikuti dengan alasan siapa yang bersyukur maka dia bersyukur kepada dirinya, jadi ini termasuk kepada jenis komunikasi persuasi karena ada unsur meyakinkan dan meneguhkan.
c. Pendidikan
Dalam ayat ini Lukman dipandang sebagai figur pendidik yang memiliki watak, sifat dan perilaku yang menggambarkan hikmah yaitu perpaduan antara keyakinan dan ilmu (Manzur, tt: 140)
Implikasi pendidikan dari ayat ini adalah bahwa pendidik seharusnya memiliki keyakinan yang kuat terhadap Allah yang telah memberikan kehidupan dan memberi warna bagi kehidupannya. Pendidik adalah orang yang mantap imannya dan berpegang teguh terhadap ajaran dan nilai-nilai Ilahiyyah yang dibuktikan dengan kesungguhannya untuk menghambakan dirinya kepada Allah dengan penuh keikhlasan, sehingga pelaksanaan tugasnya dijalaninya sebagai realisasi ibadah. Di sini yang berperan adalah hati yang digunakan untuk menangkap makna ajaran yang diyakininya, menerima dan menghayati secara utuh dengan jalan zikir.
Implikasi kedua makna hikmah bagi figur pendidik adalah usaha sungguh-sungguh untuk menggali dan mengembangkan kemampuan serta memanfaatkan potensi akalnya dalam bentuk berpikir, meneliti dan menghayati kekuasaan Allah yang nampak dalam ciptaan-Nya berupa alam raya dengan segala isinya. Makna hikmat di sini berkaitan dengan sikap pendidik terhadap ilmu pengetahuan, yaitu pendidik senantiasa meningkatkan kemampuan akademiknya.
Dalam ayat di atas terdapat pula kata syukur yang berarti memuji atas sesuatu kebaikan (Ma’luf, 1986: 369). Syukur pada hakikatnya menyentuh seluruh perilaku hidup seseorang yang didorong oleh adanya kesadaran yang melahirkan penerimaan akan nikmat dan tanggung jawab untuk memanfaatkan nikmat itu sesuai dengan keinginan pemberi nikmat (al-Maraghi, 1971: 50).
Makna syukur dalam pendidikan adalah suatu kekuatan yang memberikan pengarahan terhadap eksistensi manusia dengan segala perangkat yang dimilikinya yang memiliki kebebasan dan sekaligus keterbatasan dalam bentuk tanggung jawab.
Syukur mendorong seseorang untuk bekerja keras menggunakan kemampuan dan kesempatan yang dimilikinya disertai dengan ketenangan batin dan kelapangan dada, sehingga dapat diperoleh hasil kerja yang berlipat ganda. Konsep syukur mengisyaratkan pula pemahaman pendidik terhadap dirinya sendiri yang menjadi bagian dari nilai pendidikan, yaitu sebagai salah satu syarat yang harus dimiliki oleh pendidik.
Makna syukur berkembang menjadi etos kerja yang memberikan motivasi bagi seseorang untuk menunaikan amanat kekhalifahan di muka bumi ini. Etos kerja yang dilahirkan dari konsep syukur ini akan memiliki pengaruh yang besar terhadap sikap dan perilaku seseorang dalam membentuk semangat bekerja keras, tidak mudah putus asa, selalu optimis dan bertanggung jawab. Sikap-sikap dari konsep syukur ini dalam konteks pendidikan dapat dikategorikan sebagai tingkah laku yang hendak dicapai oleh pendidikan.
Dari ayat ini menunjukkan bahwa hanya Allah yang layak dan pantas untuk dipuji makhluknya, dengan bersyukur dan menjadikan semua yang diberikan untuk berbakti kepadanya. Orang yang pandai, paham, berilmu, hendaklah bersyukur pada yang memberinya kepandaian, pemahaman dan ilmu, sebagaimana Lukman al Hakim.
Yang diharapkan seseorang adalah Afiatnya dari Allah, bukan kedudukannya yang tinggi. Seseorang jangan tergiur oleh jabatan dunia. Menjadi orang hina rendah di dunia lebih baik dari pada yang orang mulia tapi perusak. Keterangan di atas mengajarkan bagaimana sikap/akhlak kita terhadap Allah dan sikap kita terhadap diri sendiri.
2)      Lukman: ayat 13
 “Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".

a.       Analisis Bahasa
a) Tinjauan Gaya Bahasa
Pada ayat ini mengandung makna, Lukman al Hakim memberi Mauidlah (nasihat) nasihat kepada anaknya. Kata “ya’izhuhu” mengandung arti menasihati atau mengajari (Ma'luf, 1986: 908). Ia seorang ayah yang sangat sayang dan sangat cinta saat dia menyuruh anaknya beribadah hanya kepada Allah dan melarang syirik, Syirik itu zalim yang sangat besar, karena menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya, dan menjadikan Allah pemberi nikmat disederajatkan dengan yang tidak memberi nikmat, seperti patung berhala (al-Maraghi, 1971, VII: 81)
Jika kita lihat kata dari firman Allah “ya bunayya" Kata itu berasal dari "banawun". Kata ini dari akar kata 'banâ yabni' tumbuh. Dari kata " banawun" lalu dibentuk isim tashgir yang menunjukan makna ‘kecil’, menjadi 'bunayya' anak kecilku. Demikian juga kata 'ibnun' asalnya dari kata" banawun". Disebut demikian karena bapak itulah yang menumbuh-kembangkan anaknya. Allah menjadikannya sebagai penumbuh (al-Ashfahani, tt: 60)
Shawi (tt, III: 314) menyebutkan, “ya bunayya" adalah Tashgir Isyfaq, yaitu suatu uslub yang menunjukkan makna kecil (anak kecil) dan penuh rasa cinta dan sayang.
Dalam ayat 13 ini terdapat unsur-unsur gaya bahasa (balaghah) taukid (kalimat penegas), yaitu ungkapan “innasy syirka lazhulmu ‘azhim”. Ayat ini menggunakan dua taukid yaitu inna dan la. Ungkapan semacam ini biasa digunakan untuk orang yang ingkar namun kenyataannya komunikan yaitu anak Lukman al Hakim tidak termasuk yang ingkar, bila demikian maka ungkapan itu bertujuan untuk menegaskan betapa buruknya perbuatan syirik itu.
b)  Diksi
Dalam ayat ini menggunakan kata pilihan 'syirku' dan 'dzulmu' yaitu dua kata yang sama-sama mengandung arti buruk. Kemudian menggunakan kata adzim yang merupakan sifat dari asy-syirku, di sini digunakan kata adzim dan tidak menggunakan kata kabir. Adzim biasa digunakan untuk non fisik atau abstrak.
b.      Komunikasi Persuasi
Dari analisis kebahasaan di atas, dapat ditangkap unsur komunikasi persuasi Lukman al Hakim dan anaknya, yaitu:
Lukman al Hakim menggunakan ungkapan yang bernuansa kelembutan, kehalusan dan rayuan untuk menarik perhatian komunikan yaitu anaknya dengan menggunakan diksi “yabunayya” hal ini menunjukkan adanya komunikasi persuasi karena di antara arti persuasi adalah bujukan halus.
Penggunaan diksi 'yabunayya' terdapat pula pada komunikasi para Nabi dengan anak-anaknya, antara lain dalam surah Ibrahim ayat 132 – 133, surah Ash-Shaffat: 102, surah Maryam: 42. Yang mana Nabi Ibrahim menggunakan yabunayya ketika memanggil anaknya bukan dengan ya ibnî, demikian pula Nabi Ismail sebagai anak menggunakan diksi ya abatî tidak menggunakan ya abî. Menurut al-Shabuni (1998: 335) penggunaan ya bunayya dan ya abatî menunjukkan kedekatan, kesantunan, antara bapak kepada anaknya dan sebaliknya. Diksi semacam itu juga terdapat dalam surah Yusuf ayat 5, 13, 18, 64, 66, 67, 83, 84, 86, dan 87. Demikian pula dalam surah Hud ayat 42, tatkala Nabi Nuh memanggil anaknya kan’an yang bersebrangan akidahnya (tidak seiman) menggunakan kata ya bunayya, ini menunjukkan komunikasi persuasi kepada anak meskipun anak itu termasuk anak yang nakal.
Lukman al Hakim dalam komunikasi dengan anaknya selalu menggunakan argumentasi atau alasan ketika dia memerintah dan melarang, contoh melarang musyrik (la tusyrik billah) diikuti dengan argumentasi bahwa syirik itu kezaliman yang besar (innasy syirka lazulmun ‘azhim).
c.       Pendidikan
Dalam konteks ayat ini kata ya’izhu mengandung makna mendidik sebagai komunikasi yang intensif antara orang tua dengan anaknya atau antara orang dewasa (pendidik) dengan orang yang belum dewasa (peserta didik).
Esensi dari makna ya’izhu berhubungan dengan kedudukan manusia yang tinggi. Ketinggian martabat manusia itu terletak pada kesempurnaan dirinya serta upayanya untuk membimbing orang lain ke arah kesempurnaan dengan cara memberi pengajaran atau nasihat (al-Baghawi, 1979: 214). Jadi mendidik dalam ayat ini adalah tugas setiap insan yang ingin mempertinggi martabatnya sebagai manusia.
Kata “li ibnihi” mengandung makna sasaran atau orang yang dididik. Kata Ibnun tidak hanya diterjemahkan dengan kata anak atau manusia yang berusia muda, sebab kata itu sering kali dikaitkan dengan nama orang dalam berbagai usia. Oleh karena itu yang dimaksud dengan kata ini adalah hubungan yang dekat, terutama kedekatan dari segi nasab. Dekatnya pertalian darah ini menyiratkan adanya hubungan yang didorong oleh motivasi untuk saling memberi kasih sayang di antara orang yang terlibat dalam komunikasi itu.
Dari segi lain, kata Ibnu menyiratkan keadaan seseorang yang memerlukan bantuan untuk mencapai keadaan tertentu yang berwujud kedewasaan. Dengan demikian dalam kaitan pendidikan, ungkapan ini mengandung arti bahwa yang harus diperhatikan dalam peristiwa pendidikan adalah hubungan yang akrab dan intens antara pendidik dengan peserta didik yang didorong oleh rasa kasih sayang serta direalisasikan dalam bentuk memberi bantuan dan bimbingan untuk mencapai kematangan berpikir dan bertindak.
Makna komunikasi yang didorong oleh rasa kasih sayang itu ditampakkan secara lebih jelas dalam tindakan pendidikan yang tersirat dalam ungkapan “ya bunayya”, kata ini berbentuk kata munada yang menunjukkan kepada orang yang dekat, sedangkan kata bunayya adalah bentuk tashghir, yakni kata yang digunakan untuk menyebut sesuatu yang dianggap lebih kecil. Penyebutan ini merupakan ungkapan yang melibatkan perasaan cemas, akrab dan lembut dalam hubungan pribadi pendidik dengan peserta didik.
Keterpautan ketiga hal tersebut mengandung arti bahwa komunikasi pendidikan adalah komunikasi persuasi yang dilakukan antara pendidik dengan peserta didik yang diwarnai oleh kecemasan, keakraban dan kelembutan sehingga peserta didik dapat menangkap makna dan materi komunikasi itu secara utuh. Komunikasi persuasi ini dapat melahirkan kesadaran pada diri peserta didik bahwa pendidikan yang diperoleh dari pendidik itu semata-mata atas dasar perhatian dan kasih sayang untuk kemanfaatan dirinya.
Dengan demikian, komunikasi pendidikan akan dapat dilakukan dengan lancar dan efektif, karena peserta didik telah siap baik fisik maupun rohaninya untuk menerima perubahan-perubahan sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai dalam pendidikan itu.
Kalimat “la tusyrik billah” mengisyaratkan bahwa pendidikan itu harus diberi landasan aqidah, yaitu tauhid yang mengisyaratkan makna kesatuan, integritas dan keutuhan serta penyadaran mengenai dirinya sebagai hamba yang bereksistensi secara bebas dan kreatif.
Pandangan tauhid ini juga mengarah kepada tujuan hidup manusia. Implikasi lain bagi pendidikan adalah meletakkan dasar-dasar pendidikan pada konsep kesatuan dan keutuhan yang melahirkan bentuk-bentuk kesatuan tujuan, tindakan dan perangkat pendidikan lainnya yang semuanya merupakan sesuatu yang utuh dan tidak terpisahkan.
Landasan tauhid bagi pendidikan mengisyaratkan keutuhan manusia sebagai subjek dan objek pendidikan yang memiliki martabat tinggi dibanding dengan makhluk lainnya. Karena itu pendidikan yang memiliki landasan ini lebih menekankan kepada segi bimbingan dan pertolongan agar terdidik menemukan kemuliaan dirinya melakui pendidikan, yaitu menemukan dirinya sebagai makhluk yang bermartabat yang hanya tunduk kepada Allah semata.
Landasan tauhid bagi pendidikan pada hakikatnya menyangkut esensi kebermaknaan dan kemantapan perilaku manusia, yang memberi kejelasan arah yang hendak ditempuh serta memberikan formulasi yang utuh bagi pendidikan. Al-Nahlawi (1989: 118) memperkuat argumentasi ini dengan menyatakan bahwa “keimanan/tauhid adalah asas yang kuat bagi pendidikan, sehingga dapat memberikan jaminan akan keberhasilan pendidikan dan menjadikan seorang mukmin berperilaku yang jelas, tertib dan teratur.”
Kata “ya bunayya” dari segi peran pendidik di samping mengisyaratkan makna keakraban dan pengenalan terhadap sifat terdidik, juga memberikan arah kepada perwujudan sikap-sikap tertentu pada diri peserta didik, yaitu sikap menyayangi dan menghargai orang lain, karena sikap kasih sayang yang ditampilkan pendidik akan mempengaruhi pula terhadap sikap peserta didik.
Larangan berbuat syirik mencakup berbagai aspek pendidikan, yaitu pengetahuan, pemahaman, dan keyakinan yang membentuk kesatuan tindakan yang konsisten dengan norma-norma yang diyakininya. Di sini nampak bahwa tugas pendidik tidak hanya memberikan informasi, tetapi lebih jauh mendidikkan nilai dan membina sikap peserta didik, yakni mengusahakan agar peserta didik dapat tergerak rohaninya untuk melakukan tindakan yang didorong oleh kesadaran yang lahir dari dalam dirinya sendiri.
Dari segi peserta didik, ungkapan “la tusyrik billah innasysyirka lazhulmun ‘azhim” (Janganlah engkau berbuat syirik kepada Allah, sesungguhnya syirik itu kezaliman yang besar). Ungkapan semacam itu mengandung arti bahwa sesuatu yang tidak boleh dilakukan oleh komunikan tidak hanya sebatas larangan, tetapi juga diberi argumentasi yang jelas mengapa perbuatan itu dilarang. Komunikan diajak berkomunikasi menggunakan potensi pikirannya agar potensi itu dapat berkembang dengan baik. Hal ini memberi petunjuk bahwa komunikan ditempatkan pada tempat yang wajar, dihargai sebagai manusia yang memiliki potensi kemanusiaan dan bermartabat tinggi sebagai makhluk yang memiliki akal.
Dialog yang terjadi dan suasana yang dapat ditangkap dari ayat ini memberi gambaran lebih lengkap bahwa peserta didik tidak hanya ditempatkan sebagai objek yang tidak berdaya yang harus selalu disuapi dengan berbagai informasi, tetapi ia menjadi subjek pendidikan sesuai dengan waktu yang tepat di mana kemampuan dasar dan fitrahnya didorong ke arah perkembangan yang positif bagi kepentingan dirinya sebagai individu, anggota masyarakat dan hamba Allah.
Dialog yang diwarnai keakraban, kasih sayang dan kekhawatiran itu merupakan metode yang tepat dalam upaya menyentuh perasaan terdidik, sehingga materi pendidikan yaitu menghindarkan peserta didik dari syirik dapat diterima dan dipahami peserta didik dengan baik dan sebagai pilihan terbaik bagi dirinya.
Dari segi lain dapat diungkapkan pula bahwa dalam ayat ini terdapat bahasa yang mengandung ancaman, yakni ungkapan yang ditujukan untuk mengusik perasaan terdidik agar ia takut berbuat suatu perbuatan yang terlarang. “la tusyrik billah innasy syrika lazhulmun ‘adhim” perbuatan yang dilarang yaitu syirik diikuti dengan nada ancaman, yaitu kezaliman yang besar yang pelakunya dapat disiksa berat. Kalimat tersebut mengandung dampak psikologi yang kuat bagi peserta didik dan mendorong lahirnya sikap hati-hati, serta usaha untuk menghindarkan diri dari persoalan yang dilarang itu, sehingga materi pendidikan lebih mudah diterima oleh peserta didik.
Selanjutnya, pengulangan dan penjelasan akibat syirik dengan ungkapan yang diberi penguat (taukid), yaitu kata “inna” (sesungguhnya) dan “la” (sungguh-sungguh) mengisyaratkan upaya pemantapan nilai pendidikan yang sudah disampaikan (reinforcement), sehingga nilai itu menjadi kuat dan menjadi bagian dari diri peserta didik.
Dari segi materi pendidikan ayat ini mengisyaratkan bahwa materi pertama dan utama yang diajarkan kepada peserta didik pada permulaan kehidupannya adalah tauhid. Dengan demikian materi tauhid akan menjadi landasan bagi pendidikannya atau bagi materi-materi pendidikan yang akan diterima peserta didik pada masa-masa selanjutnya.
Model pendidikan dalam kisah Lukman al Hakim ialah pendidikan bagi anak-anak atau pendidikan tingkat dasar, bukan model tingkat tinggi seperti dalam kisah Musa-Khidir ini dapat dilihat dari firman Allah dari kata 'ya bunayya'
Bahan ajar yang ditanamkan Lukman al Hakim pertama kali ialah keimanan kepada Allah, tidak menyekutukan Allah. Dan ini merupakan fondasi awal untuk materi selanjutnya. Pendidikan terhadap anak-anak harus disertai dengan rasa penuh kasih sayang, dan kelembutan , tidak dilakukan dengan kasar dan keras. Metode Pengajaran dalam ayat di atas, Lukman al Hakim menggunakan Metode Mauidlah/Nasihat, Metode ini tepat digunakan untuk pendidikan tingkat dasar.
3)      Lukman : 14 – 15
 “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

a.       Analisis Bahasa
a) Tinjauan Gaya Bahasa
Dalam ayat 14 dan 15 ini terdapat unsur balaghah sebagai berikut,
Ø  Menyebutkan yang khusus sesudah yang umum (dzikrul khas ba’da ‘am) seperti dalam ungkapan “bi walidaihi hamalathu ummuhu” menyebutkan ‘ibunya’ setelah menyebutkan kedua orang tuanya, ibunya lebih khusus dari kedua orang tuanya. Hal ini punya maksud untuk perhatian secara khusus.
Ø  Mendahulukan kata yang seharusnya diakhirkan yaitu ilayyal mashir, kata al-mashir seharusnya didahulukan menjadi al-mashir ilayya, hal itu bertujuan untuk membatasi, artinya hanya kepada Allah tempat kembali (tidak sama sekali pada yang lain).
Ø  Mendahulukan kata yang seharusnya diakhirkan yaitu ilayya marji’ukum memiliki maksud yang sama seperti pada ayat 14.
b)      Diksi
Kata insan, walidaihi, ummu, wahnan ala wahnin, anisykur li walidaik. Kata wahnan berarti kelemahan atau kerapuhan. Yang dimaksud di sini adalah kurangnya kemampuan memikul beban kehamilan, penyusuan dan pemeliharaan anak. Patron kata yang digunakan ayat inilah mengisyaratkan betapa lemahnya sang ibu sampai-sampai ia dilukiskan bagaikan kelemahan itu sendiri, yakni segala sesuatu yang berkaitan dengan kelemahan telah menyatu pada dirinya dan dipikulnya (Shihab, 2002: 130).
b.    Komunikasi Persuasi
Dalam ayat 14 ini berkenaan dengan komunikasi pendidikan, yaitu komunikasi yang melibatkan aspek emosi serta diarahkan untuk menciptakan penghayatan yang mendalam, hal ini tampak melalui ungkapan yang sangat jelas menggambarkan penderitaan seorang ibu yang sedang mengandung dan mengasuh anaknya.
Gambaran tersebut merupakan metode yang dapat menciptakan kondisi yang memungkinkan orang sampai dari pengetahuan yang konkret kepada pengetahuan yang abstrak melalui perenungan dan penghayatan sebagai upaya penghayatan nilai secara lebih intensif.
Dalam ungkapan ayat ini ada ungkapan-ungkapan yang bersifat memberi perhatian, pemahaman, mempengaruhi dan meyakinkan yang akan menggerakkan penerima pesan, itu semua adalah unsur-unsur persuasi.
c.       Pendidikan
Menurut Qurthubi (tt: 63) Ayat ini bukan bagian dari dialog Lukman al Hakim, tetapi ayat ini ditempatkan di antara ayat-ayat yang menceritakan kisah Lukman al Hakim. Ini berarti bahwa makna yang terkandung dalam ayat ini menjadi bagian dari pesan Lukman al Hakim kepada anaknya dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kisah Lukman al Hakim.
Al-Maraghi (1971, VII: 82), Antara lain menafsirkan, Setelah Allah swt menjelaskan wasiat Lukman al Hakim kepada anaknya, agar ia bersyukur kepada pemberi nikmat pertama, selanjutnya Allah mewasiatkan anak agar berbuat baik dan taat kepada kedua orang tuanya, serta memenuhi hak-hak mereka.
Dalam Al Quran sering Allah mengiringkan perintah taat kepada Allah diikuti dengan berbuat baik pada orang tua. Karena merekalah tangan kedua setelah Allah. Terutama seorang ibu, yang secara khusus disebutkan Allah betapa berat mendidik anaknya, sejak dalam kandungan, melahirkan, menyusui serta mendidik tahap selanjutnya. Karena itu Ketika Rasulullah ditanya, kepada siapa lebih awal untuk berbuat baik Beliau menjawab : “Ibumu, ibumu dan ibumu lalu bapakmu”
Selanjutnya Allah Swt memerintahkan bersyukurlah kepada tuhanmu, atas nikmat iman dan ihsan, dan bersyukurlah kepada kedua orang tuamu atas nikmat tarbiyyah (al-Shabuni, 1998: 336) Karena keduanya penyebab adanya kamu, dan karena pendidikan mereka yang baik, sehingga kamu menjadi kuat (al-Maraghi, 1971: 83)
Akan tetapi jika kedua orang tua membawamu untuk kufur dan musyrik kepada Allah jangan ditaati, 'la tha'ata li makhluk fi ma'shiyatillah' akan tetapi tetaplah bergaul dalam urusan dunia dengan baik dan ihsan sekalipun mereka musyrik. Karena kekufuran mereka terhadap Allah tidak menghilangkan kelelahannya dalam mendidik anaknya.. Tapi ikutilah jalan orang yang kembali ke jalan Allah dengan tauhid, taat dan amal saleh.
Al-Suyuthi (tt, VI: 521) menyebutkan, bahwa sebab turun ayat ini berkaitan dengan Sahabat Sa'ad bin Abi Waqash yang selalu berbuat baik pada ibunya. Setelah dia Islam ibunya marah, dan meminta agar ia meninggalkan Islam kalau tidak ia (ibu Sa’ad) tidak akan makan dan minum sampai mati. Sa’ad berkata ‘wahai ibuku! jangan engkau lakukan, sesungguhnya aku tidak akan meninggalkan agamaku ini karena sesuatu pun’. lalu ibu itu tidak makan sehari semalam, lalu tidak makan lagi pada hari dan malam berikutnya. Setelah melihat demikian sa’ad berkata:
“Demi Allah, ketahuilah wahai ibuku, jika ibu memiliki seratus nyawa lalu keluar satu persatu. Aku tidak akan meninggalkan agamaku ini sedikit pun, jika ibu ingin makan makanlah, jika tidak janganlah ibu makan, kemudian ibunya makan.”
Ayat di atas secara nash bersifat umum, tidak berbicara Lukman al Hakim dengan anaknya secara khusus. Namun demikian, maknanya tetap erat berkaitan, khususnya tentang pendidikan orang tua terhadap anak. Pada ayat ini dikisahkan seorang anak pula, Sa’ad bin Abi Waqash yang muslim, dengan Ibunya (orang tua) yang kafir.
Al-Jauzi (tt, VI: 320) mengutip pendapat Jarir yang menyebutkan, Wajhu I'tiradh/ bentuk yang berbeda/ berlawanan pada ayat ini dengan wasiat Lukman al Hakim, menunjukkan bahwa isi dari ayat 14 – 15 termasuk yang diwasiatkan Lukman al Hakim terhadap anaknya.
Tindakan pendidikan seperti itu akan mengantarkan anak kepada pemahaman makna dari sesuatu yang disaksikan, diperhatikan dan dihayati, yang dalam konteks ayat ini diharapkan dapat mempengaruhi hati anak dan menimbulkan keinginan untuk membalas budi dan memuliakan orang tuanya.
Aspek empati dalam ayat ini terasa kuat, sehingga peserta didik dapat merasakan secara imajinatif betapa penderitaan dan susah payahnya seorang ibu yang sedang mengandung anaknya. Proses internalisasi yang intensif seperti ini dapat membangkitkan kesadaran anak untuk berterima kasih dan memuliakan ibu bapanya.
Di sini tersirat metode pendidikan yang efektif sebagai suatu proses internalisasi dalam pendidikan. Materi pendidikan yaitu berbuat baik kepada orang tua, dikomunikasikan melalui anjuran untuk menghayati penderitaan ibunya. Komunikasi seperti ini merupakan cara memberi pengaruh dengan menggugah emosi peserta didik, sehingga berdampak kuat terhadap perubahan sikap dan perilaku yang sesuai dengan tujuan yang diinginkan.
Kendati aspek emosi diungkapkan sedemikian rupa, sehingga memungkinkan terjadinya penghayatan yang mendalam dalam diri peserta didik, tetapi ungkapan yang mengharuskan bersyukur kepada Allah menjadi pembatas, sehingga tidak akan terjadi pemujaan yang berlebihan terhadap orang tua yang dapat mengakibatkan syirik. Pembatasan ini menjadi mutlak, mengingat dampak sampingan (nurturant effect) dari penghayatan yang mendalam yang disertai kekaguman dapat menimbulkan sikap-sikap negatif dalam bentuk pemujaan orang atau kultus individu yang justru dapat merusak tujuan pendidikan.
Oleh karena itu memberi pengaruh dengan mengeksploitasi aspek emosi peserta didik haruslah dibatasi dengan target tertentu, sehingga pendidikan tidak menyimpang dari tujuan yang diinginkan. Dalam pendidikan ini tampak pula bahwa komunikasi pendidikan memiliki cakupan yang luas, bukan hanya melibatkan pendidik dengan peserta didik tapi juga melibatkan peserta didik dengan dirinya sendiri.
Mengungkap perasaan anak dengan rangsangan emosional yang menyentuh perasaan akan sangat efektif bagi pendidikan, karena di samping nalarnya didorong untuk berpikir dan memberi pertimbangan, juga perasaannya disentuh untuk dapat merasakan sesuatu yang dirasakan oleh orang lain. Dampak yang diharapkan dari perilaku ini adalah tumbuhnya perilaku dan sikap anak yang dapat menghargai orang lain, membalas budi dan perilaku lainnya yang didasarkan atas kesadaran moralnya.
Demikian pula tatkala Lukman al Hakim memberi tahu bahwa amal perbuatan sekecil apa pun akan di balas oleh Allah diikuti dengan kata-kata sesungguhnya Allah Maha Halus dan Maha Mengetahui.
Dari segi materi pendidikan, ayat ini mengisyaratkan perlunya peserta didik diajari etika berhubungan dengan orang tua. Materi ini memiliki sifat praktis dalam bentuk tingkah laku, baik ucapan maupun perbuatan. Walaupun demikian, materi akhlak ini bukan suatu keterampilan, karena lahir dari kesadaran untuk bersyukur kepada orang tua. Akhlak kepada orang tua meliputi cara berbakti, taat, berbuat ihsan, memelihara keduanya pada saat tuanya dan tidak berkata keras atau menghardik (al-Maraghi, 1971: 84) dan mendoakannya setelah mereka meninggal dunia.
Dalam ayat di atas diungkapkan pula makna tujuan manusia yang terangkum dalam kalimat “ilayyal mashir” yaitu kembali kepada Allah yang mengandung arti bahwa tujuan akhir manusia adalah kembali kepada Allah. Oleh karena itu seluruh aktivitas manusia mengacu dan menuju kepada sumber kebenaran yaitu Allah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tujuan hidup manusia adalah penyerahan diri secara total kepada Allah yang dalam istilah agama disebut Ibadah.
Ibadah dalam kaitan pendidikan dapat dipandang sebagai tujuan, karena dalam pandangan Islam seluruh perilaku manusia pada dasarnya adalah perealisasian dari ibadah. Demikian pula dengan pendidikan yang merupakan salah satu dari aktivitas manusia.
Nilai pendidikan yang tersirat dalam ayat 15 ini adalah peran orang tua tidak segalanya, melainkan terbatas dengan peraturan dan norma-norma Ilahi. Implikasi pemaknaan tersebut pada peran pendidik adalah pendidik tidak mendominasi secara mutlak kepada tingkah laku peserta didik, tetapi peserta didik didorong untuk aktif mengembangkan kemampuan dan pikirannya untuk menyelidiki nilai yang diberikan berdasarkan pengetahuan yang telah dimilikinya yang berlandaskan kepada nilai-nilai Ilahiah. Dalam ayat ini tersirat pula makna tentang batas-batas pendidikan, yaitu upaya memberikan pengaruh terbatas hanya kepada tujuan tertentu, tidak merupakan tindakan yang bebas.
Dalam ayat ini dapat disimak pula indoktrinasi dari pihak pendidik hendaknya tidak dilakukan secara sembarangan, tetapi mempertimbangkan esensi dari suatu tindakan yang sedang dididikkan. Sebaliknya peserta didik dapat secara aktif menggunakan pengetahuan dan pertimbangan yang telah dimilikinya untuk menilai persoalan-persoalan yang prinsipiil yang menyangkut keimanan.
Ayat ini mengisyaratkan pula perlunya keteladanan sebagai alat pendidikan untuk memberikan gambaran tingkah laku nyata yang sesuai dengan makna yang diajarkan dan tujuan yang ditetapkan. Di sini terkandung perwujudan kepribadian sebagai proses awal yang ditempuh anak dalam mengenal nilai.
Nilai-nilai yang telah dikenal melalui tingkah laku orang yang ditiru dengan cara proses identifikasi, lambat laun akan menjadi miliknya sendiri tanpa membayangkan kembali orang-orang yang pertama kali nilai itu ditransfer, sehingga nilai-nilai itu menjadi bagian dari dirinya.
Dalam ayat ini yang terkandung antara lain, kaitan wasiat Lukman al Hakim dengan wasiat untuk berbuat baik pada orang tua, menunjukkan serta mempertegas betapa jelek dan buruk musyrik itu. Pendidikan yang tertanam di sini, pendidikan keimanan, untuk bertauhid hanya kepada Allah Swt.
Tidak sependapat dan tidak taat kepada orang tua atau guru dalam hal yang bertentangan dengan ketentuan Allah, adalah sesuatu yang dituntut oleh Agama. Ini diisyaratkan oleh ayat ke 15.
Bermuamalah dengan ma’ruf dalam urusan dunia, dengan guru, orang tua juga yang lainnya dituntut Agama Islam, sekalipun mereka orang kafir. Guru tidak boleh mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan Akidah Islam. Murid harus punya pendirian kuat terhadap kebenaran. Bahan ajar yang diberikan, Tauhid dan kemasyarakatan / sosial. Metode pengajaran yang digunakan ialah Hiwar washfi.
4) Lukman : ayat 16 
 “(Lukman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui.”

a.       Analisis Bahasa
a) Gaya Bahasa
Dalam ayat ini terdapat unsur gaya bahasa (balaghah) tasybih tamtsil yaitu menyerupakan sesuatu dengan yang lain, yang wajhu syibahnya berupa gambaran yang dirangkai dari keadaan beberapa hal, yaitu "innaha in taku mistqalu hubbatun min khardalin fatakun fi shakhra" (Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu..) ungkapan ini bertujuan untuk mengungkapkan luasnya ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu baik besar, kecil, nampak, tersembunyi Allah mengetahui sekecil apa pun, tersembunyi bagaimana pun dan di tempat manapun (al-Jarim dkk, 1998: 43). al-Shabuni (1998, II: 336) menyebutkan, maksud dari tamtsil/ perumpamaan tersebut bahwa tidak ada bagi Allah dari sesuatu amal hambanya yang tersembunyi.
Kemudian gaya bahasa Tatmim, pada ayat fatakun fi shakhra dalam ayat ini unsur tatmim (menyempurnakan) yaitu sempurna tersembunyinya dan tempat persembunyiannya.
Al-Jauzi (tt, VI: 321) menyebutkan bahwa sebab turun perkataan Lukman al Hakim yang ini karena adanya perkataan Ibnu Lukman terhadap ayahnya, yaitu: "Ayahku, bagaimana jika aku melakukan dosa yang tidak ada seorang pun melihatnya, apakah Allah mengetahuinya?"
Atas pertanyaan itu maka Lukman al Hakim menjawab, bahwa pekerjaan baik atau buruk sekecil apapun misalnya sekecil biji sawi dan berada di tempat yang paling tersembunyi sekalipun misalnya di dalam batu pada lapis bumi yang ke tujuh, atau di tempat yang tertinggi, misalnya, langit-langit atau di tempat yang terendah sekalipun, seperti di dalam kandungan bumi, pasti Allah mengetahuinya, membuktikannya dan mendatangkan balasannya di akhirat nanti, Karena Ia maha Latief/lembut dengan ilmunya dapat mengetahui sampai ke tempat yang tersembunyi sekalipun, dan Allah Khabir, mengetahui sesuatu yang tampak juga yang tersembunyi. (al-Maraghi, 1971: VII: 84, dan al-Jauzi, tt: VI: 322)

b)      Diksi
Habbah (biji), Khardal (sawi), Lathif (halus), Khabir (mengetahui). Shibab (2002: 134) menjelaskan tentang kata khardal, bahwa satu kilogram biji khardal (moster) terdiri atas 913.000 butir. Dengan demikian berat satu butir biji moster hanya sekitar satu per seribu gram + 1 mg dan merupakan biji-bijian teringan yang diketahui umat manusia sampai sekarang. Oleh karena itu biji ini sering digunakan al Quran untuk menunjuk sesuatu yang sangat kecil dan halus. Kata lathif mengandung makna lembut, halus atau kecil. Dari makna ini kemudian lahir makna ketersembunyian dan ketelitian. Kata khabir memiliki makna pengetahuan dan kelemahlembutan. Khabir dari segi bahasa dapat berarti yang mengetahui dan juga tumbuhan yang lunak.
b.      Komunikasi Persuasi
Dalam ayat ini dapat ditangkap pula komunikasi persuasi melalui penghayatan yang melibatkan lingkungan untuk memperoleh penguatan yang lebih mendalam, tidak hanya sebatas pengetahuan. Hal ini tampak dalam ungkapan “mitsqala habbatin min khardalin” (seberat biji sawi). Ungkapan ini merupakan upaya komunikasi melalui kata-kata yang mendekatkan makna nilai yang diajarkan dengan pengalaman yang telah dimiliki peserta didik.
Pengungkapan materi pendidikan dalam ayat ini dilakukan melalui perumpamaan yang dimaksudkan untuk memberi penjelasan tentang sesuatu yang belum diketahui dan dihayati peserta didik dengan cara mengambil sesuatu yang telah diketahuinya sebagai bandingan, sehingga sesuatu yang baru itu dapat dipahami karena terkait dengan pengetahuan yang sudah ada sebelumnya (apersepsi). Kata-kata “di dalam batu”, “di langit” atau “di bumi” merupakan ungkapan-ungkapan yang dikenal dan di persepsi keadaannya oleh peserta didik sebagai sesuatu yang tidak mungkin diketahuinya, karena keadaannya jauh, dalam dan tidak terjangkau oleh pengetahuan manusia. Dalam tempat dan keadaan seperti ini, sebuah biji sawi yang kecil diketahui oleh Allah.
Di sini peserta didik belajar tentang kemahatahuan Allah dengan mengaitkan informasi yang baru diterimanya dengan informasi yang telah diketahui sebelumnya, sehingga informasi yang datang dapat dengan mudah dipahami dan diserap peserta didik.
c.       Pendidikan
Dalam ayat ini tersirat tujuan pendidikan, yaitu pengarahan kepada perilaku manusia untuk meyakini bahwa tidak ada sesuatu perbuatan yang berlalu dengan sia-sia. Keyakinan bagi kemahatahuan Allah ini menjadi dasar bagi lahirnya sikap-sikap konsekuen, bertanggung jawab dan sikap yang menggambarkan kesungguh-sungguhan dan menghindarkan kepura-puraan.
Wasiat Lukman al Hakim dalam ayat ini dimaksudkan untuk mengusik perasaan anaknya supaya tumbuh keyakinan akan kekuasaan Allah yang tidak terbatas. Jika keyakinan ini tumbuh, maka akan lahir pula sikap-sikap dan perbuatan baik, sesuai dengan keyakinan dan kemahatahuan Allah yang telah tertanam dalam dirinya.
Dalam PBM, pelajaran itu hendaknya diulang dan disinggung kembali. Ini untuk mengingatkan dan sekaligus mempertegas kembali terhadap ada yang telah dijelaskan pada waktu yang lalu. Ini ditunjukkan oleh ayat 13 – 14 dan 15, yang menjelaskan tentang Tauhid, disinggung kembali ketauhidan itu pada ayat ke 16.
Materi pengajaran pertama harus diperluas oleh materi pengajaran berikutnya, untuk memperkaya wawasan murid. Seperti materi tauhid pada ayat ke 13 yang menjelaskan keimanan, tidak musyrik, kemudian diperluas dengan materi pada ayat ke 16 selain menjelaskan tauhidnya juga keimanan tentang sifat-sifat Allah, dan juga terhadap alam gaib, seperti balasan amal di akhirat nanti.
Porsi untuk pelajaran tauhid pada pendidikan tingkat dasar/anak–anak harus lebih besar dari porsi pelajaran yang lainnya. Ini dibuktikan dengan 4 ayat berturut-turut Allah menampilkan materi ketauhidan, lebih besar dari ayat yang lainnya/17 dan 18.
Metode yang digunakan dalam mengajarkan tauhid pada tingkat dasar, bisa dengan metode amtsal/perumpamaan. Dan metode tanya-jawab. Menggunakan metode amtsal bagi anak-anak, hendaknya disesuaikan dengan tingkat kemampuan dan kehidupan yang dialami oleh anak. Ini ditunjukkan Allah dengan menggunakan hubbatun/bijikan, shahratun/batu sebagai bahan perbandingan. Dan kedua ini biasanya sudah ada pada dunia peserta didik.
Mengajarkan keimanan hendaknya peserta didik di bawa atau melihat ke alam nyata. Seperti Lukman al Hakim mengajak anaknya untuk melihat alam nyata, bumi, langit, biji dan batuan. Cara ini akan lebih mudah dipahami oleh peserta didik.
5) Lukman: 17
 “Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).”

a.       Analisis Bahasa
a) Gaya Bahasa
Dalam ayat ini terkandung unsur gaya bahasa balaghah sebagai berikut, Al-Muqabalah, yang dimaksud al-muqabalah adalah pemaparan dua makna atau lebih yang berlawanan dari dua ungkapan secara berurutan sebagaimana al-Jarim (1998: 409) mengungkapkan bahwa: “Muqabalah adalah didatangkannya dua makna atau lebih di bagian awal kalimat, lalu didatangkan makna yang berlawanan dengannya secara tertib pada bagian akhri dari kalimat tersebut”. Seperti dalam ayat ini terdapat muqabalah wa’mur bil ma’ruf dengan wanha ‘anil munkar (dan perintahlah pada yang baik) dengan (dan cegahlah kemungkaran). Dua ungkapan ini bertentangan maknanya.
Dalam ayat ini, ada empat wasiat Lukman al Hakim terhadap anaknya; 1) Salat termasuk Ibadah, 2) Amar ma’ruf, 3) Nahyi munkar, keduanya termasuk bidang muamalah, dan 4) sabar, ini masuk dalam bidang akhlak.
Lukman al Hakim berwasiat pada anaknya untuk melakukan salat sesuai waktunya dan khusyuk melakukannya, padanya terdapat ridha Tuhan, dan mencegah fakhsya dan munkar. Jika dilakukan dengan sempurna, maka jiwa akan bersih dan keyakinan terhadap Allah akan kuat baik dalam keadaan senang dan susah, tampak atau tersembunyi. Wasiat ini merupakan takmil nafsahu usaha untuk kesempurnaan dan kebersihan dirinya.
Selanjutnya, Wasiat Lukman al Hakim takmil lighirih usaha untuk kesempurnaan bagi yang lain, yaitu dengan cara amar ma’ruf nahyu munkar, yaitu mentahdzib mereka dan mentazkiyahnya. Mengajak untuk bertauhid, dan melarang syirik, memerintah pada setiap kebajikan dan keutamaan, serta melarang pada setiap kejahatan dan kehinaan
Berikutnya, wasiat untuk sabar, di saat melakukan amar ma’ruf nahyu munkar jika ada manusia yang menyakitinya. Karena seorang da'i saat mengajak orang lain pada hak, sering dihadapkan pada sesuatu yang menyakitkan. Itu semua (4 di atas) merupakan perintah yang wajib dilakukan oleh manusia, kewajiban yang Allah telah tetapkan.
Di awal ayat ini, wasiat didahului dengan salat, lalu diakhiri dengan sabar. Ini memberi arti bahwa keduanya merupakan tiang memohon pertolongan Allah, Firmannya 'washta'inu bis shabri was shalat' (al-Maraghi, 1971, VII: 85, dan al-Suyuthi, tt, VI: 523).
b) Diksi
Shalat (shalat), ma’ruf (kebaikan), munkar, min ‘azmil umur (urusan yang mesti). Ma’ruf diambil dari kata ‘arafa, ma’ruf mencakup segala hal yang dinilai oleh masyarakat baik, selama tidak bertentangan dengan akidah Islamiyah. Dalam konteks ini diriwayatkan bahwa Asma’ putri Abu Bakar ra. pernah didatangi oleh ibunya yang ketika itu masih musyrikah. Asma’ bertanya kepada Nabi bagaimana seharusnya ia bersikap. Maka Nabi saw memerintahkannya untuk tetap menjalin hubungan baik, menerima dan memberinya hadiah serta mengunjungi dan menyambut kunjungannya.
Menurut Shihab (2002: 137), ma’ruf adalah “Yang baik menurut pandangan umum suatu masyarakat dan telah mereka kenal luas”, selama sejalan dengan al khair (kebaikan), yaitu nilai-nilai Ilahi. Munkar adalah sesuatu yang dinilai buruk oleh mereka serta bertentangan dengan nilai-nilai Ilahi.
Azm dari segi bahasa berarti keteguhan hati dan tekad untuk melakukan sesuatu. Kata ini berpatron mashdar, tetapi maksudnya adalah objek, sehingga makna penggalan ayat itu adalah shalat, amr ma’ruf dan nahi munkar serta kesabaran merupakan hal-hal yang telah diwajibkan oleh Allah untuk dibulatkan atasnya tekad manusia, kesabaran diperlukan oleh tekad serta kesinambungannya. Tekad dan keteguhan akan terus bertahan selama masih ada sabar.
b.      Komunikasi Persuasi
Dalam ayat ini terdapat komunikasi persuasi yaitu Lukman al Hakim setelah memerintah shalat dan menyuruh supaya orang lain mengerjakan yang baik dan mencegah mereka dari perbuatan yang mungkar, menyuruh bersabar terhadap musibah, lalu Lukman al Hakim memberikan argumentasi yaitu hal-hal tersebut dari urusan yang kokoh.
c.       Pendidikan
Dalam ayat ini dapat diungkapkan materi pendidikan berupa shalat, yaitu bentuk ibadah ritual yang wajib dilakukan oleh setiap muslim dengan cara dan waktu yang telah ditentukan, materi amar ma’ruf nahi munkar, yaitu kewajiban seorang muslim untuk mengajak orang lain berbuat kebaikan dan melarang berbuat kemungkaran, dan materi sabar yaitu sikap hidup yang menerima konsekuensi dari suatu tindakan. Ketiga hal tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh antara peran individu dan sosial dan hubungan individu dengan Allah secara vertikal serta individu dengan individu dan makhluk secara horizontal.
Shalat sebagai materi pendidikan merupakan bentuk hubungan individu dengan Allah yang dapat memperteguh keyakinan, penyerahan diri dan dapat melahirkan ketenteraman jiwa yang merupakan bagian paling penting dalam pembinaan pribadi.
Kata “aqim” dirikanlah menyiratkan keharusan untuk bersungguh-sungguh menegakkan shalat, tidak sekadar melaksanakan kewajiban. Dari pengertian ini dapat ditangkap bahwa mengajarkan shalat bukan sekedar bentuk keterampilan, tetapi merupakan upaya yang intensif yang didasarkan atas keyakinan yang berpengaruh kuat dalam pembinaan kepribadian.
Kekuatan pribadi yang didapatkan dari shalat akan mendorong tumbuhnya keberanian untuk dapat menyuruh orang lain dan lingkungan sosialnya untuk berbuat kebaikan serta menghindarkan orang lain dari perbuatan syirik. Kekuatan ini akan melahirkan pula sikap konsekuen dan sikap sabar. Sikap-sikap ini dapat dikategorikan sebagai tujuan yang hendak dicapai oleh pendidikan.
Pelajaran Ibadah/Ibadah makhdlah termasuk bahan ajar bagi pendidikan. Pelajaran yang bersifat muamalah/ ibadah ghair makhdlah, seperti rasa peduli terhadap lingkungan sekitar amar ma’ruf nahyu munkar, harus sudah dimulai sejak kecil. Pelajaran akhlak, termasuk pelajaran yang penting diperhatikan pada pendidikan tingkat dasar. Ini diisyaratkan wasiat Lukman al Hakim untuk anaknya shabar
Ayat ini juga menunjukkan pentingnya menanamkan pada diri anak sifat untuk terlebih dahulu memperbaiki diri sendiri sebelum memperbaiki orang lain. Ini ditunjukkan dengan dimulai dengan perintah shalat lalu amar ma’ruf nahyi munkar.
6) Lukman: 18
 “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

a.       Analisis Bahasa
a) Gaya Bahasa
Larangan dengan menggunakan huruf la nahyi dan diikuti dengan fi’il mudhari, kemudian diakhiri dengan argumentasi kenapa hal itu dilarang Allah.
b) Diksi
Tusha’ir (berpaling), khaddaka (wajahmu), an nas (manusia), ardhu (bumi), marahan (sombong), mukhtali (membanggakan diri). Kata tusha’ir terambil dari kata ash-sha’ar yaitu penyakit yang menimpa unta dan menjadikan lehernya keseleo, sehingga ia memaksakan dia dan berupaya keras agar berpaling sehingga tekanan tidak tertuju kepada syaraf lehernya yang mengakibatkan rasa sakit. Dari kata inilah ayat di atas menggambarkan upaya keras dari seseorang untuk bersikap angkuh dan menghina orang lain. Memang sering kali penghinaan tercermin pada keengganan melihat siapa yang dihina.
Kata fi al ardhi/ di bumi disebut oleh ayat di atas, untuk mengisyaratkan bahwa asal kejadian manusia dari tanah, sehingga dia hendaknya jangan menyombongkan diri dan melangkah angkuh di tempat itu. Kata mukhtâlan terambil dari akar kata yang sama dengan khayâl. Karenanya kata ini pada mulanya berarti orang yang tingkah lakunya diarahkan oleh khayalannya, bukan oleh kenyataan yang ada pada dirinya. Biasanya orang yang semacam ini merasa angkuh dan merasa dirinya memiliki kelebihan dibandingkan dengan orang lain. Dengan demikian, keangkuhannya tampak secara nyata dalam kesehariannya. Kuda dinamai khail karena cara jalannya mengesankan keangkuhan, kata mukhtal dan fakhura mengandung makna kesombongan, kata yang pertama bermakna kesombongan yang terlihat dalam tingkah laku, sedang yang kedua adalah kesombongan yang terdengar dari ucapan-ucapan (Shihab, 2002: 139-140).
b.      Komunikasi Persuasi
Dalam ayat ini Lukman al Hakim melakukan komunikasi persuasi dengan kata larangan (melarang sombong) lalu diikuti dengan argumentasi/alasan ‘Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri’.
c.       Pendidikan
Ayat ini menjelaskan wasiat Lukman al Hakim, cara bergaul dengan orang lain, yaitu jangan sombong, lalu merendahkan yang lain, dan jangan memalingkan muka saat orang berbicara padamu (Shawi, tt, III: 316) akan tetapi menghadaplah pada mereka dengan wajah yang penuh rasa senang dan terbuka dengan tidak sombong dan merasa tinggi (Hijazi, tt, III: 49), karena Allah tidak menyukai kepada orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri
Menurut Thabari (1988, XI: 74) kata ahs-sha'ru pada awalnya ialah penyakit yang kena pada pundak atau kepala binatang unta, sehingga unta itu memalingkan pundaknya. Shawi (tt, III: 316) selanjutnya kata ash-sha'ru digunakan pada seseorang yang memalingkan pundak dan wajahnya dari yang lain karena sombong.
Al-Suyuthi (tt, VI: 524) mengutip tafsiran Ibn Abbas, yaitu orang yang ‘mush’ir‘ itu ialah orang yang diberi salam kepadanya lalu dia memalingkan pundaknya seperti orang yang sombong. Dan tafsiran al-Rabi bin Anas, keadaan orang fakir dan kaya dalam menuntut ilmu kepadamu (Rasul) adalah sama dan atas hal ini Nabi saw pernah ditegur Allah "'Abasa wa tawalla"
Dan Wasiat Lukman al Hakim lainnya 'jangan berjalan di muka bumi dengan angkuh’. Karena pekerjaan itu dimurkai Allah, Ia tidak suka pada yang angkuh sombong.
Al-Maraghi (1971, VII: 86) mengutip perkataan Ibn Amr bin ‘Ash , yaitu:
Kuburan akan berkata kepada seorang hamba ketika hamba itu dikuburkan, ia berkata: ... 'wahai bani Adam apa yang memperdayaianmu padaku?' hamba itu menjawab: 'sungguh aku telah berjalan di muka bumi ini dengan penuh kesombongan' dalam hadits lain, 'Barang siapa yang menjulurkan pakaiannya (hingga ke bawah mata kaki) karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada hari Kiamat kelak.

Dalam ayat lain Allah menegur orang yang berjalan dengan congkak sombong, karena hal itu sekali-kali kamu tidak akan dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.
Makna sosialisasi sebagai bagian dari pendidikan, yaitu peserta didik dapat bergaul di tengah-tengah masyarakat dengan berbekal adab dan kesopanan. Bergaul dengan orang lain di tengah-tengah masyarakat diawali dengan al akhlak al karimah yang memancar pada kecerahan wajah, sebab wajah yang ramah merupakan pantulan ketulusan hati seseorang. Karena itu wajah dapat menjadi awal pergaulan seseorang dengan masyarakat lainnya.
Sopan santun di pandang sebagai materi pendidikan yang dapat menempatkan peserta didik di tengah pergaulan masyarakat melalui komunikasi bahasa dan tingkah laku yang sopan dan beradab.
Sopan dan rendah hati dapat dipandang sebagai materi dan sekaligus tujuan pendidikan. Sebagai materi, ia sangat penting untuk diajarkan sebagai bekal bersosialisasi dan sebagai tujuan pendidikan, karena sopan dan rendah hati merupakan pantulan dari ketenangan jiwa dan ketenteraman yang mencerminkan pribadi luhur.
Jiwa yang tenang adalah jiwa yang terkendali, matang dan puas yang sebagian pencapaiannya dapat dilakukan melalui upaya pendidikan. Ketenangan jiwa ini hakikatnya adalah tujuan hidup setiap orang. Ketenangan ini juga merupakan gambaran keberhasilan hidup yang diridai Allah.
Jiwa yang tenang, dilihat dari segi perkembangan kejiwaan manusia, merupakan tingkat terakhir dari kebahagiaan atau tingkat tertinggi yang hendak ingin dicapai dalam perkembangan rohani manusia melalui proses pendidikan.
7) Lukman : 19
 “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”

a.       Analisis Bahasa
a) Tinjauan Gaya Bahasa
Dalam ayat ini terdapat unsur balaghah Isti’arah tamtsiliyyah, yaitu menyerupakan suara yang jelek dengan suara keledai, yaitu 'Inna ankara ash wat li shautil himar' (sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai) ungkapan ini bertujuan menyerupakan orang-orang yang sombong bersuara keras seperti keledai, ungkapan tasybih di atas tidak menyebutkan adat tasybihnya (seperti) hal ini bertujuan untuk mengungkapkan penghinaan dan melarang mengeraskan suara bukan pada tempatnya.
b) Diksi
Waqshid (sederhana), ughdhudh (rendahkanlah), shaut (suara) dan hamir (keledai). Kata ughdhudh terambil dari kata ghadhdh dalam arti penggunaan sesuatu yang tidak dalam potensinya yang sempurna. Mata dapat memandang ke kiri dan ke kanan secara bebas. Perintah ghadhdh jika ditunjukkan kepada mata maka kemampuan itu hendaknya dibatasi dan tidak digunakan secara maksimal. Demikian juga suara, dengan perintah di atas, seseorang diminta untuk tidak berteriak sekuat kemampuannya, tetapi dengan suara perlahan namun tidak harus berbisik.
b.      Komunikasi Persuasi
Dalam ayat ini Lukman al Hakim melakukan komunikasi persuasi dengan melarang bersuara keras bukan pada tempatnya yang diikuti dengan argumentasi bahwa suara keras itu jelek seperti suara keledai.
c.       Pendidikan
Dalam ayat ini diungkapkan wasiat Lukman al Hakim berikutnya, yaitu “sederhanalah dalam berjalan” tidak terlampau lambat dan tidak terlampau cepat, tidak dibuat-buat dan tidak karena ingin dilihat orang dengan menampakkan ketawadhuan atau kesombongan.
Aisyah pernah melihat seorang laki-laki yang hampir mati karena takut. Ia berkata: “Siapa dia?”, lalu dikatakan padanya: “Ia seorang al-qurra” (fakih ‘alim terhadap kitab Allah). Lalu Aisyah berkata: “Umar adalah seorang yang al-qurra, bila ia berjalan ia berjalan dengan cepat, bila berbicara ia didengar, dan bila memukul pukulannya pun menyakitkan”
Umar melihat orang pura-pura mati, Ia berkata 'janganlah kamu mematikan agama kami, Allah pasti akan mematikanmu' Dan melihat orang yang mengangguk-anggukan kepalanya, lalu Umar berkata 'Angkatlah kepalamu, karena Islam berjaya bukan oleh orang sakit' (al-Maraghi, 1971, VII: 86)
Dan berikutnya Lukman al Hakim berwasiat ‘rendahkanlah suaramu’ jangan engkau mengangkatnya dengan keras, karena itu jelek tidak dipandang baik oleh yang berakal (al-Shabuni, 1998, II: 337) karena seburuk-buruk suara ialah suara himar, maka siapa yang mengangkat suaranya ia bagaikan himar
Qatadah berkata, seburuk-buruk suara ialah suara himar awalnya mengeluarkan nafas panjang dan akhirnya menarik nafas. Di antara kebiasaan orang Arab merasa sombong dengan suaranya yang keras, siapa yang paling keras suaranya dialah yang paling mulia, dan yang paling rendah suaranya dialah yang terhina (al-Maraghi, 1971, VII: 87)
Dari dua ayat terakhir ini (ayat 18–19) merupakan penyakit yang ada pada manusia (Hijazi, tt, III: 49). Lukman al Hakim memerintah anaknya, yang pertama (ayat 18) untuk kebersihan bathin, dan yang ke dua membersihkan dhahir, sehingga tercapai kesempurnaan bathin dan dhahir (Shawi, tt, III: 316).
Dalam ayat ini terdapat nilai pendidikan yang berkaitan dengan metode pendidikan, yaitu menyampaikan komunikasi melalui gambaran dan pemisalan. Tamsil yang dimaksud adalah keledai dengan sifat yang melekat dalam dirinya yang digunakan untuk mengumpamakan orang yang bersuara keras. Sedangkan tujuan yang tersirat di dalamnya adalah agar terdidik tidak berbuat sombong, tetapi dapat berkata dan berperilaku lemah lembut dan sopan.
Keledai adalah binatang yang kotor dan paling buruk suaranya di antara binatang dan dalam ayat ini binatang digunakan sebagai alat pendidikan. Penggunaan alat pendidikan yang diambil dari lingkungan yang akrab dengan terdidik mengandung makna dan nilai pedagogis yang dalam, karena komunikasi pendidikan yang ditunjang oleh alat pendidikan seperti itu akan memungkinkan terjadinya komunikasi yang efektif, yaitu peserta didik dapat memahami makna yang diajarkan secara utuh, karena alat yang digunakan telah dikenal oleh peserta didik. Dengan demikian materi yang diajarkan dapat disampaikan dengan baik yang dalam konteks ayat ini adalah adab kesopanan.
Bidang pengajaran yang diajarkan Lukman al Hakim pada ayat 18 – 19 ialah akhlak. Pengajaran akhlak sangat penting diterapkan pada pendidikan tingkat dasar. Materi akhlak pada tingkat dasar, hendaknya yang mudah, sederhana, dan menyentuh kehidupan sehari-hari. Muatan materi pengajaran akhlak hendaknya menyentuh kesempurnaan batin dan kesempurnaan dhahir. Dalam mengajarkan pengajaran akhlak bisa dilakukan dengan menggunakan metoda mauiddhah dan metoda tamtsil.
            Keluarga muslim seharusnya menerapkan pendidikan dasar kepada anaknya, sebagaimana yang dicontohkan Lukman al Hakim dalam al Quran surah Lukman: 12-19.
            Berikut ini esensi dan pelajaran yang dapat diambil dari surah Lukman ayat 12 - 19 (Sauri, 2006a: 86), yaitu:
Ø  Hendaknya bersyukur kepada Allah. (QS. Lukman: 12)
Ø  Jangan mempersekutukan Allah. (QS. Lukman: 13)
Ø  Agar berbuat baik kepada kedua orang tua. (QS. Lukman: 14)
Ø  Perintah orang tua wajib ditolak bila bertentangan dengan perintah Allah. (QS. Lukman: 15)
Ø  Yakin bahwa Allah akan membalas segala amalan (baik maupun buruk). (QS. Lukman: 16)
Ø  Ajaklah anak-anak melakukan shalat dan beri contohlah tentang kesabaran. (QS. Lukman: 17)
Ø  Janganlah sombong dan angkuh. (QS. Lukman: 18)
Ø  Hendaklah berbicara dengan suara yang lembut. (QS. Lukman: 19).
            Semua itu disampaikan dengan gaya bahasa yang santun, balaghah, dan menarik.



3. Maqalat Lukman al Hakim pada Anaknya
 Sebagaimana diutarakan dalam surat Lukman ayat 12 Lukman al Hakim adalah sosok manusia yang telah diberi Hikmah oleh Allah SWT. Dan menurut al-Maraghi banyak sekali maqalat-maqalat Lukman al Hakim.
Di bawah ini peneliti menyajikan beberapa maqalat atau kata-kata nasihat Lukman al hakim terhadap anaknya dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya yang dikutip dari tafsir al-Maraghi (1971: VII: 87), dan disajikan dengan bahasa Arab dan transliterasi serta terjemahannya.





















BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 KESIMPULAN
Setelah penyusun menguraikan pembahasan pada bab terdahulu maka dapatlah ditarik kesimpulan sebagai berikut :
Pertama, Teknik komunikasi persuasif memiliki karakteristik yang khas dan memberikan efek positif bagi komunikan karena kemampuannya yang dapat mengubah sikap, opini dan perilaku komunikan dengan tanpa paksaan; komunikan secara tidak sadar mengikuti keinginan komunikator.
Kedua, Al-Quran mengandung ajaran tentang prinsip-prinsip komunikasi persuasif. Sinyalemen tersebut memerlukan pengamatan secara seksama dan interpretasi dengan perspektif ilmu sosial khususnya komunikasi.
Ketiga, Prinsip-prinsip metodologis gagasan Qur’ani diantaranya bersifat rasionalistis, mempunyai aspek humanisme, adanya keluasan potensi manusia, serta memandang aspek kemaslahatan dan sosietisme Adapun Aflikasi komunikasi persuasif Al Quran terutama dalam membahas tentang hakikat taubat dan taqwa dapat diamati dari beberapa hal berikut yaitu Claim, Warrant, dan data. serta menggunakan ragam teknik komunikasi persuasif yaitu “red herring, Teknik “pay off idea”, dan Teknik “fear arousing membuat siapapun yang membaca dan memahaminya menjadi terkesan dan tidak terpaksa untuk mengamalkan pesan-pesan Al Quran termaksud.
Keempat, Karakteristik gaya pengungkapan (demonstrasi) Al-Qur'an dalam memaparkan tentang hakikat pendidikan dalam kisah Lukmanul Hakim mengandung dua aspek yaitu Aspek balaghah, susunan kalimat singkat tetapi mengandung makna yang sangat padat., serta aspek argumentatif dalam penjabarannya . Kedua aspek termaksud mempunyai makna tersendiri yaitu 1) , mempunyai arti lahir dan batin, 2) , pemaparan yang persuasif 3) , motivasi untuk meneliti dan berfikir, 4) . Membuang kalimat muta’alliq untuk menghasilkan yang lebih umum 5) , berhubungan dengan hukum kausalitas terdapat kaitan yang erat antara kehendak mutlak Tuhan dengan hukum kausalitas (berkiatan dengan sunnatullah)
Kelima, Esensi dan pelajaran yang dapat diambil kisah Lukmanul Hakim, yaitu: hendaknya bersyukur kepada Allah swt tidak mempersekutukan-Nya, senantiasa berbuat baik kepada kedua orang tua kecuali bila bertentangan dengan perintah Allah swt; Yakin bahwa Allah akan membalas segala amalan (baik maupun buruk); Senantiasa mengajak anak-anak melakukan shalat dan memberi contoh tentang kesabaran, tidak sombong dan angkuh serta senantiasa berbicara dengan suara yang lembut.

3.2 SARAN
Pada kesempatan ini perkenankan penyusun sumbangsih saran sebagai berikut:
Mengamati bentuk komunikasi persuasif dapat ditarik sebuah sintesis bahwa pada dasarnya Agama Islam sejak awal kedatangannya ke muka bumi ini telah memberikan tuntunan menuju jalan keselamatan dan pintu-pintu pengetahuan begi seluruh umat manusia, hanya saja saat ini umat Islam masih belum mampu mengali dan berani menampilkan ke segenap umat manusia di muka bumi ini bahwa Islam merupakan agama yang mengangkat derajat umat manusia dan mengantarkan menuju jalan keselamatan di dunia dan di akhirat.




















DAFTAR PUSTAKA

Al Quranul Karim dan Terjemahnya
Carld I Hovland, Irving L. Janis, Harold H. Kelly, 1963. Communication and
            Persuasion. (New Heaven and London : Yale University Press.)
Effendy, Onong Uchyana. 1989. Psikologi, Manajemen dan Administrasi.
             Bandung: Mandar Maj.
…………1997 Ilmu Komunikasi dalam Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya.
………….2000 Ilmu teori dan filsafat komunikasi”. Bandung: Aditya Bakti.
Elvinaro Ardinto, 2007. Filsafat Ilmu Komunikasi” Bandung : Simbiosa
            Rekatama Media,.
Kossen, Stan. 1993 Aspek Manusiawi dalam Organisasi. Jakarta: Erlangga,.
M. Ghojali Bagus A.P., S.Psi. 2010. Buku Ajar Psikologi Komunikasi – Fakultas    Psikologi Unair
Malik, Deddy Djamaludin dan Irianta, Yosal.2000. Komunikasi Persuasif
            Bandung, Remaja Rosdakarya.
Mulyana, Deddy, 2000. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar”Bandung :PT Remaja
            Rosdakarya,
Rachmadi, F. 1992. Public Relations Dalam Teori dan Praktek. Jakarta: PT
            Gramedia Pustaka Utama,
Rakhmat, Jalaluddin. 2000. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja
            Rosdakarya,.
Surya, Kusumah. 1978.Peranan Human Relations dan Public Relations dalam
            Organiasi. Diklat Lembaga Administrasi Negara RI,
Tasmara, Toto. 1997. Komunikasi Dakwah. Jakarta: Graha Media Pratama,.
Widjaya, H.A.W, 1986.Komunikasi Dan Hubungan Masyarakat, Jakarta: Bina
            Aksara,
William Albig, 1956.. Modern Public Opinion. (New York : McGraww-Hill Book
            Company. Inc. 

0 Response to "TELAAH BAHASA PERSUASIF ALQURAN"

Posting Komentar