MUBALAGHAH


BAB 1
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Alquran merupakan mukjizat terbesar bagi Nabi Muhammad saw. Kemukjizatannya terkandung pada aspek bahasa dan isinya. Dari aspek bahasa, Alquran mempunyai tingkat fashâhah dan balâghah yang tinggi. Sedangkan dari aspek isi, pesan dan kandungan maknanya melampaui batas-batas kemampuan manusia. Ketika Alquran muncul, banyak di dalamnya terkandung hal-hal yang tidak bisa ditangkap oleh orang-orang pada zamannya, akan tetapi kebenarannya baru bisa dibuktikan oleh orang-orang pada abad modern sekarang ini.
Kata-kata dan isinya dibaca, ditela‟ah, dijadikan rujukan dan merupakan sumber inspirasi muncul dan berkembangnya berbagai ide dan karya jutaan umat manusia. Kitab ini dijadikan pedoman dan karenanya amat dicintai oleh seluruh kaum muslimin. Karena kecintaannya pada Alquran kaum muslimin membaca dan menelaahnya baik dengan tujuan ibadah maupun untuk memperoleh pengetahuan darinya. Dengan dorongan Alquran pula para ulama dan ilmuwan mengarang dan menterjemahkan bermacam-macam buku ilmu pengetahuan, baik yang berkaitan dengan keislaman seperti bahasa Arab, syariat, filsafat dan akhlak, maupun yang yang bersifat umum seperti sejarah, kesenian dan perekonomian. Hanya dalam tempo satu abad, inspirasi yang dibawa Alquran telah membuat penuh berbagai perpustakan di kota-kota besar Islam pada masa itu seperti Mesir, Baghdad dan Cordova.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa itu Mubalaghah?
2.      Apa itu  Tablîgh
3.      Apa itu  Ighrâq
4.      Apa itu  Ghuluw

C.    Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui ilmu balaghag khususnya mubalaghah.
2.      Untuk mengetahui Tablîgh
3.      Untuk mengetahui Ighrâq
4.      Untuk mengetahui Ghuluw

D.    Metode Penulisan
Metodologi Penulisan makalah ini menggunakan metode studi pustaka dengan melakukan penyusunan dari berbagai sumber dan pemanfaatan pada bidang komunikasi internet.

E. Sistematika Penulisan
1.    BAB I  : Pendahuluan, Bab ini memuat Latar belakang, Rumusan Masalah, Tujuan Penulisan, Metode Penulisan, dan Sistematika Penulisan. Bab II: Pembahasan,  Bab III : Penutup, Bab ini memuat kesimpulan dan saran.


BAB II
PEMBAHASAN

A.     Pengertian Mubâlaghah
      Salah satu aspek badî’ lainnya dalam uslûb bahasa Arab adalah badî’ mubâlaghah. Istilah ini dalam bahasa Indonesia biasa disebut gaya bahasa hiperbol. Kata mubâlaghah secara leksikal bermakna ‘melebihkan’. Sedangkan dalam khazanah ilmu badî’ mubâlaghah didefinisikan sbb,
المبالغة وصف يدعى بلوغه قدرا يرى ممتنعا أو نائيا
وهو على أنحاء تبليغ أو إغراق أوغلو جاء
      Mubâlaghah adalah ekspresi ungkapan yang mengambarkan sesuatu hal secara berlebihan yang tidak mungkin (tidak sesuai dengan kenyataan).
1.      Majas hiperbola
Majas Hiperbola yaitu majas atau gaya bahasa yang bertujuan untuk melebih-lebihkan. Contoh kalimat yang menggunakan majas hiperbola diantaranya :
·         Cita-cita Budi setinggi langit, sehingga dia sangat disiplin dalam belajar di sekolah.
·         Bu Ani terkejut setengah mati, mendengar rumahnya kebakaran
·         Cintaku kepadamu sedalam samudera dan seluas jagad raya.
Kalimat di atas bersifat melebih-lebihkan , yaitu terletak pada :
setinggi langit, setengah mati, sedalam samudera, seluas jagad raya.
Imam Sakaki, seorang ulama balaghah (stylistika) terkemuka, membagi Mubalaghah menjadi tiga bagian:
 yaitu tablîgh, ighrâq, dan ghuluw.

B.     Tablîgh
Tablîgh adalah salah satu jenis ungkapan mubâlaghah. Dinamakan tablîgh apabila suatu ungkapan itu mungkin terjadi baik secara logika maupun realita. Contoh :
فعادى عداء بين ثور ونعجة دراكا فلم ينضج
بماء فليغسل
Kuda itu bermusuhan terus menerus antara banteng jantan dan banteng betina sambil berturut-turut. Ia tidak berkeringat sehingga tidak dimandikan.
Penyair mengungkapkan bahwa kudanya menemukan banteng jantan dan banteng betina dalam sebuah persembunyiannya dan kuda itu tidak berkeringat sekalipun takut. Keadaan ini mungkin terjadi baik menurut akal maupun menurut adat.
Contoh Mubalaghah Tabligh. Seperti dalam bait syair Amrul Qais:
Kuda itu berpaling terus menerus antara banteng jantan dan banteng betina
berkali-kali... namun tidak sedikitpun meneteskan keringat, makanya dimandikan.
           
Alkisah, kuda Amrul Qais mampu menghalau dua banteng sekaligus, yaitu banteng jantan dan banteng betina. Kudanya meloncat ke sana ke mari dan berlari gesit mengejar kedua banteng itu tanpa mengeluarkan setetespun keringat apalagi takut. Amrul Qais, yang berada di atas kudanya, dengan mudah membidikkan anak panah tepat pada kedua hewan buas tersebut.
Seekor kuda mampu mengalahkan banteng dengan mudah sangat jarang terjadi. Terlebih lagi banteng itu ternyata lari kocar-kacir dan dibinasakan dengan mudah, tanpa susah payah atau berkeringat.
            Atau dalam al-Quran:
÷rr& ;M»yJè=Ýàx. Îû 9øtr2 %cÓÅdÖ9 çm9t±øótƒ ÓlöqtB `ÏiB ¾ÏmÏ%öqsù ÓlöqtB `ÏiB ¾ÏmÏ%öqsù Ò>$ptxž 4 7M»yJè=àß $pkÝÕ÷èt/ s-öqsù CÙ÷èt/ !#sŒÎ) ylt÷zr& ¼çnytƒ óOs9 ôs3tƒ $yg1ttƒ 3 `tBur óO©9 È@yèøgs ª!$# ¼çms9 #YqçR $yJsù ¼çms9 `ÏB AqœR ÇÍÉÈ  

Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya... (QS. An-Nur: 40).
            Kalau saja kalimat tersebut cukup pada “seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, maka kalimat tersebut sebenarnya sempurna. Namun ternyata kalimat tersebut ditambahkan lagi dengan kata-kata lainnya: “di atas ombak ada ombak, dan di atas ombak tersebut terdapat awan yang gelapnya berlipat-lipat...” dan begitu seterusnya. Sifat laut yang luas dan dalam ditambah lagi dengan kegelapan yang menyelimutinya terkesan terlalu berlebihan (ifrath). Namun demikian, ternyata sains modern baru membuktikan kebenarannya belum lama ini. “Jangankan melihat keindahan alam laut dengan hewan-hewan dan karang-karang yang laksana mutiara, melihat tangannya sendiri saja tak mampu”, begitu ungkap al-Quran. Jadi, kendatipun menurut kebiasaan hanya “mendekati kemungkinan”, namun logika pun ternyata membenarkan. 
            Menurut imam Sakaki, peristiwa yang diceritakan Amrul Qais atau fakta laut yang diungkap dalam al-Quran termasuk logis dan bisa saja terjadi dalam tradisi kita.

C.      Ighrâq
Apabila suatu ungkapan menggambarkan sesuatu yang secara logika tidak mungkin terjadi tapi menurut realita mungkin terjadi disebut ighrâq.
Contoh,
ونكرم جارنا ما دام فينا # ونتبعه الكرامه حيث ما لا
Kami akan memulyakan tetangga kami selama ia masih berada di tempat kami; dan kami akan mengikutinya dengan penghormatan dimanapun dia pergi.

Contoh Mubalaghah Igroq.seperti syair Umair At-Taghlabi. Bayangkan:
            Kami hormati sang tetangga kalau memang dia bersama kami
                        dan jika pergi pun penghormatan kami tetap mengikuti.
            Memuliakan tetangga dengan memberinya pelayanan terbaik tentu saja perbuatan mulia. Hal itu dimungkinkan jika misalnya sang tetangga datang ke tempat kita untuk bertamu, sedang sowan atau kunjungan biasa, dengan memberinya minuman atau yang dibutuhkan. Ini biasa. Tapi kalau pulangnya pun kita layani terus, atau bahkan di sepanjang perjalanan misalnya... ini luar biasa!
Ekspresi penghormatan terhadap tamu seperti dalam syair tersebut di luar kebiasaan. Namun demikian logika mengungkap bahwa penghormatan adalah kata sifat (abstrak), dan itu artinya kita juga mampu melakukannya. Dengan kata lain, kita masih bisa terus memuliakannya sekalipun mereka sudah tidak berada di hadapan kita. Misalnya tetap menjaga silaturahmi jarak jauh, tidak membicarakan keburukannya, SMS, telpon, dan lain-lain. Karenanya, syair itu disebut Mubalaghah Igraq. Sebagaimana maklum, igraq artinya “berlimpah”.
Contoh lainnya seperti dalam al-Quran:
 ¨bÎ) šúïÉ©9$# (#qç/¤x. $uZÏG»tƒ$t«Î/ (#rçŽy9õ3tFó$#ur $pk÷]tã Ÿw ßx­Gxÿè? öNçlm; Ü>ºuqö/r& Ïä!$uK¡¡9$# Ÿwur tbqè=äzôtƒ sp¨Yyfø9$# 4Ó®Lym ykÎ=tƒ ã@yJpgø:$# Îû ÉdOy ÅÞ$uσø:$# 4 šÏ9ºxŸ2ur ÌøgwU tûüÏB̍ôfßJø9$# ÇÍÉÈ  

Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan. (QS. Al-A’raf: 40).

Orang-orang yang mendustai ayat-ayat Allah dan orang-orang yang sombong, balasannya adalah: amalnya tidak diterima, doanya tidak dikabulkan (pintu langit tertutup bagi mereka), dan tentu saja mereka tidak akan masuk surga. Sampai kapan? Sampai unta bisa masuk ke lubang jarum!
Mungkinkah unta masuk lubang jarum? Tak mungkin. Tali tambang saja tak akan bisa masuk ke lubang jarum, terlebih lagi binatang sebesar unta! Begitupula orang-orang yang sombong itu (kaum musyrikin), jangan berharap bisa masuk surga.
Secara tak sadar kita kadang jumpai ungkapan seperti itu dalam kehidupan kita: “sampai tujuh turunan, tak akan kumaafkan kau!”. Mungkin hanya sebatas ekspresi kemarahan atau memang sungguh-sungguh tidak akan memaafkan lagi. Juga masyarakat Sunda sering mempopulerkan ungkapan seperti ini: najan sampe puyuh buntutan, sampe kuda jangjangan, sampe oray taktakan, manehna moal ngalakukeun kitu! (Sampai puyuh berekor, sampai kuda bersayap, sampai ular berpundak, dia tak mungkin melakukan itu!).
Terlepas dari benar-tidaknya ungkapan bahasa Indonesia atau bahasa Sunda tersebut, masuknya unta ke dalam lubang jarum menurut kebiasaan rasanya sangat mustahil. Tapi menurut akal tidak, sebab qudrat dan iradat Allah dapat merubah segalanya menjadi ‘biasa’. Jika memang Allah berkehendak Allah akan meluaskan lubang jarum itu sehingga unta pun bisa masuk.
            Menurut imam Sakaki, kedua jenis mubalaghah ini bisa diterima. Bagaimana halnya dengan mubalaghah tipe ketiga?

D.     Ghuluw
Sedangkan apabila suatu ungkapan menggambarkan sesuatu baik secara logika maupun realita tidak mungkin terjadi dinamakan ghuluw. Contoh :
وأخفت أهل الشرك حتى أنه #  لتخافك النطف التى لم تخلق
Kau bikin takut orang-orang musyrik, sampai-sampai embrio mereka yang belum tercipta pun takut kepadamu. Menurut Wahbah (1984) kategori satu (tablîgh) masih bisa dipandang sebagai suatu bentuk keindahan (muhassinât) imajinasi, sedangkan kategori kedua (ighrâq) dan ketiga (ghuluw) dinilai berlebihan dan justru kehilangan keindahannya. Namun menurut Ibn Qudâmah dalam Wahbah (1984), ungkapan berlebihan (ghuluw) bisa digunakan apabila disisipi dengan kata
yakad (hampir-hampir) dan lau(andaikata), dan yang sejenisnya. Contoh-contoh
ghuluw yang diterima.
Contoh Mubalaghah Ghuluw. Mungkin syair kocak Abu Nawas ini bisa dijadikan contoh:

            Kau menakuti orang-orang musyrik itu sehingga...
                        air mani yang belum diciptakanpun takut padamu.
           
            Abu Nawas memuji temannya yang jago berkelahi. Setiapkali bersengketa, ia pasti menang. Tiapkali berperang di medan pertempuran, dia juga selalu unggul. Kata Abu Nawas, “jangankan orang-orang kafir itu, (maaf) air mani yang belum ‘jadi’ pun ngeri melihatmu”. Abu Nawas sadar bahwa ungkapannya yang jenaka itu hanya hiperbola belaka, dan tak bisa diterima tradisi maupun rasio.
            Namun imam Sakaki mengoreksi: tidak semua mubalaghah ghuluw ini ditolak mentah-mentah. Buktinya dalam al-Quran terdapat banyak mubalaghah ghuluw, tapi karena ditambahi kata yakadu (artinya: hampir) maka mubalaghah tersebut bisa diterima (maqbul). Kata-kata yakadu ini berguna untuk menjelaskan sesuatu hal agar tidak secara eksplisit menggiring pada kemustahilan. Contohnya terdapat pada surah An-Nur:
* ª!$# âqçR ÅVºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur 4 ã@sWtB ¾ÍnÍqçR ;o4qs3ô±ÏJx. $pkŽÏù îy$t6óÁÏB ( ßy$t6óÁÏJø9$# Îû >py_%y`ã ( èpy_%y`9$# $pk¨Xr(x. Ò=x.öqx. AÍhߊ ßs%qム`ÏB ;otyfx© 7pŸ2t»t6B 7ptRqçG÷ƒy žw 7p§Ï%÷ŽŸ° Ÿwur 7p¨ŠÎ/óxî ߊ%s3tƒ $pkçJ÷ƒy âäûÓÅÓムöqs9ur óOs9 çmó¡|¡ôJs? Ö$tR 4 îqœR 4n?tã 9qçR 3 Ïöku ª!$# ¾ÍnÍqãZÏ9 `tB âä!$t±o 4 ÛUÎŽôØour ª!$# Ÿ@»sWøBF{$# Ĩ$¨Y=Ï9 3 ª!$#ur Èe@ä3Î/ >äóÓx« ÒOŠÎ=tæ ÇÌÎÈ  

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada Pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api... (QS. An-Nur: 35).

Kalau tanpa sedikitpun disentuh api tiba-tiba minyak zaitun tersebut bercahaya seperti lampu, jelas tidak masuk logika manusia. Namun Allah Maha Tahu akan keterbatasan akal manusia, karenanya al-Quran menambah lafal yakadu (hampir-hampir) sehingga mendekati kebenaran. Kini statusnya berubah, hal yang tadinya dianggap “mustahil terjadi” menjadi “mungkin terjadi”.
Subhanallah.....!!!

1) Ghuluw yang disertai dengan sesuatu yang mendekatkannya kepada kebenaran, seperti lapal ‘د كا ‘ pada firman Allah:
ߊ%s3tƒ $pkçJ÷ƒy âäûÓÅÓムöqs9ur óOs9 çmó¡|¡ôJs? Ö$tR
Hampir-hampir minyaknya menerangi walaupun tidak terkena api.
(Q.S al- Nûr/24:35)
2) Ghuluw yang disertai lapal  ( لو)
öqs9 $uZø9tRr& #x»yd tb#uäöà)ø9$# 4n?tã 9@t6y_ ¼çmtF÷ƒr&t©9 $Yèϱ»yz %YæÏd|ÁtFB ô`ÏiB ÏpuŠô±yz ….«!$#
Kalau sekiranya Kami menurunkan Alquran ini pada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah.
(Q.S al-Hasyr/59:21)

E.     Tokoh mubalaghah

            Para sejarawan banyak yang menunjuk Abdullah ibn Mu’taz sebagai satu-satunya tokoh yang pertamakali memperkenalkan mubalaghah. Dalam buku “Al-badi’ fi Mahasin al-Kalam was Syi’r” beliau menyebut Mubalaghah sebagai “keterlaluan menyifati sesuatu dengan memberinya perlambang-perlambang”. Dalam bukunya tersebut, dia memberi banyak contoh syair-syair yang ia nilai “sangat keterlaluan”. Saking keterlaluannya, sampai-sampai syair tersebut tidak lagi diterima akal sehat, kendatipun dalam kehidupan sehari-hari bisa diterima. Karenanya Abdullah Mu’taz, begitu dia sering disebut, membagi kelompok menjadi dua bagian. Bagian pertama, mubalaghah malahah (bagus) dan, karenanya, ia diterima banyak ulama.
            Ia memberi contoh syair Ibrahim ibn Al-Abbas As-Shuli:
            Wahai saudara tak pernah aku melihat manusia yang kotor
                        seperti dirinya... yang sangat cepat pulang dan cepat pula datang...
            Di pagi ini kau teman baikku
                        apakah di senja hari kau masih temanku? 
            Di bait pertama Ibrahim mencemooh seseorang yang dianggapnya angin-anginan: datang dan pergi semau hati, tanpa permisi dan menyakiti hati. Perginya secepat datangnya, easy come easy go. Sampai-sampai di bait kedua terus terang dia bertanya: jika di pagi ini kau temanku, apakah di sore hari kau mau mengkhianatiku lagi?
            Tipologi manusia (kayak) begini, ya banyak. Sekalipun keterlaluan, begitulah adanya, dan ini bisa diterima.
            Tapi ada juga bagian kedua, yaitu hiperbola yang benar-benar keterlaluan dan tak mungkin bisa diterima akal sehat. Contohnya:
            Dan langitpun menangis jika dia berdoa
                        sedangkan bumi tak mau menerima sujudnya
            Kalau suatu hari ingin makan daging kucing
                        ia lemparkan daging itu ke udara saking berseleranya.

            Syair di bait pertama menggambarkan seseorang yang bergelimang dosa. Tak lama kemudian si pendosa ini bertaubat. Ia akui dan menyesali semua yang pernah diperbuatnya. Tiap malam bermunajat kepada Tuhan dalam linangan air mata yang tiada henti menetes. Bukan hanya itu, langitpun turut berduka!
Di bait pertama sungguh sangat menggelikan. Akal manusia manapun tak akan mampu menjangkau sejauhmana langit menangis hanya karena dosa-dosa yang diperbuat anak manusia. Di saat yang sama bumi tak mampu lagi menerima sujudnya. Ah, mana bisa? Allah Maha Penyayang, seberapapun dosa hamba-Nya, pasti ia ampuni.
  
            Sepeninggal ibnu Mu’taz, seorang pakar lain bernama Qudamah ibnu Ja’far berbicara tentang kategori sifat-sifat yang dilebih-lebihkan itu. Ia menganggap, melebih-lebihkan sifat itu termasuk sifat-sifat makna. Dialah yang pertamakali menyebut hiperbola itu sebagai MUBALAGHAH seperti yang kita kenal sekarang ini. Mubalaghah, katanya, adalah jika seorang penyair menyebutkan satu hal atau kondisi tertentu dalam syairnya. Jika ia berhenti pada keadaan tersebut maka maksudnya cukup seperti itu, alias seadanya. Tapi ia tidak berhenti sampai di situ, melainkan ia lipat lagi dari keadaan semula sehingga kata-kata tersebut melampaui maksud sebenarnya.

F.      Istilah MUBALAGHAH ( مُبَالَغَة ): Isim Fa’il yang berfungsi untuk menguatkan atau menyangatkan artinya. Contoh:
Fi’il
Isim Fa’il
Isim Mubalaghah
عَلِمَ-يَعْلَمُ
عَالِمٌ
عَلِيْمٌ / عَلاَّمٌ (=yang sangat mengetahui)
غَفَرَ-يَغْفِرُ
غَافِرٌ
غَفُوْرٌ / غَفَّارٌ (=yang suka mengampuni)
نَامَ-يَنَامُ
نَائِمٌ
نَئِيْمٌ / نَوَّامٌ (=yang banyak tidur)
أَكَلَ-يَأْكُلُ
آكِلٌ
أَكِيْلٌ / أَكَّالٌ (=yang banyak makan)
1.      SIFAT MUSYABBAHAH ( صِفَة مُشَبَّهَة ) ialah Isim yang menyerupai Isim Fa’il tetapi lebih condong pada arti sifatnya yang tetap. Misalnya:
Fi‘il
Isim Fa’il
Sifat Musyabbahah
فَرِحَ-يَفْرَحُ (=senang)
فَارِحٌ
فَرِحٌ (=orang senang)
عَمِيَ-يَعْمَى (=buta)
عَامِيٌ
أَعْمَى (=orang buta)
مَاتَ-يَمُوْتُ (=mati)
مَائِتٌ
مَيِّتٌ (= orang mati)
جَاعَ-يَجُوْعُ (=lapar)
جَائِعٌ
جَوْعَانٌ (= orang kelaparan)


G.    ISIM MAF’UL ( اِسْم مَفْعُوْل ) yaitu Isim yang dikenai pekerjaan.
Fi’il
Isim Maf’ul
غَفَرَيَغْفِرُ (=mengampuni)
مَغْفُوْرٌ (=yang diampuni)
عَلِمَيَعْلَمُ (=mengetahui)
مَعْلُوْمٌ (=yang diketahui)
بَاعَيَبِيْعُ (=menjual)
مَبِيْعٌ (=yang dijual)
قَالَيَقُوْلُ (=berkata)
مَقَالٌ (=yang diucapkan)
H.     ISIM TAFDHIL ( اِسْم تَفْضِيْل ) ialah Isim yang menunjukkan arti “lebih” atau “paling”. Wazan (pola) umum Isim Tafdhil adalah: أَفْعَلُ . Contoh:
Isim Fa’il
Isim Mubalaghah
Isim Tafdhil
عَالِمٌ
عَلِيْمٌ (=sangat mengetahui)
أَعْلَمُ (=yang lebih mengetahui)
كَابِرٌ
كَبِيْرٌ (=sangat besar)
أَكْبَرُ (=yang lebih besar)
قَارِبٌ
قَرِيْبٌ (=sangat dekat)
أَقْرَبُ (=yang lebih dekat)
فَاضِلٌ
فَضِيْلٌ (=sangat utama)
أَفْضَلُ (=yang lebih utama)
Disamping itu, terdapat pula bentuk yang sedikit agak berbeda, seperti:
Sifat Musyabbahah
Isim Tafdhil
شَدِيْدٌ (=yang sangat)
أَشَدُّ (=yang lebih sangat)
حَقِيْقٌ (=yang berhak)
أَحَقُّ (=yang lebih berhak)

BAB III
PENUTUP

A.                Kesimpulan
      
Salah satu aspek badî’ lainnya dalam uslûb bahasa Arab adalah badî’ mubâlaghah. Istilah ini dalam bahasa Indonesia biasa disebut gaya bahasa hiperbola. Kata mubâlaghah secara leksikal bermakna ‘melebihkan’. Sedangkan dalam khazanah ilmu badî’ mubâlaghah didefinisikan sbb,
المبالغة وصف يدعى بلوغه قدرا يرى ممتنعا أو نائيا
وهو على أنحاء تبليغ أو إغراق أوغلو جاء
      Mubâlaghah adalah ekspresi ungkapan yang mengambarkan sesuatu hal secara berlebihan yang tidak mungkin (tidak sesuai dengan kenyataan). Badî’ jenis ini ada tiga kategori, yaitu tablîgh, ighrâq, dan ghuluw.
Adapun Majas Hiperbola yaitu majas atau gaya bahasa yang bertujuan untuk melebih-lebihkan.


DAFTAR PUSTAKA

Akhdhari. (1993). Ilmu Balâghah (Tarjamah Jauhar Maknun). Bandung : PT. Al-Ma‟arif.
Al-Akhdory Imam . (1993), Ilmu Balâghah. Bandung : Al-maarif
Ali Al-Jarim & Usman Musthafa (1994). Al Balaghatul Wadhihah . Bandung : Sinar Baru Algensindo
Alwasilah, Chaedar . 1993. Linguistik suatu Pengantar. Bandung : Angkasa
Hilal, R. dan Nurbayân, Yayan. (1988). Maudluu‟aat Lil Balaaghatul uula. Bandung : UPI.
Khuly, Ali Muhammad. 2003. Model Pembelajaran Bahasa Arab. Bandung PSIBA
Muhsin Wahab A,H.K & Wahab Fuad T , Drs (1982 ), Pokok-pokok Ilmu Balâghah, Bandung : Angkasa

0 Response to "MUBALAGHAH"

Posting Komentar