9 Agt 2011

Ilmu Balagah

- 0 comments
A. Pengantar Ilmu Balagah

• Bayaan secara leksikal bermakna ‘terang’ atau ‘jelas’. Secara terminologi: ilmu untuk mengetahui bagaimana mengungkapkan gagasan ke dalam bahasa yang bervariasi
• Kalam yang fasih adalah kalam yang terhindar dari tanaafur al-huruf, gharabah, dan mukhalafah al-qiyaas dalam kata-katanya, serta kalimat-kalimat yang diungkapkan tidak bersifat tanaafur, dha’fu al-ta’lif, dan ta’qid lafdzi
• Tanaafur al-huruf: kata-kata yang sukar diucapkan
• Gharabah: ungkapan yang terdiri atas kata-kata yang asing, jarang dipakai, dan tidak diketahui oleh orang banyak
• Mukhaalafah al-Qiyaas: kata-kata yang menyalahi atau tidak seuai dengan kaidah umum ilmu sharf
• Dha’fu al-ta’lif: susunan kalimat yang lemah, sebab menyalahi kaidah umum nahwu/sharf
• Ta’qid lafzhi (kerancuan pada kata-kata): ungkapan kata-katan tidak menunjukkan tujuan karena ada cacat dalam susunannya
• Ta’qid ma’nawi: kerancuan makna
• Mutakallim fasih: orang yang dapat menyampaikan maksudnya dengan ucapan yang fasihah (baik dan benar)
• Balaghah: Ilmu yang mempelajari kefasihan berbahasa yang meliputi ilmu ma’aani, bayan, dan badi’
• Bidang kajian ilmu bayaan meliputi: tasybih, majaz, dan kinayah

B. Tasybih

• Tasybih secara leksikal bermakna ‘perumpamaan’. Secara terminologi: menyerupakan sesuatu dengan yang lain karena adanya kesamaan dalam satu atau beberapa sifat dengan menggunakan alat/adat
• Tasybih termasuk uslub bayaan yang di dalamnya terdapat penjelasan dan perumpamaan.
• Tasybih terdiri atas empat bentuk:
o Mengeluarkan sesuatu yang tidak dapat diindera dan menyamakannya dengan sesuatu yang bisa diindera.
o Mengeluarkan/mengungkapkan sesuatu yang tidak pernah terjadi dan mempersamakannya dengan sesuatu yang terjadi
o Mengungkapkan sesuatu yang tidak jelas dan mempersamakannya dengan sesuatu yang jelas
o Mengungkapkan sesuatu yang tidak mempunyai kekuatan dan mempersamakannya kepada sesuatu yang memiliki kekuatan dalam hal sifat
• Tasybih merupakan langkah awal untuk menjelaskan suatu makna dan sarana untuk menjelaskan sifat
• Rukun tasybih:
o Musyabbah: sesuatu yg hendak diserupakan
o Musyabbah bih: sesuatu yang diserupai
o Wajh syibh: Sifat yang terdapat pada kedua pihak
o Adat tasybih: huruf atau kata yang digunakan untuk menyatakan penyerupaan
• Jenis-jenis tasybih:
o Ditinjau dari ada tidaknya alat tasybih
- Tasybih mursal: yang adat tasybihnya disebutkan
- Tasybih muakkad: yang dibuang adat tasybihnya
o Ditinjau dari ada tidaknya wajh syibh
- Tasybih mufashshal: Disebut wajh syibh nya
- Tasybih mujmal: Dibuang wjh syibhnya
o Dilihat dari segi ada tidaknya adat dan wajh syibh
- Tasybih baligh: Dibuang adat tasybih dan wajh syibhnya
- Tasybih ghair baligh: Kebalikan dari tasybih baligh
o Dilihat dari bentuk wjh syibhnya
- Tasybih Tamtsil: Keadaan wajh syibhnya terdiri atas gambaran yang dirangkai dari keadaan beberapa hal
- Tasybih ghair tamtsil: wajh syibhnya tidak terdiri dari rangkaian gambaran beberapa hal. Wajh syibhnya terdiri atas satu hal (mufrad). Tasybih ini kebalikan dari tasybih tamtsil.
• Tasybih yang keluar dari kebiasaan:
o Tasybih maqluub: jenis tasybih yang posisi musyabbahnya dijadikan musyabbah bih, sehingga yang seharusnya musyabbah dijadikan musyabbah bih, dan yang seharusnya musyabbah bih dijadikan musyabbah dengan anggapan wajh syibh pada musyabbah lebih kuat
o Tasybih dhimni: tasybih yang keadaan musyabbah dan mysyabbah bih nya tidak jelas (implisit). Kita bisa menetapkan unsur musyabbah dan musyabbah bih pada tasybih jenis ini setelah kita menelaah dan memahaminya secara mendalam
• Maksud dan tujuan tasybih:
o Menjelaskan kemungkinan adanya sesuatu hal pada musyabbah
o Menjelaskan keadaan musyabbah
o Menjelaskan kadar keadaan musyabbah
o Menegaskan keadaan musyabbah
o Memperindah atau memperburuk musyabbah

C. Majaz

• Majaz secara leksikal bermakna melewati. Secara terminologi: Kata yang digunakan bukan untuk makna yang sebenarnya karena adanya ‘alaqah disertai adanya qarinah yang mencegah dimaknai secara hakiki
• Majaz (konotatif) merupakan kebalikan dari hakiki (denotatif)
• Makna hakiki: makna asal dari suatu lafal atau ungkapan yang pengertiannya dipahami orang pada umumnya. Lafal atau ungkapan itu lahir untuk makna itu sendiri.
• Majazi: perubahan makna dari makna asal ke makna kedua. Makna ini lahir bukan untuk pengertian pada umumnya. Dalam makna ini ada proses perubahan makna.
• Muraadif atau munaasabah tdk dikatakan memiliki makna majazi karena di dalamnya tidak ada perubahan dari makna asal kepada makna baru
• Suatu teks bisa dinilai mengandung makna haqiqi jika si penulis menyatakan secara jelas bahwa maksudnya sesuai dengan makna asalnya; atau tidak adanya qarinah-qarinah (indikator) yang menunjukkan bahwa teks tsb mempunyai makna majazi.
• Jika ada qarinah-qarinah yang menunjukkan bahwa lafal atau ungkapan tidak boleh dimaknai secara haqiqi, maka kita harus memaknainya secara majazi
• Ungkapan majaz muncul disebabkan:
o Sabab lafzhi: lafal-lafal tsb tidak bisa dan tidak boleh dimaknai secara hakiki. Jika dimaknai haqiqi maka akan muncul pengertian yang salah. Qarinah pada ungkapan majaz jenis ini bersifat lafzhi pula
o Sabab takribi (isnadi): ungkapan majazi terjadi bukan karena lafal-lafalnya yang tidak bisa dipahami secara hakiki, akan tetapi dari segi penisbatan. Penisbatan fi’il kepada failnya tidak bisa diterima secara rasional dan keyakinan
• Makna haqiqi: makna yang dipakai menurut makna yang seharusnya.
• Makna majazi: kata yang dipakai bukan pada makna yang semestinya karena ada alaqah (hubungan) dan disertai qarinah (lafal yang mencegah penggunaan makna asli).
• Majas pada garis besarnya terdiri atas majas lughowi dan majaz aqli.
• Majas lughowi: majas yang alaqahnya atau illah nya didasarkan pada aspek bahasa
• Majas aqli adalah penisbatan suatu kata fi’il (verba) kepada fa’il yang tidak sebenarnya
• Majas lughowi terdiri atas majaz isti’arah dan majaz mursal:
o Majaz isti’arah: yang alaqahnya (hubungan) antara makna asal dan makna yang dimaksud adalah musyaabahah (keserupaan).
o Majaz mursal: majaz yang alaqahnya ghair musyabbah (tidak saling menyerupai)
• Majaz isti’arah adalah tasybih yang dibuang salah satu tharafain nya (musyabbah atau musyabbah bih nya) dan dibuang pula wajh syibh dan adat tasybihnya
• Dalam isti’arah: musyabbah dinamai musta’ar lah dan musyabbah bih dinamai musta’ar minhu. Lafal yang mengandung isti’arah dinamakan musta’ar dan wajh syibh nya dinamakan jami’. Qarinahnya ada dua yaitu qarinah mufrad dan qarinah jama’
• Ditinjau dari musta’ar lah dan musta’ar minhu, majaz isti’arah ada dua kategori:
o Isti’arah tashriihiyyah: yang ditegaskan (ditashrih) adalah musta’ar minhu nya sedangkan musta’ar lah nya dibuang. Dengan istilah lain: musyabbah bihnya disebut, dan musyabbahnya dibuang
o Isti’arah makniyyah: yang dibuang adalah musta’ar minhu, atau dengan kata lain musyabbah bihnya dibuang.

• Ditinjau dari segi bentuk lafalnya:
o Isti’arah ashliyah: jenis majaz yang lafal musta’ar nya isim jami bukan musytaq (bukan isim sifat)
o Isti’arah taba’iyyah: jenis majaz yang musta’arnya fi’il, isim musytaq atau harf
• Ditinjau dari kata yang mengikutinya:
o Isti’arah murasysyahah: ungkapan majaz yang diikuti oleh kata-kata yang cocok untuk musyabbah bih
o Isti’arah muthlaqah: yang tidak diikuti oleh kata-kata, baik yang cocok bagi musyabbah bih mauapun musyabbah
o Isti’arah mujarradah: yang disertai dengan kata-kata yang cocok bagi musyabbah
• Majas mursal: majaz yang alaqahnya ghair musyaabahah (tidak saling menyerupai). Alaqah antara musta’ar dan musta’ar minhu dalam bentuk:
o Sababiyah: ini sebagai salah satu indikator majaz mursal. Menyebutkan sebab sesuatu, sedangkan yang dimaksud adalah sesuatu yang disebabkan
o Musababiyyah: Ini indikator kedua. Menyebutkan sesuatu yang disebabkan, sedangkan yang dimaksud adalah sebabnya
o Juz’iyyah: Menyebutkan bagian dari sesuatu, sedangkan yang dimaksudkannya adalah keseluruhannya
o Kulliyah: Menyebutkan sesuatu keseluruhannya, sedangkan yang dimaksudkannya adalah sebagiannya
o I’tibaaru maa kaana: Menyebutkan sesuatu yang telah terjadi, sedangkan yang dimaksudkannya adalah yang akan terjadi atau yang belum terjadi
• I’tibaaru maa yakuunu: Menyebutkan sesuatu dengan keadaan yang akan terjadi, sedangkan yang dimaksudkannya adalah keadaan sebelumnya
o Mahaliyyah: Menyebutkan tempat sesuatu, sedangkan yang dimaksudkannya adalah menempatinya
o Haliyyah: menyebutkan keadaan sesuatu, sedangkan yang dimaksudkannya adalah yang merasakan keadaan itu
o Aliyah: apabila disebutkan alatnya, sedangkan yang dimaksudkan adalah sesuatu yang dihasilkan oleh alat tersebut
• Majaz aqli: menyandarkan fi’il (verba) atau yang semakna dengannya kepada yang bukan seharusnya karena ada alaqah (hubungan) serta adanya qarinah yang mencegah dari penyandaran yang sebenarnya.
• Penyandaran fi’il atau yang semakna dengannya dilakukan kepada:
o Sebab
o Penisbatan kepada waktu
o Penisbatan kepada tempat
o Penisbatan kepada mashdar
o Mabni maf’ul disandarkan kepada isim fa’il
o Mabni fa’il disandarkan kepada isim maf’ul




D. Kinayah

• Kinayah secara leksikal bermakna ‘ucapan yang berbeda dengan maknanya. Secara etimologis: suatu kalam yang diungkapkan dengan pengertiannya yang berbeda dengan pengertian umumnya, dengan tetap dibolehkan mengambil makna hakikinya
• Kinayah pada awalnya bermakna dhamir, irdaf, isyarah, isim maushul, laqab, badal, dan tikrar. Sekarang mempunyai pengertian seperti di atas
• Perbedaan antara majaz dan kinayah terletak pada hubungan antara makna hakiki (denotatif) dengan makna majazi (konotatif). Pada ungkapan berbentuk majaz, teks harus dimaknai secara majazi dan tidak boleh dimaknai secara hakiki. Sedangkan pada ungkapan kinayah, teks harus dimaknai dengan makna yang berbeda dengan lazimnya dengan tetap dibolehkan mengambil makna hakikinya.
• Ilmu balaghah mengalami perkembangan sampai pada akhirnya para ahli balaghah bersepakat bahwa kinayah adalah “suatu ungkapan yang diucapkan dengan pengertiannya yang lazim, akan tetapi tidak tertutup kemungkinan dipahami dalam pengertiannya yang asal
• Dari segi makna kinayah dibagi menjadi tiga: kinayah sifah, kinayah maushuf, dan kinayah nisbah
• Kinayah sifah adalah pengungkapan sifat tertentu tidak dengan jelas, melainkan dengan isyarah atau ungkapan yang dapat menunjukkan maknanya yang umum. Istilah shifah dalam ilmu balaghah berbeda dengan shifah pada ilmu nahwu. Sifat sebagai salah satu karakteristik kinayah berarti sifat dalam pengertiannya yang maknawi (seperti: kedermawanan, keberanian, panjang, keindahan, dan sifat-sifat lain yang merupakan lawan dari zat)
• Kinayah shifah mempunyai dua jenis:
o Kinayah qariibah: perjalanan makna dari lafal yang dikinayahkan (makny anhu) kepada lafal kinayah tanpa melalui media
o Kinayah baa’idah: perpindahan makna dari makna lafal-lafal yang dikinayahkan (makny anhu) kepada makna pada lafal-lafal kinayah memerlukan lafal-lafal lain untuk menjelaskannya.
• Kinayah maushuf: apabila yang menjadi makny anhu nya atau lafal-lafal yang dikinayahkan adalah maushuf (dzat). Ada dua jenis kinayah maushuf:
o Kinayah yang makny anhu nya (lafal yang dikinayahkan) diungkapkan hanya dengan satu ungkapan
o Kinayah yang makny anhu nya diungkapkan dengan ungkapan-ungkapan yang banyak. Pada jenis kinayah ini, sifat-sifat tsb harus dikhususkan untuk maushuf, tdk untuk yang lainnya.
• Kinayah nisbah: apabila lafal yang menjadi kinayah bukan merupakan sifat dan bukan pula merupakan maushuf, akan tetapi merupakan hubungan sifat dan maushuf
• Dari aspek wasaaith (media; lafal-lafal atau makna-makna yang menjadi media atau penyambung dari makna hakiki kepada makna majazi) kinayah dibagi menjadi tiga: kinayah ta’ridh, talwih, imaa atau isyarah, dan ramz
• Kinayah ta’riidh (sindiran): secara leksikal bermakna ‘sesuatu ungkapan yang maknanya menyalahi lahirnya lafal. Secara terminologi: suatu ungkapan yang mempunyai makna yang berbeda dengan makna sebenarnya. Pengambilan makna tersebut didasarkan kepada konteks pengucapannya
• Zarkasyi: Ta’ridh adalah pengambilan makna dari suatu lafal melalui mafhum (pemahaman konteks). Dinamakan ta’ridh karena pengambilan makna didasarkan pada pemaparan lafal atau konteksnya
• Zamakhsyari: Antara kinayah dan ta’ridh terdapat perbedaan. Kinayah berarti menyebutkan sesuatu bukan dengan lafal yang ditunjukkannya. Sedangkan ta’ridh menyebutkan suatu lafal yang menunjuk pada suatu makna yang tidak disebutkannya
• Ibn Al-Atsir: Ta’ridh lebih mementingkan makna dengan meninggalkan lafal
• Syakaki: Ta’ridh selain terdapat pada kinayah juga terdapat pada majaz
• Talwih secara bahasa bermakna ‘engkau menunjuk orang lain dari kejauhan’. Secara terminologi: Talwih adalah jenis kinayah yang di dalamnya terdapat banyak wasaaith (media) dan tidak menggunakan ta’ridh (Bakri Syeikh Amin)
• Zarkasyi: Talwih adalah seorang mutakallim memberi isyarah kepada pendengarnya pada sesuatu yang dimaksudkannya
• Imaa atau isyaarah: Kinayah jenis ini merupakan kebalikan dari talwih. Di dalam imaa, perpindahan makna dari makna asal kepada makna lazimnya terjadi melaui media (wasaaith) yang sedikit. Pada kinayah ini, makna lazimnya tampak dan makna yang dimaksud juga dekat
• Ramz: Secara bhs ramz berarti isyaarah dengan dua bibir, dua mata, dua alis, mulut, tangan dan lisan. Isyarah-isyarah tsb biasanya dilakukan dengan cara tersirat. Secara istilah: ramz adalah jenis kinayah dengan media (wasaaith) yang sedikit dan lazimnya tersirat. Dengan kata lain, ramz adalah isyaarah kepada sesuatu yang dekat dengan anda secara tersirat. Ramz menyerupai bahasa sandi. Orang Arab menyebutnya ‘Lahn’ atau ‘malaahin’

• Tujuan Kinayah:
o Menjelaskan (Al-Idhaah)
o Memperindah makna
o Menjelaskan sesuatu
o Mengganti dengan kata-kata yang sebanding karena dianggap jelek
o Menghindari kata-kata yang dianggap malu untuk diucapkan
o Peringatan atas keagungan tuhan
o Untuk mubalaghah (hiperbola)
o Untuk meringkas kalimat

• Hubungan kinayah dan majaz:
o Persamaan antara majaz dan kinayah, keduanya sama-sama berkaitan dengan makna yang tsawaani (majazi). Sedangkan perbedaannya terletak pada qarinah.
o Qarinah dalam ilmu balaghah adalah suatu ungkapan baik eksplisit maupun implisit yang ada pada suatu kalam (wacana) yang menunjukkan bahwa makna yang dimaksud pada ungkapan tersebut bukan makna haqiqi.
o Qarinah ada dua: qarinah lafdziyyah dan qarinah ma’nawiyyah
- Qarinah lafdziyyah adalah qarinah yang berbentuk lafal-lafal. Jika dalam suatu kalam terdapat satu kata atau lebih yang menunjukkan bahwa makna dalam kalam itu bukan makna haqiqi, maka dia disebut qarinah lafdhiyyah
- Qarinah ma’nawiyah adalah qarinah yang menunjukkan bahwa makna kalam itu bukan hakiki dengan tersirat
o Pada majaz, qarinah bisa bersifat lafdziyyah dan bisa juga bersifat ma’nawiyyah; sedangkan pada kinayah qarinahnya harus tersirat
o Pada majaz, qarinah mencegah pengambilan makna haqiqi; sedang pada kinayah, qarinah tidak mencegah untuk mengambil makna haqiqi.
o Para pakar balaghah berpendapat qarinah pada ungkapan majaz mengharuskan kita mengambil makna majazi dan meninggalkan makna hakikinya
o Pakar ushul fiqh berpendapat tidak ada perbedaan antara qarinah pada majaz dan kinayah, boleh antara mengambil makna haqiqi dan majazi
o Qazwaini: Antara majaz dan kinayah terdapat perbedaan. Pada majaz mesti ada qarinah yang menolak makna haqiqi
o Syakaki: Pada majaz, perpindahan makna terjadi dari malzuum kepada laazim. Pada kinayah, perpindahan makna dari laazim kepada malzuum. Selain itu, kelaziman itu sendiri merupakan kekhasan yang ada pada kinayah
• Hubungan Kinayah dan Irdaaf (sinonim):
o Menurut pakar ilmu bayaan, esensi dari kinayah merupakan irdaaf
o Menurut pakar badi’: irdaaf berbeda dengan kinayah. Kinayah adalah menetapkan salah satu dari beberapa makna dengan tidak menggunakan lafal yang seharusnya, akan tetapi menggunakan sinonimnya sehingga pengambilan maknanya cenderung kepadanya
• Suyuti: Salah satu dari jenis badi’ yang menyerupai kinayah adalah irdaaf yaitu seorang mutakallim ingin mengungkapkan sesuatu, akan tetapi tidak menggunakan lafal yang seharusnya dan tidak pula ada isyaarah yang menunjukinya. Lafal yang digunakannya adalah sinonim dari lafal yang seharusnya
• Pendapat lain tentang irdaaf dan kinayah: irdaaf berpindah dari yang disebutkan kepada yang ditinggalkan; sedangkan kinayah maknanya berpindah dari yang lazim kepada yang malzum
• Perbedaan Kinayah dan Ta’ridh:
o Zamakhsary: Kinayah adalah menyebutkan sesuatu bukan dengan menggunakan lafal yang seharusnya. Sedangkan ta’ridh adalah mengungkapkan makna sesuatu dengan tidak menyebutkannya
o Ibn Atsir: Kinayah adalah suatu ungkapan yang mengandung makna haqiqi dan majazi dengan gambaran yang mencakup keduanya. Sedangkan ta’ridh adalah suatu ungkapan yang mengandung makna dengan tidak melihat dari sisi haqiqi dan majazinya
o Subky: Kinayah adalah lafal yang digunakan pada makna lazimnya, yaitu cukup dengan menggunakan lafalnya yang mengandung makna haqiqi dan juga mengandung makna yang tidak terdapat pada teksnya
o Syakaki: Ta’ridh adalah konteks yang menggambarkan sesuatu yang tidak disebutkan. Seseorang menyebut sesuatu, akan tetapi dia memaksudkan untuk yang lainnya. Dengan demikian dinamakan ta’ridh karena memiringkan kalam kepada sesuatu yang ditunjuknya
o Thiby menyatakan bahwa ta’ridh adalah mengungkapkan sesuatu dengan tujuan:
- Menjelaskan sesuatu yang ada di sisinya
- Menghaluskan
- Lil istidraj (menundukkan musuh)
- Untuk mencela
- Untuk merendahkan
o Syubki: Ta’ridh itu ada dua macam. Pertama ungkapan yang mengandung makna hakiki akan tetapi tersirat makna lainnya yang dimaksud. Kedua ungkapan yang tidak dimaksudkan ungkapan hakikinya

[Continue reading...]

3 Agt 2011

Shalat

- 0 comments
BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
       Pernahkah kita merenung untuk sekedar berkata pada diri sendiri bahwa kita adalah kaum yang paling dicintai Allah?,sungguh Allah benar-benar telah memuliakan kita dibanding dengan makhluk ciptaan yang lain. Allah telah menggambarkan keindahan penciptaannya pada manusia dalam Q.S At-Tiin:4
        Sekarang pertanyaan untuk  kita, apakah kita selaku hamba yang telah dimuliakan-Nya akan membangkang dan tidak melaksanakan perintah-Nya?. Allah swt telah memberikan ultimatum kepada kita lewat kalam-Nya Q.S 51:56  yang berbunyi:
$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbrßç7÷èuÏ9 ÇÎÏÈ
Artinya :
         “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”
Dari ayat di atas tersirat jelas bahwa Allah menciptakan manusia tiada lain adalah untuk beribadah kepada-Nya, salah satu ibadah yang menjadi penghubung langsung kita dengan Allah adalah shalat. Shalat merupakan tiang agama yang dapat membuat tegak agama Islam dan pokok serta induk dari ibadah-ibadah lain. Begitu banyak keutamaan-keutamaan shalat yang dapat kita ambil serta kita rasakan, namun sayang banyak manusia khususnya umat Islam yang belum menyadari akan hal ini. Banyak dari manusia yang mengaku dirinya muslim namun melalaikan shalat bahkan sama sekali tidak mengetahui apa itu shalat dan bagaimana tata cara pelaksanaannya. Agama Islam adalah agama rahmatan lil’alamiin yang tidak memberatkan dan membebani hambanya dalam beribadah selama hamba itu mau terus berikhtiar dan berusaha.
          Makalah ini dibuat dengan harapan dapat membantu mereka dalam menggali permasalahan mengenai shalat, selain itu pula makalah ini mengungkapkan berbagai hal yang berkaitan dan berhubungan langsung dengan shalat diantaranya adzan, waktu-waktu shalat, mesjid, dan sebagainya. Oleh karena itu, penulis mengambil judul pada makalah ini yaitu “FIQIH SHALAT”.
1.2    Rumusan Masalah
       Adapun hal-hal yang menjadi rumusan masalah dalam isi makalah ini diantaranya adalah sebagai berikut :
  1. Apa yang menjadi definisi dan pengertian dari shalat?
  2. Apa saja macam-macam shalat?
  3. Bagaimana cara kita mengetahui waktu-waktu shalat?
  4. Apa yang dimaksud dengan adzan dan apa saja ruang lingkupnya?
  5. Apa yang menjadi definisi mesjid ?

1.3    Tujuan Penulisan
       Di samping itu, hal-hal yang menjadi tujuan dalam penulisan makalah ini tiada lain adalah beberapa hal yang berhubungan dengan rumusan masalah, yaitu :
  1. Mengetahui hakikat dan definisi shalat serta ruang lingkupnya.
  2. Untuk mengetahui macam-macam shalat.
  3. Untuk mengetahui waktu-waktu shalat.
  4. Agar dapat mengetahui hal-hal mengenai adzan dan ruang lingkupnya.
  5. Untuk Mengetahui hakikat mesjid

1.3  Manfaat Penulisan
       Penulisan makalah ini memberikan banyak manfaat bagi penulis khususnya, di samping untuk lebih menambah wawasan dan pengetahuan penulis mengenai shalat serta hal-hal yang berhubungan langsung dengan shalat, juga penulisan makalah ini sebagai sarana latihan penulis untuk lebih berkarya yang lebih baik lagi di masa yang akan datang.
1.4    Metode Penulisan
       Dalam penulisan makalah ini metode yang diambil adalah dengan studi pustaka, yaitu pengumpulan data-data yang berhubungan dengan materi dari berbagai  literatur-literatur serta buku-buku. Selain itu pula penulis mengambil beberapa data dari media elektronik (internet).

BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pengertian dan Ruang Lingkup Shalat
         Menurut Sayyid Sabiq dalam bukunya Fiqh Sunnah jilid 1, beliau mengatakan bahwa shalat adalah ibadah yang terdiri dari perkataan dan perbuatan tertentu yang dimulai dengan membaca takbir dan diakhiri dengan salam. Mengenai hal ini kita harus merunut pada tata cara shalat yang telah dicontohkan Rasul dan tidak boleh mengerjakan shalat secara sembarangan. Shalat dalam agama Islam menempati kedudukan yang tidak tertandingi, bahkan shalat merupakan amalan pertama yang akan dihisab Allah di hari akhir kelak. Oleh karena itu, sebagai seorang muslim sudah seharusnya kita menjaga dan memelihara shalat kita di samping sebagai kewajiban kita kepada Allah juga sebagai benteng kita dari berbuat keji dan munkar.
         Shalat merupakan inti pokok ajaran agama, dan shalat pula merupakan wasiat terakhir Rasulullah saw kepada umatnya pada saat beliau hendak menghembuskan nafas terakhirnya. Oleh karena urgensi shalat bagi kaum muslim adalah amalan yang harus diprioritaskan, Islam sangat mengecam orang yang lalai bahkan meninggalkan shalat. Bahkan menurut Syaukani orang yang meninggalkan shalat itu berhak mendapat gelar kafir sesuai dengan hadits Rasulullah saw :
عن بريدة قال : قال رسول الله ص م : العهد بيننا و بينهم الصلاة, فمن تركها فقد كفر
         Artinya :
         Rasulullah saw bersabda, perbedaan paling mendasar antara kami dan mereka adalah shalat. Oleh karena itu, barang siapa yang meninggalkannya berarti ia telah kafir. (H.R Ahmad dan Ash habus Sunan).
2.2  Macam-macam Shalat
  A.   Shalat Fardhu
         Shalat fardhu adalah shalat yang diwajibkan Allah kepada seluruh hamba-Nya yang beragama Islam tanpa kecuali. Shalat fardhu yang diwajibkan oleh Allah swt dalam sehari semalam ada lima waktu, hal ini sesuai dengan hadits Nabi yang diriwayatkan sahabatnya Ibnu Muhairiz beliau bersabda :
سمعت رسول الله ص م يقول: خمس صلوات كتبهن على العباد...
         Artinya:
         Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, ada lima shalat yang diwajibkan Allah atas hamba-Nya….(H.R Ahmad, Abu Dawud, Nasa’I dan Ibnu Majah dalam Fiqh Sunnah jilid 1:134)
         Hadits di atas menjelaskan kepada kita bahwa tidak ada waktu shalat yang lebih dari lima waktu, shalat fardhu yang dimaksud di atas adalah dzuhur, ashar, maghrib, isya dan subuh. Sebagai seorang muslim yang mengaku dirinya beriman kepada Allah tidak akan pernah meninggalkan shalat walau dalam keadaan apapun selama nyawa masih menyatu dengan jiwanya.  Meninggalkan shalat karena ingkar adalah kafir dan keluar dari agama Islam berdasarkan ijma’ para ulama kaum muslimin. Ibnun Qayyim mengatakan, “orang yang meninggalkan shalat  mungkin karena terlalu sibuk mengurus harta, kerajaan,  kekuasaan, atau perniagaannya. Oleh sebab itu orang yang bimbang dengan harta ia akan senasib dengan Qarun, orang yang sibuk mengurusi kerajaan, ia akan bersama Fir’aun, orang yang terpedaya dengan kebesaran dan urusan pemerintahan ia akan berteman dengan Haman, sedangkan orang yang bimbang mengurus perniagaan maka ia berada bersama Ubin bin Khalaf”.
         Shalat merupakan penghubung secara langsung antara kita dengan Allah swt, sehingga shalat disebut sebagai induknya ibadah dan sebagai tiang agama yang berarti apabila kita menegakkan shalat, berarti kita telah menegakkan agama Allah. Dengan kedudukannya yang utama itu shalat sudah harus dianjurkan kepada anak-anak supaya terbiasa ketika mereka sudah diwajibkan untuk melaksanakannya. Bahkan Rasulullah menganjurkan agar anak dipukul betisnya ketika tidak melaksanakan shalat.
           Dalam pelaksanaan shalat perlu diperhatikan beberapa hal yang menjadi sebab sah atau atau tidaknya shalat tersebut. Hal-hal tersebut diantaranya adalah :
1.      Syarat-syarat shalat, yaitu :
a.       Mengetahui masuknya waktu shalat,
b.      Suci dari hadats kecil dan besar, dalam hal ini sesuai dengan riwayat dari Ibnu Umar, Rasulullah saw bersabda :
عن ابن عمر رضي الله عنهما : ان النبي صلى الله عليه وسلم قال: لا يقبل الله صلاة بغير طهور, ولا صدقة من غلول                                                                            


Artinya :
Nabi saw bersabda : Allah swt tidak menerima shalat tanpa bersuci dan tidak menerima sedekah dari harta rampasan yang belum dibagikan. (H.R Jamaah kecuali Bukhari).
c.       Suci badan, pakaian, dan tempat shalat dari najis,
Dikutip dari sayyid sabbiq dalam bukunya fiqh sunnah mengatakan bahwa jika najis yang bersangkutan tersebut tidak dapat dihilangkan maka seseorang boleh mengerjakan shalat dengannya dan tidak wajib mengulanginya, namun apabila hal ini disengaja maka orang tersebut telah melanggar satu dari beberapa kewajiban shalat meskipun shalatnya tetap sah. Dari keterangan tersebut dapat disimpulkan bahwa kita harus senantiasa memperhatikan segala hal dari najis ketika hendak shalat.
d.      Menutup aurat
Menutup aurat adalah suatu keharusan karena Allah maha indah dan mencintai keindahan. Batas aurat laki-laki adalah dari pusar sampai lutut, meskipun ada pertentangan diantara para ulama yang mengatakan bahwa paha, lutut, dan pusar bukanlah aurat. Mengenai hal ini umat Islam diberi kebebasan untuk memilih walaupun yang lebih utama dan hati-hati adalah menutup bagian anggota tubuh antara pusar dan lututnya. Adapun batasan aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan, sebagaimana firman Allah dalam surat An-nur ([24]:31).) 
Artinya :
Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”.


e.       Menghadap kiblat
Menurut sayyid sabiq dalam bukunya fiqh sunnah menyebutkan bahwa para ulama sependapat agar setiap orang menghadap ke arah Masjidil Haram dan ini diwajibkan kepada mereka yang hendak melaksanakan shalat, sesuai firman Allah dalam surat Al-Baqarah ([2]:144).  
Artinya :
“Sungguh kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit[96], Maka sungguh kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. dan Sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan”.

2.      Hal-hal yang membatalkan shalat, diantaranya yaitu :
a.       Makan dan minum dengan sengaja,
Ibnu Mundzir mengatakan, “para ulama sepakat bahwa barangsiapa yang makan atau minum dengan sengaja dalam shalat fardhu, shalatnya batal dan ia wajib mengulanginya. Demikian pula dalam shalat sunnah, menurut jumhur ulama, karena perkara-perkara yang dapat membatalkan shalat fardhu juga membatalkan shalat sunnah”.
b.      Berkata-kata dengan sengaja dan bukan untuk kepentingan shalat,
c.       Banyak bergerak dengan sengaja,
d.      Sengaja meninggalkan sesuatu rukun atau syarat shalat tanpa uzur.
Berdasarkan hadits yang diriwayatkan imam Bukhari dan Muslim, Nabi saw bersabda kepada seorang Badui yang tidak menyempurnakan shalatnya :
ارجع فصل فانك لم تصل
Artinya :
“Ulangilah shalatmu sebab engkau belum mengerjakan shalat dengan cara yang benar” .

e.       Tertawa di dalam shalat.
Ibnu Mundzir mengatakan bahwa menurut ijma’ ulama, tertawa dapat membatalkan shalat. Imam Nawawi mengatakan “pendapat ini dimaksudkan kalau tertawa ketika itu sampai keluar dua buah bunyi huruf dengan jelas”. Dari keterangan itu dapat disimpulkan bahwa apabila kita tertawa hanya sekedar senyum, maka tidaklah mengapa.
3.      Hal-hal yang dibolehkan dalam shalat, diantaranya yaitu :
a.       Menangis, mengeluh atau merintih,
Perbuatan ini boleh dilakukan ketika kita melakukan shalat, baik diseabkan oleh perasaan yang sangat takut pada Allah maupun sebab-sebab lainnya selama hal itu tidak dibuat-buat. Abdullah bin Syikhir, ia berkata :
رأيت رسول الله ص م يصلي وفي صدره ازيز كازيز المرجل من البكاء.
Artinya :
“ Aku melihat Rasulullah saw mengerjakan shalat sambil menangis terisak-isak seakan-akan dalam dadanya terdapat bunyi air yang mendidih di dalam ceret”.(H.R Ahmad, Abu Dawud, Nasa’I, Tirmidzi, dan ia menshahihkannya).
b.      Menoleh ke arah manapun jika ada keperluan,
Ibnu  Abbas r.a berkata,
كان النبي ص م يصلي يلتفت يمينا و شمالا ولا يلوي عنقه خلف ظهره.  رواه أحمد.
Artinya :
“ Pada saat Nabi saw mengerjakan shalat, beliau menoleh ke akann dan ke kiri, tetapi tidak sampa memutar atau memalingkan lehernya ke belakang”.(H.R Ahmad)
Akan tetapi, apabila seseorang menoleh tanpa adanya keperluan hukumnya adalah makruh tanzih , yakni makruh tanpa mendekati hokum haram, sebab yang demikian itu dapat mencegah kekhusyuan dan perhatian kepada Allah.
c.       Membunuh ular, kalajengking, kumbang, serta binatang-binatang lain yang berbahaya meskipun dengan banyak gerakan,
d.      Berjalan sedikit karena ada keperluan,
Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa ketika Rasul sedang shalat kemudian ada orang yang meminta agar dibukakan pintu, kemudian Rasul pun membukakannya selama pintu tersebut berada di sebelah arah kiblat, dan tidak membelakanginya. Para fuqaha sepakat bahwa berjalan yang hanya sedikit melangkahkan kaki tidak membatalkan shalat.
e.       Menggendong dan memikul anak pada saat shalat,
f.       Menyampaikan salam kepada seseorang yang sedang mengerjakan shalat,
Boleh memberi salam kepada orang yang sedang melaksanakan shalat dan mengajaknya berbicara, sedangkan orang yang sedang mengerjakan shalat tersebut dibolehkan pula menjawab dengan isyarat kepada orang yang member salam tersebut. Diriwayatkan dari Anas r.a :
أن النبي ص م كان يشير في الصلاة .
Artinya :
“ Nabi saw memberi isyarat sewaktu sedang mengerjakan shalat”. (H.R Ahmad, Abu Dawud, serta Ibnu Khuzaimah yang mengatakan sanad hadits ini shahih).
g.      Bertasbih dan bertepuk tangan,
Diperbolehkan untuk bertepuk tangan dan bertasbih untuk mengingatkan imam ketika melakukan kesalahan  dalam shalat berjamaah. Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad as Sa’idi bahwa Nabi saw bersabda,
من نابه شيء في صلاته فليقل: سبحان الله انما التسنيق للنساء, والتسبيح للرجال.
Artinya :
“ barangsiapa yang terganggu dalam shalatnya, hendaklah ia mengucapkan ‘subhanallah’. Bertepuk tangan adalah untuk kaum wanita, sedangkan bertasbih untuk kaum laki-laki”. (H.R Ahmad, Abu Dawud, dan Nasa’i)
h.      Mengingatkan bacaan Imam,
i.        Memuji Allah pada saat bersin atau pada saat datangnya nikmat,
j.        Sujud di atas baju atau sorban karena udzur,
Diriwayatkan dalam sebuah hadits dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shalat denagn mengenakan sehelai baju sedang ujung kainnya dipakai alas untuk menahan panas atau dingin sewaktu sujud. Dalam hal ini makruh ketika tidak ada udzur.
k.      Hal-hal lain yang diperbolehkan,
l.        Membaca ayat dengan melihat mushhaf,
Manurut mazhab Syafi’I, Nawawi mengatakan, ‘terkadang seseorang itu membolak balik halaman mushhaf Al-Quran pada saat mengerjakan shalat, begitu pula apabila seseorang melihat catatan lain yang mengandung tulisan ayat Al-Quran dan kemudian mengulang-ulangi isinya dalam hati hal ini tidaklah membatalkan shalat, namun hukumnya makruh. Demikian yang dikemukakan Syafi’i dalam kitab al-imla”. (Sayyid Sabiq dalam bukunya Fiqh Sunnah jilid 1:400)
m.    Teringat akan hal-hal yang tidak termasuk amalan shalat.
4.      Hal-hal yang dimakruhkan dalam shalat, diantaranya yaitu :
a.       Mempermainkan baju atau anggota badannya kecuali jika ada keperluan,
b.      Bertolak pinggang,
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a :
نهى رسول الله ص م عن اللإختصار فس الصلاة. رواه ابو داود وقال: يعني يضع على حاصرته.
Artinya :
“Rasulullah saw melarang bertolak pinggang di waktu mengerjakan shalat”. (H.R Abu Dawud, ia berkata : maksud dari bertolak pinggang ialah meletakkan tangan di pinggang)  
c.       Menengadah ke atas,
d.      Melihat sesuatu yang dapat melalaikan,
e.       Memejamkan mata,
f.       Member isyarat dengan tangan ketika salam,
g.      Menutup mulut dan menurunkan kain ke bawah,
h.      Shalat di depan makanan yang telah dihidangkan,
Diriwayatkan dari Aisyah r.a bahwa Nabi saw bersabda :
إذا وضع العشاء وأقيمت الصلاة فابدءوا با العشاء.
Artinya :
“ Apabila makanan telah dihidangkan dan shalat telah dikumandangkan iqamatnya, dahulukanlah makan!”.(H.R Ahmad dan Muslim)
i.        Menahan kencing atau buang air besar atau hal lain yang dapat mengganggu ketentraman shalat,
j.        Shalat pada waktu sedang mengantuk,
Diriwayatkan dari Aisyah bahwa Nabi saw bersabda :
إذا قام أحدكم من الليل فاستعجم القران على لسانه فلم يدري ما يقول فليضطجع.


Artinya :
 “Apabila salah seorang diantara kamu bangun malam dan masih mengantuk sehingga lidahnya berat untuk membaca Al-Quran dan ia tidak sadar akan apa yang dibacanya itu, sebaiknya ia tidur kembali”. (H.R Ahmad dan Muslim)
k.      Menetapkan tempat shalat yang khusus di mesjid kecuali imam.
Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Syabil, ia berkata :
نهى رسول الله ص م عن نقرة الغراب, وافتراش السبع وأن يوطن الرجل المكان في المسجد كما يوطن البعير.
Artinya :
“ Rasulullah saw melarang seseorang ruku atau sujud seperti patukan burung gagak, duduk seperti duduknya binatang buas, dan menetapkan suatu tempat tertentu untuk mengerjakan shalat di mesjid sebagaimana dilakukan unta untuk tempat pembaringannya”. (H.R Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Hakam).
B.       Shalat Sunnah
         Shalat sunnah atau shalat nawafil (jamak;nafilah) adalah shalat yang dianjurkan untuk dilaksanakan namun tidak diwajibkan sehingga tidak berdosa bila ditinggalkan, dengan kata lain apabila dilakukan dengan baik dan benar serta penuh keikhlasan akan dapat hikmah dan rahmat dari Allah swt. Menurut Mazhab Hanafi, shalat an-nawâfil terbagi atas 2 macam, yaitu shalat masnûnah dan shalat mandûdah. Shalat masnûnah ialah shalat-shalat sunah yang selalu dikerjakan Rasulullah, jarang ditinggalkan, sehingga disebut juga dengan shalat mu'akkad. Shalat mandûdah adalah shalat-shalat sunah yang kadang dikerjakan oleh Rasulullah, kadang-kadang juga tidak dikerjakan, sehingga disebut dengan shalat ghairu mu'akkad (kurang dipentingkan).Pensyariatan shalat sunnah dimaksudkan untuk menutupi kekurangan shalat fardhu, juga karena shalat itu mengandung keutamaan yang tidak ada pada ibadah-ibadah lain. Shalat sunnat menurut hukumnya terdiri atas dua golongan yakni:
  • Muakkad, adalah shalat sunnat yang dianjurkan dengan penekanan yang kuat (hampir mendekati wajib), seperti shalat dua hari raya, shalat sunnat witr dan shalat sunnat thawaf.
  • Ghairu Muakkad, adalah shalat sunnat yang dianjurkan tanpa penekanan yang kuat, seperti shalat sunnat Rawatib dan shalat sunnat yang sifatnya insidentil (tergantung waktu dan keadaan, seperti shalat kusuf/khusuf hanya dikerjakan ketika terjadi gerhana).
         Shalat sunnah lebih utama dilakukan di dalam rumah, sebagaimana yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Umar r.a, bahwa Rasulullah saw bersabda :
صلاة الرجل في بيته تطوعا نورا فمن شاء نور بيته.
       Artinya :
       “ Shalat seseorang dalam rumahnya itu yakni yang berupa shalat sunnah adalah sebagai cahaya, maka barangsiapa suka ia dapat menerangi rumahnya hingga bercahaya”.
         Sebagaimana yang diungkapkan Sayyid Sabiq dalam bukunya fiqh sunnah hal.262, menyebutkan bahwa shalat sunnah terbagi ke dalam dua bagian yaitu muthlaq dan muqayyad. Untuk sunnah muthlaq cukuplah seseorang berniat shalat saja. Imam Nawawi berkata “ seseorang yang melakukan shalat sunnah dan tidak menyebutkan berapa rakaat yang akan dilakukan dalam shalatnya itu, boleh ia melakukan satu rakaat lalu mengucapkan salam dan boleh pula menambahnya menjadi dua, tiga, dan seterusnya. Apabila seseorang mengerjakan shalat sunnah dengan bilangan rakaat yang tidak diketahuinya, lalu bersalam maka hal itu pun sah tanpa ada perselisihan pendapat para ulama”. Adapun shalat sunnah muqayyad terbagi kepada dua macam, yaitu :
  1. Yang disyariatkan sebagai shalat-shalat sunnah yang mengikuti shalat fardhu dan inilah yang disebut shalat sunnah rawatib
  2. Yang disyariatkan bukan sebagai shalat sunnah yang mengikuti shalat-shalat fardhu.
         Dalam melakukan shalat sunnah kita dianjurkan untuk melihat dan memperhatikan waktu pelaksanaan shalat, karena ada beberapa waktu yang tidak boleh digunakan untuk melaksanakan shalat sunnah. Beberapa shalat sunnat dilakukan terkait dengan waktu tertentu namun bagi shalat yang dapat dilakukan pada waktu yang bebas (misal:shalat mutlaq) maka harus memperhatikan bahwa terdapat beberapa waktu yang padanya haram dilakukan shalat:
  • Matahari terbit hingga ia naik setinggi lembing
  • Matahari tepat dipuncaknya (zenith), hingga ia mulai condong
  • Sesudah ashar sampai matahari terbenam
  • Sesudah shubuh
  • Ketika matahari terbenam hingga sempurna terbenamnya
         Shalat sunnah tidak hanya dilakukan oleh perseorangan, namun sebagaimana shalat fardhu yang dapat dilakukan dengan berjamaah shalat sunnah pun dapat dilakukan dengan berjamaah, diantara shalat sunnah tersebut adalah :
  1. Shalat terawih
Shalat Tarawih (terkadang disebut teraweh atau taraweh) adalah shalat sunnat yang dilakukan khusus hanya pada bulan ramadhan. Tarawih dalam bahasa Arab adalah bentuk jama’ dari تَرْوِيْحَةٌ yang diartikan sebagai "waktu sesaat untuk istirahat". Waktu pelaksanaan shalat sunnat ini adalah selepas isya', biasanya dilakukan secara berjama'ah di masjid. Fakta menarik tentang shalat ini ialah bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam hanya pernah melakukannya secara berjama'ah dalam 3 kali kesempatan. Disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam kemudian tidak melanjutkan pada malam-malam berikutnya karena takut hal itu akan menjadi diwajibkan kepada ummat muslim. Terdapat beberapa praktek tentang jumlah raka'at dan jumlah salam pada shalat tarawih, pada masa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam jumlah raka'atnya adalah 8 raka'at dengan dilanjutkan 3 raka'at witir. Dan pada zaman khalifah Umar menjadi 20 raka'at dilanjutkan dengan 3 raka'at witir. Perbedaan pendapat menyikapi boleh tidaknya jumlah raka'at yang mencapai bilangan 20 itu adalah tema klasik yang bahkan bertahan hingga saat ini. Sedangkan mengenai jumlah salam praktek umum adalah salam tiap dua raka'at namun ada juga yang salam tiap empat raka'at. Sehingga bila akan menunaikan tarawih dalam 8 raka'at maka formasinya adalah salam tiap dua raka'at dikerjakan empat kali, atau salam tiap empat raka'at dikerjakan dua kali dan ditutup dengan witir tiga raka'at.
  1. Shalat ied
Shalat Ied adalah ibadah shalat sunnat yang dilakukan setiap hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Shalat Ied termasuk dalam shalat sunnat muakkad, artinya shalat ini walaupun bersifat sunnat namun sangat penting sehingga sangat dianjurkan untuk tidak meninggalkannya. http://id.wikipedia.org/wiki/Shalat_Sunnat (dari wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedi bebas). Waktu shalat hari raya adalah setelah terbit matahari sampai condongnya matahari. Syarat, rukun dan sunnatnya sama seperti shalat yang lainnya. Hanya ditambah beberapa sunnat sebagai berikut :
  • Berjamaah
  • Takbir tujuh kali pada rakaat pertama, dan lima kali pada rakat kedua
  • Mengangkat tangan setinggi bahu pada setiap takbir.
  • Setelah takbir yang kedua sampai takbir yang terakhir membaca tasbih.
  • Membaca surat Qaf dirakaat pertama dan surat Al Qomar di rakaat kedua. Atau surat A’la dirakat pertama dan surat Al Ghasiyah pada rakaat kedua.
  • Imam menyaringkan bacaannya.
  • Khutbah dua kali setelah shalat sebagaimana khutbah jum’at
  • Pada khutbah Idul Fitri memaparkan tentang zakat fitrah dan pada Idul Adha tentang hukum – hukum Qurban.
  • Mandi, berhias, memakai pakaian sebaik-baiknya.
  • Makan terlebih dahulu pada shalat Idul Fitri pada Shalat Idul Adha sebaliknya.

3.      Shalat gerhana

            Shalat Gerhana atau shalat kusufain sesuai dengan namanya dilakukan saat terjadi gerhana baik bulan maupun matahari. Shalat yang dilakukan saat gerhana bulan disebut dengan shalat khusuf sedangkan saat gerhana matahari disebut dengan shalat kusuf.
Hadits yang mendasari dilakukannya shalat gerhana ialah:
"Telah terjadi gerhana matahari pada hari wafatnya Ibrahim putera Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam. Berkatalah manusia: Telah terjadi gerhana matahari kerana wafatnya Ibrahim. Maka bersabdalah Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam "Bahwasanya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Allah mempertakutkan hamba-hambaNya dengan keduanya. Matahari gerhana, bukanlah kerana matinya seseorang atau lahirnya. Maka apabila kamu melihat yang demikian, maka hendaklah kamu shalat dan berdoa sehingga habis gerhana." (HR. Bukhari & Muslim)
          Shalat gerhana dilakukan dua rakaat dengan 4 kali ruku’ yaitu pada rakaat pertama, setelah ruku’ dan I’tidal membaca Al Fatihah lagi kemudian ruku’ dan I’tidal kembali setelah itu sujud sebagaimana biasa. Begitu pula pada rakaat kedua.
Bacaan Al Fatihah pada shalat gerhana bulan dinyaringkan sedangkan pada gerhana matahari tidak. Dalam membaca surat yang sunnat pada tiap raka'at, disunnatkan membaca yang panjang. Hukum shalat gerhana adalah sunnat muakkad berdasarkan hadits Aisyah Radhiallaahu anha. Nabi dan para shahabat melakukan di masjid dengan tanpa adzan dan iqamah.

4.      Shalat istisqa’

            Shalat Istisqa' adalah shalat sunnat yang dilakukan untuk meminta diturunkannya hujan. Shalat ini dilakukan bila terjadi kemarau yang panjang atau karena dibutuhkannya hujan untuk keperluan/hajat tertentu. Shalat istisqa' dilakukan secara berjama'ah dipimpin oleh seorang imam. Berikut tata cara pelaksanaan shalat istisqa’ mulai dari persiapan sampai hari pelaksanaan shalat. Tiga hari sebelum shalat Istisqa dilaksanakan terlebih dahulu seorang pemimpin seperti ulama, aparat pemerintah atau lainnya menyerukan kepada masyarakat agar berpuasa dan bertaubat meninggalkan segala bentuk kemaksiatan serta kembali beribadah, menghentikan perbuatan yang zalim dan mengusahakan perdamaian bila terdapat konflik.
Pada hari pelaksanaan, seluruh penduduk diperintahkan untuk berkumpul (bahkan membawa binatang ternak) di tempat yang telah dipersiapkan untuk shalat istisqa' (tanah lapang). Penduduk sebaiknya memakai pakaian yang sederhana, tidak berhias dan tidak pula memakai wewangian. Shalat istisqa' dilaksanakan dalam dua raka'at kemudian setelah itu diikuti khutbah dua kali oleh seorang khatib. Khutbah shalat istisqa' sendiri memiliki ciri/ketentuan tersendiri antara lain:
  • Khatib disunnatkan memakai selendang
  • Pada khutbah pertama hendaknya membaca istigfar 9 kali sedangkan pada khutbah kedua 7 kali.
  • Khutbah berisi anjuran untuk beristighfar (memohon ampun) dan merendahkan diri kepada Allah serta berkeyakinan bahwa permintaan akan dikabulkan oleh-Nya.
  • Pada khutbah ke-dua khatib berpaling ke arah kiblat (membelakangi makmum) dan berdo'a bersama-sama.
  • Saat berdo'a hendaknya mengangkat tangan tinggi-tinggi
Adapun niat shalat ini, sebagaimana juga shalat-shalat yang lain cukup diucapkan didalam hati, yang terpenting adalah niat hanya semata karena Allah Ta'ala semata dengan hati yang ikhlas dan mengharapkan Ridho Nya, apabila ingin dilafalkan jangan terlalu keras sehingga mengganggu Muslim lainnya, memang ada beberapa pendapat tentang niat ini gunakanlah dengan hikmah bijaksana.
Hadits terkait shalat istisqa':
  • Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu ia berkata, "Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam ke luar dengan berpakaian sederhana, penuh tawadhu’ dan kerendahan. Sehingga tatkala sampai di mushalla, beliau naik ke atas mimbar, namun tidak berkhutbah sebagaimana khutbah kalian ini. Beliau terus menerus berdo’a, merendah kepada Allah, bertakbir kemudian shalat dua raka’at seperti shalat ketika Ied". (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi dan di hasankan oleh al-Albani)
2.3    Waktu-waktu Sholat)     ( مواقيت الصلاة


Mengerjakan shalat pada waktunya termasuk amalan yang paling dicintai oleh Allah. Sebagaimana diceritakan oleh Abdullah bin Mas’ud  radhiyallahu ‘anhu  kepada Sa’ad bin Iyas. Beliau berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Amal apakah yang paling dicintai Allah ‘Azza wa Jalla?” Beliau menjawab, “Shalat pada waktunya” kemudian aku berkata, “Kemudian apa?”. Beliau berkata, “Berbakti kepada kedua orang tua”. Kemudian aku berkata, “Kemudian apa?”. Beliau menjawab, “Berjihad di jalan Allah” (HR. Bukhari [527] dan Muslim [85]).
Sedangkan yang dimaksud shalat pada waktunya adalah mengerjakannya di waktu yang telah ditentukan, dan tidak mesti di awal waktu sebagaimana pendapat sebagian ulama. Adapun orang yang shalat di luar waktu seperti karena tertidur atau lupa, maka tidak termasuk amalan yang paling dicintai, meskipun amalan itu juga dicintai (diringkas dari Fath al-Bari 2/13, dengan sedikit tambahan dari Syarah Nawawi, 2/153). Oleh sebab itu al-Bukhari rahimahullah membawakan hadits di atas di bawah judul bab ‘Keutamaan shalat pada waktunya’ di dalam Kitab Mawaqit ash-Shalah (lihat Sahih al-Bukhari cet. Maktabah al-Iman, hal. 122).
1.      Sholat Isya
            Awal waktu sholat Isya adalah saat tenggelamnya syafaq dan akhir waktunya ketika pertengahan malam, sebagaimana ditunjukkan hadits Abdullah bin ‘Amr ibnul Ash radhiyallahu‘anhuma,beliau
سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ وَقْتِ الصَّلَوَاتِ، فَقَالَ: وَقْتُ صَلاَةِ الْفَجْرِ مَا لَمْ يَطْلُعْ قَرْنُ الشَّمْسِ الْأَوَّلِ، وَوَقْتُ صَلاَةِ الظُّهْرِ إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ عَنْ بَطْنِ السَّمَاءِ مَا لَمْ يَحْضُرِ الْعَصْرُ، وَوَقْتُ صَلاَةِ الْعَصْرِ مَا لَمْ تَصْفَرَّ الشَّمْسُ وَيَسْقُطْ قَرْنُهَا الْأَوَّلُ، وَوَقْتُ        صَلاَةِ الْمَغْرِبِ إِذَا غَابَتِ الشَّمْسُ مَا لَمْ يَسْقُطِ الشَّفَقُ، وَوَقْتُ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ الْليل           
(HR. Muslim No.1388)
2.      Sholat Subuh
            Awal waktunya sejak terbitnya fajar shadiq (yaitu fajar kedua, kurang lebih 20 menit setelah fajar pertama). Jika sengaja ditunda hingga muncul warna kemerahan di langit maka makruh. Dan terakhirnya adalah ketika terbitnya matahari (pembahasan ini disarikan dari al-Wajiz, hal. 60-62, al-Munakhkhalah, hal. 33 dengan sedikit penambahan dan perubahan, lihat juga Matn al-Ghayah wa at-Taqrib, hal.58-59).

3.      Sholat Zuhur
      Dari sejak tergelincirnya matahari ke arah barat (zawal) sampai bayangan benda sama panjang dengan tingginya. Imam Malik dan sekelompok ulama yang lain berpendapat apabila bayangan benda sudah sama panjang dengan tingginya maka waktu ashar sudah masuk namun waktu zhuhur belum dianggap keluar, bahkan waktu untuk shalat zhuhur masih berlaku seukuran lamanya seseorang melakukan shalat empat rakaat untuk menunaikan shalat zhuhur, dan dia tidak dinilai melakukan shalat di luar waktu yang semestinya.
Sedangkan Imam Syafi’i demikian juga an-Nawawi berpandangan bahwa waktu terakhir shalat zhuhur adalah apabila bayangan benda sama panjang dengan tingginya tanpa ada waktu tambahan sesudahnya seukuran shalat empat rakaat (Syarah Nawawi li Nawawi, 3/420, lihat juga Subul as-Salam, 2/6. cet. Dar Ibn al-Jauzi).
4.      Shalat ‘Ashar :
            Dari sejak bayangan benda sama panjang dengan tingginya hingga terbenam matahari. Waktu ‘Ashar ada dua macam : waktu jawaaz/boleh shalat dan waktu dharurah/terjepit. Waktu jawaaz sejak bayangan benda sama panjang dengan tingginya hingga matahari tampak menguning. Apabila matahari sudah menguning maka waktu itu adalah waktu yang boleh tapi makruh, melakukan shalat ketika itu tetap dinilai sah dan belum dianggap keluar waktu (lihat Syarah Nawawi, 3/420).
5.      Shalat Maghrib
            Shalat maghrib yaitu Dari sejak matahari tenggelam (kurang lebih selama 35 menit, sebagaimana dikatakan oleh Majijd al-Hamawi dalam ta’liqnya terhadap Matn al-Ghayah wa at-Taqrib hal. 59, kemudian setelah itu waktu yang makruh) sampai hilangnya warna kemerahan di langit
2.4   Adzan
        Adzan merupakan panggilan bagi umat Islam untuk memberitahu masuknya shalat fardhu. Dikumandangkan oleh seorang muadzin setiap shalat 5 waktu.
Adzan mulai disyariatkan pada tahun kedua Hijriah, Mulanya, pada suatu hari Nabi Muhammad SAW mengumpulkan para sahabat untuk memusyawarahkan bagaimana cara memberitahu masuknya waktu salat dam mengajak orang ramai agar berkumpul ke masjid untuk melakukan salat berjamaah. Di dalam musyawarah itu ada beberapa usulan. Ada yang mengusulkan supaya dikibarkan bendera sebagai tanda waktu salat telah masuk. Apabila benderanya telah berkibar, hendaklah orang yang melihatnya memberitahu kepada umum.
 Ada juga yang mengusulkan supaya ditiup terompet seperti yang biasa dilakukan oleh pemeluk agama Yahudi. Ada lagi yang mengusulkan supaya dibunyikan lonceng seperti yang biasa dilakukan oleh orang Nasrani. Usul lainnya adalah nyala api di atas bukit. Yang melihat api itu dinyalakan hendaklah datang menghadiri salat berjamaah. Semua usulan yang diajukan itu ditolak oleh Nabi, tetapi beliau menukar lafal itu dengan assalatu jami’ah. Lafal adzan tersebut diperoleh dari hadits tentang asal muasal adzan dan iqamah, Abdullah bin Zaid telah berkata: Suatu saat Rasulullah SAW menyuruh memukul lonceng agar orang-orang berkumpul untuk shalat. Ketika aku tidur, seorang lelaki yang membawa lonceng dengan tangannya mengelilingiku. Akupun berkata kepadanya: "Wahai hamba Allah, apakah engkau menjual lonceng itu?" Dia berkata: "Apa yang akan kau lakukan dengannya?" Ia berkata: Maka kujawab: "Kami gunakan untuk panggilan shalat." Dia berkata: "Apakah kau mau kuberitahu yang lebih baik dari itu?" Ia berkata: Maka kukatakan padanya: "Tentu." Dia berkata: "Kau ucapkan:

الله اكبر الله اكبر
اشهدانّ لااله الاالله
  اشهدانّ محمّدا رسول الله
حيّ على الصّلاة  حيّ على الصّلاة
حيّ على الفلاح  حيّ على الفلاح
الله اكبر الله اكبر
لااله الاالله
Setelah lelaki yang membawa lonceng itu melafalkan adzan, dia diam sejenak, lalu berkata: "Kau katakan jika shalat akan didirikan:
الله اكبر الله اكبر
اشهدانّ لااله الاالله
 اشهدانّ محمّدا رسول الله
حيّ على الصّلاة
حيّ على الفلاح
قد قامت الصلاة قد قامت الصلاة
الله اكبر الله اكبر
لااله الاالله
Begitu subuh, aku mendatangi Rasulullah SAW kemudian kuberitahu beliau apa yang kumimpikan. Beliaupun bersabda: "Sesungguhnya itu adalah mimpi yang benar, insya Allah. Bangkitlah bersama Bilal dan ajarkanlah kepadanya apa yang kau mimpikan agar diadzankannya (diserukannya), karena sesungguhnya suaranya lebih lantang darimu." Ia berkata: Maka aku bangkit bersama Bilal, lalu aku ajarkan kepadanya dan dia yang berazan. Ia berkata: Hal tersebut terdengar oleh Umar bin al-Khaththab ketika dia berada di rumahnya. Kemudian dia keluar dengan selendangnya yang menjuntai. Dia berkata: "Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan benar, sungguh aku telah memimpikan apa yang dimimpikannya." Kemudian Rasulullah SAW bersabda: "Maka bagi Allah-lah segala puji."(HR Abu Dawud (499), at-Tirmidzi (189) secara ringkas tanpa cerita Abdullah bin Zaid tentang mimpinya, al-Bukhari dalam Khalq Af'al al-Ibad, ad-Darimi (1187), Ibnu Majah (706), Ibnu Jarud, ad-Daruquthni, al-Baihaqi, dan Ahmad (16043-redaksi di atas). At-Tirmidzi berkata: "Ini hadits hasan shahih". Juga dishahihkan oleh jamaah imam ahli hadits, seperti al-Bukhari, adz-Dzahabi, an-Nawawi, dan yang lainnya. Demikian diutarakan al-Albani dalam al-Irwa (246), Shahih Abu Dawud (512), dan Takhrij al-Misykah (I: 650)).
Adapun adab melaksanakan azan menurut jumhur ulama ialah:
  1. muazin hendaknya tidak menerima upah dalam melakukan tugasnya;
  2. muazin harus suci dari hadas besar, hadas kecil, dan najis;
  3. muazin menghadap ke arah kiblat ketika mengumandangkan azan;
  4. ketika membaca hayya ‘ala as-salah muazin menghadapkan muka dan dadanya ke sebelah kanan dan ketika membaca hayya ‘ala al-falah menghadapkan muka dan dadanya ke sebelah kiri;
  5. muazin memasukkan dua anak jarinya ke dalam kedua telinganya;
  6. suara muazin hendaknya nyaring;
  7. muazin tidak boleh berbicara ketika mengumandangkan azan;
  8. orang-orang yang mendengar azan hendaklah menyahutnya secara perlahan dengan lafal-lafal yang diucapkan oleh muazin, kecuali pada kalimat hayya ‘ala as-salah dan hayya ‘ala al-falah yang keduanya disahut dengan la haula wa la quwwata illa bi Allah (tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah);
  9. setelah selesai azan, muazin dan yang mendengar azan hendaklah berdoa: Allahumma rabba hazihi ad-da’wah at-tammah wa as-salati al-qa’imah, ati Muhammadan al-wasilah wa al-fadilah wab’ashu maqaman mahmuda allazi wa’adtahu (Wahai Allah, Tuhan yang menguasai seruan yang sempurna ini, dan salat yang sedang didirikan, berikanlah kepada Muhammad karunia dan keutamaan serta kedudukan yang terpuji, yang telah Engkau janjikan untuknya [HR. Bukhari]
2.5      Mesjid
       Mesjid adalah bumi Allah yang merupakan tempat dimana orang-orang muslim menjalankan kewajiban beribadahnya kepada Allah. Tiada tempat seindah dan sesuci mesjid, oleh sebab itu Allah senantiasa menjanjikan pahala bagi siapa saja yang berniat memakmurkan dan melestarikan mesjid. Salah satunya adalah pahala yang dijanjikan  Allah bagi siapa yang mendirika mesjid karena Allah, diterima dari Utsman Nabi saw bersabda :
من بنى لله مسجدا يبتغي به وجه الله بنى الله له بيتا في الجنة .             
Artinya :
“ Barangsiapa membangun sebuah mesjid karena mengharapkan keridhaan Allah, maka Allah akan membangun pula untuknya sebuah rumah di dalam surga”. (H.R Bukhari Muslim)
         Allah sangat mencintai orang yang senantiasa membersihkan mesjid karena dengan begitu berarti telah memberkan ketentraman bagi semua umat Islam yang menjalankan ibadah. Dalam mesjid dimakruhkan untuk mencari barang hilang, jual beli dan bersyair di dalamnya apabila syair tersebut mengandung ejekan terhadap muslim lain, pujian kepada orang dzalim, kata-kata yang tidak baik dan sebagainya. Akan tetapi, apabila syair tersebut mengandung kata-kata hikmah, pujian terhadap Islam, atau anjuran berbuat kebaikan, tidaklah dilarang.
          Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “pada dasarnya bertanya dalam mesjid itu dilarang atau haram kecuali jika ada perkara yang penting atau darurat. Bertanya di  waktu terpaksa tanpa mengganggu seseorang seperti melangkahi bahu orang yang sedang duduk dan tidak berdusta mengenai sesuatu yang dikemukakan itu serta tidak pula mengeraskan suara hingga menyebabkan orang lain merasa terganggu hukumnya adalah boleh”. Begitu pula bercakap-cakap atau berbicara di dalam mesjid, hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan Imam Nawawi “ boleh bercakap-cakap dalam mesjid, baik mengenai masalah keduniaan maupun masalah lainnya dengan syarat yang dipercakapkan itu dibolehkan menurut pandangan agama sekalipun menimbulkan gelak tawa. Namun, alangkah baiknya kita menghindari hal ini karena walau bagaimanapun ketika kita berbicara selalu saja ada kata-kata kurang baik yang secara tidak sadar keluar dari mulut kita.




















BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
         Shalat adalah kewajiban yang diperintahkan oleh Allah kepada seluruh hamba-Nya yang harus dilaksanakan tanpa kecuali. Bahkan Rasulullah saw mewasiatkan kepada umatnya untuk senantiasa memelihara shalatnya. Hal yang menjadi pembatas antara orang Islam dan non Islam atau kafir adalah dengan shalat. Shalat terbagi ke dalam dua macam, yaitu:
·         Shalat fardhu
·         Shalat sunnah
         Dalam ketentuan yang telah ditetapkan Allah, shalat terdiri dari lima waktu, yaitu waktu subuh, dzuhur, ashar, maghrib, dan isya’.dalam ketentuan waktu ini member makna bahwa suatu kewajiban itu tidak dapat ditawar-tawar lagi. Allah swt senantiasa memberikan kemudahan kepada hamba-Nya dalam melakukan peribadahan kepada-Nya, begitu pula dalam melaksanakan shalat.
         Selain itu, ada pula hal-hal yang berkaitan erat dengan shalat yaitu adzan yang merupakan panggilan Allah dan pertanda bahwa waktu shalat sudah tiba sehingga umat Islam harus menyegerakan dan memprioritaskannya Selain itu pula Allah telah mempersiapkan tempat khusus bagi hamba-Nya untuk melaksanakan ibadah kepada-Nya yaitu mesjid yang mana keberadaannya sangat bermanfaat bagi semua orang khususnya orang Islam. oleh karena itu mesjid bukanlah tempat sembarangan yang dapat dipakai untuk kegiatan apapun, ada beberapa kegiatan yang tidak boleh kita lakukan di mesjid apalagi mengotorinya dengan sengaja. Allah sangat mencintai hamba-Nya yang senantiasa memelihara, merawat, bahkan senantiasa membersihkan mesjid.
3.2  Saran
         Sebagai hamba Allah yang mengaku dirinya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kita harus senantiasa melaksanakan segala perintah dan menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya salah satunya shalat yang merupakan ibadah pokok serta penghubng kita dengan Allah. Jangan sekali-kali kita terlena akan keindahan dunia sehingga lalai dalam kewajiban kepada-Nya, berdo’alah agar shalat kita senantiasa terjaga dan diterima oleh-Nya.
DAFTAR PUSTAKA

Al-Albani, M.Nashruddin.2005. Ringkasan shahih Muslim.Gema Insani : Jakarta.
Sabiq,Sayyid.2006. Fiqh Sunnah jilid 1.Pena Pundi Aksara : Jakarta.
[Continue reading...]
 
Copyright © . sagala aya - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger