HADIS TARBAWI TAMPIL PERTAMA UY....

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

2 وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (31) قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ (32) قَالَ يَا آدَمُ أَنْبِئْهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ فَلَمَّا أَنْبَأَهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ (33)
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar. mereka menjawab: "Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka Nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?" (QS. Al-Baqoroh [2]: 31-33)
Pada ayat di atas tampak bahwa Allah telah menciptakan Adam sebagai manusia yang sempurna dengan segala potensi kemanusiaan yang dimilikinya termasuk kemampuan akalnya, karena itu dalam pandangan Islam, manusia bukanlah hasil proses evolusi dari makhluk lain (primata) sebagaimana diyakini oleh sebagian ilmuwan biologi. Kalaupun mungkin ada manusia sebelumnya (purba) tidak bisa digolongkan sebagai manusia, tetapi binatang yang wujudnya mungkin tidak begitu jauh bedanya dengan manusia.


2.1 Rumusan Masalah
Dalam makalah ini ada beberapa masalah yang kami temukan sehingga kami dapat mengelompokannya dalam rumusan masalah. Adapun rumusan masalah tersebut yaitu:
1. Apakah Manusia Dilahirkan Dalam Fiytrah?
2. Apakah sejak lahir manusia dibekali untuk berkembang?
2.2 Tujuan Penulisan
Dari rumusan masalah diatas, maka tujuan penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui penciptaan manusia bahwa manusia tercipta dengan fiytrah.
2.3 Metode Penulisan
Prosedur pemecahan masalah dalam makalah ini menggunakan metode studi pustaka dengan melakukan penyusunan dari berbagai buku sumber dan pemanfaatan pada bidang komunikasi internet.

2.4 Sistematika Penulisan
BAB I : Pendahuluan, Bab ini memuat latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, metode penulisan, sistematika penulisan. BAB II : Isi, Bab ini memuat pembahasan tentang Manusia di lahirkan fiytrah, sejak lahir manusia diberi bekal untuk berkembang. BAB III : Penutup, bab ini memuat kesimpulan dan saran.




BAB I I
PENDAHULUAN
2.1 Manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah
Hadits Pertama
أخرج البخاري ومسلم وابن المنذر وابن أبي حاتم وابن مردويه عن أبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، وَيُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَا تُنْتَجُ البَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ، هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ» ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: اِقْرَأُوا اِن ْشِئْتُمْ : {فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لاَ تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ القَيِّمُ}
Dari Abu Hurairoh, ia berkata, Rasulallah saw bersabda, “Tidaklah seorang anak dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah. Lalu kedua orang tuanyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nashrani, dan Majusi, sebagaimana dilahirkannya binatang ternak dengan sempurna, apakah padanya terdapat telinga yang terpotong atau kecacatan lainnya?. Kemudian Abu Hurairoh membaca, Jika engkau mau hendaklah baca, (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus. (Hadits tersebut ditakhrij oleh Bukhori, Muslim, Ibnu al-Mundzir, Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Mardawaeh).

Hadits Kedua
أخرج مالك وأبو داود وابن مردويه عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ، كَمَا تَنَاتَجُ الْإِبِلُ مِنْ بَهِيمَةٍ جَمْعَاءَ، هَلْ تُحِسُّ مِنْ جَدْعَاءَ؟» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَفَرَأَيْتَ مَنْ يَمُوتُ وَهُوَ صَغِيرٌ؟ قَالَ: «اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ»
Dari Abu Hurairoh, ia berkata, Rasulallah saw bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kemudian kedua orang tuanyalah yang menjadikan ia Yahudi, dan Nashrani, sebagaimana dilahirkannya binatang ternak dengan sempurna, apakah ada telinga yang terputus?. Mereka bertanya, Ya Rasulallah, bagaimana pendapatmu tentang orang yang wafat ketika kecil? Rasul menjawab, “Allah lebih mengetahui terhadap apa yang mereka amalkan”.(Hadits ditakhrij oleh Malik, Abu Daud, dan Ibnu Mardawaeh)

Hadits Ketiga
أخرج عبد الرزاق وابن أبي شيبة وأحمد والنسائي والحاكم وصححه وابن مردويه عَنِ الْأَسْوَدِ بْنِ سَرِيعٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، بَعَثَ سَرِيَّةً يَوْمَ خَيْبَرَ فَقَاتَلُوا الْمُشْرِكِينَ، فَأَمْضَى بِهِمُ الْقَتْلُ إِلَى الذُّرِّيَّةِ، فَلَمَّا جَاءُوا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا حَمَلَكُمْ عَلَى قَتْلِ الذُّرِّيَّةِ؟» فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّمَا كَانُوا أَوْلَادَ الْمُشْرِكِينَ، قَالَ: «وَهَلْ خِيَارُكُمْ إِلَّا أَوْلَادُ الْمُشْرِكِينَ؟ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ مَا مِنْ نَسَمَةٍ تُولَدُ إِلَّا عَلَى الْفِطْرَةِ، حَتَّى يُعْرِبَ عَنْهَا لِسَانُهَا»أخرج عبد الرزاق وابن أبي شيبة وأحمد والنسائي والحاكم وصححه وابن مردويه
Dari Al-Aswad bin Sura’i, bahwasanya Rasulallah saw pernah mengutus Sariyyah ke Khaibar, lalu mereka membunuh orang-orang musyrik, lalu sampailah pembunuhan mereka kepada keturunannya. Ketika mereka datang, Nabi bertanya, apa yang mendorong kalian membunuh keturunannya? Mereka menjawab (utusan Sariyyah) Yaa Rasulallah, mereka itu anak-anak orang musyrik. Rasulullah bertanya, apakah kalian hanya memilih orang-orang musyrik? Demi diriku yang ada pada kekuasaaNya tidaklah suatu jiwa dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah. Sehingga lingkungannya yang merubah fitrahnya itu.(Hadits ditakhrij oleh ‘Abdul Rozak, Ibnu Abi Syaibah, Ahmad, Nasa’i, Hakim dan dishohihkan olehIbnu Mardawaeh)

Ayat al- Qur`an yang berkena dengan hadits-hadits diatas:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ. (الروم : 30)
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (Q.S. Ar-Rum [30] : 30)


2.2 Sejak lahir manusia diberi bekal untuk berkembang
. أخرج أحمد وابن ماجه وابن حبان والطبراني وابن مردويه عَنْ حَبَّةَ وَسَوَاءٍ اِبْنَيْ خَالِدٍ أَنَّهُمَا أَتَيَا النَبِيَّ صلى الله عليه وسلم : وَهُوَ يُعَالِجُ بِنَاءَ ، فَقَالَ لَهُمَا : هَلُمَّ ، فَعَالِجَا مَعَهُ ، فَعَالِجَا فَلَمَّا فَرَغَ ، أَمَرَ لَهُمَا بِشَيْءٍ وَقَالَ لَهُمَا : « لَا تَيْأَسَا مِنَ الرِّزْقِ مَا تَهَزْهَزَتْ رُءُوسُكُمَا. فَإِنَّهُ لَيْسَ مِنْ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ مِنْ أُمَّةٍ إِلَّا أَحْمَرَ لَيْسَ عَلَيْهِ قِشْرَةٌ ثُمَّ يَرْزُقُهُ اللهُ » . أخرج أحمد وابن ماجه وابن حبان والطبراني وابن مردويه
Dari Habbah dan Sawa yaitu dua anak Kholid wahwa keduanya menemui Nabi dalam keadaan memperbaiki bangunan. Lalu Nabi berkata kepada keduanya, kemarilah, maka keduanyapun memperbaiki bangunan bersama Nabi. Ketika selesai, Nabi memerintahkan sesuatu kepadanya dan bersabda, janganlah kalian berputus asa dari rizqi yang bergejolak di kepala kalian. Karena tidaklah seorang anak dari umat ini dilahirkan kecuali dalam keadaan merah, tidak ada nasib buruk baginya, kemudian Allah memberikan rizki kepadanya. (Hadits ini ditakhrij oleh Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Thobroni, dan Ibnu Mardawaeh).

Ayat Al-Qur`an yang berkenaan dengan hadits diatas:
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ.
)النحل: 78 (
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur (QS. An-Nahl [16]: 78).
Hadits dari Habbah dan Sawwa menjelaskan bahwa setiap anak yang dilahirkan telah dibekali rizqi. Makna rizqi dalam hadits tersebut dijelaskan oleh Al-Quran Surat An-Nahl ayat 78 berupa pendengaran, penglihatan dan hati.

Imam Al-Gazali menyebutkan anak itu amanat (Ulwan: 162 ):
وَ الصَبِيُّ أَمَانَةٌ عِنْدَ وَالِدَيْهِ وَ قَلْبُهُ الطاَهِرُ جَوْهَرَةٌ نَفِيْسَةٌ فَإِنْ عُوِّدَ الخَيْرُ وَ عُلِّمَهُ نَشَأَ عَلَيْهِ وَ سَعِدَ فيِ الدُنْيَا وَ الآخِرَةِ وَ إِنْ عُوِّدَ الشَرُّ وَ أُهْمِلَ إِهْمَالُ البَهَائِمِ شَقَى وَ هَلَكَ, وَ صِيَانَتُهَا بِأنْ يُأَدِّبَهُ وَ يُهَدِّبَهُ وَ يُعَلِّمَهُ مَحَاسِنَ الأَخْلاقِ
Anak itu amanat bagi kedua orang tuanya, hatinya fitrah, permata yang indah jika ia dibekali dan diajarkan kebaikan, maka ia akan tumbuh dalam kebaikan. Dan bahagia di dunia dan di akhirat. Jika ia dibekali kejelekan dan diabaikian sebagaimana binatang ternak maka ia akan celaka dan binasa. Memeliharanya dengan cara mendidiknya dan mengajarkan dengan akhlak yang baik
.
2.3 Ma’na Ijmal
Hadits pertama dan kedua, menggunakan kata مولود (yang dilahirkan). Dalam riwayat lain, kata مولود diganti dengan lafadz بني آدم. Riwayat ini menjadi penguat bahwa semua keturunan Adam diciptakan dalam keadaan fitrah. Dalam riwayat lain lafadz الفطرة diganti dengan lafadz الملّة .
Menurut imam Al-Manawi, alif lam (ال) pada lafadz الفطرة disebut alim lam lil ahdi (sesuatu yang sudah pasti) yaitu fitrah yang Allah ciptakan yang dipersiapkan untuk menerima agama dan menolak kebatilan . secara bahasa, asal makna fitrah adalah permulaan penciptaan hal ini senada dengan Al-Quran Surat Fatir ayat 1
الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ…
Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi…,
Menurut Hammad bin Salamah makna hadits ini yaitu ketika Allah mengadakan perjanjian dengan bani Adam pada tulang punggung ayahnya. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran Surat Al-‘Arof ayat 172:
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)" (Q.S. Al-‘Arof [7]: 172).

Pendapat Hammad bin Salamah ini diperkuat oleh Ibnu Waddah yang meriwayatkan dari Sahnun bahwa tafsir hadits ini yaitu pada Surat Al-A’rof :172 (Al-Muntaqo [2] : 71). Dalam kitab Al-Muntaqo dijelaskan bahwa secara syar’i, fitrah adalah kondisi yang diciptakan berupa keimanan, ma’rifat dan pengakuan terhadap rububiyyah Allah.
Hadits pertama sampai ketiga menginformasikan bahwa hakikat pertama kali manusia diciptakan adalah dalam keadaan fitrah. Kemudian dalam kehidupannya manusia itu ada yang menjadi Yahudi, Nasrani dan Majusi. Hal itu dipengaruhi oleh kedua orang tuanya. Makna أبّ pada hadits di sini tidak hanya diartikan orang tua saja, akan tetapi أبّ juga mempunyai arti yang luas seperti lingkungan. Makna ini dijelaskan oleh Ar-Ragib sebagai berikut:
الاب: الوالد، ويسمى كل من كان سببا في إيجاد شئ أو إصلاحه أو ظهوره أبا
Al-Abbu adalah bapak, segala sesuatu yang menjadi sebab adanya sesuatu yang lain disebut Abbun.
Dari penjelasan tersebut dapat kita pahami bahwa agama seseorang dipengaruhi oleh lingkungannya.

2.4 Analisa Nilai Pendidikan/Tarbiyah
Nilai pendidikan dalam hadits pertama, kedua dan ketiga yaitu pada asal penciptaannya semua manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam). Hanya saja dalam kehidupannya, ada yang menjadi Yahudi, Nashrani, dan Majusi. Hal itu diakibatkan oleh lingkungan hidup yang mereka tempati. Fitrah manusia yang telah dibawa sejak lahir harus senantiasa dijaga sampai mati. Sebagaimana firman Allah swt
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.(QS. Ali Imran [3]: 102)

Faktor-faktor Pembentuk Prilaku manusia
Ada dua Faktor yang membentuk prilaku, yaitu faktor Internal dan eksternal. Faktor Internal adalah kumpulan unsur kepribadian yang secara simultan mempengaruhi prilaku manusia, yaitu sebagai berikut:
- Insting Biologis
- Kebutuhan Psikologis
- Kebutuhan pemikiran
Faktor internal ini terbentuk sebagiannya secara genetis, atau dibawa dari sifat turunan keluarga baik sifat fisik maupun sifat jiwa. Adapun faktor Eksternal adalah faktor yang ada diluar diri manusia, namun secara langsung mempengaruhi prilakunya, yaitu;
- Lingkungan keluarga
- Lingkungan Sosial
- Lingkungan Pendidikan
Selain itu apakah prilaku itu pun ada pengaruh dari unsur-unsur yang lainnya? Seperti unsur keturunan atau genetika dari seorang ibu ayahnya taupun kakek-kakeknya?, lantas faktor manakah yang mempengaruhi terhadap pendidikan anak? Apakah faktor keturunan atau faktor lingkungan. Dalam hal ini, para pakar pendidikan terbagi kepada tiga pendapat, yaitu:
a. Schoupenhauer dan Arnold Gessel (tokoh Teori Nativisme) berasumsi bahwa setiap individu (anak) dilahirkan ke dunia dengan membawa faktor-faktor turunan (hereditas) yang berasal dari orang tuanya, dan faktor turunan tersebut menjadi faktor penentu perkembangan individu.
b. Teori Empirisme, teori ini bertentangan dengan teori pertama, teori ini berasumsi bahwa setiap anak dilahirkan ke dunia dalam keadaan bersih ibarat papan tulis yang belum ditulisi (as a blank atau tabula rasa). Setelah kelahirannya, faktor penentu perkembangan individu ditentukan oleh faktor lingkungan atau pengalamannya.
c. Teori Konvergensi, teori ini berasumsi bahwa perkembangan individu ditentukan oleh faktor keturunan (hereditas) maupun oleh faktor lingkungan/pengalaman .
Setelah melihat dan menganalisis teori-teori di atas, satu diantaranya berkaitan dengan hadits Nabi yang menyatakan bahwa seseorang dapat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar, yakni teori konvergensi. Hal ini berkaitan dengan makna أبّ yang dipaparkan oleh Ar-Rogib Al-Ashfahani.
2.5 Nilai Tarbiayah
Cakupan hadits-hadits diatas dengan aspek pendidikan begitu sangat luas karena dapat digunakan kepada Murid ataupun Guru. Adapun cakupan itu adalah:
• Tujuan pendidikan yang ingin dicapai oleh Islam adalah تشكرون , yaitu membina manusia guna mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya. Maka manusia diharuskan mengetahui fitrahnya supaya dapat mengoptimalkan potensi dalam dirinya.
• Manusia yang dibina adalah makhluk yang memilki unsur-unsur material (jasmani) dan immaterial (ruhani/akal dan jiwa), Pembinaan akalnya menghasilkan ilmu, pembinaan jiwanya menghasilkan kesucian dan etika, sedangkan pembinaan jasmaninya menghasilkan keterampilan. Dengan penggabungan unsur-unsur tersebut, terciptalah makhluk dwi dimensi dalam satu keseimbangan, dunia dan akhirat, ilmu dan iman. Itu sebabnya dalam pendidikan Islam dikenal istilah adab al-din dan adab al-dunya. Dengan potensi tersebut mereka dapat belajar.
• Hadits-hadits diatas jika dikaitkan dengan pendidikan formal, maka seorang guru dalam membelajarkan peserta didik harus memperhatikan tahap perkembangan fisik dan psikisnya, sehingga guru dapat menggunakan metode pembelajarannya dengan tepat dan efektif.
• Guru dituntut untuk bersikap bijak di dalam memberikan penilaian terhadap peserta didiknya, karena kondisi kejiwaan dan daya nalarnya berbeda-beda.



BAB III
KESIMPULAN
1. Semua manusia dilahirkan ke dunia ini membawa fitrah, yakni naluri untuk bertauhid (Islam). Selain itu Allah berikan juga potensi-potensi untuk digunakan dalam rangka beribadah kepada Allah, dan kita diciptakan semata-mata hanya untuk beribadah kepada Allah sebagaimana firman Allah:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56)
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.(QS. Adz Dzaariyaat [51]: 56)
2. Dalam kehidupannya, manusia dapat dipengaruhi oleh lingkungan, baik lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat. Makna أبّ dalam hadits bukan hanya bermakna orang tua saja. Tetapi mempunyai makna yang lebih luas. Ketika di rumah, seorang anak mempunyai أبّ (ayah dan ibu), ketika di sekolah mempunyai أبّ (guru), ketika bermain mempunyai أبّ (teman). Hal-hal di atas dapat mempengaruhi ke arah mana fitrah akan dibawa dan potensi-potensi yang telah Allah berikan. Oleh sebab itu, tiga potensi yang dimiliki manusia diharapkan bisa memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk.










BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

o Muhammad Abdurrohman bin Abdurrohim Al-Mubarokafuri Abul ‘Alaa, Tuhfat Al-Ahwadzi Syarah Jami’ At Tirmidzi, (Beirut: Dar Kitab Al-‘Ilmiyah, tt),
o Ahmad Bin Ali Bin Hajar Al-Asqolani, Fathul Bari Shohih Al-Bukhori, (Kairo: Dar Al-hadits),
o Imam Al-Hafidz Zainuddin Abdulrouf Al-Manawi, Taisir Bisyarh Al-Jami’ Ash-Shogir , (Riyadh: Maktabah Imam Syafi’i, 1988 M),
o http://ikadi.org/ibrah/manusia-dilahirkan-fitrah.htm
o http://haditsshahih.blogspot.com/2009/02/proses-penciptaan-manusia.html

1 Response to "HADIS TARBAWI TAMPIL PERTAMA UY...."