MANFA’AT LINGKUNGAN HIDUP MENURUT BERBAGAI AGAMA


1.      PENGERTIAN LINGKUNGAN
Kehidupan manusia tidak bisa dipisahkan dari lingkungannya. Baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial. Kita bernapas memerlukan udara dari lingkungan sekitar. Kita makan, minum, menjaga kesehatan, semuanya memerlukan lingkungan.
Pengertian lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang memengaruhi perkembangan kehidupan manusia baik langsung maupun tidak langsung. Lingkungan bisa dibedakan menjadi lingkungan biotik dan abiotik. Jika kalian berada di sekolah, lingkungan biotiknya berupa teman-teman sekolah, bapak ibu guru serta karyawan, dan semua orang yang ada di sekolah, juga berbagai jenis tumbuhan yang ada di kebun sekolah serta hewan-hewan yang ada di sekitarnya. Adapun lingkungan abiotik berupa udara, meja kursi, papan tulis, gedung sekolah, dan berbagai macam benda mati yang ada di sekitar.
Seringkali lingkungan yang terdiri dari sesama manusia disebut juga sebagai lingkungan sosial. Lingkungan sosial inilah yang membentuk sistem pergaulan yang besar peranannya dalam membentuk kepribadian seseorang.

2.      LINGKUNGAN HIDUP
Secara khusus, kita sering menggunakan istilah lingkungan hidup untuk menyebutkan segala sesuatu yang berpengaruh terhadap kelangsungan hidup segenap makhluk hidup di bumi.
Adapun berdasarkan UU No. 23 Tahun 1997, lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda dan kesatuan makhluk hidup termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya yang melangsungkan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya.
Unsur-unsur lingkungan hidup dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:
1. Unsur Hayati (Biotik)
Unsur hayati (biotik), yaitu unsur lingkungan hidup yang terdiri dari makhluk hidup, seperti manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan jasad renik. Jika kalian berada di kebun sekolah, maka lingkungan hayatinya didominasi oleh tumbuhan. Tetapi jika berada di dalam kelas, maka lingkungan hayati yang dominan adalah teman-teman atau sesama manusia.
2. Unsur Sosial Budaya
Unsur sosial budaya, yaitu lingkungan sosial dan budaya yang dibuat manusia yang merupakan sistem nilai, gagasan, dan keyakinan dalam perilaku sebagai makhluk sosial. Kehidupan masyarakat dapat mencapai keteraturan berkat adanya sistem nilai dan norma yang diakui dan ditaati oleh segenap anggota masyarakat.
3. Unsur Fisik (Abiotik)
Unsur fisik (abiotik), yaitu unsur lingkungan hidup yang terdiri dari benda-benda tidak hidup, seperti tanah, air, udara, iklim, dan lain-lain. Keberadaan lingkungan fisik sangat besar peranannya bagi kelangsungan hidup segenap kehidupan di bumi. Bayangkan, apa yang terjadi jika air tak ada lagi di muka bumi atau udara yang dipenuhi asap? Tentu saja kehidupan di muka bumi tidak akan berlangsung secara wajar. Akan terjadi bencana kekeringan, banyak hewan dan tumbuhan mati, perubahan musim yang tidak teratur, munculnya berbagai penyakit, dan lain-lain.
Ternyata lingkungan itu sangat banyak manfaatnya, Kalau lingkungan kita bersih hidup kita jadi sehat
Lingkungan kita harus banyak tumbuh2an agar tidak panas, udara pun jadi sejuk. Seharusnya di setiap jalan raya harus di tanami tumbuhan agar mengurangi polusi udara.

3.      MANFAAT LINGKUNGAN BAGI KITA
PENGHIJAUAN adalah salah satu kegiatan penting yang harus dilaksanakan secara konseptual dalam menangani krisis lingkungan. Begitu pentingnya sehingga penghijauan sudah merupakan program nasional yang dilaksanakan di seluruh Indonesia.
Banyak fakta yang menunjukkan bahwa tidak jarang pembangunan dibangun di lahan pertanian maupun ruang terbuka hijau. Padahal tumbuhan dalam ekosistem berperan sebagai produsen pertama yang mengubah energi surya menjadi energi potensial untuk makhluk lainnya dan mengubah CO2 menjadi O2 dalam proses fotosintesis. Sehingga dengan meningkatkan penghijauan di perkotaan berarti dapat mengurangi CO2 atau polutan lainnya yang berperan terjadinya efek rumah kaca atau gangguan iklim. Di samping vegetasi berperan dalam kehidupan dan kesehatan lingkungan secara fisik, juga berperan estetika serta kesehatan jiwa. Mengingat pentingnya peranan vegetasi ini terutama di perkotaan untuk menangani krisis lingkungan maka diperlukan perencanaan dan penanaman vegetasi untuk penghijauan secara konseptual.
Dari berbagai pengamatan dan penelitian ada kecenderungan bahwa pelaksanaan penghijauan belum konseptual, malah terkesan asal jadi. Memilih jenis tanaman dengan alasan mudah diperoleh, murah harganya dan cepat tumbuh.
Penghijauan perkotaan
Penghijauan dalam arti luas adalah segala daya untuk memulihkan, memelihara dan meningkatkan kondisi lahan agar dapat berproduksi dan berfungsi secara optimal, baik sebagai pengatur tata air atau pelindung lingkungan. Ada pula yang mengatakan bahwa penghijauan kota adalah suatu usaha untuk menghijaukan kota dengan melaksanakan pengelolaan taman-taman kota, taman-taman lingkungan, jalur hijau dan sebagainya. Dalam hal ini penghijauan perkotaan merupakan kegiatan pengisian ruang terbuka di perkotaan.
Pada proses fotosintesa tumbuhan hijau mengambil CO2 dan mengeluarkan C6H12O6 serta peranan O2 yang sangat dibutuhkan makhluk hidup. Oleh karena itu, peranan tumbuhan hijau sangat diperlukan untuk menjaring CO2 dan melepas O2 kembali ke udara. Di samping itu berbagai proses metabolisme tumbuhan hijau dapat memberikan berbagai fungsi untuk kebutuhan makhluk hidup yang dapat meningkatkan kualitas lingkungan.
Setiap tahun tumbuh-tumbuhan di bumi ini mempersenyawakan sekira 150.000 juta ton CO2 dan 25.000 juta ton hidrogen dengan membebaskan 400.000 juta ton oksigen ke atmosfer, serta menghasilkan 450.000 juta ton zat-zat organik. Setiap jam 1 ha daun-daun hijau menyerap 8 kg CO2 yang ekuivalen dengan CO2 yang diembuskan oleh napas manusia sekira 200 orang dalam waktu yang sama. Setiap pohon yang ditanam mempunyai kapasitas mendinginkan udara sama dengan rata-rata 5 pendingin udara (AC), yang dioperasikan 20 jam terus menerus setiap harinya. Setiap 93 m2 pepohonan mampu menyerap kebisingan suara sebesar 8 desibel, dan setiap 1 ha pepohonan mampu menetralkan CO2 yang dikeluarkan 20 kendaraan.(Zoer’aini Djamal Irwan,1996).
Begitu pentingnya peranan tumbuhan di bumi ini dalam menangani krisis lingkungan terutama di perkotaan, sangat tepat jika keberadaan tumbuhan mendapat perhatian serius dalam pelaksanaan penghijauan perkotaan sebagai unsur hutan kota.
Penghijauan berperan dan berfungsi (1) Sebagai paru-paru kota. Tanaman sebagai elemen hijau, pada pertumbuhannya menghasilkan zat asam (O2) yang sangat diperlukan bagi makhluk hidup untuk pernapasan; (2) Sebagai pengatur lingkungan (mikro), vegetasi akan menimbulkan hawa lingkungan setempat menjadi sejuk, nyaman dan segar; (3) Pencipta lingkungan hidup (ekologis); (4) Penyeimbangan alam (adaphis) merupakan pembentukan tempat-tempat hidup alam bagi satwa yang hidup di sekitarnya; (5) Perlindungan (protektif), terhadap kondisi fisik alami sekitarnya (angin kencang, terik matahari, gas atau debu-debu); (6) Keindahan (estetika); (7) Kesehatan (hygiene); Rekreasi dan pendidikan (edukatif); (9) Sosial politik ekonomi.
Seperti yang dikemukan oleh Eckbo (1956) bahwa pemilihan jenis tanaman untuk penghijauan agar tumbuh dengan baik hendaknya dipertimbangkan syarat-syarat hortikultura (ekologikal) dan syarat- syarat fisik. Syarat hortikultural yaitu respons dan toleransi terhadap temperatur, kebutuhan air, kebutuhan dan toleransi terhadap cahaya matahari, kebutuhan tanah, hama dan penyakit, serta syarat-syarat fisik lainnya yaitu tujuan penghijauan, persyaratan budi daya, bentuk tajuk, warna, aroma.
Unsur hutan kota
Fungsi dan manfaat hutan antara lain untuk memberikan hasil, pencagaran flora dan fauna, pengendalian air tanah dan erosi, ameliorasi iklim. Jika hutan tersebut berada di dalam kota fungsi dan manfaat hutan antara lain menciptakan iklim mikro, engineering, arsitektural, estetika, modifikasi suhu, peresapan air hujan, perlindungan angin dan udara, pengendalian polusi udara, pengelolaan limbah dan memperkecil pantulan sinar matahari, pengendalian erosi tanah, mengurangi aliran permukaan, mengikat tanah. Konstruksi vegetasi dapat mengatur keseimbangan air dengan cara intersepsi, infiltrasi, evaporasi dan transpirasi.
Menelaah fungsi penghijauan perkotaan dan fungsi hutan dapat dikatakan bahwa penghijauan perkotaan merupakan unsur dari hutan kota. Sedangkan hutan kota adalah bagian dari ruang terbuka hijau kota. Hutan kota (urban forestry) menurut Grey dan Denehe (1978), meliputi semua vegetasi berkayu di dalam lingkungan pemukiman, mulai dari kampung yang kecil sampai kota besar. Fukuara dkk mengemukakan tentang hutan kota, yaitu ruang terbuka yang ditumbuhi vegetasi berkayu di wilayah perkotaan yang memberikan manfaat lingkungan sebesar-besarnya kepada penduduk kota dalam kegunaan proteksi, estetika serta rekreasi khusus lainnya.
Sedangkan menurut Grey dan Denehe (1978), hutan kota (urban forestry) meliputi semua vegetasi berkayu di dalam lingkungan pemukiman, mulai dari kampung yang kecil sampai kota besar. Mengingat pekarangan mengandung sifat perhutanan yang beraspirasi untuk kepentingan rakyat, maka pengembangan perhutanan yang bersifat pekarangan ini tampaknya lebih demokrasi yaitu sistem agroforestry yang dikelola rakyat. Pekarangan dapat menghasilkan kayu, bambu, karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan obat-obatan.
Sebagai konsekuensi tumbuhan sebagai produsen pertama dalam ekosistem, dan mengingat fungsi hutan kota dan fungsi penghijauan perkotaan sangat bergantung kepada vegetasi yang digunakan maka tidak perlu lagi dipersoalkan luas lahan sebagai syarat hutan kota. Yang penting adalah jumlah dan keanekaragaman vegetasi yang ditaman di perkotaan sebanyak mungkin. Dengan demikian penghijauan perkotaan sebagai unsur hutan kota perlu ditingkatkan secara konseptual meliputi perencanaan, pelaksanaan dan pemeliharaan dengan mempertimbangkan aspek estetika, pelestarian lingkungan dan fungsional. Pelaksanaan harus sesuai dengan perencanaan begitu pula pemeliharaan harus dilakukan secara terus-menerus.
Teknik penanaman.
Faktor-faktor utama yang perlu diperhatikan yaitu dalam teknik penanaman pohon adala, (1) Pemilihan bibit tanaman. Bibit generatif adalah berasal dari biji, merupakan bibit yang lebih tepat karena mempunyai akar tunggang dan dapat hidup lebih lama. Bibit vegetatif, adalah bibit yang berasal dari bagian-bagian vegetatif tanaman, seperti batang, daun dan akar. Bibit vegetatif umumnya kurang kokoh dan perakarannya dangkal sehingga cepat merusak trotoar, jalan atau saluran drainase.
Bibit yang baik sekurang-kurangnya telah tumbuh di wadahnya selama 6 bulan dengan batang tinggi minimal + 1.50 m dan diameter 0.05 m, untuk mengujinya cukup dengan mencabut bibit tersebut. Apabila bibit mudah lepas dari wadahnya berarti baru dipindahkan dan belum cukup baik ditanam di lapangan, sebaliknya jika sulit dilepaskan berarti perakarannya sudah terbentuk dengan baik dan dapat ditanam di lapangan;
(2) Penanaman. Lubang tanam perlu dipersiapkan sedikitnya satu minggu sebelum penanaman dilakukan. Ukuran lubang tanam sangat bergantung pada besarnya tanaman. Ukuran standar lubang tanam adalah 0.75 m (tinggi) x 0.90 m (lebar) x 0.90 m (panjang); (3) Perawatan pascatanam. Mempertahankan posisi tumbuh agar tetap tegak dan stabil. Menyiram tanaman 2-3 hari sekali terutama di musim kemarau sambil membuang ranting-ranting yang kerimg. Memupuk tanaman 3 bulan sekali dengan pupuk NPK 25 gram per lubang
Manfaat hutan yang lain adalah:
1. Sebagai suplyer Oksigen yang merupakan bahan baku utama untuk pernafasan manusia
2. Sebagai pencegah banjir
3. Sebagai penyejuk alam
4. Sebagai paru-paru dunia.



4.      LINGKUNGAN HIDUP DAN AGAMA
Science bagaimana pun juga memerlukan agama, paling tidak ketika  membicarakan perubahan iklim global di dunia ini, demikian Mary Evelyn menulis dalam Jurnal Daedalus edisi Musim Semi 2001. Senada dengan Evelyn, McKibben, seorang ahli lingkungan memperingatkan kita bahwa lebih dari satu dekade yang lalu, global warming (panas bumi global) adalah tanda berakhirnya alam.  Dan ini akan menjadi issue yang paling menantang di dunia, termasuk agamawan dan nilai-nilai agama. Karenanya, sebagaimana agama mampu berperan penting dalam membangun perubahan sosial politik, agama juga ditantang pada abad 21 ini untuk mempunyai kontribusi dalam pemecahan masalah lingkungan.
Agama adalah sesuatu yang bukan hanya sekedar kepercayaan terhadap sesuatu yang transenden (Tuhan) atau kepercayaan akan adanya kehidupan setelah kematian. Agama juga harus berarti orientasi terhadap kosmos dan bagaimana peran kita di dunia. Kita mengerti bahwa dalam arti yang luas agama juga adalah berarti bagaimana manusia mengenal batas-batas realitas dan bagaimana manusia berinteraksi dengan lingkungannya. Agama sering berbicara tentang kisah-kisah kosmologis, sistem dan simbol, praktek ritual, norma dan etika, proses sejarah, dan struktur institusi yg mentransmisikan pandangan bahwa manusia sebagai bagian yang menyatu di dunia mempunyai arti dan tanggung jawab terhadap alam.
Agama juga merupakan salah satu dari cara pandang manusia terhadap alam (diri dan dunia) serta realitas infra human. Cara pandang tersebut menemukan wujudnya dalam dua norma kehidupan, yaitu norma etika dan norma ritual. Etika merupakan norma prilaku individu manusia beragama terhadap sesama manusia dan realitas propan lainnya. Sedangkan ritual merupakan norma prilaku individu manusia beragama terhadap realitas sakral. Ritual, selain sebagai sistem etik juga merupakan suatu proses sakralisasi (inisiasi) terhadap realitas propan. Dengan demikian realitas propan dipandang sebagai realitas yang memiliki potensi untuk menjadi realitas sakral. Atau dalam cara pandang lain, bahwa realitas profan pada dasar terdalamnya (esensi) adalah realitas sakral, karena tidaklah mungkin sesuatu yang profan bisa diubah menjadi realitas sakral apabila dalam realitas profan itu tidak memiliki potensi-potensi dasar yang bersifat sakral.

Dalam konteks inilah mungkin, ayat yang menyatakan “tidaklah aku mengutus engkau kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam” mendapat maknanya yang lebih spesifik. Bahkan, bila menyitir ayat lain yang menyatakan bahwa Allah telah “menundukkan” alam semesta untuk manusia, bisa dimaknai bahwa pada sejak awal manusia turun ke dunia (alam semesta) ini, alam semesta telah berada dalam keadaan “sakral”. Karena, tentunya kata “menundukkan” tidak bisa dimaknai bahwa alam sebagai rival yang Tuhan tundukkan. Kata menundukkan dalam hal ini merupakan makna majazi yang bisa saja diartikan sebagai proses inisiasi, sakralisasi realitas propan. Oleh karena itu, pikiran dan prilaku yang berorientasi dan berakibat pada kerusakan alam merupakan pikiran dan prilaku kontra produktif dengan yang telah Allah lakukan. Konsep bahwa Allah telah menundukkan alam bagi manusia secara umum lebih dipahami secara konsumtif dan eksploitatif. Yaitu bahwa Allah menundukkan alam untuk (sehingga) manusia bisa menggunakannya secara optimal bagi kehidupan dan kesejahteraannya. Kehidupan dan kesejahteraan dalam makna yang sangat sempit yang cenderung eksploitatif dan destruktif. Pemberdayaan sumber alam dengan tanpa rasa tanggung jawab.



5.      MANFAAT LINGKUNGAN MENURUT PANDANGAN LIMA AGAMA

a.      ISLAM
Dunia begitu hijau dan indah, dan Tuhan telah menunjukmu sebagai penjaganya.
~Nabi Muhammad
Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanamam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu menyisakannya, karena Allah tidak menyukai para penyisa.
~Qur’an (Q.s Al-An’aam : 141)
Yang Maha Pemurah telah…menciptakan manusia…matahari dan bulan…bintang dan pepohonan… menetapkan keseimbangan. Janganlah merusak keseimbangan itu dan pertimbangkanlah dengan adil…
~Qur’an (Ar-rahman : 1-12)
Barang siapa menanam sebatang pohon dan dengan rajin merawatnya hingga ia besar dan berbuah maka dia mendapat pahala.
~Nabi Muhammad, Hadist
Jika seorang Muslim menanam sebatang pohon atau menaburkan benih di ladang dan manusia, hewan, atau burung makan darinya, maka semua itu adalah amal bagiannya.
~Nabi Muhammad, Hadis
Dunia ini indah dan hijau, dan sesungguhnya Allah, kemuliaan bagi-Nya, telah menjadikanmu pengurus-Nya di sini, dan Dia melihat bagaimana engkau melakukan tugasmu.
~Nabi Muhammad, Hadis
Rasulullah SAW, dalam menghormati makhluk hidup:sebagaimana diriwayatkan, bahwa Nabi SAW mengur sahabatnya yang dalam pada saat perjalanan mereka menangkap anak burung yang berada di sarangnya. Ketika merasa kehilangan anak, induk burung itu pun mengiringi—terbang diatas rombongan –Rasullullah. Ketika menyaksikan hal it nabi bersabda: “Siapakah yang menyusahkan burung ini dan mengambil anaknya?Kembalikan anan-anaknya padanya.” (hadits riwayat Abu Daud).
b.      AGAMA KRISTEN DAN KATHOLIK
Maka Tuhan berfirman,”Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohon yang buahnya berbiji. Itulah yang akan menjadi makananmu.”
~Kejadian,1.29 Talmud Yahudi dan Kitab Suci Perjanjian Lama Agama Kristen
Tidak ada yang akan berbuat jahat atau berlaku busuk di seluruh gunung-Ku yang kudus sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan Tuhan seperti air laut yang menutupi dasarnya.
~Yesaya 11:9, Talmud Yahudi dan Kitab Suci Perjanjian Lama Agama Kristen
Di seluruh tanah milikmu, haruslah kami memberi hak menebus tanah.
~Imamat 25:23-24, Talmud Yahudi dan Kitab Suci Perjanjian Lama Agama Kristen
Gunung-gunung serta bukit-bukit akan bergembira dan bersorak-sorai di depanmu, dan segala pohon-pohon di padang akan bertepuk tangan. Itu akan terjadi sebagai kemahsyuran bagi Tuhan, sebagai tanda abadi yang tidak akan lenyap.
~Yesaya 55:12-13, Talmud Yahudi dan Kitab Suci Perjanjian Lama Agama Kristen
Tetapi bertanyalah kepada binatang, maka engkau akan diberinya pengajaran, kepada burung di udara, maka engkau akan diberinya keterangan; atau bertuturlah kepada bumi, maka engkau akan diberinya pengajaran, bahkan ikan di laut akan bercerita kepadamu. Di dalam tangan-Nya terletak nyawa segala yang hidup dan nafas setiap manusia.
~ Kitab Suci Perjanjian Lama Agama Kristen
Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya.”
~Mazmur 24:1, 1:21, Talmud Yahudi dan Kitab Suci Perjanjian Lama Agama Kristen
Dan saatnya telah datang untuk memberi upah kepada hamba-hamba-Mu, nabi-nabi, dan orang-orang kudus dan kepada mereka yang takut akan nama-Mu, kepada orang-orang kecil dan orang-orang besar – dan untuk membinasakan barang siapa yang membinasakan bumi.
~Wahyu 11:18, Kitab Suci Perjanjian Baru Agama Kristen
Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.
~Kejadian 2:15, Talmud Yahudi dan Kitab Suci Perjanjian Lama Agama Kristen
Jikalau kamu hidup menurut ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada perintah-Ku serta melakukannya, maka Aku akan memberi kamu hujan pada masanya, sehingga tanah itu memberi hasilnya dan pohon-pohonan di ladangmu akan memberi buahnya… dan Aku akan memberi damai sejahtera di dalam negeri itu.
Imamat 26: 3-4,6, Talmud Yahudi dan Kitab Suci Perjanjian Lama Agama Kristen
Apakah belum cukup bagimu bahwa kamu menghabiskan padang rumput yang terbaik, mesti pulakah kamu injak-injak padang rumput yang lain dengan kakimu; dan belum cukupkah bahwa kamu minum air yang jernih, mesti pulakah yang tinggal itu, kamu keruhkan dengan kakimu?
~Yehezkiel 34:18-19, Talmud Yahudi dan Kitab Suci Perjanjian Lama Agama Kristen
Kami adalah pasangan dalam karya penciptaan Tuhan, dipanggil untuk ‘memperbarui muka bumi’ sampai tibanya damai dan keselarasan, air berkilauan pemberi kehidupan, ‘pohon kehidupan’ yang memberikan kesehatan dan jamuan mesias yang bisa dibagikan oleh semua penghuni di bumi. Lalu kutukan pembinasaan akan dihapuskan.
~Wahyu 22: 1-3, Talmud Yahudi dan Kitab Suci Perjanjian Baru Agama Kristen
Tuhan itu Raja… Biarlah langit bersuka cita dan bumi bersorak-sorai; biarlah laut serta isinya bergemuruh; biarlah padang beria-ria, dan segala yang di atasnya. Maka segala pohon di hutan bersorak-sorai.
~Mazmur 96:10,12, Talmud Yahudi dan Kitab Suci Perjanjian Lama Agama Kristen
Tuhan berbicara kepada kita, bukan hanya lewat perkatan-Nya tetapi juga lewat ciptaan-Nya.
~Mazmur 19:1-4, Romans 1:20, Mat 6:28-29, Kitab Suci Kristen
Kita seharusnya peduli tentang dunia seperti apa yang akan diwariskan kepada anak-anak kita.
~Amsal 13:22a, Kitab Suci Kristen
“Janganlah menyakiti Bumi, Laut, maupun Pepohonan”
~Wahyu, Kitab Suci Kristen
Dalam umat Kristiani (Katholik) dikenal Santo Francis Assisi, atas sikap beliau yang menghormat pada setiap makhuk hidup. Dengan menyaksikan setiap makhluk yang ditemuinya, maka dia melihat ada keberadaan Tuhan. Diriwayatkan pula, St. Francis, dalam sebuah perjalanannya, melihat sekelompok burung, kemudian beliau meninggalkan rombongan, mendatangi kelompok burung tersebut lalu membacakan firman Tuhan dan berdoa:” Saudara-saudaraku para burung, seharusnya kalian bersyukur kepada sang Penciptamu, dan mencintaiNya, Dia memberimu bulu yang indah sebagai pakaian, serta sayap yang membuatmu dapat terbang kemana pun yang kau mau. Tuhan telah memberikan kekuasaanya atas mu dibandingkan ciptaanNya yang lain, memberimu ruang gerak di udara segar, sehingga saat terbang kamu tidak pernah tertubruk atau tidak pernah pula terjatuh. Dialah yang melindungi mu dari mara bahaya dan mengatur hidupmu tanpa kamu merasakannya.”
c.       BUDDHA
Maka, dengan hati tanpa batas, seseorang seharusnya menghargai semua makhluk hidup, memancarkan kebaikan ke seluruh dunia, menyebarkannya hingga ke atas langit, dan ke bagian Bumi yang terdalam, ke luar dan tak terbatas.
~ Sutra Kasih, "Kebaikan Hati"
Jika kita dapat melihat keajaiban dari sekuntum bunga dengan jelas, seluruh hidup kita akan berubah.
~ Buddha Siddhartha, Kitab Tipitaka, 80 S.M.
Rajah Koravya memiliki sebuah pohon raja banyan yang dinamakan Tabah, dan kerindangan yang diberikan oleh cabang-cabang yang melebar sangatlah menyejukkan dan menyenangkan. Daunnya rimbun sampai dua belas gerombol... Tidak ada yang menjaga buahnya, dan tidak ada yang menyakiti yang lain demi buahnya. Kini datanglah seorang manusia yang memakan buah untuk mengisi perutnya, mematahkan sebuah cabang, dan pergi. Roh yang mendiami pohon itu berpikir, “Betapa menakjubkannya, betapa mengherankannya, di mana seorang manusia dapat menjadi sedemikian jahatnya hingga mematahkan satu cabang pohon ini, setelah mengenyangkan perutnya. Menganggap pohon ini tidak berbuah lagi.” Lalu sang pohon itu tidak berbuah lagi.
~Anguttara Nikaya iii.368
Seperti lebah yang mengumpulkan madu dengan tidak merusak atau mengusik warna dan aroma sang bunga; begitu jugalah cara orang yang bijak bergerak melewati dunia.
~ Sang Buddha, Dhammapada: Bunga-Bunga, ayat 49
Hutan adalah makhluk hidup yang khas dengan kebaikan dan kebajikan tak terbatas yang tak meminta makanan untuk menghidupinya dan dengan murah hati menawarkan apa yang dihasilkan oleh hidupnya; ia memberikan perlindungan pada semua makhluk.
~ Sutra Buddhis
d.      AGAMA HINDU
Jangan menebang pohon karena mereka melenyapkan polusi.
~ Rig Veda, 6:48:17
Jangan menganggu langit dan jangan mengotori udara.
~ Yajur Veda, 5:43
Penghancuran hutan dapat dianggap sebagai pengrusakan negara dan penanaman hutan kembali adalah tindakan untuk membangun kembali dan membuat kemajuan…
~ Charak Sanhita
Bila hanya ada satu pohon dengan bunga dan buah di dalam sebuah desa, tempat itu patut Anda hargai.
~ Mahabharata
Bumi adalah Ibu kita dan kita semua adalah Anak-Anaknya.
~ Vedic dictum
Seseorang yang menanam satu peepal, satu neem, sepuluh tanaman bunga atau tanaman yang merambat, dua pohon delima, dua jeruk, dan lima mangga, tidak akan pergi ke neraka.
~ Varaha Purana
Sungai-sungai adalah pembuluh darah Tuhan, samudra adalah darah-Nya, dan pohon-pohon adalah rambut di tubuh-Nya. Udara adalah nafas-Nya, bumi adalah daging-Nya, langit adalah perut-Nya, bukit-bukit dan pegunungan adalah sumsum tulang-Nya, dan waktu yang berlalu adalah gerakan-Nya.
~ Srimad Bhagavatam 2.1.32-33
Lima macam kebaikan adalah pengorbanan sehari-hari pepohonan. Kepada keluarga-keluarga, mereka memberikan bahan bakar; kepada orang yang lewat, mereka memberikan tempat berteduh dan beristirahat; kepada burung-burung, mereka memberikan perlindungan; dengan daun-daun, akar, dan kulit pohonnya, mereka memberikan obat.









e.       DAFTAR PUSTAKA
·         Dari Buku
Judul Buku : Menuju Keselarasan Lingkungan (Memahami Sikap Teologis Manusia terhadap Pencemaran Lingkungan)
Penulis : Y Eko Budi Susilo, Pr
Penerbit : Averroes Press
Cetakan : I, Desember 2003
Tebal : xv + 156 hlm

·          

0 Response to "MANFA’AT LINGKUNGAN HIDUP MENURUT BERBAGAI AGAMA"

Posting Komentar