KONSEP DASAR KONSELING


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 . Latar Belakang Masalah
Manusia sebagai makhluk sosial tidak akan pernah terlepas dari berbagai masalah. Masalah yang menimpa manusia terkadang membuat manusia menjadi frustasi, tak berdaya, nelangsa dan putus asa. Bahkan tak jarang orang yang begitu banyak diterpa berbagai masalah hidup lebih memilih mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri karena tak kuasa menghadapi masalah tersebut. Hal ini diakibatkan oleh tidak adanya pengetahuan, ilmu, serta pengalaman, dalam menghadapi masalah. Oleh sebab itu manusia harus mendapat bimbingan agar mampu membantu keluar dari masalah yang sedang dihadapinya, termasuk bimbingan dalam hal pendidikan.
Pendidikan yang bermutu (Syamsu dan Juntika, 2008:4) adalah yang mengintegrasikan tiga bidang kegiatan utamanya secara sinergi, yaitu bidang administratif dan kepemimpinan, bidang instruksional dan kurikuler, dan bidang pembinaan siswa (bimbingan dan konseling). Pendidikan yang hanya melaksanakan bidang administratif dan pengajaran dengan mengabaikan bidang bimbingan mungkin hanya akan menghasilkan individu yang pintar dan terampil dalam aspek akademik, tetapi kurang memiliki kemampuan atau kematangan dalam aspek psikososiospiritual. Karena bidang pembinaan siswa (bimbingan dan konseling) terkait dengan program pemberian layanan bantuan kepada peserta didik (siswa) dalam upaya mencapai perkembangannya yang optimal, melalui interaksi yang sehat dengan lingkungannya. Personil yang paling bertanggung jawab ini adalah guru pembimbing atau konselor. Jadi, betapa pentingnya peranan bimbingan dan konseling dalam pendidikan, sehingga kita harus tahu terlebih dahulu konsep-konsep dasar mengenai bimbingan dan konseling.
Namun disini, penyusun hanya akan mencoba menguraikan tentang konsep-konsep dasar konseling tersebut. Sehingga mudah-mudahan akan mempermudah pembaca dalam memahami konsep dasar  konseling, serta menerapkannya dalam pendidikan.

1.2 Rumusan Masalah
Dengan merujuk pada latar belakang permasalahan yang telah diuraikan di atas, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
1)      Bagaimanakah  konsep dasar dan pengertian konseling?
2)      Bagaimanakah pendekatan yang dilakukan dalam konseling?
3)      Bagaimanakah teknik-teknik dalam melaksanakan konseling?

1.3 Tujuan Penulisan Makalah
            Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka tujuan dari penulisan makalah ini yakni sebagai berikut:
1)      Mengetahui konsep dasar dan pengertian konseling
2)      Mengetahui pendekatan  konseling
3)      Mengetahui teknik-teknik yang digunakan dalam melaksanakan  konseling
1.4 Metode Penulisan
Metode penulisan yang kami gunakan dalam penulisan makalah ini adalah dengan literatur buku yaitu mencari bahan-bahan yang bersangkutan dengan materi ini kemudian merangkumnya serta mencari bahan materi lainnya dengan menelusuri internet.

1.5 Sistematika Pembahasan
Adapun sistematika pembahasan dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1)      BAB I  bagian ini membahas tentang masalah yang akan dibahas meliputi: latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan, metode penulisan, dan sistematika pembahasan.
2)      BAB II bagian ini membahas tentang konsep dasar, pengertian, pendekatan dan teknik konseling
3)      BAB III kesimpulan
4)      Daftar Pustaka
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1  Konsep Dasar Konseling
            Bila ditinjau dari segi sejarah perkembangannya ilmu bimbingan dan konseling di Indonesia, maka sebenarnya istilah bimbingan dan konseling pada awalnya dikenal dengan istilah bimbingan dan penyuluhan yang merupakan terjemahan dari istilah guidance and counseling. Penggunaan istilah bimbingan dan penyuluhan sebagai terjemahan dari kata guidance and counseling ini diceruskan oleh Tatang Mahmud, MA. Sebagaimana yang dikemukakan oleh DR. TohariMusnawar( 1985:8 ).
            Konseling merupakan dasar inti bimbingan secara keseluruhan yang berkenaan dengan pengentasan masalah dan fasilitasi perkembangan individu. Konseling merupakan suatu hubungan antara pemberi bantuan yang terlatih dengan seorang yang mencari bantuan, dimana keterampilan pemberi bantuan dan suasana yang dibuatnya membantu orang lain belajar untuk berhubungan dengan dirinya sendiri atau orang lain dengan cara-cara yang lebih tumbuh dan produktif.
(canavagh1982.1-2).
            Akan tetapi dalam perkembangan bahasa Indonesia selanjutnya pada tahun 1970 sebagai awal dari amsa pembangunan Orde Baru, istilah penyuluhan yang merupakan terjemahan dari kata Counseling dan mempunyai konotasi psychological-counseling, banyak pula dipakai dalam bidang-bidang lain, seperti penyuluhan pertanian, penyuluhan KB, penyuluhan gizi, penyuluhan hukum, penyuluhan agama, dan lain sebagainya, yang cenderung diartikan sebagai pemberian penerangan atau informasi bahkan kadang-kadang hanya dalam bentuk pemberian ceramah atau pemutaran film saja. Menyadari perkembangan pemakaian istilah yang demikian, maka sebagian para ahli bimbingan dan penyuluhan Indonesia yang tergabung dalam oraganisasi profesi IPBI (Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia) mulai meragukan ketepatan penggunaan istilah penyuluhan. Sebagai terjemahan dari istilah counseling tersebut. Oleh karena itu sebagian dari mereka berpendapat, sebaiknya istilah penyuluhan itu dikembalikan ke istilah aslinya yaitu counseling, sehingga pada saat itu dipopulerkan istilah bimbingan dan konseling untuk ilmu ini, tetapi ada pula sebagian ahli bimbingan dan penyuluhan yang berpendapat bahwa kalau istilah guidance diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan istilah bimbingan, istilah counseling harus pula dicarikan istilah bahasa Indonesianya. Berdasarkan pemikiran yang demikian maka ada para ahli itu ada yang menggunakan istilah bimbingan dan wawanwuruk, bimbingan dan wawanmuka, bimbingan dan wawancara untuk memberi nama bagi ilmu ini. Namun diantara sedemikian banyak istilah tersebut, saat ini yang pa ling populer adalah istilah Bimbingan dan Konseling.

2.2  Pengertian Konseling
Menurut Kamus Bahasa Indonesia (2008: 802) konseling berarti pemberian bimbingan oleh orang yang ahli kepada seseorang dengan menggunakan metode psikologis. Sedangkan dalam situs Wikipedia bahasa Indonesia, konseling adalah “proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli (konselor) kepada individu yang mengalami sesuatu masalah (konsele) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien. Istilah ini pertama kali digunakan oleh Frank Parsons di tahun 1908 saat ia melakukan konseling karier. Selanjutnya juga diadopsi oleh Carl Rogers yang kemudian mengembangkan pendekatan terapi yang berpusat pada klien ( client centered  ).
Shertzer dan Stone ( 1980 ) telah membahas berbagai definisi yang terdapat di dalam literatur tentang konseling. Dari hasil bahasannya itu, mereka sampai pada kesimpulan, bahwa Counseling is an interaction process which facilitates meaningful understanding of self and environment and result in the establishment and/or clarification of goals and values of future behavior.
Konseling adalah upaya membantu individu melalui proses interaksi yang bersifat pribadi antar konselor dan konseli agar konseli mampu memahami diri dan lingkungannya, mampu membuat keputusan dan menentukan tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya sehingga konseli merasa bahagia dan efektif perilakunya ( Achmad, 2006: 10 ).
Lebih jauh, Pietrofesa dan kawan-kawan pada tahun 1980 menunjukkan sejumlah cirri-ciri konseling professional sebagai berikut:
a)      Konseling merupakan suatu hubungan profesional yang diadakan oleh seorang konselor yang sudah dilatih untuk pekerjaannya.
b)      Dalam hubungan yang bersifat profesional itu, klien mempelajari keterampilan pengambilan keputusan, pemecahan masalah, serta tingkah laku atau sikap-sikap baru.
c)      Hubungan profesional itu dibentuk berdasarkan kesukarelaan antara klien dan konselor.
Adanya perbedaan definisi konseling tersebut, selain ditimbulkan karena perkembangan ilmu konseling itu sendiri, juga disebabkan oleh perbedaan pandangan ahli yang merumuskannya tentang konseling dan aliran atau teori yang dianutnya. Ada ahli yang mengklasifikasikan konseling bedasarkan fungsinya menjadi tiga kelompok, yaitu suportif, reedukatif, dan rekonstruktif ( Moh. Djawad Dahlan, 1986 ). Konseling juga dibedakan berdasarkan metodenya, yaitu metode direktif dan nondirektif. Osipow, Walsh, dan Tosi (1980) mengelompokkan konseling berdasarkan penekanan masalah yang diselesaikannya, yaitu penyesuaian pribadi, pendidikan, dan karier. Ahli lain Patterson (1966) secara lebih rinci mengelompokkan pendekatan konseling menjadi lima kelompok, yaitu pendekatan rasional, teori belajar, psikoanalitik, perceptual-fenomenologis, dan eksistensial.
Uraian tersebut menggambarkan betapa sulit merumuskan definisi konseling yang komprehensif dan berlaku untuk setiap orang dari berbagai aliran. Namun demikian, berikut ini ada beberapa point generalisasi yang menggambarkan karakteristik utama kegiatan konseling.
a)      Konseling merupakan salah satu bentuk hubungan yang bersifat membantu.
b)      Hubungan dalam konseling bersifat interpersonal.
c)      Keefektivan konseling sebagian besar ditentukan oleh kualitas hubungan antara konselor dan kliennya.

2.3  Pendekatan Konseling
1. Pendekatan Psikoanalitik
            Dalam pendekatan ini menekankan pentingnya riwayat hidup klien yang pada dasarnya ditentukan oleh energi psikis dan pengalaman-pengalaman dini. Motif-motif dan konflik-konflik tak sadar adalah sentral dalam tingkah laku sekarang. Kekuatan-kekuatan irrasional kuat, orang didorong oleh dorongan-dorongan seksual dan agresif. Perkembangan dini penting karena masalah-masalah kepribadian berakar pada konflik-konflik masa kanak-kanak yang direpresi.
2. Pendekatan Humanistik
            Istilah humanistik hubungannya dengan konseling yaitu memfokuskan pada potensi individu dan sifat dari kondisi manusia yang mencakup kesanggupan untuk menyadari diri, bebas untuk menentukkan nasib sendiri, kebebasan dan tanggung jawab, kecemasan sebagai suatu unsur dasar, pencarian makna yang unik di dalam dunia yang tak bermakna, berada sendirian dan berada dalam hubungan dengan orang lain, keterhinggaan dan kematian, dan kecenderungan untuk mengaktualkan diri serta membuat keputusan tentang hal-hal yang berkaitan dengan dirinya sendiri dan lingkungannya.
3. Pendekatan Client Centered
            Memandang manusia secara positif, setiap manusia memiliki suatu kecendrungan ke arah untuk menjadi berfungsi penuh. Dalam konteks hubungan konseli, konseli mengalami perasaan-perasaan yang sebelumnya diingkari. Seorang konseling mengaktualkan potensi dan bergerak kearah yang lebih meningkatkan kesadaran, spontanitas, percaya diri, dan keterarahan dalam menata hidupnya.
4. Pendekatan Behavioral
            Konselor membantu klien untuk belajar cara bertindak yamg baru dan pantas, atau membantu mereka untuk memodifikasi atau mengeliminasi tingkah laku yang berlebih. Konselor behavioral yang efektif beroperasi dengan perspektif yang luas dan terlibat dengan klien dalam setiap fase konseling.

5. Pendekatan Gestalt
            Manusia terdorong ke arah keseluruhan dan itegrasi pemikiran perasaan serta tingkah laku. Pandangannya anti deterministik dalam arti yaitu individu dipandang memiliki kesanggupan untuk menyadari bagaimana pengaruh masa lampau berkaitan dengan kesulitan-kesulitan sekarang.
6. Pendekatan Analisis Transaksional
            Manusia dipandang memiliki kemampuan memilih. Apa yang sebelumnya ditetapkan, bisa ditetapkan ulang. Meskipun manusia bisa menjadi korban dari putusan-putusan dini dan sekenario kehidupan, aspek-aspek yang mengalihkan diri bisa diubah dengan kesadaran. 
7. Pendekatan Tingkah Laku
            Manusia debentuk dan dikondisikan oleh pengondisian social budaya, pandangannya diterministik, dalam arti tingkah laku, dipandang sebagai hasil belajar dan pengondisian.
8. Pendekatan Rasional Emotif
            Yaitu manusia dilahirkan dengan potensi untuk berfikir rasional, tetapi juga dengan kecenderungan-kecenderungan kea rah berfikir curang. Mereka cenderung untuk menjadi korban dari keyakinan-keyakinan yang irrasional dan untuk mereindoktrinasi dengan keyakinan-keyakinan yang irrasional tersebut. Tetapi beroriantasi kognitif -tingkah laku-tindakan, dan menekankan berfikir, menilai, menganalisis, melakukan dan memutuskan ulang. Miodelnya adalah didaktif , direktif, terapi dilihat sebagai proses reduksi.
9. Pendekatan Realitas
            Manusia membutuhkan identitas dan mampu mengembangkan “identitas kegagalan” . Pendekatan realitas berlandaskan motivasi pertumbuhan dan antideterministik.



2.4  Teknik Konseling
            Konseling pada dasarnya merupakan pekerjaan professional dan dalam melaksanakan tugas-tugas profesionalnya, seorang konselor perlu memiliki pemahaman dan keterampilan yang memadai dalam menggunakan berbagai pendekatan dan teknik dalam konseling. Tanpa didukung oleh penguasaan-penguasaan teknik-teknik konseling bisa terjadi bantuan yang diberikan kepada klien tidak akan berjalan efektif. Berikut akan kami paparkan mengenai teknik-teknik konseling:
  1. Perilaku Attending
Perilaku attending disebut juga perilaku menghampiri klien yang mencakup komponen kontak mata, bahasa tubuh, dan bahasa lisan. Perilaku attending yang baik dapat :
  1. Meningkatkan harga diri klien
  2. Menciptakan suasana yang aman
  3. Mempermudah ekspresi perasaan klien dengan bebas
Contoh perilaku attending yang baik
Contoh perilaku attending yang tidak baik
  • Kepala : melakukan anggukan jika setuju
  • Ekspresi wajah : tenang, ceria, senyum
  • Posisi tubuh : agak condong ke arah klien, jarak antara konselor dengan klien agak dekat, duduk akrab berhadapan atau berdampingan.
  • Tangan : variasi gerakan tangan/lengan spontan berubah-ubah, menggunakan tangan sebagai isyarat, menggunakan tangan untuk menekankan ucapan.
  • Mendengarkan : aktif penuh perhatian, menunggu ucapan klien hingga selesai, diam (menanti saat kesempatan bereaksi), perhatian terarah pada lawan bicara.

  • Kepala : kaku
  • Muka : kaku, ekspresi melamun, mengalihkan pandangan, tidak melihat saat klien sedang bicara, mata melotot.
  • Posisi tubuh : tegak kaku, bersandar, miring, jarak duduk dengan klien menjauh, duduk kurang akrab dan berpaling.
  • Memutuskan pembicaraan, berbicara terus tanpa ada teknik diam untuk memberi kesempatan klien berfikir dan berbicara.
  • Perhatian : terpecah, mudah buyar oleh gangguan luar.



2. Empati
            Empati ialah kemampuan konselor untu merasakan apa yang dirasakan klien, merasa dan berfikir bersama klien dan bukan untuk atau tentang klien. Empati dilakukan sejalan dengan perilaku attending, tanpa perilaku attending mustahil terbentuk empati.
Terdapat dua macam empati, yaitu:
    1. Empati primer yaitu bentuk empati yang hanya berusaha memhami perasaan, pikiran dan kegiatan klien, dengan tujuan agar kita dapat terlibat dab terbuka. Contoh ungkapan empati primer: “ saya dapat merasakan bagaimana anda “. “ saya dapat memahami pikiran anda”. “ saya mengerti keinginan anda “
    2. Empati tingkat tinggi yaitu, empati apabila kepahaman konselor terhadap perasaan, pikiran, keinginan serta pengalaman lebih mendalam dan menyentuh klien karena konselor ikut dengan perasaan tersebut. Keikutan konselor tersebut membuat klien tersentuh dan terbuka untuk mengemukakan isi hati terdalam berupa perasaan, pikiran, pengalaman termasuk penderitaannya. Contoh ungkapan empati tingkat tinggi: “ saya dapat merasakan apa yang anda rasakan dan saya ikut terluka dengan pengalaman anda itu “
3. Refleksi
            Refleksi adalah teknik untuk memntulakn kembali kepada klien tentang perasaan, pikiran dan pengalamn sebagai hasil pengamatn terhadap prilaku verbal dan non verbalnya. Terdapat tiga jenis refleksi yaitu:
a.       Refleksi perasaan, yaitu keterampilan atau teknik untuk dapat memantulkan perasaan klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. Contoh: “ tampaknya yang anda katakan adalah …”
b.      Refleksi pikiran, yaitu teknik untuk memntulkan ide, pikiran, dan pendapat klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. Contoh: “ tampaknya yang anda katakan…”
c.       Refleksi pengalaman, yaitu teknik untuk memntulkan pengalaman-pengalaman klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. Contoh: “ tampaknya yang Anda katakan suatu...”
4. Eksplorasi
Adalah teknik  untuk menggali perasaan, pikiran dan pengalaman klien. Hal ini penting dilakukan karena banyak klien menyimpan rahasia batin, menutup diri atau tidak mampu mengngkapkan pendapatnya. Dengan teknik inimemungkinkan klien untuk berbicara tanpa rasa takut tertekan dan terancam. Seperti halnya pada tekni refleksi terdapat tiga jenis eksplorasi yaitu:
a.       Eksplorasi perasaan, yaitu teknik untuk dapat menggali perasaan klien yang tersimpan. Contoh: “ bisakah Anda menjelaskan apa perasaan yang dimaksudkan? “
b.       Eksplorasi pikiran yaitu teknik untuk menggali ide, pikiran dan pendapat klien. Contoh: “ saya yakin Anda dapat menjelaskan lebih lanjut ide Anda tentang sekolah sambil bekerja “
c.       Eksplorasi pengalaman, yaitu keterampilan atau teknik untuk menggali pengalaman-pengalaman klien. Contoh: “ saya terkesan dengan pengalaman yang Anda lalui namun saya ingin memahami lebih jauh tentang pengalaman tersebut dan pengaruhnya terhadap pendidikan anda ”
5. Menangkap Pesan ( paraphrasing )
            Menangkap pesan ( Paraphrasing ) adalah untuk menyatakan kembali esensi atau inti ungkapan klien dengan teliti, mendengarkan pesan utama klien, mengungkapkan kalimat yang mudah dan sederhana, biasanya ditandai dengan kalimat awal: adakah atau nampaknya, dan mengamati respon kita terhadap konselor.
Tujuan paraphrasing adalah :
a.       Untuk mengatakan kembali kepada klien bahwa konselor bersama dia dan berusaha untuk memahami apa yang dikatakan klien.
b.      Mengendapkan apa yang dikemukakan klien dalam bentuk ringkasan.
c.       Member arah wawancara konseling dan,
d.      Pengecekan kembali persepsi konselor tentang apa yang dikemukakan.
Contoh dialog:
Klien : “ itu suatu pekerjaan yang baik, akan tetapi saya tidak mengambilnya. Sya tidak tahu mengapa demikian? “
Konselor : “ tampaknya Anda masih ragu.”
6. pertanyaan Terbuka ( opened question )
            Pertanyaan terbuka yaitu teknik untuk memancing siswa atau konselor agar mau berbicara mengungkapkan perasaan, pengalaman dan pemikirannya dapat digunakan teknik pertanyaan terbuka ( opened question ). Pertanyaan yang diajukan sebaiknya tidak  menggunakan kata Tanya mengapa atau apa sebabnya. Pertanyaan semacam ini akan menyulitkan klien, jika dia tidak tahu alas an atau sebab-sebabnya. Oleh karenanya, lebih baik gunakan kata apakah, bagaimana, adakah, dapatkah.
            Contoh: “ apakah Anda merasa ada sesuatu yang ingin kita biacrakan? “
7. Pertanyaan Tertutup
            Dalam konseling tidak selamanya harus menggunakan pertanyaan terbuka, dalam hal-hal tertentu dapat pula digunakan pertanyaan tertutup, yang harus dijawab dengan kata ‘YA’ atau ‘Tidak’ atau dengan kata-kata singkat. Tujuan pertanyaan tertutup untuk :
a.       Mengumpulkan informasi
b.      Menjernihkan atau memperjelas sesuatu dan,
c.       Menghentikan pembicaraan klien yang melantur atau menyimpang jauh.
Contoh dialog :
Klien: “ saya putus asa.. dan saya nyaris.. “ ( klien menghentikan pembicaraan )
Konselor: “ ya… “
Klien: “ nekad bunuh diri “
Konselor: “ lalu? “
8. Interpretasi
            Yaitu teknik mengulas pemikiran, perasaan dan pengalaman klien dengan merujuk pada teori-teori, bukan pandangan subyektif konselor, dengan tujuan untuk memberikan rujukan pandangan agar klien mengerti dan berubah melalui pemahaman dasar hasil rujukan baru tersebut.
            Contoh dialog :
Klien: “ saya pikir dengan berhenti sekolah dan memusatkan perhatian membantu orang tua merupakan bakti saya pad keluarga, karena adik-adik saya banyak dan amat membutuhkan biaya. “
Konselor: “ Pendidikan tingkat SMA pada masa sekarang adalah mutlak bagi warga Negara. Terutama hidup dikota besar seperti Anda. Karena tantangan masa depan makin banyak, maka dibutuhkan manusia Indonesia yang berkualitas. Membantu orang tua memang harus, namun mungkin disayangkan jika orang seperti Anda yang tergolong akan meninggalkan SMA. “
9. Mengarahkan ( directing )
Yaitu untuk mengajak dan mengarahkan klien melakukan sesuatu. Misalnya menyuruh klien untuk bermain peran dengan konselor atau menghayalkan sesuatu.
            Contoh dialog :
Klien: “ ayah saya sering marah-marah tanpa sebab. Saya tak dapat lagi menahan diri. Akhirnya terjadi pertengkaran sengit. “
Konselor: “ bisakah Anda mencobakan di depan saya, bagaimana sikap dan kata-kata ayah Anda jika memarahi Anda. “

10. Menyimpulkan Sementara ( summarizing )
            Yaitu teknik menyimpulkan sementara pembicaraan sehingga arah pembicvaraan semakin jelas. Tujuan menyimpulkan sementara adalah untuk:
a.       Memberikan kesempatan kepada klien untuk mengambil kilas balik dari hal-halk yang telah dibicarakan
b.      Menyimpulkan kemajuan hasil pembicaraan secara bertahap
c.       Meningkatkan kualitas diskusi
d.      Mempertajam focus pada wawancara konseling.
Contoh :
“ setelah kita berdiskusi beberapa waktu alangkah baiknya jika simpulkan dulu agar  semakin jelas hasil penbicaraan kita. Dari materi materi pembicaraan yang kita diskusikan, kita sudah sampai pada dua hal : pertama, tekad Anda untuk bekerja sambil kuliah makin jelas, kedua namun masih ada hambatan yang akan Anda hadapi, yaitu : sikap orang tua Anda yang menginginkan Anda segera menyelesaikan studi, dan waktu bekerja yang penuh sebagaimana tuntutan dari perusahaan yang akan Anda masuki. “





BAB 3
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
            Konseling adalah upaya membantu individu melalui proses interaksi yang bersifat pribadi antar konselor dan konseli agar konseli mampu memahami diri dan lingkungannya, mampu membuat keputusan dan menentukan tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya sehingga konseling merasa bahagia dan efektif perilakunya.
            Konseling merupakan dasar inti bimbingan secara keseluruhan yang berkenaan dengan pengentasan masalah dan fasilitasi perkembangan individu. Konseling merupakan suatu hubungan antara pemberi bantuan yang terlatih dengan seorang yang mencari bantuan, dimana keterampilan pemberi bantuan dan suasana yang dibuatnya membantu orang lain belajar untuk berhubungan dengan dirinya sendiri atau orang lain.
   Pendekatan yang dilakukan dalam konseling:
1.      Pendekatan Psikoanalitik
2.      Pendekatan Humanistik
3.      Pendekatan Client Centered
4.      Pendekatan Behavioral
5.      Pendekatan Gestalt
6.      Pendekatan Analisis Transaksional
7.      Pendekatan Tingkah Laku
8.      Pendekatan Rasional Emotif
9.      Pendekatan Realitas
   Teknik-teknik dalam melaksanakan konseling:
1.      Perilaku Attending
2.      Empati
3.      Refleksi
4.      Eksplorasi
5.      Menangkap Pesan ( paraphrasing )
6.      pertanyaan Terbuka ( opened question )
7.      Pertanyaan Tertutup
8.      Interpretasi

0 Response to "KONSEP DASAR KONSELING"

Posting Komentar