AL IFFAH


A.    Pengertian Iffah
Secara bahasa, ‘iffah adalah menahan. Adapun secara istilah: menahan diri sepenuhnya dari perkara-perkara yang Allah haramkan. Dengan demikian, seorang yang ‘afif adalah orang yang bersabar dari perkara-perkara yang diharamkan walaupun jiwanya cenderung kepada perkara tersebut dan menginginkannya. Allah SWT berfirman: “Dan orang-orang yang belum mampu untuk menikah hendaklah menjaga kesucian dirinya sampai Allah menjadikan mereka mampu dengan karunia-Nya.”(An-Nur:33)
Di dalam kamus Al- Munjid kata iffah berasal dari kata
العفّة – عفّا معنها طهارة الجسد،ترك الشهوات الد نيويّة ( هالمنجد في اللغة و لأعلا م)
Iffah maknanya membersihkan jiwa, meninggalkan nafsu keduniawian.
 “Kesucian diri” yang dalam bahasa Arab disebut ‘iffah adalah menahan diri dari perbuatan yang jelek dan tidak pantas. (Mu’jam Maqoyis Lughoh hlm. 621)










B.  Di antara Bentuk-bentuk Menjaga Kehormatan Diri
1. Menjaga diri dari Hal-hal yang haram
2. Menundukkan pandangan
3. Tidak berpergian jauh atau safar sendirian tanpa didampingi mahramnya yang akan menjaga dan melindunginya
4. Tidak berjabat tangan dengan lelaki yang bukan mahramnya
5. Tidak berkhalwat atau berduaan dengan lelaki yang bukan muhrim
6. Menjaga harta anak yatim
C. Hal-hal Yang Dapat Menumbuhkan Iffah
1. Iman dan Takwa
Seseorang apabila merealisasikan keimanan dan beramal sesuai tuntutan keimanannya, insya Allah kehormatannya akan terjaga dari segala tipu daya dan rayuan setan yang mengajak kepada keharaman. Karena iman dan takwa adalah benteng kokoh yang menghalangi dari adzab Allah, dengan mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Jika benar telah terwujud dan keimanan telah mengakar kuat dalam hati, maka bergembiralah dengan janji Allah dalam ayat berikut:                     
 ô`tB Ÿ@ÏJtã $[sÎ=»|¹ `ÏiB @Ÿ2sŒ ÷rr& 4Ós\Ré& uqèdur Ö`ÏB÷sãB ¼çm¨ZtÍósãZn=sù Zo4quym Zpt6ÍhŠsÛ ( óOßg¨YtƒÌôfuZs9ur Nèdtô_r& Ç`|¡ômr'Î/ $tB (#qçR$Ÿ2 tbqè=yJ÷ètƒ ÇÒÐÈ  




Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. an-Nahl [16]: 97)

Kebanyakan kaum hawa dewasa ini mereka lebih mementingkan untuk berhias dengan baju bagus, perhiasan mencolok, tampil cantik dengan melupakan perhiasan iman dan takwa. Firman Allah Ta’ala:” Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Robbnya, (mereka berkata): “Ya Robb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin”. (QS. as-Sajdah [32]: 12)
2.  Menikah
Menikah termasuk salah satu cara untuk menjaga kesucian diri karena merupakan jalan suci dan halal untuk membendung kekuatan biologis yang ada pada diri setiap insan yang normal. Allah berfirman:                                                                                               
 ô`ÏBur ÿ¾ÏmÏG»tƒ#uä ÷br& t,n=y{ /ä3s9 ô`ÏiB öNä3Å¡àÿRr& %[`ºurør& (#þqãZä3ó¡tFÏj9 $ygøŠs9Î) Ÿ@yèy_ur Nà6uZ÷t/ Zo¨Šuq¨B ºpyJômuur 4 ¨bÎ) Îû y7Ï9ºsŒ ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 tbr㍩3xÿtGtƒ ÇËÊÈ  



Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS. ar-Rum [30]: 21)
3. Memiliki sifat malu
Malu adalah sifat mulia, malu adalah perhiasan indah yang Allah berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Tetapi sifat malu ini sangat ditekankan bagi kaum wanita agar kesucian dirinya tetap terjaga. firman Allah berikut ini:                                              
  $£Js9ur yŠuur uä!$tB šútïôtB yy`ur Ïmøn=tã Zp¨Bé& šÆÏiB Ĩ$¨Y9$# šcqà)ó¡o yy_urur `ÏB ãNÎgÏRrߊ Èû÷üs?r&tøB$# Èb#yŠräs? ( tA$s% $tB $yJä3ç7ôÜyz ( $tGs9$s% Ÿw Å+ó¡nS 4Ó®Lym uÏóÁムâä!$tãÌh9$# ( $tRqç/r&ur Óøx© ׎Î7Ÿ2 ÇËÌÈ   4s+|¡sù $yJßgs9 ¢OèO #¯<uqs? n<Î) Èe@Ïjà9$# tA$s)sù Éb>u ÎoTÎ) !$yJÏ9 |Mø9tRr&
¥n<Î) ô`ÏB 9Žöyz ׎É)sù  ÇËÍÈ





”Dan tatkala ia (Musa) sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia men- jumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat at begitu)?” kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak Kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya”. Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya….” (al-Qoshosh [28]: 23-24)
Ayat yang mulia ini menjelaskan bagaimana seharusnya kaum wanita berakhlak dan bersifat malu. Allah menyifati  (wanita) yang mulia ini dengan cara jalannya yang penuh dengan rasa malu dan terhormat. Amirul Mu’minin Umar bin Khathab r.a berkata: “wanita itu datang menemui Musa dengan pakaian yang tertutup rapat.” (Tafsir Ibnu Katsir: 3/360)
4. Tegar dengan memakai jilbab syar’i
Memakai jilbab syar’i juga termasuk sebab terbesar dalam merealisasikan kesucian dan kehormatan diri. Ini merupakan kewajiban yang Allah perintahkan atas seluruh wanita muslimah. Tidak ada alasan bagi mereka untuk menolak atau meragukan hukumnya. Allah berfirman:                                                                                                 
 $pkšr'¯»tƒ ÓÉ<¨Z9$# @è% y7Å_ºurøX{ y7Ï?$uZt/ur Ïä!$|¡ÎSur tûüÏZÏB÷sßJø9$# šúüÏRôム£`ÍköŽn=tã `ÏB £`ÎgÎ6Î6»n=y_ 4 y7Ï9ºsŒ #oT÷Šr& br& z`øùt÷èムŸxsù tûøïsŒ÷sム3 šc%x.ur ª!$# #Yqàÿxî $VJŠÏm§ ÇÎÒÈ  



”Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Alloh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. al-Ahzab [33]: 59)

Betapa tegas dan jelas ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa jilbab merupakan perintah dan syar’iat Allah Ta’ala kepada segenap wanita muslimah, bukan hanya kepada sebagian kalangan saja. Tetapi berbagai alasan mereka mengatakan bahwa jilbab muslimah hanyalah tradisi wanita Arab karena mereka tinggal di daerah panas.
Apabila setiap wanita telah menyadari bahwa jilbab merupakan perintah agama bukan hanya sekadar mode semata, maka ia wajib memakai jilbab yang memenuhi persyaratan-persyaratan sehingga terwujudlah manfaat jilbab sebagai sarana menjaga kesucian diri.
5. Pilih teman yang shalih
Kita semua menyadari, bahwa manusia tidak bisa hidup melainkan harus berteman dan bersosialisasi. Demikian pula wanita muslimah, punya teman dan handai tolan yang sehari-hari berinteraksi dan bergaul dengannya. Namun, hendaknya wanita muslimah bersikap selektif dalam memilih teman bergaulnya. Hendaklah kita memilih teman yang bisa membantu dalam kebaikan dan ketaatan kepada Allah, teman-teman yang selalu menjaga kesucian dirinya, karena teman punya pengaruh yang sangat kuat dalam membentuk kepribadian seseorang.
Ini merupakan perintah Allah kepada wanita-wanita Mukminah,karena kecemburuan-Nya terhadap suami-suami mereka, para hamba-Nya yang beriman,dan untuk membedakan mereka dengan sifat wanita jahiliyyah dan wanita musyrikah. Sebab turunnya ayat ini seperti yang disebutkan oleh Muqattil bin Hayyan,bahwa ia brkata:”telah sampai kepada kami riwayat dari Jabir bin Abdillah al-Anshari, ia menceritakan bahwa Asma binti Martsad berada ditempatnya dikampung bani Haritsah. Para wanita masuk menemuinya tanpa mengenakan kain sehingga tampaklah gelang pada kaki-kaki mereka dan tampak juga dada dan jalinan rambut mereka. Asma berkata :”Sungguh jelek kebiasaan seperti ini.”Lalu turunlah Firman Allah”Katakanlah kepada wanita yang beriman :hendaklah mereka menahan pandangan mereka,”yakni dari perkara haram yang mereka lihat, diantaranya melihat kepada laki-laki selain suami mereka.
Oleh sebab itu sebagian besar ulama berpendapat, wanita tidak boleh melihat kepada laki-laki yang bukan mahram, baik disertai dengan syahwat atau tanpa syahwat. Sebagian besar ulama berdalil dengan sebuah haidts yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi, dari jalur az-Zuhri, dari Nabhan,maula Ummu Salamah, ia bercerita kepadanya bahwa pada suatu hari ia dan Maimunah bersama Rasulullah, ia berkata : ”Ketika kami berd di sisi beliau,tiba-tiba datanglah Ibnu Ummi Maktum dan mauk menemui beliau.peristiwa itu terjadi setelah turunnya perintah berhijab. Rasulullah berkata “Berhijablah darinya” Aku berkata “Wahi Rasulullah, bukankah ia seorang buta yang tidak bias melihat kamidan tidak mengeneli kami?”Maka RAsulullah berkata:“Apakah kalian berdua juga buta?bukankahkalian berdua melihatnya?”At-Tirmidzi berkata “Hadits ini hassan shahih”
Sebagian ulama lainnya berpendapat:”Kaum wanita boleh melihat laki-laki bukan mahram asalkan tanpa disertai syahwat. Seperti yang diriwayatkan dalam kitab as-SHahih,bahwa Rasulullah menyaksikan kaum Habasyah yang sedang ber,aim tombak pada hari Ied did lam masjid, sementara Aisyah Ummul Mukminin juga menyaksikan mereka dari belakang beliau, beliau menutupinya dari mereka hingga Aisyah jemu dan pulang.”
Firman Allah : ”ويحفطن فروجهن”Dan memelihara kemaluan mereka,”Sa’id bin Jubair berkata:”Yakni dari perbuatan keji (zina).”
Sifat  Iffah Rasulullah
     Sungguh keadaan Nabi SAW menjadi contoh bagi seluruh umat manusia dalam sifat kebersihan jiwa, tangan dan lisannya. Rasullullah telah sampai kepada derajat iffah yang paling tinggi dalam segala macam iffah beliau adalah seorang teladan dalam segala sifat yang utama seperti sifat adil, amanah, qonaah serta pemberani.
     Sifat iffah Rasulullah yaitu menjaga diri dari perbuatan keji karena Allah telah memelihara beliau dari dosa sejak kecil dari hal yang buruk yang belum beliau lakukan. Beliau belum pernah menginginkan hal yang buruk, beliau tidak pernah  menyentuh perempuan kecuali istri, mahram atau perempuan budak yang beliau miliki.
     Rasulullah telah menguatkan aturan untuk berlaku iffah dan mengajak supaya menundukan pandangan dan tidak duduk di pinggir-pinggir jalan, yang mungkin perempuan lewat karena yang demikian itu membuat  para wanita malu bila dipandang oleh orang-orang yang duduk di tepi jalan, tanpa disengaja nampak aurat mereka, tetapi kalau mereka terpaksa duduk di tepi jalan maka wajib atas mereka berlaku iffah sopan santun dan menahan pandangan kepada orang yang lewat khususnya wanita. Rasulullah bersabda : “Janganlah kalian duduk di tepi-tepi jalan, dan jika kalian tidak biasa meninggalkannya maka. Tundukanlah pandangan,   jawablah oleh kalian salam dan tunjukkanlah orang yang tersesat, dan tolonglah orang yang lemah.  Telah datang petunjuk Rasulullah untuk menyampaikan apa-apa yang diperintahkan Allah kepadanya dengan mengkhususkan pandangan kepada mahram sebagaimana dalam firmannya Q.S An-Nur : 30-31.
30.  "Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih Suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat".
31.  Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung"(An Nur :30-31)
Yang dimaksud dalam ayat diatas yaitu perhiasan yang dipakai perempuan, apa-apa yang nampak seperti baju untuk keluar. Apabila pakaiannya tidak nampak maka diperbolehkan untuk memakainya didepan orang banyak. Dan apa yang tersembunyi seperti gelang, gelang kaki, kalung maka tidak diperbolehkan didepan orang yang telah disebutkan tanpa terkecuali bagi orang yang baligh dalam hal berdandan atau berhias diri yang bisa memikat lawan jenis. Karena perhiasan ini dipakai dibagian tubuh kepada selain orang yang telah ditentukan, seperti leher, tangan, kepala, dada, dan telinga.
Anjuran bersifat 'iffah

     Rasulullah SAW menganjurkan manusia untuk menjaga kehormatan dirinya agar manusia berakhlak dengan akhlaq 'iffah maka mereka akan bahagia dengan….
  1. Rasulullah saw bersabda : "Tangan yang diatas lebih baik daripada tangan dibawah"
  2. Seseorang yang mencari kayu lalu memikulnya diatas punggungnya lebih baik daripada orang yang meminta-minta kepada orang lain diberi atau tidak.
  3. Rasulullah saw bersabda : "Bukanlah kaya itu banyaknya harta benda tetapi kaya itu ialah dapat menguasai diri dari hawa nafsu"
  4. Barang siapa yang meminta-minta tidak karena miskin maka dia seolah-olah memakan bara api
  5. Hendaklah kamu bersifat qonaah, karena qonaah itu harta yang tidak pernah habis
  6. Ada beberapa orang anshar meminta kepada rasulullah , maka mereka diberi oleh rasulullah, lalu mereka memberi lagi dan mereka diberi lagi sehingga habislah apa yang ada ditangan rasulullah lalu beliau berkata : apa yang ada padaku tidak akan aku sembunyikan terhadapmu dan barang siapa memelihara dari meminta-minta maka dia akan dipelihara oleh allah dan barang siapa yang mencukupkan yang ada padanya dia akan dicukupi oleh allah dan siapa yang berusaha agar bersabar maka allah akan menjadikannya sabar, dan tidak ada suatu karunia bagi seseorang lebih baik serta lebih luas daripada sabar.
  7. Sesungguhnya allah menyukai orang yang membersihkan diri dan minta bantuan orang lain
  8. Sesungguhnya allah menyukai orang yang pemalu, yang murah hati lagi 'afif dan allah membenci orang yang kotor kata-katanya dan memaksa jika meminta.
  9. Seorang arab datang kepada nabi dan berkata :”Wahai rasulullah berilah aku nasihat yang ringkas. Beliau berkata : bila kamu shalat maka shalatlah seperti shalatnya orang yang akan meninggalkan (mekkah) dan janganlah kamu membicarakan sesuatu yang pada esoknya kamu akan meminta maaf karena pembicaraan itu dan berputus asalah kamu (jangan mengharap) apa yang ada di tangan orang lain”

   Rasulullah selalu menjaga lisannya meskipun dalam keadaan berselisih dengan orang lain, beliau belum  pernah mengeluarkan kata-kata yang kotor.

0 Response to "AL IFFAH"

Posting Komentar